
<<<<<
Setelah pintu terbuka, Zuy langsung membulatkan matanya karena ia terkejut melihat dua orang tengah berdiri di hadapannya sambil menatapnya.
"Ternyata kamu sedang ada di sini?"
Salah satunya pun membuka suara dengan melontarkan pertanyaan pada Zuy sehingga membuat Zuy terpaku dan nampak dari matanya yang berkaca-kaca seakan-akan ingin menangis. Lalu seseorang itu mendekat ke arah Zuy dan memeluknya.
"Apa kabar anak sulung Mamah?" tanyanya.
"Kabar Zuy baik-baik saja Mah," jawab Zuy sembari membalas pelukan seseorang itu.
Sesaat kemudian mereka melepaskan pelukannya.
"Kakak...." sapa salah satunya.
"Hei Rion, kamu makin tinggi saja, apa Kakak yang pendek ya," ujar Zuy dengan niat menggoda Rion.
"Hmmm.... Kakak bisa saja," ucap Rion.
Zuy pun terkekeh. "Hihihi... Oh iya, ayo masuk Mah, Rion!" ajaknya.
Dan ternyata yang datang adalah Mamahnya Airin dan Rion.
Lalu mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah. Sesampainya ....
"Silahkan duduk Mah!"
Mereka serempak mengangguk dan langsung mendudukkan diri mereka di atas sofa.
"Sebentar Mah, Zuy ambil minuman dulu," ujar Zuy
Saat Zuy hendak melangkah, ia pun berpapasan dengan Bu Ima.
"Nak Zuy mau kemana?" tanya Bu Ima
"Zuy mau ambil minuman Bu, untuk mereka," jawab Zuy.
Sekilas Bu Ima menoleh ke arah Mamahnya Airin dan Rion.
"Yaudah, biar Ibu aja yang buatkan minumannya, kamu temani mereka saja!" kata Bu Ima.
Zuy mengangguk. "Terimakasih Bu Ima."
Lalu Bu Ima melangkah menuju ke dapur, sedangkan Zuy langsung duduk di sofa lainnya.
"Mamah, Rion. Bagaimana kabar kalian berdua? Terus kapan kalian datang?" tanya Zuy.
"Kabar kami baik-baik saja, ya sebenarnya dari kemaren Mamah sudah ada di kota ini, Zuy." jawab Mamahnya Airin.
"Syukurlah kalau begitu Mah, tapi kenapa Airin gak bilang ke Zuy ya, kalau Mamah datang," ujar Zuy.
Mamahnya Airin tersenyum dan berkata, "Mamah yang menyuruhnya untuk tidak memberitahu mu, Zuy. Soalnya Mamah ingin kasih kejutan untuk anak sulung Mamah ini."
"Mamah...." lirih Zuy.
"Zuy, maafin Mamah ya! Mamah baru bisa datang menemuimu," ucap Mamahnya Airin
"Tidak apa-apa Mah, lagi pula Airin udah cerita ke Zuy," kata Zuy.
Seketika senyuman Mamahnya Airin mengembang.
"Terimakasih Zuy. Oh iya sudah masuk minggu ke berapa usia kandunganmu itu?" tanya Mamahnya Airin.
"Masuk minggu ke 26 Mah," jawab Zuy.
"Wah, bentar lagi cucu Mamah akan lahir dong, Mamah jadi gak sabar, hmmm.... Pokoknya Mamah akan temani kamu saat kamu lahiran nanti," kata Mamahnya Airin dengan penuh semangat dan bahagia.
Zuy pun tertegun mendengar perkataan Mamahnya Airin, tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Terimakasih Mamah...." ucap Zuy tersedu-sedu.
"Sama-sama Zuy, udah kamu jangan nangis ya!" tutur Mamahnya Airin.
Zuy mengangguk sambil mengusap air matanya. Lalu kemudian Ray datang menghampiri mereka.
"Siapa yang datang sayangku?" seru Ray
Zuy menoleh. "Mamah yang datang, Ray." jawabnya.
"Mamah?" padangan Ray mengarah ke Mamahnya Airin dan Rion, kemudian beralih lagi ke arah Zuy.
"Iya Mamah. Maksud Zuy, ini Mamahnya Airin dan ini Rion," kata Zuy.
"Oh..." Ray memanggutkan kepalanya.
Kemudian Ray mengulurkan tangannya ke arah Mamahnya Airin.
"Perkenalkan nama saya Ray, suaminya Zuy." ujar Ray.
"Oh, saya Mamahnya Airin dan Mamahnya Zuy juga," balas Mamahnya Airin sambil membalas uluran tangan Ray.
Ray tersenyum, sesaat mereka melepaskan jabatan tangannya, lalu Ray duduk di samping Zuy. Kemudian Bu Ima datang membawa minuman dan meletakkannya di atas meja, setelah itu Bu Ima pun bergegas pergi ke dapur kembali.
"Silahkan di minum Tante!" kata Ray.
"Terimakasih Tuan, eummm.... Maaf ya Tuan kalau kedatangan kami mengganggu," ucap Mamahnya Airin.
"Tidak mengganggu Tan, justru saya senang ada yang datang," ujar Ray.
"Ah sampai lupa...." papar Mamahnya Airin.
"Lupa apa Mah?" tanya Zuy.
Lalu Mamahnya Airin menyodorkan rantang beserta barang bawaannya ke arah Zuy.
"Apa ini Mah?" tanya Zuy kebingungan.
"Itu makanan kesukaanmu dan oleh-oleh yang Mamah bawa dari tempat tinggal Mamah," jawab Mamahnya Airin.
"Duh Tante, pake repot segala, tapi terimakasih banyak Tante," ucap Ray.
Mamahnya Airin pun tersenyum dan mengangguk, lalu kemudian Zuy mencium sesuatu dari arah rantang tersebut, sehingga membuat air liurnya hampir menetes.
"Sayangku kamu kenapa?" tanya Ray
"Tidak apa-apa Ray, hanya saja Zuy mencium sesuatu yang enak," jawab Zuy.
"Hmmmm.... Pasti kamu mencium pepes jamur bakar ya, Zuy?" tebak Mamahnya Airin.
"Pepes jamur bakar!" Zuy tercengang.
Mamahnya Airin mengangguk. "Iya Zuy, tadi Mamah bikin pepes jamur bakar banyak, dari pada mubazir jadi Mamah bawain juga untuk kamu. Apa kamu suka?"
"Zuy suka Mah, sebenarnya Zuy juga lagi pengin makan ini. Terimakasih banyak Mamah," ucap Zuy.
"Yaudah kalau gitu kita makan bersama gimana?" tawar Ray.
"Iya boleh juga. Mamah, Rion, mau ya makan bareng kita!" pinta Zuy
Mamahnya Airin mengangguk. "Baiklah demi anak sulung Mamah," balasnya.
"Yaudah, ayo kita ke meja makan!" ajak Ray.
Mereka pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke meja makan.
**********************
Perusahaan CV
Β°Ruang kerja Davin.
Sementara itu, Davin tengah duduk di kursi kebesarannya sambil mengecek semua berkas yang menumpuk di mejanya.
Hoaaam....
"Kebiasaan banget nih mata, suka gak bisa di ajak kerja sama," gumam Davin sambil mengusap matanya. Lalu ....
__ADS_1
Tok.. Tok... Tok....
Seseorang mengetuk pintunya.
"Masuk!!" titah Davin
Lalu seseorang itu membuka pintunya. "Permisi Pak Davin," ucapnya.
Seketika pandangan Davin mengarah ke orang tersebut, yang ternyata adalah ....
"Airin!"
Airin tersenyum dan melangkah masuk menghampiri Davin sembari membawa nampan berisi cangkir kopi beserta camilan.
"Ini pesanan anda, Pak Davin." kata Airin.
"Taroh aja di atas meja Rin!"
Airin mengangguk, lalu ia meletakkannya di atas meja, sesaat setelahnya ....
"Sudah Pak, kalau gitu saya permisi dulu," pamit Airin membungkukkan badannya.
Airin pun memutar badannya dan melangkahkan kakinya keluar, akan tetapi ....
"Rin, tunggu sebentar!" seru Davin
Airin langsung menghentikan langkahnya dan memutar badannya kembali menghadap ke arah Davin.
"Ada apa Pak Davin?" tanya Airin.
Davin beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Airin, setelah mereka saling berhadapan....
"Kamu kenapa Rin? Aku perhatikan dari kemaren kamu nampak murung terus? Apa terjadi sesuatu?" tanya Davin
"Saya tidak apa-apa Pak, hanya saja saya merasa kesepian karena gak ada Zuy," jawab Airin.
"Oh begitu, sekarang aku paham Rin. Ya wajar sih kalau kamu merasa sedih dan kesepian, selama ini kan kamu selalu bareng Zuy terus," ujar Pak Davin.
"Iya Pak, maka dari itu Pak. Setelah Zuy gak kerja lagi, sepertinya kaya ada yang kurang gitu, ya bukan cuma saya aja sih, tapi semua teman-teman juga bilang seperti itu," ungkap Airin tersedu-sedu.
Kemudian Davin mendaratkan tangannya ke atas kepalanya Airin.
"Rin, walau Zuy sudah tidak bekerja lagi di sini, kamu kan bisa main ke rumah untuk bertemu dengan Zuy, dan lagi kalau kamu di sini merasa kesepian gara-gara gak ada Zuy. Kan masih ada aku yang akan menemani mu dan mengisi kesepian mu ini, Rin." tutur Davin.
"Hmmmm.... Mengisi kesepian ku? Maksudnya?" tanya Airin penasaran.
Davin tercengang mendengar pertanyaan dari Airin, ia pun menurunkan tangannya dari kepala Airin.
"Ah, maksud ku gini Rin, apa ya? Eummm, ah siapa tau kamu perlu bantuan, ah bukan maksudku gimana ya ...." ujar Davin yang salah tingkah.
Seketika Airin menyunggingkan senyuman manisnya.
"Iya saya paham maksud anda, Pak Davin. Yaudah kalau gitu Airin pamit ya Pak Davin," ucap Airin.
Davin mengangguk pelan, kemudian Airin melangkahkan kakinya menuju keluar dari ruangan Davin, akan tetapi saat berada di ambang pintu Airin kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Davin.
"Oh iya Pak Davin, mungkin pulang kerja, Airin langsung ke rumah Tuan Bos, soalnya Mamah ada di sana bersama Rion," ujar Airin, ia pun melangkah kembali sambil menutup pintunya.
Sesaat setelah Airin pergi ....
"Duh Davin, kenapa pake salah tingkah segala sih, jadi malu kan, huh!" gerutu Davin.
"Hmmmm.... Tunggu, barusan Airin bilang kalau Mamahnya ada di rumah Tuan Ray, kalau benar aku harus membeli sesuatu untuk Mamah dan adiknya itu," sambung katanya.
Kemudian ia kembali duduk di kursi kebesarannya, saat hendak mengecek berkas-berkas kembali. Tiba-tiba ....
Kriiing...
Bunyi suara telpon yang berada di meja kerjanya, membuat pandangannya beralih ke arah telponnya.
Davin pun segera mengangkat gagang telpon dan menempelkannya di telinga.
"Di sini Davin...."
"Pak maaf, ini saya Citra," ujar Citra
"Itu Pak, barusan Pak Wildan datang bersama istrinya, beliau mencari Tuan Ray," jawab Citra.
Sontak membuat Davin terkejut. "Apa! Pak Wildan datang? Terus di mana mereka?"
"Mereka sudah pergi pas saya bilang Tuan Ray gak masuk," jelas Citra.
"Hah! Kenapa kamu tidak menyuruh mereka untuk ke ruanganku?" pekik Davin.
"Tadi juga saya sudah bilang Pak, cuma istrinya langsung pergi begitu saja, terus Pak Wildan mengejarnya," ujar Citra.
Mendengar itu, Davin pun mengerutkan dahinya.
"Apa jangan-jangan mereka ke rumah," pikir Davin yang menduga-duga.
"Pak Davin...."
"Oh iya Cit, terimakasih atas infonya," ucap Davin
Davin pun memutuskan telponnya.
"Tsk, jangan-jangan mereka sudah tahu kejadiannya, pasti wanita gila itu datang ke rumah Pak Wildan, terus menceritakan kejadiannya. Tadinya ingin beri kejutan untuk Pak Wildan, malah gagal gini." batin Davin.
Lalu ia mengambil hpnya yang berada di atas meja dan segera menghubungi Ray. Akan tetapi Ray tidak menjawabnya, Davin terus mencoba menghubungi Ray.
***********************
Rumah Ray
Setelah selesai menyantap makanannya, mereka pun duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Zuy, Tuan Muda. Sebenarnya Mamah ingin bertanya sesuatu, tapi ...." Mamahnya Airin memulai obrolannya.
"Tapi apa Mah? Terus memangnya Mamah mau nanya apa?" tanya Zuy
"Euummm... Sebenaranya Mamah penasaran, saat kamu menikah dengan Tuan Muda, kenapa kamu gak kasih tahu ke Mamah?" lontar tanya Mamahnya Airin.
Zuy pun tersentak mendengar pertanyaan dari Mamahnya Airin, lalu ia menundukkan kepalanya.
"Maaf Mah, sebenarnya ...."
"Sebenarnya kami memang sengaja tidak memberitahu pada siapa pun tentang pernikahan kami, soalnya hanya melakukan ucap janji suci saja. Tapi kalau nanti resepsi pernikahannya, baru saya umumkan ke semua orang," sela Ray.
Zuy pun tertegun dan langsung menatap Ray, lalu di balas kedipan satu mata oleh Ray.
"Oh, Syukurlah kalau seperti itu...." lirih Mamahnya Airin.
"Nanti pas resepsi kami, Tante harus datang ya! Walau bagaimanapun Tante juga keluarga Zuy ah maksudku Mamahnya Zuy," pinta Ray.
Mamahnya Airin pun tersenyum sambil mengangguk. "Iya, pasti Mamah akan hadir untuk menemani anak sulung Mamah ini," ujarnya sambil mengelus rambut Zuy.
"Terimakasih Mamah...." ucap Zuy.
Ray lalu bangkit dari posisinya.
"Mau kemana Ray?" tanya Zuy.
"Mau ke kamar sayangku. Tante Ray tinggal ke kamar bentar ya!" ujar Ray
"Iya Tuan Muda," balas Mamahnya Airin.
Kemudian Ray melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Rion, apa kamu mau berenang?" tawar Zuy
Akan tetapi Rion menggelengkan kepalanya. "Tidak Kakak, Rion kekenyangan, takutnya nanti pas berada di kolam, Rion malah ngambang lagi," balasnya.
Zuy dan Mamahnya pun tertawa mendengar perkataan Rion.
"Dasar Rion," gumam Zuy.
Saat mereka tengah asik berbincang, tiba-tiba ....
__ADS_1
"Tuan Ray... Tuan Ray... Bebaskan anak saya!" teriak seseorang dari luar.
Sontak membuat Zuy dan Mamahnya Airin terkejut, lalu kemudian mereka bangkit dari posisinya dan melangkah menuju keluar rumah. Sesampainya di luar, Zuy terkejut melihat seorang wanita yang tengah di pegangi oleh pengawal dan wanita itu tak lain adalah Ibu dari Erlin.
"Ada apa ini?" tanya Zuy mendekat.
Membuat pengawal dan istrinya Pak Wildan menoleh ke arah Zuy.
"Begini Nyonya, wanita ini memaksa masuk dan memaksa ingin bertemu dengan Tuan Ray," jawab pengawal.
Saat pengawal lengah, istri Pak Wildan langsung melepaskan diri dan berlari ke arah Zuy, kemudian ia menjambak rambut Zuy dengan kuat.
"Awww... Lepaskan!" pekik Zuy.
"Apa yang kamu lakukan pada anakku?"
Mamahnya Airin terkejut sambil memegangi tangan istri Pak Wildan, begitu pula dengan pengawal. Akan tetapi semakin mereka ingin melepaskan tangannya dari rambut Zuy, istri Pak Wildan malah semakin kuat menjambak rambut Zuy.
"Cepat lepaskan rambut anakku!"
Pandangan istri Pak Wildan mengarah ke Mamahnya Airin.
"Kamu Ibunya? Bagus, jadi kamu bisa lihat apa yang sudah wanita rendahan ini lakukan pada anakku," murka istri Pak Wildan.
"Aku tidak peduli dengan anak mu, jadi lepaskan tanganmu itu!" pekik Mamahnya Airin.
"Tsk, ibu dan anak sama-sama rendahan," decak istri Pak Wildan
Lalu Pak Wildan datang dan langsung mendekat ke istrinya, namun ....
Plaaak...
Pak Wildan menampar keras pipi istrinya, sontak membuatnya tersentak dan akhirnya ia melepaskan cengkramannya dari rambut Zuy. Mamahnya Airin pun langsung menjauhkan Zuy.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Mamahnya Airin
"Kepala Zuy sakit Mah," jawab Zuy.
"Dasar kurang ajar! Beraninya dia menyakiti anakku!" umpat Mamahnya Airin.
Saat ia hendak mendekat ke arah istri Pak Wildan, Zuy malah menahannya. Sedangkan Pak Wildan dan istrinya ....
"Papih! Kenapa kau menamparku?"
"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya, jangan bikin keributan! Tapi nyatanya malah seperti ini, kamu melakukan kekerasan seperti tadi," papar Pak Wildan.
"Habisnya Mamih kesal Pih, gara-gara wanita rendahan seperti dia, Erlin jadi di tahan. Padahal Erlin tidak bersalah, dia hanya korban, dan yang pantas di hukum adalah wanita rendahan itu," cetus istri Pak Wildan
Lalu kemudian....
"Siapa yang anda sebut wanita rendahan?" seru Ray dari dalam rumah membuat semuanya menoleh.
"Tuan Ray!!"
Ray lalu berjalan menghampiri Pak Wildan dan istrinya.
"Tadi aku dengar ribut-ribut di luar. Kalian benar-benar mengganggu waktu istirahat ku yang berharga," pekik Ray.
"Maaf Tuan Ray jika kami mengganggu," ucap Pak Wildan.
Pandangan Ray mengarah ke istri Pak Wildan. "Oh, lalu barusan saya mendengar Nyonya ini menyebut wanita rendahan, siapa yang anda maksud, Nyonya?"
"Heh, tentu saja wanita itu," jawab istri Pak Wildan menunjuk ke arah Zuy.
Seketika Ray langsung mengerutkan dahinya. "Anda menyebutnya wanita rendahan? Atas hak apa anda sampai-sampai mengatakan kalau dia itu wanita rendahan?"
"Bukan hanya menyebut wanita rendahan saja Tuan, tapi dia juga menjambak rambut Zuy," sela Mamahnya Airin.
"Apa!" Ray terkejut mendengarnya.
"Iya Tuan Muda, beliau sudah melukai Nyonya," sambung pengawalnya.
"Beraninya anda menyakitinya!" murka Ray.
Lalu Pak Wildan langsung berdiri di depan istrinya itu.
"Maaf atas kelakuan istri saya, tapi dia melakukan itu karena ada alasannya," ujar Pak Wildan.
"Alasan! Alasan apa? Hah!" bentak Ray.
"Sebab anak kami di tahan karena anda dan wanita itu," ujar Pak Wildan yang gemetaran.
"Ya memang pantas dia di tahan." celetuk Ray
Mendengar itu, istri Pak Wildan langsung mengepalkan tangannya.
"Pantas! Anda bilang pantas. Tuan Ray, anak saya di fitnah oleh wanita rendahan itu, padahal anak saya baik bahkan ia ingin menolongnya. Tapi sayangnya wanita itu licik, ia mengadu pada anda bahwa Erlin mendorongnya dan lebih bodohnya lagi anda malah ke makan omongan wanita rendahan itu," cecar istri Pak Wildan.
Ray tersenyum sinis saat mendengar cecaran dari istri Pak Wildan, kemudian ia membuka hpnya yang berada di tangannya itu.
"Sepertinya ada yang mengadu pada kalian, sehingga membuat kalian berdua datang kemari, udah gitu infonya gak benar lagi, huh. Padahal saya ingin sekali memberi kejutan pada kalian, tapi ya sudahlah kalau kalian berdua sudah tahu. Jadi biar saya tunjukan pada kalian yang sebenarnya terjadi," kata Ray.
Lalu Ray menunjukkan sebuah video dari hpnya yang menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi, sontak membuat Pak Wildan dan istrinya terkejut melihatnya.
"Video ini!"
"Iya, ini yang terjadi sebenarnya, video ini saya ambil dari rekaman Cctv yang berada di sana. Bukan apa yang kalian dengar dari seseorang," pekik Ray.
"Tidak.... Pasti video sudah di edit, mana mungkin anak saya berbuat seperti itu," istri Pak Wildan pun tidak percaya.
"Oh masih belum percaya, yaudah kalau begitu," ujar Ray dan ....
Ctaak...
Ray menjentikan jari tangannya, kemudian seseorang datang, dan orang itu tak lain adalah si penjual martabak.
"Coba anda ceritakan yang sebenarnya terjadi pada mereka!" tirah Ray.
Lalu si penjual martabak itu pun membuka suara dan menceritakan kejadiannya. Sesaat setelahnya ....
"Kamu pasti bohong! Kamu pasti sudah di bayar oleh Tuan Ray," cetus istri Pak Wildan.
"Apa yang saya katakan itu benar Nyonya," ujar penjual martabak itu.
Sesaat Ray menghela nafasnya. "Haaaa.... Sudah ada saksi masih saja belum percaya, sayangku kesini sebentar!"
Zuy pun mengangguk patuh dan mendekat langsung ke arah Ray.
"Wanita rendahan! Dasar penjilat!" murka istri Pak Wildan.
Saat ia akan menerkam Zuy, pak Wildan pun langsung memegangi lengan istrinya itu.
"Lepaskan! Biar aku hajar wanita j*lang ini!" berontaknya.
"Anak sama Ibu kelakuannya benar-benar meresahkan," gumam Ray.
"Tuan Ray, maaf kalau saya ikut berbicara, tapi kenapa anda bisa sampai membuat anak kami masuk penjara, padahal kalau dia jatuh, paling juga cuma lecet dan lagi anda juga menyelamatkan wanita ini kan? Jadi terbukti kalau dia baik-baik saja," lontar Pak Wildan.
Ray lalu mencondongkan badannya ke arah Pak Wildan.
"Saya membawa anak kalian kesana, sebab anak kalian hampir melukai istri saya dan bahkan hampir membuat anak kami celaka," ungkap Ray.
Pak Wildan dan istrinya pun kembali di kejutkan dengan ungkapan dari Ray.
"Apa yang anda maksud istri dan anak?" tanya istri Pak Wildan.
Ray kembali menyunggingkan senyuman sinisnya, kemudian ia mengangkat tubuhnya menjadi berdiri tegap, lalu Ray merangkul pundak Zuy.
"Iya, wanita yang anda anggap rendahan dan j*lang ini, dia lah istri saya, sedangkan anak yang di dalam perutnya itu adalah anak saya!" jelas Ray.
"Apa! Ja-jadi wanita rendahan ini ...."
***Bersambung...
Author: "Maaf telat Updet..!!" πππ
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πππ
__ADS_1
Salam Author... πβπβ