
<<<<<
(Masih dalam percakapan lewat telepon)
Sontak membuat Bi Nana tercengang.
"Apa! Jadi Zuy benar-benar sudah tahu Ibu kandungnya?!"
"Iya Bi Nana," singkat Ray.
"Lalu siapa yang memberi tahu Zuy tentang Ibunya itu?" tanya Bi Nana menyidik.
Sesaat Ray menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya perlahan-lahan.
"Tadi Zuy bilang, kalau Mrs Maria lah yang mengatakannya sendiri dan lagi Neneknya Zuy juga memberikan surat hasil tes DNA antara Zuy dan Mrs Maria itu," jelas Ray.
"Jadi Maria sendiri yang memberitahu pada Zuy, siapa dirinya yang sebenarnya?" sentak Bi Nana.
"Iya Bi. Makanya Zuy pergi ke makam Papahnya yang berada di Kota ini, bahkan Zuy sampai pingsan di atas makam Papahnya," ujar Ray.
"Apa kamu bilang? Zuy pingsan di atas makam Papahnya?"
Lagi-lagi Bi Nana di buat terkejut oleh perkataan Ray.
"Iya, mungkin Zuy sangat shock Bi, makanya sampai pingsan seperti itu."
Seketika terdengar suara isak tangis dari Bi Nana, membuat Ray terpaku.
"Bi Nana...." tegur Ray.
"Iya Ray...." sahut Bi Nana.
"Apa Bibi tidak apa-apa?"
"Iya Bibi tidak apa-apa Ray, Bi Nana hanya terkejut saja," jawab Bi Nana.
"Oh, lalu sekarang bagaimana Bi? Apa Ray harus jujur pada Zuy? Bahwa Ray juga sudah lama tahu tentang Ibunya itu." seloroh Ray.
"Jangan! Kamu jangan kasih tahu Zuy soal ini!" pinta Bi Nana.
"Jangan? Memangnya kenapa Bi?" tanya Ray keheranan.
"Pokoknya kalau Bi Nana bilang jangan ya jangan! Soal ini biar Bibi yang bicara sendiri pada Zuy. Walau bagaimanapun, ini adalah kesalahan Bibi. Jadi biar Bibi saja yang menyelesaikannya sendiri," kata Bi Nana.
"Baiklah kalau maunya Bi Nana seperti itu, Ray tidak akan bicara apa-apa tentang ini."
"Terimakasih. Ray Bi Nana minta padamu! Tolong kamu jaga Zuy dengan baik. Hibur dia, supaya ia tidak terlalu larut dalam kesedihannya. Apa lagi sekarang Zuy tengah hamil, jangan sampai kandungannya bermasalah, gara-gara ia terlalu sedih dan banyak pikiran," tutur Bi Nana.
"Pasti Bi, Ray akan selalu menjaga dan menghiburnya. Ray tidak akan membiarkan Zuy bersedih lagi," ucap Ray dengan sungguh-sungguh.
"Yaudah, kalau begitu Bibi tutup telponnya."
"Iya Bi."
Lalu Bi Nana langsung memutuskan telponnya. Setelah itu, Ray bergegas kembali ke kamar rawat Zuy, akan tetapi sebelum masuk ke dalam, Ray terlebih dahulu menghampiri Davin dan lainnya yang sedang duduk di sana.
"Kak Davin, ada apa dengan Airin? Kenapa dia menangis?" tanya Ray.
"Airin menangis karena mendengar cerita Bu Sarmi tentang masa lalunya Zuy, Tuan." jawab Davin.
"Oh begitu ya. Kak Davin, bisa tolong panggilkan Dokter! Soalnya Zuy minta pulang ke rumah," ujar Ray.
Davin langsung mengangguk patuh, kemudian ia melepaskan tangannya dari tubuh Airin dan bangkit dari posisinya. Davin pun bergegas menuju ke arah ruang Dokter.
"Rin, apa kamu mau ikut masuk?" tanya Ray pada Airin.
"Tidak Tuan Bos, saya di sini aja," jawab Airin.
Pandangan Ray beralih ke Bu Sarmi dan Pak Toto.
"Lalu bagaimana dengan Bapak dan Ibu? Apa mau ikut masuk?"
Bu Sarmi dan Pak Toto menggelengkan kepalanya.
"Tidak nak, kami tunggu di sini aja," ucap Bu Sarmi.
"Yaudah kalau begitu aku masuk ke dalam dulu ya," pamit Ray.
"Iya Nak," balas Bu Sarmi.
Ray lalu berjalan masuk ke kamar rawat Zuy, saat berada di dalam, Ray melihat Zuy tengah duduk menunduk, ia pun segera menghampiri pujaan hatinya itu.
"Sayangku...."
Mendengar suara Ray, Zuy segera mengusap air matanya, ia lalu mengangkat kepalanya mengarah ke Ray.
"Kamu sudah kembali Ray," lirih Zuy.
Ray mendudukkan dirinya di tepi ranjang, kemudian ia menangkup kedua pipi Zuy sambil menatap lekat wajah Zuy.
"Apa kamu menangis lagi, sayangku?" tanya Ray menyidik.
"Ah, ti-tidak Ray. Zuy tidak menangis," elak Zuy.
Seketika raut wajah Ray berubah sendu, karena ia tahu bahwa pujaan hatinya sedang berbohong. Lalu Zuy menurunkan tangan Ray dari pipinya, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Ray dan ....
Cup....
Zuy mendaratkan bibirnya ke pipi Ray, sontak membuat Ray terpaku, pipinya pun nampak memerah.
"Sayangku, kamu sudah berani curi cium ya!" lontar Ray.
"Ahahaha.... Habisnya lihat wajah kamu seperti itu, bikin aku gemas," ujar Zuy. "Tapi kalau kamu gak suka aku cium, yaudah sini balikin ciuman ku!" imbuhnya.
Mendengar itu, Ray mengangkat jari telunjuknya dan menggerakkannya.
"Eiitz, ciuman yang sudah di kasih tidak boleh di minta balik! Tapi...." Ray lalu mendekatkan wajahnya ke arah telinga Zuy.
"Kalau sayangku menginginkan ciumannya di kembalikan lagi, maka aku akan mengembalikannya pada sayangku berkali-kali lipat," bisik Ray menggoda.
Hembusan nafas hangatnya pun menyambar ke telinga Zuy. Sehingga membuat telinga dan wajah Zuy memerah. Sesaat Ray menjauhkan wajahnya dari telinga Zuy.
"Ray...."
"Iya sayangku yang cantik," sahut Ray sambil menyunggingkan senyumannya.
Zuy lalu mendaratkan tangannya di pipi Ray dan mencubitnya.
"Kamu benar-benar mesum ya! Di tempat lain aja masih ngomongin begituan," pekik Zuy.
"Ahahaha.... Tapi sayangku menyukainya kan? Buktinya telinga dan wajah sayangku memerah gitu," ucap Ray menggoda.
"Rayyan, berhenti menggodaku!" pekik Zuy membuat Ray terkekeh geli.
Sementara itu di tempat yang sama, Dokter dan Davin tengah berdiri di ambang pintu sembari melihat kelakuan dua sejoli itu.
"Hubungan mereka sangat romantis ya," ucap Dokter.
"Iya, saking romantisnya, mereka sampai lupa sama yang di sekitarnya, buktinya mereka gak sadar kalau kita ada di sini," gerutu Davin.
Dokter pun terkekeh mendengarnya.
"Yaudah, ayo kita kesana!" ajak Dokter.
__ADS_1
Mereka pun melangkahkan kakinya menghampiri Ray dan Zuy.
"Ehemm...." deham Dokter, sehingga membuat Zuy dan Ray langsung menoleh ke arahnya.
"Dokter!" lirih Zuy.
Ray langsung beranjak dari posisinya, kemudian ia mengulurkan tangannya ke arah Dokter.
"Jadi ini Dokternya? Perkenalkan saya Ray, suami dari Zuy," Ray memperkenalkan diri.
Dokter tersenyum sambil membalas uluran tangan Ray.
"Anda suaminya Nona Zuy? Ya, nama saya Elvan, saya Dokter di Puskesmas ini," balas Dokter.
Sesaat mereka melepaskan jabatan tangannya, lalu kemudian Dokter langsung memeriksa Zuy.
"Bagaimana Dok?" tanya Zuy.
"Keadaan anda sudah membaik, tidak seperti tadi. Namun hanya panasnya saja yang belum turun," jawab Dokter.
"Begitu ya, tapi saya boleh pulang kan Dok?"
Dokter tersenyum dan berkata, "Tentu boleh Zuy, sebentar saya cabut jarum infusnya dulu."
Zuy mengangguk, lalu Dokter pun mencabut jarum infus tersebut dari tangan Zuy. Sesaat setelahnya ....
"Terimakasih Dok," ucap Zuy.
"Sama-sama Zuy. Ingat pesan ku! Jaga pola makanmu, jangan terlalu cape, istirahat teratur dan satu lagi jangan banyak pikiran!" pesan Dokter.
"Iya Dok, saya akan selalu mengingat pesan anda," ucap Zuy.
Dokter pun kembali tersenyum, kemudian Zuy perlahan turun dari tempat tidur tersebut, tentunya di bantu Ray, setelah itu mereka melangkah keluar dari kamar rawat itu.
Saat berada di luar, Airin, Bu Sarmi dan Pak Toto segera menghampiri.
"Nak, kamu mau kemana?" tanya Bu Sarmi.
"Zuy mau pulang Bu," jawab Zuy.
"Tapi kamu kan masih sakit. Apa tidak sebaiknya kamu menginap dulu di sini?" tawar Bu Sarmi.
Akan tetapi Zuy menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak Bu, Zuy ingin pulang," tolak Zuy, kemudian Zuy memeluk Bu Sarmi.
"Bu, terimakasih sudah menjaga Zuy. Maaf kalau Zuy merepotkan Ibu, terutama Pak Toto," ucap Zuy.
"Iya sama-sama, kamu tidak merepotkan Ibu. Justru Ibu senang bisa membantu kamu, nak." balas Bu Sarmi nampak air matanya mengalir.
Sesaat kemudian, mereka melepaskan pelukannya, Ray lalu mendekat ke arah Pak Toto sambil memberikan sesuatu pada Pak Toto. Sehingga membuat Pak Toto terkejut.
"Apa ini Nak?" tanya Pak Toto
"Itu hadiah untuk Bapak, karena Bapak sudah menolong istri saya," ucap Ray.
"Ta-tapi saya ikhlas kok menolong nak Zoey," kata Pak Toto.
"Saya juga ikhlas kasih ini buat Pak Toto, tolong di terima ya!" pinta Ray.
"Baiklah Bapak terima ya nak."
Seketika senyum Ray langsung mengembang.
"Terimakasih Pak Toto," ucap Ray
"Kenapa kamu yang berterimakasih, harusnya kan Bapak yang berterimakasih pada kamu, nak." cetus Pak Toto. "Terimakasih banyak Nak Ray."
"Iya, kalian semua hati-hati!" tutur Bu Sarmi.
Lalu kemudian Ray dan lainnya bergegas keluar dari Puskesmas dan sesaat setelah semuanya masuk ke mobil, Davin pun melajukan mobilnya.
**************************
Rumah Bi Nana
Beberapa saat sebelumnya.....
Kamar...
Setelah selesai mengobrol dengan Ray lewat telponnya, tangis Bi Nana kembali pecah.
Hiks....
"Kak Jordhan, bagaimana ini? Anak Kakak sudah tahu siapa Ibunya. Jadi mau tidak mau aku harus berterus terang padanya dan mengingkari janjiku pada Kakak. Tapi aku takut gadis kecilku akan membenciku, karena aku sudah membohonginya," ucap Bi Nana.
Lalu Pak Randy datang menghampiri Bi Nana.
"Na, kenapa kamu belum tid .... lho Na, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya Pak Randy yang terkejut.
Kemudian Pak Randy duduk di samping Bi Nana.
"Nana...."
"Pih, aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Maksud mu apa Na?" tanya Pak Randy yang kebingungan. "Coba kamu bicara pelan-pelan!"
Bi Nana pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Pak Randy.
"Pih, Zuy sudah tahu siapa Ibu kandungnya," ujar Bi Nana.
"Apa! Bagaimana bisa? Terus siapa yang kasih tau Zuy soal Ibu kandungnya?" lontar beberapa pertanyaan Pak Randy, karena ia juga terkejut.
"Maria yang memberitahu sendiri, tadi Ray ...."
Lalu Bi Nana menceritakan apa yang ia dengar dari Ray, dan lagi-lagi membuat Pak Randy terkejut.
"Jadi seperti itu, kasihan Zuy Na. Saking shock-nya, dia sampai pergi ke makam Papahnya itu," ucap Pak Randy.
"Iya Pih. Terus sekarang aku harus bagaimana? Jujur aku benar-benar takut kalau gadis kecilku akan membenciku."
Pak Randy lalu memegang kedua pundak Bi Nana.
"Na, kalau menurutku, lebih baik kamu jujur saja. Kamu ceritakan semuanya pada Zuy," tutur Pak Randy.
"Tapi kalau dia marah bagaimana?" Bi Nana menundukkan kepalanya.
"Aku yakin Zuy tidak akan marah padamu Na, asal kamu bicara terus terang pada Zuy dan minta maaflah padanya!" kata Pak Randy.
Mendengar perkataan Pak Randy, Bi Nana langsung mengangkat kepalanya sambil mengusap air matanya.
"Iya Papih benar, baiklah besok aku akan menemui Zuy dan bicara padanya," ucap Bi Nana.
"Nah gitu dong. Udah kamu jangan menangis lagi ya! Sekarang istirahatlah, kamu pasti kecapean seharian ngurus Nara dan Rana," tutur Pak Randy.
Bi Nana mengangguk. "Iya Pih, aku akan istirahat, terimakasih banyak Pih." ucapnya sambil memeluk Pak Randy.
"Iya Na, sama-sama...."
***********************
Villa
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan, yaitu Villa milik Z&R.
Ray segera membuka kunci pintunya, setelah pintu terbuka, mereka pun langsung masuk ke dalam.
"Kak Davin, Airin. Kalian menginap lah di sini? Ada dua kamar yang kosong, kalian tinggal pilih saja mau kamar yang mana juga," kata Ray.
"Baik Tuan Ray > Tuan Bos," balas mereka serempak.
"Yaudah kalau begitu aku dan sayangku ke kamar dulu, oh iya untuk piyama, sudah ada di kamar masing-masing, tinggal buka aja lemarinya!"
"Oke Tuan Bos. Kalian berdua selamat istirahat ya!" ucap Airin.
Ray dan Zuy melangkah ke arah kamar mereka yang berada di lantai atas.
"Yaudah aku mau istirahat dulu Pak Davin, soalnya badanku udah pada pegal semua," lontar Airin.
"Iya Rin, badanku juga." balas Davin.
"Pak Davin mau kamar yang mana?" tanya Airin.
"Tentu aku kamar yang kemarin aku tempati Rin," jawab Davin.
Airin memanggut. "Oh, yaudah kalau begitu aku kamar yang itu saja."
Mereka pun melangkah dan masuk ke kamarnya masing-masing.
Kamar Z&R
Setibanya di kamar, Ray langsung mengangkat tubuh Zuy dan menempatkannya di atas tempat tidurnya. Setelah itu Ray mengambil plester kompres dari kotak P3K, kemudian ia membuka plester tersebut dan menempelkannya pada dahi Zuy.
"Sayangku, kamu istirahat ya! Supaya panasnya cepat turun," tutur Ray.
Zuy mengangguk. "Iya, terimakasih ya Ray, kamu sudah membawaku ke sini, maaf kalau aku selalu menyusahkan mu," ucapnya.
"Sayangku, jangan berkata seperti itu! Kamu tidak pernah menyusahkan ku, justru kamu selalu membuat ku bahagia," ungkap Ray.
Mendengar ungkapan Ray, senyum Zuy langsung mengembang, ia pun memeluk erat tubuh kekar Ray dan menangkupkan wajahnya di dada bidang Ray.
Ray langsung membalas pelukan pujaan hatinya sambil mencium puncak kepala Zuy.
"Aku mencintaimu sayangku, aku akan selalu berada di sampingmu dan membuatmu bahagia selalu," batin Ray.
...----------------...
—Pukul 03.50Am
Davin nampak keluar dari kamarnya dan berjalan terhuyung menuju ke arah dapur untuk mengambil air minum. Sesaat setelah selesai dari dapur, ia pun kembali ke kamar nya. Akan tetapi ia salah masuk kamar, bukan kamarnya yang ia masuki melainkan kamar Airin.
Mungkin karena masih mengantuk dan setengah sadar.
Setelah berada di dalam kamar Airin. Davin segera naik ke atas ranjang dan tertidur kembali.
Beberapa saat kemudian....
Plaak...
Airin membalikkan badannya menghadap ke arah Davin dan tanpa sengaja tangannya mendarat kencang ke pipi Davin, kakinya pun sudah berada di atas perutnya Davin.
"Hmmmm.... Kenapa bantal guling ku seperti orang ya? Dan lagi kenapa bantal ku jadi mulus begini, kaya prosotan taman," lirih Airin yang masih memejamkan mata sembari tangannya meraba-raba wajah Davin.
Lalu kemudian Airin perlahan membuka matanya dan melihat ke arah di sebelahnya itu.
"Oh ternyata Pak Davin toh, pantas saja mulus," ucap Airin yang masih belum sepenuhnya sadar.
Sesaat kemudian ....
"Apa! Pak Davin!" sentak Airin sambil membangunkan dirinya. "Ke-kenapa Pak Davin bisa ada di sini?"
Pandangan Airin pun langsung mengarah ke tubuhnya sendiri, karena ia takut terjadi sesuatu di antara mereka.
"Huuft.... Syukurlah pakaianku masih lengkap," ucap Airin dengan leganya.
Kemudian ia beralih ke arah Davin dan mengguncangkan tubuh Davin.
"Pak Davin, bangun! Pindah ke kamar Pak Davin!" pekik Airin.
Akan tetapi Davin bergeming, ia malah membalikkan badannya membelakangi Airin, lalu tiba-tiba ....
Duuuut....
Suara khas dan hembusan angin yang keluar dari pantat Davin, membuat Airin tercengang dan langsung menutup mulut dan hidungnya.
"Ini orang bener-bener deh, bukannya bangun malah buang angin, mana bau lagi." celetuk Airin.
Airin lalu beranjak dari tempat tidurnya sembari membawa bantal dan selimutnya, kemudian ia pun melangkah keluar dari kamarnya. Saat sudah berada di luar Airin langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Dasar Pak Davin, bikin orang jantungan aja, udah gitu pake kentut di depanku segala lagi, huuft menyebalkan!" gumam Airin.
Airin lalu menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya itu.
*********************
Rumah Dimas
Sementara itu, nampak sebuah mobil baru masuk ke halaman rumah Dimas dan berhenti di depan rumah Dimas. Lalu seseorang pun turun dari mobilnya dan ternyata ia Archo.
Kemudian Archo berjalan menuju ke arah pintu rumah Dimas. Sesampainya ia langsung membuka pintunya dan melangkah masuk ke dalam.
Lalu tiba-tiba....
"Archo kamu sudah pulang?" tanya Maria
Archo pun tersentak melihat Maria yang tengah duduk di sana, ia pun langsung menghampirinya.
"Mam, kenapa Mam ada di sini? Bukannya istirahat di kamar."
"Mam, tidak bisa tidur Archo, karena Mam masih menunggu kabar tentang Bunda," ujar Maria.
"Oh begitu ya Mam," lirih Archo.
"Lalu bagaimana keadaan Bunda? Apa Bunda di rawat di sana?" tanya Maria.
Seketika membuat raut wajah Archo berubah, ia pun langsung menundukkan wajahnya.
"Archo, kenapa kamu menunduk seperti itu?" cecar Maria.
"Mam, Bunda sekarang berada di ruang ICCU."
"Maksud mu apa Archo?" sentak Maria.
Archo lalu mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Maria.
"Mam, setelah Bunda di periksa, ternyata beliau terkena serangan jantung, makanya Bunda sekarang ada di ruang ICCU," jelas Archo.
"Apa! Se-serangan jantung!"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1