
<<<<<
Ray lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy dan membisikkan sesuatu padanya sehingga membuat Zuy terperangah seraya membulatkan matanya.
"Hah! Serius kamu, Ray?"
Daddy dari si kembar pun kembali menatap pujaan hatinya seraya mengangguk kepalanya dengan cepat.
"Ya, aku serius sayangku. Maka dari itu aku mengajak kalian kesana. Bagaimana sayangku, apa kamu tertarik untuk melakukannya?"
Zuy berkata, "Emm, kalau itu sih tentu saja aku tertarik dan mau melakukannya."
"Yes. Eh, tapi sayangku jangan bicara apa-apa dulu ya tentang apa yang akan kita lakukan di sana! Sebab ini adalah sebuah kejutan yang akan menjadi momen terindah untuk mereka."
Zuy tersenyum seraya menggenggam tangan pria tampannya itu.
"Iya, kamu tenang aja Ray, aku tidak akan bicara apa-apa soal ini."
"Janji?"
"Ya aku janji tampan-ku."
"Terimakasih sayangku." Ray mengecup pipi Zuy.
"Oh iya Ray. Selain aku, si kembar, Airin dan Pak Davin. Siapa lagi yang akan ikut kesana?"
"Harusnya sih Kak Yi sama Kak Aries ikut, sebab Kak Yi ikut andil juga. Bahkan dia sampai minta tolong sama temannya yang di Korea untuk menyiapkan segala sesuatunya saat kita ada di sana. Tapi Kak Yi kan baru aja melahirkan, jadi ya dia gak jadi ikut." jelas Ray.
"Oh...."
Ray menyandarkan kepalanya di dinding sofa seraya merentangkan tangannya.
"Sebenarnya selain Kak Yi sama Kak Aries, aku juga ingin mengajak Bi Nana beserta anak-anaknya. Tapi apa Bi Nana mau ya kalau aku ajak kesana?" lontarnya di susul helaan nafasnya.
"Kamu tanya langsung aja ke Bi Nana, kalau Bi Nana mau ikut ya Syukur jadi di sana rame selain itu Rayn sama Zea juga ada temannya."
"Nanti aku akan tanya ke Bi Nana, semoga aja Bi Nana gak nolak ajakan ku ini." kata Ray, Zuy pun tersenyum.
Lalu....
"Terus kapan kita pergi kesananya Ray?" tanya Zuy penasaran.
"Kalau udah waktunya, nanti aku kabarin lagi ya sayangku yang cantik!"
"Oh oke. Emm, semoga aja secepatnya ya Ray, soalnya aku gak sabar ingin melakukan itu dan lagi sebenarnya pergi kesana juga impian kami berdua."
"Hmmm, impian kalian berdua?"
Zuy mengangguk-angguk.
"Iya impian kami berdua, impian aku bersama Airin. Dulu waktu masih kerja, kita berdua sering kali berkhayal ingin pergi kesana, bahkan kami sampai berniat menabung untuk bisa pergi ke Negeri ginseng itu. Tapi yang namanya niat gak serius otomatis ya gagal dan akhirnya hanya menjadi khayalan kita berdua aja."
"Oh.... Kalau boleh tau, apa tujuan kalian berdua ingin pergi kesana?"
"Tentu saja karena kami berdua ingin jalan-jalan sekaligus bertemu dan melihat para pria tampan idola kami yang ada di sana." ujar Zuy.
Mendengar itu seketika membuat raut wajah Ray berubah masam, lalu ia pun langsung mengubah posisinya beralih mengungkung tubuh pujaan hatinya.
"A-apa yang kamu lakukan Ray?"
"Barusan sayangku bilang apa? Ingin melihat para pria tampan idola sayangku? Memangnya setampan apa mereka itu sayangku, apa lebih tampan dariku? Hm!" cecar Ray dan nampak jelas bahwa ia tengah cemburu.
Zuy yang awalnya heran dengan kelakuan Ray yang tiba-tiba saja mengungkung tubuhnya pun kini menyadari bahwa pria tampannya itu tidak pernah suka kalau dirinya memuji pria lain. Lalu ia menyunggingkan senyumnya sehingga Ray mengernyit heran.
"Kenapa kamu malah tersenyum seperti itu, sayangku? Bukannya jawab pertanyaan ku yang barusan." ia mengerucutkan bibirnya.
"Habisnya aku mencium bau cuka yang tumpah dari kamu sih." Zuy mengendus-endus. "Tuh baunya juga sampai menyengat banget di hidungku ini."
"Sayangku!" Ray mencubit pipi Zuy sehingga ia meringis.
"Aaah, iya-iya maaf tampan-ku! Lagian kamu cemburuan banget sih. Padahal aku tadi bilangnya kan dulu, itu berarti sebelum aku bertemu dengan kamu lagi. Dan setelah ada kamu, jadi pria tampan-ku yang sekarang ini tentunya kamu, Ray."
"Bohong!"
"Dih, siapa juga yang bohong. Orang aku bicara jujur kok kalau pria tampan-ku yang sekarang itu kamu, Rayyan G Michael, Daddy tampannya anak-anakku!" ucap Zuy menoel caping hidung pria tampannya.
Seketika pipi dan telinga Ray langsung memerah mendengar ucapan dari Zuy, wajahnya yang masam dan senyumnya yang tadinya memudar kini kembali sumringah sehingga Zuy ikut tersenyum juga.
"Ehemm, ciee langsung memerah tuh pipi sama telinga kamu, hihihi...."
"Ma-mana ada pipi sama telingaku memerah, ngasal aja nih sayangku." elak Ray membuang wajahnya karena malu.
Zuy manggut-manggut.
"Oh.... Terus kalau itu bukan memerah berarti apa dong, semu atau ungu?"
Ray kembali menatap Zuy.
"Sayangku, kamu benar-benar menggodaku ya. Nih rasakan hukuman dari pria tampan-mu!"
Ia pun menggelitiki pinggang Zuy sehingga membuatnya menyemburkan tawanya karena kegelian.
Kyaaaa....
"Rayyan, hentikan! Kamu benar-benar membuatku geli. Hahaha...."
"Oh iya, lalu gelian mana sama yang ini? Hm!"
Salah satu tangan Ray beralih ke bagian tubuh sensitif Zuy, sehingga membuatnya semakin kegelian. Lalu ia menutup mulutnya dengan tangannya agar suara tawanya tidak menggema dan terdengar.
"Ray, hentikan! Ini benar-benar sangat menggelitik dan aku udah gak tahan." lirih Zuy dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Hmmm, baiklah. Tapi sebagai gantinya kamu harus cium aku ya sayangku!"
Zuy menganggukkan kepalanya dengan cepat, Ray lalu menghentikan aksinya, kemudian beralih mendaratkan ciuman di bibir manis pujaan hatinya menyesapnya dengan lembut.
Dan ketika mereka berdua tengah asik menikmati ciuman mesra favoritnya, tiba-tiba terdengar suara tangisan keras dari kamar anaknya sontak aktivitas keduanya terhenti.
"Duh, kenapa harus menangis di saat seperti ini sih!" gerutu Ray.
__ADS_1
"Jangan menggerutu dan cepatlah bangun!"
Ray membangunkan tubuhnya dan berganti posisi menjadi duduk dengan ekspresi wajahnya yang cemberut.
"Hei jangan cemberut gitu, nanti setelah anak kita tenang, baru kita sambung lagi ya tampan-ku!"
Ray menengadah menatap kembali pujaan hatinya.
"Serius?"
"Iya serius. Yaudah aku ke kamar mereka dulu ya!"
"Aku ikut! Soalnya aku juga mau jatah squishy-ku."
Zuy mendesah. "Huh, dasar kamu ini Ray!"
Ray tersenyum menampilkan baris giginya, sesaat keduanya pun kembali ke kamar anak-anaknya.
(Bagi yang penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan di sana dan kejutan untuk siapa sebenarnya? Tunggu saatnya ya biar semakin penasaran dan jadi kejutan juga.... πβοΈ)
...----------------...
Malam sudah beranjak pergi, namun tidak untuk langit yang terlihat masih gelap, karena matahari masih berada di singgasananya.
βPukul 05.00am
Bi Nana nampak sudah berada di dapur dan tengah menyiapkan bahan-bahan yang akan ia masak untuk sarapan pagi sesuai dengan permintaan dari keponakan tersayangnya yaitu Zuy.
Sedangkan untuk pelayan lainnya mengerjakan pekerjaan masing-masing.
Bu Ima yang kala itu baru masuk ke dapur pun langsung menghampiri Bi Nana.
"Nana...." panggil Bu Ima sehingga Bi Nana memutar badannya menghadap Bu Ima.
"Pagi Kak Ima."
"Pagi juga. Sedang apa kamu, Na?" tanya Bu Ima.
"Oh ini, Nana sedang nyiapin bahan untuk membuat nasi kuning Kak." jawab Bi Nana.
"Nasi kuning?"
Bi Nana mengangguk. "Iya, soalnya semalam Zuy bilang padaku kalau ia pengin nasi kuning buatan ku, Kak. Jadi sekarang Nana mau buatin nasi kuning untuknya ya sekalian buat kita sarapan juga."
Bu Ima tercengang. "Hah! Zuy yang minta?! Apa dia sedang isi lagi, Na?"
"Entah Kak. Tapi kalau beneran isi lagi ya syukur Kak, biar nambah rame sama ocehan anak-anak."
Bu Ima manggut-manggut.
"Bener juga kamu, Na. Yaudah kalau gitu Kakak bantu ya!"
"Iya, terimakasih Kak."
"Sama-sama Na."
Bu Ima lalu mengambil beberapa bahan lainnya dari dalam kulkas seperti kentang, tempe dan lain sebagainya yang akan di buat untuk lauk pauk pendamping nasi kuning.
Masakan yang di buat Bi Nana pun sudah matang, lalu Bi Nana meminta pelayan untuk membawa makanannya ke meja makan.
Selang sesaat, semuanya sudah berada di meja makan dan mereka terperangah melihat menu sarapan yang di hidangkan di atas meja makan yaitu nasi kuning dengan lauk-pauknya seperti Ayam goreng serundeng, telur, perkedel, orek tempe, sambal, kerupuk beserta lalapannya.
"Wah, mantap nih menu sarapannya." lontar Airin.
"Bener banget singa betina, ngeliatnya bikin aku ngiler." sambung Davin dengan matanya yang berbinar.
"Ini semua Bibi yang masak?" Ray bertanya pada Bi Nana.
"Iya, tapi Kak Ima juga bantu Bibi masakin ini semua. Sesuai dengan permintaan gadis kecilku." Bi Nana tersenyum ke arah Zuy.
Zuy pun mendekat ke Bi Nana dan memeluknya.
"Terimakasih Bi Nana." ucap Zuy di susul ciuman di pipi Bi Nana.
"Iya sayang. Yaudah sekarang kita sarapan yuk!"
"Oke Bi."
Zuy kembali ke tempat duduknya, lalu ia menempatkan makanannya di piring dan memberikannya pada Ray, begitu pula dengan lainnya.
"Selamat makan!" ucap mereka secara bersamaan.
Mereka semua langsung menyantap makanannya.
"Dav, pelan-pelan makannya jangan buru-buru gitu! Nanti tersedak lho." tutur Bi Nana karena melihat Davin menyantap makanannya dengan lahapnya.
Davin menengadah sembari menelan makanannya.
"Maaf Tante, habisnya enak sih. Makanya Davin makannya buru-buru supaya bisa nambah lagi. Bolehkan Tan?"
"Tentu boleh dong Dav! Makanya Tante sengaja masak banyak supaya kalian bisa nambah lagi."
"Yeah, terimakasih Tante."
"Iya Dav." Bi Nana mengalihkan pandangannya ke arah Airin. "Rin, bekal untuk kamu udah Tante siapin, nanti kamu ambil aja di dapur ya!"
"Asik, terimakasih banyak Tante Nana."
"Sama-sama Rin."
Lalu....
"Oh iya Tuan Ray," tegur Davin.
"...." Ray menoleh.
"Nanti setelah selesai sarapan kita ke ruang kerja ya! Soalnya ada dokumen penting yang harus anda lihat dan di tanda tangani." kata Davin.
"Oke." singkat Ray.
__ADS_1
Setelah selesai dengan sarapannya, Ray dan Davin segera ke ruang kerjanya. Sedangkan untuk yang lainnya melakukan aktivitasnya masing-masing.
Setibanya di ruang kerjanya, keduanya pun melangkah masuk. Namun sebelum menutup pintu, Davin terlebih dahulu mengedarkan pandangannya, setelah di rasa cukup aman, ia pun langsung menutup pintunya dan menghampiri Ray.
"Jadi ada informasi apa sampai Kak Davin mengajakku kesini? Tentunya bukan karena sebuah dokumen penting kan?" cecar Ray.
Davin langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.
"Tuan Ray benar, memang bukan karena dokumen penting aku mengajak Tuan kesini, tapi melainkan karena istri Daddy." jawab Davin.
Ray mengerenyit. "Hmm, istri Daddy? Maksudnya Kak Davin itu Liora?"
"Iya Tuan Ray, memangnya siapa lagi istri Daddy selain Mrs Liora. Ya walaupun aku sangat berharap kalau Daddy punya istri lagi selain wanita itu." cetus Davin.
Ray menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Katakan padaku!" titahnya dengan singkat.
Davin menghela nafasnya sejenak.
"Begini Tuan, semalam orang suruhan Daddy menghubungi ku dan mengatakan kalau sekarang ini Mrs Liora sedang di Indonesia." jelas Davin berhasil membuat Ray terkejut.
"Apa! Wanita itu ada di Indonesia?! Tapi dua hari yang lalu Daddy bilang kalau Liora sedang ada di Paris untuk mendiskusikan tentang pernikahannya Archo."
"Iya Tuan, tapi setelah dari Paris dia langsung pergi ke Indonesia bukan pulang ke Amerika." ujar Davin.
Seketika wajah Ray langsung mengeras sampai-sampai pembuluh darahnya terlihat. ia pun meremas kuat tangannya seraya menggertakan giginya.
"Tsk, benar-benar wanita licik itu! Pasti Liora masih penasaran dengan apa yang di dengarnya mengenai aku yang sudah mempunyai anak makanya dia sampai datang kesini."
"Ya pastinya begitu Tuan, namanya juga wanita licik." lontar Davin. "Terus sekarang apa yang akan kita lakukan Tuan? Apa kita perlu mengambil tindakan atauβ"
"Untuk sekarang ini kita awasi saja dulu! Kalau dia berbuat sesuatu baru kita langsung ambil tindakan terhadapnya. Dan lagi kita pura-pura saja tidak tahu kalau dia sedang ada disini, supaya ia tidak curiga kalau kita sedang mengawasinya."
Davin manggut-manggut.
"Siap Tuan Ray."
Sesaat setelah selesai mengobrol, keduanya pun kembali ke kamarnya masing-masing untuk bersiap-siap pergi bekerja.
Beberapa waktu kemudian....
Zuy berada di teras Villanya bersama dengan si kembar seraya menyuapi mereka berdua dengan makanan pendamping ASI secara bergantian.
Sedangkan Ray dan Davin beberapa menit yang lalu sudah berangkat ke Perusahaannya.
Keduanya pun memakan makanannya dengan lahap dan sesekali mengeluarkan ocehan khas mereka berdua.
"Makan yang banyak ya ganteng sama cantiknya Mamah biar kalian tumbuh besar dan cepat jalan kaya Kakak Rana, ya!" ucap Zuy.
Dan di saat ia tengah asik menyuapi kedua anaknya, seseorang pun datang seraya berjalan menghampiri mereka.
"Cucuku!"
Mendengarnya pun sontak membuat Zuy langsung memutar badannya menghadap ke arah seorang yang sudah berdiri di belakangnya itu.
"N-Nenek!" lirih Zuy.
Ia pun segera mendekat ke arah orang yang ia panggil dengan sebutan Nenek yang berarti orang tersebut adalah Bunda Artiana. Kemudian ia meraih tangannya seraya menciumnya.
"Nenek apa kabar? Kenapa gak bilang dulu kalau mau datang kesini?"
"Kenapa Nenek harus bilang? Kamu aja gak pernah datang ke rumah Nenek. Padahal Nenek kangen sama kalian terutama cicit-cicit Nenek itu." cetus Bunda Artiana sehingga Zuy menundukkan kepalanya.
"Ma-maafin Zuy Nek! Kalau Zuy jarang ke rumah Nenek. Soalnya Zuyβ"
Bunda Artiana membuang nafasnya dan menempatkan tangannya di bahu Zuy.
"Yaudah gak apa-apa, Nenek ngerti perasaan kamu yang masih trauma karena kejadian waktu itu. Tapi kapan-kapan kamu harus main ke rumah ya cucuku!"
Zuy mengangkat kepalanya sembari mengangguk.
"Iya, nanti kapan-kapan Zuy main ke rumah Nenek lagi."
"Oke, Nenek tunggu!"
Lalu kemudian Bunda Artiana beralih mendekat ke arah kedua cicitnya.
"Cicitnya Nenek uyut sedang apa? Kenapa mulutnya belepotan gitu?" tanya Bunda Artiana.
"Mamam." oceh Baby R menggerak-gerakkan tangannya.
"Mereka berdua sedang makan Nek."
"Oh...." Bunda Artiana manggut-manggut kemudian menciumi pipi kedua cicitnya itu secara bergantian.
Lalu sesaat mereka pun masuk ke dalam.
******************************
Siang Hari....
Apartemen.
Sementara itu, Melan nampak sedang menikmati makan siangnya sendirian, sedangkan Archo sedari tadi sudah pergi karena ada suatu urusan.
Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi keras membuat Melan menghentikan aktivitasnya dan memalingkan wajahnya ke arah pintu.
"Pasti itu Tuan yang datang." batin Melan sembari beranjak dari posisinya dan berjalan ke arah pintu.
Kemudian Melan membukakan pintunya, namun ia terdiam karena ternyata yang datang itu bukan suaminya melainkan dua orang wanita dan salah satunya menggunakan kursi roda.
Lalu salah satu dari wanita itu pun mendekat ke arah Melan.
"Apa benar kamu yang bernama Melan Adhisti Anggraeni?"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" πππ
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πππ
Salam Author... πβπβ