
<<<<<
Karena penasaran, ia pun langsung menjawab panggilan tersebut. Lalu....
"Dimas...." lirih seseorang dari sebrang telponnya.
"Kak Maria!"
Dimas tersentak seraya bangkit dari duduknya setelah mendengar suara dari sebrang telponnya yang ternyata Kakaknya sendiri yaitu Maria Lestari.
"Kak Maria, apa ini beneran kamu, Kak?" lanjut tanya Dimas memastikan.
"Iya Dimas ini Kakak." jawab Maria.
"Ya ampun Kak, Kakak ada di mana sekarang ini? Apa Kakak tau, selama ini kami mencari-cari keberadaan Kakak bahkan sampai meminta bantuan dari pihak Kepolisian, tapi sayangnya mereka belum mendapatkan informasi apa-apa tentang keberadaan Kakak sampai saat ini." lontar Dimas.
Maria terkejut. "Apa! Jadi kalian semua mencariku?"
"Iya Kak, kami semua selalu mencari informasi tentang keberadaan Kakak, bahkan kami sudah pergi ke tempat di mana Kakak di sekap oleh penculik itu, tapi sayangnya kami terlambat." terhenti sejenak seraya mengusap wajahnya. "Kak, kami sangat merindukan Kakak dan kami benar-benar khawatir sama Kakak terutama Bunda yang hampir setiap hari selalu nanyain Kak Maria." lanjut ungkapnya.
"Maafin Kakak ya Dimas karena sudah membuat kalian khawatir apalagi Bunda." ucap Maria tersedu-sedu.
Dimas menghela nafasnya sejenak.
"Ya gak apa-apa Kak. Bagaimana kabar Kakak sekarang? Apa orang yang menculik Kakak melakukan sesuatu yang buruk pada Kakak?" cecar Dimas.
"Ka-kabar Kakak ..., eum, Kakak baik-baik aja Dimas dan mereka tidak melakukan sesuatu yang buruk terhadap Kakak. Hanya saja ...."
"Hanya saja apa Kak?"
"Ah, bukan apa-apa Dim," kata Maria.
"Kak, kasih tau Dimas! Sebenarnya Kakak sekarang ada di mana? Biar nanti Dimas, Tuan Archo beserta lainnya langsung meluncur ke sana dan membebaskan Kakak dari para penculik itu!" lontar Dimas.
"Oh, jadi Archo ada di Indonesia ya?"
"Iya dan dia datang bersama dengan si tua ah bukan maksudku suami Kakak, Mr Mario Fuca." ujar Dimas.
Sontak membuat Maria kembali terkejut.
"Apa! Mario juga ada di sini?"
"Iya Kak, makanya cepat kasih tau Dimas! Di mana Kakak sekarang ini." pinta Dimas.
Lalu terdengar hembusan nafas Maria dari sebrang telponnya.
"Maaf Dimas! Sebenarnya Kakak juga gak tau di mana Kakak sekarang ini, sebab selama ini Kakak hanya terkurung di dalam kamar aja." jelas Maria.
Dimas tersentak. "Apa! Jadi selama ini Kakak di kurung di dalam kamar oleh si penculik itu?"
"Iya Dimas." balas Maria membuat Dimas mengerutkan keningnya seraya mengepal kuat tangannya.
"Lalu Kakak menggunakan ponsel siapa untuk bisa menghubungiku?"
"Eum, soal itu kamu tidak perlu tahu Kakak menggunakan ponsel siapa. Yang terpenting Kakak bisa menghubungi mu dan lagi sebenarnya ada sesuatu yang ingin Kakak minta dari mu, Dim."
"Memangnya Kakak mau minta apa?"
"Dimas, bisakah kamu memberikan nomor telepon si anak durhaka ah bukan maksud Kakak nomor telepon Zuy pada Kakak!" pinta Maria.
"Apa! Nomor Zuy?" Dimas kembali tersentak. "Untuk apa Kakak meminta nomornya?" lanjutnya.
"Tentu saja Kakak sangat merindukannya dan Kakak ingin meminta maaf atas kesalahan yang selama ini Kakak lakukan terhadapnya. Kakak cape berdebat terus dengannya dan Kakak ingin sekali berdamai dengan anak Kakak itu, Dimas." kata Maria dengan nada sendu.
Mendengar itu Dimas terdiam, namun dalam hatinya berkata, "Hmmmm, apa yang terjadi dengan Kak Maria? Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu? Apa Kak Maria beneran sudah berubah? Tapi kenapa aku masih ragu ya?"
Lalu....
"Dimas, apa kamu masih di sana?"
Dimas mengerjapkan matanya. "Eh iya Dimas masih di sini Kak."
"Bagaimana Dim, apa kamu bisa memberikan nomornya Zoya padaku?"
Untuk sejenak Dimas menarik dan menghembuskan nafasnya.
"Dimas gak punya nomornya Zuy, tapi kalau nomornya Tuan Muda, Dimas punya Kak." ujar Dimas.
"Oh gitu ya. Eum, sampai di sini dulu ya Dimas! Sepertinya mereka sudah kembali. Oh iya, jangan beritahu Bunda kalau Kakak menghubungi mu dan satu lagi setelah Kakak tutup telponnya, kamu jangan pernah hubungi nomor ini lagi ya!" kata Maria.
"Lho memangnya kenapa Kak?"
"Demi keselamatan Kakak, Dim." balas Maria. Lalu....
Tuuut....
Telpon pun terputus secara sepihak.
"Kak, halo Kak Maria, Kakak!" melihat ke arah layar hpnya. "Ternyata udah di matiin." lirihnya.
Dimas kembali mendudukkan dirinya di kursi kerjanya seraya memandangi layar hpnya atau lebih tepatnya ke nomor telepon yang di gunakan oleh Maria itu.
"Bertahanlah Kak! Kami pasti akan menemukan Kakak dan membebaskan Kakak dari para penculik itu," ucap Dimas.
Tiba-tiba terlintas di pikiran Dimas untuk menghubungi seseorang, ia pun mencari nomor yang akan di hubunginya dan ternyata nomor telepon milik Archo.
Setelah dapat, Dimas langsung menghubungi Archo, akan tetapi....
'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, silahkan hubungi beberapa saat lagi!' suara Operator.
Dimas mengernyit heran. "Tumben nomornya gak aktif, apa sedang sibuk?" pikirnya.
Ia pun mencoba menghubungi Archo lagi namun tetap saja sama seperti sebelumnya yang menjawabnya hanya sang Operator.
"Sepertinya memang lagi sibuk. Hmmm, yaudahlah besok aja aku hubungi dia lagi." kata Dimas seraya meletakkan hpnya di atas meja kerjanya.
Ia pun beralih ke laptopnya kembali melanjutkan aktivitas kerjanya.
__ADS_1
...----------------...
Sementara itu di tempat Maria berada....
Setelah selesai berbicara dengan Dimas melalui telepon, Maria pun memberikan hp yang ia pinjam kepada pemiliknya yaitu Desi, yang saat itu baru saja masuk ke dalam kamar Maria.
"Terimakasih sudah meminjamkannya padaku, Des." ucap Maria.
"Sama-sama Mrs Maria," balas Desi sembari mengambil hpnya itu. "Oh iya, lalu bagaimana dengan nomor dan keberadaan wanita itu, apa anda sudah mendapatkan informasinya dari adik anda?" sambung tanyanya.
Maria menggelengkan kepalanya seraya menghela nafasnya.
"Maaf Des! Aku gagal mendapatkan nomor telpon dan keberadaan si anak durhaka itu." jawab Maria.
Desi pun terkejut. "Hah! Gagal? Kok bisa Mrs Maria?"
"Ya karena adikku tidak mempunyai nomor telponnyanya si anak durhaka, dan yang dia punya hanyalah nomer telpon milik Rayyan saja. Sedangkan untuk keberadaannya aku belum sempat menanyakannya pada Dimas." jelas Maria.
"Oh begitu ya." lirih Desi. "Eem, tapi masa iya sih adik anda gak punya nomornya si wanita itu, apa jangan-jangan dia berbohong pada anda, Mrs Maria." lanjutnya.
Maria manggut-manggut.
"Ya dari tadi juga aku sudah menduga bahwa Dimas memang membohongi ku. Secara dia kan sangat menyayangi si anak durhaka itu bahkan selalu membelanya meskipun si anak durhaka bersalah," lontar Maria.
"Wow, hebat juga ya si Zuy ini banyak sekali yang ngebela dia dan anehnya yang selalu membelanya itu semuanya laki-laki. Entah apa yang ia gunakan sampai membuat semua para pria bodoh tertarik dengannya." cetus Desi.
Mendengar itu, seketika membuat Maria tercengang.
"Apa maksud perkataan mu barusan, Des?"
"Eem itu ..., ah bukan apa-apa Mrs Maria, barusan lidah saya hanya terpleset saja." papar Desi di susul senyum tipisnya.
"Oh, aku kira kamu bicara sesuatu."
"Nggak Mrs Maria." Desi menggelengkan kepalanya.
Suasana pun hening seketika karena Desi sibuk dengan hpnya itu. Lalu sesaat....
"Desi...." panggil Maria.
Desi pun menengadah. "Iya Mrs Maria."
Maria lalu mengangkat tangan kirinya dan menempatkannya ke pipi Desi.
"Kamu beneran nggak apa-apa kan?"
Desi mengerenyit. "Hmm, gak apa-apa gimana maksud anda, Mrs Maria?"
Maria kembali menghela nafasnya.
"Maksudku, tadi kan kamu sudah meminjamkan ponsel milikmu itu padaku. Apa kamu beneran gak apa-apa?" ujar Maria.
"Oh maksudnya itu. Ya bukankah tadi saya sudah mengatakannya pada anda kalau saya tidak apa-apa, toh lagian juga Bos Noel masih ada di luar sampai sekarang belum pulang. Sedangkan Yon dan Fan lagi mabuk di halaman belakang, jadi mana mungkin mereka tahu kalau saya sudah meminjamkan ponse ini pada anda, Mrs Maria." jelas Desi.
"Tapi bagaimana jika nantinya Noel tahu? Dan apa yang akan terjadi padamu nanti, Des?" tanya Maria yang nampak khawatir dengan Desi.
"Kalau kamu tahu akan mendapatkan hukuman seperti itu dari Noel, lantas kenapa kamu malah membantuku, Des? Bukankah itu sama saja kamu membuat kesalahan mu pada Noel?" Maria mencecar Desi kembali.
"Itu karena saya kasihan pada anda, Mrs Maria. Anda pasti sangat merindukan keluarga anda, makanya sebisa mungkin saya membantu anda supaya bisa menghubungi mereka meskipun nantinya saya yang akan di salahkan oleh Bos, tapi saya rela demi membantu anda, Mrs Maria. Dan selain itu juga, setiap saya melihat anda, saya selalu teringat akan Ibu saya yang sudah lama meninggal karena penyakitnya. Jadi saya..., hiks." ungkap Desi di barengi dengan air matanya yang mengalir membasahi pipinya.
Hati Maria seketika terenyuh mendengar ungkapan dari Desi, ia pun mengusap air mata Desi dengan menggunakan tangan kirinya.
"Kamu memang anak yang baik, Des. Ibu kamu pasti sangat bangga mempunyai anak seperti kamu ini. Tidak seperti anakku yang durhaka itu yang selalu melawan perkataan Ibunya bahkan tidak mau mengalah dengan adiknya. Aku benar-benar sangat menyesal sudah membuang air mataku selama bertahun-tahun demi anak durhaka itu." kata Maria.
"Mrs Maria, jangan berkata seperti itu! Walau bagaimanapun dia juga anak kandung mu, ya meskipun kelakuan dia sangat buruk dan suka merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain." tutur Desi.
Maria mendesah. "Ya itu karena kelakuan si anak durhaka itu, makanya aku sangat membencinya meskipun dia adalah anak kandung ku sendiri." paparnya.
Desi pun menyunggingkan senyum smirk-nya. Lalu....
"Desi, jika suatu hari nanti aku terbebas dari sini, apa kamu mau ikut dengan ku?" lontar Maria.
"Apa! Ikut dengan anda, Mrs Maria?"
Maria menganggukkan kepalanya. "Iya Des."
"Ta-tapi saya ...." seketika Desi menundukkan kepalanya seraya meremas kuat tangannya.
Melihat itu, Maria pun langsung menggenggam erat tangan kanan Desi.
"Des, aku janji! Setelah kamu ikut bersama ku, aku akan membantu kamu menjadi wanita yang sukses dan lagi aku juga akan membantu kamu untuk membalaskan dendam kamu pada si anak durhaka itu," ucap Maria bersungguh-sungguh.
Desi terperangah dengan apa yang di ucapkan oleh Maria, lalu ia pun mengangkat kepalanya kembali dan menatap Maria.
"Apa anda serius dengan ucapan anda barusan, Mrs Maria?"
"Tentu saja aku serius Des." ujar Maria
Sehingga membuat Desi penasaran dan bertanya, "Lalu kenapa anda ingin sekali membawa saya bersama anda, Mrs Maria? Bahkan sampai mau membantu saya."
Maria tersenyum seraya menempatkan tangannya kembali ke pipi Desi.
"Itu karena aku sangat menyukai anak baik seperti kamu, dan di tempat ini orang yang selalu baik serta perhatian padaku cuma kamu seorang Des. Jadi sudah sepantasnya aku membalas kebaikanmu dengan mengajakmu ikut bersama ku."
Desi sangat tertegun dengan perkataan Maria, lalu ia memeluk tubuh Maria dengan erat, begitu juga Maria yang dengan senang hati membalas pelukan Desi. Akan tetapi tiba-tiba saja menampakkan sorot mata yang tak biasa.
"Heh, ternyata akting ku menjadi orang baik berhasil membuat wanita cacat ini luluh terhadap ku. Dan setelah ini aku akan memanfaatkan Maria untuk tujuan ku yaitu menghancurkan hidup kamu, Zuy!" batin Desi di barengi dengan seringainya.
***********************
Villa Z&R
—Pukul 02.40am
Sementara itu di dalam kamar Tuan pemilik Villa, terlihat dua sejoli itu masih terlelap dalam tidurnya. Namun....
"Mrs Maria cukup! Zuy udah gak kuat, badan Zuy benar-benar sakit." Zuy tiba-tiba mengerang keras, keringat dinginnya pun sudah mulai membasahi dahi dan tubuhnya itu.
__ADS_1
Nampak jelas bahwa ia sedang bermimpi buruk.
"Ampun Mrs Maria! Jangan di pukul lagi, sakit! Zuy janji gak akan bandel lagi, Zuy akan jadi anak penurut, Mrs Maria." lanjut erangnya.
Ray yang sedang tidur pun langsung terbangun, lalu ia segera bangkit dari posisinya dan beralih ke arah pujaan hatinya yang masih mengerang.
"Sayangku...." Ray mengusap-usap pipi pujaan hatinya itu.
Lalu tiba-tiba....
"Mrs Maria jangaaan!" teriak Zuy seraya membangunkan tubuhnya. Akan tetapi ....
Jduug....
Kepala Zuy membentur dagu Ray sehingga membuat keduanya meringis kesakitan.
"Awww.. sakiit!" rintih Zuy memegangi kepalanya, lalu ia pun mendongakkan kepalanya melihat Ray yang di sampingnya tengah memegangi dagunya.
"Rayyan!"
"Iya sayangku, ini aku." sahut Ray sembari menurunkan tangannya dari dagunya.
Sontak membuat Zuy terkejut melihat dagu Ray yang memerah.
"Kenapa dagu kamu memerah gitu Ray? Apa habis di gigit nyamuk?" tanya Zuy sembari memegang dagu si pria tampannya.
Sepertinya ia belum sadar bahwa dagu Ray memerah karena terbentur oleh kepalanya sendiri.
"Nyamuk? Oh iya barusan memang habis di gigit nyamuk cantik kesayangan ku." ujar Ray mengedipkan sebelah matanya.
Zuy tercengang. "Hah! Jadi maksudmu aku yang sudah membuat dagu kamu merah gitu?"
"Iya sayangku. Barusan kepala kamu membentur dagu ku sampai membuatnya merah seperti ini." Ray menoel caping hidung pujaan hatinya.
"Oh, pantas saja kepala ku juga sakit. Maaf ya tampan-ku! Aku benar-benar gak sengaja." ucap Zuy.
"Tidak apa-apa sayangku."
Lalu tiba-tiba saja Zuy memeluk erat tubuh Ray yang masih bertelanjang dada itu seraya menenggelamkan wajahnya di dada pria tampannya.
"Sayangku...."
"Izinkan aku seperti ini, sebentar aja!" pinta Zuy.
"Baiklah sayangku, mau lama juga tidak apa-apa."Ray mengelus lembut rambut Zuy dan mencium puncak kepalanya.
"Duh adik kecil, kenapa kamu tiba-tiba aktif sih? Apa gara-gara belum dapat jatah malam dari sayangku? Yaudah sabar ya adik kecilku nanti aku akan meminta jatah kita." batin Ray.
Sesaat setelah merasa tenang, Zuy melepaskan pelukannya dan menatap Ray sembari menyunggingkan senyumnya.
"Terimakasih Ray karena sudah membuat ku merasa lebih tenang," ucap Zuy.
"Sama-sama sayangku," balas Ray mengelus pipi Zuy.
"Eem, bentar ya! Aku mau ke dapur dulu."
"Memangnya mau ngapain ke dapur? Apa sayangku lapar?" tanya Ray.
Zuy menggeleng. "Aku gak lapar Ray. Aku cuma mau ngambil air es buat ngompres dagu kamu itu." jawab Zuy.
Dan saat Zuy hendak beranjak dari tempat tidurnya, Ray malah menahan Zuy dengan memeluk erat pujaan hatinya itu seraya menciumi lehernya dengan buas dan meninggalkan beberapa tanda merah kepemilikannya.
"Ray...."
"Aku suka mendengar suara kamu yang menggoda seperti ini, sayangku." bisik Ray ke telinga Zuy di barengi hembusan nafasnya yang hangat.
Kini tangan serta mulutnya Ray sudah mulai lincah menelusuri apa yang menjadi kegemarannya itu. Dan pada akhirnya....
(Skip ah, takut pada panas... 🤭🤭)
...----------------...
Malam telah beranjak pergi, fajar menyingsing menyentuh embun pagi, awan-awan sudah nampak bergelantungan di langit, bahkan matahari kini sudah mulai menampakkan diri dengan membawa sinarnya yang hangat.
—Pukul 07.28am
Pagi itu Airin terlihat berada di depan kamar Davin, sebab Ray yang memintanya menjemput Davin untuk sarapan bersama.
Tok... Tok.... Tok....
"Pak Davin oh Pak Davin...." seru Airin dengan menirukan suara animasi si botak kembar.
Akan tetapi tidak ada jawaban apa-apa dari dalam kamarnya.
"Kemana sih Pak Davin? Apa jangan-jangan masih tidur?" pikir Airin. "Hmmm, aku coba buka pintunya deh, semoga aja gak di kunci."
Airin memutar handle pintu kamar Davin dan ternyata pintunya tidak terkunci, lalu ia mendorong pelan pintu tersebut hingga terbuka.
Setelah itu perlahan ia masuk ke dalam kamarnya Davin.
"Maaf ya Oppa-Oppa saranghae, aku nyelonong masuk nih!" ucap Airin seraya melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur Davin.
Lalu tiba-tiba....
"Singa betina! Sedang apa kamu di kamar ku?"
Suara itu berhasil membuat Airin tersentak dan memutar tubuhnya menghadap ke arahnya.
"A-abs Oppa!"
***Bersambung...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1