
<<<<<
Ray mengerenyit. "Hmmm, jangan! Memangnya kenapa sayangku?"
"Umm, itu ...."
Zuy mendadak menghentikan perkataannya seraya mengatupkan bibirnya di barengi matanya yang berkeliling, nampak jelas bahwa ia ragu untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan pada pria tampannya itu.
Melihatnya membuat Ray melepaskan tangan kanannya dari genggaman Zuy dan beralih memegang dagu pujaan hatinya sehingga Zuy kembali menatap Ray.
"Kenapa diam, sayangku?" tanya Ray.
"A-aku ...."
"Hmmm, apa jangan-jangan kamu ragu dengan apa yang ingin kamu katakan itu? Hm!"
Zuy membalas dengan menganggukkan kepalanya saja.
"Baiklah, kalau begitu biar aku tebak. Apa jangan-jangan sayangku ingin mengatakan bahwa Mrs Maria adalah Ibu kandung mu, iya kan sayangku?" lontar Ray yang menebak apa yang ingin di katakan oleh Zuy.
Seketika membuat Zuy terperangah dengan pupil matanya yang membesar.
"Ba-bagaimana kamu bisa menebaknya, Ray?",
Ray memampang senyumnya dan berkata, "Tentu saja aku bisa menebaknya karena aku ini pria tampan-mu. Hahaha...."
Zuy mendengus. "Hummph, jawaban macam apa itu."
"Ya memang benarkan kalau aku ini pria tampan-mu dan lagi aku bisa menebaknya juga karena sudah terlihat sangat jelas dari ekspresi yang kamu tunjukkan bahwa kamu ingin mengatakan itu padaku." ujar Ray sembari melepaskan jas-nya dan memakaikannya ke Zuy.
"Oh.... Ya kalau kamu sudah tahu apa yang ingin aku katakan itu, maka aku mohon padamu, Ray! Untuk tidak melakukan sesuatu pada Mrs Maria." pintanya.
Ray menghela nafasnya sejenak.
"Sayangku, meskipun Mrs Maria itu Ibu kandung kamu tapi dia sudah berkali-kali menyiksa kamu bahkan sampai pipi kamu merah seperti ini, bagiku itu sudah sangat keterlaluan dan benar-benar membuat ku marah." cetus Ray.
"Iya aku tahu, kelakuan Mrs Maria memang sudah sangat keterlaluan. Tapi walau bagaimanapun juga dia tetaplah Mamah kandung ku orang yang telah melawan rasa sakit serta mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan ku dan aku pernah merasakannya pada saat aku melahirkan si kembar dulu." ujar Zuy. "Dan lagi apa kamu tahu, kalau bukan karena aku terlahir dari rahimnya. Mungkin kita tidak akan bertemu, tidak mengenal satu sama lain dan kita tidak akan bersama seperti sekarang ini. Iya kan?" sambungnya.
Ray menggeleng pelan.
"Tidak juga sayangku, walaupun kamu terlahir tidak dari rahim Mrs Maria. Akan tetapi jika Tuhan telah menakdirkan kita untuk bersama karena kita berjodoh. Pasti kita akan di pertemukan dan di persatukan tanpa tertuga. Entah bagaimana atau cara apa Tuhan mempertemukan dan menyatukan kita. Ya seperti yang di katakan oleh banyak orang, kalau yang namanya jodoh kita tidak akan pernah tahu. Contohnya seperti kita ini, meskipun bertahun-tahun kita berpisah namun pada akhirnya kita di pertemukan kembali dengan cara yang sama dan singkat bahkan di persatukan seperti sekarang ini. Dan bonusnya lagi, Tuhan menghadirkan si kembar di tengah-tengah kita, sayangku. Jadi ini tidak ada kaitannya dengan kamu terlahir dari rahim Mrs Maria atau dari siapapun." kata Ray dengan panjangnya.
Zuy manggut-manggut.
"Ya memang benar juga apa yang kamu katakan itu, Ray. Tapi ...," terhenti sejenak sembari membuang nafasnya. "Ya intinya aku minta sama kamu untuk tidak melakukan sesuatu apapun terhadap Mrs Maria! Setidaknya untuk saat ini, Ray." lanjutnya.
"Hmmm, jadi maksud sayangku?"
"Maksudku, kamu boleh memberikan peringatan padanya, tapi jangan sekarang! Sebab untuk sekarang ini, kondisi Mrs Maria masih sangat shock akibat kejadian yang di alaminya selama ini, Ray. Kamu mengerti kan?" ujar Zuy.
Ray menghela nafasnya sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya aku mengerti sayangku. Baiklah untuk sekarang aku akan menuruti permintaan dari sayangku ini."
Seketika membuat senyum manis terukir di wajah cantiknya Zuy.
"Terimakasih Ray."
Ray kembali mengelus pipi Zuy dengan menggunakan punggung tangannya.
"Iya sayangku. Tapi jika suatu hari nanti Mrs Maria melakukan ini lagi pada sayangku, maka aku tidak akan segan-segan memberikan peringatan lebih pada Mrs Maria. Dan sayangku tidak boleh melarang ku lagi, ya!"
"Iya Ray."
Ray kembali tersenyum sumringah, ia mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman mesra di bibir pujaan hatinya.
Sesaat kemudian, mereka berdua melepaskan tautan bibirnya.
"Sayangku, kita masuk yuk!"
Ray mengulurkan tangannya ke arah Zuy.
"Oke, tapi ...."
"Tapi apa sayangku?"
"Ge-gendong aku!"
Ray tercengang. "Apa! Gendong?"
Zuy menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya, soalnya tiba-tiba kakiku kesemutan, Ray."
Lalu Ray berkata, "Oh, yaudah sini aku gendong! Mau gendong bridal style apa piggyback?"
"Piggyback aja!" singkat Zuy.
(Piggyback yaitu gendong belakang)
"Oke, siap Tuan Putri-ku yang cantik."
Ia membalikkan badannya membelakangi pujaan hatinya. Zuy pun segera menaiki punggung kekar Ray seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Ray.
"Sudah sayangku?"
"Iya sudah."
Ray perlahan bangkit dari posisinya dengan menggendong pujaan hatinya ala piggyback ride. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya menuju ke Villanya.
Sementara di sisi lainnya, Davin dan Airin nampak masih berada di halaman Villa tengah mengobrol.
"Oh, jadi begitu ya Rin kejadiannya. Hmmm, benar-benar gak ada hatinya Mrs Maria." cetus Davin, karena ia mendengar cerita dari Airin tentang kejadian di Rumah Dimas.
Airin manggut-manggut.
"Iya Pak, dia memang gak punya hati. Kalau saja tadi Zuy gak ngehalangin, mungkin udah aku tampar balik tuh Ibu gak ada hati untuk mewakili perasaan Zuy." Airin menggerutu, lalu sesaat membuang nafasnya.
"Pantas saja tadi pagi-pagi Tuan bos menghampiri ku dan menyuruh ku untuk cuti. Gak taunya memang ada kejadian seperti ini. Ternyata perasaan dan ikatan batin Tuan bos terhadap Zuy sangat kuat ya, begitu juga sebaliknya." lanjutnya.
"Iya Rin, keduanya memang memiliki perasaan dan ikatan batin yang sama-sama kuat." ujar Davin.
"Eits, tapi bukan hanya mereka saja, ikatan batin si kembar juga begitu kuat terhadap orang tuanya dan lagi ..., hmmm!" tiba-tiba perkataan Airin terhenti seraya membelalakkan matanya karena ia melihat Ray yang sudah memasuki halaman Villa sembari menggendong Zuy.
"Tuan bos, Zuy." panggil Airin.
Seketika Ray menghentikan langkahnya, kemudian ia dan Zuy menolehkan kepalanya ke Airin, begitu juga dengan Davin yang memalingkan wajahnya ke arah Ray.
"Iya Rin," sahut Ray.
Airin bangkit dari posisinya dan menghampiri.
"Apa yang terjadi dengan kamu, Zuy? Kenapa kamu di gendong Tuan bos?" cecar Airin yang khawatir.
"Aku tidak apa-apa Rin." jawab Zuy.
"Benarkah?
Zuy mengangguk-anggukkan kepalanya membuat Airin menghela nafas leganya.
"Huft, syukurlah kalau kamu tidak apa-apa, Zuy." ucapnya.
__ADS_1
Lalu....
"Sebenarnya manjanya Mamahnya si kembar ini lagi kambuh Rin, makanya minta di gendong seperti ini." lontar Ray dengan maksud mencandai pujaan hatinya.
"Oh begitu ya Tuan bos, hihihi...." Airin terkekeh.
Tiba-tiba....
Paak!
Zuy menepuk keras punggung Ray sehingga membuatnya tersentak kaget.
"Aduh sayangku, kenapa kamu memukul punggung ku sih?"
"Huh, habisnya barusan kamu bilang aku manja," Zuy menggerutu dengan bibirnya yang mengerucut.
"Ya memang kamu lagi manja sayangku, buktinya kamu minta di gendong, persis seperti Baby R dan Baby Z. Hahaha...." canda Ray.
"Rayyan! Yaudah aku turun aja!" pekik Zuy.
"Ja-jangan dong! Kita kan belum sampai ke kamar. Nanti kalau sudah sampai kamar baru aku turunin kamu di atas ranjang, sayangku." ujar Ray.
"Humph, dasar mesum!"
Sehingga Ray menyemburkan tawanya begitu pula dengan Airin membuat Zuy mendengus, akan tetapi tidak untuk senyumnya yang terukir di wajah cantiknya itu.
"Terimakasih Tuan bos karena sudah membuatnya tersenyum," batin Airin yang bahagia melihat sahabatnya tersenyum.
Lalu Davin menghampiri mereka bertiga.
"Ck,ck. Tuan Ray, Zuy, kalau mau ngomongin masalah kamar dan ranjang jangan di depan Singa betina ini dong! Kasihan dia."
Airin mengerenyit. "Lho memangnya kenapa Pak?" tanyanya.
Davin pun mencondongkan sedikit tubuhnya ke Airin.
"Sebab kamu kan jomblo, singa betina. Hahaha...." ledek Davin sembari mengacak-acak rambut Airin seperti biasanya.
"Pak Daviiiin!" pekik Airin.
"Waduh, Singa betina udah mengaum." Davin menurunkan tangannya dari rambut Airin. Perlahan melangkah mundur menjauh dari Airin dan ....
"Waktunya untuk kabuuuur...."
Ia langsung bergegas dengan langkah seribu-nya menuju ke pintu masuk.
"Ck, benar-benar deh orang satu ini! Tuan bos, Zuy, aku duluan ya. Soalnya ada yang harus aku urus," pamit Airin.
"Iya Rin." balas keduanya bersamaan.
Airin langsung melesat menyusul Davin yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam Villa.
"Huh! Mereka berdua ini gak di mana-mana selalu saja seperti kucing sama tikus." lirih Ray.
"Tapi ada mereka berdua suasana jadi rame kan Ray, apalagi tingkah Pak Davin. Jujur aku gak sabar melihat mereka berdua bersatu."
Ray manggut-manggut.
"Ya aku juga. Ayo sekarang giliran kita masuk, dan menyelesaikan apa yang harus kita selesaikan."
"Oke...."
Ray kembali melangkahkan kakinya dan masih menggendong pujaan hatinya itu.
Setibanya di dalam kamar, Ray menurunkan Zuy tepat di atas ranjangnya. Ia membalikkan badannya menghadap ke pujaan hatinya seraya mencondongkan tubuhnya dengan tangan menyangga di sisi ranjangnya. Keduanya kembali melakukan ciuman mesranya seperti yang di pantai tadi bahkan lebih dari itu.
Selepas beberapa menit menggoyangkan ranjangnya, Ray kembali mengangkat tubuh pujaan hatinya.
Zuy mengangguk pelan, lalu mereka berdua pun beralih ke kamar mandi untuk melanjutkan aktivitasnya di dalam sana.
(Skip misteri cipratan air germecik ya, takutnya semuanya hareudang.... 🤭🤣)
...----------------...
Di pagi hari yang cerah di sambut dengan hangatnya sinar sang mentari pagi dan di tambah suara merdu dari burung-burung yang berterbangan.
Apartemen Archo.
—Pukul 07.45am
Setelah selesai menikmati sarapan paginya, Archo mengajak Melan duduk di balkon Apartemen-nya.
"Mel," ucap Archo dan di balas anggukan oleh Melan.
"Sebenarnya aku mengajak mu duduk di sini, karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu." lanjutnya.
Melan mengetik di tab-nya, kemudian menunjukkannya pada Archo.
"Memangnya Tuan mau bicara apa?"
Archo menghela nafasnya sejenak.
"A-aku akan pulang ke Amerika, Mel." jawab Archo.
Melan kembali mengetik....
"Amerika?"
Archo mengangguk. "Iya Mel, dan aku ingin mengajak mu kesana juga!"
Mata Melan langsung membulat sempurna serta mulutnya sedikit menganga karena terkejut.
......................
Beberapa waktu sebelumnya....
Kala itu, Archo, Maria, Daddy Mario dan Adriene berada di ruang tamu. Sedangkan Bunda Artiana sedang berada di dalam kamarnya di temani oleh Mira.
"Archo...." panggil Daddy Mario.
"Iya Dad." sahut Archo.
"Karena sekarang Maria sudah kembali, maka sudah saatnya kamu pulang ke Amerika, karena kamu sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan-mu. Daddy juga akan segera pulang ke Paris bersama Adriene. Setelah sampai di sana, Daddy akan langsung membicarakan tentang pernikahan kalian dengan orang tua Adriene." lontar Daddy Mario.
Adriene dan Maria pun tersenyum sumringah mendengar perkataan Daddy Mario, akan tetapi berbeda dengan Archo yang nampak sangat terkejut.
"Apa! Pernikahan kami?!"
"Iya Archo, pernikahan kalian." Daddy Mario mengulangi perkataannya.
"Tapi Dad, kenapa langsung pernikahan? Bukankah seharusnya pertunangan dulu baru setelah itu menikah."
Daddy Mario mendesah. "Archo, untuk apa kita membahas soal pertunangan. Akan lebih baik jika kita langsung membahas pernikahan saja. benar gak Maria?"
Maria mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya benar apa yang di katakan oleh Daddy kamu, Archo. Dan lagi Mam sama Daddy ingin sekali menggendong cucu." ujar Maria.
"Lho, bukannya Mam sudah punya cucu dari Zuy bahkan dua sekaligus." lontar Archo.
Mendengar itu seketika Maria langsung memasang ekspresi wajah sedihnya, sehingga membuat Daddy Mario berkerut kening.
__ADS_1
"Archo, jangan menyebut nama anak tidak tau diri itu di depan Maria!" pekik Daddy Mario.
"Memangnya kenapa Dad? Zuy juga anak Mam."
Maria lalu menengadah menatap wajah Archo.
"Itu karena dia anak tidak berperasaan. Bukan hanya tidak mendonorkan darahnya untuk Mam bahkan sekarang dia malah membuat Mam terluka lagi. Apa anak seperti dia itu pantas di sebut sebagai anak ku? Tidak Archo, dia hanya pantas di sebut sebagai anak durhaka." sergah Maria.
"Tapi Mam ...."
"Sudahlah Archo, kita jangan bahas tentang anak durhaka yang tidak tau diri itu lagi! Bikin kepala Mam sakit aja." cetus Maria. "Pokoknya sekarang ini kita bahas tentang pernikahan mu dengan Adriene, wanita berhati malaikat yang sudah menyelamatkan nyawa Mam ini." sambungnya sembari menggenggam erat tangan Adriene.
Daddy Mario manggut-manggut.
"Oui, c'est vrai ce que ta mère a dit, fiston. (Ya, benar apa yang dikatakan Mam kamu, Nak.) Ya intinya kami ini ingin kalian secepatnya menikah, bila perlu bulan depan kita adakan pernikahan kalian berdua."
Lalu....
"Tunggu Mr Mario!" seru Adriene.
Daddy Mario beralih menatap Adriene.
"Ada apa Adriene?"
"Maaf, sepertinya kita tidak bisa menikah secepat itu." ujar Adriene.
"Lho, memangnya kenapa sayang?" tanya Maria.
Adriene menghela nafasnya.
"Sebab akhir bulan ini Adriene akan pergi ke Inggris untuk beberapa bulan ke depan karena ada suatu pekerjaan yang harus Adriene urus." kata Adriene.
"Oh.... Yaudah kalau begitu kita akan mengadakan pernikahan kalian setelah Adriene kembali dan untuk kamu Archo, pokoknya secepatnya kamu harus kembali ke Amerika!"
Archo menganggukkan kepalanya. "Iya Dad, tiga minggu lagi Archo akan pulang ke Amerika."
"Baiklah kalau begitu mau kamu, Archo."
Flashback end.
......................
"Jadi begitu ya Tuan?"
"Iya Mel, maka dari itu aku ingin mengajak mu kesana." Archo mengulurkan tangannya dan menggenggam erat tangan Melan.
"Kamu mau ya Mel, ikut pulang ke Amerika bersamaku!" sambung kata Archo.
Melan tertunduk sembari menggigit bibir bawahnya, lalu tiba-tiba terlintas di pikirannya tentang apa yang di ucapkan oleh kedua orangtuanya bahwa Melan harus menuruti apa kata suaminya.
Sesaat Melan mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Archo. Ia menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia menyetujui ajakan Archo.
"Serius kamu mau ikut aku pulang?" tanya Archo memastikan.
(Melan mengetik....)
"Ya aku serius Tuan. Aku akan ikut kemana pun Tuan pergi."
Senyum Archo langsung mengembang sempurna, ia segera beranjak dari tempat duduknya dan memeluk erat istrinya.
"Terimakasih Melan."
Melan membalas pelukannya sembari menepuk-nepuk punggung lebar Archo. Kemudian Archo beralih mencium lembut bibir mungil Melan.
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
Tiga minggu kemudian....
Sehari sebelum berangkat ke Amerika, Melan nampak terbaring lemas di atas ranjangnya karena tadi pagi ia pingsan saat sedang berbenah di dapur. Sehingga membuat Archo panik bahkan sampai memanggil Dokter Kiki untuk datang ke Apartemennya.
Awalnya Archo memanggil Dimas, hanya saja Dimas sedang sibuk.
Sesaat setelah selesai memeriksa, Dokter Kiki keluar dari kamar dan menghampiri Archo yang kala itu sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Tuan Archo." tegur Dokter Kiki.
"Dokter!" Archo bangkit dari duduknya. "Apa yang terjadi dengan Melan, Dok?" tanyanya yang khawatir.
Dokter tersenyum dan berkata, "Istri anda baik-baik saja Tuan, tidak ada yang perlu di khawatirkan."
"Tapi kenapa dia tiba-tiba pingsan? Dan beberapa hari ini juga dia sering muntah-muntah?" cecar Archo.
"Itu hal yang wajar Tuan, namanya juga sedang hamil muda." ujar Dokter Kiki.
Sontak Archo sangat terkejut mendengarnya.
"Tadi Dokter bilang apa? Hamil?!"
"Iya Tuan Archo. Nyonya Melan memang sedang hamil dan usia kandungannya sudah memasuki Minggu ke empat." Dokter Kiki menjelaskannya pada Archo.
"Ja-jadi Melan benar-benar hamil, Dok?" Archo masih belum percaya dengan penjelasan Dokter Kiki.
"Iya Tuan Archo." Dokter Kiki menganggukkan kepalanya. "Selamat ya Tuan Archo."
"Syukurlah, terimakasih Dok." ucap Archo dengan bahagianya.
"Sama-sama, Oh iya ini resep Vitamin untuk Nyonya Melan! Dan saran saya, untuk saat ini Istri anda tidak boleh kecapean, tidak boleh melakukan perjalanan jauh dan dia harus lebih banyak Istirahat! Sebab kandungannya masih sangat lemah." tutur Dokter Kiki sembari memberikan kertas resep vitamin pada Archo.
Archo mengambil resep tersebut.
"Baik Dok, saya akan ingat pesan Dokter." balas Archo.
"Yaudah kalau begitu saya pamit dulu, permisi."
"Iya Dok, sekali lagi terimakasih banyak."
Dokter Kiki tersenyum lalu melangkahkan kakinya keluar dari Apartemennya Archo. Selepas menutup pintu, Archo bergegas menuju ke kamar. Sesampainya ia mendudukkan dirinya kursi dekat ranjangnya sembari menggenggam tangan Melan.
"Terimakasih Mel, terimakasih." ucap Archo mencium punggung tangan istrinya.
......................
Waktu terus berputar begitu cepat, dari detik, menit, jam, hari, minggu dan bulan pun sudah berlalu.
Rumah Sakit.
Sementara itu sore hari, Aries, Ray dan Davin terlihat sedang berlari menelusuri koridor Rumah sakit menuju ke arah ruang Operasi.
Ketika sudah hampir sampai di ruang operasi, langkah ketiganya pun terhenti karena melihat Zuy sedang duduk tertunduk di kursi tunggu yang berada di luar ruang operasi sembari menautkan jari-jari tangannya.
"Zuy!"
"Sayangku!"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1