
<<<<<
Bi Nana pun berjalan mendekat ke arah Linda, saat sudah berada di hadapan Linda, Bi Nana menatapnya dengan tajam, lalu kemudian ....
Plaak!
......................
Beberapa waktu sebelumnya....
Kala itu Bi Nana, Irma serta anak-anak Bi Nana baru saja tiba di Villa milik keponakannya, karena semalam Bi Nana mendapat kabar dari Aries bahwa Zuy terkena musibah yaitu di serang oleh seseorang.
Tentu saja Bi Nana sangat terkejut mendengar kabar tersebut, bahkan ia sampai gak tidur karena terlalu memikirkan keponakan kesayangannya itu.
Ya meskipun Aries sudah bilang padanya untuk tidak terlalu khawatir pada Zuy karena Zuy baik-baik aja. Namun tetap saja, namanya Bi Nana orang yang sudah merawat dan membesarkan Zuy, rasa panik, khawatir serta takut sudah menyatu dan menyerang dirinya itu.
Saat mobilnya sudah terparkir, Nara terlebih dahulu turun dari mobilnya, di susul Irma sambil menggendong Rana, sesaat Bi Nana pun menyusul turun dari mobil. Lalu setelah itu, mereka melangkahkan kakinya menuju ke arah Villa.
Namun langkah mereka terhenti karena melihat sebuah mobil datang seraya membunyikan klaksonnya. Lalu setelah mobil tersebut berhenti tak jauh dari Bi Nana berdiri, seseorang pun perlahan turun dari mobil tersebut dan ternyata dia adalah ....
"Nyonya Artiana!" lirih Bi Nana.
Bunda Artiana menyunggingkan senyumnya seraya berjalan mendekat ke arah Bi Nana, lalu mereka saling berjabat tangan secara bergantian.
"Apa kabar Nyonya?" tanya Bi Nana.
"Kabar Bunda baik Na, lalu sebaliknya?" jawab Bunda Artiana sekaligus bertanya kembali.
"Kabar kami juga baik Nyonya."
"Oh, Syukurlah kalau begitu," ucap Bunda Artiana.
Bi Nana tersenyum, lalu kemudian Dimas datang sambil menggendong Nayla menghampiri Bunda Artiana dan lainnya.
"Nyonya Nana," sapa Dimas seraya mengulurkan tangannya dan di balas uluran tangan oleh Bi Nana.
"Eum, maaf sebelumnya! Dokter Dimas dan Nyonya datang kemari, apa jangan-jangan kalian berdua sudah tahu tentang keadaan Zuy?" tanya Bi Nana.
Dimas dan Bunda Artiana pun menganggukkan kepalanya secara bersamaan.
"Iya Na, semalam Dimas cerita ke Bunda tentang apa yang terjadi pada cucuku," ujar Bunda Artiana.
Seketika pandangan Bi Nana beralih ke arah Dimas.
"Memangnya Dokter Dimas tau dari siapa kalau Zuy mendapat musibah?" Bi Nana penasaran sehingga bertanya.
"Itu...." memberi jeda bicara. "Euh, sebenarnya kemarin saya bersama dengan anak dan istri saya ada di tempat kejadian Nyonya. Saat hendak ke toilet, saya melihat para pengunjung sedang berkerumun di sana, kami bertiga pun langsung mendekat ke arah kerumunan itu dan bertanya. Lalu salah satu dari mereka bilang kalau ada seorang wanita yang di serang. Dan saya benar-benar terkejut sekaligus tidak menyangka bahwa wanita yang di serang itu adalah Zuy, karena awalnya saya mengira kalau wanita yang di serang itu adalah orang lain. Setelah itu saya langsung membawanya ke rumah sakit untuk di obati luka-lukanya itu." jelasnya dengan panjang.
Bi Nana manggut-manggut.
"Oh jadi begitu ya Dok."
Dimas mengangguk. "Iya Nyonya Nana dan lagi Maafkan saya karena terlambat dan tidak bisa melindungi Zuy dari serangan orang itu. Saya benar-benar tidak tahu kalau Zuy ada di Mall itu juga." ucapnya menunduk.
Mendengar ucapan Dimas, Bi Nana pun menghela nafasnya sejenak.
"Dokter Dimas, anda tidak perlu meminta maaf seperti itu! Justru saya yang seharusnya berterima kasih pada anda, karena sudah membawa keponakan saya ke rumah sakit." ujar Bi Nana. "Terimakasih ya Dokter Dimas," sambungnya.
Dimas tersenyum dan berkata, "Sama-sama Nyonya Nana."
Lalu....
"Mamih...." Nara memanggil Mamihnya seraya menarik-narik bajunya.
Seketika Bi Nana langsung beralih ke anak laki-lakinya itu.
"Ada apa sayang?"
"Ayo buruan kita ke Kakak!"
"Iya Nara, sebentar!" Bi Nana menengadah kepalanya melihat Dimas dan Bunda Artiana. "Nyonya, Dokter Dimas ayo kita kesana! Biasanya kalau jam segini si kembar lagi berjemur," sambungnya.
Dan di balas anggukan kepala oleh Dimas dan Bunda Artiana. Kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju ke arah Villa.
Sesampainya di Villa, Bi Nana dan lainnya melihat Zuy sedang mendorong stroller si kembar hendak masuk ke dalam Villanya, sontak Bi Nana pun langsung memanggil keponakannya itu.
"Zuy...."
Suara Bi Nana memanggil Zuy pun berhasil membuat Zuy menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah Bi Nana serta lainnya, seketika senyumnya Zuy mengembang sempurna.
"Bi Nana, Nenek, Dokter Dimas, Mba Irma." lirih Zuy menyebut mereka satu-persatu.
Zuy segera menghampiri Bi Nana serta lainnya, kemudian ia menyalami mereka semua secara bergantian. Lalu....
"Cucuku, apa yang terjadi denganmu? Kenapa tangan dan dahi kamu di perban begini?" tanya Bunda Artiana yang pura-pura tidak mengetahui.
"Oh ini kecelakaan Nek karena Zuy kurang hati-hati," jawab Zuy.
"Hmmm..., lain kali hati-hati Nak! Lalu bagaimana kabar kamu, cucuku?" Bunda Artiana mengelus rambut cucunya itu.
"Kabar Zuy baik Nek, bagaimana dengan Nenek?"
"Kabar Nenek juga baik-baik aja," jawab Bunda Artiana.
Akan Bunda Artiana tidak memberitahu Zuy bahwa kakinya Bunda masih sakit akibat terjatuh di kamar mandi karena Bunda tidak ingin cucunya khawatir.
"Syukurlah kalau kabar Nenek baik-baik aja," ucap Zuy.
Lalu sesaat Zuy mengajak mereka semua masuk ke dalam dan saat sudah berada di ruang tamu, ia mempersilakan Bi Nana dan lainnya untuk duduk.
Bunda Artiana dan Dimas langsung mendudukkan dirinya di atas sofa, sedangkan Bi Nana masih tetap berdiri dan terus menatap Zuy dengan tatapan tidak biasa.
"Kenapa Bi Nana menatap ku seperti itu?" batin Zuy keheranan.
Sesaat....
"Irma...." Bi Nana memanggil Irma.
"Iya Nyonya...." Irma menghampiri Bi Nana.
"Bawa anak-anak ke dalam!" titah Bi Nana.
Irma langsung menuruti perintah Bi Nana, lalu ia pun membawa anak-anak ke ruangan lainnya.
Setelah itu Bi Nana berjalan mendekat ke arah Zuy, dan saat mereka sudah saling berhadapan, Bi Nana memandangi dahi beralih ke sudut bibir Zuy dan lengan Zuy yang terluka, seketika air matanya pun langsung mengalir membasahi pipinya karena melihat kondisi keponakan kesayangannya itu.
"B-Bi Nana!"
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kamu bisa di serang orang dan sampai terluka seperti ini? Dan lagi kenapa kamu gak bilang Bi Nana soal ini? Kalau bukan karena Aries yang memberitahu Bibi, mungkin sampai sekarang Bibi tidak tahu bahwa kondisi kamu seperti ini." cecar Bi Nana.
Zuy menundukkan kepalanya. "Maaf Bi! Bukannya Zuy gak mau bilang ke Bibi, hanya saja Zuy gak mau Bibi khawatir soal keadaan Zuy."
"Kamu bilang kalau kamu gak mau bikin Bibi khawatir? Tapi sekarang kamu sudah membuat Bibi khawatir dan bahkan Bibi sampai tidak bisa tidur karena mikirin kamu, Zuy. Udah berapa kali Bibi bilang kalau ada apa-apa langsung kabari Bibi, tapi kamu selalu saja tidak pernah mendengar perkataan Bibi." pekik Bi Nana dengan nada meninggi.
"Maafin Zuy, Bi! Zuy memang salah, tidak pernah mendengar perkataan Bibi." ucap Zuy yang terus menundukkan kepalanya karena ia tidak berani menatap Bibinya saat Bi Nana tengah marah.
"Angkat kepala kamu dan lihat Bibi, Zuy!" pinta Bi Nana.
Mendengar itu pun Zuy perlahan mengangkat kepalanya dan di tatapnya wajah Bi Nana dengan mata yang berkaca-kaca seakan-akan ingin menangis, lalu tiba-tiba Bi Nana langsung memeluk erat tubuh keponakannya itu membuat Zuy terperangah bahkan air mata yang ia tahan langsung lolos mengalir membasahi pipinya.
"Zuy, maaf kalau Bi Nana marah! Tapi Bibi benar-benar khawatir sama kamu, Bibi benar-benar takut terjadi sesuatu pada kamu, Zuy. Bibi gak mau kamu kenapa-napa. Sudah cukup Bibi kehilangan Paman kamu dan Bibi gak mau kehilangan kamu karena kamu adalah anak kesayangan Bibi." kata Bi Nana tersedu-sedu.
Zuy pun tertegun mendengar perkataan dari Bi Nana, sehingga tangisnya pecah di pelukan Bibinya itu. Dan bukan hanya Zuy saja, Dimas dan Bunda Artiana pun ikut menitihkan air matanya.
Sesaat kemudian Bi Nana melepaskan pelukannya dan beralih memegang pipi Zuy seraya mengusap air matanya.
"Sekarang cerita ke Bi Nana, siapa yang sudah membuat mu terluka seperti ini?" tanya Bi Nana.
__ADS_1
Zuy terlebih dahulu menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Bi Nana.
"Yang melakukan ini Nyonya Linda, Bi." jawab Zuy.
"Nyonya Linda? Siapa dia?"
"Dia adalah Ibu dari Nona Erlin, yang waktu itu Zuy pernah cerita ke Bi Nana."
Bu Nana mengerenyit. "Erlin? Maksudmu Erlin yang waktu itu hampir membuat kamu dan anak-anak kamu celaka?" cecarnya.
Seketika membuat Bunda Artiana terkejut mendengarnya dan langsung menatap Dimas yang berada di sampingnya itu.
"Nanti Dimas ceritain ya Bunda, tentang apa yang terjadi waktu itu," ujar Dimas, karena dengan membaca tatapan mata Bunda, Dimas tau kalau Bundanya akan bertanya padanya.
Sebab waktu itu Dimas tidak cerita ke Bunda Artiana tentang apa yang terjadi pada Zuy saat Zuy masih tengah mengandung si kembar.
(Kisahnya sudah ada di episode 164-167)
Lalu dengan cepat Zuy menganggukkan kepalanya.
"Iya Bi, Nona Erlin yang waktu itu hampir membuat Zuy dan anak-anak celaka," ujar Zuy.
"Tsk, kurang ajar! Bukan hanya anaknya saja yang ingin mencelakai keponakan ku, tapi orang tuanya pun sama," sungut Bi Nana.
Zuy mendesah. "Nyonya Linda melakukan itu mungkin dia masih dendam sama Zuy, Bi. Nyonya Linda selalu menganggap Zuy orang yang sudah membuat Nona Erlin masuk ke dalam penjara," jelasnya.
"Kenapa dia harus seperti itu dan menyalahkan orang lain? Harusnya anaknya tuh yang di salahkan karena hampir mencelakai orang lain. Anak salah di belain tapi masih di belain, orang tua macam apa itu!" cicit Bi Nana.
"Ya mungkin karena Nona Erlin anak satu-satunya, Bi."
"Ciih," Bi Nana berdecak.
Sesaat Henri datang membawa sebuah kantong, sebelum menghampiri Zuy, ia terlebih dahulu menyalami Dimas dan Bunda Artiana. Setelah selesai, ia pun menghampiri Zuy dan Bi Nana.
"Nyonya Nana," sapa Henri mengangguk sopan.
"Iya Henri." sahut Bi Nana.
Kemudian Henri beralih ke arah Zuy.
"Nyonya, ini pesanan anda! Mau di taruh di mana?" tanya Henri menunjukkan kantong yang ia bawa itu.
"Bawa ke dapur aja Hen!" pinta Zuy.
Henri mengangguk patuh. "Baik Nyonya."
Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke dapur, akan tetapi....
"Henri...." panggil Bi Nana.
Seketika membuat Henri menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah Bi Nana.
"Iya Nyonya Nana," sahutnya.
"Kamu bisa antar aku tidak?" tanya Bi Nana.
"Tentu saja bisa Nyonya, tapi saya mau bawa pesanan Nyonya dulu ke dapur." ujar Henri.
"Oh yaudah aku tunggu!"
"Iya Nyonya."
Henri melangkahkan kakinya kembali menuju ke dapur.
"Memangnya Bibi mau kemana?" tanya Zuy.
"Bibi ada urusan sebentar, sekalian mau beli makanannya Rana. Soalnya Bibi tadi buru-buru jadi lupa bawa," jawab Bi Nana, namun ada kebohongan dalam dirinya.
"Oh...." lirih Zuy yang percaya dengan Bibinya itu.
"Hmmm, aku menduga bahwa Nyonya Nana akan menemui wanita yang bernama Linda itu," batin Dimas.
Sesaat Henri pun kembali dari dapur.
"Nyonya Nana, apa kita berangkat sekarang?" tanya Henri.
"Iya, kita berangkat sekarang. Pakai mobil saya aja ya dan ini kuncinya!" ujar Bi Nana sembari memberikan kunci mobilnya pada Henri.
Henri mengambil kunci mobil yang berada di tangan Bi Nana.
"Yaudah kalau gitu Bibi berangkat ya!" pamit Bi Nana.
"Iya Bi, hati-hati ya!" ucap Zuy mencium punggung tangan Bibinya.
Bi Nana beralih berpamitan pada Dimas dan Bunda Artiana. Mereka berdua pun mengucapkan kata 'Hati-hati' pada Bi Nana.
Kemudian Bi Nana dan Henri melangkah keluar, sedangkan Zuy mendudukkan dirinya di atas sofa berhadapan dengan Nenek dan pamannya itu, lalu mereka pun mengobrol bersama.
Sesaat setelah berada di tempat parkir, Henri langsung membuka pintu mobilnya untuk Bi Nana.
"Silahkan Nyonya Nana!"
Bi Nana pun masuk ke dalam mobilnya di susul dengan Henri sebagai pengemudinya, kemudian ia menyalakan mobilnya.
"Hen, ke kantor polisi!" titah Bi Nana.
"Kantor polisi? Apa Nyonya ingin menemui wanita yang menyerang Nyonya Zuy?" tanya Henri.
"Iya, aku ingin menemuinya, Hen." balas Bi Nana.
"Baiklah kalau begitu, saya akan membawa anda kesana Nyonya," ujar Henri.
"Terimakasih."
"Sama-sama Nyonya."
Lalu kemudian Henri melajukan mobilnya menuju ke Kantor polisi.
Flashback end.
......................
Plaak!
Satu tamparan keras dari Bi Nana yang mendarat di pipi Linda, berhasil membuat Linda terkejut dan langsung menolehkan kepalanya ke arah Bi Nana.
"Siapa kamu? Berani sekali kamu menampar ku!" cerca Linda.
"Memangnya kenapa kalau saya berani menampar anda, hah! Anda juga berani menyerang dan melukai anak saya." sergah Bi Nana yang terus menatap tajam Linda.
"Menyerang anak anda?" lirih Linda, sesaat sebuah seringai muncul di bibir Linda. "Heh, jadi kamu orang tua si wanita p*lacur itu!"
"Kamu bilang apa barusan?"
"P*lacur, anak anda memang p*lacur kan."
Mendengar itu, sontak membuat amarah Bi Nana memuncak.
"Beraninya kamu mengatai anak saya p*lacur." pekik Bi Nana.
Ia pun langsung menarik keras rambut Linda dan bukan hanya itu saja, Bi Nana bahkan menamparnya berkali-kali sampai pipi Linda memar dan meringis kesakitan.
"Lepaskan aku sial*n! Beraninya kamu menyakiti ku, apa kamu tidak tahu kalau aku adalah calon mertua dari orang kaya, hah!"
"Lantas kenapa kalau anda calon mertua dari orang kaya, apa anda mau mengadu padanya? Silahkan saya tidak akan takut. Justru kalau saya ikut di penjara, anda yang tidak akan bisa selamat dari cengkeraman saya," papar Bi Nana yang semakin memperkuat menarik rambut Linda.
Sedangkan Henri yang di sana bukannya melerai justru malah asik menontonnya.
__ADS_1
"Tolong! Ada wanita gila ingin membunuh saya," teriak Linda.
Mendengar itu, salah satu petugas pun langsung menghampiri mereka.
"Nyonya apa yang anda lakukan? Lepaskan dia Nyonya!" seru petugas yang bernama tag Iis.
"Untuk apa saya melepaskan wanita k*parat ini, karena dia putri saya jadi terluka." pekik Bi Nana.
"Iya saya tahu Nyonya, tapi anda jangan seperti ini! Nanti bisa-bisa anda juga bisa di salahkan, Nyonya!" tutur Iis, kemudian ia melihat ke arah Henri. "Tuan kenapa anda hanya menonton saja! Cepat bantu saya!" sambung pekiknya.
Sejenak Henri menghela nafasnya, lalu ia mendekat ke arah mereka.
"Nyonya, lebih baik anda lepaskan wanita gila ini! Jangan sampai anda mengotori tangan anda karenanya." tutur Henri.
Sesaat Bi Nana langsung melepaskan tangannya dari rambut Linda.
"Dasar wanita sial*n kau berani membuat ku terluka. Awas aja akan aku adukan ini pada suamiku." cerca Linda sekaligus menggertak Bi Nana.
"Adukan saja! Lagian suami mu juga tidak bisa berbuat apa-apa karena dia bakalan membusuk di penjara seperti anakmu yang j*lang itu." cicit Bi Nana.
"Jangan menyebut Erlin j*lang!" teriak Linda yang tidak terima kalau anaknya di sebut j*lang.
Bi Nana lalu mencondongkan tubuhnya ke Linda.
"Memangnya kenapa kalau saya menyebutnya j*lang? Apa anda sakit hati dan tidak menerimanya, Hah! Itulah yang saya rasakan saat anda menyebut anak saya p*lacur. Dasar wanita gila!" sergah Bi Nana membuat Linda murka.
Linda lalu mengangkat tangannya dan hendak menyerang Bi Nana, akan tetapi dengan sigap Iis langsung menahan Linda, begitu pula dengan Henri yang berdiri di depan Bi Nana seraya melindunginya.
"Lepaskan aku! Biarkan aku memberi pelajaran pada wanita tak tau diri ini!" pekik Linda yang mencoba melepaskan diri dari Iis. Lalu....
"Diam!" sentak Iis seketika Linda langsung tertunduk diam.
Kemudian pandangan Iis beralih ke Bi Nana dan Henri.
"Maaf Tuan, Nyonya. Saya minta pada kalian berdua, tolong tinggalkan tempat ini!" pinta Iis.
"Baiklah kami akan pergi, saya juga minta pada anda untuk memberikan hukuman seberat-beratnya pada wanita gila ini!"
"Itu sudah tugas kami, Nyonya."
"Terimakasih Bu," ucap Bi Nana.
"Iya sama-sama."
Bi Nana dan Henri lalu bergegas pergi meninggalkan Kantor Polisi, sedangkan Iis kembali memasukkan Linda ke tempatnya semula.
...----------------...
Waktu terus berjalan begitu cepat, tak terasa malam hari pun telah tiba dan sekarang sudah menunjukkan pukul 09.50pm.
Villa Z&R
Kala itu Ray baru saja keluar dari kamar mandi karena baru menyelesaikan aktivitas mandinya. Dengan masih menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, ia berjalan menuju ke arah ranjangnya dan duduk di tepi ranjangnya. Setelah itu Ray mengambil air minumnya yang berada di atas nakas dan meneguknya sampai habis.
Lalu sesaat Zuy keluar dari kamar anak-anaknya dan mendekat ke arah Ray.
"Udah mandinya?" tanya Zuy.
Ray tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, udah sayangku," jawab Ray.
"Oh, kalau gitu aku ambil baju tidur kamu dulu ya!" kata Zuy.
Saat hendak beranjak, Ray tiba-tiba menarik tangan Zuy dan menempatkannya di pangkuannya.
"Sayangku, jangan ambil baju tidur ku dulu!"
"Lho memangnya kenapa Ray? Kalau kamu gak buru-buru pakai baju nanti kamu masuk angin, apalagi kamu telanjang dada seperti ini!" tutur Zuy.
Seketika membuat Ray menghela nafas panjangnya.
"Sayangku, apa kamu melupakan apa yang kamu katakan tadi pagi?"
Zuy mengerenyit. "Hmmm, memangnya aku mengatakan apa tampan-ku?"
"Haa.... Sepertinya aku harus mengingatkan sayangku." lirih Ray.
Ia pun langsung mendekatkan wajahnya seraya mendorong tengkuk leher pujaan hatinya itu sehingga bibir keduanya menyentuh, kemudian Ray mencium dan menyesapnya hingga mendalam. tiga menit kemudian Ray melepaskan tautannya.
"Apa kamu sudah mengingatnya sayangku?" tanya Ray.
Zuy tersenyum sambil mengalungkan tangannya ke leher pria tampan di hadapannya itu.
"Kalau itu tentu saja aku mengingatnya Ray. Tapi kamu harus pakai baju dulu biar gak masuk angin." ujar Zuy.
"Untuk apa memakai baju sayangku, begini saja sudah cukup praktis tinggal langsung di buka saja," lontar Ray.
Seketika membuat Zuy memutar bola matanya dengan malas. Lalu sesaat Ray kembali memainkan bibirnya menelusuri wajah, leher serta tubuh Zuy, bukan hanya itu saja, kedua tangannya pun sudah aktif menelusuri bagian tubuh Zuy membuatnya meringis akibat ulah Ray, setelah keduanya sama-sama panas, akhirnya....
(Hareudang lagi dah, jomblo atau bocil skip aja ya... 🤣🤣✌️)
**************************
AMERIKA
Pagi itu, di rumah sakit yang terletak di salah satu Kota yang berada di Amerika. Terlihat Liora sedang berada di dalam kamar rawat VVIP A dan kamar tersebut tak lain adalah kamar rawat Kimberly. Dan di luar kamar rawat itu juga nampak dua anggota kepolisian yang berjaga.
Ya beberapa hari yang lalu setelah sadar, Kimberly langsung di pindahkan ke ruang perawatan.
Liora duduk di samping Bed pasien sembari mengupas buah dan memberikannya pada Kimberly.
"Makan buah yang banyak supaya kamu cepat sembuh!" tutur Liora.
"Terimakasih Aunty," ucap Kimberly, ia pun memakan buah yang di berikan oleh Liora.
Lalu sesaat....
"Aunty...."
"Iya Kim?"
"Daddy sama Archo kenapa tidak datang menjenguk ku? Apa mereka sudah tidak peduli lagi pada ku sama seperti Mam yang pergi ninggalin aku," cecar Kimberly.
Mendengar itu, Liora menggenggam tangan Kimberly.
"Hei jangan bicara seperti itu! Daddy sama Archo sedang ada urusan Kim, makanya mereka belum bisa menjenguk kamu," ujar Liora.
"Tapi urusan apa Aunty? Apa urusan mereka ada hubungannya dengan anak Mam?"
"Anak Maria! Maksudmu apa Kim?"
Sebelum berkata, Kimberly terlebih dahulu menarik nafas dan membuangnya.
"Waktu itu, sebelum Archo pergi ke Indonesia, dia datang menjenguk Kim di tahanan. Lalu ia bercerita kalau Mam punya anak lagi selain aku dan usia anak Mam itu sama seperti Archo, bahkan ia juga mengatakan bahwa anak Mam sudah melahirkan dan Mam sekarang sudah punya cucu," jelas Kimberly.
Sontak Liora pun sangat terkejut mendengarnya, bahkan tanpa sadar ia menjatuhkan pisau dan buah yang berada di tangannya itu.
"Apa! Ma-Maria punya anak dan cucu?"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1