Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Sangat Merindukan Ray....


__ADS_3

<<<<<


Mendengar itu, Daddy Michael menghentikan aksinya dan menoleh ke arah sumber suara tersebut yang tak lain adalah....


"Lesya!!"


Lesya tersenyum sembari melangkahkan kakinya menghampiri Daddy Michael.


"Girls, kenapa kamu belum tidur? Bukannya besok kamu ada kelas pagi ya?" tanya Daddy Michael.


"Aku udah tidur Dad, tapi terbangun gara-gara haus. Terus pas Lesya mau ke dapur, Lesya lihat pintu ruang kerja Daddy terbuka, jadi ya Lesya langsung ke sini," ujar Lesya.


"Lalu Daddy kenapa belum tidur? Besok Daddy kan harus kerja." imbuhnya.


Daddy Michael kembali duduk di atas sofa.


"Tadi Daddy banyak kerjaan girls, jadi Daddy terpaksa begadang dan sekalian Daddy nonton pertandingan bola juga," jawab Daddy Michael.


"Oh begitu ya Dad. Terus Daddy joget-joget sambil bilang dapat cucu kembar, maksudnya apa Dad? Apa ada hubungannya dengan Ray?" Lesya bertanya karena penasaran.


Kemudian ia mendudukkan dirinya di samping Daddy Michael. Sesaat Daddy Michael menghela nafasnya.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Ray sayang, tadi Daddy bilang dapat cucu kembar itu ...." ucap Daddy Michael namun terhenti.


"Itu apa Dad?" tanya Lesya menyidik.


"Maksud Daddy itu, sahabat Daddy yang dapat cucu kembar, girls. Jadi ya Daddy senang mendengarnya," ujar Daddy Michael yang berbohong.


Ada alasan kenapa Daddy Michael harus berbohong pada anaknya sendiri.


"Kenapa Daddy harus senang mendengar sahabat Daddy akan punya cucu kembar? Harusnya kan Daddy sedih dan iri, karena Daddy belum punya cucu," papar Lesya.


Daddy Michael tersenyum dan berkata, "Hei, untuk apa Daddy sedih dan iri, nanti juga Daddy akan dapat cucu. Gak dari Ray ya dari kamu, girls."


"Kalau aku masih lama Dad, harusnya Ray dulu tuh yang ngasih cucu buat Daddy. Usianya kan udah 25 tahun lebih, bukannya mikirin nikah malah sibuk terus dengan kerjaannya, udah gitu gak pernah pulang lagi," gerutu Lesya.


Daddy Michael lalu merangkul pundak anak perempuannya itu.


"Apa kamu merindukan Ray?"


"Tidak, justru aku membencinya. Karena Ray sudah memutuskan Kimberly. Padahal Kimberly sangat cantik, model terkenal dan dia juga sangat baik padaku, kurang apa lagi coba," pekik Lesya.


"Mungkin Kakakmu punya alasan sendiri, Lesy." ujar Daddy Michael.


"Alasan sendiri? Maksudnya gimana Dad?"


Daddy Michael kembali tersenyum. "Suatu saat nanti kamu pasti mengerti girls, dan lagi kamu juga tau kan sifat Kakakmu itu bagaimana, dia orangnya tidak suka di tentang, Lesy." jelasnya.


Seketika Lesya menundukkan kepalanya.


"Huuu.... Maaf Momy aku tidak dapat info apa-apa lagi mengenai Ray," batin Lesya.


"Kamu kenapa girls?" tanya Daddy Michael.


Lesya menggelengkan kepalanya. "Lesya tidak apa-apa Dad. Oh iya, Lesya kembali ke kamar dulu ya Dad," ujarnya sembari bangkit dari posisinya.


"Yaudah kalau gitu," balas Daddy Michael.


"Daddy jangan malam-malam tidurnya!" tutur Lesya.


"Oke my girls."


Lesya pun tersenyum, lalu ia melangkah keluar dari ruang kerja Daddy Michael. Sesaat setelahnya....


"Haaa.... Maaf ya Lesy, Daddy terpaksa membohongi mu lagi, sebab Daddy tidak ingin Liora tahu dan membuat masalah dengan Ray, Zuy serta calon cucuku itu. Andai kamu tahu, kalau bukan karena kamu Lesy, mungkin dari dulu Daddy sudah membuang Liora. Karena sampai kapanpun wanita yang Daddy cintai hanya Candika, Mommy kamu dan Ray." ucap Daddy Michael.


Beberapa episode awal sudah di jelaskan kenapa Daddy Michael terpaksa menikahi Liora, walaupun ia tidak mencintai Liora. Ya alasannya adalah karena Lesya yang masih membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Sebab setelah dua bulan Lesya di lahirkan, Candika meninggal karena penyakitnya.


(Takutnya lupa, jadi aku jelasin lagi kisahnya walau sedikit, hehehe.)


Sementara itu, setelah dari ruang kerja Daddy Michael, Lesya pun kembali ke kamarnya lagi. Saat berada di kamarnya, ia langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur, kemudian ia menyambar bingkai foto yang berada di atas nakas dan memandangi foto tersebut. Ternyata foto itu adalah foto dirinya dan Ray.


"Ya, Kau benar Dad. Aku memang sangat merindukan Ray, tapi Momy melarang ku untuk mengatakannya padamu, Dad. Entah apa alasan Momy, tapi kata Momy aku harus selalu menuruti perkataan Momy, kalau tidak aku selamanya akan menjadi anak yang tidak berguna dan Momy tidak akan sayang lagi padaku," ungkap Lesya sembari menitihkan air matanya.


Lesya pun memeluk bingkai foto itu sampai tertidur lelap.


*******************


Rumah Ray


Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam lebih, akhirnya mereka sampai rumah, Ray langsung memarkirkan mobilnya di halaman. Lalu kemudian ia membuka seal beatnya dan mendekat ke arah Zuy yang masih tertidur.


"Sayangku, ayo bangun! Kita sudah sampai," ucap Ray sembari mengelus pipi Zuy.


"Heuung...." erang Zuy sembari mengusap-usap matanya.


Sesaat, Zuy membuka matanya meskipun masih sayu. Lalu ia tersenyum saat pandangannya mengarah ke arah Ray yang berada di sampingnya.


"Ray...."


"Iya sayangku," sahut Ray.


"Kita ada di mana?" tanya Zuy.


"Kita sudah sampai di rumah, sayangku. Ayo bangun!" ujar Ray.


Lalu Zuy mencoba bangun dari posisinya, akan tetapi ia malah kesusahan karena terganjal perutnya.


"Ray, betulin dulu jok-nya! Zuy susah bangun nih," pekik Zuy.


"Oh iya aku lupa, maaf ya sayangku." ucap Ray.


Kemudian Ray menekan tombol yang berada di sampingnya, sehingga membuat jok bergerak pada posisinya kembali. Sesaat setelahnya, Ray langsung turun dari mobilnya dan berjalan menuju ke pintu sebelah hanya untuk membukakan pintunya untuk Zuy.


"Silahkan Tuan Putri?" ucap Ray sambil membungkuk layaknya seorang pengawal.


Zuy pun terkekeh melihat tingkah Ray, ia perlahan turun dari mobilnya. Kemudian Ray segera mengulurkan tangannya ke arah Zuy, tentunya Zuy membalas uluran tangan Ray itu.


"Sayangku mau ku gendong?" tawar Ray.


Namun Zuy malah mengibas tangannya. "Tidak Ray, terimakasih," tolaknya secara halus.

__ADS_1


Ray tersenyum, akan tetapi berbeda dengan hatinya yang sedih karena Zuy menolak tawarannya. Lalu mereka berdua berjalan menuju ke arah pintu rumahnya. Sesampainya Ray memijit bel pintunya dan sesaat Bu Ima membuka pintunya.


"Zuy, Tuan Ray. Selamat datang," sambut Bu Ima.


"Terimakasih Bu," ucap Ray sambil melangkah masuk ke dalam rumah dan segera mendudukkan diri mereka masing-masing di atas sofa.


"Kalian mau di buatkan minuman apa?" tanya Bu Ima.


"Apa aja Bu, yang penting dingin!" ujar Ray.


Bu Ima pun mengangguk dan segera melangkah menuju ke dapur.


"Masih mengantuk sayangku?" tanya Ray yang melihat Zuy mengejapkan matanya.


"Tidak Ray, hanya saja mataku sedikit sakit," jawab Zuy sembari mengusap matanya.


Ray lalu menggeserkan tubuhnya sedekat mungkin dengan Zuy dan memegang tangannya.


"Jangan di usap seperti itu sayangku! Nanti malah makin sakit dan memerah," tutur Ray.


"Tapi Ray...." hardik Zuy


Tanpa aba-aba dari Zuy, Ray langsung meniup mata Zuy seraya menghilangkan rasa perih pada mata sang pujaan hatinya itu. Sesaat kemudian....


"Bagaimana sayangku? Apa sudah mendingan?" tanya Ray


Zuy mengangguk. "Iya, udah mendingan Ray, terimakasih."


"Sama-sama sayangku," balas Ray.


Ray lalu mencium pipi Zuy dan memeluknya dengan erat.


******************


Sementara itu di tempat lain....


Aries nampak tengah sibuk memulihkan data rekaman CCTV yang sudah di retas. Ya sesuai dengan dugaan Davin bahwa pelakunya adalah seorang hacker. Sedangkan Davin, tentu saja ia sedang mengobrol dengan seseorang yang di duga sebagai manager bengkel tersebut.


"Oh jadi seperti itu, orang yang biasa menangani mobil Tuan Ray tidak masuk karena mendapat kabar bahwa anaknya sakit?" ucap Davin setelah mendengar pengakuan dari Manager tersebut.


"Iya Pak. Maka dari itu kami menyuruh yang lain," ujarnya.


Davin memanggut. Sesaat kemudian, setelah selesai memulihkan rekaman cctv, Aries segera menunjukkan hasil rekaman cctv tersebut pada yang lainnya.


"Iya, memang benar dia yang menangani mobil Tuan Ray," ujar manager itu.


"Hmmm.... Apa saya boleh meminta alamatnya?"


"Tentu saja, nanti akan saya berikan."


Lalu mereka melihat kembali rekaman tersebut, namun seketika wajah Davin berubah saat ia melihat Pak Wildan tengah mengobrol dengan montir tersebut sambil memberikan sesuatu pada montir yang menangani mobil Ray itu.


"Hah! Pak Wildan!" lontar Davin.


"Apa kau mengenalnya Vin?" tanya Aries.


"Tentu, anaknya lah yang kemaren hampir mencelakai Zuy," jawab Davin


Aries pun terkejut. "Apa! Jadi anaknya yang membuat adik dan kedua calon keponakanku celaka? Kurang ajar." umpatnya.


"Kenapa orang ini ada di sini?" tanya Davin menunjuk ke Pak Wildan.


"Ya beliau juga pelanggan kami, kemaren beliau membawa mobilnya untuk di service," ujar manager itu.


"Oh, jadi begitu ya," lirih Davin.


"Hmmmm.... Ternyata kejadian ini memang ada hubungannya dengan Pak Wildan," sambung batinnya sembari mengepalkan tangannya.


...----------------...


Menjelang senja....


Zuy nampak keluar dari kamar mandi, setelah lima belas menit ia habiskan di dalam kamar mandi hanya untuk bebersih, ia pun bergegas menuju ke kamarnya itu.


Saat berada di dalam kamarnya, Zuy berdiri di depan cermin sambil memandangi dirinya sendiri.


"Pantesan waktu aku ikut kelas kehamilan, banyak yang bilang perutku lebih besar dari mereka. Padahal usia kandungannya sama, ternyata ada dua anakku di dalam sini," ucap Zuy sambil mengelus perutnya.


Lalu kemudian....


"Sayangku, apa kamu ada di dalam?" seru Ray dari luar kamar Zuy.


"Iya Ray, Zuy baru selesai mandi," balas Zuy.


Ray membuka pintu kamar Zuy dan mendapati Zuy tengah berdiri di depan cermin, ia lalu melangkahkan kakinya menghampiri Zuy.


"Sayangku, bukannya pakai baju malah bercermin seperti itu," papar Ray.


"Maaf Ray, Zuy hanya masih belum percaya saja, kalau kita akan mempunyai anak kembar, pantas saja mereka bilang kalau perut Zuy lebih besar, makanya Zuy bercermin," ujar Zuy.


"Iya aku juga tidak menyangka dan aku benar-benar bahagia, apalagi salah satu dari mereka anak laki-laki," ucap Ray sembari mengelus kepala Zuy.


"Ya semoga saja satunya perempuan, supaya aku bisa dandanin dia, memakaikan jepit rambut padanya, pasti sangat lucu dan menggemaskan."


"Iya semoga saja ya sayangku, jadi kamu gak iseng jepitin rambutku terus," gumam Ray.


Zuy terkekeh. "Hihihi.... Maaf Ray, habisnya aku gemes sama rambutmu itu."


"Hummpt," dengus Ray.


Lalu tiba-tiba ....


Cup...!


Zuy mendaratkan bibirnya ke pipi Ray.


"Udah jangan ngambek gitu, nanti wajah tampanmu luntur lho," ujar Zuy menggoda Ray.


"Ketampanan ku ini gak akan luntur sayangku," pekik Ray memanyunkan bibirnya.


Lalu kemudian Ray mengangkat tubuh Zuy.

__ADS_1


"Ray apa yang kamu lakukan?" tanya Zuy kebingungan.


"Karena kamu sudah menggodaku, jangan harap kamu bisa lepas dari ku, sayangku." ucap Ray.


"Iya maaf Ray, aku janji gak akan ulangi lagi. Tapi turunin aku dulu!" pinta Zuy.


Ray merebahkan tubuh Zuy di atas kasur, lalu ia mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.


"Terlambat sayangku...." bisik Ray.


"Hah!!!"


...----------------...


Tak terasa waktu berlalu dan kini pagi sudah menyapa, waktunya menjalankan aktivitasnya masing-masing.


—Pukul 07.45Am


Sementara itu, Ray dan lainnya tengah menikmati sarapan paginya itu. Lalu ....


Drrrrt... Drrrrt.... Drrrrt....


Tiba-tiba hp Davin berbunyi nyaring, sontak membuatnya menghentikan aktivitasnya. Kemudian ia menyambar hpnya yang berada di dekatnya itu.


"Siapa yang menelpon Kak?" tanya Ray


"Pengawal yang kita tugaskan menjaga rumah sakit," jawab Davin. "Sebentar Tuan!"


Davin lalu menjawab telponnya itu.


"Ada apa?" ketus Davin


"Maaf Pak kalau saya mengganggu, tapi tadi saya mendapat kabar kalau Wawan sudah sadar," ujarnya


Wawan nama pengawal yang kecelakan itu.


"Sudah sadar! Syukurlah kalau begitu," ucap Davin.


"Iya dan Dokter bilang Wawan akan di pindahkan ke ruang rawat, tapi beliau menunggu kehadiran Tuan Ray terlebih dahulu," kata pengawal tersebut.


"Baiklah nanti akan saya sampaikan ke Tuan Ray, terimakasih infonya."


"Sama-sama Pak."


Lalu telpon pun terputus.


"Ada kabar apa Kak Davin?" tanya Ray.


"Barusan dia bilang kalau Wawan sudah sadar," jawab.


"Hah! Sudah sadar? Huuft Syukurlah kalau begitu," ucap Ray lega.


"Iya Tuan Ray, terus dia bilang kalau Dokter sedang menunggu kedatangan anda, Tuan Ray."


Ray mengangguk. "Baiklah sebentar lagi aku akan kesana bersama sayangku."


"Bersama ku?" Zuy nampak kebingungan.


"Iya sayangku, soalnya setelah dari rumah sakit, aku akan membawa mu ke suatu tempat," ujar Ray.


"Ke suatu tempat? Di mana itu?" tanya Zuy penasaran.


"Nanti kamu juga akan tahu, udah habiskan dulu sarapannya! Setelah itu kita siap-siap ke rumah sakit. Dan untuk Kak Davin, aku mohon bantuan Kak Davin!"


Davin mengangguk patuh. "Baik Tuan Ray, serahkan saja semuanya padaku!"


Mereka pun melanjutkan sarapannya, sesaat setelah selesai sarapan, mereka pergi ke kamarnya masing-masing untuk bersiap-siap. Sedangkan Davin langsung berangkat ke Perusahaan.


Beberapa saat kemudian....


"Apa kamu sudah siap sayangku?"


"Iya aku sudah siap," balas Zuy.


Ray menggandeng tangan Zuy dan mereka pun melangkahkan kakinya bersama menuju keluar rumah. Setibanya di luar, Ray membukakan pintu mobilnya untuk Zuy.


"Silahkan Tuan Putriku!"


"Terimakasih Ray," ucap Zuy sembari masuk ke dalam mobil.


Setelah menutup pintunya, Ray segera menyusul masuk dan mengambil alih kemudi. Sesaat setelah mobil menyala, Ray langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


*************************


Sementara itu di lain tempat lebih tepatnya kantor Polisi. Nampak istri Pak Wildan datang untuk menjenguk anak kesayangannya itu. Setelah mengikuti prosedur yang di berikannya, Polisi pun membawa Erlin menemui Ibunya itu.


"Waktu kalian tidak lama, jadi gunakan dengan baik!" kata Polisi tersebut dengan lantang.


Mereka mengangguk serempak, lalu Petugas itu pergi meninggalkan Erlin dan Mamihnya. Sesaat setelahnya....


"Erlin, anak Mamih. Kenapa kamu jadi seperti ini, ya ampun Mamih benar-benar sedih Lin melihat keadaanmu ini," ucap istri Pak Wildan yang terkejut melihat keadaan anak kesayangannya yang kacau balau.


"Mamih, Mamih.... Tolong bebasin Erlin! Erlin gak sanggup tinggal di sana, banyak nyamuk dan juga yang lainnya menindas Erlin. Lihatlah tubuh Erlin memerah semuanya," pinta Erlin sambil menangis.


"Iya sayang, Mamih pasti bebasin kamu. Kamu sabar ya! Papihmu sedang mencari pengacara yang terbaik supaya kamu bisa bebas dari sini," kata Mamihnya itu.


"Kalau bukan karena si OB j*lang aku tidak akan seperti ini. Aaah, pokoknya setelah aku bebas dari sini, aku tidak akan melepaskannya. Akan ku buat dia tersiksa dan mati secara perlahan di tanganku," umpat Erlin.


Lalu istri Pak Wildan memeluk erat tubuh anak kesayangannya itu.


"Iya sayang dan Mamih juga akan membantumu untuk membalasnya," balas istri Pak Wildan.


"Terimakasih Mamih, kamu yang terbaik," ucap Erlin.


Sorot matanya Erlin seketika berubah, senyuman jahatnya pun terpancar di wajahnya itu.


"Heh! Lihat saja OB j*lang, sebentar lagi aku akan membuat hidup mu menderita untuk selama-lamanya," batin Erlin.


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2