
<<<<<
Seketika Bunda Artiana menolehkan kepalanya ke arah sumber suara yang memanggilnya itu, begitu pula dengan Daddy Mario, Zuy beserta lainnya.
"Maria...."
Bunda Artiana beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Maria, begitu pula dengan Daddy Mario.
Berbeda dengan Zuy yang terpaku seraya membulatkan matanya dengan sempurna ketika melihat Mamahnya itu.
"Mrs Maria!" ucapnya dengan nada yang sangat lirih.
Sama halnya seperti Archo yang terperangah melihat Zuy ada di sana.
"Zuy! Ke-kenapa dia ada disini?" batinnya.
Sedangkan Airin dan Bu Ima untuk sesaat keduanya saling memandang satu sama lain, kemudian Airin menggeser tubuhnya sedekat mungkin dengan Zuy dan merangkul pundak sahabatnya itu.
"Zuy...." tegur Airin.
Sehingga membuat Zuy tersadar dan memalingkan wajahnya ke Airin sembari tersenyum.
Saat sudah di depan Maria, perlahan Bunda Artiana mengangkat tangannya dan mengarahkan tangannya ke wajah Maria, lalu di pegangnya pipi Maria.
"I-ini benar-benar kamu kan, Maria?" tanya Bunda Artiana.
Maria pun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya Bunda."
Seketika Bunda Artiana langsung memeluk tubuh anak perempuannya itu dan tangis keduanya pun pecah.
"Maria, Bunda sangat merindukanmu. Maafkan Bunda yang tidak bisa berbuat apa-apa dan maafkan Bunda juga karena tidak datang menjenguk mu saat kamu di rawat di Rumah sakit." Bunda Artiana tersedu-sedu.
"Iya tidak apa-apa Bunda, Maria mengerti keadaan Bunda dan Maria juga sangat merindukan Bunda."
Ya selama Maria di rawat di Rumah sakit, Bunda Artiana memang tidak pernah menjenguknya, itu karena Dimas yang memintanya dengan alasan kondisi kesehatan Bunda yang sempat menurun sebab Bunda sangat shock ketika mendengar kabar dari Daddy Mario tentang Maria yang tertembak.
Awalnya Bunda Artiana marah dan menolak permintaan Dimas, namun pada akhirnya Bunda Artiana menuruti permintaan Dimas.
Mereka yang berada di sana pun terharu melihatnya, bahkan di antara mereka ada yang sampai menitihkan air matanya terutama Zuy.
Sesaat setelah Bunda Artiana dan Maria saling melepas rindu, Bunda Artiana melepaskan pelukannya dan bergantian dengan Daddy Mario. Lalu kemudian Bunda Artiana memalingkan wajahnya melihat ke arah Zuy.
"Cucuku...." panggil Bunda Artiana pada Zuy.
Zuy menengadah. "I-iya Nek."
"Sini cucuku!" Bunda Artiana menggerakkan tangannya.
Tanpa menolak, Zuy langsung menganggukkan kepalanya. Namun sebelum melangkah ia terlebih dahulu memberikan Baby R yang sedang di gendongnya pada Airin. Selepas itu, Zuy berjalan mendekat ke arah Bunda Artiana.
"Maria...." tegur Bunda Artiana.
Maria yang masih memeluk Daddy Mario pun mendongakkan kepalanya, dan betapa terkejutnya Maria sampai-sampai pupil matanya membesar karena melihat Zuy yang tengah berdiri di samping Bunda Artiana.
"Kamu!"
"Mrs Ma– Mamah." Zuy mengangguk sopan seraya menyunggingkan senyumnya pada Mamahnya itu.
"Hmmm, kebetulan sekali si anak durhaka datang kesini, jadi aku tidak perlu mencarinya lagi." batin Maria di selingi senyum smirk-nya.
"Mario, tolong lepaskan pelukan mu! Karena aku ingin memeluk anak dur- maksud ku Zuy." lanjut bisik Maria kepada Daddy Mario.
"Oke." Daddy Mario mengangguk dan melepaskan pelukannya, lalu ia berdiri di samping Adriene.
Kemudian Maria kembali menatap anak pertamanya, seketika membuat Zuy menundukkan kepalanya saat melihat tatapan dari Maria.
"Zuy, kenapa kamu menunduk seperti itu? Apa kamu tidak merindukan Mamah dan memeluk Mamah mu ini."
Zuy tercengang mendengar perkataannya,
sehingga ia perlahan mengangkat kepalanya melihat Maria.
"Ma-Mamah...."
"Iya Zuy, mendekat lah dan peluk Mamah mu ini!" pinta Maria yang sudah merentangkan tangan kirinya.
Zuy menganggukkan kepalanya dan mendekat ke Maria, lalu ia duduk berlutut di hadapan Mamahnya seraya menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu malah berlutut seperti itu? Cepat peluk Mamah! Mamah sangat merindukan mu, Zuy." lontar Maria.
"Mah...." Zuy menengadah seraya menitihkan air matanya lalu ia pun memeluk tubuh Mamahnya.
Rasa haru kembali menyelimuti seluruh ruangan itu karena melihat anak dan Ibu yang saling berpelukan.
"Syukurlah...." batin Archo dan terlihat senyumnya yang terpampang di wajahnya.
Akan tetapi berbeda dengan Airin yang justru mengernyitkan wajahnya, karena ia merasakan sesuatu yang mengganjal dan membuatnya curiga dengan perkataan yang di lontarkan oleh Maria.
"Hmmm, kenapa aku merasa kalau perkataan Mrs Maria itu tidak tulus dan seperti orang yang sedang bersandiwara saja?" pikir Airin.
Lalu....
"Mah, Zuy juga sangat merindukan Mamah dan Zuy benar-benar bahagia, akhirnya Zuy bisa merasakan rasanya memeluk Mamah." tangis Zuy yang pecah di pelukan Maria.
Mendengarnya pun membuat hati Maria terenyuh dan membalas pelukannya, bahkan nampak air matanya yang kembali mengalir membasahi pipinya.
"Ada apa ini? Padahal aku hanya bersandiwara, tapi kenapa dada ku terasa amat sesak mendengar perkataan dari anak durhaka ini, bahkan sampai membuang air mataku yang berharga ini? Apa jangan-jangan aku mulai terbawa suasana? Huh tidak, aku tidak boleh seperti ini! Ini adalah kesempatan ku untuk bisa memberikan hukuman pada si anak durhaka ini." batin Maria.
Keduanya melepaskan pelukannya, akan tetapi ....
"Aah sakit!" Maria memekik membuat Zuy serta lainnya terkejut.
"Ma-Mamah kenapa?" tanya Zuy.
"Apanya yang sakit Mam?" timpal Archo.
Pertanyaan yang sama pun di lontarkan oleh Bunda Artiana, Daddy Mario dan Adriene.
Kecuali Airin dan Bu Ima yang hanya fokus pada si kembar.
"Kepala ku tiba-tiba terasa sakit," jawab Maria seraya memegang kepalanya.
"Apa!"
"Ya ampun Mah."
Lalu Adriene mendekat ke Maria.
"Permisi Nona, saya mau memeriksanya bentar!" ucap Adriene pada Zuy.
"I-iya Miss."
Zuy pun beranjak dari posisinya dan berdiri di samping Bunda Artiana. Selepas itu, Adriene langsung memeriksa Maria.
Sesaat....
"Bagaimana Driene? Apa yang terjadi pada Mam?" tanya Archo.
Adriene memalingkan wajahnya ke Archo seraya memampang senyumnya.
"Mrs Maria baik-baik aja, Arc. Dan ini hanya sakit kepala biasa, tidak ada yang serius." ujar Adriene.
Zuy dan lainnya menghela nafas leganya.
"Syukurlah...." ucap Zuy dan Archo secara bersamaan.
"Yaudah kalau gitu kamu istirahat dulu aja di kamar ya Maria!" tutur Bunda Artiana.
Maria menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Iya Bunda."
"Biar Archo yang mengantar Mam ke kamar ya!" tawar Archo.
Akan tetapi Maria malah menggelengkan kepalanya.
"Nggak Archo! Mam gak mau di antar sama kamu, Mam maunya Zuy yang mengantar Mam!" kata Maria melihat ke arah Zuy. "Zuy, kamu mau kan mengantar Mamah ke kamar?"
"I-iya Mah, tentu saja Zuy mau mengantar Mamah." balas Zuy di susul senyumnya.
Ia berjalan melewati Adriene dan berdiri tepat di belakang kursi roda Maria.
"Tapi Archo juga ingin mengantar Mam," kata Archo.
Lalu Daddy Mario menepuk pundak Archo.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja Zuy yang mengantar Maria ke kamarnya. Lagi pula Zuy juga anak Maria, jadi sudah sepantasnya dia mengurus Ibunya." lontar Daddy Mario.
Archo menghela nafasnya. "Iya Dad."
Daddy Mario tersenyum kemudian beralih ke arah Zuy.
"Zuy, tolong kamu antar Maria ke kamarnya ya! Supaya Maria bisa langsung istirahat." pinta Daddy Mario pada Zuy.
"Iya." singkat Zuy.
Kemudian ia berjalan sambil mendorong kursi roda Maria menuju ke kamar.
"Semoga aja tidak terjadi sesuatu." batin Archo.
Lalu ketiganya beralih duduk di sofa bergabung dengan Airin dan Bu Ima.
Sementara itu....
Saat sudah berada di dalam kamar, Zuy menghentikan langkahnya seraya mendekatkan kursi roda Maria di samping tempat tidur.
"Tutup pintunya!" titah Maria
"I-iya Mah."
Zuy melangkah ke arah pintu dan menutupnya, lalu kemudian ia kembali ke Maria.
"Ayo Mah, Zuy bantu Mamah naik ke tempat tidur!" ujar Zuy sembari mengulurkan tangannya.
Akan tetapi....
Plak!
Maria tiba-tiba mendaratkan tamparannya di pipi anaknya, sehingga Zuy membelalakkan matanya karena terkejut.
"Mah...."
Maria mencebik. "Heh, dasar anak durhaka yang bodoh! Bisa-bisanya kamu kembali termakan sama perkataan ku tadi."
"Apa! Jadi Mamah ...."
"Ya sesuai dugaan mu aku memang sedang bersandiwara dan membohongi mu sama seperti dulu." ujar Maria.
Zuy menunduk sembari meremas kuat bagian bawah bajunya, lalu nampak air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Kenapa? Kenapa Mamah tega melakukan ini? Apa salah Zuy? Padahal Zuy sangat bahagia karena akhirnya Zuy bisa memeluk Mamah. Tapi ternyata semua ini hanya sandiwara Mamah saja, hiks."
Bukannya terenyuh, Maria justru menampakkan seringai lebar di wajahnya. Lalu ia mengarahkan tangannya ke rambut Zuy dan menariknya sehingga membuat Zuy meringis kesakitan.
"Salah kamu adalah karena kamu tidak menuruti perkataan ku, kamu sudah menyakiti Kimberly dan bukan hanya itu saja, bahkan dulu kamu juga sering merebut apa yang telah menjadi milik orang lain termasuk calon tunangan Desi." cerca Maria, ia pun semakin menguatkan tarikannya pada rambut Zuy.
Aaah...
"Mah, tolong dengarkan aku! Aku tidak pernah merebut apapun atau siapapun dari orang lain seperti apa yang Mamah katakan barusan dan siapa Desi Mah, Zuy benar-benar tidak mengenalnya." ungkap Zuy.
"Jangan membohongi ku, dasar anak durhaka!"
Maria melepaskan rambut Zuy dan beralih menampar pipinya lagi hingga dua kali.
"Zuy tidak pernah berbohong Mah, Zuy ...." ucapnya terhenti karena ia melihat darah menempel di baju Maria. "Da-darah apa itu?" lanjut tanyanya seraya menunjuk ke bahu Maria.
Seketika Maria melihat ke arah Zuy menunjuk.
"Ke-kenapa bisa ada darah? Jangan-jangan luka ku terbuka?" lirih Maria.
"Mah, apa yang terjadi? Kenapa bahu Mamah berdarah?" cecar Zuy.
Ya karena Zuy memang belum mengetahui tentang apa yang terjadi pada Mamahnya tersebut.
"Ini gara-gara kamu anak durhaka! Luka bekas tertembak jadi terbuka lagi!" sentak Maria.
Zuy kembali terkejut. "Apa! tertembak! Maksudnya Mamah?"
"Heh, jangan pura-pura terkejut seperti itu. Sebenarnya kamu bahagia kan melihat ku terluka dan menderita seperti ini? Hah! Bahkan sepertinya kamu menginginkan aku mati di tangan para penculik itu, iya kan?" cicit Maria.
"Para penculik? Mah, sebenarnya apa yang Mamah katakan ini, Zuy benar-benar gak ngerti."
"Jangan memanggilku Mamah, dasar anak durhaka!"
Pyaar!
Maria menjatuhkan gelas yang berada di atas nakas sehingga pecah dan berserakan di lantai.
"Suara apa itu?" tanya Daddy Mario.
"Hmmm, sepertinya suara itu berasal dari kamar Mam, tunggu apa jangan-jangan mereka?" ujar Archo. "Kalian tunggu di sini, biar aku yang memeriksanya!"
"Aku ikut!" seru Airin sembari bangkit dari duduknya.
"Baiklah kalau kamu mau ikut."
Archo dan Airin langsung beranjak dan bergegas menuju ke kamar Maria. Sesaat Daddy Mario, Adriene dan Bunda Artiana menyusul mereka. Sedangkan Bu Ima tetap pada tempatnya menjaga si kembar yang kini berada di stroller-nya.
Setibanya Archo langsung membuka pintunya dan betapa terkejutnya Archo serta Airin melihat kondisi Zuy dan juga Maria. Mereka pun segera masuk menghampiri keduanya.
"Zuy apa yang terjadi?" tanya Airin pada Zuy.
Namun Zuy bergeming akan tetapi tidak untuk air matanya yang mengalir, Airin pun langsung memeluk sahabatnya itu.
"Mam, apa yang terjadi? Lalu kenapa bahu Mam berdarah?" cecar Archo pada Maria.
Maria menunjuk ke arah Zuy.
"Itu karena anak durhaka itu, dia dengan sengaja melukai Mam, Archo."
"Apa!"
Lalu....
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian berdua bisa seperti ini?" pekik Daddy Mario yang terkejut sembari berjalan masuk.
Begitu pula dengan Adriene dan Bunda Artiana.
"Maria, cucuku. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Bunda Artiana.
Maria menatap Bunda Artiana dengan tatapan sendunya.
"Ini semua karena dia, Bunda!" Maria menunjuk ke arah Zuy. "Di-dia sengaja melakukan ini semua dan melukai ku." lanjutnya.
"Cucuku, apa benar yang di katakan oleh Maria?" cecar Bunda Artiana.
Zuy menengadah menatap Bunda Artiana lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Nggak Nek, bukan Zuy yang ngelakuin itu."
"Dia berbohong Bunda, jelas-jelas luka di bahu Maria terluka lagi gara-gara si anak durhaka ini." lontar Maria dengan lantang.
Mendengarnya membuat Airin sangat geram sembari menggertakan giginya, ia pun melepaskan pelukannya dan saat hendak bangkit dari posisinya Zuy tiba-tiba menahan tangan Airin.
"Jangan Rin!" lirih Zuy membuat Airin membuang nafasnya dan kembali ke posisinya.
Daddy Mario mengarahkan pandangannya pada Zuy.
"Zuy, kenapa kamu tega melakukan ini? Maria ini Ibu kandung kamu, Zuy." cicit Daddy Mario.
"Mungkin dia masih dendam padaku karena sudah meninggalkannya." papar Maria.
"Apa!" Daddy Mario tersentak. "Zuy Kalau kamu memang masih marah dan dendam atas apa yang telah kami lakukan. Jangan melampiaskannya pada Maria sebab Maria tidak bersalah dan kejadian itu murni kesalahanku."
Lalu....
"Dad, Mam sudah cukup jangan di teruskan lagi, kasihan Zuy!" seru Archo.
"Archo kenapa kamu mengasihaninya? Apa kamu lupa kalau dia yang sudah ...."
"Mam, udah jangan di perpanjang lagi masalah ini!" Archo menyela perkataan Maria. Kemudian ia beralih melihat Zuy.
"Dan untuk kamu, Zuy. Lebih baik kamu pulang ya! Kasihan anak-anak kamu itu, pasti mereka berdua sudah mengantuk." kata Archo.
Dan sebenarnya Archo memang sedang membela Zuy.
"Iya Zuy, benar apa yang di katakan oleh Tuan kacamata ini, lebih pulang dari pada disini bikin darah ku naik saja." lontar Airin.
Zuy mengangguk. "Iya Rin."
Mereka berdua segera bangkit dari posisinya, lalu Zuy mendekat ke Bunda Artiana.
"Nek, Zuy mau pulang dan Zuy minta maaf sudah bikin kegaduhan di rumah Nenek." ucap Zuy sembari meraih tangan Neneknya dan menciumnya.
__ADS_1
"Biar Nenek yang mengantar mu sampai depan!"
"Iya Nek.
Bunda Artiana, Zuy dan Airin melangkah keluar dari kamar tersebut tanpa berpamitan terlebih dahulu dengan Maria dan lainnya.
"Dasar anak durhaka, tidak ada sopan-sopannya terhadap orang tua," sungut Maria.
...----------------...
Beberapa saat kemudian, Zuy serta lainnya sudah berada di perjalanan. Selama itu pula, Zuy tak henti-hentinya menitihkan air matanya.
"Nak Zuy...." tegur Bu Ima.
Zuy mengusap air matanya dan menoleh ke Bu Ima.
"Iya Bu, ada apa?" sahutnya.
"Nak, Ibu tau apa yang kamu rasakan. Tapi setidaknya kamu jangan menunjukkan rasa sedih mu di depan anak kamu. Walaupun mereka berdua masih kecil tapi perasaan mereka terhadap orang tuanya sangat peka." tutur Bu Ima. "Lihatlah anak perempuan mu, dari tadi dia terus saja melihat mu dengan wajah merengut seperti itu."
Zuy melihat ke Baby Z yang tengah di pangku Bu Ima, kemudian ia mengambil Baby Z dari Bu Ima.
"Maafin Mamah sayang!" ucap Zuy di susul ciuman di pipi Baby Z.
Airin yang berada di kursi depan sembari memangku Baby R pun tertegun sampai-sampai air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Nak Zuy, apa kamu mau ke rumah Nana?" tanya Bu Ima.
Sebab Bu Ima tahu betul, bahwa setiap Zuy sedang ada masalah dengan Ibunya pasti ia akan lari ke Bibinya.
Zuy menggelengkan kepalanya.
"Nggak Bu, Zuy ingin pulang ke Villa aja." jawab Zuy.
Bu Ima manggut-manggut.
"Oh.... Yaudah kalau begitu, Nak."
*********************************
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, langit cerah pun kini sudah mengubah warnanya menjadi langit malam yang di hiasi bintang-bintang.
Villa Z&R
—Pukul 08.50pm
Airin dan Zuy nampak berjalan-jalan di tepi pantai menikmati hembusan angin laut dan serta deburan ombak yang menyapu pantai. Sesekali keduanya memungut cangkang kerang yang berada tepi pantai.
Sedangkan Baby R dan Baby Z, mereka sudah tidur pulas beberapa saat yang lalu. Berbeda dengan Ray dan Davin yang masih di perjalanan menuju pulang.
Sesaat setelah puas dengan jalan-jalannya, keduanya pun duduk di atas pasir sembari mengumpulkan cangkang kerang yang telah di pungutnya itu.
Lalu....
"Zuy...."
"Iya Rin."
"Emm, bagaimana keadaan mu ah maksudku perasaan mu sekarang? Apa sudah lebih baik dari sebelumnya?" tanya Airin.
Zuy mendesah. "Ini sudah ke berapa kalinya kamu menanyakan hal ini padaku, Rin."
"Ya maaf, habisnya aku benar-benar khawatir apalagi kalau udah liat pipi kamu yang lebam itu, rasanya ingin sekali aku membalas perbuatannya terhadap kamu, Zuy." cicit Airin.
Zuy tersenyum lalu berkata, "Terimakasih ya Rin karena sudah mengkhawatirkan ku dan untuk pertanyaan mu tadi, jujur sebenarnya sekarang ini perasaan ku sudah lumayan membaik tidak seperti sebelumnya Rin."
Airin menghela nafas leganya.
"Syukurlah.... Oh iya tentang masalah ini, apa kamu akan membicarakannya pada Tuan Bos?" tanya Airin.
"Soal itu, pasti aku a—" perkataannya pun terhenti karena ....
"Masalah apa yang sedang kalian berdua bicarakan ini?" seru seseorang dari belakang mereka berhasil membuat keduanya tersentak secara bersamaan.
Zuy dan Airin sama-sama menolehkan kepalanya ke belakang, dan ternyata seseorang itu adalah ....
"Rayyan!"
"Pak Davin!"
Keduanya pun bangkit dari posisinya dan ketika Zuy sudah berdiri di depan pria tampannya, tiba-tiba Ray terpaku karena melihat lebam di pipi pujaan hatinya.
Ray mengarahkan tangannya dan menempatkannya di pipi Zuy.
"Apa yang terjadi dengan pipi mu, sayangku?" tanya Ray.
"Ini ...."
"Oh iya Pak Davin pasti cape ya? Kita duduk di sana dulu yuk!" Airin menggandeng tangan Davin.
"Tapi Rin...."
"Ayo Pak!" lirih Airin.
Kemudian Airin menarik tangan Davin dan menjauh beberapa jarak dari Ray dan Zuy. Lalu sesaat Zuy kembali mendudukkan dirinya di atas pasir.
"Sayangku...."
"Duduklah Ray!"
Ray langsung menuruti pujaan hatinya dan duduk di sebelahnya. Sebelum memulai perkataannya, Zuy terlebih dahulu menghela nafas panjangnya.
Lalu....
"Ray, sebelum aku menjawab pertanyaan mu tadi, terlebih dahulu ada yang ingin aku tanyakan ke kamu." lontar Zuy.
Ray menaikkan satu alisnya. "Hmmm, memangnya apa yang ingin kamu tanyakan, sayangku?"
"Ini ada hubungannya tentang Mrs Maria, pasti kamu bisa menebaknya bukan, apa yang ingin aku tanyakan ini." papar Zuy.
Ray membuang nafasnya sejenak.
"Jadi kamu sudah tahu tentang Mrs Maria yang di culik itu."
Zuy memalingkan wajahnya ke arah Ray dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Ternyata benar, kamu memang menyembunyikan tentang kejadian Mrs Maria dari ku. Tapi kenapa Ray, kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu tidak memberitahu ku yang sebenarnya?" cecar Zuy dengan nada tinggi.
"Sayangku, aku melakukannya karena aku sayang dan peduli sama kamu. Apa kamu tahu, kejadian penculikan Mrs Maria itu bersamaan dengan musibah yang di alami oleh Bi Nana dan mendiang Pak Randy. Makanya aku sengaja meminta Dokter Dimas, Archo dan juga Nenek supaya tidak bilang ke kamu tentang masalah Mrs Maria, karena aku gak mau kamu terlalu sedih dan banyak pikiran. Buktinya aja waktu itu kamu sampai pingsan dan sakit gara-gara kelelahan sama banyak pikiran . Maka dari itu aku terpaksa melakukan ini, sayangku." jelas Ray dengan panjangnya.
Zuy bergeming dan menundukkan kepalanya, isak tangisnya pun terdengar. Lalu Ray mengulurkan tangannya dan memegang kedua bahu pujaan hatinya.
"Sayangku, maafkan aku! Aku sadar bahwa yang aku lakukan ini adalah salah. Tapi percayalah aku melakukannya demi kamu, sayangku." ucap Ray.
Zuy menengadah menatap wajah pria tampannya, kemudian ia memeluk Ray dengan erat.
"Maafkan aku Ray! Karena tadi sudah berbicara keras padamu." ucap Zuy.
"Iya, tidak apa-apa sayangku, aku mengerti kok. Lagi pula ini juga kesalahan ku yang tidak jujur ke kamu tentang penculikan Mrs Maria," Ray mengelus rambut Zuy.
Sesaat mereka melepaskan pelukannya.
"Sayangku," Ray menangkup wajah Zuy. "Soal lebam di pipi kamu ini, apa dia yang melakukannya? Hm!"
Zuy kembali menundukkan kepalanya seraya menganggukkan kepalanya, seketika membuat Ray mengerutkan keningnya dan nampak rahangnya yang mengeras serta sorot matanya yang tajam.
"Tsk, lagi-lagi dia berbuat seperti ini terhadap sayangku, apa dia tidak punya hati sampai-sampai tega menyiksa anaknya sendiri seperti ini." sungut Ray. "Besok aku harus ke rumah Dokter Dimas dan memberi peringatan lagi padanya!" lanjutnya.
Mendengar itu, Zuy langsung mendongakkan kepalanya seraya menggenggam erat tangan pria tampannya.
"Ja-jangan Ray!"
Ray mengerenyit. "Hmmm, jangan! Memangnya kenapa sayangku?"
"Umm, itu ...."
***Bersambung....
Author: "Cari aman dulu aaaah, sebelum ada yang ngeliat, Mwehehehe....🏃🏃🏃"
See You Next Time... 😉
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌