
<<<<<
Sontak membuat Eqitna tersentak kaget.
"Hah! Kak Maria barusan bilang apa? Keguguran?"
Lontar pertanyaan Eqitna, lalu tiba-tiba....
Praaaang....
Piring yang berada di tangannya pun terjatuh, Alhasil piringnya pecah dan makanannya berserakan di lantai. Maria yang melihat itu langsung mengerutkan dahinya kembali.
"Eqitna! Apa yang kamu lakukan? Lihatlah makanannya jadi berantakan." pekik Maria.
"Maaf Kak, Eqi gak sengaja. Soalnya Eqi tadi kaget saat dengar perkataan Kak Maria barusan," jelas Eqitna sembari berjongkok dan membersihkan pecahan piring.
"Ciih, baru dengar begitu saja sudah kaget, kaya gak biasa aja denger kata keguguran, padahal Dokter kandungan juga," decak Maria
Eqitna pun menundukkan kepalanya dan di hatinya berkata, "Bagaimana gak kaget coba, kalau Kak Maria berkata seperti itu, padahal Zuy itu anaknya dan yang sedang Zuy kandung juga cucunya. Tapi malah mengharapkan hal buruk pada calon cucunya."
Setelah selesai membersihkan, Eqitna pun bangkit dari posisinya dan kemudian ia membuang sampahnya ke tempat sampah yang ada di dekatnya.
"Kak Maria, mau Eqi ambilkan makanan lagi?" tanya Eqitna.
"Tidak usah! Kamu sudah membuat nafsu makanku hilang," celetuk Maria.
Mendengar celetukan Maria, Eqitna pun menundukkan kepalanya. "Maaf Kak."
Lalu tiba-tiba....
Braaaak...
Seseorang membuka pintu kamar dengan keras, membuat Maria dan Eqitna tersentak, mereka pun langsung melihat ke arah pintu dan ternyata yang datang Archo.
"Archo!"
Archo pun berjalan menghampiri mereka, nampak kesedihan dari raut wajah Archo.
"Archo! Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat sedih?" tanya Maria.
Lalu Archo mendudukkan dirinya di kursi sebelah ranjang Maria, ia pun menggenggam erat tangan Maria.
"Mam, kita harus kembali ke Amerika!" tegas Archo.
"Kembali? Apa kamu masih memaksa Mam untuk berobat di sana?" tanya Maria.
Akan tetapi Archo menggelengkan kepalanya. "Bukan Mam, tapi Boutique."
"Boutique? Archo jelaskan pada Mam! Apa yang terjadi?" tanya Maria.
"Ta-tadi Archo mendapat kabar, bahwa Boutique besar milik Mam terbakar akibat korsleting listrik, semua gaun-gaun hangus, lalu dua dari pegawai Mam ikut terbakar dan tidak selamat," jelas Archo
Sontak membuat Maria terkejut.
"Ti-tidak mungkin! Kau pasti bohong kan Archo." bentak Maria.
"Archo tidak berbohong Mam," ujar Archo. Lalu tiba-tiba....
Bruuugh...
Tubuh Maria tumbang dan pingsan seketika. Melihat itu Archo pun langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Mam.... Bangun Mam!" seru Archo sambil mengguncangkan tubuh Maria.
Sedangkan Eqitna langsung memijit tombol darurat, sehingga Dokter dan suster bergegas menuju ke kamar Maria.
***************************
Rumah Ray
Kembali pada Davin dan Ray....
"Ma-maaf Tuan Ray, tapi ba-barusan saya lihat a-ada ma-macan gembul di rumahnya si manis," jawab Davin gemetaran.
"Hah! Macan gembul?"
Davin pun mengangguk cepat. "Iya Tuan macan gembul, matanya menyala, mulutnya juga berdarah. Sepertinya si Manis di makan oleh si macan gembul itu."
Lalu Zuy datang menghampiri mereka.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanya Zuy
Davin pun mendekat ke arah Zuy, lalu ia memegang pundak Zuy.
"Zuy, kamu yang sabar ya!" tutur Davin
"Sabar? Memang ada apa Kak Davin?" tanya Zuy keheranan.
"Manis, sepertinya di makan oleh macan gembul," jawab Davin
"Apa!" Zuy terkejut dan segera berlari menuju ke rumah si manis.
"Sayangku pelan-pelan!" tutur Ray sembari melangkah menyusul Zuy , Davin pun mengekori Ray.
Sesampainya, Ray melihat Zuy tengah duduk berjongkok di dekat rumah di manis.
"Sayangku...."
Zuy langsung menoleh ke arah Ray, air matanya pun mengalir membasahi pipinya, sontak membuat Ray terkejut.
"Sayangku, kenapa menangis? Apa yang terjadi pada si manis?" lontar pertanyaan Ray.
"Si manis ...."
"Tuh kan bener apa kataku, si manis di makan macan gembul," sela Davin.
"Apa benar sayangku?" tanya Ray pada Zuy
Zuy menggelengkan kepalanya. "Tidak Ray, Pak Davin. Si Manis bukan di makan macan gembul, tapi si Manis melahirkan."
"Hah! Melahirkan?" lontar Ray dan Davin serempak.
Ray langsung melihat ke arah rumahnya si Manis, dan ternyata benar kalau si Manis melahirkan. Setelah selesai melihat, pandangan Ray mengarah ke Davin, lalu ....
Paak...
Ray memukul keras punggung Davin, sehingga membuat Davin meringis.
"Kenapa memukul ku sih Tuan Ray!"
"Habisnya bikin orang panik saja! Si manis lahiran malah di bilang di makan macan gembul," pekik Ray
"Ya habisnya tadi matanya menyala dan mulutnya berdarah, aku pikir si manis di makan macan gembul."
Seketika Ray berdecak. "Ckck, makanya jangan kebanyakan adonan moci!"
"Iya maaf Tuan Ray, Zuy." ucap Davin menunduk.
"Udah jangan berdebat, ayo kita masuk! Jangan ganggu si Manis," pekik Zuy.
Ray dan Davin mengangguk patuh, lalu mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah.
Kamar Ray
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di dalam kamarnya.
"Sayangku.... Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Ray
"Tidak Ray," singkat Zuy.
"Oh, yaudah kalau begitu. Tapi kalau sayangku menginginkan sesuatu tinggal bilang ya!"
"Iya Ray. Euum Ray...."
"Apa sayangku," sahut Ray.
"Peluk..." lirih Zuy nada kecil
"Sayangku bilang apa?" tanya Ray karena ia tidak mendengar apa yang Zuy katakan.
__ADS_1
Zuy menundukkan kepalanya. "P-E-L-U-K," tegasnya.
"Oh sayangku mau peluk, bilang dong dari tadi. Sini mendekat lah sayangku!" titah Ray sambil merentangkan tangannya
Zuy pun langsung mendekat dan melingkarkan tangannya ke pinggang Ray, lalu ia membenamkan wajahnya ke dada bidang Ray.
"Dasar sayangku, pengin peluk aja pakai malu-malu begitu," ledek Ray
Akan tetapi Zuy tidak menggubrisnya, ia malah asik menghirup harum dari badan Ray.
...----------------...
Pagi hari....
Tak terasa pagi menyapa, waktunya orang-orang melakukan aktivitas masing-masing.
Di dapur nampak tiga laki-laki yang tengah berada di dapur. Daddy Michael memberikan tantangan pada anak-anaknya, yaitu membuat nasi goreng sosis baso.
Davin nampak santai seperti biasa, karena ia memang jago dalam memasak, namun berbeda dengan Ray, ia malah tegang bahkan saat melihat bawang, wajahnya seketika memucat. Lalu ....
"Ray, ayo semangat!" sorak Zuy menyemangati Ray
Seketika Ray kembali bersemangat, ia pun langsung mengambil bawang yang ada di wadah, kemudian ia memotongnya. Seperti biasa air matanya mengalir akibat bawang.
Pffft...
"Hahaha... Hahaha... Hahaha....."
Tawa Davin dan Daddy Michael menggema, membuat Ray mendengus kesal, sedangkan Zuy hanya terkekeh saja.
Tak lama kemudian, masakan mereka pun siap. Daddy Michael mencicipi nasi goreng yang di buat Davin.
"Hmmm... Enak!" puji Daddy Michael.
"Yes..."
Lalu Daddy Michael mencoba masakan dari Ray.
"Lumayan.... Tapi sedikit asin," ucap Daddy Michael.
"Apa!" Ray terkejut mendengar ucapan Daddy Michael,
Lalu Ray pun mencicipi masakannya, dan memang benar agak asin, Davin juga ikut mencicipi masakan Ray, kemudian pandangan Davin mengarah ke Zuy.
"Zuy, sepertinya Tuan Ray ingin melakukan aktivitas Misteri tuh, makanya masakannya asin," seru Davin
Sontak membuat wajah Zuy memerah, sedangkan Ray memukul Davin, namun sayangnya tidak kena karena Davin sudah lari terlebih dahulu. Sontak Ray langsung mengejarnya, Daddy Michael yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Bener-bener dua anak ini, gak pernah akur, untungnya Yiou gak ada di sini. kalau ada dia, udah kaya taman kanak-kanak," gumam Daddy Michael.
Zuy menyunggingkan senyuman manisnya dan hatinya berkata, "Aku sangat bersyukur mempunyai orang-orang yang begitu sayang padaku. Aku berharap waktu berhenti sesaat, agar aku tidak kehilangan momen-momen bahagia seperti ini."
...----------------...
Beberapa Hari Kemudian......
Airport...
Setelah menghabiskan waktunya bersama anak-anaknya, kini saatnya Daddy Michael kembali ke Amerika. Ray, Zuy dan Davin mengantar Daddy Michael ke Airport. Nampak kesedihan di raut wajah mereka.
"Dad.... Hati-hati! Kalau sudah sampai jangan lupa hubungi Ray!" tutur Ray.
"Siap Boy," Daddy Michael pun memeluk Ray, lalu pandangan Daddy Michael mengarah ke Davin yang tengah tertunduk.
"Davin, apa kau tidak ingin memelukku!"
Davin lalu mengangkat kepalanya dan menghampiri Daddy Michael, kemudian ia memeluknya.
Hwaaaa....
"Daddy.... Jangan lupa jaga kesehatan, jangan sampai sakit, jangan makan sembarangan, pokoknya yang macam-macam JANGAN, harus di hindari!" ucap Davin sambil menangis.
"Iya Daddy akan mengingatnya," balas Daddy Michael.
Sesaat mereka melepaskan pelukannya, Daddy Michael lalu mendekat ke arah Zuy yang tengah menunduk sembari menangis, ia pun langsung memeluk Zuy.
"Jangan terlalu banyak menangis anakku! Ingat kamu sedang mengandung. Daddy titip Rayyan dan Davin ya! Kalau mereka berdua bikin kamu susah, kamu tinggal bilang ke Daddy! Pasti Daddy akan memberi pelajaran untuk mereka," kata Daddy Michael.
"Oh iya satu lagi, Daddy sudah mendaftarkan kamu ke kelas kehamilan dan parenting yang ada di kota ini. Kamu harus sering mengikutinya ya anakku!" pinta Daddy Michael.
"Iya Mr Michael, terimakasih banyak sudah perhatian sama Zuy," ucap Zuy.
Daddy Michael melepaskan pelukannya. "Sama-sama anakku, sepertinya sudah waktunya Daddy pergi, kalian semua harus akur dan jaga kesehatan kalian ya!" tuturnya.
Semuanya pun menganggukkan kepalanya, lalu Daddy Michael pergi. Sesaat setelahnya mereka pun bergegas pulang ke rumah.
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
Waktu terus berputar begitu cepat, dari detik, menit, jam, hari dan bulan. Dan tak terasa kehamilan Zuy sudah memasuki trimester dua, usia kandungan Zuy sudah masuk minggu ke 25 atau jalan enam bulan, perutnya pun sudah mulai terlihat.
Setiap dua minggu sekali Zuy selalu mengikuti kelas kehamilan, selain mendapat pengetahuan tentang seputar kehamilan, di sana juga Zuy mendapatkan banyak teman baru.
*********************
Rumah Sakit
Sementara itu di rumah sakit. Zuy, Pak Randy dan Nara tengah duduk di depan ruang bersalin. Karena hari ini, Bi Nana akan melahirkan anak keduanya dan yang menanganinya adalah Eqitna.
Nampak kegelisahan menyerang pada diri Pak Randy, ia pun terus berjalan bolak-balik di depan ruangan Bi Nana sambil memanjatkan doa untuk Bi Nana.
"Kakak, apa Mamih akan baik-baik saja?" tanya Nara pada Zuy.
Zuy tersenyum sambil mengelus kepala Nara.
"Pasti Mamih akan baik-baik saja Nara, Nara doain Mamihnya ya!" tutur Zuy.
Nara mengangguk patuh, lalu Zuy dan Nara merekatkan kedua tangannya dan memejamkan matanya seraya mendoakan Bi Nana.
Setelah menunggu hampir satu jam, Eqitna pun keluar dari ruangan itu. Melihat Eqitna, Pak Randy langsung menghampiri.
"Dokter...!"
Eqitna tersenyum dan berkata, "Selamat ya Pak Randy, anak anda telah lahir dengan selamat dan jenis kelaminnya perempuan."
Mendengar perkataan Eqitna, Pak Randy pun menangis bahagia.
"Syukurlah.... Lalu bagaimana dengan istri saya?"
"Istri anda baik-baik saja Pak," jawab Eqitna
"Syukurlah, terimakasih Dokter. Terus apa saya boleh melihatnya?"
"Boleh, silahkan!" Eqitna mempersilahkannya.
Lalu mereka pun melangkah masuk ke ruangan tersebut, kemudian mereka menghampiri Bi Nana yang tengah terbaring.
"Mamih...." seru Nara.
"Sssht.... Jangan berisik Nara! Nanti adikmu bangun." tutur Bi Nana.
Seketika Nara langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
"Na, terimakasih sudah melahirkan anakku," ucap Pak Randy sambil mengecup kening Bi Nana.
"Sama-sama Pih," balas Bi Nana.
Pak Randy lalu menggendong anak keduanya itu.
"Bi Nana, selamat ya Bi," ucap Zuy.
"Terimakasih Zuy, Tuan Muda mana?" tanya Bi Nana
"Tuan Muda belum pulang Bi," jawab Zuy.
"Oh...." Lalu Bi Nana memegang perut Zuy. "Giliran kamu ya Zuy."
Zuy mengangguk. "Iya Bi, tapi masih beberapa bulan lagi," ujarnya.
Bi Nana pun tersenyum, Pak Randy lalu menghampiri Zuy sambil menunjukkan wajah anaknya pada Zuy.
__ADS_1
"Zuy lihatlah! Adikmu sangat cantik kan?"
"Tentu cantik Paman, mirip sama kaya Mamihnya," ujar Zuy
"Kamu terlalu memuji Bibi, Zuy." lirih Bi Nana membuat Zuy terkekeh.
Ya begitulah kebahagiaan mereka atas kelahiran anak kedua Bi Nana.
************************
Rumah Dimas
Bunda Artiana dan Dimas tengah duduk di sofa.
"Dim, Eqi belum pulang?" tanya Bunda Artiana
"Belum Bun. Eqi kan lagi menangani Bibinya Zuy," jawab Dimas.
"Bibinya Zuy? Memangnya dia kenapa Dim?"
"Hari ini Nyonya Nana melahirkan Bunda," ujar Dimas.
Sontak membuat Bunda Artiana terkejut.
"Hah! Bibinya Zuy melahirkan?"
"Iya Bunda, makanya hari ini Eqitna pulang terlambat," jawab Dimas.
"Oh, lalu bagaimana dengan Zuy?"
"Kan kemaren Eqitna ngasih tau ke Bunda, kalau Zuy dan kandungannya baik-baik saja."
Bunda Artiana menundukkan kepalanya. "Oh iya ya, maaf Bunda lupa Dim, maklum penyakit orang tua. Lalu Kakakmu?"
"Kak Maria, kemaren Tuan Archo bilang, kondisi fisik Kak Maria sedikit membaik, namun tangan Kak Maria belum bisa di gerakan Bun," jelas Dimas.
Bunda Artiana langsung mengangkat kepalanya dan menatap Dimas.
"Kenapa bisa begitu Dimas? Padahal kan di sana pengobatannya canggih-canggih.Tapi kenapa tangannya belum sembuh juga?"
"Entahlah Bunda, Dimas juga bingung. Kita doakan saja semoga Kak Maria cepat sembuh, ya Bunda!" tutur Dimas.
"Bunda selalu mendoakan Maria, supaya cepat sembuh dan bisa balik lagi kesini," ucap Bunda Artiana.
Dimas tersenyum dan berkata, "Semoga doa Bunda segera di kabulkan."
"Iya semoga...."
****************
Rumah Ray
Malam semakin larut....
Sementara itu, Zuy nampak tengah duduk di teras depan. Setelah beberapa saat yang lalu ia pulang dari rumah sakit. Sesekali pandangannya mengarah ke pintu pagar.
"Apa hari ini kamu akan pulang Ray?" lirih Zuy.
......................
Satu Minggu Sebelumnya....
Ray nampak tengah bersiap-siap, karena hari ini ia harus pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Tentunya Ray pergi bersama Davin.
"Ray, berapa lama kamu di sana?" tanya Zuy sembari memberikan jas Ray.
"Paling seminggu sayangku," jawab Ray.
"Haaaa...." desah Zuy, nampak dari raut wajahnya yang sedih.
Melihat itu, Ray memegang pipi Zuy dan mengecupnya.
"Sayangku, jangan memasang wajah sedih gitu dong! Aku jadi gak tega ninggalin kamu," ujar Ray.
"Si-siapa yang sedih Ray, Zuy gak sedih. Cuma Zuy bakalan kangen," jelas Zuy.
Ray lalu memeluk tubuh Zuy. "Sayangku...."
Sesaat mereka pun melepaskan pelukannya, kemudian Ray berjongkok dan memandangi perut Zuy.
"Hei Junior, Daddy titip Mommy ya! Soalnya Daddy mau pergi dulu, nanti Daddy pulang lagi kok, kamu baik-baik ya di perut Mommy, awas jangan nakal dan jangan nyusahin Mommy," ucap Ray ke calon anaknya, ia pun mencium perut Zuy.
Lalu Ray bangkit dari posisinya. "Yaudah kalau gitu, Ray berangkat ya sayangku, kamu di rumah hati-hati, jangan terlalu cape, jangan telat makan!" pesannya.
Zuy mengangguk. "Baiklah Ray, Zuy akan ingat pesan mu. Terus kamu juga harus semangat, jangan telat makan, jangan tidur terlalu malam dan lagi di sana kamu jangan macem-macem Ray!"
"Sayangku tenang saja, Ray gak akan macam-macam sayangku, kan aku maunya sama sayangku seorang," ujar Ray
"Tapi awas ya kalau sampai macem-macem, Zuy bakalan ...."
Zuy lalu memperlihatkan cara memotong sesuatu, sehingga membuat Ray merinding saat melihatnya.
"Sayangku, kenapa kamu jadi posesife gini," lirih Ray.
Zuy pun terkekeh melihat ekspresi wajah Ray. "Hihihi... Kamu benar-benar lucu Ray."
Seketika Ray mendengus kesal, ia pun langsung menyambar bibir Zuy dan mengecupnya. Setelah puas, Ray langsung melepaskannya.
"Aku berangkat sayangku!" pamit Ray
"Hati-hati!" ucap Zuy
Ray masuk ke dalam mobilnya, sesaat kemudian mobilnya pun berangkat menuju ke tempat tujuan.
"Aku akan menunggumu, Ray." lirih Zuy sambil mengusap air matanya.
Sejak saat itu, setiap malam Zuy selalu nungguin Ray di teras depan rumah.
Flashback End
......................
Tiba-tiba Zuy merasakan tendangan dari anak yang di kandungnya itu sehingga membuat pandangan Zuy beralih ke arah perutnya.
"Ada apa sayang? Apa kamu merindukan Papahmu? Ya Mamah juga merindukan Papahmu, walaupun kita sering berkomunikasi lewat Video call, tapi rasanya gak cukup ya Nak," ucap Zuy mengelus perutnya.
Lalu Bu Ima menghampiri Zuy....
"Nak Zuy, ayo masuk!" titah Bu Ima.
"Tapi Bu...."
"Nak, gak baik wanita hamil malam-malam duduk di luar sendirian dan lagi kasihan anakmu Nak," tutur Bu Ima.
"Bentar lagi ya Bu...."
"Yaudah kalau begitu, Ibu masuk dulu ya!" kata Bu Ima.
Zuy menganggukkan kepalanya, Bu Ima pun kembali masuk ke dalam.
"Haaaa... Ya malam ini cukup sampai di sini ya sayang! Sepertinya Papahmu gak akan pulang," lontar Zuy.
Zuy pun langsung bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya menuju masuk, akan tetapi....
"Ternyata sayangku selalu menunggu kedatangan ku ya! Aku benar-benar terharu lho," seru seseorang
Mendengar suara tak asing, sontak membuat Zuy menghentikan langkahnya, kemudian Zuy memutarkan badannya menghadap ke arahnya.
"Ray!!"
"Iya sayangku, aku pulang!"
***Bersambung....
IG: kim_anandin_chan0619
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌