Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Melindungi Diri....


__ADS_3

<<<<<


Zuy pun terkekeh, kemudian perlahan mendekat ke arah telinga Airin lalu membisik kan sesuatu pada Airin. Sesaat setelahnya....


"Hah! Kamu serius Zuy?"


Airin nampak terkejut dengan apa yang di bisikan oleh Zuy, lalu Zuy mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya aku serius, bahkan benar-benar serius ingin belajar bela diri dengan kamu, Rin." ucap Zuy yang terlihat bersungguh-sungguh.


Dan ternyata Zuy meminta Airin untuk mengajarinya bela diri.


"Tapi kenapa harus aku, Zuy? Kenapa kamu gak minta sama Tuan Bos aja untuk mengajari mu bela diri? Kata Pak Davin waktu di Amerika Tuan Bos jago banget bela dirinya, bahkan Pak Davin pernah cerita ke aku kalau Tuan Bos pernah meraih peringkat pertama dan mendapat medali emas pula." papar Airin.


Sejenak Zuy menghela nafasnya.


"Haaa.... Kalau aku minta belajar bela diri sama Daddy-nya anak-anak, bukannya fokus ngajarin aku bela diri tapi justru malah fokus ke lainnya," gumam Zuy membuat Airin terkekeh kecil.


"Hihihi.... Ya aku paham maksud mu Zuy."


"Ya makanya aku minta kamu untuk mengajari ku, dan lagi ...." Zuy kembali mendekatkan wajahnya seraya memicingkan matanya ke Airin.


Sehingga membuat Airin keheranan dan bertanya, "Zuy, kenapa kamu melihat ku seperti itu, apa ada sesuatu di wajahku?"


Zuy menggeleng. "Tidak ada sesuatu di wajah mu Rin."


"Lalu?!"


Zuy mendesah. "Hanya saja aku penasaran."


"Hmmm penasaran! Memangnya kamu penasaran sama apa Zuy?" Airin bertanya kembali karena ia juga penasaran dengan perkataan Zuy.


"Ya tentu saja penasaran sama hubungan kamu dan Pak Davin, Rin. Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sama Pak Davin makin lengket aja," ujar Zuy. "Hmmm, jangan-jangan udah ada kemajuan nih, ehemm." sambungnya sembari menempelkan jari telunjuknya ke pipi Airin.


"Hah!" Airin tercengang di susul dengan pipinya yang merona. "Si-siapa yang makin lengket sih Zuy, hu-hubungan aku sama Pak Davin biasa aja kok sama seperti sebelumnya."


"Dia tersipu!" batin Zuy di selingi senyumnya karena melihat pipi Airin merona.


"Benarkah itu?" sambung tanya Zuy seraya menyidik.


"Te-tentu saja benar Zuy, hubungan kami seperti biasanya. Kalau di kerjaan ya kami seperti atasan dan bawahan, kalau di rumah seperti yang kamu lihat, kami suka berantem terus akur lagi layaknya seorang adik Kakak yang selalu berebut mainan," ujar Airin, namun ia tidak bisa menutupi pipinya yang semakin merona.


Zuy manggut-manggut.


"Oh begitu ya, tapi kenapa pipi kamu memerah gitu ya Rin?" lontar Zuy seraya menggoda Airin.


Sehingga Airin terkejut. "A-apa! Memerah? Yang bener kamu Zuy?"


Zuy mengangguk. "Iya Rin."


Seketika Airin langsung meraih kaca kecil miliknya yang berada di atas nakas, lalu mengarahkannya ke wajahnya.


"Euuum, mana yang merah Zuy? Gak ada ah, malah pipiku seperti biasanya." ujar Airin yang memandang ke arah kaca kecil miliknya. Lalu....


Pffft....


Zuy pun seketika menyemburkan tawanya melihat gelagat sahabatnya itu membuat Airin keheranan.


"Zuy, kenapa kamu malah tertawa seperti itu? Bukannya nunjukin di sebelah mana pipiku yang merah itu." gumam Airin.


"Habisnya kamu lucu sih, padahal kan aku cuma menggoda mu saja Rin."


Mendengar itu pun Airin langsung mengerenyitkan keningnya dan beralih menatap Zuy.


"Apa! Jadi barusan kamu cuma menggoda ku saja?"


"Iya, maaf ya Rin! Hihihi...." ucap Zuy sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.


Airin mendengus, lalu di letakkannya kembali kaca yang ia pegangnya itu ke tempatnya semula. Setelah itu Airin beralih mendekat sedekat mungkin ke Zuy, kemudian ia pun merangkul pundak sahabatnya itu.


"Kamu ini ya Zuy, suka banget godain aku." Airin menggerutu. "Hmmm, sepertinya kamu sangat merindukan cubitan pipi dariku ya Zuy. Kalau gitu nih rasakan cubitan ku," sambungnya seraya mencubit gemas pipi Zuy.


"Ah, aduh-aduh sakit, ampun Rin!" Zuy meringis karena cubitan Airin.


"Serius nih minta ampun?"


"Ya-ya serius Rin-Rin."


"Janji tidak akan menggoda ku lagi?"


Zuy mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya, aku janji tidak akan menggoda mu lagi, Rin."


"Baiklah kalau begitu."


Airin pun langsung melepaskan rangkulan dan cubitannya itu.


"Ck, bener-bener nih Nyonya Roveis. Cubitannya masih sama seperti dulu," gumam Zuy mengelus pipinya yang bekas di cubit sahabatnya itu.


Sesaat....


"Zuy...."


"Hmmm, iya kenapa Rin?"


Airin melirikkan matanya ke arah lengan Zuy yang di perban akibat luka goresan pisau yang di lakukan oleh Linda, seketika raut wajahnya berubah menjadi sendu.


"Zuy, apa karena kejadian tadi, makanya kamu tiba-tiba ingin belajar bela diri?" tanya Airin beralih menatap sahabatnya itu.


Sebelum menjawab, Zuy mengambil nafasnya dalam-dalam dan perlahan menghembusnya.


"Ya, sebenarnya sih dari waktu masih sendiri juga aku ingin sekali belajar, hanya saja aku tidak punya waktu dan malas Rin. Tapi sekarang aku benar-benar serius ingin belajar, selain untuk melindungi diri, aku juga bisa melindungi Baby R dan Baby Z. Nggak mungkin kan selamanya aku menjadi seorang yang lemah dan terus-terusan mengandalkan kekuatan dari orang lain." jelas Zuy.


"Oh iya dulu kan kamu wanita super sibuk ya Zuy, dari Senin sampai Jumat kamu bekerja di Perusahaan, sedangkan di hari libur kamu malah bantuin mendiang Paman kamu di Resto, kecuali kalau aku ngajak jalan baru kamu ada waktu untuk santai." ujar Airin.


Zuy manggut-manggut.


"Nah iya, maka dari itu sekarang aku ingin belajar dan meminta kamu untuk mengajari ku bela diri." Zuy lalu meraih tangan Airin dan menggenggamnya. "Kamu mau kan mengajariku, Rin?"


"Ya tentu saja aku mau bahkan sangat mau mengajari mu bela diri. Hanya saja luka di lengan kamu harus sembuh dulu dan lagi kamu juga harus bilang sama Tuan Bos! Takutnya nanti Tuan Bos malah gak ngizinin kamu buat belajar bela diri lagi," tutur Airin.

__ADS_1


"Kalau itu pasti akan aku lakukan Rin. Tapi kamu beneran serius kan mau mengajari ku?"


Airin menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Ya aku serius Zuy."


Seketika Zuy menyunggingkan senyum sumringahnya, lalu di peluknya tubuh sahabatnya itu.


"Terimakasih Rin, kamu memang sahabat sekaligus adik terbaik ku." ucap Zuy dengan senangnya.


"Sama-sama Zuy, apapun untuk kamu sahabat sekaligus Kakak tersayang ku." balas Airin.


Sesaat mereka berdua melepaskan pelukannya.


"Zuy, jujur aku benar-benar masih marah dan tidak menyangka lho saat mendengar cerita kamu itu. Berani-beraninya wanita gila itu menyerang mu dan bahkan mengatai kedua keponakanku anak haram. Haaa, coba aja kalau tadi aku di sana, pasti udah aku tendang tuh mulutnya biar cacat sekalian," umpat Airin memukul-mukul kasurnya.


Zuy mendesah. "Aku juga sama Rin. Ya dia berani menyerang karena posisi ku tadi sedang di toilet sendirian tanpa pengawasan dari pengawal. Dan lagi mana mungkin mereka mengawasi ku sampai ke toilet juga. Huh! Coba kalau posisi ku masih di luar mana mungkin dia berani menyerang ku, yang ada malah dia yang habis duluan oleh pengawal suruhan Daddy-nya si kembar." ujarnya.


"Kamu benar juga ya, orang yang di utus Tuan bos kan laki-laki semuanya ya, jadi mereka gak bisa ngawasin kamu sampai ke toilet wanita."


"Lha iya Rin, makanya Nyonya Linda bisa menyerang ku dengan sangat mudah, lagi aku-nya juga lengah dan gak tau kalau dia ada di belakang ku." papar Zuy.


"Hmmm...." Airin berfikir sejenak.


"Kamu kenapa Rin?"


Airin menggelengkan kepalanya.


"Aku gak apa-apa Zuy, hanya saja aku heran kenapa dia tiba-tiba bisa langsung nyerang kamu di toilet ya? Apa mungkin dari awal dia sudah melihat kamu dan sengaja mengikuti kamu, Zuy?"


"Ada dua kemungkinan, pertama Nyonya Linda dari awal memang sudah tau aku di sana dan mengikuti ku, kedua mungkin saat Nyonya Linda ke toilet, dia tidak sengaja melihat ku, lalu ia langsung menyerangku." ujar Zuy.


Airin mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Masuk akal juga sih, bisa jadi ya memang seperti yang kamu katakan barusan Zuy."


"Ya, tapi yang penting aku selamat meskipun harus terluka dan mendapatkan beberapa jahitan di lengan ku ini," kata Zuy menunjukkan lengannya.


Wajah Airin kembali sendu saat melihat kembali lengan Zuy.


"Padahal kamu orang baik, tapi kenapa banyak orang yang tidak suka dengan kamu bahkan berkali-kali kamu hampir di celakai." batin Airin.


"Rin kamu kenapa lagi?" tanya Zuy melihat wajah Airin yang sendu.


Seketika Airin langsung mengalihkan pandangannya ke Zuy.


"Ah, aku tidak apa-apa Zuy." jawab Airin.


"Oh, kirain aku kamu kenapa Rin. Soalnya mata kamu berkaca-kaca seperti itu, apa kamu mengantuk?"


"Aku belum mengantuk Zuy, hanya mataku sedikit perih saja," ujar Airin yang berbohong.


"Hmm, yaudah aku balik ke kamar ku dulu ya Rin." pamit Zuy sembari bangkit dari duduknya.


"Hah! Balik ke kamar? Aku kira kamu bakalan lama di kamar ku, Zuy." Airin pun ikut bangkit dari posisinya.


"Penginnya sih lama, tapi takutnya si kembar bangun Rin," ujar Zuy.


Mendengar itu Zuy mengarahkan jari telunjuknya dan menempatkannya di pipi Airin.


"Humph, dasar kamu ya!" gumam Zuy, sehingga Airin mengeluarkan tawa kecilnya.


Lalu mereka berdua menuju ke arah pintu, kemudian Airin membukakan pintu kamarnya. Zuy pun melangkahkan kakinya keluar, namun sejenak ia berhenti dan berbalik ke Airin.


"Selamat istirahat Rin, jangan lupa kunci pintunya!" ucap Zuy.


"Pasti Zuy, kamu juga selamat istirahat ya!"


Zuy membalas dengan anggukan di sertai senyumannya, sesaat ia pun melangkahkan kakinya meninggalkan Airin dan menuju ke kamarnya. Sedangkan Airin kembali menutup pintu kamarnya dan menguncinya.


Ketika sudah berada di depan kamarnya, perlahan Zuy mendorong pintunya hingga terbuka. Lalu ia melangkah masuk ke dalam menuju ke tempat tidurnya. Dan saat berada di samping tempat tidurnya, Zuy pun langsung naik ke atas tempat tidurnya.


Sebelum membaringkan tubuhnya, terlebih dahulu ia menatap pria tampan yang sedang tertidur pulas di sampingnya dan di elusnya wajah Ray dengan lembut oleh tangannya itu. Lalu di dekatkan wajahnya ke wajah Ray.


"Mimpi indah Daddy tampannya anak-anakku, I love you," ucap Zuy, kemudian....


Cup....


Cup....


Cup....


Zuy menghujani ciuman pengantar mimpi di wajah Ray tanpa terlewatkan. Selesai mencium pria tampannya, Zuy membaringkan tubuhnya seraya menarik selimutnya. Sesaat ia pun mulai menutup matanya dan terlelap.


...----------------...


Pagi hari....


Tak terasa waktu berlalu dengan cepatnya, malam yang panjang kini telah berganti pagi yang cerah di sinari hangatnya sinar mentari pagi. Semua orang pun sudah mulai melakukan aktivitas paginya masing-masing.


—Pukul 08.20am.


Beberapa saat setelah selesai menikmati waktu sarapan pagi, Ray tengah berada di walk in closetnya dan tengah mengenakan kemejanya.


"Sudah selesai Ray?" tanya Zuy berjalan menghampiri Ray.


Ray menoleh. "Belum sayangku." jawabnya.


Zuy lalu mengambil dasi yang berada di kursi dan memasangkan di kerah kemeja Ray.


"Sayangku, biar aku aja yang memakaikannya ya!" pinta Ray.


"Tidak apa-apa, biar aku saja tampan-ku."


"Tapi tangan kamu kan lagi sakit, sayangku." pekik Ray.


Zuy menggeleng cepat. "Nggak Ray, Tanganku udah gak sakit lagi, malah udah mendingan, jadi biarkan aku saja yang memakaikan dasi-mu ini ya tampan-ku!"


Seketika membuat Ray menghela nafas panjangnya.


"Dasar sayangku gak penurut." gumam Ray.

__ADS_1


Mendengar pria tampannya bergumam Zuy malah tersenyum sambil menampilkan baris giginya.


Sesaat....


"Nah selesai! Begini baru Ceo tampan-ku."


"Terimakasih sayangku yang cantik," ucap Ray di susul kecupan Ray yang mendarat ke pipi Zuy.


"Sama-sama, ayo keluar! Pak Davin udah nungguin kamu lho," ajak Zuy seraya menggandeng tangan Ray.


Dan saat hendak melangkahkan kakinya, namun tiba-tiba Ray menahan tangan Zuy dan menariknya hingga jatuh ke dalam pelukannya.


"Eum sayangku...."


Zuy pun mendongakkan kepalanya sehingga pandangan mereka saling bertemu.


"Iya Ray, kenapa?"


Ray melepaskan genggaman Zuy lalu beralih menangkup wajah pujaan hatinya dengan kedua tangannya.


"Kamu beneran tidak apa-apa kan sayangku kalau aku tinggal bekerja?" lontar pertanyaan Ray.


Sesaat Zuy menarik dan membuang nafasnya karena pertanyaan dari Ray, ia lalu menyentuh dan meraba wajah pria tampannya


"Ray, Daddy tampannya anak-anakku! Ini sudah ke berapa kalinya kamu menanyakan hal ini dan sekarang aku pun akan menjawabnya seperti sebelumnya, kalau aku tidak apa-apa jika di tinggal bekerja oleh mu, Ray." jawab Zuy.


"Tapi aku benar-benar khawatir padamu, sayangku." ucap Ray dengan wajah sendunya.


Lalu....


"Ray, bisakah kamu membungkukkan badan kamu sedikit?!" pinta Zuy.


Tanpa bertanya, Ray langsung menuruti permintaan Zuy dan ....


Cup....


Satu ciuman dari bibirnya mendarat sempurna di bibir Ray, sehingga Ray terpaku bahkan pipinya merona. Dengan begitu aktifnya Zuy mencium dan menyesap lembut bibir Ray.


"Sayangku benar-benar membuat ku ingin memakan mu." batin Ray yang menikmatinya bahkan tangannya mulai aktif memainkan Squishy milik pujaan hatinya.


Setelah lewat dari dua menit, Zuy pun melepaskan tautan bibirnya dan beralih ke pipi Ray.


"Tampan-ku, sampai di sini dulu ya nanti di sambung lagi," bisik Zuy.


"Tapi kenapa harus di sambung sayangku?" tanya Ray yang kecewa karena Zuy melepaskan tautannya.


"Ya karena sudah waktunya untuk kamu berangkat ke Kantor Rayyan, Pak Davin dari tadi udah nungguin kamu," jawab Zuy.


"Humph!"


"Jangan ngambek tampan-ku nanti gantengnya luntur lho. Dan lagi kita bisa sambung nanti malam," tutur Zuy menggenggam tangan Ray.


Seketika Ray kembali menghela nafasnya.


"Baiklah sayangku, tapi janji di sambung lagi ya?"


Zuy mengangguk cepat. "Iya tampan-ku, yaudah sekarang kita keluar yuk!"


Ray menurut, lalu mereka berdua pun melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.


Beberapa saat kemudian....


Setelah Ray dan Davin sudah berangkat ke Perusahaannya beberapa saat yang lalu. Seperti hari-hari sebelumnya, Zuy menjemur kedua anaknya yang sudah mandi di bawah hangatnya sinar matahari pagi.


Setelah Ray dan Davin sudah berangkat ke Perusahaannya beberapa saat yang lalu. Seperti hari-hari sebelumnya, Zuy menjemur kedua anaknya yang sudah mandi di bawah hangatnya sinar matahari pagi, keduanya tak henti-hentinya berceloteh dan tersenyum membuat Mamahnya merasa sangat gemas.


Saat si kembar sudah selesai berjemur, Zuy pun kembali membawa si kembar masuk ke dalam, akan tetapi saat sudah berada di ambang pintu dan akan masuk ke dalam Villanya. Lalu tiba-tiba...


"Zuy...."


Suara seseorang memanggilnya berhasil menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah suara tersebut, seketika senyumnya Zuy mengembang sempurna.


...----------------...


Menjelang siang hari.


Sementara itu di tempat lainnya....


Bi Nana dan Henri nampak sedang berada di kantor Polisi dan setelah menyelesaikan prosedur yang di berikan oleh pihak kepolisian. Petugas pun menyuruh Bi Nana dan Henri menunggu di ruang tunggu yang sudah di sediakan.


Tak lama setelah menunggu, Petugas membawa seseorang yang tak lain adalah Linda. Bi Nana dan Henri pun langsung bangkit dari posisinya.


"Waktu kalian hanya lima belas menit, tidak lebih dari itu!" kata Petugas.


"Baik Bu." balas Bi Nana mengangguk.


Petugas itu pun pergi meninggalkan mereka bertiga. Sesaat kemudian....


"Henri, apa benar dia orangnya?" tanya Bi Nana.


Henri pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya Nyonya Nana, dia orangnya yang sudah membuat Nyonya Zuy terluka," jawab Henri.


Bi Nana pun berjalan mendekat ke arah Linda, saat sudah berada di hadapan Linda, Bi Nana menatapnya dengan tajam, lalu kemudian ....


Plaak!


***Bersambung....


Author: "Maaf Kakak2 semuanya yang Author sayangi. Maaf CUP baru bisa Update sekarang, soalnya kesehatan yang menurun, biasa pergantian musim, hehehe... ✌️✌️😁 Terimakasih banyak karena sudah menunggu CUP (Eeh pede ish... 🤭) Terimakasih banyak atas hadiah, tips dan Votenya. Jaga kesehatan, sukses selalu dan tetap semangat... semangat.... semangat... 😘


Sayang Kakak banyak7x....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2