
<<<<<
"Sayangku, aku mohon jangan tinggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpa kamu sayangku. Kita sudah berjanji akan hidup bersama selamanya. Sayangku...."
Ray kembali menatap lekat wajah Zuy yang tengah terpejam sembari mengelus rambutnya. Bahkan ia pun sampai menghujani ciuman di wajah Zuy yang penuh darah itu tanpa merasa geli ataupun jijik.
"Aku mohon padamu, sayangku. Buka matamu dan bangunlah! Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, aku tidak ingin berpisah dengan mu lagi, sayangku. Karena kamu adalah wanita satu-satunya yang sangat aku cintai, dari dulu sampai sekarang ini. Aku sangat mencintaimu sayangku, kamu kebahagiaan ku, semangat ku, segalanya bagiku. Jadi aku mohon padamu sayangku, bangunlah dan hidup bahagia selamanya denganku serta anak-anak kita! Sayangkuuuu...." tangis Ray sambil kembali memeluk erat tubuh pujaan hatinya yang sudah tergolek lemas.
Davin yang melihat Ray menangis seperti itu pun langsung mendekati Ray.
"Tuan Ray, Tuan Ray...." tegur Davin sambil menepuk-nepuk tangan Ray.
Ray langsung mengangkat kepalanya sambil membuka matanya saat mendengar suara Davin sekaligus merasakan tepukan tangannya. Ia pun mengarahkan pandangannya ke Davin.
"Kak Davin!"
Davin mengangguk. "Iya Tuan Ray, ini aku Davin. Apa anda baik-baik saja?"
Seketika Ray langsung menegakkan tubuhnya sambil mengedarkan pandangannya.
"Tuan Ray, ada apa?"
"Kak Davin, kenapa aku bisa ada di sini? Di mana sayangku? Apa kalian membawanya tanpa izin dariku?" cecar Ray.
Sontak membuat Davin tercengang. "Hah! Zuy? Membawanya tanpa izin? Apa yang anda tanyakan itu, Tuan Ray? Apa anda masih belum sadar?"
Mendengar itu, Ray langsung menatap tajam Davin sambil mencengkram kuat jok yang berada di depannya itu.
"Kak Davin, aku sedang tidak becanda. Tolong katakan padaku di mana kalian membawa sayangku pergi?"
"Ck, sepertinya anda benar-benar masih berada di alam mimpi ya Tuan Ray." cetus Davin.
Kemudian Davin mengambil air minum yang berada di sampingnya dan menyodorkannya pada Ray.
"Minum dulu Tuan Ray! Supaya pikiran anda tenang." pinta Davin.
"Aku tidak butuh minum, aku hanya butuh sayangku, cepat katakan padaku, di mana sayangku berada? Apa mereka baik-baik saja?"
Sesaat Davin menghela nafasnya, kemudian ia mengambil hpnya dan menghubungi seseorang.
Tuuut...
"Iya Pak Davin...." suara seseorang dari seberang telponnya.
"Henri, kamu sekarang ada di mana?" tanya Davin.
"Saya sedang di Apartemen, Pak Davin." jawabnya yang ternyata Henri.
Sontak membuat Ray terperangah. Lalu ia pun langsung merampas hp milik Davin dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Apa ini benar kamu, Henri? bagaimana keadaan mu?" tanya Ray.
"Iya Tuan Ray ini saya, tentu saya baik-baik saja, Tuan Ray." jawab Henri membuat Ray menghela nafas leganya.
"Syukurlah kamu masih hidup dan baik-baik saja," ucap Ray dengan nada lirih.
"Anda bilang apa Tuan?" tanya Henri.
"Aku tidak bilang apa-apa, lalu di mana Nyonya?"
"Nyonya sudah di rumah, Tuan. Soalnya setelah dari rumah sakit, kita langsung pulang ke rumah tanpa singgah kemana-mana," ujar Henri.
"Tapi Nyonya gak kenapa-napa kan? Dia baik-baik saja kan?"
"Iya Nyonya baik-baik saja, Tuan."
"Syukurlah kalau begitu," ucap Ray dengan leganya.
"Maaf Tuan, memangnya ada apa ya?" tanya Henri penasaran.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin tahu saja," balas Ray. "Yaudah kalau begitu aku tutup telponnya dan terimakasih sudah mengawasinya," sambung ucapnya.
"Sama-sama Tuan Ray."
Ray lalu memutuskan telponnya.
"Kak Davin, kita pulang sekarang!" titah Ray sambil memberikan hp milik Davin.
Davin mengangguk. "Baik Tuan Ray, tapi sebelum itu anda harus minum dulu! Supaya pikiran anda tenang."
Davin kembali menyodorkan botol minumnya ke arah Ray, sekaligus mengambil hp miliknya dari tangan Ray. Dan di ambilnya botol minuman itu dari tangan Davin, Ray lalu membuka tutup botolnya dan meneguknya.
Setelah memberikan minuman pada Ray, Davin langsung menyalakan kembali mobilnya, sesaat kemudian ia melajukan mobilnya menuju pulang ke rumah.
Sebenarnya Davin ingin bertanya pada Ray, tentang apa yang terjadi, akan tetapi ia urungkan niatnya itu.
**************************
Rumah Ray
Hanya membutuhkan waktu sekitar kurang lebih dua puluh menit di perjalanan, mereka pun akhirnya sampai di rumah. Davin terlebih dahulu menghentikan mobilnya di depan rumah sebelum ia memasukkannya ke garasi.
Ray langsung turun dari mobilnya dan berlari ke arah pintu masuk rumahnya. Setibanya di depan pintu, ia pun menekan kunci sandi pintunya.
Setelah kunci pintu terbuka, Ray bergegas masuk dan menuju ke kamarnya, ia menduga bahwa Zuy sedang berada di kamarnya dan tengah tertidur.
Saat sudah berada di dalam kamarnya, Ray melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur, akan tetapi Zuy tidak ada di sana, ia pun langsung beralih ke kamar mandi dan walk in closet miliknya. Namun tetap saja Zuy tidak ada di sana. Ray akhirnya keluar dari kamarnya lagi.
__ADS_1
"Sayangku.... Sayangku, kamu di mana?" seru Ray sambil berjalan menuruni anak tangga.
Setelah pijakan anak tangga terakhir, Ray segera melangkah menuju ke dapur, dan sesampainya di dapur, Ray tiba-tiba menghentikan langkahnya karena ia melihat Zuy sedang menyiapkan minuman.
"Sayangku...." lirih Ray.
Mendengar suara khas Papah dari anak-anaknya, Zuy langsung menghentikan aktivitasnya dan menolehkan kepalanya, senyum manisnya pun terukir di wajahnya.
"Ray, selamat datang...." sambut Zuy sembari menghampiri Ray.
Dan saat mereka sudah saling berhadapan, Ray langsung memeluk erat tubuh Zuy, air matanya pun tak dapat di bendungnya lagi. Isak tangisnya mulai terdengar dari mulut Ray, sehingga membuat Zuy terkejut dan kebingungan.
"Ray, ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Zuy.
"Sayangku, apa ini benar-benar kamu?"
Bukannya menjawab pertanyaan Zuy, Ray malah balik bertanya dan membuat Zuy semakin kebingungan.
"Te-tentu ini aku Ray, wanita milik mu, ibu dari calon anak-anak mu," jawab Zuy.
Seketika Ray melepaskan pelukannya dan beralih menangkup pipi Zuy.
"Sayangku, apa kamu baik-baik saja? Apa kamu tidak terluka ataupun kesakitan?" cecar Ray.
Mendengar itu, Zuy langsung mengerenyitkan keningnya.
"Apa yang kamu tanyakan sih Ray? Tentu aku baik-baik saja, bahkan sangat baik dari sebelumnya," pekik Zuy.
"Syukurlah kalau begitu, aku benar-benar khawatir dan takut kalau kamu kenapa-napa, sayangku." ucap Ray.
Zuy lalu menurunkan tangan Ray dari pipinya, dan beralih menggenggam tangan Ray dan membawanya ke ruang tengah. Ketika sudah berada di sana, mereka berdua langsung duduk di sofa.
"Ray, sebenarnya ada apa? Kenapa pulang-pulang kamu bisa seperti ini?" tanya Zuy sambil mengusap mata Ray yang basah.
Ray lalu menceritakan apa yang terjadi pada Zuy, sehingga membuat Zuy tertegun mendengarnya, begitu pula dengan Davin yang sedang duduk di ruang utama.
"Pantas saja tadi Tuan Ray menangis seperti itu, ternyata ia bermimpi tentang Zuy yang kecelakaan," lirih Davin sambil melepaskan dasinya.
Setelah selesai bercerita, Zuy pun langsung memeluk erat tubuh Ray.
"Ray, sudah jangan menangis lagi! itu kan hanya mimpi saja. Ya mungkin karena kamu kelelahan makanya sampai mimpi seperti itu," ucap Zuy mengelus rambut Ray.
"Tapi mimpi itu seperti nyata, sayangku. Sampai membuatku ketakutan seperti ini," ujar Ray. "Sayangku, aku mohon padamu. Jangan pernah tinggalkan aku ya! Aku benar-benar tidak sanggup kalau harus hidup tanpa kamu," sambung kata Ray.
"Ray, bukankah aku sudah berjanji, bahwa sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan mu. Aku akan selalu berada di sampingmu, menemani mu, merawat mu, hidup bahagia selamanya bersama mu dan juga anak-anak kita," ungkap Zuy dengan sungguh-sungguh.
"Terimakasih sayangku dan aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia selalu."
Zuy kembali melepaskan pelukannya dan beralih memegang pipi Ray.
"Iya Ray, aku percaya bahwa kamu akan selalu membahagiakan ku. Hmmm.... Yaudah kalau gitu kamu langsung ke kamar ya dan bebersih supaya pikiran mu tenang. Nanti aku akan menyusul mu sambil membawa minuman hangat," tutur Zuy.
Sesaat setelah Ray ke kamar, Davin pun datang dan langsung duduk di samping Zuy.
"Haaaa... Ternyata seperti itu ya kejadiannya, padahal aku sempat mengira kalau Tuan Ray kemasukan setan jalanan," papar Davin.
"Lho! Memangnya Ray gak cerita ke anda, Pak Davin?" tanya Zuy.
"Hah! Boro-boro cerita Zuy, sepanjang perjalanan Tuan Ray terus saja menangis, bahkan Tuan Ray menyuruh ku ngebut supaya bisa sampai ke rumah," jawab Davin.
"Oh jadi seperti itu ya Pak Davin," lirih Zuy.
Davin mengangguk. "Iya Zuy. Aku yang melihatnya aja sampai ikut terharu, mungkin karena aku sudah lama tidak melihat Tuan Ray menangis seperti itu. Terakhir kali aku melihatnya menangis seperti itu saat kepergian Mrs Candika." ujarnya.
Seketika membuat Zuy menundukkan kepalanya.
"Maaf ya Pak Davin, kalau Zuy sudah membuatnya menangis," ucap Zuy.
"Kenapa kamu malah minta maaf Zuy? Ini bukan salahmu. Ya mungkin perkataan mu benar bahwa Tuan Ray sangat kelelahan makanya dia sampai mimpi buruk seperti itu. Euuum, lebih baik kamu segera menyusulnya ke kamar, dan tenangkan Tuan Ray!" seloroh Davin.
"Iya Pak Davin, tapi Zuy mau ke dapur dulu. Oh iya Pak Davin mau minum apa? Sekalian Zuy buatkan."
"Apa aja Zuy, yang penting jangan di buatkan susu hamil, nanti bisa-bisa aku ikutan hamil lagi, kasihan kan Tuan Ray kalau harus mengurus dua orang hamil," canda Davin
Sehingga membuat Zuy terkekeh geli mendengarnya.
"Hihihi.... Ada-ada aja Pak Davin ini."
Kemudian Zuy bangkit dari posisinya dan melangkah ke arah dapur. Sesaat setelah selesai membuatkan minuman hangat dan memberikannya pada Davin, Zuy pun segera berjalan menuju ke kamar Ray.
Kamar Ray
Sesampainya di sana, Zuy segera membuka pintunya dan melangkah masuk ke dalam, ia pun menghampiri Ray sedang duduk di sofa sambil menundukkan kepalanya.
"Ray...."
Ray perlahan mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah pujaan hatinya itu.
"Sayangku...."
Zuy lalu meletakkan minuman yang di bawanya, kemudian ia mendudukkan dirinya tepat di samping Ray.
"Ray, apa kamu masih kepikiran soal mimpi itu?" tanya Zuy.
"Iya sayangku, aku masih mengingat mimpi menyeramkan itu," jawab Ray.
Sesaat Zuy menghela nafasnya, lalu ia mengambil cangkir teh hangat dan memberikannya pada Ray.
__ADS_1
"Lebih baik kamu minum teh hangat ini! Supaya pikiran kamu lebih tenang lagi," titah Zuy.
Ray mengangguk patuh dan di ambilnya cangkir teh tersebut dari tangan Zuy, ia pun perlahan menyeruputnya. Sesaat setelahnya, ia meletakkan kembali cangkir teh yang ia pegang di atas meja.
"Terimakasih sayangku," ucap Ray.
"Sama-sama Ray," balas Zuy.
Ray lalu mendekatkan wajahnya ke arah Zuy dan ....
Cup....
Cup....
Cup....
Ray menghujani ciuman di wajah cantik pujaan hatinya itu tanpa terlewati.
"Sayangku, aku sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu, Ray."
...----------------...
—Pukul 05.00Am
Dua sejoli itu nampak masih terlelap dalam tidurnya dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh mereka.
Lalu....
"Sayangku... Jangan tinggalkan aku! Sayangku...."
Tiba-tiba Ray mengerang keras membuat Zuy yang berada di sampingnya pun jadi terbangun.
"Ray...." lirih Zuy sambil mengganti posisinya menjadi duduk.
Saat pandangannya mengarah ke Ray, ia terkejut melihat wajah Ray nampak memucat dan menggigil. Lalu saat Zuy memegang dahi Ray, ia pun merasakan panas yang tak biasa.
"Ya ampun, panas banget badannya."
Zuy segera beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah ke arah kotak P3K yang terpampang di dinding kamarnya, lalu ia pun membuka kotak P3K itu dan mengambil plester kompres.
Sesudah itu, Zuy beralih ke tempat tidur dan duduk di samping Ray, ia pun membuka plester tersebut dan menempelkannya di dahi Ray.
"Cepat sembuh tampan-ku," ucap Zuy sambil mengelus rambut Ray dan menciumnya.
Zuy kembali beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah keluar. Sesaat setelah selesai menuruni anak tangga dan berjalan menuju ke arah dapur. Akan tetapi ....
Ting Tong
Zuy langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara bel berbunyi.
"Siapa yang datang, pagi-pagi buta begini?" lirih Zuy.
Ia pun mengurungkan niatnya pergi ke dapur dan malah beralih menuju ke arah pintu masuk. Setibanya di depan pintu, Zuy langsung membuka pintunya.
Dan betapa terkejutnya Zuy saat melihat seorang laki-laki dan perempuan tengah berdiri sambil tersenyum padanya.
"Kalian....!!"
****************
Rumah Dimas
Sementara itu di kamar Maria, Maria nampak tengah mengobrol lewat telponnya.
"Mam, jangan khawatir ya! Kimberly baik-baik saja, ia hanya butuh perawatan saja," suara laki-laki dari sebrang telponnya yang tak lain adalah Archo.
"Bagaimana Mam tidak khawatir, Kimberly juga anak Mam Archo," lirih Maria.
"Iya Archo tahu Mam, Kimberly anak perempuan yang paling Mam sayangi."
"Archo, mau tidak mau kamu harus membawa Kimberly ke sini!"
"Tapi Mam...."
"Tidak ada tapi-tapi, pokoknya kamu harus membawa Kimberly! Mam ingin Bunda dan Dimas tahu bahwa Kimberly juga anak Mam, bukan hanya Zuy saja." cetus Maria.
"Apa Mam iri karena Zuy mendapatkan kasih sayang yang lebih dari Bunda dan Dokter Dimas?"
"Tidak, Mam tidak iri, Archo. hanya saja Mam ingin mereka juga berlaku adil pada Kimberly dan lagi Zuy juga sudah memiliki kasih sayang dari orang yang sangat mencintainya, meskipun Zuy mendapatkannya dengan cara menghancurkan perasaannya Kimberly."
***Bersambung....
DRAMA MINI....
Author: "Horeee Zuy baik-baik saja."
Ray: "Ehemm, berani-beraninya kamu membuatku ketakutan seperti ini." (Menatap tajam)
Author: "Waduuh! Kabur aaah.... 🏃🏃🏃"
Ray: "Berhenti! Dasar Author gak ada akhlak. 😤😤😤"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌