Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Kalung Dan Cincin..


__ADS_3

<<<<<


Bi Nana pun langsung memutuskan telponnya.


"Hmmm sesuatu? sebenarnya apa yang mau Bi Nana kasih buatku?!!"


Lontar Zuy sambil memasukan hpnya kembali ke dalam tas. Ia pun menghela nafas panjangnya dan mengangkat tubuhnya yang menyandar di jok mobil yang ia duduki.


"Tadi Bi Nana ya?" tanya Ray yang sedari tadi menatap Zuy.


"Ah, iya Tuan Muda, tadi Bi Nana, beliau menyuruh Zuy datang ke rumah, katanya ada sesuatu yang mau Bi Nana kasih ke Zuy," jelas Zuy.


"Sesuatu? sesuatu apa Kak?" tanya Ray yang penasaran juga.


Zuy pun menggelengkan kepalanya, "Entahlah Tuan Muda, Bi Nana cuma bilang itu saja," balas Zuy.


"Oh, yaudah kalau seperti itu, Kak Davin kita ke rumah Bi Nana sekarang..!!" titah Ray.


Davin langsung mengangguk dan berkata, "Baik Tuan Ray.."


Lalu ia melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke arah rumah Bi Nana.


******************


Rumah Bi Nana


Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah Bi Nana.


"Tuan Muda, Pak Davin, kalau kalian ingin pulang, duluan saja ya..!" titah Zuy.


"Lalu Kakak bagaimana?" tanya Ray


Zuy lalu tersenyum dan menjawab, "Mungkin nanti Kak Aries yang akan mengantar Zuy."


Mendengar itu, Ray langsung mengerutkan dahinya dan menatap tajam Zuy.


"A-ada apa Tuan Muda, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Zuy yang keheranan.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja Ray tidak ingin pulang duluan dan meninggalkan Kakak di sini," ujar Ray sembari menyilangkan kedua tangannya di dadanya dan menghadap ke depan kembali.


Davin yang melihatnya, hanya bisa menggeleng dan hatinya berkata, "Bilang saja kalau anda cemburu Tuan Ray."


"Tapi takutnya Zuy lama, kan Tuan Muda sama Pak Davin pasti cape butuh istirahat," tutur Zuy.


Ray pun menatap Zuy kembali, "Tidak Kakak Zuy sayang, Ray ingin menemani Kakak di sini," tegasnya.


"Dan lagi aku tidak ingin melihat Aries dekat dengan Kakak, bagaimana pun dia masih menjadi sainganku," batin Ray.


Zuy pun menghela nafasnya, "Hah, yaudah kalau begitu," lirih Zuy.


"Makasih sayangku...," ucap Ray, lalu tiba-tiba..


Cup..


Satu kecupan dari Ray mendarat ke pipi Zuy, sontak membuat Zuy kaget dan pipinya pun merona


"Tuan Mudaaaa, kebiasaan deh suka cium mendadak." seru Zuy sambil memegang pipi yang bekas di cium oleh Ray.


"Oh Kakak maunya Ray izin dulu ke Kakak ya, baiklah kalau begitu, euuum Kakak sayang bolehkah aku mencium mu lagi.." ucap Ray menggoda Zuy


Mendengar itu mata Zuy langsung membulat, wajahnya pun seketika memerah.


"Tuh lihat wajah sayangku langsung memerah, berarti Kakak suka kalau Ray cium," Ray lagi-lagi menggoda Zuy.


"Tuan Muda, anda benar-benar ya.." pekik Zuy. Lalu kemudian...


Paaak.. Paaak...


Zuy memukul punggung Ray yang kekar itu dengan tangannya yang kecil, sontak membuat Ray hanya bisa tertawa saja. Sedangkan Davin yang berada di depan mereka...


"Hah, mulai lagi deh.." gumam Davin, ia pun segera memakai earphone di telinganya.


Lalu Davin menutup matanya dan pura-pura tidak mengetahui apapun.


"Jangan di lihat, jangan di dengar..!!" batin Davin yang terus melontarkan kalimat itu. Sesaat kemudian...


"Pak Davin ayo masuk..!!" titah Zuy, namun Davin tidak menyahutnya, "Pak Davin.." sambung Zuy.


Melihat Davin tidak menyahut, Ray pun langsung menepuk pundak Davin, sehingga membuat Davin terkejut dan menoleh ke arah Ray dan Zuy.


"Ada apa Tuan Ray?" tanya Davin sembari melepaskan earphone dari telinganya.


"Hmmm, pantesan gak menyahut, orang telinganya di sumpel pake earphone," gerutu Ray


"Ahahaha, maaf Tuan Ray.." ucap Davin, "Habisnya kalian bermesraan di mobil, jadi dari pada mengganggu, lebih baik dengerin musik menggunakan earphone," sambungnya.


Mendengar perkataan Davin, Ray pun menyunggingkan senyumannya, mereka berdua saling menatap satu sama lain. Keduanya pun melakukan percakapan lewat telepati. (Anggap saja gitu..)


"Bagus Kak Davin, nanti Ray kasih bonus adonan moci, eh salah, maksud Ray bonus masker," ucap Ray dari dalam hati


Lalu Davin pun mengacungkan jempol tangannya, "Sama-sama Tuan Ray, wah asik dapat bonus masker, kebetulan stock maskerku menipis," balas Davin di dalam hati.


Melihat Ray dan Davin saling menatap, Zuy pun merasa kebingungan.


"Ehemm, Tuan Muda, Pak Davin sampai kapan kalian bertatapan seperti itu terus, pintu pagarnya sudah terbuka tuh," papar Zuy, membuyarkan percakapan mereka.


Lalu Ray dan Davin langsung menoleh ke arah Zuy secara bersamaan.


"Ahahaha siapa yang bertatapan Zuy, aku hanya melamun saja," ucap Davin.


Davin pun melajukan mobilnya kembali, setelah sampai di depan halaman rumah Bi Nana, ia langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Bi Nana.

__ADS_1


Lalu mereka pun turun dari mobilnya dan berjalan menuju ke arah pintu rumah Bi Nana. Sesampainya Zuy lalu memijit bel pintunya.


Ting Tong...


Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah Bi Nana, lalu kemudian...


Cekleeek


Seseorang membukakan pintunya, dan ternyata dia adalah Nara.


"Kakak.." sapa Nara


"Lho Nara, kok belum tidur?" tanya Zuy


Nara pun menggelengkan kepalanya, "Belum, soalnya kata Mami Kakak mau datang, jadi Nara gak mau bobo dulu."


"Hai Nara.." Ray pun melambaikan tangannya.


"Waah, Om ganteng juga datang.." ujar Nara dengan sumringah, lalu ia menghampiri Ray dan mengangkat kedua tangannya.


Ray pun mengerti maksud Nara, ia segera mengangkat tubuh Nara dan menggendongnya. Lalu Nara menoleh ke arah Davin yang berada di belakang Ray.


"Paman juga ada di sini?" tanya Nara pada Davin


Davin pun memegang kepala Nara, "Tentu saja Paman ada di sini, bagaimana kabarmu sekarang, anak kecil?"


"Iissh, sudah di bilangin, jangan panggil aku anak kecil Paman..!!" gerutu Nara sambil memanyunkan bibirnya.


"Hahaha iya, Paman lupa.." ucap Davin.


Zuy dan Ray pun hanya bisa tertawa saat mendengarnya, lalu kemudian Bi Nana pun datang..


"Lho kenapa masih pada berdiri di pintu, ayo masuk..!!" ajak Bi Nana. Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah Bi Nana.


"Silahkan duduk..!!" titah Bi Nana.


"Terimakasih.." ucap bersama, lalu mereka pun langsung mendudukan dirinya di atas sofa. Sedangkan Nara duduk di pangkuhan Ray.


"Nara, kenapa kamu nempel terus dengan Tuan Muda, ayo sini sama Mami," tutur Bi Nana, namun Nara hanya menggelengkan kepalanya.


"Naraa, maaf ya Tuan Muda atas kelakuan Nara," ucap Bi Nana.


"Tidak apa-apa Bi, justru Ray senang, iya kan Nara.." ujar Ray sembari mengelus kepala Nara.


Bi Nana pun tersenyum melihatnya, sesaat kemudian..


"Bi Nana maaf sebelumnya, tadi di telpon katanya Bi Nana mau ngasih Zuy sesuatu, sebenarnya sesuatu apa yang mau Bi Nana kasih ke Zuy?" tanya Zuy yang sedari tadi penasaran.


"Hmmm, sesuatu itu ada di kamar Bi Nana," jawab Bi Nana, lalu Bi Nana beranjak dari tempat duduknya, "Ayo ke kamar Bi Nana," sambungnya.


Zuy pun langsung bangkit dari duduknya, lalu ia melihat ke arah Ray, "Tuan Muda, Zuy ikut Bi Nana sebentar ya."


Zuy lalu mengikuti Bi Nana dan berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar Bi Nana.


Kamar Bi Nana


Setelah berada di kamar Bi Nana, Zuy pun duduk di tepi ranjang milik Bi Nana, sedangkan Bi Nana membuka lemarinya dan mengambil sesuatu yang ingin di berikan pada Zuy, yaitu sebuah kotak yang berisi kalung dan cincin. Setelah mengambilnya, Bi Nana langsung mendekat ke arah Zuy dan duduk di samping Zuy.


Bi Nana pun menghela nafas panjangnya sesaat, lalu kemudian ia menyodorkan kotak tersebut pada Zuy.


"Ini untukmu Zuy.." kata Bi Nana.


"Apa ini Bi?" tanya Zuy sambil menerima kotak tersebut.


"Bukalah, nanti kamu juga akan mengetahuinya," titah Bi Nana.


Zuy pun membuka kotak tersebut, yang berisi kalung, cincin itu dan mengeluarkan kalung, cincin itu dari kotaknya.


"Ini punya siapa Bi?" tanya Zuy yang penasaran.


"Itu milikmu Zuy, Bi Nana menemukannya menempel di lehermu saat kamu masih bayi," jelas Bi Nana.


Mendengar penjelasan dari Bi Nana, matanya Zuy langsung terbelalak karena terkejut.


"Hah..!! milikku..?!!" tanya Zuy


Bi Nana pun menganggukkan kepalanya, air matanya tak dapat terbendungnya lagi. Lalu Zuy bangkit dari duduknya dan kemudian ia duduk berlutut di depan Bi Nana.


"Bi Nana, tolong jelaskan padaku, tentang kalung dan cincin ini..!!" pinta Zuy sambil memegang tangan Bi Nana.


Bi Nana pun menatap ke arah Zuy, lalu kemudian ia mengelus rambut Zuy.


"Zuy, kemungkinan kalung dan cincin ini milik Ibumu, yang sengaja ia tinggalkan untukmu," jelas Bi Nana.


"Apa..!! milik Mamah..!!" Zuy pun semakin terkejut mendengar penjelasan Bi Nana.


Lagi-lagi Bi Nana hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Lalu kenapa Bi Nana baru memberikan ini pada Zuy sekarang?" tanya Zuy


"Kamu bukannya ingin mencari Ibumu sebelum menikah, mungkin dengan kalung ini kamu bisa menemukan Ibumu. Maafkan Bi Nana kalau baru bisa memberikan ini padamu Zuy," ungkap Bi Nana.


Tak terasa air mata Zuy mengalir membasahi pipinya, "Lalu, apa Bi Nana tahu siapa Mamahnya Zuy sebenarnya?"


"Tidak, bukan kah Bi Nana sudah mengatakannya waktu itu, kalau Bi Nana tidak tahu siapa Ibumu," kata Bi Nana yang berbohong.


"Maafkan Bi Nana Zuy, jika Bi Nana belum bisa jujur siapa Ibumu sebenarnya," batin Bi Nana


"Zuy pikir Bi Nana tahu siapa Mamah, terimakasih Bi sudah memberikan petunjuk pada Zuy, semoga dengan kalung dan cincin ini Zuy bisa cepat menemukan Mamah," kata Zuy.


Lalu Bi Nana memegang kedua pundak Zuy dan menatapnya kembali.

__ADS_1


"Zuy, ada yang ingin Bi Nana tanya kan padamu," ujar Bi Nana.


"Apa itu Bi?"


"Zuy, jika suatu saat nanti kamu menemukan Ibumu, apa kamu akan ikut dengan Ibumu dan melupakan Bi Nana?" tanya Bi Nana


Zuy pun terkejut mendengar pertanyaan dari Bi Nana, ia pun langsung bertanya kembali, "Kenapa Bi Nana bertanya seperti itu?"


"Tidak apa-apa, mungkin karena Bi Nana takut kehilangan gadis kecil Bi Nana, ah maaf Zuy, lupakan saja perkataan Bi Nana ini Zuy," ujar Bi Nana sambil memalingkan pandangannya, ia pun kembali menitihkan air matanya.


Zuy yang melihat Bi Nana menitihkan air mata, sontak ia segera memeluk Bi Nana.


"Bi, Bi Nana tenang saja, walau suatu saat nanti Zuy ketemu sama Mamah, Zuy tidak akan melupakan ataupun meninggalkan Bi Nana, niat Zuy mencari Mamah karena Zuy ingin mengetahui siapa Mamah dan ingin mendapatkan pengakuan darinya Bi, dan lagi Zuy sudah janji di depan makam Papah, bahwa Zuy akan membawa Mamah ke makam Papah," jelas Zuy.


"Jika nanti Zuy di suruh memilih antara Mamah dan Bi Nana, Zuy lebih memilih Bi Nana dari pada Mamah yang telah meninggalkan Zuy selama bertahun-tahun. Karena Bi Nana sudah merawat Zuy dari kecil sampai sekarang. Tanpa Bi Nana mungkin Zuy sudah jadi anak terlantar tanpa orang tua. Aku sangat bersyukur mempunyai Bi Nana yang selalu sayang sama Zuy dan tidak pernah meninggalkan Zuy, berkat Bi Nana juga Zuy menemukan orang yang mau menerima kekurangan Zuy, terimakasih banyak untuk segalanya Bi. Zuy sayang sama Bi Nana.." sambung ungkapan Zuy.


Mendengar ungkapan dari Zuy, Bi Nana langsung memeluk erat Zuy, dan tangis keduanya pun pecah.


"Terimakasih Zuy, terimakasih..." ucap Bi Nana.


"Sama-sama Bi Nana.." balas Zuy.


Bi Nana pun tidak menyangka bahwa Zuy akan memilihnya dari pada Maria ibu kandungnya.


*************


Rumah Pak Wildan


Sementara itu, nampak seseorang berkunjung ke rumah Pak Wildan, lalu kemudian orang tersebut pun memencet bel pintu rumah Pak Wildan.


Ting Tong..


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membukakan pintunya, setelah pintu terbuka..


"Selamat malam.." sapanya


"Selamat malam juga, lho anda bukannya Nona Anne?" tanya pelayan padanya yang ternyata adalah Anne


"Iya benar Bi, saya Anne, maaf apa Erlin ada di rumah?" tanya Anne


"Nona Erlin ada di kamarnya, mari masuk..!!"


"Terimakasih Bi," ucap Anne, lalu ia pun masuk ke dalam rumah Pak Wildan.


Lalu pelayan mengantar Anne menuju ke ruang tengah, di mana di sana Pak Wildan dan Linda sedang duduk sambil menonton tv. Pelayan itu menghampiri Pak Wildan dan Linda.


"Siapa yang datang Bi?" tanya Linda


"Itu Nyonya, Nona Anne yang datang," ujar Pelayan itu.


Linda pun langsung bangkit dari duduknya, dan menoleh ke arah dimana Anne sedang berdiri tak jauh darinya.


"Malam Tante.." sapa Anne sembari berjalan mendekat ke arah Linda.


"Anne, dari mana saja kamu, kenapa kamu gak datang ke acara ulang tahun Erlin?" tanya Linda sembari memeluk Anne.


Anne pun membalas pelukannya, "Maaf Tante, soalnya Anne pulang ke kota asal Anne untuk menjenguk Paman," jelas Anne, "Lalu Tante Linda dan Om Wildan gimana kabarnya?" sambung tanya Anne.


"Kabar kami baik-baik saja Anne," jawab Pak Wildan.


"Syukurlah kalau begitu, Oh iya Erlin mana?" tanya Anne


"Erlin ada di kamarnya, kamu masuk saja Ann..!!" titah Linda


"Baiklah Tante, Anne ke kamar Erlin dulu ya," kata Anne


Linda pun menganggukkan kepalanya, lalu kemudian Anne berjalan menaiki tangga menuju ke kamar Erlin.


Kamar Erlin...


Setelah berada di depan kamarnya Erlin, Anne pun langsung mengetuk pintunya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk aja, pintunya gak di kunci..!!" seru Erlin dari dalam kamarnya.


Anne langsung membuka pintu kamarnya Erlin, ia pun menghampiri Erlin yang sedang tiduran di atas kasurnya.


"Hei Erlin apa kabar?" sapa Anne.


Lalu Erlin pun langsung menoleh ke arah Anne.


"Anne, aah Anneee.." seru Erlin sembari beranjak dari tempat tidurnya, lalu ia segera memeluk Anne.


"Dari mana saja kamu Ann, aku benar-benar kesepian Anne," ujar Erlin.


Lalu Anne melepaskan pelukan Erlin, "Ada apa Erlin? nampaknya kamu sedang tidak baik-baik saja."


"Ya memang beberapa hari ini aku sedang tidak baik-baik saja," ujar Erlin


"Apa yang terjadi Lin?" tanya Anne yang penasaran.


Erlin pun menghela nafasnya dan berkata, "Banyak yang terjadi Ann, terutama pada saat ulang tahunku, dan ini semua gara-gara si OB j*lang Zuy.."


"Apa kamu bilang, gara-gara si j*lang Zuy..!!"


***Bersambung...


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author...♥🙏♥🙏

__ADS_1


__ADS_2