Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Rujak Mangga....


__ADS_3

<<<<<


"Ini tidak baik Bunda, Kak Maria harus segera di bawa ke rumah sakit!" kata Dimas.


"Apa! Ru-rumah sakit?!"


Bunda Artiana langsung tersentak mendengar perkataan Dimas.


"Iya Bunda, dia terlalu syok dan lagi ...," Pandangan Dimas mengarah ke Archo. "Tuan Archo, apa Kak Maria sebelumnya memiliki riwayat hipertensi?" tanya Dimas


Archo pun mengangguk. "Iya Dokter Dimas, apa jangan-jangan ...," Duga Archo.


"Iya, tensi darah Kak Maria terlalu tinggi," ujar Dimas.


"Apa!! Yaudah buruan bawa ke rumah sakit!" sergah Bunda Artiana.


"Iya Bunda, Dimas akan siapkan mobilnya," Dimas pun bergegas keluar.


Lalu kemudian Bunda Artiana mendekat ke arah Maria dan mengelus kepala Maria.


"Maria, kamu jangan bikin Bunda khawatir seperti ini, cepatlah sadar, Bunda tidak ingin kamu kenapa-napa Maria," ucap Bunda Artiana tersedu-sedu.


Tak lama Dimas kembali untuk membantu Archo mengangkat tubuh Maria dan membawanya keluar. Sesampainya, mereka memasukan Maria ke dalam mobil, Dimas duduk bersama Maria, sedangkan Bunda Artiana bersama Archo di kursi depan. Setelah mobil menyala, Archo pun langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


Hipertensi adalah tekanan darah tinggi.


************************


Rumah Ray


Sementara itu, Zuy nampak tengah menyiapkan bahan untuk membuat rujak, lalu tiba-tiba ....


Pyaaart...


Ia tidak sengaja menyenggol gelas minumnya sehingga jatuh dan pecah, jantungnya pun berdegup sangat kencang.


"Ada apa ini, kenapa perasaanku tidak enak begini?" batin Zuy.


Zuy perlahan menunduk dan berjongkok, kemudian ia mengambil pecahan gelas tersebut. Namun saat mengambil pecahan itu, tiba-tiba jari telunjuknya tergores, membuatnya meringis kesakitan. Bu Ima pun datang menghampiri Zuy.


"Ada apa Nak? Tadi Ibu mendengar suara barang jatuh?" tanya Bu Ima.


"Oh Bu Ima, ini Zuy gak sengaja jatuhin gelas," jawab Zuy.


Mata Bu Ima terbelalak melihat jari telunjuk Zuy berdarah. "Ya ampun Nak, kenapa jarinya berdarah gitu?"


"Terkena pecahan gelas Bu," ujar Zuy.


Bu Ima melangkahkan kakinya ke arah kotak P3k yang berada di dapur, setelah itu Bu Ima mengambil obat luka dan plester. Kemudian ia meletakkannya di atas meja.


"Nak, biar Ibu yang membereskan pecahannya, ayo bangun! Ibu obati luka Nak Zuy." kata Bu Ima.


Zuy mengangguk pelan sambil bangkit dari posisinya, lalu ia mendudukkan dirinya di kursi yang berada di sana. Setelah membersihkan lukanya, Bu Ima langsung mengoleskan obat luka dan membalut luka Zuy dengan plester.


"Terimakasih Bu Ima," ucap Zuy.


"Sama-sama Nak, memangnya tadi Nak Zuy sedang apa?" tanya Bu Ima.


"Zuy lagi nyiapin bahan buat bikin sambal rujak Bu," jawab Zuy.


"Oh Nak Zuy mau bikin rujak, yaudah nanti Ibu bantu ya! Sekarang Ibu mau beresin pecahan gelas dulu," kata Bu Ima.


"Iya Bu...."


Bu Ima pun membersihkan pecahan-pecahan gelas tersebut. Setelah selesai membersihkan, Bu Ima langsung membantu Zuy membuat rujak.


"Nak Zuy tumben hari ini bikin rujak?" tanya Bu Ima sambil mengupas mangga.


"Tuan Muda pengin rujak, terus katanya harus Zuy yang buat rujaknya," jawab Zuy.


"Hah! Tuan Ray pengin rujak? Kaya orang mengidam saja," papar Bu Ima.


"Mengidam?" tanya Zuy keheranan.


"Iya, kaya waktu Ibu hamil putri, yang mengidam itu Ayahnya, sedangkan Ibu hanya biasa saja, paling ngerasain mual setiap saat," ujar Bu Ima.


"Oh begitu ya Bu, Zuy baru ingat waktu Bi Nana hamil Nara, Paman Randy yang muntah-muntah terus, apalagi kalau nyium bau masakan, pasti Paman langsung lari ke kamar mandi," kata Zuy.


"Ya seperti itu Nak, tapi gak semuanya sama dan lagi ...," lalu Bu Ima memandang Zuy. "Hmmm Nak Zuy, apa jangan-jangan kamu ...,"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba seseorang datang ....


"Siang semuanya...." serunya membuat Zuy dan Bu Ima menoleh.


"Mrs Yiou!!"


Ternyata Yiou yang datang, lalu ia menghampiri Zuy dan memeluknya. Sesaat kemudian Yiou melepaskan pelukannya.


"Hmmm, kalian sedang apa?" tanya Yiou.


"Sedang bikin rujak, kata Nak Zuy Tuan Ray ingin rujak," jawab Bu Ima.


Sontak membuat Yiou terkejut. "Apa! Si Tuan dingin ingin rujak? Tumben dia, biasanya juga gak terlalu suka rujak," paparnya.


"Entahlah Mrs Yiou, dari kemaren juga muntah-muntah terus," kata Zuy.


"Ya sama kaya kamu Nak Zuy, kamu juga dari kemaren muntah-muntah terus," sambung Bu Ima.


Lalu tiba-tiba Yiou menyunggingkan senyumannya dan memegang pundak Zuy.


"Hei Baby, apa cicilan telinga kalian sudah full?" tanya Yiou


"Hah! Ci-cicilan telinga? Maksudnya?" Zuy kebingungan dengan pertanyaan dari Yiou.


Yiou pun tersenyum. "Hmmm, gak ada maksud apa-apa, nanti juga kamu tahu," ujar Yiou membuat Zuy semakin kebingungan.


"Kenapa aku penasaran dengan ucapan Mrs Yiou ya." batin Zuy.


"Oh iya, di mana Davin dan Tuan dingin?" tanya Yiou.


"Pak Davin sedang ada urusan di luar, sedangkan Ray ada di kamarnya, Mrs Yiou." jawabnya.


"Yaudah kalau gitu aku ke kamar Tuan dingin dulu ya Baby, Bu Ima, soalnya ada urusan dengannya," kata Yiou.


Zuy dan Bu Ima pun mengangguk, lalu kemudian Yiou melangkah menuju ke arah kamar Ray.


"Euuum, tadi maksudnya Mrs Yiou apa ya Bu Ima?" tanya Zuy


"Ya mungkin ada sesuatu, nanti juga kamu akan mengetahuinya. Oh iya Ibu sudah selesai nih ngupas mangganya, tinggal di potong dan di bersihkan," kata Bu Ima.


"Waah cepat banget Bu," puji Zuy.


Bu Ima pun tersenyum, lalu mereka melanjutkan aktivitasnya membuat rujak.


Kamar Ray


Setelah berada di depan kamar Ray, Yiou pun langsung mengetuk pintu kamarnya.


Tok.. Tok... Tok...


"Tuan dingin, kamu sudah terkepung, sekarang buka pintunya!" seru Yiou.


Mendengar suara Yiou, Ray segera membukakan pintunya.


"Ck, Kak Yiou gak ada kerjaan ya? Teriak-teriak di depan kamar orang," pekik Ray.


Yiou pun terkekeh. "Hehehe... Ya maaf Ray, aku pikir kamu sedang tidur sambil memeluk guling," cetus Yiou.


"Siapa yang tidur, Ray sedang sibuk. Ada apa ke sini?" tanya Ray.


"Aku kesini karena ada sesuatu yang akan ku beritahu padamu Tuan dingin...."


"Sesuatu? Hmmmm, yaudah ayo duduk di sana!" ajak Ray.


"Baiklah Tuan dingin."


Mereka pun melangkah beberapa jarak, setelah itu mereka berdua duduk di atas sofa yang berada di sana.


"Memangnya sesuatu apa yang ingin Tante bicarakan padaku?" tanya Ray


Yiou lalu mengambil hpnya dari dalam tasnya, kemudian memberikannya ke Ray.


"Apa ini? Tante membelikan Ray hp?" tanya Ray, lalu tiba-tiba..


Paak...

__ADS_1


Yiou pun memukul pundak Ray. "Siapa yang membeli hp buatmu? Tuan dingin, aku cuma ingin ngasih tahu tentang desain gaun yang kamu kirim waktu itu. Coba lihat gambarnya!" kata Yiou.


"Oh kirain...."


Ray lalu melihat layar hp Yiou dan betapa terkejutnya Ray saat melihat gambar gaun yang berada di hpnya Yiou.


"Kak Yiou, ini ...."


"Ya, itu hasilnya Tuan dingin. Gak nyangka lho hasil desain dari Baby bisa sebagus ini, bahkan sampai ada yang ingin membelinya dengan harga tinggi," ujar Yiou.


"Jangan dong Tante! Itu kan impian sayangku yang ingin menggunakan gaun hasil desainnya sendiri," pekik Ray.


"Ya maka dari itu aku simpan untuk Baby."


Ray tersenyum sambil memberikan hp Yiou. "Terimakasih Kak Yiou, karena sudah membantu ku," ucap Ray.


Yiou pun menepuk-nepuk punggung Ray. "Sama-sama Rayyan, apa sih yang gak buat keponakan dingin ku ini. Permintaan beratmu saja aku turutin, masa yang sepeleh ini aja gak aku turutin," katanya membuat Ray kembali tersenyum.


"Rayyan...."


Ray menoleh. "Apa Kak Yiou?"


"Aku mau tanya, waktu kamu bikin telinga sama Baby, suka pakai pengaman apa tidak?" tanya Yiou penasaran.


"Tidak, memangnya kenapa?"


"Hmmm pantesan tokcer," lirih Yiou, namun ada kebahagiaan di dalam dirinya.


"Tokcer?" Ray nampak kebingungan.


"Iya, Tuan dingin, buktinya Baby sedang bikin rujak karena di suruh olehmu kan?" cetus Yiou


Seketika Ray mengingat akan rujak, sehingga ia langsung bangkit dari posisinya.


"Mau kemana Ray?" tanya Yiou.


"Tentu mau rujak bikinan sayangku," jawab Ray sambil melangkah pergi.


"Hei tunggu, aku juga mau rujak," seru Yiou.


Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan menyusul Ray.


************************


Rumah Bi Nana


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Bi Nana pun mendudukkan dirinya di sofa yang berada di ruang tengah, lalu Nara menghampiri Bi Nana.


"Mamih...."


"Eh Nara, sini duduk dekat Mamih."


Nara pun mengangguk, kemudian ia naik ke atas sofa dan duduk di samping Bi Nana.


"Nara, Mamih boleh bertanya sama Nara."


"Boleh, Mamih mau nanya apa?"


Bi Nana memegang kepala Nara dan mengelusnya. "Nara sayang, jawab jujur ya! Waktu di tempat belanja tadi, kenapa Nara bisa tahu kalau Kakak Zuy ada di sana?" tanya Bi Nana.


"Oh itu, Nara tahu dari Om-om yang berbaju putih, Mamih." jawab Nara.


"Om berbaju putih?"


Nara mengangguk cepat. "Iya Mamih, Om itu juga pernah datang waktu Mamih lagi tidur di rumah sakit, Om itu sama kaya Papih, namun wajahnya lebih putih, Paman putih aja kalah," ujar Nara dengan polosnya.


Seketika Bi Nana menundukkan kepalanya dan di hatinya berkata, "Apa jangan-jangan Kak Jordhan? Kalau benar Kak Jordhan, berarti dia yang menarikku juga ke tempat belanja itu? Seorang Ayah yang sudah tiada namun tetap melindungi anaknya, sedangkan Ibunya yang masih ada malah terus menyiksa anaknya. Dengan kejadian ini aku memutuskan tidak akan pernah membiarkan Maria mengambil gadis kecil ku dari tangan ku, semenjak kehadiran Maria, gadis kecil ku selalu menangis dan terluka. Maria jangan harap kamu bisa menyentuh Zuy lagi, aku tidak akan mengizinkannya walaupun kamu adalah Ibu kandungnya."


"Mamih, Nara ngantuk..."


"Nara mau bobo?" tanya Bi Nana


Nara mengangguk pelan, "Iya Mih, tapi sama Mamih."


"Yaudah ayo kita ke kamar!" ajak Bi Nana.


Lalu Bi Nana dan Nara beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah kamar Nara.


***************************


Sore menjelang malam...


Sesuai dengan janjinya, Ray mengajak Zuy ke taman hiburan, setelah memarkirkan mobilnya, mereka berdua langsung turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah pintu masuk.


"Sayangku, tunggu di sini sebentar ya! Ray mau beli tiket masuknya dulu," kata Ray.


"Iya Ray...."


Lalu Ray pergi ke loket pembelian tiket, sedangkan Zuy berdiri di depan pintu masuk sambil mengedarkan pandangannya, akan tetapi ada sesuatu menarik perhatian Zuy sehingga membuat Zuy tercengang dan memicingkan matanya.


"Hmmm, kok kaya dejavu ya!" lirih Zuy. Lalu Ray datang menghampiri.


"Sayangku..."


"Ray.... Sudah beli tiket masuknya?" tanya Zuy.


"Sudah sayangku, ini tiket masuknya," jawab Ray sambil menunjukkan dua tiket masuk.


"Eummm Ray, coba lihat ke sana, bukankah itu Pak Davin dan Airin?" tanya Zuy sambil menunjuk.


Mendengar itu, Ray langsung mendekat dan melihat ke arah Zuy menunjuk.


"Kamu benar sayangku," tiba-tiba Ray menyunggingkan senyuman jahilnya. "Sayangku bagaimana kalau kita ...,"


Ray lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy dan membisikan sesuatu sehingga Zuy menyunggingkan senyumannya. Sesaat setelahnya ....


"Bagaimana sayangku?"


"Ya, aku setuju, yaudah ayo kita masuk!" ajak Zuy.


Ray mengangguk, lalu ia menggandeng tangan Zuy dan berjalan masuk, akan tetapi sebelum itu, Ray menunjukkan tiket masuknya terlebih dahulu.


Sementara itu di sisi lain, Airin dan Davin yang sudah berada di taman hiburan, mereka berdua nampak tengah membeli sesuatu.


"Pak Davin mau yang biasa apa yang jumbo?" tanya Airin.


"Tentu kalau buatku yang jumbo dong!" jawab Davin.


"Hmmm, yaudah dua ya bang, yang biasa satu sama yang jumbo satu," kata Airin.


"Siap Nona," balas si abang penjual.


Sambil menunggu pesananya di buat, Airin dan Davin duduk di kursi yang sudah di sediakan.


"Euuum Pak Davin, terimakasih sudah mengajak ku jalan," ucap Airin.


"Sama-sama Rin, mumpung libur juga, jadi ya sekalian saja," kata Davin.


Airin tersenyum. "Euuum lalu Tuan Ray dan Zuy kenapa gak di ajak sekalian?" tanya Airin.


"Kamu tau kan Rin, mereka itu kalau udah bermesraan kaya gimana, apalagi bucinnya si bayi gede itu," papar Davin. Lalu tiba-tiba ....


"Siapa yang kau sebut bayi gede Kak Davin," seru Ray sehingga membuat Davin terkejut dan menoleh ke arahnya.


"Tu-Tuan Ray!!"


"Bukan Tuan Muda saja, aku juga ada di sini lho," ujar Zuy menunjukkan dirinya.


Airin pun bahagia melihat sahabat nya itu, lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Zuy. Kemudian Airin memeluknya.


"Zuy.... aku kangen sama kamu, Zuy." seru Airin.


"Aku juga kangen sama kamu Rin," balas Zuy. "Kamu sedang apa di sini Rin, gak naik wahana?" sambung tanya Zuy.


"Ini lagi beli makanan, soalnya udah laper duluan Zuy," jawab Airin.


Lalu pesanan mereka sudah di buat. "Ini Nona, Tuan pesanannya."


"Terimakasih Bang...."


Saat Airin akan membayar, tiba-tiba Davin menahannya.


"Biar saya yang bayar!" kata Davin.


"Nah gitu baru namanya laki-laki, gak cuma masker saja yang di pikirin," bisik Ray menggoda Davin.

__ADS_1


"Ck, Tuan Ray ngomong apa sih," pekik Davin.


Ray terkekeh, Davin pun langsung membayar makanannya, setelah itu mereka berempat bersenang-senang di taman hiburan.


****************************


Rumah Sakit


Di ruang rawat VVIP.


Setelah melakukan pemeriksaan, Maria pun di pindahkan ke kamar rawat VVIP. Akan tetapi Maria masih belum sadarkan diri.


"Tuan Archo, saya keluar sebentar karena masih ada pasien, nanti kalau Kak Maria sadar, langsung hubungi saya!" pinta Dimas.


"Baik Dokter Dimas." ucap Archo mengangguk patuh.


Dimas pun melangkah keluar, akan tetapi saat berada di ambang pintu, tiba-tiba ....


"Zoyaaaaa!!" seru Maria yang sadar sehingga membuat Dimas kembali masuk dan menghampiri Maria.


"Mam, akhirnya Mam sadar juga," kata Archo.


"Kak Maria..."


Lalu Maria mengedarkan pandangannya. "Aku di mana?" tanya Maria.


"Kak Maria sedang berada di rumah sakit, soalnya tadi pingsan," jawab Dimas.


"Pingsan?!" Maria pun terkejut dengan jawaban Dimas.


"Iya Mam, tadi Mam pingsan." ujar Archo.


Maria mencoba bangkit dari posisinya, akan tetapi Dimas menahannya.


"Kak Maria jangan banyak bergerak dulu!"


"Siapa yang banyak bergerak, aku hanya ingin duduk saja," cetus Maria, lalu ia pun bangkit dari posisinya menjadi duduk.


"Euum Dimas..."


"Iya Kak Maria, ada apa Kak? Apa Kak Maria butuh sesuatu?" tanya Dimas.


Sesaat Maria menghela nafasnya, "Dimas, kamu kan Dokter, lalu kenapa kamu membohongi Kakak."


"Membohongi? Maksud Kakak?" tanya Dimas kebingungan


"Iya, kamu membohongi Kakak, kamu memalsukan hasil tes DNA itu kan supaya Kakak percaya kalau gadis sial itu anak Kakak," ujar Maria, sontak membuat Archo dan Dimas terkejut.


"Kak, kenapa Kak Maria berkata seperti itu? Tentu saja hasilnya benar, untuk apa Dimas berbohong," tegas Dimas.


"Tapi kenapa harus dia?" ucap Maria


Dimas dan Archo pun kembali terkejut.


"Mam, kenapa berkata seperti itu? Apa Mam menyesal bahwa ternyata anak Mam itu adalah Zuy?" tanya Archo


Maria pun memalingkan wajahnya. "Bu-bukan begitu, hanya saja bagaimana dengan Kimberly."


"Kimberly?"


Pandangan Maria beralih ke arah Archo. "Iya, Mam gak mau Kimberly membenci Mam, saat dia mengetahui bahwa gadis itu adalah anak Mam. Kamu kan tahu Archo, kalau Kimberly sangat membencinya," paparnya.


"Oh, jadi karena Kimberly. Kak Maria, ternyata Kakak terlalu peduli dengan anak Kakak itu ya? Beruntung sekali Kimberly bisa di sayang sama Ibunya, sedangkan Zuy malah di sia-sia kan," celetuk Dimas.


"Apa maksud mu berbicara seperti itu Dimas?"


"Maksud Dokter Dimas, Mam sudah di butakan akan kasih sayang Mam terhadap Kimberly. Kalau seperti ini, usaha Archo menemukan anak Mam itu sia-sia dong," kata Archo.


"Archo, bukan begitu maksud Mam, tapi ...,"


Archo pun memegang kedua bahu Maria. "Mam, coba Mam buka hati Mam, lalu Mam rasakan perasaan Mam itu terhadap Zuy. Apa Mam tahu penderitaannya setelah Mam tinggalkan? Apa Mam tahu perasaannya yang selalu merindukan Ibunya?"


Mendengar perkataan Archo, Maria pun menundukkan kepalanya.


"Mam, kalau Mam tidak ingin dia jadi anak Mam. Yaudah kalau begitu, Mam lupakan anak Mam itu! Biarkan hidupnya bahagia bersama Bibinya yang sangat menyayanginya itu," pekik Archo, ia pun langsung meninggalkan Maria.


"Kak Maria, lebih baik Kakak istirahat, jernihkan pikiran Kakak, Dimas keluar sebentar, karena masih ada pasien Dimas yang membutuhkan Dimas." Dimas pun bergegas keluar.


Setelah mereka meninggalkan Maria sendirian, seketika air mata Maria langsung mengalir membasahi pipinya.


"Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana?" rutuknya.


************************


Rumah Ray


Tak terasa waktu berlalu, saatnya bagi semua orang untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing.


Zuy terlihat sudah selesai menghabiskan sarapannya, setelah membereskan piring bekas ia makan, Zuy mengambil ransel dan kunci motornya yang berada di meja yang berada di ruang tengah. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju keluar rumah, akan tetapi ...


"Sayangku, sudah mau berangkat?" seru Ray membuat Zuy menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Ray! Iya Zuy mau berangkat nih," ujar Zuy


"Sudah sarapan?" tanya Ray menghampiri.


Zuy mengangguk, "Iya sudah Ray."


Ray lalu memegang pipi Zuy. "Syukurlah kalau sayangku sudah sarapan."


"Yaudah, Zuy berangkat dulu Ray," pamit Zuy.


Seketika Ray mendaratkan bibirnya ke pipi Zuy dan bibirnya, sesaat setelahnya, Zuy melangkahkan kakinya kembali menuju keluar rumah.


********************


Perusahaan CV


Setelah sampai di Perusahaan dan berganti pakaian, Zuy pun langsung melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai pegawai OB. Beberapa saat setelah membersihkan ruangan Ray, Zuy kembali untuk membantu yang lainnya menyiapkan minuman. Semua karyawan satu persatu datang untuk menjalankan aktivitasnya.


Pantry


Setelah selesai mengantar minuman untuk para karyawan, Zuy beristirahat sejenak sambil mengambil air minum untuknya sendiri, namun tiba-tiba sesuatu menyerang kembali di diri Zuy, membuat ia mual-mual. Airin yang baru saja masuk ke Pantry karena baru beres dengan pekerjaannya pun terkejut melihat Zuy muntah-muntah, ia langsung menghampiri Zuy.


"Zuy, apa yang terjadi?" tanya Airin.


"Entahlah Rin, beberapa hari ini perutku gak enak," jawab Zuy, lalu tiba-tiba ...,


"Mungkin dia hamil tuh, wanita simpanan Ceo sih," celetuk seseorang, Airin dan Zuy langsung menoleh.


"Bu Wanda!!"


Ternyata yang datang Wanda, sontak membuat Airin mengerutkan dahinya.


"Kenapa anda berkata seperti itu Bu Wanda, kalau Zuy hamil juga urusan dia, toh dia punya Tuannya, kenapa anda ikut campur!" pekik Airin.


"Siapa yang ikut campur, aku kan cuma bicara seadanya, iya kan Lidya?" pandangan Wanda mengarah ke temannya yang bernama Lidya.


"Iya juga sih, kan Zuy sering jalan sama Ceo kita," ucap Lidya.


Seketika Zuy langsung terpancing amarah, ia pun mendekat ke arah kedua wanita itu sambil menatap tajam.


"Kalau aku sering jalan dengan Ceo Perusahaan ini memangnya kenapa? Apa kalian tidak suka?" pekik Zuy membuat dua wanita itu sedikit ketakutan.


"Ya itu berarti ka-kamu wanita gak bener," papar Wanda, lalu tiba-tiba ....


"Siapa yang bilang bahwa Zuy wanita gak bener?"


Mendengar suara itu, sontak membuat mereka menoleh ke arahnya, dan betapa terkejutnya mereka ternyata suara itu berasal dari ....


"Tu-Tuan Ray!!"


***Bersambung...


Contoh Gaunnya... 👇👇



Image from Facebook.


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2