
WARNING...!!
Cerita CUP ini mengandung unsur kekerasan dan unsur lainnya, di harapkan bijak dalam membacanya, bocil di larang baca ya!! terimakasih.. 🙏🙏🙏
<<<<<
Melihat seseorang berdiri di depannya, membuat Zuy langsung menghentikan aktivitasnya dan mendongakkan kepalanya ke arah orang tersebut.
"Hmmmm, Nyonya!"
Lalu Zuy segera bangkit dari posisinya dan mencium tangan orang tersebut. Setelah itu ...,
"Nyonya Artiana apa kabar?" tanya Zuy kepada orang itu yang tak lain adalah Bunda Artiana.
"Kabar ku baik-baik saja Nak, lalu bagaimana dengamu?"
"Zuy juga baik-baik saja, Nyonya." jawab Zuy, "Ayo duduk Nyonya!"
Bunda Artiana menganggukkan kepalanya, kemudian mereka langsung mendudukkan dirinya masing-masing. Bunda Artiana terus memandangi Zuy dan senyumnya pun terukir di wajahnya.
"Nyonya di sini dengan siapa?" tanya Zuy
"Nak, jangan memanggilku Nyonya, panggil saja Nenek ya!" pinta Bunda Artiana.
Akan tetapi Zuy menggelengkan kepalanya, "Tidak Nyonya, Zuy akan memanggil anda dengan sebutan Nyonya."
Nyuuut...
Dada Bunda Artiana terasa sakit mendengar perkataan Zuy yang tidak mau memanggilnya Nenek, lalu tiba-tiba Bunda Artiana memeluk Zuy dan membuat Zuy terkejut.
"Nyonya!!"
Bunda Artiana tidak berkata apa-apa, ia terus memeluk Zuy sambil mengelus kepala Zuy, air matanya lolos membasahi pipinya.
"Ini kah cucuku yang tidak aku ketahui dan tidak di inginkan keberadaannya? Anak yang di tinggalkan oleh Maria gara-gara keegoisan kami. Dan ternyata sekarang dia sudah besar dan menjadi gadis cantik seperti ini. Aku benar-benar bodoh dan menyesal atas apa yang telah kami lakukan dulu. Sehingga membuat anak yang tidak berdosa ini menjadi korban keegoisan kami, maafkan Nenekmu ini cucuku." batin Bunda Artiana sambil menangis terisak-isak.
"Nyonya, anda kenapa?" tanya Zuy
"Pasti selama ini kamu mengalami banyak kesulitan ya Nak?" lirih Bunda Artiana
"Hmmm, maksud Nyonya?"
Seketika Bunda Artiana mengusap air matanya dan melepaskan pelukannya, ia menatap lekat wajah Zuy, lalu saat pandangannya mengarah ke pipi Zuy, ia pun terkejut dan memegang pipi Zuy.
"Nak, apa yang terjadi pada pipimu? Kenapa memar begini?" tanya Bunda Artiana.
"Oh ini karena jatuh Nyonya," jawab Zuy berbohong.
"Lain kali hati-hati Nak!" tutur Bunda Artiana
Zuy menganggukkan kepalanya, "Iya Nyonya, lain kali Zuy akan hati-hati, terimakasih Nyonya."
Bunda Artiana pun tersenyum, lalu ia mengelus rambut panjang Zuy.
"Nak, bolehkah Nenek meminta sesuatu?"
"Sesuatu? Apa itu Nyonya?"
"Euuum, bisakah besok kamu datang ke rumah Nenek?"
Zuy menundukkan kepalanya, "Besok? tapi besok Zuy kerja Nyonya," jawab Zuy.
"Ya setelah kamu selesai kerja, Nenek ingin mengajakmu makan bersama, soalnya Nenek ingin merayakan kepulangan anak Nenek yang pernah Nenek cerita padamu waktu itu," jelas Bunda Artiana.
"Benarkah? Waah Zuy ikut senang mendengarnya Nyonya, tapi soal ajakan Nyonya, maaf Zuy ...,"
"Nak, tolong datanglah! Nenek benar-benar mengharapkan kehadiran mu," pinta Bunda Artiana dengan wajah memelas.
Zuy yang melihatnya merasa tertegun, sesaat ia pun menghela nafasnya.
"Baiklah Nyonya, sepulang kerja Zuy langsung ke rumah anda, tapi Zuy tidak tahu alamatnya," ujar Zuy.
"Kamu pernah dapat kartu dari Dimas kan?"
Zuy mengangguk, "Iya Nyonya, kartu namanya masih saya simpan," jawabnya.
"Iya di situ ada alamat rumah kami, tolong datang ya!"
"Iya Nyonya, Zuy usahakan datang."
Lalu Eqitna datang bersama Nayla.
"Nenek...!!" seru Nayla
"Bunda ternyata ada di sini? Eqi dari tadi nyariin Bunda," ujar Eqitna
"Maaf Eqi, tadi Bunda kecapean dan lagi Bunda bertemu dengannya," kata Bunda Artiana memegang pundak Zuy.
Eqitna pun menoleh ke arah Zuy, "Lho kamu keponakannya Nyonya Nana kan?"
"Iya Dok, gak sangka kita bertemu di sini," ucap Zuy,
Eqitna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Nah, dia ini menantu saya, istri dari Dimas dan yang ini cucu saya," jelas Bunda Artiana.
Pandangan Zuy mengarah ke Nayla, "Hai gadis cantik siapa namamu?"
"Nayla Tante," jawabnya.
"Nama yang cantik, mirip kaya orangnya," ucap Zuy tersenyum.
Pandangan Nayla beralih ke Bunda Artiana.
"Nenek kita pulang yuk! Nay mau makan masakan Mamah," Nayla merengek pada Bunda Artiana.
Bunda Artiana menganggukkan kepalanya, lalu ia bangkit dari posisinya dan pandangannya mengarah ke Zuy.
"Nak, Nenek pulang dulu, Nenek benar-benar senang bertemu dengan mu lagi, jangan lupa besok datang ya!"
"Iya Nyonya hati-hati! Ya besok Zuy akan datang," ucap Zuy.
Mereka pun melambaikan tangannya dan melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan Zuy.
"Hmmm, entah kenapa pelukan Nyonya terasa hangat dan nyaman. Ngomong-ngomong Ray kemana ya? kok belum datang juga," lirih Zuy mengedarkan pandangannya.
Tiba-tiba seseorang menutup mata Zuy dengan tangannya, membuat pandangan Zuy menjadi gelap.
"Ray...."
"Sayangku tahu saja kalau ini aku, gak jadi kejutan deh," gumam Ray menurunkan tangannya.
Zuy menoleh ke arah Ray, "Karena harum dari tubuhmu begitu melekat di hidungku, jadi aku cepat mengetahuinya."
"Benarkah sayangku?"
"Iya tentu benar Ray," jawab Zuy mengangguk.
Mendengar jawaban Zuy, seketika Ray menyunggingkan senyuman jahilnya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.
"Sayangku, kamu benar-benar membuatku tidak berfikir jernih, siap-siap ya sayangku, nanti malam Ray akan membuat mu kelelahan," bisik Ray,
Nafas hangatnya menyambar ke telinga Zuy, membuat Zuy kegelian dan pipinya langsung memerah.
"Ray, jangan bicarakan itu di sini! Ayo kita pulang!" ajak Zuy
"Ternyata sayangku gak sabaran ya," goda Ray
Zuy memutar bola matanya dengan malas, ia pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian mereka berjalan keluar dari arena permainan, setelah itu mereka terus melangkah keluar menuju ke parkiran. Sesampainya di parkiran, Ray membuka pintu tengah mobilnya dan memindahkan barang belanjaannya dari kereta dorong ke dalam mobilnya. Sesaat setelahnya, mereka berdua segera masuk ke dalam mobil.
"Kita langsung ke rumah Bu Friska?" tanya Ray
__ADS_1
Zuy mengangguk cepat, lalu Ray menyalakan mobilnya, sesaat kemudian ia menginjak gas mobilnya dan pergi meninggalkan supermarket dan menuju ke rumah Friska.
********************
Rumah Ray
Tak lama setelah berkunjung ke rumah Friska, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah, hanya butuh waktu sepuluh menit mereka sampai di rumah. Setelah mobil terparkir di halaman rumah, mereka turun dari mobilnya dan bergegas menuju ke arah pintu. Sesampainya...
Ting Tong
Ray memijit bel pintunya, karena di rumah ada Davin, sesaat kemudian Davin membuka pintunya, setelah terbuka mereka berdua langsung masuk ke dalam.
"Sudah nih kencannya?" tanya Davin
"Si-siapa yang kencan Pak Davin, kita hanya belanja, habis itu ke rumah Bu Friska," jawab Zuy.
"Oh begitu ya," lalu Davin mendekat ke arah Ray dan merangkulnya, "Tuan Ray, selama di luar ada Misteri mobil bergoyang gak tuh?" bisik Davin.
"Misteri mobil bergoyang?" tanya Ray kebingungan
"Ya ampun masa aku harus menjelaskannya," ujar Davin sambil mengadu kedua jari telunjuknya.
Sontak membuat mata Ray dan Zuy membulat sempurna, lalu tiba-tiba ...,
Paak
Ray memukul punggung Davin dengan keras membuat Davin meringis kesakitan.
"Tuan Ray, anda benar-benar ya!"
"Apa!!" Ray menatap Davin dengan tajamnya membuat Davin menciut dan bersembunyi di belakang Zuy.
"Zuy, lihat tuh si Pria dingin bener-bener kejam, dia memukul punggung ku," Davin mengadu.
"Kak Davin, menjauh dari sayangku!" Ray kembali menatap tajam ke arah Davin.
Zuy yang melihatnya langsung menggelengkan kepalanya.
"Kalian ini ya benar-benar deh," pekik Zuy, lalu pandangannya mengarah ke Davin dan memberikan bungkusan pada Davin, "Pak Davin, ini untuk anda!"
Dengan perasaan bahagia, Davin pun mengambil bungkusan itu dari Zuy, lalu ia langsung memeluk Zuy.
"Terimakasih Zuy, kamu benar-benar pengertian," ucap Davin.
"Iya sama-sama Pak Davin," balas Zuy.
Wuush...
Tiba-tiba hawa dingin melintas di ruangan itu, sontak membuat bulu kuduk Davin merinding, lalu ia melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Ray yang tengah berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Beraninya ya Kak Davin pelak-peluk sayangku!" pekik Ray dengan tatapan tajamnya.
"Waduh sepertinya bayi gede marah nih, kabuuur...!" seru Davin sambil berlari menuju ke kamarnya.
"Ck, dasar adonan moci," gerutu Ray.
Zuy pun tertawa melihat tingkah laku Ray dan Davin.
"Hahaha, ya ampun kalian ini bikin perutku sakit," tawa Zuy.
"Syukurlah sayangku tertawa lagi," batin Ray, "Sayangku, Ray ke kamar dulu mau bebersih," kata Ray.
"Iya Ray, Zuy juga mau beresin ini dulu, setelah itu mau bebersih juga."
Ray mencium pipi Zuy, lalu ia bergegas menuju ke kamarnya, sedangkan Zuy langsung ke dapur untuk membereskan barang-barang belanjaannya. Tak lama kemudian, Zuy segera ke kamar mandi untuk bebersih. Sesaat setelahnya, ia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ke kamarnya.
Kamar Zuy
Setelah berada di dalam kamarnya, Zuy membuka handuk kimononya sehingga tersisa kaca mata kuda dan celana pendek saja, ia pun membuka pintu lemarinya dan ketika hendak mengambil piyamanya, tiba-tiba ...,
"Sayangku..."
"Ray! Sejak kapan kamu di sini?"
"Sejak tadi sayangku," jawab Ray,
Lalu ia mendaratkan bibirnya ke punggung Zuy, tangannya pun mulai aktif bermain Squshy milik Zuy dan kue cubitnya, sontak membuat Zuy meringis.
"Ray..!"
"Hmmmm...."
Ray memutar badan Zuy dan mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy mengecupnya dengan mesra, sehingga membuat Zuy tenggelam di dalamnya. Sesaat setelah keduanya memanas, Ray mengangkat tubuh Zuy dan membawanya ke tempat tidur, aktivitas Misteri ranjang bergoyang pun di mulai.
Sementara itu, Davin nampak berjalan menuruni tangga menuju ke arah dapur, namun langkahnya terhenti saat di depan kamar Zuy, karena ia kembali mendengar suara Misteri di dalam kamar Zuy itu, ia pun menggelengkan kepalanya.
"Misteri ranjang bergoyang beraksi lagi nih, sayangnya Mrs Yiou gak ada di sini, kalau ada mungkin dia akan iseng, hahaha," ucap Davin, ia pun melangkahkan kakinya kembali ke arah dapur.
...----------------...
Bzzzzzt... Bzzzzzt.. Bzzzzzt...
Bunyi suara alarm terdengar nyaring, sontak membuat Zuy terbangun dan perlahan ia membuka matanya, tangannya pun meraba ke atas nakas untuk mengambil hpnya, setelah dapat Zuy mematikan alarm di hpnya. Zuy segera mengganti posisinya menjadi duduk.
"Sepertinya badanku benar-benar remuk," pekik Zuy.
Ia beranjak dari tempat tidurnya, Zuy berjalan beberapa langkah menuju ke lemarinya untuk mengambil baju, setelah itu ia berjalan keluar dari kamarnya menuju ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, setelah menyelesaikan aktivitasnya seperti menyiapkan sarapan. Zuy segera ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Saat berada di kamarnya Zuy mengambil pakaiannya dan mengenakannya. Setelah selesai ia berjalan menuju tempat tidurnya dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
"Ray, bangun!"
"Hmmm, Ray udah bangun sayangku, waktu sayangku lagi mengenakan pakaian," ujar Ray.
"Haaa.. Dasar kamu Ray, yaudah kalau gitu Zuy berangkat ya!"
Lalu tiba-tiba Ray menarik tangan Zuy, sehingga Zuy terjatuh di atas tubuhnya, ia pun mendaratkan kecupan mesra di pipi dan bibir Zuy.
"Sayangku hati-hati ya! sering-sering ke ruangan ku, supaya aku semangat terus!"
"Baiklah tapi gak janji ya!"
Zuy segera bangkit dari posisinya, kemudian ia mengambil ranselnya dan keluar dari kamarnya. Sedangkan Ray kembali merebahkan dirinya.
**********************
Perusahaan CV
Tak butuh waktu lama, Zuy akhirnya sampai di Perusahaan CV, ia pun segera memarkirkan motornya, lalu Zuy melangkahkan kakinya menuju ke Perusahaan, namun ...,
"Zuy..."
Mendengar dirinya di panggil, Zuy menoleh ke belakang, "Airin..!!"
Ternyata Airin baru datang, setelah memarkirkan motornya, Airin pun menghampiri Zuy.
"Pagi Zuy..."
"Pagi Rin, tumben telat, biasanya kamu duluan yang rajin," ujar Zuy.
"Itu karena aku mengantar Mamah dan Rion ke terminal," papar Airin.
"Mamah dan Rion pulang?"
Airin menganggukkan kepalanya, "Iya Zuy, soalnya Rion sekolah."
Seketika Zuy mengelus punggung Airin, "Jangan sedih, kan masih ada Zuy dan Brian, eh maksudku Pak Davin."
"Zuy berhenti menggodaku!"
"Ahahaha, iya maaf Rin, ayo kita masuk!"
__ADS_1
Airin merangkul lengan Zuy, "Baiklah Kakakku sayang."
Mereka pun melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu masuk Perusahaan CV untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing.
...----------------...
Sore hari....
Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Karyawan di Perusahaan CV, mereka pun kembali ke rumah mereka masing-masing, sedangkan Zuy dan Airin masih menjalankan aktivitasnya sebagai OB. Tak lama setelah selesai dengan aktivitasnya, Zuy dan Airin bergegas menuju ke parkiran. Sesampainya di parkiran mereka mengambil motornya masing-masing.
"Euum Rin, kamu pulang duluan aja ya! Soalnya Zuy ada perlu," ujar
"Oh yaudah kalau begitu Zuy, aku duluan ya!"
"Iya hati-hati," seru Zuy,
Lalu Airin pun bergegas pergi, Zuy lalu merogoh saku celananya dan mengambil hpnya.
"Ya mati lagi, aku lupa ngecas hp, padahal mau ngasih tahu ke Ray," lirih Zuy
Ia pun membuka ranselnya, Zuy meletakkan hpnya di ransel dengan posisi mengecas menggunakan powerbank. Lalu Zuy segera menaiki motornya dan menyalakannya, setelah itu Zuy bergegas pergi menuju ke rumah Dimas.
*********************
Rumah Dimas
Sementara itu di rumah Dimas, Bunda Artiana tengah sibuk menata makanan yang berada di atas meja, tentunya di bantu oleh Eqitna dan asistennya. Sedangkan Archo dan Dimas sedang berada di ruang depan tengah berbincang. Maria pun menghampiri Bunda Artiana.
"Bunda, masaknya banyak banget? Ada acara ya?" tanya Maria.
"Iya acara keluarga saja, lagian Bunda ingin merayakan kepulanganmu, Maria." kata Bunda Artiana
Seketika Maria tertegun mendengar perkataan Bunda Artiana, lalu ia memeluknya.
"Terimakasih banyak Bunda," ucap Maria.
"Sama-sama Nak."
Bunda Artiana kembali menata makanan, Maria pun ikut membantunya. Lalu kemudian....
"Permisi..."
Suara seseorang di ambang pintu, membuat Archo dan Dimas menoleh ke arahnya.
"Lho Zuy!"
Ternyata Zuy yang datang, Dimas pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke pintu.
"Maaf Tuan Dimas jika kedatangan saya mengagetkan anda," ucap Zuy
Dimas menggelengkan kepalanya, "Tidak kok, justru kami senang kamu datang, Bunda sudah cerita kalau beliau mengundang mu, yaudah ayo masuk!"
Zuy mengangguk dan masuk, saat pandangannya ke arah Archo, ia hanya tersenyum saja, kemudian Dimas membawa Zuy ke ruang keluarga. Sesampainya...
"Bunda, lihat siapa yang datang," seru Dimas membuat Bunda Artiana dan lainnya menoleh.
Bunda Artiana pun tersenyum bahagia melihat kehadiran Zuy, sedangkan Maria mengerutkan dahinya. Zuy sangat terkejut melihat Maria ada di sana, lalu ia menundukkan kepalanya.
"Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi, rasa sesak di dadaku juga belum sembuh," batin Zuy.
Bunda Artiana lalu menghampiri Zuy dan menarik tangan Zuy menuju ke meja makan.
"Nah Nak Zuy, ini Maria anak ku," ujar Bunda Artiana, sontak membuat Zuy kembali terkejut.
"Ternyata yang di maksud Nyonya adalah Mrs Maria, ya ampun kenapa dunia begitu sempit," batin Zuy, karena tidak enak dengan Bunda Artiana, mereka pun berjabat tangan.
Sesaat setelahnya acara makan pun tiba, Zuy duduk di tengah-tengah antara Bunda Artiana dan Maria, karena itu permintaan dari Bunda Artiana sendiri.
"Nak kamu mau makan yang mana?"
"Zuy mau mie itu aja Nyonya," jawab Zuy
"Kenapa Mie? kan masih banyak makanan lainnya."
Zuy menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa Nyonya, Zuy hanya ingin makan mie saja."
Kenapa Zuy memilih Mie, karena makanan yang di hidangkan adalah seafood.
Bunda Artiana mengambilkan makanan untuk Zuy, kemudian mereka pun menyantap makanannya. Zuy lalu menyuapkan mie ke dalam mulutnya.
"Bagaimana Nak, masakan Bunda?"
"Enak Nyonya," ucap Zuy.
"Syukurlah kalau kamu menyukai Mie goreng seafood buatanku," kata Bunda Artiana dan membuat Zuy terkejut.
"Apa! Seafood?!" lirih Zuy, "Ma-maaf Nyonya bisa saya ikut ke belakang?"
Bunda Artiana menganggukkan kepalanya, lalu Zuy beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke kamar mandi
"Bunda, jangan-jangan dia punya alergi," papar Dimas.
"Apa! dia punya alergi?!" Bunda Artiana pun terkejut.
Saat Bunda Artiana hendak bangkit, tiba-tiba Maria menahannya, lalu ia berjalan ke arah kamar mandi. Setelah di depan kamar mandi, Maria mendengar Zuy memuntahkan makanannya, sontak membuatnya marah. Sesaat kemudian Zuy keluar dari kamar mandi.
"Sudah selesai muntahnya?"
Mendengar suara Maria, Zuy pun menoleh, lalu dengan sengaja Maria menarik rambut Zuy.
"Awwww, sakit Mrs Maria," pekik Zuy
"Kamu, jadi anak tidak tahu terimakasih, udah di masakin malah di muntahin, apa kamu tidak di ajari sopan santun?" pekik Maria.
"Bu-bukan begitu Mrs Maria, hanya saja ...," Zuy menitihkan air matanya karena menahan panas dan sakit akibat tarikan Maria.
"Sekarang kamu pergi dari sini!"
Zuy mengangguk, kemudian Maria melepaskan tangannya dari rambut Zuy, lalu Zuy bergegas menuju ke arah di mana semua berada. Sesampainya Zuy berpamitan pada Bunda Artiana.
"Nak, kenapa buru-buru?"
"Maaf, soalnya Zuy mau ke rumah sakit, permisi." ucap Zuy, ia pun membungkukkan badannya. Kemudian pergi dari rumah Dimas.
"Zuy tunggu!!" teriak Dimas, "Sepertinya ada yang tidak beres ini," batin Dimas.
...----------------...
Setelah berada di perjalanan, Zuy terus batuk-batuk, pandangannya pun sedikit kabur.
"Aku gak kuat, kepalaku terasa berat," lirih Zuy, ia pun langsung menepi dan memarkirkan motornya di sisi jalan.
Lalu Zuy mendudukkan dirinya di kursi halte sambil membuka ranselnya untuk mengambil obat alergi dan meminumnya, ia pun menyandarkan kepalanya sambil memeluk lututnya.
"Panas tenggorokanku," rintihnya, bintik merahnya mulai keluar di ruam lehernya. Sesaat kemudian seseorang datang menghampiri dan ternyata itu Ray.
"Sayangku..!"
Mendengar suara Ray, Zuy langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Ray. "Ray, Syukurlah kamu da ...," lirih Zuy, lalu tiba-tiba ...,
Bruuugh..!
"Sayangkuuu...!!!"
***Bersambung...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1