Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Mencari Perhatian


__ADS_3

<<<<


Pak Wildan dan Linda pun bahagia melihat anaknya berani mendekati Ray.


"Bagus Erlin, terus seperti itu agar Ray luluh dan langsung jatuh hati padamu," kata hati Pak Wildan.


"Yaudah Nona Erlin, silahkan duduk kembali," kata Ray.


Lalu Erlin kembali duduk ke tempatnya semua, yaitu di tengah-tengah kedua orang tuanya, sedangkan Ray duduk di samping Pak Willy.


"Terus bagaimana keadaanmu sekarang Ray?" tanya Pak Willy sembari memegang pundak Ray.


Ray menoleh ke arah Pak Willy, "Ya sekarang Ray udah mendingan Om, maaf ya Om Kalau Ray gak ngabarin Om," ucap Ray.


"Iya gak apa-apa Ray, ya sebenarnya Om juga kaget, tiba-tiba Pak Wildan datang ke rumah Om, dan ia bilang ingin menjengukmu," jelas Pak Willy


"Iya Tuan Ray, saya pikir anda tinggal di rumah Pak Willy, saya tau anda sakit juga dari Pak Davin ketika rapat kemaren," kata Pak Wildan


"Oh iya, saya memang menyuruh Davin untuk menggantikan saya, karena Dokter bilang ke saya, dalam beberapa hari saya harus benar-benar istirahat," ungkap Ray.


Lalu Pak Wildan mengelus kepala Erlin dan berkata, "Nah mendengar anda sakit, anak saya langsung panik dan khawatir terhadap anda, Erlin yang meminta kami untuk menjenguk anda Tuan."


"Papi..." lirih Erlin melihat ke Pak Wildan.


"Lho kenapa, kan emang benar kalau kamu itu yang ingin menjenguk Tuan Ray, sampai dari malam gak tidur kan.." kata Pak Wildan sambil mengedipkan matanya ke arah Erlin


Erlin pun mengerti apa maksud dari Pak Wildan, ia langsung menundukan kepalanya.


"Ja-jangan ngomong begitu dong Pi, Erlin kan jadi malu Pi, Tuan Ray jadi tau.." papar Erlin sembari memainkan tangannya.


Ray melihat ke Erlin, "Oh begitu ya, Nona Erlin terimakasih banyak atas perhatianmu, aku jadi tersanjung," ucap Ray sambil tersenyum.


Erlin pun mendongakkan kepalanya ke arah Ray, "Sa-sama-sama Tuan Ray," pipinya pun merona lagi, lalu ia kembali menundukan kepalanya.


Ray merasa kebingungan dengan tingkah Erlin, ia pun bertanya, "Lho kenapa kamu menunduk lagi Nona Erlin?"


"Ma-maaf Tuan, sa-saya malu," jawab Erlin dengan gugupnya, "Hmmmm, kalau tidak karena ingin mendapatkan simpati Tuan Ray, aku gak akan melakukan hal konyol seperti ini, aku lebih suka gaya ku yang biasa, toh dia pasti akan tertarik padaku," batin Erlin.


"Maaf Tuan Ray, anak saya memang benar-benar pemalu, di rumah juga dia seperti itu, tapi walaupun seperti itu, dia anak yang sangat rajin, bahkan dia sering sekali membantu para pelayan di rumah kami," ujar Linda membuat karangan palsu tentang Erlin, supaya Ray makin tersanjung dan simpati dengan Erlin.


Ray pun hanya tersenyum tanpa sepatah kata pun, di hati Ray berkata, " Obrolan macam apa ini, kenapa malah jadi menyanjungkan anaknya di depan ku, apa mereka ingin mendapatkan simpati dari ku, hah ini sama seperti saat dulu waktu makan malam dengan mereka, ini sangat membosankan. Kalau hanya seperti itu, Zuy juga bisa melakukan semuanya bahkan lebih baik lagi. "


Pak Willy pun melihat ke arah Ray, lalu ia mengerutkan dahinya, karena ia tahu kalau Ray tidak akan nyaman, lalu...


Taaak....


Pak Willy menaruh cangkir minum dengan keras,semua yang di situ pun jadi kaget.


"Rayyan, lalu bagaimana dengan Michael, apa dia tau keadaanmu?" tanya Willy dengan sengaja menyela obrolan dari Pak Wildan dan keluarganya.


Ray pun langsung sumringah, akhirnya Pak Willy ikutan bicara, dan ia pun langsung menjawab, "Eh, Daddy belum tahu Om, karena Ray belum memberitahuinya, tapi Ray memang sengaja tidak memberi tahu, soalnya takut Daddy syok lalu kepikiran terus."


"Oh begitu, Om bisa mengerti Ray, kamu memang anak yang baik Ray, kamu ... ..," belum sempat menyelesaikan obrolan, lalu...


"Tuan Ray, saya tidak menyangka lho kalau anda anak dari Mr Michael, ternyata dunia ini memang sempit ya," lagi-lagi Pak Wildan menyela pembicaraan.


Akhirnya Pak Willy kembali terdiam dan meminum minumannya, Ray pun makin tambah bosan, namun ia menghargai Pak Wildan, karena walau bagaimana pun Pak Wildan Patner kerjanya.


Trrrrrrt.. Trrrrrrt.. (Hp Pak Willy berbunyi)


"Tunggu sebentar ya.." kata Pak Willy, lalu ia pun beranjak dari tempat duduknya dan menjauh karena mau menjawab telponnya.


Sementara itu di tempat yang sama...


"Hah Pak Wildan niat banget ya ingin mendapatkan simpati dari Tuan Ray," celetuk Davin sambil membaca buku

__ADS_1


"Hmmm Pak Davin gak boleh seperti itu, gak baik ah ngomongin orang di belakang," kata Zuy.


Davin langsung menutup bukunya dan menaroh buku itu di atas meja.


"Hah, bukan ngomongin tapi memang kenyataannya begitu, aku jamin Tuan Ray pasti bosan dan gak nyaman, Tuan Ray kan gak pernah suka kalau ngobrol dengannya selain dari kerjaannya," jelas Davin.


"Heuung ngobrolin yang lain, maksudnya?" tanya Zuy


Davin pun langsung menepuk jidatnya, "Aduh Zuy kamu itu polos atau gimana sih Pak Wildan itu sengaja mendekatkan anaknya pada Tuan Ray supaya ... ...," Davin pun terdiam.


"Supaya apa Tuan?" tanya Zuy yang sedikit penasaran.


Davin pun menggelengkan kepalanya, "Tidak, bukan apa-apa kok, ya minumannya habis, aku ke dapur dulu ya mau ambil minum," kata Davin mengalihkan obrolan.


"Eh biar Zuy aja Pak, Zuy juga ingin ke dapur ngambil cemilan di kulkas," kata Zuy mengambil gelas yang di tangan Davin.


"Makasih Zuy," ucap Davin, lalu Zuy pun berjalan menuju ke Dapur.


"Hah, hampir aja keceplosan.." lirih Davin.


Ruang Utama


Setelah beberapa saat kemudian, setelah selesai menelpon, Pa Willy pun kembali ke tempat duduknya.


"Ray, sepertinya Om langsung pulang ya, soalnya ada tamu di rumah," kata Pak Willy.


Raut wajah Ray pun berubah mendengar Pak Willy mau pulang, "Ya, padahal Ray masih ingin ngobrol sama Om," ujarnya.


"Nanti saja, makanya main ke rumah dong, jadi kita bisa ngobrol bebas," celetuk Pak Willy memegang pundak Ray.


"Iya kapan-kapan aja ya Om," kata Ray


Lalu Pak Wildan berdiri dari tempat duduknya, "Tuan Ray, kami juga mau pamit ya," ujar Pak Wildan.


"Oh iya Pak," balas Ray


"Iya soalnya saya masih banyak pekerjaan," jawab Pak Wildan sambil menggaruk belakang kepala.


"Yaudah, Ray cepat sembuh ya, istirahat yang benar," tutur Pak Willy.


Lalu Pak Wildan diam-diam menepuk belakang pundak Erlin, Erlin pun langsung menoleh ke arah pak Wildan, dan mengerti sangat maksud dari Papinya. Erlin pun langsung menghampiri Ray.


Sambil mengulurkan tangannya, ia pun berkata, " Tuan Ray, Erlin pamit ya, cepat sembuh ya Tuan Ray, Erlin benar-benar sedih kalau anda sampai kenapa-napa."


Ray membalas uluran tangan Erlin, "Terimakasih banyak atas perhatian anda Nona Erlin, saya benar-benar tersanjung atas perhatian anda kepada saya," ujar Ray.


Erlin pun tersipu malu, ia melepaskan tangannya dan kembali ke orang tuanya.


"Yaudah kalau gitu, salam buat Zuy dan Davin ya," kata Pak Willy.


Lalu Ray mengantar mereka sampai di depan pintu, Pak Willy dan lainnya pun langsung masuk ke dalam mobil, mereka pun pergi dari rumah Ray.


Ray bergegas masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya, lalu ia berjalan menuju ke ruang tengah, setelah di ruang tengah..


"Lho Tuan Ray kenapa kesini, lalu di mana tamu anda?" tanya Davin


Ray langsung duduk di sebelah Davin, "Mereka sudah pulang, hah.. akhirnya bisa tenang," cetus Ray dengan lesunya


"Kenapa lesu gitu, bukannya bagus tuh Pak Wildan mencoba mendekatkan putrinya dengan anda," Davin mencoba menggoda Ray.


Ray langsung menatap tajam Davin, "Kak Daviiiiin, kebiasaan deh, gak enak kali ya, kalau gak godain Ray," gerutu Ray.


"Hehehe.."


"Tuan Muda kok ada di sini, Pak Willy dan lainnya kemana Tuan?" tanya Zuy yang datang dari dapur sambil membawa minuman dan camilan, ia menarohnya di atas meja.

__ADS_1


"Mereka sudah pulang Kak," jawab Ray, "Ah kebetulan aku haus, tadi minuman ku habis, terimakasih Kak," ucap Ray sambil mengambil salah satu gelas, lalu ia pun langsung meminumnya.


"Eh Tuan itu kan milik Zuy," papar Zuy.


"Ya biarkan saja, toh sama aja kan," ujar Ray


"Ta-tapi itu bekas Zuy minum Tuan," lirih Zuy dengan wajah cemberut.


Uhuuuuk..


Ray pun langsung tersedak, "Maaf Zuy aku gak tau."


"Yaudah gak apa-apa Tuan, Zuy ke depan dulu mau ngambil gelas bekasnya," kata Zuy, "Tuan Muda bener-bener nyebelin," batin Zuy.


"Makanya Tuan kalau ngambil gelas liat-liat dulu, ini gelas punya saya ada, ngapain ngambil punya Zuy," celetuk Davin.


"Ya mana ku tahu kak, lagian Ray juga ogah minum bekas punya Kak Davin," gerutu Ray.


"Ya terserah anda deh.." papar Davin.


Ray pun melihat ke gelas yang ia pegang, "Lagi-lagi aku seperti ini, tapi entah kenapa aku bahagia," batin Ray sambil tersenyum.


Davin pun yang melihat Ray senyum seperti itu, langsung memalingkan pandangannya.


"Tuan ini bingkisannya mau taroh di mana?" tanya Zuy sambil membawa bingkisan yang dari Erlin.


Lalu Ray mengambil bingkisan itu dari tangan Zuy, ia pun sengaja melemparkan bingkisan itu ke arah Davin, sehingga membuat Davin terkejut.


"Tuan Rayyan, anda benar-benar ya.." seru Davin.


"Maaf Kak sengaja," ledek Ray.


Zuy pun langsung menepuk jidatnya, "Aduh kalian berdua."


°°°°°°


Sementara itu di dalam mobil Pak Wildan, Erlin pun selalu tersenyum di sepanjang perjalanan, ia merasa sangat bahagia karena bisa bertemu Ray.


"Pi, liat anak kita dari tadi tersenyum gitu, saking bahagianya sudah melihat Tuan tercintanya," ujar Linda


"Hahaha, biarkan saja Mi dia seperti itu, Papi juga bahagia sekali, semoga impian kita terkabul ya," kata Pak Wildan.


"Iya semoga Pi, Mami jadi yakin sekali kalau Tuan Ray benar-benar cocok untuk anak kita," ujar Linda memegang tangan Pak Wildan, lalu mereka melanjutkan perjalanannya.


*****


Hotel


Sementara itu, Kimberly dan Maria sedang merapikan pakaian dan memasukannya ke dalam koper, dengan bantuan YanYan.


"Mam, pesawat kita berangkat kapan?" tanya Kimberly sambil merapihkan pakaiannya.


"Kita akan berangkat penerbangan malam sayang," jawab Maria.


"Berarti kita bisa ke rumah Ay dulu kan Mam, soalnya Kim mau pamit sama Ay," kata Kimberly


Maria melihat ke arah Kimberly dan berkata, "Ya boleh dong sayang, makanya Mam sengaja pesan tiket pesawat malam, supaya kamu ada waktu untuk berpamitan sama Ray."


Kimberly pun langsung memeluk Maria, "Thanks Mam, Mam memang paling mengerti Kim," ucapnya.


Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka selesai membereskan semuanya, lalu mereka keluar dari kamar dan menuju ke pintu lift, setelah pintu terbuka mereka pun masuk ke dalam lift dan menuju lantai bawah. Di lantai bawah, Kimberly pun ke Resepsionis untuk Cek out. Setelah selesai mereka keluar dari hotel itu, lalu menaiki Taxi dan pergi menuju ke Rumah Ray.


**Bersambung...


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada kesalahan, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... ✌😉😉✌


__ADS_2