
<<<<
"Pi, kita jenguk Tuan Ray ya, kan biar Tuan Ray tau kalau Erlin sangat perhatian sama Tuan Ray," kata Erlin
"Duh kamu memang perhatian, Tuan Ray gak akan menyesal kalau punya istri sepertimu, baiklah besok kita jenguk Tuan Ray," tutur Pak Wildan.
"Terimakasih Papi," ucap Erlin, "Tuan Ray tunggu Erlin ya," batin Erlin.
Linda mengelus kepala Erlin dan berkata, "Kamu harus dapetin dia ya, karena Mami ingin sekali punya menantu seperti Rayyan."
"Pasti Mami, kan Mami tau kalau Erlin dari dulu selalu mendapatkan semua apa yang Erlin mau, dan sekarang Erlin akan berusaha untuk mengambil hati Tuan Ray, dan tidak lama lagi ia akan jatuh ke pelukan Erlin," kata Erlin dengan penuh semangat.
Linda lalu Memeluk Erlin, "Kamu memang anak Mami yang paling Mami sayangi."
"Eeh anak Papi juga," sambung Pak Wildan.
Erlin pun memeluk kedua orang tuanya, "Erlin anak Papi dan Mami," ujarnya.
*****
Rumah Ray
Sementara itu beberapa saat sebelumnya, Friska dan lainnya pun masih berada di rumah Ray, mereka masih mengobrol.
"Oh iya Zuy, kenapa kamu tadi gak masuk kerja?" tiba-tiba Rere bertanya seperti itu.
Zuy terkejut mendengar pertanyaan Rere, ia pun terdiam dan bingung harus menjawab apa, namun ....
"Bukannya tadi aku sudah bilang kalau Zuy itu lagi ada urusan mendadak," kata Friska
"Iya Bu, Rere ingin tau aja kok," ucap Rere
Zuy lalu melihat ke arah Friska, dan Friska langsung menganggukan kepalanya, seakan-akan memberikan isyarat pada Zuy. Zuy pun mengerti apa yang di maksudkan Friska.
"I-iya, Zuy tadi ada urusan penting, jadi Zuy terpaksa hari ini gak masuk kerja," jawab Zuy.
"Oh, aku kira kamu sedang sakit Zuy, tapi Syukurlah kalau kamu baik-baik saja," kata Rere
Zuy pun tersenyum. "Terimakasih Bu Rere sudah peduli dengan saya," ucapnya.
Ray terpanah melihat Zuy tersenyum dan di hatinya berkata, "Kak Zuy kalau tersenyum nambah cantik, ha... Tapi aku bersyukur semua orang di Perusahaan pada perhatian dengan Zuy."
Davin yang melihat Ray menatap Zuy, langsung mendekat ke Ray. "Ehemmm Tuan, kalau anda menatap Zuy seperti itu, aku akan pastikan kalau malam ini kau akan bermimpi lagi," bisik Davin dengan niat menggoda Ray.
Ray langsung menatap Davin dengan tajam, dan dengan sengaja ia menginjak kaki Davin.
"Aww.. aduduh.." rintih Davin sambil memegang kakinya.
Yang lain langsung menoleh ke arah Davin, "kenapa Pak Davin?" tanya Friska
"Sepertinya kakinya terbentur meja," jawab Ray.
"Oh begitu ya. Hati-hati Pak," ucap Friska.
"I-iya Bu Friska," lirih Davin, "Tuan Ray bener2 deh," gumam Davin di hati.
Zuy langsung memicingkan matanya ke arah Ray, karena ia tahu kalau Davin kesakitan gara-gara ulah Ray, Ray yang sadar sedang di liatin Zuy, Ray langsung memalingkan pandangannya.
"Hah Tuan Muda ada-ada saja," batin Zuy.
Lalu Citra tiba-tiba menghampiri Davin, "Pak Davin, anda benar-benar tidak apa-apa, apa kaki anda terluka?" tanyanya.
"Ah, aku tidak apa-apa," jawab Davin
"Syukurlah kalau begitu, aku khawatir kalau kaki Pak Davin terluka," kata Citra.
Davin tertegun dengan perkataan Citra. "Waah.. terimakasih banyak sudah mengkhawatirkan ku," ucap Davin sambil tersenyum.
Wajah Citra langsung memerah, dan ia langsung duduk menjauh dari Davin. "Kenapa kamu malah jadi menjauh gitu, apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Davin
"A-aku, gak kok wajah Pak Davin mungkin aku yang aneh, eh aduh maaf Pak," kata Citra dengan gugupnya.
Melihat gelagat si Citra yang aneh, semua yang di situ melihat ke arah Citra.
"Ke-kenapa kalian melihatku seperti itu, apa ada yang salah dengan ku, atau wajahku aneh?!!" tanya Citra yang kebingungan.
Friska pun langsung tersenyum dan menjawab pertanyaan Citra, "Tidak ada yang aneh kok Cit."
"Ah Syukurlah, Citra pikir ada yang aneh sama citra," papar Citra.
Triiiiing.....
Suara Hp Friska pun berbunyi, Friska langsung menjawab telpon tersebut, ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke arah pintu.
Airin pun mendekat ke Zuy, "Zuy, harusnya aku gak ikut, bener2 canggung gini," bisik Airin
"Aku juga sama sepertimu Rin, tapi ya mau gimana lagi," lirih Zuy.
"Hah.."
Lalu Friska pun kembali, "Maaf Tuan Ray Pak Davin sepertinya saya harus segera pulang," kata Friska.
"Kenapa buru-buru Bu?!!" tanya Ray.
__ADS_1
"Tadi suami saya menelpon, lagian kan kalau ibu hamil gak boleh keluar malam, harus ada di rumah sebelum malam," kata Friska
"Emang begitu ya Bu Friska?!!" tanya Airin
Friska pun langsung menjawab, "Ya menurut kepercayaan orang dulu, karena ibu saya juga termasuk, jadi saya mau gak mau harus nurut."
"Tuh Zuy, dengerin kata Bu Friska, nanti kalau hamil jangan suka keluyuran malam-malam ya.." Airin mulai menggoda Zuy.
"Lha kok jadi saya yang kena, kan kamu tadi yang nanya ke Bu Friska," gerutu Zuy.
"Duh ini anak berdua, kalau udah ngumpul pasti deh begitu," celetuk Bi Nana yang tiba2 muncul.
"Habisnya kalau gak godain Zuy gak seru Tante, hehehe.." ujar Airin.
Zuy pun menoel pipi Airin, "Huu dasar..."
"Ayo siapa yang mau ikut pulang?!!" tanya Friska
"Kami ikut..," jawab Rere, Citra, dan Airin
Airin pun memeluk Zuy, "Aku duluan ya Zuy, awas jangan ngelakuin aneh-aneh ya," bisik Airin lagi2 menggoda Zuy.
"Airin, iya kamu hati2 ya, siapa tau Brian ada di depan rumahmu," papar Zuy.
"Hmmm kalau beneran dia disana, pasti aku usir dia," celetuk Airin.
"Hust kamu mah..," lirih Zuy.
Citra pun menghampiri Davin dengan penuh rasa malu, "Euum.. Pak Davin, Citra pulang dulu ya, Pak Davin jangan lupa istirahat ya," tutur Citra
"Terimakasih banyak Cit, kamu bener2 perhatian," ucap Davin, Citra pun tersipu malu.
"Eheeem.... dasar anak muda," lirih Friska,
"Ma-maaf Bu Friska.." ucap Citra
"Yaudah kami pamit dulu Tuan Ray, Tante dan semuanya," ucap Friska.
"Iya terimakasih banyak sudah menjenguk, hati-hati di jalan," kata Ray
Lalu mereka pun langsung masuk ke mobil dan pergi, Ray dan lainnya pun masuk ke dalam rumah.
"Hah, aku ke kamar dulu ya Tuan, Tante, mau bebersih dulu," kata Davin sambil berjalan menuju ke atas.
Zuy pun langsung membereskan gelas bekas mereka, dan membawanya ke dapur.
Nara tiba-tiba merengek, "Mami pulang..!!"
"Bentar ya, kita tunggu Kak Aries dulu," ujar Bi Nana
"Iya sayang, makanya tunggu sebentar lagi ya, nanti kita pulang," tutur Bi Nana.
Ray pun menghampiri Nara, "Hai ganteng, mau gendong sama Om?" tanya Ray, Nara pun langsung menganggukan kepalanya, lalu Ray pun menggendong Nara, tak lama kemudian...
Tok Tok Tok..
"Ah itu pasti Aries," Bi Nana pun langsung berjalan menuju pintu, dan membuka pintunya.
"Maaf Tan telat, tadi Aries muter-muter nyari alamat rumahnya," kata Aries
"Eh Kak Aries, silahkan masuk..!" suruh Ray.
Lalu Aries pun masuk ke dalam, "Tuan Ray bagaimana keadaan anda?" tanya Aries
"Oh, udah mendingan Kak," jawab Ray
"Oh Syukurlah, oh iya ini saya buatin kroket untuk anda Tuan," kata Aries menyerahkan makanan ke Ray.
Ray pun langsung mengambil dari tangan Aries, "Terimakasih banyak Kak Aries," ucap Ray.
"Lho Kak Aries udah datang," seru Zuy menghampiri Aries.
"Oh hai Zuy, iya tadi sempat nyasar juga," ujar Aries, "Lho Zuy kenapa dengan wajahmu?" tanya Aries
"Ah, ini karena jatuh kemaren, sebab Zuy gak hat ...,"
Lalu Aries mendekat ke Zuy dan memegang pipi Zuy, "Lain kali hati-hati ya..!" tutur Aries.
Ray yang melihatnya pun merasa kesal karena cemburu, Zuy pun lalu melepaskan pegangan Aries.
"Zuy sudah gak apa-apa, lain kali Zuy bakal hati-hati, terimakasih Kak Aries," ucap Zuy
"Maaf Zuy, aku hanya khawatir," kata Aries.
"Kak Aries jangan pegang-pegang Kakak, hanya Nara yang boleh pegang Kakak," seru Nara
"Iya maafin Kakak ya, ayo kita pulang!!" ajak Ray
"Yaudah Tante ambil tas dulu," lalu Bi Nana pun berjalan menuju ke kamar.
Tinggal mereka bertiga di tambah Nara, tapi mereka pun hanya terdiam tanpa bicara apapun, lalu Bi Nana pun datang.
"Ayo Aries, Zuy apa kamu mau ikut pulang dengan Bi Nana, atau kamu masih mau di sini?" tanya Bi Nana
__ADS_1
"Zuy di sini dulu Bi," jawab Zuy
"Yaudah kalau gitu, Tuan Muda Bibi titip Zuy ya, awas jangan ngelakuin aneh-aneh ya," tutur Bi Nana
"Iya Bi, Ray akan jagain Kak Zuy, tenang Ray gak akan apa-apain Kak Zuy," kata Aries dengan penuh semangat.
Aries pun langsung terdiam, di hatinya pun berkata, "Apa yang terjadi, kenapa Tante membiarkan Zuy di sini bersama dengan Ray."
Melihat Aries terdiam, Bi Nana pun menepuk pundak Aries, "Ries, kok malah ngelamun, ayo kita pergi.!!" ajak Bi Nana
"Oh iya Bi, Tuan Ray, Zuy kita pamit ya.." kata Aries
Nara pun gak mau ketinggalan, ia pun langsung memeluk dan mencium pipi Zuy, "Kakak Nara pulang ya,"
"Iya sayang, kalian hati-hati ya, Kak Aries jangan ngebut ya!!" kata Zuy.
Aries pun menganggukan kepalanya, dan mereka pun langsung naik ke mobil dan pergi dari rumah Ray.
"Hah, mau beresin di dapur, habis itu Zuy pulang," ujar Zuy sambil berjalan menuju ke dalam rumah.
"Apa..! Kak Zuy tunggu..!!" seru Ray
Langkah Zuy pun terhenti, "Ada apa Tuan Muda?" tanyanya.
"Eeuumm, bisakah Kakak menginap di sini lagi," tanya Ray
"Tapi Zuy harus pulang Tuan, lagian keadaan Tuan Muda juga udah membaik," papar Zuy
Ray pun langsung merapatkan tangannya di depan dada, ia pun memohon dengan tatapan memelasnya, "Please, mau ya Kak..!!"
Melihat tatapan Ray yang seperti itu, Zuy pun merasa tertegun, ia pun berkata, "Hah baiklah Tuan Muda, hanya malam ini,"
"Yes, ah maksudnya terimakasih banyak," ucap Ray dengan kegirangan.
"Yaudah Zuy ke belakang dulu," Zuy pun berjalan menuju ke dapur.
"Lho kemana Tantenya Zuy?" tanya Davin sambil menuruni tangga.
"Bi Nana sudah pulang," jawab Ray
"Oh iya Tuan, ada yang ingin saya sampaikan," ujar Davin
"Ada apa Kak Davin?!" tanya Ray
"Soal Lesya, tadi dia menelpon ku, dia bilang anda tidak bisa di hubungi, Mr Michael khawatir tentang anda Tuan," ungkap Davin
"Apa, ternyata seperti itu, aku benar-benar lupa kalau Hp udah ku banting hancur," gumam Ray, "Kak Davin, Ray minta tolong, nanti Kak Davin belikan Ray hp lagi ya..!!" titah Ray.
"Baiklah Tuan Ray..." ujar Davin.
******
`Keesokan Harinya.....
Rumah Pak Willy
Pak Wildan dan keluarga pun ternyata serius ingin menjenguk Ray, namun mereka malah datang ke rumah Pak Willy.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?!!" tanya pelayan Pak Willy.
"Apa Pak Willy ada di dalam?" tanya Pak Wildan
"Ada Tuan, mari silahkan masuk, biar saya panggilkan Tuan Willy," kata si pelayan.
Lalu mereka masuk ke dalam dan pelayan itu pun langsung memanggil pak Willy.
"Pi, rumah Tuan Ray besar juga ya," Erlin mengedarkan pandangannya.
"Ya pasti besar, dia kan Ceo dari Perusahaan CV.." ujar Pak Wildan
"Memang benar-benar calon mantu idaman," sambung Linda.
Tak lama kemudian, Pak Willy datang dan menghampiri mereka, lalu Pak Willy menjabat tangan Pak Wildan.
"Oh Pak Wildan, tumben anda datang kemari, silahkan duduk!!" suruh Pak Willy
"Terimakasih banyak," ucap Pak Wildan
Lalu Pak Willy berbisik kepada pelayannya, dan pelayannya pun langsung pergi.
"Ngomong-ngomong ada apa anda datang kemari?!!" tanya Pak Willy
"Kedatangan saya dan keluarga ke sini untuk menjenguk Tuan Rayyan, saya dengar dari Pak Davin kalau Tuan Ray sakit." ujar Pak Wildan
Pak Willy pun terkejut mendengar perkataan Pak Wildan, "Apa! Tapi Rayyan gak bilang apa-apa ke saya," ungkap Pak Willy.
"Lho kok bisa, bukannya Tuan Ray tinggal di sini, pasti anda tau kalau Ray lagi sakit," ujar Pak Wildan
"Ya karena Ray tidak tinggal di sini, dia tinggal di rumahnya sendiri," jelas Pak Willy.
Mereka pun terkejut..
**Bersambung...
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada kesalahan, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... ✌😉😉✌