Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Tidak Pernah Menyayangi Ku....


__ADS_3

WARNING!!!


<<<<<


Sesampainya di sana, Bi Nana terkejut melihat dua orang wanita, yang satu sedang berdiri dan satunya tengah duduk di kursi roda sambil tersenyum ke arah Bi Nana dan salah satu wanita itu tak lain adalah....


"Maria...!!"


"Selamat pagi Na," ucap Maria.


......................


Beberapa saat sebelumnya....


°Rumah Dimas


Kala itu Dimas, Eqitna dan Maria tengah menikmati sarapan paginya dengan tenang dan damai, hanya suara dentingan-dentingan dari beradunya alat makan yang mereka gunakan. Sesaat setelah selesai menikmati sarapannya ....


"Dimas...." Maria memulai membuka suaranya.


"Iya Kak," sahut Dimas sambil mengusap bibirnya sendiri.


"Euuum, apa kamu tahu alamat rumah Nana?" tanya Maria.


"Rumah Nana?" Dimas berfikir sejenak. "Oh maksudnya rumah Bibinya Zuy?" sambungnya.


Maria mengangguk. "Iya maksudnya Bibinya Zuy, apa kamu tahu di mana alamat rumahnya?"


"Iya, Dimas tahu alamat rumahnya, Kak." ujar Dimas.


"Huuuft.... Syukurlah kalau kamu tahu, Dimas. Lalu di mana alamat rumahnya!" pinta Maria.


"Tunggu! Sebenarnya ada apa Kakak nanyain alamat rumah Nyonya Nana? Apa Kakak ingin membuat kerusuhan lagi?" lontar pertanyaan Dimas yang menyidik.


Mendengar pertanyaan Dimas, Maria terlebih dahulu menghela nafas panjangnya, kemudian ia menatap Dimas dengan tatapan sendu.


"Dimas, kenapa kamu bertanya seperti itu? Mana mungkin Kakak membuat kerusuhan. Kakak menanyakan alamatnya karena Kakak ingin berdamai dengan Nana, dan juga Kakak ingin meminta bantuan darinya," jelas Maria.


"Meminta bantuan darinya?" tanya Dimas kembali.


"Iya Dimas, Kakak ingin Nana membujuk Zuy, supaya Zuy mau menerima Kakak sebagai Ibunya dan memaafkan kesalahan Kakak ini. Tentunya kamu tahu kan Dimas, kalau Zuy sangat menyayangi Bibinya dan ia selalu mendengarkan perkataan Bibinya itu," lontar Maria.


"Kak Maria benar, bahwa Zuy memang sangat menyayangi Nyonya Nana dan selalu mendengarkan perkataannya, bahkan Zuy selalu marah dan tidak terima jika ada seseorang yang menyinggung Bibinya itu. Tapi menurut Dimas wajar kalau Zuy seperti itu terhadap Bibinya. Sebab Nyonya Nana yang sudah merawat dan membesarkan Zuy dari bayi hingga dewasa," ujar Dimas dengan panjangnya.


"Iya Kakak tahu itu, Dimas. Maka dari itu Kakak ingin ke rumah Nana dan minta bantuannya. Jadi Kakak mohon Dimas! Tolong kasih tau di mana alamat rumah Nana?"


Dimas menundukkan kepalanya. "Tapi Kak ...."


"Dim, Kakak mohon! Ini satu-satunya cara supaya Kakak bisa cepat berdamai dengan Zuy. Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh ikut temani Kakak," seloroh Maria.


Sesaat Dimas mengambil nafasnya dan menghembuskannya, ia pun mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke Maria.


"Haaaa.... Baiklah Kak, Dimas akan beri tahu Kakak alamat rumah Nyonya Nana. Tapi Kakak janji sama Dimas, bahwa Kakak tidak akan buat keributan di sana!"


Maria menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya Dimas Kakak janji tidak akan membuat keributan di sana," ucap Maria. "Euuum.... Apa kamu akan temani Kakak, Dim?" sambung tanyanya.


"Sebenarnya Dimas ingin temani Kakak ke sana, tapi sayangnya Dimas harus buru-buru ke rumah sakit," ujar Dimas.


"Yaudah gak apa-apa, nanti Kakak kesana nya bareng Mira saja," kata Maria.


Dimas memanggut seraya menyetujui perkataan Maria.


"Semoga saja Nana mau membantu ku untuk berdamai dengan Zuy. Jika nanti aku berhasil berdamai dengan Zuy, maka aku akan membujuk Zuy untuk berbicara dengan Ray. Supaya Ray mau menghubungi Kimberly dan menghiburnya," batin Maria di barengi dengan senyuman smirk-nya.


Flashback end


......................


Lalu Bi Nana berjalan mendekat ke arah Maria.


"Mau apa kamu datang ke sini Maria?" tanya Bi Nana dengan sorot mata yang tak biasa.


"Na, kamu tidak mengajakku masuk ke dalam rumah mu? Tidak baik lho membiarkan tamu berada di luar seperti ini," cetus Maria.


Bi Nana lalu menghela nafasnya. "Baiklah, ayo masuk!" ajaknya.


"Terimakasih Nana," ucap Maria.


Mira selaku orang yang menemani Maria pun mendorong kursi roda Maria masuk ke dalam rumah Bi Nana. Saat sudah berada di dalam, Bi Nana langsung mendudukkan dirinya di atas sofa, begitu pula dengan Mira, sedangkan Maria tetap di kursi rodanya.


Lalu ....


"Nara...." seru Bi Nana.


Nara pun segera menghampiri Bi Nana.


"Iya Mih," sahut Nara.


"Nara, Mamih boleh minta tolong."


"Minta tolong apa Mih?"


"Kamu bilang ke Bu Irma, suruh bikin minuman untuk tamu!" titah Bi Nana.


"Baik Mih...." balas Nara sambil mengangguk patuh.


Kemudian Nara melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk memberitahu pada Bu Irma (Pelayan rumah Bi Nana) tentang apa yang di perintahkan oleh Mamihnya itu.


"Sekarang katakan padaku! Ada urusan apa kamu datang kemari, Maria?" Terus kamu tahu dari mana alamat rumah ku ini?" cecar Bi Nana.


"Aku tahu alamat rumah mu ini dari Dimas, Na."


"Huuuu.... Sudah ku duga," gumam Bi Nana.


"Dan sebenarnya kedatangan ku kemari ingin meminta bantuanmu, Nana." jelas Maria.


Sontak membuat terkejut Bi Nana.


"Apa kamu bilang? Meminta bantuan ku? Heh, apa kamu sedang bercanda, Maria?" pekik Bi Nana.


Akan tetapi Maria menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku sedang tidak bercanda dan aku sangat serius ingin meminta bantuan mu."


Maria lalu menjalankan kursi rodanya dan mendekat ke arah Bi Nana, kemudian ia memegang erat tangan Bi Nana.


"Nana, aku mohon padamu! Tolong bantu aku untuk bicara pada Zuy, agar Zuy bisa memaafkan ku dan menerima ku sebagai Ibunya!" pinta Maria tersedu-sedu.


"Apa! Jadi maksud mu itu, aku harus membujuk Zuy supaya ia mau memaafkan perbuatan mu itu?" pekik Bi Nana.


Maria mengangguk. "Iya kurang lebih seperti itu, Na."


"Tapi kenapa harus aku? Kenapa bukan kamu sendiri yang melakukannya?" pekik Bi Nana.


"Ya, itu karena kamu adalah orang yang di sayangnya dan aku yakin Zuy akan mendengarkan perkataan mu itu. Jadi aku mohon padamu, Na! Bisakah kamu membantu ku?" lontar Maria.


Bi Nana lalu melepaskan genggaman tangan Maria sambil menghela nafasnya kembali.


"Maaf aku tidak bisa melakukannya," tolak Bi Nana.


Sehingga membuat Maria tersentak mendengar penolakan dari Bi Nana.


"Apa! Tapi kenapa Na?" tanya Maria.


"Ya karena aku tidak mau melakukannya, Maria. Justru kamu yang seharusnya bicara sendiri pada Zuy dan meminta maaf padanya atas apa yang sudah kamu lakukan itu," tutur Bi Nana dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Aku juga inginnya seperti itu, Na. Hanya saja dia selalu memalingkan wajahnya dan menghindar jika sudah melihat ku," jelas Maria.


"Ya wajar kalau Zuy seperti itu, karena dia sudah terlanjur sakit hati padamu, Maria. Perlakuan mu terhadap Zuy sudah sangat keterlaluan, bukan hanya saja menelantarkannya selama 29 tahun, tapi kamu juga menampar, menjambak dan bahkan memberinya uang supaya Zuy pergi meninggalkan suaminya itu, lebih parahnya lagi kamu menyuruh Zuy menggugurkan kandungannya," cicit Bi Nana.


"Iya kamu benar itu salah ku, karena waktu itu aku terbawa emosi saat tahu bahwa Zuy telah merebut Ray dari Kimberly. Hati Ibu mana yang tidak sakit, melihat anaknya menangis karena kebahagiaannya di rampas oleh seseorang yang tak lain adalah Kakaknya sendiri," ujar Maria menitihkan air matanya.


Mendengar itu Bi Nana langsung bangkit dari posisinya dan menatap tajam Maria sambil mengepalkan tangannya.


"Kamu bilang apa? Zuy mengambil Ray dari Kimberly?"


Lagi-lagi Maria menganggukkan kepalanya, sehingga membuat Bi Nana kembali menghela nafasnya untuk menahan emosinya.


"Maria Lestari, asal kamu tahu saja. Gadis kecilku tidak pernah mengambil Ray dari Kimberly atau siapapun. Kalau Ray lebih memilih Zuy di bandingkan dengan Kimberly, menurutku itu wajar. Sebab sejak dari dulu Ray sangat menyukai Zuy, bahkan mungkin sejak saat Zuy menjadi pengasuhnya itu." cecar Bi Nana.


Tanpa mereka sadari bahwa sebenarnya Zuy sudah berada di luar dan sedang berdiri dengan posisi menyandar di dinding, tangisnya tak dapat di bendungnya saat ia mendengar percakapan antara Maria dan Bi Nana.


"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" tanya Henri yang berada di samping Zuy.


Zuy menoleh ke arah Henri. "Aku tidak apa-apa Hen."


"Tapi Nyonya ...."


"Aku beneran tidak apa-apa Hen, kamu tidak perlu khawatir seperti itu!" tutur Zuy.


Henri pun langsung menundukkan kepalanya. "Iya Nyonya, maafkan saya."


"Kalau begitu aku masuk dulu ya Hen. Kalau kamu mau pulang duluan aja ya!" titah Zuy.


Henri menggeleng. "Tidak Nyonya, saya akan di sini menunggu Nyonya."


"Yaudah kalau mau kamu begitu."


Zuy lalu melangkahkan kakinya menuju ke dalam, dan saat berada di ambang pintu, Zuy kembali menghentikan langkahnya sambil mengarahkan pandangannya ke arah Bi Nana dan Maria.


"Iya aku tahu itu Na, tapi apakah pantas seorang pengasuh bersanding dengan Tuannya, apalagi usia Zuy lebih tua dari Ray. Seharusnya Zuy lebih mengerti dan mengalah untuk adiknya, bukan malah egois seperti ini, Na." cetus Maria, sehingga membuat Bi Nana semakin geram.


"Apa kamu bilang! Zuy egois? Maria kamu benar-benar ...."


Bi Nana menghentikan perkataannya karena ....


"Bi Nana, Mrs Maria, cukup!!" seru Zuy.


Sehingga membuat Bi Nana dan Maria menolehkan kepalanya ke arah Zuy.


"Zuy!!" ucapnya serempak.


Zuy lalu menghentakkan kakinya melewati Maria menuju ke Bi Nana, ia pun langsung memeluk erat Bi Nana dan menangis.


"Zuy, sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Bi Nana.


"Sejak kalian berdua berbicara," jawab Zuy.


"Jadi kamu mendengar apa yang Maria katakan?"


Zuy membalasnya dengan anggukan kecil saja. Lalu pandangan Bi Nana mengarah ke Maria.


"Lihatlah Maria! Kamu lagi-lagi melukai hati gadis kecilku, sehingga membuat Zuy menangis seperti ini!" pekik Bi Nana.


"Zuy, maafkan Mamah! Maaf tidak bermaksud berkata seperti itu, Mamah ...." ucap Maria.


Zuy lalu melepaskan pelukannya dan menatap Maria.


"Anda memang tidak pernah menyayangi ku, anda hanya sayang pada Kimberly saja, Mrs Maria." cicit Zuy.


"Zuy, kenapa kamu bicara seperti itu? Tentu saja Mamah sayang kalian berdua. Zuy dengarkan Mamah! Mamah ...."


"Cukup! Zuy udah gak mau dengar apa-apa lagi dari anda, Mrs Maria." sentak Zuy.


"Maria kamu dengar sendiri kan, bahwa Zuy tidak ingin mendengar perkataan mu. Lebih baik kamu pergi dari sini! Sebelum aku usir secara paksa." sergah Bi Nana.


"Baiklah aku akan pergi dari sini. Dan untuk kamu Zuy, sampai kapanpun aku tetap Ibu mu, orang yang sudah melahirkan mu. Apa kamu tidak takut menjadi anak durhaka jika mengabaikan Ibu kandung mu seperti ini! Apalagi posisi mu sekarang sedang hamil, Zuy." lontar Maria dengan emosinya.


"Nona, cepat bawa pergi Maria dari sini!" titah Bi Nana pada Mira.


Mira mengangguk, kemudian ia mendekat ke arah Maria dan mendorong kursi roda Maria menuju keluar. Sesaat setelah Maria pergi, tangis Zuy kembali pecah, tubuhnya pun seakan lemas tak berdaya. Lalu dengan sigap Bi Nana langsung mendudukkan Zuy di atas sofa.


Sedangkan Pak Randy, Aries dan Yiou yang sedari tadi berada di dalam, langsung berhamburan keluar menghampiri Bi Nana dan Zuy.


"Baby, apa kamu baik-baik saja?" tanya Yiou mendekap tubuh Zuy.


Zuy tidak menjawab, hanya isak tangisnya yang keluar dari mulutnya itu, membuat Yiou ikut menitihkan air matanya.


"Maria, apa dia belum puas membuat Zuy menangis seperti ini," tangis Bi Nana.


Pak Randy pun langsung memeluk Bi Nana.


"Kamu sabar ya Na!" tutur Pak Randy.


Sebenarnya sedari tadi Pak Randy ingin keluar untuk melerai Bi Nana dan Maria, akan tetapi ia urungkan niatnya itu. Karena Pak Randy tidak ingin membuat suasana semakin tambah memanas.


*********************


Perusahaan CV


Tak terasa waktu berlalu cepat, matahari pun sudah bergeser hampir di atas kepala, pertanda bahwa waktu istirahat akan tiba.


Ruang Ceo


Sementara itu, Ray nampak tengah duduk menyandar sambil memutar kursinya ke kanan dan kiri, pikirannya pun kini tertuju pada pujaan hatinya itu.


"Sayangku, apa terjadi sesuatu padamu? Sejak dari tadi perasaanku tidak enak seperti ini?" ucap Ray. Lalu ....


Tok.... Tok.... Tok....


Seseorang mengetuk pintunya, sehingga membuat Ray tersentak dan langsung menegakkan posisi duduknya.


"Masuk!!!" seru Ray.


Mendapat izin dari Ray, ia pun langsung membuka pintunya dan berjalan masuk menghampiri Ray dan ia adalah Friska.


"Tuan Ray...." sapa Friska.


Ray menoleh. "Ternyata Bu Friska, ada apa?" tanyanya.


"Ini berkas yang anda minta Tuan, sudah saya cek ulang semuanya," kata Friska sambil menunjukkan map yang di bawanya.


"Iya letakkan saja di atas meja!" titah Ray.


Friska mengangguk, kemudian ia meletakkan map tersebut di atas meja kerja Ray, sesuai dengan perintahnya.


"Euuum, Tuan Ray...."


"Iya Bu Friska," sahut Ray.


"Maaf Tuan Ray, saya ingin tanya soal Zuy. Bagaimana kabar Zuy dan kandungannya? Soalnya saya sudah lama tidak bertemu dengannya." ujar Friska sekaligus bertanya.


"Zuy baik-baik saja, kandungannya juga baik-baik saja, Bu Friska." jawab Ray.


"Syukurlah kalau Zuy dan kandungannya baik-baik saja, aku senang mendengarnya. Oh iya titip salam ku buat Zuy ya Tuan!" ucap Friska dengan senangnya.


"Ya nanti saya akan sampaikan salam anda," balas Ray mengangguk.


"Terimakasih Tuan, yaudah kalau begitu saya kembali ke ruangan saya lagi, permisi Tuan." pamit Friska dan di balas anggukan oleh Ray.


Kemudian Friska melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Ray.


"Gara-gara Bu Friska, aku jadi semakin merindukan sayangku, nanti sebelum pulang aku mampir dulu ke toko kue dan membelikan kue coklat kesukaan sayangku." lirih Ray.

__ADS_1


Ray lalu mengambil map yang di berikan oleh Friska dan membacanya.


...----------------...


Senja hari telah tiba, langit sedari tadi sudah mengubah warnanya menjadi gelap dan bahkan menurunkan mata airnya, membuat suasana yang tadinya panas berubah menjadi dingin.


Rumah Ray


Sementara itu, Zuy nampak tengah duduk di balkon kamarnya sambil memandangi tetesan demi tetesan air hujan yang turun, sesekali aliran bening keluar dari matanya, sepertinya ia masih mengingat akan perkataan dari Maria yang tadi pagi itu.


"Kenapa selalu seperti ini? Kenapa Mamah tidak pernah mengerti perasaanku?" lirih Zuy memegang dadanya. Lalu ....


"Sayangku...."


Mendengar suara khas dari pria yang akan menjadi Ayah dari anak-anaknya, Zuy segera menghapus air matanya, kemudian ia bangkit dari duduknya dan berlari kecil menghampiri Ray.


"Sayangku, jangan lari-lari nanti jatuh!" tutur Ray.


Saat sudah berada di dekat Ray, Zuy pun langsung memeluk erat tubuh kekar Ray.


"Sayangku, ada apa? Sampai kamu berlari-lari seperti itu?" tanya Ray.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku merindukanmu dan ingin langsung memelukmu, Ray." jawab Zuy.


Ray tersenyum sembari membalas pelukan pujaan hatinya itu, dan di endusnya tubuh Ray oleh Zuy.


"Sayangku, jangan mengendus tubuh ku seperti itu! Aku belum bebersih lho, pasti tubuh ku bau asam," seloroh Ray.


Zuy lalu mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Ray.


"Tapi aku suka mencium wangi tubuh mu, Ray." ucap Zuy.


"Sayangku, kamu benar-benar membuat pikiranku tidak jernih," ujar Ray mengedipkan sebelah matanya.


Zuy tersenyum dan melepaskan pelukannya.


"Kalau pikiran mu tidak jernih, berarti kamu perlu bebersih dulu. Yaudah kalau begitu aku siapkan air hangatnya dulu untuk kamu mandi!" kata Zuy.


"Baiklah sayangku," balas Ray.


Zuy lalu melangkahkan kakinya ke kamar mandi, saat sudah berada di dalam kamar mandi, ia menyalakan keran air panas dan dingin ke dalam bathtub. Sesaat setelah bathtub terisi, Zuy kembali melangkah keluar untuk memberi tahu Ray, akan tetapi saat di ambang pintu, Ray malah menghadang Zuy.


"Sayangku, kamu mau kemana?" tanya Ray.


"Aku mau memanggil mu, Ray. Soalnya air untuk kamu mandi sudah siap," jawab Zuy.


Ray lalu membawa Zuy ke dalam kamar mandinya kembali, kemudian ia menyandarkan tubuh Zuy di dinding dan menyalakan shower-nya.


"Sayangku, temani aku mandi!" ajak Ray mengunci kedua tangan Zuy ke atas.


"Tapi aku ...."


Tanpa aba-aba, Ray menyambar bibir Zuy dan menyesapnya dengan buas membuat Zuy kesulitan untuk bernafas.


Setelah itu, ia pun beralih menghujani ciuman di leher Zuy dan meninggalkan bekas merah. Bukan hanya bibirnya saja yang aktif, tangannya pun sudah aktif bermain dengan Squishy milik pujaan hatinya itu, sehingga membuat Zuy hanyut dalam permainan Ray.


Saat keduanya sudah mulai memanas, Ray membuka apa yang menempel pada tubuh Zuy, begitu pula dengan apa yang menempel pada tubuhnya itu. Setelah itu ....


"Sayangku, aku sangat merindukanmu," bisik Ray sambil menempelkan dahi dan caping hidung mereka berdua.


Zuy tersenyum dan mengalungkan tangannya ke leher Ray.


"Aku juga merindukan mu, tampan-ku." balas Zuy.


"Aku mulai ya sayangku!"


Zuy mengangguk seraya menyetujui ajakan Ray, mereka berdua pun memulai aktivitas MISTERI CIPRATAN AIR.


Maaf aku skip uhuk-uhuknya ya! Mwehehehe... (Author)


Tiga puluh menit berlalu, setelah menyelesaikan peraduannya di dalam kamar mandi, akhirnya mereka keluar dari kamar mandi, Ray menggendong Zuy dan melangkah menuju ke tempat tidurnya.


Ray mendudukkan Zuy di tepi ranjangnya, setelah itu ia pun ikut duduk di samping Zuy.


"Sayangku, terimakasih ya!" ucap Ray sambil merapikan rambut Zuy yang menutupi matanya.


Zuy tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian ia memeluk tubuh Ray.


"Jangan pernah berpaling dari ku ya Ray!" pinta Zuy.


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah berpaling dari mu, sayangku. Karena kamu segalanya untuk ku, dan aku sangat mencintaimu," ungkap Ray.


Zuy mendongak. "Terimakasih Ray, karena sudah mencintai ku."


"Sama-sama sayangku dan terimakasih juga karena kamu sudah membalas cintaku dan mempertahankan ku," balas Ray sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Zuy dan ....


Cup....


Ia kembali mendaratkan bibirnya ke kening, pipi dan beralih ke bibir Zuy.


************************


Amerika


Rumah Sakit


Di kamar rawat inapnya Kimberly, nampak Liora sedang duduk di samping ranjang Kimberly.


"Terimakasih ya Aunty karena sudah menjenguk Kim," ucap Kimberly.


"Iya Kim, Aunty benar-benar tidak habis pikir, kenapa orang itu bisa berbuat jahat pada keponakan tersayang ku ini." Liora nampak sangat perihatin dengan keadaan Kimberly.


"Kim juga tidak tahu Aunty, padahal Kim tidak melakukan apa-apa." ujar Kimberly.


Liora lalu mengelus rambut coklat Kimberly.


"Kamu sabar ya Kimberly! Dan semoga pelakunya cepat tertangkap," tutur Liora.


Kimberly mengangguk. "Iya Aunty, semoga saja."


Lalu tiba-tiba.....


Braaaak....


Seseorang membuka pintunya dengan kencang, membuat Liora dan Kimberly tersentak dan mengarahkan pandangannya ke arah pintu.


"Archo!!" lirih Kimberly dan ternyata yang datang adalah Archo.


Lalu Archo melangkahkan kakinya menghampiri Kimberly, nampak jelas raut wajahnya kini tengah marah.


"Archo, dari mana saja kamu?" tanya Liora.


Akan tetapi Archo tidak menjawab, ia malah terus menatap tajam Kimberly sehingga membuat Kimberly ketakutan, lalu ....


Plaak!


Satu tamparan mendarat ke pipi Kimberly, membuat Liora dan Kimberly kembali terkejut.


"Archo!!!"


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2