Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Ungkapan...


__ADS_3

<<<<<


"Ciuman ini untuk membuktikan kepada Kak Zuy, bahwa Ray sangat serius dengan keputusan Ray memilih Kakak sebagai pendamping hidupku selamanya."


Ungkap Ray sambil mengusap lembut Pipi Zuy, "Maaf jika Ray keterlaluan, sudah lancang mencium Kakak seperti ini, Ray ingin Kakak tahu bahwa Ray benar-benar tulus dan sayang sama Kakak," imbuhnya


Zuy kembali menundukkan kepalanya, "Ta-tapi ...," lirih Zuy


Ray memegang dagu Zuy dan mendongakkannya ke atas, sehingga membuat pandangan mereka saling bertemu.


"Kak, dengarkan perkataan Ray, Ray tidak peduli mau usia Kakak lebih tua dari Ray atau Kakak hanya seorang OB, bagi Ray Kak Zuy tetaplah Kak Zuy. Seseorang yang selalu Ray inginkan, cukup sekali Ray kehilangan Kakak, Ray gak mau kehilangan Kakak lagi," ungkap Ray. Lalu kemudian...


Pffffft....


"Hihihi..." Zuy tiba-tiba terkekeh dan membuat Ray kebingungan


"Kenapa Kakak tertawa, memangnya ada yang lucu ya?" tanya Ray


"Tidak ada yang lucu Tuan Muda, justru Zuy malah tertegun mendengar ungkapan anda tadi," jawab Zuy.


"Lalu kenapa Kakak terkekeh seperti itu?" Ray kembali bertanya karena penasaran


"Zuy cuma heran aja Tuan Muda, anda belajar darimana kata-kata romantis seperti itu, bukankah anda sangat di kenal dengan julukan Tuan dingin. Tapi tidak di sangka ternyata bisa mengucapkan kata-kata manis seperti itu," ujar Zuy.


Mendengar itu, wajah Ray langsung memerah, ia pun segera menyandar di pundak Zuy.


"Lho Tuan Muda ada apa?" tanya Zuy.


"jangan tanya aku, aku hanya ikan," gumam Ray sambil menangkupkan wajahnya di pundak Zuy.


"Oh, ternyata malu ya, hihihi lucu banget sih," batin Zuy, "Tuan Muda.."


"Heeeunng.." sahut Ray


"Hmmm Tuan Muda, ngapain anda harus malu sih, Zuy senang kok mendengar kata-kata romantis anda Tuan, dengan begitu Zuy jadi tahu kalau anda benar-benar tulus," ungkap Zuy sambil menepuk-nepuk punggung Ray.


"Benarkah itu Kak?" Ray langsung mengangkat kepalanya.


Zuy pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu tiba-tiba...


"Uhuk..Uhuuuk..."


"Kakak kenapa, apa tenggorokan Kakak terasa panas lagi?" tanya Ray yang panik melihat Zuy batuk-batuk dan menutup mulutnya.


Zuy lalu menggelengkan kepalanya, "Zuy ingin muntah Tuan, huuummmpt."


"Apa, tahan sebentar Kak, Ray carikan tempatnya dulu," ujar Ray sambil mencari tempat untuk Zuy muntah.


Lalu Ray melihat tempat baskom yang sudah di lapisi plastik kresek di atasnya, mungkin Dokter Arif yang sudah menyediakannya, karena Dokter Arif tahu kalau setelah di infus Zuy bakalan muntah. Ray pun lalu memberikannya baskom itu ke Zuy.


"Tuan Muda menjauh sebentar..!!" titah Zuy.


Ray langsung berdiri dan menjauh dari Zuy. Benar saja Zuy langsung memuntahkan apa yang ia makan tadi, setelah selesai ia langsung menaroh baskom itu ke bawah tempat tidurnya.


"Kakak, apa sudah selesai?!!" tanya Ray


"Iya Tuan Muda.." jawab Zuy, lalu Ray kembali menghampiri Zuy.


"Bagaimana Kakak, udah enakkan setelah memuntahkannya?" tanya Ray.


"Iya sudah mendingan perutku, tapi tenggorokanku masih terasa panas dan gatal," jawab Zuy


"Apa Ray harus membalas perbuatan orang itu Kak, karena sudah membuat Kakak seperti ini?" tanya Ray


"Tuan Muda, untuk urusan ini biar Zuy saja yang melakukannya, Tuan Muda jangan melakukan apa-apa ya," pinta Zuy.


"Tapi Kak ini sangat keterlaluan, kalau sampai Kakak kenapa-napa bagaimana.." pekik Ray.


Lalu Zuy merapatkan kedua tangannya di depan dadanya, sambil memasang wajah memohon.


"Tuan Muda, kali ini saja urusan ini biar Zuy yang menanganinya, Tuan Muda tidak perlu khawatir, Zuy bisa melakukannya Tuan, Tuan Muda bersikaplah seperti biasa saja ya, Zuy mohon..!!" pinta Zuy.


Ray lalu menghela nafas panjangnya, "Hah, baiklah kalau maunya Kakak seperti itu, Ray setuju dengan permintaan Kakak," kata Ray.


"Benarkah..!! terimakasih banyak Tuan Muda," ucap Zuy dengan raut wajah yang sumringah.

__ADS_1


"Iya, yaudah Kakak istirahatlah dulu, Ray mau keluar sebentar, karena ada yang harus Ray urus, nanti kalau sudah selesai Ray balik lagi kesini," ujar Ray.


Zuy hanya menganggukkan kepalanya, lalu Ray pun melangkahkan kakinya menuju keluar.


"Tuan Muda, terimakasih untuk semuanya, tapi maaf jika suatu saat nanti Zuy mengecewakan anda," ucap Zuy, lalu ia menarik selimutnya sampai menutupi tubuhnya.


Sementara itu, Ray sudah berada di luar ruangan, lalu ia melihat Davin yang sedang duduk melamun sambil menopang dagunya, Ray langsung menghampiri Davin.


"Kak Davin.." tegur Ray sambil menepuk pundak Davin.


Sontak membuat Davin terkejut dan langsung menoleh ke arah Ray, "Eh Tuan Ray, aku pikir siapa.."


"Kak Davin lagi mikirin apa sih, sampai melamun seperti itu, hmmm apa jangan-jangan maskernya habis ya?" tanya Ray


"Maskerku masih banyak Tuan Ray, kalau anda mau beliin lagi juga tidak apa-apa, aku akan menerima dengan senang hati," ujar Davin.


Mendengar itu, Ray langsung memutar bola matanya, "Dasar si tukang maskeran, lalu kenapa Kak Davin duduk di sini, bukannya masuk ke dalam."


"Hah, untuk apa ke dalam kalau nantinya akan jadi mengganggu kalian yang asik berciuman, terus nanti di sangka setan lagi kaya waktu itu," ceplos Davin.


Ray pun terkejut mendengar ceplosan Davin, wajahnya kembali memerah karena malu, "Ja-jadi Kak Davin tadi ...."


Davin lalu memutar badannya ke arah Ray, lalu ia mengacungkan jempolnya, "Anda benar-benar hebat Tuan Ray, selangkah lebih maju."


"Ah itu bukan apa-apa...." kata Ray dengan bangganya.


"Huh dasar bikin iri saja, lalu kenapa anda tiba-tiba menciumnya Tuan?" tanya Davin yang penasaran sekaligus buat belajar kalau nanti punya pacar.


"Itu karena Kak Zuy masih meragukan perasaan Ray, dia takut kalau keputusan Ray untuk memilihnya adalah salah, Kak Zuy malah membandingkan dirinya dengan Erlin dan Kimberly," jelas Ray sambil memainkan jari tangannya.


Davin pun mendongakkan kepalanya ke atas sambil memegang dagunya, "Oh jadi seperti itu ya, cinta itu memang rumit ya," lirih Davin, "Lalu sekarang bagaimana keadaan Zuy?" sambungnya.


"Ya begitu, barusan juga Kak Zuy memuntahkan semuanya, tapi dia masih merasakan panas di tenggorokannya dan rasa gatal di tubuhnya, terutama bagian yang keluar bintik merahnya," jelas Ray.


"Oh begitu, lalu sekarang apa perintah anda untuk ini Tuan Ray?"


Ray pun menggelengkan kepalanya, "Tidak ada.." singkat Ray


"Lho kenapa tidak ada Tuan?" tanya Davin


"Oh begitu ya.." lirih Davin.


"Oh iya Kak, kau mengurus administrasinya ya!" titah Ray


"Baiklah Tuan Ray, kalau begitu saya akan pergi untuk mengurusnya," kata Davin,


"Terimakasih banyak Kak Davin.." ucap Ray


Lalu Davin bergegas pergi, sedangkan Ray masih duduk menyandar di situ, lalu ia tiba-tiba membayangkan adegan ciumannya dengan Zuy, sontak membuat ia terkejut dan langsung menepuk-nepuk pipinya agar tidak membayangkan itu terus, ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke ruang IGD.


Saat berada di dalam ruangan itu, ia langsung menghampiri Zuy, namun Zuy malah sudah tidur. Ray pun tersenyum melihat Zuy tertidur lelap, lalu ia mengusap puncak rambut Zuy dan mencium keningnya Zuy.


"Sweet dreams of My beloved Nanny," ucap Ray.


Lalu ia menarik kursi yang berada disitu, Ray pun langsung duduk di sebelah tempat tidur Zuy sambil memegangi tangan Zuy.


*******************


Rumah Pak Wildan


Setelah pesta ulang tahun Erlin berakhir dan tamu yang lainnya sudah pada pergi, Pak Wildan langsung menyuruh Erlin dan Linda untuk menjelaskan kejadian yang menimpa Zuy.


"Nah coba jelaskan semuanya, kejadian yang menimpa wanita itu, pasti ulah kalian kan?" tanya Pak Wildan.


"Bukan Papi, kami gak melakukan apa-apa, iya kan Mi.." ujar Erlin sambil melihat ke arah Linda.


"Iya Sayang, kami tidak melakukan apa-apa," timpal Linda


Braaaak...


Secara tiba-tiba Pak Wildan memukul keras meja di depannya, membuat Erlin dan Linda terkejut.


"Kalian jangan berbohong, pasti kalian kan yang melakukannya, iya kan?" sergah Pak Wildan


"I-iya Pi, Erlin yang melakukannya, habis Erlin kesal dengan Wanita OB itu, dia sudah mengambil apa yang seharusnya jadi milik Erlin," ungkap Erlin.

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu ceroboh sih Erlin, harusnya kalian tahan, jangan melakukan apa-apa, lihat akibat ulah kalian, Tuan Ray jadi marah besar, kalau sudah seperti ini, kemungkinan kamu akan di benci olehnya, bahkan ini pasti akan berpengaruh juga pada Perusahaan kita Erlin, Linda," pekik Pak Wildan.


Mendengar perkataan Pak Wildan membuat Erlin dan Linda terkejut.


"Apa..!! Lalu bagaimana sayang, Mami benar-benar tidak tahu kalau bakal jadi seperti ini, Mami hanya ingin membantu Erlin Pi, karena Erlin itu anak kita," kata Linda


Erlin lalu mendekati Pak Wildan dan bersimpuh di depan Pak Wildan.


"Pi, Erlin benar-benar minta maaf, Erlin gak sengaja, Erlin gak mau Tuan Ray marah sama Erlin, dan Erlin juga gak mau Perusahaan Papi kenapa-napa, Pi maafin kebodohan Erlin," ucap Erlin sambil menangis.


Melihat putrinya menangis, membuat hati Pak Wildan tertegun, lalu ia mengangkat tubuh Erlin.


"Maaf, tadi Papi emosi sayang," ujar Pak Wildan.


"Lalu kita harus bagaimana Pi?" tanya Linda


"Satu-satunya cara kita harus meminta maaf pada wanita itu secara langsung dan di depan mata Tuan Ray," kata Pak Wildan, "Apa kamu bisa melakukannya Erlin?"


"Iya Pi, Erlin bisa melakukannya," ujar Erlin, "OB j*lang untuk kali ini kamu menang, suatu saat nanti aku bisa menyingkirkanmu dari Tuan Ray," batin Erlin.


************


Rumah Bi Nana


Bi Nana nampak sedang menidurkan Nara, karena dari tadi Nara sangat rewel tidak seperti biasanya, mungkin karena dia mau punya adik atau karena hal lain tapi entalah. Lalu kemudian...


Ting... Tong...


Mendengar suara bel berbunyi, sontak membuat Bi Nana beranjak dari tempat tidur Nara, lalu ia bergegas keluar dari kamar Nara, menuruni tangga dan langsung menuju ke ruang depan. Sesampainya di pintu Bi Nana pun langsung membukanya.


Cekleeek


"Malam Na.." sapa seseorang yang ternyata Pak Randy


"Hmmm, lho Papi...!!" Bi Nana terkejut akan kedatangan Pak Randy.


"Iya Na ini aku.." jelas Pak Randy sambil masuk ke dalam rumah.


Bi Nana langsung mencium punggung tangan Pak Randy.


"Kenapa tidak memberitahu kalau Papi sudah sampai di Airport, pasti Nana suruh Aries buat jemput," kata Bi Nana, "Duduk dulu, biar Nana buatkan minuman,"


Pak Randy langsung duduk di sofa sambil menyandar, "Hah, biar jadi kejutan untuk kalian, apa Nara sudah tidur?"


"Baru saja dia tidur, soalnya dari tadi rewel mulu, gak tau mau apa, eh ternyata aku baru tahu sekarang kalau Nara rewel gara-gara Papinya pulang," ujar Bi Nana sambil berjalan menuju dapur.


"Kamu ada-ada saja Na," seru Pak Randy.


Tak lama kemudian, Bi Nana datang membawa minuman untuk Pak Randy, ia lalu meletakkannya di atas meja.


"Terimakasih Na," ucap Pak Randy, lalu ia langsung meminumnya.


"Bagaimana urusannya, apa udah beres semuanya?" tanya Bi Nana.


"Ya udah beres semuanya Na," jawab Pak Randy


"Oh Syukurlah kalau begitu, jadi Papi gak pergi kemana-mana lagi, jadi Papi bisa di rumah," papar Bi Nana


"Iya maaf karena sering ninggalin kamu dan Nara," ucap Pak Randy, "Oh iya Na, kamu nampak gendutan sekarang, padahal aku cuma pergi beberapa hari lho," sambungnya.


"Jangan menggodaku, gimana gak gendutan coba, semenjak adeknya Nara berada di perut, aku jadi sering doyan makan, ya otomatis aku gendutan," celetuk Bi Nana.


"Oh begitu ya," lirih Pak Randy, "Apa kamu bilang adeknya Nara...!! berarti kamu lagi hamil Na?" tanya Pak Randy yang terkejut.


"Ya, udah mau jalan 8 minggu," jawab Bi Nana


Pak Randy langsung mengelus perut Bi Nana, "Waah bentar lagi aku punya anak lagi, mudah-mudahan yang ini perempuan, jadi punya sepasang," ucap Pak Randy


"Ya semoga saja yang ini perempuan."


***Bersambung...


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... ✌😉😉✌

__ADS_1


__ADS_2