
<<<<<
Mendengar penjelasan Dimas, Bunda Artiana kembali menundukkan kepalanya, air matanya pun kembali membasahi pipinya.
"Semoga secepatnya ya Dimas.."
Dimas pun mengangguk dan berkata, "Iya Bunda semoga secepatnya."
"Dimas, sebenarnya Bunda sangat keberatan dengan syarat yang di ajukan oleh Bibinya Zuy," ujar Bunda Artiana
"Bunda, Dimas pun sama seperti Bunda, tapi mau bagaimana lagi, kita tidak bisa menentangnya," tutur Dimas
•••••••••••••
Flashback
°Rumah Sakit
Selang beberapa menit setelah kepergian Davin dari ruang rawat Bi Nana. Nampak Bunda Artiana, Archo, dan Dimas berjalan menuju ke arah ruang rawat Bi Nana, sesampainya mereka pun langsung masuk ke ruangan itu.
"Permisi.." ucap Bunda Artiana
Bi Nana dan Pak Randy langsung menoleh ke arah pintu.
"Ka-kalian...!!"
"Apa kau mengenalnya Na?" tanya Pak Randy.
"Mereka itu yang Nana ceritakan tadi," jawab Bi Nana.
Pak Randy pun terkejut, "Apa kau bilang..!!"
Kemudian Bunda Artiana dan yang lainnya menghampiri Bi Nana.
"Bagaimana keadaanmu saat ini Nak?" tanya Bunda Artiana
Bi Nana pun menatap Bunda Artiana, "Seperti yang anda lihat Nyonya," cetus Bi Nana.
"Maafkan kami Nak, kami tidak bermaksud membuatmu seperti ini kami ...,"
"Papi, bisakah Papi membawa Nara keluar..! Nana ingin bicara dengan mereka," titah Bi Nana pada Pak Randy.
Pak Randy pun mengangguk, "Baik Na, ingat jangan sampai kau terbawa emosi lagi," tutur Pak Randy.
Bi Nana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Hei jagoan Papi, ayo kita keluar..!!" ajak Pak Randy sambil mengangkat tubuh Nara dan menggendongnya.
Kemudian mereka keluar dari ruang rawat Bi Nana, sesaat setelahnya, pandangan Bi Nana beralih pada Bunda Artiana.
"Nak.."
"Apa kalian kesini ingin membicarakan soal Zuy?" tanya Bi Nana
"Ti-tidak Nak, kau salah paham, Bunda hanya ingin menjengukmu dan meminta maaf padamu," jawab Bunda Artiana.
Sesaat Bi Nana menghela nafasnya, "Huh... jika kalian ingin mengakui Zuy sebagai keluarga kalian, maka akuilah dia sebagai keluarga kalian.."
Mendengar perkataan Bi Nana, Bunda Artiana dan yang lainnya terkejut.
"Kau tadi bilang apa Nak?" tanya Bunda Artiana yang belum percaya.
"Ya, kalian boleh mengakuinya.." tegas Bi Nana.
Bunda Artiana langsung tersenyum bahagia, "Benarkah? terimakasih banyak Nak," ucapnya.
Archo ikut bahagia, begitu pula dengan Dimas, ia langsung merangkul pundak Bunda Artiana.
"Jangan senang dulu, aku belum selesai dengan omonganku ini. Kalian memang boleh mengakuinya, tapi ada syarat yang aku ajukan untuk kalian dan kalian harus menyanggupinya.." kata Bi Nana.
"Syarat? syarat apa itu Nak?" tanya Bunda Artiana
Bi Nana menundukkan kepalanya, lalu ia menarik nafasnya dan menghembuskannya, lalu pandangannya kembali mengarah ke Bunda Artiana.
"Syarat pertama, sebelum hasil tes DNA itu keluar, lalu kemudian kalian bertemu dengan Zuy, kalian tidak boleh mengatakan apa-apa pada Zuy siapa kalian sebenarnya. Syarat kedua, kalian juga tidak boleh memberitahu pada Maria soal Zuy yang sebenarnya, biar dia yang merasakan sendiri ikatan batinnya dengan Zuy. Dan Syarat yang ketiga, kalian hanya boleh mengakuinya saja sebagai keluarga, tidak boleh membawanya ataupun mengganggu kehidupannya," ujar Bi Nana.
"Apa kalian sanggup dengan syarat yang aku ajukan untuk kalian?" sambung tanya Bi Nana.
Mendengar persyaratan dari Bi Nana, membuat Bunda Artiana dan lainnya terdiam dan saling memandang satu sama lain, lalu kemudian...
"Nyonya, syarat yang anda ajukan sedikit memberatkan kami, apalagi syarat yang nomer dua, kenapa kami tidak boleh memberitahu pada Mam Maria, kalau dia anaknya.." sergah Archo
"Itu karena ada seseorang yang memberitahuku bahwa Maria sangat memanjakan anak emasnya yaitu Kimberly, dan saat ia berada di sini, Maria pernah menggertak Zuy. Apa saya salah jika saya ingin menguji ikatan batin antara Maria dan Zuy." tegas Bi Nana membuat Archo tertunduk.
Ya karena Archo mengetahui bahwa Maria tidak menyukai Zuy.
Mendengar itu, Bunda Artiana pun terkejut, "Apa..! jadi Maria pernah menggertak Zuy?"
"Iya, maka dari itu saya mengajukan syarat seperti itu," ujar Bi Nana.
"Ta-tapi Nak ...,"
"Jika kalian tidak menyetujuinya, jangan berharap kalian bisa mengakuinya.." gertak Bi Nana.
Lalu Bunda Artiana melihat ke arah Dimas, "Bagaimana Dimas?"
"Dimas terserah Bunda saja," jawab Dimas.
Kemudian pandangan Bunda Artiana mengalih pada Archo, "Lalu bagaimana denganmu Nak Archo?"
Archo pun mengangkat kepalanya dan menatap Bunda Artiana, "Archo juga terserah Nyonya saja."
Sesaat Bunda Artiana tertunduk, kemudian ia menghela nafas panjangnya dan melihat ke arah Bi Nana.
"Baiklah Bunda setuju dengan Syaratmu Nak," kata Bunda Artiana.
Bi Nana pun menyunggingkan senyumannya, "Baiklah kalau anda setuju, kalian boleh keluar dari sini, soalnya saya butuh istirahat."
Bunda Artiana pun menganggukkan kepalanya, lalu mereka melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Bi Nana. Sesaat setelahnya..
"Aku akan meminta tolong pada Tuan Muda untuk menjaga Zuy, agar tidak ada yang mengambilnya," lirih Bi Nana.
Flashback End
••••••••••••••
"Bunda, bagaimanapun kita harus hargai keputusan Bibinya Zuy, karena dia lah orang yang sangat berjasa pada Zuy, dia yang merawat Zuy dari bayi hingga menjadi wanita cantik, tidak mudah usaha yang di lakukannya, bahkan ia sampai mengorbakan masa mudanya demi membesarkan Zuy. Coba kalau orang lain, mungkin mereka tidak akan mau melakukan hal yang sama seperti Bibinya Zuy," tutur Dimas menghapus air matanya Bunda Artiana.
Bunda Artiana langsung tertegun mendengar tuturan dari Dimas, ia pun menganggukkan kepalanya.
"Iya kamu benar Dimas," lirih Bunda Artiana.
"Yaudah kalau begitu Bunda jangan bersedih lagi.! sekarang kita keluar yuk, Eqitna dan nayla sudah menunggu Bunda."
Bunda Artiana pun menganggukkan kepalanya, kemudian Bunda Artiana beranjak dari tempat duduknya. Lalu mereka melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bunda Artiana.
__ADS_1
***************
SWEDIA
Åre Ski Resort.
Sementara itu Zuy yang masih berada di luar Resort.
"Excuse Me.." sapa seseorang di belakang Zuy.
Zuy pun langsung menoleh, "Hmmmm?!"
Mata Zuy terbelalak dan terkejut melihat anak perempuan berusia 7 tahun menyapanya, kemudian anak tersebut mengulurkan tangannya.
(Anggap saja mereka sedang berbicara menggunakan bahasa Inggris, soalnya Author malas transletnya.. hehehe)
"Apakah jepit rambut ini milik Kakak?" tanya si anak itu, ternyata ia memberikan jepit rambut milik Zuy.
Lalu Zuy membungkukkan badannya, "Iya benar ini milikku, bagaimana bisa jepit rambutku ada di kamu?"
"Tadi aku tidak sengaja melihat jepit ini terjatuh dari rambut kakak, makanya aku ambil dan kembalikan ke kakak," jelas anak itu
Zuy pun tersenyum dan mengambil jepit rambutnya dari tangan anak itu, "Oh seperti itu ya, terimakasih banyak, kamu anak yang baik ya.." ucap Zuy, lalu ia memegang kepala anak itu.
"Sama-sama Kakak.."
Zuy mengangkat kepalanya, "Oh iya, lalu apa yang kamu lakukan di sini? siapa namamu dan di mana orang tuamu?" tanya Zuy mengedarkan pandangannya.
"Namaku Cathrina, Daddy dan Mommy ada di sana," jawab Cathrina sembari menunjuk ke arah orang tuanya.
Zuy pun melihat ke arah yang di tunjukan oleh Cathrina, lalu kedua orang tua Cathrina tersenyum pada Zuy sembari melambaikan tangannya, Zuy mengangguk dan tersenyum. Kemudian ia beralih ke arah Cathrina.
"Sepertinya mereka memanggilmu, lebih baik kau kembali ke sana..!" titah Zuy.
Lalu tiba-tiba Cathrina memegang tangan Zuy dan menariknya, "Kakak ikut denganku yuk..!!" ajak Cathrina.
"Ta-tapi ...,"
Namun Cathrina tak menggubrisnya, ia terus menarik tangan Zuy menuju ke arah orang tuanya, sampai Zuy hampir terjatuh. Sesampainya..
"Daddy, Mommy, apa Kakak ini boleh ikut merayakan ulang tahunku?" tanya Cathrina pada orang tuanya.
Mereka pun menganggukkan kepalanya, lalu Mommy-nya Cathrina menghampiri Zuy.
"Ayo mari duduk sini..!!" ajak Mommy-nya Cathrina.
Zuy pun menganggukkan kepalanya, kemudian ia duduk di samping Cathrina.
"Hmmm, maaf sebelumnya, apakah kamu Kimberly model yang terkenal itu?" tanya Mommy Cathrina
Zuy langsung menggeleng cepat, "Bukan Mrs, saya bukan Kimberly."
"Oh aku kira kamu Kimberly, habisnya wajahmu mirip dengan Kimberly, tapi sepertinya kamu lebih muda darinya," ujar Mommy Cathrina.
Mendengar itu, Zuy hanya tersenyum dan hatinya berkata, "Justru usiaku jauh lebih tua dari Kimberly."
"Mommy jangan bertanya terus, ayo kita rayakan hari ulang tahunku..!!" pekik Cathrina.
"Hahaha.. iya maaf ya Cathrin," ucap Mommy Cathrina.
Lalu mereka merayakan ulang tahun Cathrina. Beberapa saat kemudian akhirnya ulang tahun Cathrina selesai, Zuy langsung berpamitan.
"Maaf sepertinya saya harus pergi, saya takut ada yang mencari saya," ujar Zuy
Zuy menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu Mr. Saya bisa sendiri dan terimakasih atas tawaran anda."
Cathrina lalu memberikan paper bag pada Zuy, "Kakak, terimakasih sudah mau ikut merayakan ulang tahunku," ucapnya.
"Sama-sama, terimakasih juga sudah mengajakku ke acara ulang tahunmu Cathrina.."
Cathrina pun tersenyum, kemudian Zuy melenggang pergi meninggalkan Cathrina dan keluarganya. Saat sudah di tengah jalan, Zuy tiba-tiba lupa kemana arah menuju Resort-nya.
"Aduuh, jalannya kanan apa kiri ya, aku benar-benar lupa, dan lagi kaki ku mulai sakit, gara-gara Cathrina menarikku tadi," lirih Zuy,
Ia pun terus melangkahkan kakinya walau tidak tahu kemana arah yang di tujunya.
°°°°°°°°°°°°°°°°
Sementara itu, Ray dan yang lainnya masih sibuk mencari Zuy yang tak kunjung ketemu.
"Bagaimana? apa kau sudah menemukan Nyonya?" tanya Ray
Henri pun menggelengkan kepalanya, "Belum Tuan.."
"Tsk, cari satu orang saja gak becus, kerjaan kalian apa sih..!!" sergah Ray.
Henri dan yang lainnya menunduk, lalu tiba-tiba..
Deeeg
Jantung Ray berdegup kencang, ia pun langsung melangkahkan kakinya dengan cepat, membuat Henri kebingungan, Henri pun mengikuti Ray, sedangkan pengawal lainnya berpencar mencari Zuy.
Di sisi lain, Zuy terus melangkahkan kakinya, ia pun mulai kebingungan karena jalan menuju ke Resort belum juga ketemu.
"Duh, sepertinya aku nyasar nih, lalu apakah aku akan menjadi gelandangan, aah kenapa aku mikirnya aneh-aneh sih, yang terpenting bagaimana dengan Tuan Muda, pasti ia khawatir," lirih Zuy.
Ia pun kembali melangkahkan kakinya, akan tetapi saat beberapa langkah, lagi-lagi kaki Zuy tergelincir, akibatnya ia kehilangan keseimbangan tubuhnya sehingga membuatnya terjungkal, namun seseorang dengan sigap menahan tubuhnya dari belakang.
"Sayangku, sepertinya senang banget ya bikin orang khawatir," pekiknya.
Lalu Zuy menoleh ke belakang, "Tu-Tuan Muda..!!"
Ternyata dia Ray, ia pun tersenyum dan membalikan badan Zuy, kemudian Ray memeluk Zuy dengan erat.
"Sayangku, Syukurlah akhirnya aku menemukanmu.." ucap Ray
"Maafkan aku Rayyan.." Zuy pun membalas pelukan Ray.
Sesaat kemudian mereka melepaskan pelukannya, dan Ray mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy. Sedangkan Henri yang berada tak jauh dari mereka, langsung menutup matanya. Tak lama setelahnya, mereka menghentikan aktivitasnya.
"Ayo kita ke Resort..!!" ajak Ray
Zuy mengangguk, Ray lalu menggenggam erat tangan Zuy. Namun saat hendak melangkahkan kakinya...
"Aawww.." rintih Zuy memegang kakinya.
Melihat Zuy kesakitan, dengan sigap Ray menggendong tubuh Zuy dengan gaya bridal style.
"Tu-Tuan Muda, apa yang anda lakukan?"
"Diamlah..!!" titah Ray, lalu ia mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy, "Aku akan menghukum mu sayangku, karena sudah pergi tanpa pamit," bisik Ray.
"Hah..!!"
Ray melangkahkan kakinya menuju ke Resort, Henri pun mengikuti Ray dari belakang.
__ADS_1
*********
Resort
Sesampainya di Resort, Ray terus menggendong Zuy, dan terus berjalan menuju ke arah kamarnya yang berada di atas, akan tetapi ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Henri.
"Tetaplah berjaga di sini..!!" titah Ray.
Henri pun menundukkan kepalanya, "Baik Tuan Ray."
Kemudian Ray kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, lalu...
Trrrrrrt.. Trrrrrrt
Hpnya Henri pun berbunyi, lalu ia mengambil hpnya di saku jasnya dan melihat ke layar hpnya.
"Pak Davin..!!"
Ia pun menjawab telponnya.
"Halo Henri, bagaimana keadaan di sana?" tanya Davin
"Lumayan, tadi juga Nyonya hampir hilang, untung saja cepat di temukan oleh Tuan Ray, dan sekarang mereka berada di kamar," jelas Henri
"Kamar..! Euum Henri bisakah kamu ...," Davin pun menjelaskan apa yang ia inginkan.
"Baiklah Pak Davin, akan saya lakukan," ujar Henri.
Lalu mereka melanjutkan mengobrol..
°°°°°°°°°°°°°
Kamar
Selang beberapa saat kemudian, setelah berada di dalam kamar.
Aaaaaaah
"Tuan Muda sakit, jangan kencang-kencang..!!" pekik Zuy
"Ini juga sudah pelan, sayangku jangan tegang gitu, coba lemasin dikit biar Ray gak susah!" titah Ray.
"Sudah cukup..!! Zuy gak tahaan, benar-benar sakit Tuan, Aaaach...," rintih Zuy.
"Iish.. bentar lagi sayangku, udah tanggung ini sayangku," ujar Ray, lalu kemudian..
Kraak..
"Aaaaaaah.. Haah.. haah..haaaa..." teriak Zuy terengah-engah
"Huh.. selesai juga, coba sayangku ganti posisi..!!"
Zuy pun kebingungan, "Ganti posisi?"
"Iya sayangku, coba berdiri sambil gerak-gerakin kakinya..!!" pinta Ray.
Zuy pun menurut, ia langsung berdiri dan menggerakan kakinya, "Waah udah gak sakit lagi, terimakasih Tuan Muda," ucapnya.
"Hmmm, cuma terimakasih aja nih," lirih Ray.
Zuy mengerti apa yang Ray maksud, lalu ia mendekatkan wajahnya ke arah Ray..
Cup..!!
Satu kecupan mesra mendarat di pipi Ray, membuat pipi Ray merona.
"Sayangku memang paling mengerti.."
Lalu mereka duduk di sofa yang berada di kamarnya.
"Tuan Muda benar-benar hebat, kaki Zuy yang terkilir sembuh dengan cepat karena pijatan anda," ucap Zuy
Ray pun tersenyum, "Ya itulah kelebihan dari si tampan-mu ini, sayangku." ujar Ray dengan bangganya
Zuy langsung memutar bola matanya, "Hmmm, iya deh Zuy akui kalau Tuan tampan-ku bisa segalanya."
"Nah itu tahu, hehehe.." kekeh Ray, "Euuum sayangku.."
Zuy menoleh, "Iya Tuan Muda.."
"Kalau misalnya Ray menyuruh sayangku untuk Resign dari pekerjaan, apakah sayangku akan menurut?" tanya Ray
Mendengar pertanyaan Ray, Zuy langsung mengerutkan dahinya, "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Gak kenapa-napa sayangku, itu kan misalnya.." jelas Ray
"Kalau misalnya juga, Zuy gak akan resign dari kerjaan, sebelum kita menikah Tuan," ujar Zuy yang belum sadar akan statusnya sekarang
"Maaf sayangku, kalau Ray bertanya seperti itu," ucap Ray, "Dan lagi kamu itu sudah menjadi milikku," batin Ray.
"Tidak apa-apa Tuan Muda, Zuy mengerti kok maksud anda, Zuy juga bahagia Tuan, tapi ...,"
Zuy lalu menundukkan kepalanya sembari memainkan jari tangannya.
"Tapi apa sayangku?"
"Tuan, tentang hubungan kita ini, apa Mr Michael akan menerimaku sebagai menantunya? bukan kah Mr Michael menginginkan Kimberly?"
Mendengar pertanyaan Zuy, Ray pun menyunggingkan senyumannya, lalu ia memegang pipi Zuy dan mengalihkan pandangan Zuy ke arahnya.
"Sayangku jangan khawatir, sebenarnya Daddy merestui hubungan kita, Daddy tidak mempermasalahkan siapa yang akan menjadi pendampingku, dan setelah mengetahui bahwa pendampingku adalah sayangku, Daddy sangat bahagia," ungkap Ray.
Zuy tertegun mendengar ungkapan Ray, tak terasa air matanya mengalir, melihat pujaan hatinya menitihkan air mata, Ray dengan sigap menghapus air mata Zuy, kemudian memeluknya.
"Sayangku, selamanya kita akan bersama, tidak ada yang memisahkan kita, ataupun mengambil sayangku dariku.."
***Bersambung...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Tambahan
Sementara itu, di kala Ray tengah memijat kaki Zuy yang terkilir. Ternyata Henri sedang berada di luar kamar sembari menempelkan hpnya ke pintu sesuai permintaan Davin dan saat mendengar teriakan Zuy, pikiran Henri dan Davin langsung Travelling kemana-mana.
"Waah Tuan Ray, mainnya benar-benar sadis," ucap Davin dari telponnya
"Iya anda benar Pak Davin," balas Henri
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wkwkwk.. bukan hanya mereka saja kok yang pikirannya Travelling kemana-mana.. 😅😅😅
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1