
<<<<<
Seketika membuat Zuy membulatkan matanya dengan sempurna.
"Apa Kakak bilang!"
Taakk....
Zuy menjatuhkan benda pipih yang tengah di pegangnya itu, membuat Airin yang berada di samping Zuy pun langsung menghentikan aktivitas makannya.
"Zuy ada apa?"
Zuy pun menoleh ke Airin, nampak aliran bening yang lolos dari matanya dan mengalir membasahi pipinya. Sontak Airin terkejut melihatnya, ia pun langsung meletakkan piring yang ia pegang dan mendekat ke arah Zuy.
"Zuy, kenapa kamu menangis? Apa terjadi sesuatu?" tanya Airin memegangi pundak Zuy.
Akan tetapi Zuy tidak menjawab pertanyaan Airin, hanya isak tangisnya yang keluar dari mulutnya sembari menutupi wajahnya, membuat Airin semakin kebingungan. Lalu....
"Zuy, Zuy! Apa kamu masih di sana?" suara Aries dari hp Zuy.
Seketika Airin langsung mengambil hp Zuy dan menempelkannya ke telinganya.
"Maaf Kak Aries, ini aku Airin." ujar Airin.
"Oh, kamu ada di rumah Ray juga, Rin?"
"Iya Kak Aries, kebetulan Airin lagi libur, jadi Airin main kesini," kata Airin.
"Lalu di mana Zuy, Rin?"
Airin lalu mengarahkan pandangannya ke Zuy yang masih menangis.
"Zuy lagi nangis Kak, di tanya juga gak ngejawab. Euuum, maaf Kak Aries kalau Airin ikut campur, sebenarnya apa yang terjadi? Sampai Zuy menangis seperti itu?" karena penasaran Airin pun memberanikan diri untuk bertanya pada Aries.
"Begini Rin, Kakak dapat kabar kalau mobil yang di kendarai oleh Om Randy mengalami kecelakaan, sekarang sudah berada di rumah sakit." jelas Aries.
"Apa! Terus bagaimana keadaan Paman Randy? Bagaimana Bi Nana Nara dan Rana?" cecar Airin yang terkejut mendengar kabar duka dari Aries.
"Kalau Nara dan Rana baik-baik saja, sedangkan keadaan Om Randy dan Tante Nana Kakak belum tahu, Rin. Soalnya Kakak juga lagi di perjalanan menuju ke rumah sakit," kata Aries.
"Ya ampun Bi Nana juga ikut serta?"
"Iya Rin. Udah dulu ya, nanti Kakak kabarin lagi kalau udah sampai di rumah sakit. Tolong kamu tenangkan Zuy ya Rin!" pinta Aries.
"Iya Kak. Kakak hati-hati ya!" ucap Airin.
Obrolan pun berakhir...
Airin kembali mendekat ke arah Zuy dan memeluknya seraya mengelus punggungnya.
"Zuy...."
"Rin, Bi Nana Rin, Bi Nana sama Paman...." tangis Zuy di pelukan Airin.
"Iya Zuy, aku juga sedih dengernya, kamu sabar ya! Kita doakan semoga Paman Randy dan Bi Nana baik-baik saja." tutur Airin.
"Tapi bagaimana kalau mereka ..., Zuy gak mau kehilangan mereka Rin, Zuy...."
Mendengar itu Airin langsung melepaskan pelukannya dan beralih menangkup pipi Zuy.
"Zuy, kamu jangan berfikiran yang tidak-tidak! Aku yakin mereka baik-baik saja. Kita tunggu kabar selanjutnya dari Kak Aries ya!"
"Rin, ayo kita ke rumah sakit! Aku ingin ke Bi Nana dan Paman. Aku ingin melihat mereka!" pinta Zuy mengguncang tubuh Airin.
"Iya nanti kita ke rumah sakit, sekarang kamu tenang dulu ya Zuy!" kata Airin sembari mengambil gelas air milik Zuy.
"Tapi Rin, aku ...."
Airin menyodorkan gelas minum milik Zuy. "Zuy, minum dulu! Supaya kamu tenang."
Namun Zuy malah menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak haus Rin, aku hanya ingin bertemu dengan mereka!"
Mendengar itu, Airin menghela nafas panjangnya, lalu tiba-tiba terdengar suara tangisan salah satu dari si kembar yang bangun dari tidurnya, sontak Airin dan Zuy langsung menolehkan kepalanya ke arah box bayi si kembar.
"Zuy, anak mu bangun."
"Tolong bawa kesini Rin!"
Airin mengangguk, ia pun mendekat ke arah box bayi si kembar.
"Uluh-uluh.... Ternyata si ganteng embulnya Tante yang bangun. Sini gendong sama Tante!"
Airin lalu mengangkat tubuh Baby R dan memberikannya pada Zuy.
"Terimakasih Rin." ucap Zuy.
"Sama-sama Zuy," balas Airin.
Sebelum memberi ASI-nya pada Baby R, Zuy terlebih dahulu mengecek popok Baby R, karena bisa saja Baby R terbangun karena mengompol atau buang air besar. Seperti dugaan Zuy ternyata popoknya penuh, ia pun langsung melepaskan popok Baby R dan menggantinya.
"Rin, aku boleh minta tolong lagi." papar Zuy.
"Tentu boleh dong, kamu mau minta tolong apa?"
"Tolong bilang ke pelayan untuk menghangatkan beberapa botol ASIP yang berada di dalam kulkas ASI, sekalian panggilkan Bu Ima!" pinta Zuy.
"Oh, oke Zuy."
Airin lalu bangkit dari posisinya dan bergegas menuju ke arah dapur. Selesai mengganti popok Baby R, Zuy langsung memberikan ASI-nya ke Baby R, akan tetapi air matanya kembali mengalir membasahi pipinya.
Seakan mengerti akan kesedihan Mamahnya, Baby R yang sedang menyusu pun mengangkat tangan mungilnya itu ke arah wajah Zuy dan di tepuk nya pipi Zuy oleh Baby R, membuat Zuy memalingkan wajahnya ke Baby R yang tengah menatapnya.
"Maaf ya gantengnya Mamah! Kalau Mamah menunjukkan kesedihan Mamah di depan kamu," ucap Zuy memegang tangan mungil Baby R yang berada di pipinya dan menciumnya.
Sesaat Airin kembali bersama Bu Ima.
"Nak Zuy, barusan Ibu dengar dari Airin kalau Nana dan suaminya dapat musibah. Apa itu benar?" tanya Bu Ima memastikan.
Zuy melihat ke arah Bu Ima dan menganggukkan kepalanya seraya menjawab pertanyaan Bu Ima.
"Ya ampun, lalu bagaimana keadaan mereka?"
"Zuy gak tau Bu, Kak Aries belum ngasih kabar lagi."
Bu Ima lalu duduk di samping Zuy sembari merangkul pundaknya.
"Kamu yang sabar ya Nak! Kita doakan semoga mereka baik-baik saja." tuturnya.
"Iya Bu. Euuum Bu Ima tolong siapkan semua keperluan si kembar ya! Soalnya Zuy ingin ke rumah sakit melihat keadaan Paman dan Bibi," pinta Zuy.
"Iya Nak, Ibu akan menyiapkannya sekarang. Asal kamu tenang!" kata Bu Ima.
"Iya Bu, terimakasih."
Bu Ima kembali bangkit dari posisinya dan melenggang ke arah kamar si kembar. Sedangkan Airin menenangkan Zuy kembali.
*************************
__ADS_1
Sementara itu di tempat makan khusus untuk para Atasan, Ray dan Davin nampak tengah menikmati makan siangnya. Lalu....
Uhuk-uhuk....
Tiba-tiba Ray terbatuk-batuk, sontak membuat Davin mengarahkan pandangannya ke arah Ray sembari menyodorkan minuman milik Ray.
"Tuan Ray, makanya kalau makan tuh pelan-pelan jangan buru-buru begitu, jadinya tersedak kan. Nih minum!" tutur Davin.
Ray langsung mengambil minumannya. "Siapa yang makannya buru-buru sih Kak Davin, orang aku makannya biasa aja," gumamnya.
Kemudian Ray meminum minuman miliknya hingga habis. Sesaat setelahnya....
"Bagaimana apa sudah mendingan?" tanya Davin.
"Ya lumayan," balas Ray. "Hmmmm, kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak begini? Apa terjadi sesuatu?" batin Ray.
Ray lalu merogoh saku celananya untuk mengambil hpnya, setelah itu ia pun menghubungi seseorang yang tak lain adalah pujaan hatinya Zuy.
Tuuut....
"Sayangku...."
"Maaf Tuan bos, ini saya Airin." ujarnya dari seberang telponnya.
"Oh ternyata kamu Rin, lalu di mana Mamahnya di kembar?" tanya Ray.
"Zuy masih nangis Tuan bos," jawab Airin.
"Apa! Nangis? Apa yang terjadi Rin? Apa si kembar demam lagi?"
"Tidak Tuan bos, si kembar baik-baik saja. Zuy nangis sebab ia mendapatkan kabar bahwa Paman Randy dan Bi Nana mengalami kecelakaan dan sekarang kita juga sedang menuju ke rumah sakit." jelas Airin.
Sontak membuat Ray terkejut dan langsung bangkit dari posisinya.
"Kamu bilang apa? Om dan Bi Nana kecelakaan? Serius kamu Rin?"
"I-iya serius Tuan bos, makanya dari tadi Zuy nangis terus."
"Yaudah kamu tenangin dulu Mamahnya si kembar! Sekarang juga aku berangkat ke rumah sakit, kita ketemu di sana."
"Baik Tuan bos."
Lalu Ray memutuskan telponnya.
"Tuan Ray...."
Ray mengalihkan pandangannya ke Davin. "Ada apa Kak?"
"Barusan Mrs Yiou juga mengirim pesan padaku dan memberi kabar tentang Om dan Tante Nana yang kecelakaan, sekarang Mrs Yiou juga sedang berada di rumah sakit bersama Aries dan kedua anak Tante Nana." ujar Davin.
Ternyata saat Ray sedang mengobrol dengan Airin, secara bersamaan Yiou memberikan kabar pada Davin tentang apa yang terjadi pada Pak Randy dan Bi Nana.
"Ya ampun Om, Bi Nana." lirih Ray mengusap kasar wajahnya.
"Tuan Ray yang sabar ya!" ucap Davin menenangkan Ray. Lalu....
"Kak Davin, aku akan pergi ke rumah sakit sekarang. Kakak tolong gantikan posisi ku untuk bertemu dengan klien!" kata Ray sekaligus menyuruh Davin.
"Siap Tuan," Davin mengangguk mematuhi perintah Ray.
"Dan ingat untuk selalu waspada terhadap mereka!"
"Pasti Tuan Ray, kalau mereka berani macam-macam, aku tidak akan mengampuni mereka."
Ray tersenyum. "Terimakasih Kak, yaudah kalau begitu aku berangkat sekarang."
Ray menepuk pundak Davin dan bergegas pergi meninggalkan Davin.
"Semoga Om Randy dan Tante Nana baik-baik saja."
Kemudian Davin melanjutkan aktivitas makan siangnya.
******************************
Rumah Sakit
Beberapa saat kemudian, Zuy dan lainnya sampai di rumah sakit. Setelah bertanya pada bagian resepsionis, mereka pun bergegas menuju ke ruang UGD. Sesampainya di sana, Zuy melihat Yiou yang sedang duduk di depan ruang UGD bersama dengan Nara dan seorang wanita bernama Irma yang sedang menggendong Rana, ia pun langsung menghampirinya.
"Kak Yiou, Nara...." seru Zuy.
Seketika mereka langsung menolehkan kepalanya ke arah Zuy.
"Baby!"
"Kakak...."
Nara langsung berlari ke arah Zuy dan memeluknya sambil menangis.
Zuy lalu duduk berjongkok di depan Nara dan di usapnya wajah Nara.
"Sshtt.... Jangan nangis sayang!"
"Tapi Mamih sama Papih, Kak."
"Iya sayang, Kakak juga sedih sama seperti Nara, kita doain Papih dan Mamih ya!" tutur Zuy.
Nara mengangguk. "Iya Kakak."
"Kalau gitu Nara jangan nangis ya! Kasihan Rana, nanti dia juga ikutan nangis kalau liat Nara nangis. Nara gak mau kan kalau Rana juga ikutan sedih?"
"Nggak Kak, Nara gak mau Rana sedih," kata Nara.
"Yaudah, kita ke sana lagi yuk!" ajak Zuy dan di balas anggukan oleh Nara.
Mereka pun melangkahkan kakinya menghampiri Yiou. Saat berada di dekat Yiou, Zuy langsung memeluknya.
"Sabar ya Baby!" ucap Yiou mengelus punggung Zuy.
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Zuy.
Yiou lalu melepaskan pelukannya dan mengajak Zuy duduk. Sebelum bercerita ia pun membuang nafasnya terlebih dahulu.
"Begini Baby tadi pagi ...."
......................
Flashback
Rumah Bi Nana
Pagi itu pukul 08.37Am. Pak Randy dan Bi Nana nampak berpakaian rapi, terlihat jelas bahwa mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat. Setelah selesai dengan semuanya, Pak Randy dan Bi Nana menghampiri Yiou dan Aries yang sedang bersama dengan Nara. Sedangkan Rana sedang tidur di ayunannya.
"Yi, Aries...." panggil Bi Nana.
Mereka pun memalingkan wajahnya ke arah Bi Nana dan Pak Randy.
"Iya Tante. Euuum, Tante sama Om mau berangkat sekarang?" tanya Yiou.
"Iya Yi. Biar pulangnya gak kesorean, kasihan kan anak-anak." jawab Bi Nana.
__ADS_1
"Oh," lirih Yiou manggut-manggut.
"Maaf ya Yi, Aries. Kalau Om dan Tante merepotkan kalian, soalnya di acara pesta pernikahan anak teman Om itu, di larang membawa anak-anak. Jadi terpaksa Nara dan Rana harus kami tinggal," ucap Pak Randy.
"Tidak merepotkan kok Om, kami malah senang kalau ada Nara dan Rana. Dan ini juga kesempatan kalian untuk berduaan, ya anggap saja seperti kencan. Kan semenjak ada Nara dan Rana, Tante dan Om jarang pergi berduaan," kata Aries.
Seketika Pak Randy langsung memukul pelan lengan Aries.
"Kamu bisa aja Ries. Tapi ada benarnya juga sih, iya gak Na? Kita kan memang gak pernah kencan berdua semenjak ada dua bocil," lontar Pak Randy yang melihat ke Bi Nana sembari menggerakkan alisnya.
Sontak membuat wajah Bi Nana merona, lalu di pukulnya punggung Pak Randy oleh Bi Nana.
"Papih, jangan seperti itu! Malu tahu di lihat sama keponakan kita, apalagi ada anak kita yang masih di bawah umur," pekik Bi Nana.
Akan tetapi berbeda dengan hati Bi Nana yang saat ini tengah berbunga-bunga.
"Mamih, Papih...." panggil Nara sambil menarik-narik jas yang di pakai Pak Randy, membuat Pak Randy beralih pandang ke arah Nara.
"Ada apa jagoan Papih? Apa kamu ingin minta sesuatu?" tanya Pak Randy sembari berjongkok di depan Nara dan mengusap rambut anak laki-lakinya itu.
"Tidak Pih. Tapi Nara mau tanya memang Papih sama Mamih mau pergi kemana?" bukannya menjawab pertanyaan dari Papihnya, Nara malah bertanya kembali pada Papihnya itu.
"Nara, bukannya tadi Papih udah bilang, kalau Papih sama Mamih mau pergi ke acara teman Papih. Tapi sayangnya Papih sama Mamih tidak boleh bawa Nara dan Rana. Gak apa-apa kan, kalau Nara di tinggal bentar temani adik Rana. Papih janji pulangnya Papih beliin mainan buat Nara." ujar Pak Randy.
Akan tetapi Nara malah menggelengkan kepalanya.
"Gak mau, Nara gak mau mainan," cetus Nara.
"Lalu Nara maunya apa? Bilang aja jagoan Papih, pasti Papih belikan keinginan Nara," lontar Pak Randy.
"Nara maunya Papih sama Mamih gak pergi, di sini aja temani Nara sama adik Rana!" pinta Nara.
"Tapi Nara, Papih gak enak sama teman Papih. Soalnya Papih udah janji sama teman Papih, kalau Papih gak datang berarti Papih ingkar janji dong, kan kata Nara Papih gak boleh ingkar janji." papar Pak Randy.
"Biarin aja! Yang penting Papih sama Mamih gak pergi. Nara maunya Papih sama Mamih di rumah aja temani Nara!" rengek Nara sambil menghentak-hentak kan kakinya dan menarik-narik dasi Pak Randy.
Sehingga Pak Randy mengerutkan dahinya karena kesal, lalu ....
"Naraaa!! Kamu itu laki-laki dan sudah besar, bisa tidak kalau kamu tidak merengek seperti ini!" sentak Pak Randy.
Membuat semua terkejut dan mengarahkan pandangannya ke Pak Randy, karena ini pertama kalinya Pak Randy menyerukan suara tinggi pada Nara.
"Papih! Anaknya jangan di bentak seperti itu!" Bi Nana menepuk pundak Pak Randy.
Nara yang mendengarnya pun langsung menghentikan aksinya itu. Nampak jelas dari raut wajah Nara yang akan menangis.
"Papih jahat, Nara benci Papih!" seru Nara, ia pun berlari ke arah kamarnya.
"Nara...."
Aries lalu memegang bahu Pak Randy. "Om, Tante. Lebih baik kalian berangkat sekarang aja! Supaya pulang cepat dan gak ke malaman."
"Tapi Nara...." lirih Pak Randy.
"Kalau Nara biar Aries yang ngurus," kata aries.
Pak Randy menghela nafasnya. "Haaa.... Baiklah Ries, kami berangkat dulu."
"Iya kalian hati-hati!" ucap Aries
Pak Randy dan Bi Nana pun melangkah pergi. Ya meskipun perasaan Pak Randy kini sedang merasa bersalah karena telah membentak Nara.
Flashback End
......................
"Begitu ceritanya Baby, setelah mereka pergi Aries langsung ke kamar Nara dan membujuk Nara. Ya walaupun Aries membohongi Nara ingin mengajaknya ke rumah Ray untuk bertemu dengan mu, akhirnya dia mau di bujuk. Nah pas jam dua belas tadi saat kami sedang makan siang, tiba-tiba Aries mendapat telpon dari pihak Rumah sakit kalau Om dan Tante ada di rumah sakit karena kecelakaan." ungkap Yiou yang menceritakan tentang tragedi kecelakaan yang dialami oleh Pak Randy dan Bi Nana.
"Ya ampun Paman, Bibi." lirih Zuy. "Lalu dimana Kak Aries?" sambung tanyanya sembari mengedarkan pandangannya mencari Aries.
"Aries sedang berada di ruang operasi menunggu Om Randy, sebab di bandingkan dengan Tante Nana, keadaan Om Randy lah yang parah dan harus segera di operasi." jawab Yiou.
Lagi-lagi air mata Zuy mengalir membasahi pipinya dan dadanya semakin sakit saat mendengar jawaban dari Yiou.
"Paman...." tangis Zuy menutupi wajahnya.
"Sabar Baby!" Yiou mengelus punggung Zuy.
Lalu kemudian Ray datang dan menghampiri mereka.
"Sayangku...."
Mendengar suara Ray, mereka yang berada di sana pun beralih menoleh ke arah Ray, begitu pula dengan Zuy yang bangkit dari posisinya. Dan saat Ray sudah di hadapannya, Zuy langsung memeluk tubuh kekar Daddy-nya anak-anak itu dan menangis.
"Ray...."
"Sayangku yang sabar, yang tenang ya!" tutur Ray sembari menciumi puncak kepala dan beralih ke kening pujaan hatinya itu tanpa peduli di sana banyak orang.
Selang beberapa saat, Aries yang tadinya berada di luar ruang operasi karena menunggu Pak Randy, kini ia kembali ke arah ruang UGD, dengan langkahnya yang terhuyung-huyung Aries menghampiri istri dan lainnya.
"Yank...." seru Yiou.
Aries pun hanya membalasnya dengan senyuman tipis di bibirnya. Lalu Zuy mendekat ke arah Aries.
"Kak, kenapa Kakak kesini? Apa operasinya sudah selesai? Terus bagaimana keadaan Paman, Kak?" cecar Zuy.
Mendengar pertanyaan Zuy, seketika Aries menundukkan kepalanya, nampak aliran air matanya yang lolos.
"Kak, kenapa diam? Jawab pertanyaan ku!" pekik Zuy mengguncang tubuh Aries.
"Sayangku, sudah jangan menekannya!" Ray merangkul Zuy.
Lalu perlahan Aries mengangkat kepalanya kembali sembari menghela nafasnya dan di lirikan matanya ke arah yang lainnya.
"Om Randy, dia ...."
******************************
Di tempat lain....
Siang itu, Maria dan Mira nampak sedang berada di Minimarket. Sesaat setelah selesai, mereka berdua pun keluar dari Minimarket tersebut dan berjalan menuju ke arah mobilnya.
Saat sudah berada di dekat mobilnya, tiba-tiba dua orang dengan bertubuh kekar datang menghampiri Maria.
"Akhirnya kami menemukan anda, Mrs Maria." ucap salah satu pria tersebut membuat Maria dan Mira menolehkan kepalanya ke arahnya.
"Ka-kalian....!!"
***Bersambung....
Author: "Minta semangat dan dukungannya! Supaya Author segera bangkit dari kesedihan mendalam dan semangat kembali lagi seperti sedia kala.... 😫🙏"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1