
<<<<<
Lalu kemudian Maria melayangkan tangannya dan akan menampar Zuy, akan tetapi ia menghentikan aksinya, karena ia terpaku saat melihat ke arah kalung yang di pakai Zuy.
"Ka-kalung dan cincin itu ...,"
Lirih Maria, pandangannya tak luput dari kalung yang di pakai Zuy. Maria mengingat akan satu hal, bahwa kalung berbandul cincin itu adalah hasil desainnya bersama Papahnya Zuy dan kemudian ia berikan pada anaknya, sebelum ia pergi meninggalkan suami dan anaknya itu.
Deeeg...
Seketika jantungnya berdegup dengan kencang, tubuhnya pun terasa bergetar dan lemas, lalu ....
"Kenapa berhenti! Ayo tampar! Biar anda semakin puas, Mrs Maria." sergah Zuy membuat pandangan Maria kembali mengarah ke Zuy.
Zuy pun menatap Maria dengan penuh amarah.
"Mrs Maria yang terhormat, saya benar-benar kecewa terhadap anda. Selama ini saya sangat mengidolakan anda, sampai saya mempunyai cita-cita ingin menjadi desainer hebat seperti anda. Namun apa yang saya dapatkan, anda malah selalu menyiksa saya, hanya karena kesalah pahaman anda terhadap saya. Saya sangat menyesal dan saya benar-benar sangat membenci anda dan lagi saya sangat bersyukur tidak mempunyai Ibu yang kejam seperti anda, Mrs Maria!" ungkap Zuy, air matanya tak dapat di bendung lagi.
Deeeg...
Jantung Maria kembali berdegup kencang, dadanya terasa sesak saat mendengar perkataan Zuy. Lalu dengan sengaja ia menarik kalung yang melingkar di leher Zuy sehingga membuat Zuy terkejut.
"Kenapa anda mengambil kalung milikku Mrs Maria?" pekik Zuy memegangi lehernya sendiri.
"Dari mana kamu mendapatkan kalung ini?" tanya Maria sembari menatap kalung itu. Lalu ....
"Tentu saja dia mendapatkan kalung itu dari Ibunya," seru seseorang membuat yang lainnya menoleh ke arah suara itu.
"Bi Nana!!"
......................
Beberapa Saat Sebelumnya....
Di sisi lain, nampak Aries yang baru memasuki tempat berbelanja itu, namun bukan hanya Aries saja, Bi Nana dan Nara pun berada di sana.
"Tante, kenapa Tante maksain diri untuk pergi ke sini sih!" pekik Aries.
"Memangnya kenapa Ries? Gak boleh ya?" tanya Bi Nana.
"Bukan seperti itu Tan. Tante Nana kan baru sembuh dan lagi harus banyak istirahat!" tutur Aries.
Sesaat Bi Nana menghela nafasnya. "Haaa... Tante bosen Ries, kalau harus tiduran terus, kemaren kan waktu di rumah sakit Tante udah banyak istirahat, jadi untuk sekarang, Tante ingin menggerakan badan Tante ini," ujarnya.
"Hmmmm, sebenarnya aku juga tidak tahu, kenapa aku sangat ingin pergi ke tempat ini, rasanya seperti ada yang menarik ku untuk datang kesini," batin Bi Nana.
"Untungnya Om Randy pergi keluar Kota. Kalau tidak, mungkin Aries kena marah oleh Om Randy," papar Aries.
Bi Nana pun terkekeh, lalu tanpa sengaja pandangan Aries mengarah ke arah orang-orang yang berkumpul.
"Tante, di sana ada apa ya? Kenapa banyak orang berkumpul?" tanya Aries menunjuk.
Sekilas Bi Nana langsung melihat ke arah Aries menunjuk.
"Mungkin ada yang jualan perabotan murah Ries, udah jangan urusin itu, ayo kita ke sana!" ajak Bi Nana.
Aries pun mengangguk, namun saat mereka hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba Nara berlari ke arah orang yang berkumpul itu sambil berteriak ....
"Kakak...."
Sontak membuat Aries dan Bi Nana bergegas menyusul Nara, saat beberapa jarak dari kerumunan, Aries langsung memegang tangan Nara, sehingga langkah Nara terhenti dan menoleh ke arah Aries.
"Nara mau kemana?" tanya Aries
"Lepasin tangan Nara! Nara mau ketemu sama Kakak Zuy," jawab Nara.
"Tapi Kakak Zuy gak ada di sini, Nara." papar Aries, ia pun langsung mengangkat tubuh Nara.
Akan tetapi Nara justru memberontak. "Kak Aries turunin Nara! Nara mau ke Kakak Zuy." rengeknya.
"Nara, kamu kenapa sayang?" tanya Bi Nana menghampiri.
"Nara mau ke Kakak, Mamih." kata Nara
"Kakak?!" pandangan Bi Nana mengarah ke Aries.
"Begini Tante, Nara mengira kalau Zuy ada di sana," ujar Aries.
Lalu Bi Nana memegang kepala Nara dan mengelusnya.
"Nara, Kakak gak ada di sini. Kakak lagi di rumah Om Ray, kalau Nara kangen Kakak, nanti Mamih telpon dan suruh Kakak datang ke rumah. Udah jangan ngambek lagi ya!" tutur Bi Nana.
Nara pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mamih...."
"Nah gitu dong.... Aries lebih baik kamu gendong Nara! Biar dia gak kabur lagi." titah Bi Nana.
"Baiklah Bi," ucap Aries.
Mereka langsung berbalik arah, namun saat hendak melangkah, tiba-tiba mereka mendengar suara yang tak asing, sontak membuat pandangan mereka mengarah ke arah kerumunan itu.
"Ries, apa kamu mendengar suara tadi?" tanya Bi Nana.
"Iya Tan, seperti suara Zuy," balas Aries.
Dan tanpa berfikir panjang, mereka pun langsung berjalan menuju ke arah kerumunan itu. Sesampainya ....
"Permisi, maaf ini ada apa ya? Kenapa pada berkumpul di sini?" tanya Aries ke salah satu orang yang berada di sana.
"Oh, itu ada seorang wanita di yang di tampar dan di permalukan," jawab orang tersebut.
Saking penasarannya, Aries dan Bi Nana pun langsung menerobos orang-orang yang berkumpul di sana, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat seorang wanita yang tubuhnya di penuhi pecahan telur dan tomat busuk. Wanita itu tak lain adalah Zuy dan semakin terkejutnya Bi Nana, saat ia melihat Maria berada di depan Zuy sambil menarik kalung Zuy.
Flashback End
...----------------...
Ternyata suara tersebut berasal dari Bi Nana, lalu kemudian Bi Nana menghampiri Zuy.
"Zuy apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Bi Nana sambil membersihkan pakaian Zuy.
"Ini semua karena ulah wanita itu Na," jawab Bu Ima menunjuk ke arah Maria.
Sontak membuat pandangan Bi Nana beralih ke arah Maria, perasaan marahnya pun tak dapat di tahannya lagi.
"Aries...."
Aries pun menghampiri, "Iya Tante."
"Bawa adik mu pergi dari sini!" titah Bi Nana.
__ADS_1
Aries langsung mengangguk cepat, "Baik Tante. Ayo Zuy kita pergi!"
Akan tetapi Zuy malah memegangi baju Bi Nana. "Tapi kalung Mamah," lirihnya.
Lalu kemudian Bi Nana memegang kepala Zuy, "Zuy, kamu ikut Kak Aries ya! Nanti Bi Nana yang mengambil kalung itu." kata Bi Nana.
Zuy menganggukkan kepalanya, Aries pun segera membawa Zuy dan Bu Ima pergi. Sesaat setelah mereka pergi, Bi Nana langsung mendekat ke arah Maria. Lalu tiba-tiba ....
Plaaak
Bi Nana menampar pipi Maria dengan sangat kencang, membuat Maria tersentak kaget.
"Kenapa kau menampar ku, b*stard!" pekik Maria.
Bukannya menjawab pertanyaan, Bi Nana malah menatap tajam dan ....
Plaaak
Lagi-lagi Bi Nana menampar Maria, sehingga membuat amarah Maria terpancing.
"Berhenti menampar ku!" sergah Maria.
Lalu ia melayangkan tangannya dan hendak menampar Bi Nana, akan tetapi Bi Nana malah menahannya.
"Harusnya aku melakukan ini pada saat kau kembali, Maria Lestari." cetus Bi Nana.
"Kau, bagaimana kau mengenaliku?" tanya Maria.
"Heh, tentu saja aku mengenalimu, wanita kejam yang sudah meninggalkan anak dan suaminya demi pria lain," cecar Bi Nana.
"Si-siapa kamu sebenarnya, kenapa kamu ....?!"
Lalu Bi Nana mencengkram kerah baju Maria dengan kuat.
"Siapa aku? Tentunya aku adalah orang yang berada di sana saat kamu meninggalkan suami dan anak mu itu," ujar Bi Nana.
"Nana! Apa kamu Nana?" tanya Maria
Bi Nana pun tersenyum sinis. "Akhirnya kau mengenali ku, Kak Maria."
Mendengar itu, Maria pun tersenyum bahagia. "Syukurlah aku bertemu dengan mu, Na." ucapnya.
"Kenapa kau sekarang terlihat bahagia? Bukankah kau tadi marah karena aku tampar!" cetus Bi Nana.
"Tentu saja aku bahagia Na, karena setelah bertemu dengan mu, aku juga bisa bertemu dengan Zoya," kata Maria. "Lalu di mana Zoya sekarang Na, pasti dia sudah besar dan menjadi gadis cantik kan?" sambung tanya Maria.
Kemudian Bi Nana melepaskan cengkramannya, senyum sinisnya kembali terukir.
"Kau bertanya pada ku di mana anakmu itu? Bukannya kamu sudah melihatnya, bahkan kamu berkali-kali menyakitinya," bentak Bi Nana.
"Apa maksudmu itu, Nana?" tanya Maria yang kebingungan.
Sesaat Bi Nana menghela nafasnya, "Haaa... Ternyata kamu benar-benar buta ya Maria, padahal kamu seorang Ibu, tapi kamu tidak merasakan ikatan batin terhadap anakmu itu."
"Nana.... Jangan memancing amarah ku! Cepat katakan di mana Zoya? Kalau kau tidak mengatakannya sekarang, aku akan melaporkanmu karena telah menyembunyikan anakku!" sergah Maria.
"Melaporkanku? Atas dasar apa hah!" pandangan Bi Nana mengalih ke arah orang-orang yang berkumpul itu. "Dan lagi untuk kalian semua yang ada di sini, asal kalian tahu saja, wanita ini telah meninggalkan anaknya saat masih berusia dua bulan, bukan hanya meninggalkannya, bahkan sekarang dia menyiksanya dan mempermalukannya di depan kalian semua," seru Bi Nana.
"Nana, kamu jangan memfitnahku, mana mungkin aku menyiksa anak ku, aku bahkan belum bertemu dengannya," pekik Maria.
Bi Nana kembali mendekat ke arah Maria, lalu ia mengambil kalung Zuy dari tangan Maria.
Seketika Maria terkejut saat mendengar cetusan dari Bi Nana.
"Ja-di maksud mu, Zoya itu ...."
"Iya, wanita yang kau tampar, kau jambak, bahkan kau permalukan dia di depan umum, dan Dia adalah putrimu! Anak yang selama 29 tahun kau tinggalkan, Maria." ungkap Bi Nana.
Sontak membuat semua yang berada di sana tersentak kaget, terutama Maria.
"Ternyata dia wanita yang sangat kejam."
"Seorang Ibu tapi gak punya hati nurani, sudah meninggalkan anak saat masih bayi, sekarang dia malah mempermalukannya."
Bla.. Bla... Bla.....
Semua kata yang di lontarkan oleh orang yang berada di sana.
Tubuh Maria seketika lemas tak berdaya, ia pun menjatuhkan dirinya di lantai dengan posisi duduk sambil meremas rambutnya.
"Ti-tidak mungkin dia itu Zoya, kamu pasti bohong kan Nana?"
"Untuk apa aku berbohong, kalau kau tidak percaya, kau bisa bertanya pada keluarga mu itu, bahkan mereka sudah mempunyai hasil tes DNA antara kau dan Zuy," jelas Bi Nana, "Dan aku ingatkan padamu Maria, kamu jangan temui gadis kecilku lagi, sebab dia sudah sangat membencimu!" sambungnya.
Nyuuut...
Dada Maria semakin sesak saat mendengar penjelasan dari Bi Nana, air matanya pun lolos membasahi pipinya, bukannya merasa iba, Bi Nana justru melangkah pergi meninggalkan Maria, orang-orang yang berada di sana pun pergi meninggalkan tempat itu.
"Apa yang telah aku lakukan selama ini? Kenapa aku tidak merasakan ikatan batin ku terhadap anakku sendiri," tangis Maria merutuki kesalahannya.
Sementara itu, Bi Nana terus melangkahkan kakinya menuju keluar dari tempat berbelanja itu, tak dapat di pungkiri betapa sedih nya Bi Nana saat ia menjelaskan yang sebenarnya terhadap Maria bahwa Zuy adalah anaknya.
"Kak Jordhan, maafkan aku yang sudah mengingkari janjiku karena memberi tahu pada Maria siapa Zuy sebenarnya. Akan tetapi Nana belum bisa memberi tahu pada Zuy tentang Maria. Karena Nana gak mau Zuy kepikiran, nanti bisa-bisa kesehatannya terganggu," ucap Bi Nana sambil menitihkan air matanya.
Sesaat setelah sampai di luar, Bi Nana pun langsung menghampiri Aries yang tengah berdiri sambil menggendong Nara.
"Ries, mana Zuy dan Kak Ima?" tanya Bi Nana.
"Mereka sudah di jemput pulang Tan, soalnya Zuy muntah-muntah terus," ujar Aries
"Oh, Syukurlah kalau mereka sudah pulang," ucap Bi Nana. "Ayo Ries kita juga pulang!" ajak Bi Nana.
Tanpa bertanya, Aries hanya mengangguk pelan saja, sesaat kemudian, mereka langsung masuk ke dalam mobil.
*********************
Rumah Ray
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di rumah, Zuy dan Bu Ima langsung turun dari mobil. Lalu Ray datang menghampiri mereka.
"Sayangku, kenapa seperti ini? Apa yang terjadi?" tanya Ray.
Akan tetapi Ray sebenarnya sudah mengetahui apa yang terjadi. Setelah mendapat kabar, Ray langsung menghubungi Henri yang tengah berada di Apartemen nya. Karena setiap hari libur, Ray membebaskan para anak buahnya untuk berlibur. Lalu Ray meminta Henri untuk mencari pelaku pelemparan telur dan tomat busuk terhadap Zuy.
Mendengar pertanyaan dari Ray, bukannya menjawab, Zuy malah menundukkan kepalanya, membuat Ray mengerutkan dahinya, lalu kemudian ia mengangkat tubuh Zuy, tanpa peduli kotor dan baunya tubuh Zuy akibat telur dan tomat busuk.
"Bu Ima cepat bebersih, setelah itu buatkan air hangat untuk Zuy!" pinta Ray
Bu Ima pun menganggukkan kepalanya, dan melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah. Begitu pula dengan Ray ia melangkah masuk ke dalam rumah. Setelah itu Ray membawa Zuy ke kamarnya.
__ADS_1
Kamar Ray
Setelah berada di kamarnya, Ray langsung membawa Zuy ke kamar mandi yang berada di kamarnya itu. Sesampainya, Ray menurunkan Zuy, lalu Ray mengambil shower dan menyalakannya.
"Maaf ya sayangku, Ray siram bentar ya! Supaya kotorannya hilang, habis itu baru berendam," kata Ray.
Zuy hanya mengangguk pelan saja, kemudian Ray mengarahkan shower itu ke tubuh Zuy dan perlahan menyiraminya sehingga kotoran yang menempel di rambut dan tubuh Zuy menghilang. Sesaat setelahnya Ray menyalakan air hangat ke dalam bathtube untuk Zuy berendam. Setelah bathtube terisi, mereka berdua langsung masuk ke dalam bathtube dan berendam bersama.
Entahlah apa yang mereka lakukan, akan tetapi Ray hanya ingin mengawasinya saja, ia tidak ingin Zuy berendam lama dan akhirnya demam lagi.
Beberapa saat kemudian, mereka pun keluar dari kamar mandi, Ray melangkah menuju ke arah tempat tidurnya sambil menggendong Zuy. Setelah itu ia mendudukkan Zuy di tepi ranjang, Ray pun ikut duduk di samping Zuy sambil memegang tangan Zuy.
"Sayangku, nanti kita jalan yuk!" ajak Ray.
Mendengar ajakan Ray, wajah Zuy langsung sumringah, ia pun menatap Ray dengan menunjukan ekspresi wajah imutnya.
"Beneran Ray, kamu akan mengajakku jalan?"
Ray merasa gemas saat melihat ekspresi wajah pujaan hatinya itu, hatinya pun berkata, "Duh imutnya, aah jadi pengin melahapnya lagi."
"Tentu sayangku.... Nah sayangku mau jalan kemana?" tanya Ray.
Zuy lalu mendongakkan kepalanya sambil mengetuk-ngetuk dagunya, seakan ia sedang berfikir untuk mencari tempat tujuan. Sesaat kemudian ....
"Ah, bagaimana kalau kita ke taman hiburan Ray, soalnya Zuy pengin makan di tempat yang biasa kita makan," kata Zuy.
"Oke sayangku, nanti sore kita berangkat, Ray juga ingin membeli sesuatu di sana. Euuum kalau tidak salah di taman hiburan ada penjual mangga tusuk kan?"
"Ada Ray, jangankan mangga tusuk, rujak juga ada," balas Zuy.
Sesaat Zuy mengingat sesuatu. "Oh iya Ray, Zuy tadi beli mangga lho, tapi belum terlalu matang sih, masih mangkel." kata Zuy.
"Oh iya, wah kebenaran dong, bagaimana kalau mangganya di buat rujak saja sayangku, tapi kamu yang buat ya!" pinta Ray.
"Siap tampan-ku Rayyan."
"Terimakasih sayangku," ucap Ray.
Ray langsung mendaratkan bibirnya ke pipi Zuy dan memeluk erat tubuh Zuy.
*********************
Rumah Dimas...
Sementara itu, Bunda Artiana, Dimas dan Archo tengah duduk sambil menunggu kedatangan Maria.
"Dim, Kakak mu kenapa belum pulang ya? Apa jangan-jangan nyasar?" tanya Bunda Artiana
"Ya mungkin macet di jalannya Bun, makanya Kak Maria belum pulang," kata Dimas.
Bunda Artiana pun tersenyum, lalu tiba-tiba ....
Braaaak...
Seseorang mendobrak pintu masuk dengan kencang membuat Bunda Artiana dan lainnya terkejut.
"Siapa yang membuka pintu dengan kasar?" tanya Bunda Artiana
"Entahlah, biar Archo lihat sebentar," kata Archo sambil bangkit dari posisinya.
Bunda Artiana pun menganggukkan kepalanya, saat Archo hendak melangkah, tiba-tiba Maria datang dengan rambut yang acak-acakan, mata sembab, sehingga membuat mereka terkejut dan kebingungan.
"Maria, apa yang terjadi? Kenapa rambut mu berantakan gitu?" tanya Bunda Artiana.
Bukan menjawab pertanyaan Bunda Artiana, Maria justru membanting tas slempangnya sontak membuat semuanya tersentak sambil mengelus dada.
"Mam, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Archo
"Kalian! kenapa kalian menyembunyikan kebenaran dariku?" sergah Maria.
"Apa maksudmu Maria?" tanya Bunda Artiana
"Apa benar kalau kalian telah melakukan tes DNA antara aku dan gadis sial itu?" tanya Maria, membuat Bunda Artiana dan lainnya terkejut.
"Kak Maria apa yang Kakak tanyakan itu? Siapa yang melakukan tes DNA?"
"Tentu saja kalian yang melakukannya," sergah Maria.
Tiba-tiba Bunda Artiana beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya, membuat Maria dan lainnya keheranan. Lalu Maria beralih menatap tajam ke arah Dimas dan Archo sehingga membuat keduanya tertunduk diam. Tak lama kemudian, Bunda Artiana kembali dengan membawa sebuah amplop putih, Bunda Artiana pun menghampiri ke Maria dan menyodorkan amplop itu ke arah Maria.
"Maria, maaf kan kesalahan kami, tapi kami benar-benar penasaran dengan wanita itu Maria, makanya kami melakukan tes DNA, tentu saja dengan bantuan Nak Archo." ujar Bunda Artiana.
"Ya sebenarnya Bunda ingin memberitahu hal ini pada saat ulang tahun Bunda, tapi karena kamu sudah terlanjur mengetahuinya, maka Bunda tidak akan menyembunyikannya lagi, Maria. Bukalah! Hasilnya ada di dalam amplop itu," sambungnya.
Maria pun langsung mengambil amplop itu dari tangan Bunda Artiana, dengan tangannya yang bergetar, ia perlahan membuka amplop itu dan mengambil isinya, setelah itu Maria membuka lembar kertas itu dan membacanya. Dan betapa terkejutnya Maria setelah membaca hasil tes DNA itu.
"I-ini...!"
"Iya Kak Maria, itu hasil akurat dari tes DNA kalian," jelas Dimas.
Mendengar penjelasan Dimas, membuat dada Maria terasa sesak, nafasnya tercekat, tubuhnya pun lemas, seketika air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Kenapa kalian tidak memberitahuku kalau kalian sudah mencurigainya sejak awal?" sergah Maria.
"Mam, Archo waktu itu sudah bilang ke Mam, akan tetapi Mam tidak mempercayainya, Mam bilang kalau dia melakukan operasi wajah, agar dia terlihat seperti Mam, lalu Mam juga bilang kalau Mam tidak merasakan ikatan batin Mam dengannya, yang ada hanya kebencian Mam terhadapnya," ujar Archo.
Lalu tiba-tiba Maria merasakan sakit yang hebat menyerang kepalanya, pandangannya pun mulai kabur, dan akhirnya ....
Bruuugh...
Tubuh Maria ambruk dan langsung tidak sadarkan diri, Bunda Artiana dan lainnya terkejut melihatnya.
"Maria...!!" seru Bunda Artiana.
Kemudian Dimas dan Archo mengangkat tubuh Maria dan membaringkannya di atas sofa, Dimas pun langsung memeriksa keadaan Maria.
"Dimas, apa yang terjadi pada Kakakmu?" tanya Bunda Artiana.
"Ini tidak baik Bunda, Kak Maria harus segera di bawa ke rumah sakit!" kata Dimas.
"Apa! Ru-rumah sakit?!"
***Bersambung...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1