
<<<<<
Ia langsung bangkit dari posisinya dan keluar dari tempatnya. Setelah itu, ia pun mengikuti langkah petugas tersebut dan betapa terkejutnya dia karena yang datang menemuinya adalah ....
"Archo!!"
"Hai Kimberly...."
Dan bisa di tebak bahwa mereka adalah Kakak beradik dan anak dari Mario Fuca yaitu Archo Fuca dan Kimberly Fuca.
Archo pun melambaikan tangan ke arahnya sambil menyunggingkan senyumannya.
......................
Ya sudah hampir dua bulan lebih Kimberly mendekam di penjara. Pada saat itu setelah keluar dari rumah sakit, Archo langsung mengirimnya ke Departemen kepolisian yang berada di Amerika. Karena itu keputusan dari Kimberly sendiri yang lebih memilih menjalani hukumannya di Penjara dari pada harus tinggal di Asrama Tante Grace.
Sebenarnya Archo tidak tega melihat Kimberly menjalani kehidupannya di dalam penjara karena walau bagaimanapun Kimberly adalah adik perempuan satu-satunya yang paling ia sayangi. Tapi mau bagaimana lagi, yang namanya kejahatan harus tetap ada hukumannya.
Dan setelah Kimberly menjalani hukumannya, Archo menyuruh Cole asisten sekaligus tangan kanannya untuk menghapus semua pemberitaan media tentang Kimberly. Itu di lakukan karena Archo tidak ingin nama keluarga Fuca jadi tercemar akibat ulah dari Kimberly itu.
......................
Lalu Archo dan Kimberly duduk berhadapan dengan dinding kaca transparan sebagai pembatasnya.
"You only have fifteen minutes sir." seru Petugas itu.
Archo pun hanya menganggukkan kepalanya saja, kemudian Petugas tersebut pergi meninggalkan mereka.
"Kim, bagaimana kabar mu?" tanya Archo.
"Ya tentu kau bisa lihat sendiri kan Archo, bagaimana aku sekarang ini." jawab Kimberly dengan ketusnya.
Archo menunduk. "Maafkan aku Kim, tapi aku melakukan ini karena ...."
"Karena aku yang memilih hukuman ini daripada harus tinggal di Asrama Tante Grace, begitu kan yang mau kamu katakan, Archo." sela Kimberly.
Archo mengangkat kembali kepalanya dan melihat ke arah Kimberly, kemudian ia mengangguk cepat seraya membalas perkataan Kimberly.
"Haaa.... Sudah ku duga. Lalu apa tujuan mu datang ke sini? Apa kamu ingin membebaskan ku dari hukuman ini?" cecar Kimberly.
Namun Archo malah menggelengkan kepalanya.
"Tidak Kim, kedatangan ku kemari bukan untuk membebaskan mu, tetapi aku ingin berpamitan dengan mu, Kim." ujar Archo.
"Apa! Berpamitan?"
"Iya, aku ingin pergi ke Indonesia untuk menjenguk Mam dan juga Nenek kamu. Oh iya, aku lupa cerita ke kamu, kalau sebenarnya Nenek kamu sudah sembuh dari sakitnya," jelas Archo.
Mendengar itu, seketika Kimberly menitihkan air matanya, sontak membuat Archo terkejut melihatnya.
"Kim...."
"Jadi seperti itu ya! Di saat aku sedang kesusahan seperti ini, kamu malah mau pergi meninggalkan ku. Kamu benar-benar jahat, di mana rasa tanggung jawab mu sebagai seorang Kakak, Archo!" sentak Kimberly.
"Kim, maafkan aku! Bukan maksud ku meninggalkan mu Kim, hanya saja aku ingin menjenguk Mam. Dan aku juga mendapat kabar bahwa Kakak mu sudah melahirkan," ujar Archo.
"Apa! Kakak melahirkan? Apa maksudmu Archo? Apa kamu sudah menikah dengan orang Indonesia?" lontar beberapa pertanyaan Kimberly.
"Tidak, aku belum menikah dengan siapapun."
"Jadi...."
Sebelum berkata Archo terlebih dahulu mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembusnya perlahan.
"Kim, ada rahasia yang tidak kamu ketahui, sebenarnya sebelum Mam menikah dengan Daddy dan melahirkan mu, Mam terlebih dahulu menikah dengan pria lain dan mempunyai seorang anak," ungkap Archo.
"Hah! Kamu bilang apa Archo? Mam sudah mempunyai seorang anak? Apa kamu sedang bercanda Archo?" Lagi-lagi Kimberly di buat terkejut oleh Archo.
"Aku tidak sedang bercanda Kim, aku berkata benar adanya, bahwa Mam memang sudah mempunyai anak dan usia anak Mam juga sama sepertiku," balas Archo.
Lalu tiba-tiba....
"Hahaha.... Hahaha.... Hahaha...." Kimberly menyemburkan tawanya.
"Kimberly, kenapa kamu tertawa seperti itu?" tanya Archo kebingungan.
"Aku tertawa karena ini sangat lucu Archo. Dan kamu tahu siapa badut bodohnya?"
Archo menggeleng cepat.
"Badut bodohnya adalah aku, Archo. Hahaha," cicit Kimberly.
"Kimberly kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Ya memang itu kenyataannya kan? Kamu yang bukan anak kandung Mam, bisa mengetahui semua rahasia terbesar Mam, sedangkan aku yang anak kandungnya sendiri tidak mengetahui apa-apa tentang Mam. Itu berarti kalian memang menganggap ku seperti badut bodoh," sergah Kimberly.
"Kim, kamu jangan berkata seperti itu? Sebenarnya ada sesuatu yang tidak kamu ketahui, kenapa Mam menyembunyikan rahasia besar ini dari kamu," lontar Archo.
"Berapa kali kamu bilang seperti itu, Archo? Aku sampai bosan mendengarnya. Sekarang aku tanya ke kamu dan harus menjawabnya! Memangnya sesuatu apa hah? Sampai Mam merahasiakan semuanya dari ku? Dan lagi siapa orangnya? Apakah dia wanita yang sudah merebut Ay dari ku?" cecar Kimberly.
Archo langsung menundukkan kepalanya saat mendengar cecaran dari Kimberly.
"Maafkan aku, aku belum bisa memberi tahu mu, Kim." ucap Archo membuat Kimberly memutar bola matanya dengan malas.
"Haaa.... Sudah ku duga, pasti kamu akan bilang seperti itu." lirih Kimberly. "Tidak apa kalau kamu enggan mengatakannya padaku, Archo. Aku bisa menyelidikinya sendiri dan lagi aku sangat penasaran siapa anak haram Mam itu?" sambung batinnya.
Sejenak mereka saling berdiam diri tanpa berkata, lalu kemudian Petugas datang untuk menjemput Kimberly.
"Sorry, your time is up, sir."
Mendengar perkataan Petugas itu, Archo langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Petugas tersebut, ia pun menganggukkan kepalanya. Pandangan Archo beralih ke arah Kimberly.
"Kim, aku ...."
Kimberly lalu bangkit dari posisinya dan membalas tatapan Archo.
"Kalau kamu mau pergi ke Indonesia, maka pergilah! Dan bilang sama Mam, aku Kimberly Fuca sampai kapanpun tidak akan pernah menerima anak haram Mam sebagai Kakakku, siapa pun orangnya itu." ucap Kimberly dengan sungguh-sungguh, sehingga Archo tercengang mendengarnya.
"Kimberly...."
Lalu pandangan Kimberly beralih ke Petugas tersebut. "Please take me away from here!"
"Okay...."
Petugas itu pun langsung membawa Kimberly kembali ke tempatnya dan meninggalkan Archo.
"Harusnya aku tidak mengatakan hal itu pada Kimberly kalau akhirnya jadi seperti ini," sesal Archo.
__ADS_1
Ia pun segera melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Sesaat setelah di kembalikan ke tempatnya semula, Kimberly langsung menjatuhkan dirinya di lantai, air matanya pun kembali mengalir membasahi pipinya.
Aaaaarrgh.....
"Mam....!! Ternyata Mam pergi ke sana dan rela meninggalkan ku hanya demi anak haram Mam itu. Teganya Mam melakukan ini padaku, bahkan Mam sampai merahasiakannya dariku. Hatiku benar-benar sangat sakit, seakan aku tidak rela jika kasih sayang Mam yang seharusnya untuk ku seorang, malah di bagi dengannya, si anak haram Mam itu." tangis Kimberly memegangi dadanya.
Lalu tiba-tiba terlintas di pikiran Kimberly saat ia menemukan sebuah foto usang Maria yang tengah menggendong bayi (Zuy) bersama dengan anak perempuan (Bi Nana).
(Kisahnya ada di episode 15 Gagal kencan dan episode 16 Kebohongan Maria).
"Jangan-jangan foto waktu itu memang foto Mam bersama dengan anak dan adiknya Mam. Dan Mam sengaja membohongi ku dengan mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak Panti asuhan, supaya aku tidak menyelidikinya secara langsung. Tsk, ternyata Mam memang sayang dengan anak haram itu. Haaa.... Ini tidak boleh di biarkan! Lihat saja nanti, setelah aku selesai menjalani hukuman terkutuk ini dan bebas. Aku akan secepatnya mencari anak haram Mam itu dan membuatnya menderita di hadapan Mam. Tunggu sampai waktunya tiba nanti," umpat Kimberly.
Ia pun mengepalkan tangannya dengan kuat sampai-sampai mengeluarkan darah akibat kuku panjangnya itu.
**************************
Rumah Sakit
Sementara itu, Zuy nampak tengah menyusui Baby R. Sebab sesaat yang lalu, ketika Zuy tengah menyantap makanan siangnya, tiba-tiba Baby R terbangun dan menangis dengan kencang sehingga membuat Zuy menghentikan aktivitas makannya dan beralih pada Baby R. Berbeda dengan Baby Z masih tetap tenang di gendongan Mamahnya Airin.
Bi Nana yang sedang duduk di sofa pun terpukau melihat Zuy tengah menyusui anaknya itu.
"Kak, apa Kakak melihatnya? Gadis kecilku, anak kesayangan Kakak yang Kakak titipkan pada ku, kini sekarang sudah menjadi seorang Ibu. Dan lihatlah cucu-cucu Kakak ini, mereka berdua tampan dan cantik mirip dengan kedua orangtuanya," batin Bi Nana di barengi dengan aliran air matanya.
"Nana...." tegur Mamahnya Airin sekaligus menepuk pundak Bi Nana.
Seketika Bi Nana tersadar dan menoleh ke Mamahnya Airin.
"Eh iya teh...." sahut Bi Nana sembari mengusap air matanya.
"Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?" tanya Mamahnya Airin.
"Aku hanya teringat masa lalu aja Teh," jawab Bi Nana.
"Masa lalu?"
Bi Nana mengangguk. "Iya, masa di mana Zuy masih bayi yang suka menangis minta di gendong. Dan sekarang malah dia udah gendong anaknya sendiri."
"Oh, ya wajar sih kalau kamu mengingat masa lalu, soalnya kamu yang sudah merawatnya dari bayi. Aku benar-benar salut padamu Na, kamu bisa merawat dan membesarkan Zuy dengan baik. Bahkan kamu bisa mendidiknya menjadi gadis baik, lemah lembut dan penyayang," Mamahnya Airin memuji Bi Nana.
"Terimakasih Teh, aku merawatnya karena dia satu-satunya yang ku punya, anak yang di titipkan Kakakku sebelum beliau meninggal. Tapi sayangnya selama aku merawatnya, aku tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuknya," ucap Bi Nana.
"Na, jangan berkata seperti itu! Justru kamu sudah memberikan segalanya untuknya, tidak seperti Ibu kandungnya yang pergi meninggalkannya di saat Zuy masih membutuhkan kasih sayangnya." kata Mamahnya Airin.
"Ya, ibunya memang gila, bahkan di saat Zuy menemuinya dan ingin meminta doanya, dia malah menampar Zuy," celetuk Bi Nana.
Mamahnya Airin pun di buat terkejut oleh celetukan Bi Nana.
"Kamu bilang apa Na? Zuy di tampar Ibunya?"
"Bukan hanya dapat tamparan tapi juga mendapatkan julukan sebagai anak durhaka oleh Ibunya itu," ujar Bi Nana.
"Apa! Anak durhaka! Ck, benar-benar wanita gila, bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada anakku," sungut Mamahnya Airin.
"Ya dia memang gila Teh," balas Bi Nana.
Sesaat kemudian, Dimas dan Bunda Artiana pun datang.
"Permisi...." seru Dimas dan Bunda Artiana serempak sambil berjalan masuk.
"Cucuku...."
"Nyo ah maksud Zuy Nenek, Dokter Dimas selamat datang...." sambut Zuy.
Bunda Artiana dan Dimas tersenyum, lalu Dimas tiba-tiba mendaratkan tangannya ke kepala Zuy.
"Kamu ini ya! Tetap saja memanggil Paman dengan sebutan Dokter Dimas," gumam Dimas.
"Ahahaha.... Maaf Dok ah Paman Zuy udah terbiasa memanggil anda seperti itu," ucap Zuy.
"Hmmmm, yaudah untuk kali ini tidak apa-apa, oh iya ini untuk kedua cucuku," kata Dimas memberikan bungkus kotak sedang pada Zuy.
"Waah.... Terimakasih Paman," ucap Zuy.
"Sama-sama, oh iya bolehkah Paman menggendongnya?"
Zuy mengangguk. "Tentu saja boleh Paman."
Zuy lalu memberikan Baby R pada Dimas, kemudian perlahan ia mengangkat tubuh Baby R dan menggendongnya. Bunda Artiana pun terus memandangi Baby R yang tengah di gendong Dimas.
"Cicitnya uyut yang cantik," ucap Bunda Artiana.
"Maaf Nek, kalau ini laki-laki." ujar Zuy.
"Oh, Nenek kira perempuan. Lalu di mana cicit Nenek yang perempuan?" tanya Bunda Artiana.
"Itu sedang di gendong Neneknya," Zuy menunjuk ke arah Mamahnya Airin.
Seketika pandangan Bunda Artiana mengarah ke arah Mamahnya Airin dan di balas anggukan kecil oleh Mamahnya Airin. Ruang yang tadinya hanya ada Zuy, Ray dan si kembar, kini menjadi ramai karena kehadiran Bi Nana dan lainnya. Sehingga membuat Ray terbangun dari tidurnya.
"Om ganteng udah bangun?" seru Nara yang berada di samping Ray.
"Lho Nara! kamu di sini, sama siapa?" tanya Ray terkejut.
"Sama Mamih dan Tante, Om ganteng." jawab Nara.
Mendengar itu, Ray segera bangkit dari posisinya dan mengarahkan pandangannya ke arah Zuy.
"Sayangku...."
Zuy menoleh. "Ray, kok udah bangun sih?"
Ray tersenyum, kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri Zuy.
"Mungkin karena kita terlalu berisik makanya Tuan Muda jadi terbangun, hahaha...." canda Dimas.
"Maaf ya Ray...." sambung Bi Nana.
"Tidak apa-apa Dokter Dimas, Bi Nana. Lagian Ray udah cukup istirahatnya." kata Ray sembari mengelus rambut Zuy.
"Yaudah kamu sekarang ke kamar mandi, setelah itu baru makan." titah Zuy.
"Iya sayangku...."
Ray langsung menuruti pujaan hatinya dan bergegas ke kamar mandi, sesaat setelah keluar dari kamar mandi, Ray menghampiri Bunda Artiana serta lainnya dan menyalaminya satu-persatu. Lalu ....
"Hai pipi gembul...." Ray menyapa Rana sambil menoel pipinya yang gembul.
__ADS_1
Rana pun menyahutnya dengan kedipan mata sambil menggerakkan tangan dan kakinya.
"Sepertinya Rana minta di gendong sama Om," kata Bi Nana.
"Oh, pipi gembul mau di gendong, sini Om gendong!"
Ray mengarahkan tangannya ke arah Rana dan saat hendak mengangkat tubuh Rana, tiba-tiba ....
Oaaaaa.... Oaaaaa....
Baby Z menangis dengan kencang, sehingga membuat Ray mengurungkan niatnya dan beralih ke arah Baby Z.
"Duh cantiknya Daddy kenapa tiba-tiba menangis? Sini Daddy gendong!"
Lalu Ray mengambil Baby Z dari Mamahnya Airin dan menggendongnya. Setelah berada di gendongan Ray, tiba-tiba Baby Z berhenti menangis. Membuat semuanya terperangah dan seketika tawa mereka menggema di kamar tersebut.
"Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, hahaha...." canda Bi Nana.
"Hmmmm, bisa aja Bi Nana ini," balas Ray sembari menimang Baby Z.
...----------------...
Tak terasa sore hari tiba, matahari pun sudah bergeser ke arah barat.
Sementara itu, Ray nampak tengah duduk di depan kamar sambil menggendong Baby R, sedangkan Baby Z berada di dalam kamar bersama Zuy dan Bu Ima.
Tak lama setelah Bi Nana dan lainnya pulang, Bu Ima datang bersama dengan Henri.
Harusnya sore ini mereka sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah, akan tetapi mereka menundanya sampai besok pagi, karena usulan dari Bi Nana dan Dimas.
"Gantengnya Daddy, besok kita pulang ke rumah ya!" Ray mengajak bicara Baby R.
Baby R yang mendengarnya hanya menggerakkan tangan sambil memanyunkan bibir dan menjulurkan sedikit lidahnya, sehingga membuat Ray tersenyum bahagia melihatnya.
Di saat tengah asik bersama Baby R, tiba-tiba ....
Kliiing....
Terdengar bunyi Chat dari hpnya itu, sehingga membuat Ray mengambil hpnya dari saku celananya dan melihat ke arah layarnya.
"Chat Group?" lirih Ray, kemudian ia langsung membuka icon chat yang berada di hpnya dan membacanya.
[Chat Group]
📲 Hai Daddy baru.... ✉️ (Bryllian)
📲 Siapa yang Daddy baru Bry? Istriku belum hamil lho.✉️ (Sutra)
📲 Apalagi aku yang belum sempat kepikiran tentang adik untuk Victoria, karena masih sama-sama sibuk. Padahal Victoria selalu minta adik, Hahaha.... ✉️ (Adrian Christopher)
📲 Maaf bapak-bapak bukan kalian berdua, tapi yang aku maksud si Coldman Rayyan. ✉️ (Bryllian)
📲 Apa aku tidak salah dengar nih? ✉️ (Sutra)
📲 Seriusan Bro? ✉️ (Adrian Christopher)
Ray terkekeh geli saat membaca pesan dari para sahabatnya itu, kemudian ia mulai mengetuk layar hpnya untuk membalas pesan dari para sahabatnya itu.
✉️ Lagi pada ngomongin apa nih? Kok rame banget, hahaha....📲 (Ray)
📲 Nah pemeran utamanya muncul nih, Hei Coldman kenapa kamu tidak memberi tahu kami? Kalau kamu sebenarnya sudah menikah. Tau-tau udah punya buntut aja. ✉️ (Bryllian)
✉️ Maaf Hyeong dan Tuan-tuan sekalian, aku belum sempat memberi tahu kalian semua.📲 (Ray)
📲 Ya tidak apa-apa, lalu anak kamu laki-laki apa perempuan? ✉️ (Adrian Christopher)
✉️ Laki-laki dan perempuan dong. :-D 📲 (Ray)
📲Hah! Maksud mu kembar, Ray.✉️ (Bryllian)
📲 Serius?✉️ (Adrian Christopher)
✉️ Tentu saja Tuan-tuan.📲 (Ray)
Ray lalu mengirimkan foto si kembar.
📲 Ini sih mukanya mirip Coldman semua. Hahaha...✉️ (Bryllian)
📲 Wah benar-benar kembar, padahal aku yang memberi saran malah keduluan dia, tapi selamat untuk mu Ray.✉️ (Sutra)
📲 Iya selamat untuk mu, Ray. Untuk kado menyusul ya!✉️ (Adrian Christopher)
📲 Selamat untuk mu ya Coldman, ✉️ (Bryllian)
✉️ Ya terimakasih semuanya.📲 (Ray)
Obrolan chat mereka pun masih berlanjut.
******************************
Rumah Dimas
Sementara itu di ruang keluarga, Maria nampak sedang mengobrol lewat telponnya.
"Li, tumben sekali kamu menelpon ku. Memangnya ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Kimberly?" tanya Maria pada seseorang yang di sebrang telponnya itu dan ternyata ia adalah Liora.
"Ya memang terjadi sesuatu pada Kimberly, tapi aku menelpon mu bukan untuk membahas tentang Kimberly," ujar Liora.
"Lalu...."
"Ini soal Ray, waktu itu kamu pernah bertanya pada ku, tentang Ray yang sudah menikah atau belum, iya kan?"
"Iya aku pernah bertanya seperti itu, memangnya ada apa Li?"
"Maria, sebenarnya tadi aku melihat foto bayi kembar di hp milik Michael dan wajah keduanya mirip sekali dengan Ray. Apa mereka berdua anak Ray? Apa Ray benar-benar sudah menikah? Terus siapa wanita itu Maria?" cecar Liora.
Sontak membuat Maria terkejut mendengarnya, ia pun menghela nafas panjangnya terlebih dahulu sebelum membuka suaranya.
"Sebenarnya itu ...."
****Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1