Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Wanita Penyelamat...


__ADS_3

<<<<<


Dan beberapa saat kemudian, Jet tersebut langsung lepas landas dan terbang ke udara meninggalkan Negara bersalju tersebut.


*************


Kosan Airin


Airin nampak sedang duduk melamun sembari menopang dagunya, seketika senyumnya pun mengembang.


"Kenapa selalu kepikiran dia terus, perhatiannya membuat ku terbawa perasaan," batin Airin,


Sesaat Airin tesadar dan langsung menepuk-nepuk pipinya, "Aaaach, sadar Airin apa yang kamu pikirkan, jangan berharap yang berlebihan, mana mungkin orang seperti dia menyukai gadis seperti ku."


"Rin, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu menepuk-nepuk pipi mu seperti itu?" tanya Mamahnya yang baru keluar dari kamar.


Airin pun menoleh, "Eh Mamah, Airin gak lakuin apa-apa, hanya saja tadi ada nyamuk."


"Bohong Mah, Kakak lagi mikirin cowoknya, dari tadi senyum-senyum sendiri," cetus Rion (Adik Airin) membuat Airin menatap tajam Rio.


Kemudian Mamahnya Airin menghampiri Airin dan mendudukan dirinya tepat di sebelah Airin.


"Apa benar yang di katakan adikmu, Airin?" tanya Mamahnya


Airin mengibas tangannya, "Ahahaha, tentu tidak benar Mah, jangan percaya omongan si Rion ini," elaknya.


Mamahnya pun menghela nafasnya, "Haaa, aku pikir beneran Rin."


"Mah ...,"


"Lupakan apa yang aku katakan tadi, oh iya kapan Kakakmu kembali?" tanya Mamahnya


"Kakak? maksud Mamah Zuy?"


Lalu tiba-tiba Mamahnya Airin mencubit pipi Airin.


"Kamu ini ya, udah di bilangin juga, panggil Zuy dengan sebutan Kakak, bagaimana pun dia juga anak angkat Mamah," pekik Mamahnya.


"Iya, tapi Zuy selalu menolaknya, dia yang meminta ku untuk memanggilnya Zuy," jelas Airin.


Seketika Mamahnya Airin menurunkan tangannya dari pipi Airin.


"Dia wanita yang sangat baik Rin, dia wanita penyelamat kita, kalau gak ada dia mungkin Mamah sudah tidak ada, dan lagi kamu juga pasti sudah di nikahkan oleh pak tua itu," kata Mamahnya Airin.


"Iya Mah, dia sampai rela menggunakan uang untuk kuliahnya demi membantu kita, karena itu Airin akan selalu di sampingnya dan melindunginya," ujar Airin.


Lalu pandangan Mamahnya beralih pada Rion, "Nah untukmu Rion, kamu juga harus sayang pada Kakakmu itu ya!" pintanya.


"Tentu Mah, dia kan sangat baik, nada bicaranya juga lembut, gak kaya wanita yang di sebelah Mamah, terlalu bar-bar, crewet dan dulu suka berantem," celetuk Rion.


Mendengar celetukan dari Rion, membuat Airin langsung bangkit dari posisinya dan menatap tajam Rion sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Coba kamu ulangi, apa yang barusan kamu katakan..!"


"Hah..! udah crewet, bar-bar dan sekarang budeg lagi," cecar Rion.


"Rion kamu benar-benar minta di pukul ya..!" pekik Airin.


Mamahnya yang melihatnya hanya menepuk jidatnya, karena ia sudah terbiasa dengan kelakuan anak-anaknya.


"Kalian berdua, sudah pada besar tapi tetap saja kelakuan kaya bocah, huuft.. Rin dari pada ribut dengan adikmu, lebih baik kamu cuci baju sana, udah pada numpuk tuh," titah Mamahnya.


"Haaa.. baiklah Mah," lirih Airin, matanya beralih melihat ke arah Rion, "Awas kau Rion!"


Bukannya takut, Rion malah menjulurkan lidahnya ke arah Airin, Airin pun berjalan menuju ke kamar mandi.


***********************


Rumah Ray


Davin sedang duduk di ruang tengah sambil membaca buku dongeng, karena baginya membaca buku dongeng bisa menghilangkan rasa traumanya semalam. Lalu kemudian Yiou menghampiri Davin dan mendudukan dirinya di samping Davin.


"Hmmmm, mentang-mentang libur, seharian di pake buat baca komik, apa gak pegal tuh mata," celetuk Yiou.


"Tidak," singkat Davin


"Vin, besok jam berapa kamu jemput Ray?" tanya Yiou


"Paling jam sepuluhan.". jawabnya


Mendengar jawaban Davin, Yiou pun menyandarkan kepalanya di sofa, dan menatap ke langit-langit rumah.


"Haaa.. Syukurlah, aku gak sabar lihat mereka, apa lagi Baby," kata Yiou


"Ya, aku juga gak sabar,"


Seketika Yiou memicingkan matanya ke arah Davin, "Hmmmm, pasti kamu gak sabarnya karena masker kan?" tanyanya menyidik.


"Ahahaha, itu salah satunya, tapi bener lho Mrs Yiou, aku benar-benar gak sabar ingin bertemu dengan Tuan Ray, karena aku sangat merindukannya," jelas Davin


"Iya Vin, aku tahu perasaan mu," ujar Yiou memegang kepala Davin, "Yaudah aku pergi dulu ya..!"


"Memangnya mau kemana?"


"Mau ke Apartemen Ayra, ada urusan mendesak,"


"Oh... yaudah hati-hati, pulangnya bawa martabak manis dan asin!" pinta Davin


Yiou menganggukkan kepalanya, "Baiklah nanti aku belikan untukmu."


Yiou pun melenggang pergi, sedangkan Davin kembali membaca buku dongengnya.


*****************


Sementara itu di dalam Jet.


"Sayangku, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ray yang sudah berdiri di depan toilet.


Lalu Henri datang menghampiri Ray, "Tuan Ray ini minyak yang anda butuhkan."


"Terimakasih Hen,", ucap Ray


Henri mengangguk dan kembali ke tempat duduknya, tak lama Zuy keluar dari toilet.

__ADS_1


"Huuft, selalu begini," keluh Zuy sambil mengusap mulutnya.


"Sayangku..."


Zuy menoleh, "Ray, maaf aku gak melihatmu."


"Tidak apa sayangku, bagaimana sudah mendingan? " tanya Ray memegang pipi Zuy.


"Sedikit Ray, hanya saja kepala Zuy pening," jawab Zuy


"Kasihan sayangku, yaudah kita ke kamar dulu, supaya badan sayangku enakkan," tutur Ray


Zuy mengangguk, kemudian Ray menuntun Zuy ke arah kamar yang berada di dalam Jet. Setelah berada di kamar, Zuy mendudukan dirinya di atas sofa, begitu juga dengan Ray. Lalu Ray mengoleskan minyak tepat di tengkuk leher Zuy dan memijatnya dengan lembut.


"Ray, maaf ya jadi menyusahkanmu lagi," ucap Zuy.


"Sayangku, jangan bicara seperti itu, sayangku tidak menyusahkanku kok, justru Ray sangat senang membantu sayangku,"


"Ya, Zuy gak enak aja Ray, setiap Zuy mabuk udara pasti kamu yang susah begini,"


Ray menghentikan aktivitasnya dan memutar badan Zuy sehingga menghadap ke arah Ray, seketika Ray langsung memeluknya.


"Sayangku, Ray tidak merasa di susahkan kok dan lagi ...,"


"Dan lagi apa Ray?" tanya Zuy mendongakkan kepalanya.


Ray mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy, "Dengan begini, Ray bisa pegang-pegang tubuh sayangku yang mulus ini," bisik Ray menggoda.


"Ray kebiasaan ya suka menggodaku terus," pekik Zuy


"Ray tidak sedang menggodamu sayangku, Ray bicara apa adanya," papar Ray, "Sayangku, apa kamu mau mengulanginya lagi kejadian tadi malam?"


Blush...


Deeeg...


Bukan hanya wajahnya Zuy yang keungu-an, tetapi jantungnya pun berdegup tak karuan, apalagi saat ia mengingat kejadian Misteri ranjang bergoyang semalam.


"Rayyan....!" seru Zuy sambil menutupi wajahnya karena malu.


Ray hanya terkekeh, lalu ia menurunkan tangan Zuy dari wajahnya Zuy, kemudian ia menangkup pipi Zuy.


"Sayangku, kamu benar-benar menggemaskan setiap kali aku menggodamu, jadi ingin melahapmu lagi seperti tadi malam, tapi tidak untuk sekarang..," ujar Ray, membuat mata Zuy terbelalak.


Lalu Ray kembali memeluk Zuy dengan erat. Akan tetapi ada sesuatu yang tegang dan tegak dalam diri Ray.


********************


Airport


Satu hari telah berlalu, kini saat yang di tunggu-tunggu oleh Davin, yaitu menyambut kedatangan Ray dan Zuy. Davin pun sedari tadi sudah berada di Airport.


"Mana sih Tuan Ray, kok belum muncul juga," lontar Davin mengedarkan pandangannya. Lalu kemudian...


"Kak Davin.." seru seseorang melambaikan tangannya.


Davin pun menoleh dan saat ia tahu siapa yang memanggilnya, wajahnya pun langsung sumringah. Davin segera berlari ke arahnya.


"Tuan Ray...!" seru Davin, ternyata yang memanggilnya Ray.


Hwaaaa


"Tuan Ray, akhirnya kamu kembali aku sangat merindukanmu," lontar Davin


Ray tertegun mendengarnya, ia pun membalas pelukan Davin, "Hmmmm, dasar adonan moci baru tinggal beberapa hari saja sudah seperti ini," lirihnya


Davin melepaskan pelukannya, pandangannya beralih ke arah Zuy, kemudian ia memeluk Zuy membuat Zuy tercengang.


"Zuy, bagaimana kabarmu? pasti berat ya meladeni si bayi gede ini," kata Davin.


"Hmmm, bayi gede anda sangat penurut, Pak Davin," balas Zuy.


Ray yang melihatnya pun mulai memanas, ia segera melepaskan pelukan Davin dari Zuy.


"Jangan pelak-peluk sayangku..!" pekik Ray menatap tajam Davin.


Melihat tatapannya Ray, Davin langsung membuang wajahnya sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Ciih, dasar Posesife..."


Sesaat Ray menghela nafasnya, "Haaa... yaudah ayo kita pulang...!"


Davin menganggukkan kepalanya, mereka segera melangkahkan kakinya menuju keluar Airport, sesampainya Ray dan Zuy masuk ke dalam mobil Davin, sedangkan Henri dan pengawal lainnya ke mobil milik Ray lainnya. Sesaat kemudian Davin melajukan mobilnya meninggalkan Airport.


*******************


Rumah Ray


Hanya butuh waktu dua puluh lima menit perjalanan, Mereka pun sampai di rumah. Ray dan Zuy segera turun dari mobil.


"Aah akhirnya kita sampai di rumah juga sayangku,"


"Iya Ray, Zuy gak sabar ingin bertemu dengan yang lainnya," ucap Zuy.


Mereka berjalan menuju ke rumah, sesampainya di depan pintu Yiou langsung menyambut kedatangan mereka.


"Baby, Tuan dingin akhirnya sampai juga kalian," sambut Yiou, lalu mereka pun masuk ke dalam rumah.


"Hai Tante bagaimana kabarmu? beberapa hari gak ketemu, nampaknya semakin tua saja," tanya Ray dengan niat menggoda Yiou.


Mendengar pertanyaan Ray, Yiou pun mendengus kesal, ia pun langsung menarik telinga Ray.


"Ini anak benar-benar ya, datang-datang sudah bikin darah tinggi," pekik Yiou


"Ampun Tante, sayangku tolongin dong.."


Zuy hanya terkekeh melihat tingkah laku Tante dan keponakan, setelah puas menarik telinga Ray, Yiou pun melepaskan tangannya, lalu pandangannya beralih ke arah Zuy dan memeluknya.


"Baby bagaimana kabarmu?"


"Zuy baik-baik saja, bagaimana dengan anda, Mrs Yiou?"


Yiou melepaskan pelukannya dan memegang pundak Zuy, "Hmmmm kamu ya Baby selalu memanggilku dengan sebutan Mrs, panggil aku Kakak! dan lagi ..."

__ADS_1


Pandangan Yiou mengarah ke sudut bibir Zuy yang terluka, sontak membuat Yiou terkejut.


"Baby apa yang terjadi dengan Bibirmu? apa si Tuan dingin ini yang melakukannya?" tanya Yiou sambil menunjuk ke arah Ray.


"Oh ini gara-gara ...,"


"Gara-gara aku cium," sela Ray, sontak membuat wajah Zuy memerah.


"Ray benar-benar deh, bikin aku malu saja, pasti sekarang wajahku memerah," batin Zuy.


Sedangkan Yiou, dia hanya menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Lalu kemudian..


"Kak Yiou, Ray langsung ke kamar ya mau bebersih sekalian istirahat sebentar," kata Ray.


"Yaudah kalau begitu, kamu juga istirahat Baby!" titah Yiou


"Oh iya untuk oleh-oleh, semuanya ada di koper, termasuk pesanan Kak Davin," ujar Ray


"Waah, kamu baik sekali membawakan ku oleh-oleh, terimakasih Ray," ucap Yiou.


Ray hanya membalas dengan senyuman, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, sedangkan Zuy langsung ke kamarnya sendiri.


Kamar Zuy


Setelah berada di kamarnya, Zuy langsung mendudukan dirinya di tepi ranjang, kemudian ia membuka ranselnya untuk mengambil hpnya yang lama dan mengaktifkannya. Setelah hpnya menyala, Zuy tercengang melihat betapa banyaknya chat masuk di hpnya itu, karena selama beberapa hari di Swedia, Zuy tidak bisa menggunakan sim card miliknya. Satu persatu ia buka dan baca semua chat yang masuk itu. Sampai pada akhirnya ia membaca chat yang di kirimkan oleh Aries.


[Chat]


Kak Aries


📲 Zuy, kamu kapan kembali dari Kota M?✉


📲 Zuy, kenapa gak balas chat Kakak, apa kamu sibuk?✉


📲 Zuy, Nara nyariin kamu terus, selama Tante Nana di rawat di rumah sakit xxx, Nara kesepian setiap malam selalu nangis, Zuy semoga kamu cepat pulang dan hibur Nara.✉


Setelah membaca chat terakhir Aries, sontak membuat Zuy sangat terkejut sampai hp yang di pegangnya pun terjatuh. Air matanya tak dapat di bendung lagi.


"Bi Nana..!"


Kemudian Zuy membuka laci nakasnya dan mengambil kunci motornya, setelah itu ia pun keluar dari kamarnya dan bergegas menuju keluar rumah. tetapi saat ia melewati ruang utama, tiba-tiba ...,


"Baby kamu mau kemana?" tanya Yiou


Zuy langsung menghentikan langkahnya dan menoleh, "Maaf Mrs Yiou Zuy buru-buru," ujar Zuy sambil menitihkan air matanya.


"Baby apa yang terjadi? kenapa kamu menangis?" tanya Yiou yang panik


Namun Zuy tidak menjawabnya, ia malah kembali melangkahkan kakinya keluar rumah, sesampainya Zuy langsung menaiki motornya dan menyalakannya.


"Baby kamu mau kemana?" seru Yiou.


"Maaf Mrs Yiou.." ucap Zuy, ia pun langsung menarik gas motornya, setelah pintu gerbang terbuka secara otomatis, Zuy segera melajukannya dengan cepat.


"Baby berhenti..!" teriak Yiou


Mendengar teriakan Yiou, Davin langsung menghampirinya.


"Ada apa Mrs Yiou?" tanya Davin.


"Itu Baby pergi sambil menangis," kata Yiou.


"Apa..! jangan-jangan Zuy tahu kalau Bibinya sedang di rawat, makanya ia buru-buru pergi," ujar Davin.


"Terus bagaimana Vin, aku takut dia kenapa-napa," cemasnya.


"Yaudah kalau gitu aku akan kasih tahu Tuan Ray."


Davin segera melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya Ray.


Kamar Ray


Sesampainya, Davin langsung mengetuk pintu kamar Ray. Seketika Ray langsung membukakan pintunya.


"Tsk, ternyata kamu Kak, aku pikir sayangku yang datang, ada apa?"


"I-itu Tuan Ray, Zuy pergi membawa motornya sambil menangis," kata Davin


"Apa kamu bilang?" tanya Ray yang terkejut


Davin mengangguk, "Iya Tuan Ray, tadi Mrs Yiou melihatnya, apa mungkin Zuy tahu kalau Bibinya sedang di rawat di rumah sakit?"


Ray segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga satu-persatu. Sesaat setelahnya ia pun langsung ke kamar Zuy. Saat berada di dalam kamar Zuy, Ray melihat hp Zuy yang berada di lantai, Ray langsung mengambil hp tersebut dan membuka kunci hpnya.


"Ternyata benar sayangku langsung ke rumah sakit," lirih Ray, "Kak Davin..!!"


Davin pun segera menghampiri Ray, "Ada apa Tuan Ray?" tanya Davin


"Siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang..!!" titah Ray.


"Baik Tuan Ray.."


Davin segera bergegas menuju keluar untuk menyiapkan mobilnya yang akan mereka pakai, sedangkan Ray langsung menyusul Davin.


***************


Rumah Sakit


Beberapa saat kemudian setelah menempuh perjalanan, Zuy akhirnya sampai di rumah sakit dan langsung memarkirkan motornya. Ia pun berlari masuk tanpa bertanya dulu pada Resepsionis. Setelah menelusuri koridor rumah sakit, Zuy melihat Pak Randy tengah berdiri menyandar ke tembok depan ruang rawat inap sambil mengusap-usap matanya itu.


"Paman..!" lirih Zuy


Saat Zuy akan menghampiri Pak Randy, tiba-tiba langkahnya terhenti, tangannya mulai bergetar dan jantungnya pun berdegup dengan kencang, matanya membulat sempurna, itu karena Zuy melihat petugas rumah sakit keluar dari kamar inap itu sambil mendorong brankar, dan lebih terkejutnya Zuy bahwa di brankar tersebut terbaring seseorang yang tertutup rapat dan itu menandakan bahwa seseorang itu sudah meninggal.


Jedeeeeer...


Bagaikan petir menyambar di siang bolong, tubuh Zuy kehilangan keseimbangan dan seketika Zuy langsung menjatuhkan tubuhnya dalam posisi duduk.


"Ti-tidak mungkin...!!"


***Bersambung


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2