
<<<<<
Mendengar cetusan Archo, Maria terkejut dan menoleh ke arah Archo.
"Kamu bilang apa Archo?"
Maria pun menatap ke arah Archo dengan tatapan penuh tanya membuat Archo tersentak. Sesaat Archo menghela nafasnya.
"Mam, Archo bilang siapa tau dia itu anak Mam," tegas Archo.
"Kenapa kamu bisa bilang seperti itu Archo? Apa kau punya buktinya?"
"Archo belum punya buktinya Mam, tapi Archo hanya menduga saja kalau dia itu anaknya Mam, dan lagi wajah kalian berdua itu sangat mirip," ujar Archo.
Mendengar ujaran Archo, Maria pun memalingkan wajahnya.
"Oh karena wajah kami mirip, jadi kamu menyangka kalau dia itu anak Mam, Archo."
"Bu-bukan seperti itu Mam."
Kemudian Maria kembali menatap Archo, "Archo, asal kamu tahu, banyak orang yang wajahnya sama, namun bukan berarti mereka itu mempunyai satu ikatan dan lagi kalau wajahnya mirip dengan Mam, ya mungkin dia mengoperasi wajahnya kali, secara dia kan ngefans sama Mam." cetus Maria, "Dasar wanita j*lang."
Seketika Dimas menundukkan kepalanya saat mendengar perkataan Maria, "Jadi ini maksud dari salah satu syarat yang di ajukan Nyonya Nana," batinnya.
"Mam ...,"
Lalu Dimas mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Maria.
"Kak Maria, maaf kalau Dimas ikut bicara. Kak Maria, apa Kakak gak ngerasain batin Kakak terhadap wanita itu? Biasanya batin seorang Ibu lebih kuat terhadap anaknya," tanya Dimas.
"Batin? Tidak, Kakak tidak merasakannya," ujar Maria sembari menggelengkan kepalanya.
"Iya itu karena perasaan benci Mam terhadapnya terlalu besar, jadi Mam tidak merasakannya," papar Archo.
"Gimana Mam gak membencinya, dia sudah membuat Kimberly menangis Archo, siapapun yang membuat anakku menangis, di situ juga aku gak akan tinggal diam!" tegas Maria.
"Mam, please jangan terlalu memanjakan Kimberly Mam, Archo takut Mam menyesal," kata Archo.
Mendengar perkataan Archo, Maria langsung bangkit dari posisinya, "Archo! Kenapa kamu begitu, wajar kalau Mam memanjakan Kimberly, Kimberly itu anak Mam Archo, dia juga adik mu!" bentaknya.
"Tapi Mam ...,"
"Sudahlah! Mam tidak ingin berdebat, Dimas apa kamar Kakak sudah di bersihkan?" tanya Maria ke Dimas.
"Sudah Kak," singkat Dimas.
"Yaudah kalau gitu Kakak ke kamar, Kakak ingin istirahat."
Dimas pun mengangguk, lalu Maria melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya meninggalkan Dimas dan Archo.
"Saya tidak menyangka Kak Maria bisa begitu kejam, pantas saja Bibinya Zuy mengajukan syarat seperti itu," papar Dimas.
"Mam memang seperti itu Dokter, kalau sudah menyangkut anak kesayangannya, tapi dari pada itu, sebenarnya ada yang saya takutkan," ujar Archo
"Hmmm, apa yang anda takutkan?" tanya Dimas penasaran.
Archo pun menundukkan kepalanya sambil meremas rambutnya.
"Saya takut, bagaimana kalau Bibinya tahu soal kejadian tadi, pasti beliau akan marah besar, lalu rencana ku menyatukan Mam dan anaknya akan gagal," ujar Archo.
"Anda benar juga Tuan Archo, tapi semoga saja beliau tidak mengetahuinya," lirih Dimas
"Ya semoga saja Dokter Dimas."
Kamar
Setelah berada di kamar, Maria mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil memandangi telapak tangannya.
"Batin ya? Sebenarnya ada rasa sakit dan sesak dalam dadaku saat aku menamparnya, apa jangan-jangan yang di katakan Archo itu benar, kalau dia itu anakku Zoya," lirih Maria.
Lalu sesaat ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak-tidak, kenapa aku jadi kepikiran yang bukan-bukan sih, jelas-jelas dia bukan Zoya, dia hanya wanita yang telah membuat Kimberly-ku menangis. Pokoknya aku harus membuatnya benar-benar menderita dan pergi menjauh dari Ray, bila perlu akan ku buat dia cacat seumur hidup." kata Maria sembari menyunggingkan senyum jahatnya.
*******************
Rumah Ray
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah, setelah turun dari mobil, Ray terus menggandeng Zuy menuju ke arah pintu. Sesampainya Ray langsung menekan kode pintu rumahnya.
"Memang Bu Ima dan Mrs Yiou kemana?" tanya Zuy
"Oh, Bu Ima tadi menghubungi Kak Davin, beliau minta izin pulang ke rumah suaminya, katanya besok mau mengantar anaknya ke rumah sakit untuk cuci darah, sedangkan Tante Yiou lagi di luar kota ada urusan mendesak," jelas Ray.
Setelah pintu terbuka, mereka pun bergegas masuk ke dalam, lalu Zuy mendudukkan dirinya di atas sofa, sedangkan Ray malah berlutut di hadapan Zuy.
"Ray, kenapa kamu berlutut seperti itu, sini duduk di samping ku!" pinta Zuy.
"Sayangku, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa pipimu memar seperti ini?" tanya Ray memegang pipi Zuy.
"Oh ini, tadi Zuy salah makan saja Ray, kamu tahu kan, Zuy punya alergi, jadi Zuy gak sengaja makan makanan yang alergi, ya untungnya Zuy membawa obat alergi. Kalau tidak, mungkin Zuy bakalan di rawat," jawab Zuy yang berbohong.
Ray langsung mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban dari Zuy, seakan ia tidak percaya dengan apa yang Zuy katakan.
"Sayangku..."
Zuy lalu memegang tangan Ray, "Ray, Zuy gak apa-apa, tadi juga pas di rumah sakit Zuy di periksa lagi, ya walau efeknya Zuy jadi demam dan mata Zuy membengkak."
"Dasar kamu ya, lain kali hati-hati sayangku, jangan sampai salah makan lagi!" tutur Ray, ia pun mencium tangan Zuy.
"Siap tampan-ku."
"Sayangku, mau langsung istirahat?" tanya Ray
Zuy menggelengkan kepalanya, "Tidak Ray, Zuy mau bebersih dulu, soalnya badan Zuy lengket," ujarnya.
"Tapi sayangku, kamu kan masih demam."
"Ray, Zuy udah gak apa-apa kok," kata Zuy.
Sesaat Ray menghela nafasnya, "Haaa.. Sayangku memang tidak penurut, yaudah Ray isikan air ke bathtub untuk sayangku berendam."
"Ray gak usah! Biar Zuy aja," tolak Zuy.
"Udah gak apa-apa, sayangku tunggu di sini ya!"
"Baiklah Ray."
Lalu Ray bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi. Sesaat kemudian Davin masuk.
"Lho Zuy kenapa duduk di sini? Tuan Ray mana?"
"Zuy lagi lemasin kaki Zuy Pak Davin, kalau Ray lagi di kamar mandi," jawab Zuy.
"Oh, yaudah aku ke kamar dulu ya Zuy, mau bebersih sekalian memanjakan wajahku ini, biar makin cling dan glowing," ujar Davin.
"Iya deh Pak Davin," papar Zuy.
__ADS_1
Davin segera berjalan menuju ke kamarnya, selang beberapa saat Ray menghampiri Zuy.
"Sayangku, airnya sudah siap!"
Zuy bangkit dari posisinya, "Terimakasih Ray, kamu juga harus bebersih dan ganti bajumu!"
Tiba-tiba Ray menyunggingkan senyuman jahilnya, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.
"Mau mandi bareng gak? Sekalian bikin telinga kaya waktu di Swedia," goda Ray.
"Ray! selalu saja menggodaku," pekik Zuy.
"Habisnya sayangku membuat ku tegang terus," ujar Ray.
"Ray..!"
"Baiklah sayangku, Ray akan ke kamar," kata Ray, Ray segera menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Sedangkan Zuy langsung ke kamarnya, setelah itu ia bergegas ke kamar mandi.
Kamar Mandi
Saat berada di kamar mandi, Zuy melepaskan pakaian yang ia kenakan, kemudian ia naik ke bathtub dan merendamkan tubuhnya.
"Hangatnya...."
Akan tetapi, tiba-tiba Zuy mengingat kejadian tadi, membuat dadanya sesak dan air matanya mengalir, ia pun memeluk lututnya.
Hiks..
"Kenapa rasanya sakit begini, apa karena Mrs Maria itu orang yang sangat aku idolakan sejak dulu, makanya aku merasa seperti ini. Dulu aku sangat berharap jika dia itu ibuku, karena kami berdua sangat mirip, tapi setelah aku tahu sebenarnya sifat Mrs Maria, sepertinya rasa suka ku terhadapnya berkurang," lirih Zuy.
Zuy pun terus memeluk erat lututnya dan terus menangis.
Sementara itu, Ray nampak keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga menuju ke kamar Zuy. Sesampainya Ray langsung membuka pintu kamar Zuy.
"Sayangku, apa kamu sudah tidur?" tanya Ray sambil berjalan ke tempat tidur Zuy.
Akan tetapi Zuy tidak ada di sana, membuat Ray terkejut, lalu ia pun langsung menuju ke kamar mandi. Saat berada di depan kamar mandi, Ray segera mengetuk pintunya.
"Sayangku, apa kamu masih di sana?" seru Ray
Namun tidak ada jawaban dan membuat Ray semakin khawatir, kemudian Ray mendorong pintu kamar mandi dengan keras sehingga pintunya terbuka, ia pun segera masuk.
"Sayangku..!!"
Ray terkejut melihat Zuy masih berendam di bathtub sambil memeluk lututnya, ia pun mendekat ke arah Zuy.
"Sayangku, kenapa kamu masih berendam di sini?" tanya Ray
Mendengar suara Ray, Zuy langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Ray.
"Ray..!"
Lalu Ray mengambil handuk kimono milik Zuy yang tergantung dan memberikannya pada Zuy.
"Sayangku, ayo udahan mandinya!"
Zuy menganggukkan kepalanya, ia mengambil handuk dari tangan Ray dan mengenakannya. Zuy lalu bangkit dari posisinya menjadi berdiri, saat hendak menurunkan kakinya, Ray malah mengangkat tubuh Zuy dan menggendongnya ala brydal style.
"Ray...!"
Namun Ray hanya tersenyum, ia terus berjalan menuju ke arah kamar Zuy.
Kamar Zuy
Sesampainya, Ray mendudukkan tubuh Zuy di atas kasur, saat Ray hendak melangkahkan kakinya ke arah lemari, tiba-tiba Zuy memegang tangan Ray, sehingga membuat Ray menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Zuy.
Mendengar permintaan Zuy, Ray langsung mendudukkan dirinya di samping Zuy, ia pun memeluk Zuy dengan erat.
"Sayangku, Ray tidak akan pergi, Ray hanya ingin mengambil baju untukmu," ujar Ray.
Namun Zuy malah semakin mengeratkan pelukannya, "Ray, maafin Zuy yang selalu bikin susah kamu, tapi Zuy mohon jangan tinggalin Zuy!"
Ray lalu menangkup pipi Zuy dan menatap wajahnya dengan lekat.
"Sayangku, jangan bicara seperti itu, kamu tidak pernah menyusahkanku, dan lagi Ray tidak akan pernah meninggalkan mu sayangku, kita akan selalu hidup bersama selamanya," ucap Ray.
Mendengar ucapan Ray, sekilas Zuy mendaratkan bibirnya ke bibir Ray.
Cup..!!
"Terimakasih Ray. Euuum Ray bisakah malam ini kau temani aku tidur?"
"Sayangku mau aku temani? tapi Ray gak janji bakal buat sayangku tidur nyenyak, soalnya geoduck milik-ku sudah merontah nih," goda Ray
"Ray...."
"Hanya becanda sayangku, yaudah ayo kita tidur!"
Lalu mereka merebahkan tubuhnya dan tidur saling berpelukan.
...----------------...
Malam panjang telah berlalu dan pagi pun menyapa, Zuy nampak tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Lalu tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang membuat Zuy tersentak dan menoleh ke belakang.
"Ray! bikin kaget saja, tumben sudah bangun?"
"Hmmm, habisnya sayangku tidak ada di sampingku, jadi aku terbangun," ucap Ray manja.
Zuy lalu memutar badannya dan menghadap ke arah Ray, ia pun memegang pipi Ray.
"Ray, Zuy bangun awal karena mau nyiapin sarapan untuk mu dan Pak Davin. Oh iya Zuy juga bikin kroket lho,"
"Waah, sayangku tahu aja kalau Ray lagi pengin kroket, duh makin cinta deh sama sayangku," ucap Ray sambil menempelkan pipinya ke pipi Zuy dan menggerakannya.
"Masih pagi Ray, udah ngegombal aja!" pekik Zuy menjauhkan wajah Ray.
Ray hanya terkekeh, lalu Ray melingkarkan tangannya ke pinggang Zuy dan perlahan mendekatkan bibirnya, akan tetapi ...,
"Ehemmm... Pagi-pagi udah di kasih tontonan drama secara live streaming dan real life lagi, apa aku harus sediakan popcorn dan minuman bersoda?" seru Davin membuat mereka menoleh ke arahnya.
"Haa.. orang satu ini benar-benar ya," pekik Ray.
Davin pun tertawa, sedangkan Zuy hanya menundukkan kepalanya karena malu.
**********************
Perusahaan CV
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10.35Am, di mana para karyawan sedang sibuk-sibuknya bekerja. Nampak dari arah pintu masuk seorang Pria datang ke Perusahaan dan menuju ke Resepsionis.
"Maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ernie (teman Citra)
"Apa Tuan Ray ada?" tanyanya
"Tuan Ray ada di ruangannya, apakah Bapak sudah membuat janji?"
__ADS_1
"Belum, tapi saya ingin menemuinya," ucapnya
"Baiklah kalau begitu, saya hubungi Tuan Ray dulu, ngomong-ngomong dengan Bapak siapa?"
"Nama saya Wildan Pratama." ternyata ia Pak Wildan.
Ernie mengangguk, lalu ia segera menghubungi Ray, sesaat kemudian...
"Pak, kata Tuan Ray anda langsung saja ke ruangannya!" ujar Ernie.
"Terimakasih," ucap Pak Wildan.
Ia pun langsung berjalan ke arah pintu lift, menuju ke ruangan Ray.
Ruang Ceo
Setelah menerima telpon dari karyawannya, Ray langsung menopang dagunya sambil tersenyum smirk.
"Hmmmm, orang itu akhirnya datang juga, aku penasaran bagaimana cara dia mempertanggung jawabkan atas perlakuan anaknya itu."
Tak lama kemudian, Pak Wildan pun sampai di ruangan Ray.
Tok Tok Tok
"Masuk!!"
Pak Wildan lalu membuka pintunya, "Tuan Ray," sapanya sambil berjalan ke arah Ray.
"Oh ternyata anda Pak Wildan, silahkan duduk!"
"Terimakasih Tuan Ray," ucap Pak Wildan sembari mendudukan dirinya di atas kursi.
"Tumben datang kesini, ada perlu apa?"
"Tuan Ray, tanpa saya memberitahu anda, pasti anda tahu tujuan saya datang kesini," Papar Pak Wildan.
"Hmmmm ...,"
"Tuan Ray, tolong maafkan kesalahan anak saya, sifatnya begitu karena dia terlalu kami manja. Tuan Ray, tolong jangan blokir Perusahaan kami!" ucap Pak Wildan tersedu-sedu.
Sesaat Ray menghela nafasnya, "Haaaa, Pak Wildan apa dengan minta maaf, saya akan kasihan pada anda. Saya bukan orang seperti itu, saya juga bisa kejam, apalagi ini menyangkut orang ku, dan lagi ...," tiba-tiba Ray melirikkan matanya ke arah pintu karena Zuy datang.
"Tuan Muda, ini minumannya!" kata Zuy sambil berjalan masuk.
"Letakkan saja di atas meja!"
Zuy meletakkan minuman di atas meja.
"Sudah Tuan, kalau gitu Zuy pamit Tuan Muda," ucapnya. Lalu ...,
"Tunggu!!"
Zuy langsung menoleh, "Ada apa Tuan Muda?"
"Nah Pak Wildan, apa masih ingat dengan wanita yang di racuni oleh istri dan anak anda?" ujar Ray menunjuk ke arah Zuy.
Kemudian pandangan Pak Wildan beralih ke arah Zuy, sontak membuat Zuy tercengang.
"Tuan Muda, ada apa ini?" tanya Zuy pada Ray
Lalu Pak Wildan beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Zuy. Kemudian Pak Wildan mengulurkan tangannya.
"Nona, perkenalkan saya Pak Wildan, ayah dari Erlinda Khanza," ucap Pak Wildan.
"Iya saya tahu Tuan, dan kenapa anda menghampiri saya?" tanya Zuy.
Seketika Pak Wildan langsung menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Nona, tolong maafkan kesalahan kami. Istri dan anak saya benar-benar tidak sengaja melakukan kejahatan pada anda, Nona." ucap Pak Wildan.
Sekilas Zuy melihat ke arah Ray, lalu pandangannya beralih kembali ke arah Pak Wildan.
"Pak, kenapa anda yang meminta maaf, bukan istri dan anak anda? Mereka kan yang ngelakuin dan lagi anda bilang mereka tidak sengaja, apa anda sedang membela mereka?"
"Bu-bukan maksud saya membela mereka, hanya saja mungkin ada alasan mereka melakukan itu pada anda, Nona." ujar Pak Wildan.
"Oh begitu ya Pak, tapi maaf saya bukan orang yang gampang memaafkan, apalagi sampai taruhan nyawa saya, dan untungnya waktu itu ada Tuan Muda," kata Zuy
Mendengar itu, Ray langsung menghampiri Zuy dan merangkul pundaknya.
"Nona, tolong saya!"
"Pak Wildan, jangan memaksanya!" pekik Ray
"Tapi Tuan Ray." Pak Wildan menundukkan kepalanya, "Tsk, ini gara-gara si Erlin, dasar anak tidak berguna!" umpatnya dalam hati.
"Pak, maaf jika saya tidak bisa menolong anda, tapi saya hanya ingin mereka berdua yang meminta maaf pada saya, bukan anda," cetus Zuy.
"Apa anda mendengarnya Pak Wildan?!"
Pak Wildan menganggukkan kepalanya, "Saya mengerti, yaudah kalau begitu saya pulang dulu, permisi."
Pak Wildan pun pergi dari ruangan Ray.
"Kamu benar-benar hebat sayangku, ini aku kasih hadiah untuk sayangku." Ray mendaratkan bibirnya ke Pipi Zuy.
"Ray ini masih di kerjaan, jangan seperti ini!"
"Iya sayangku, maaf ya!" ucap Ray.
"Oh iya Ray, pulang kerja Zuy ke supermaket ya, soalnya stock di rumah habis,"
"Yaudah kalau gitu kita perginya bareng!"
"Waah, terimakasih Ray," ucap Zuy. "Yaudah kalau gitu Zuy pamit Ray," sambungnya.
"Hmmm... yaudah deh sayangku, semangat kerjanya!" kata Ray menyemangati Zuy.
Zuy tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia pun bergegas keluar dari ruangan Ray.
********************
Rumah Sakit
Bi Nana sedang duduk di tepi ranjang, sambil membacakan sebuah cerita pada Nara. Nara pun senang mendengar cerita dari Bi Nana.
"Mamih, cerita yang lainnya dong, tentang robot atau lainnya!" pinta Nara.
"Iya nanti Mami ceritain, sekarang satu-satu dulu," kata Bi Nana.
Lalu tiba-tiba dua orang datang dan langsung masuk ke dalam ruang rawat Bi Nana sontak membuat Bi Nana menatap tajam ke arah mereka.
"Ada perlu apa kalian berdua datang kemari? Dokter Dimas, Tuan Archo Fuca."
***Bersambung
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌