
<<<<<
Zuy membalas uluran Ray dan perlahan bangkit dari posisinya, kemudian mereka berdua melangkahkan kakinya menuju ke arah Villanya itu.
Sesampainya di dalam Villa, mereka berdua pun berpapasan dengan Bi Nana yang kala itu baru keluar dari kamar.
"Zuy, Ray. Kenapa kalian berdua baru masuk?" tanya Bi Nana.
"Maaf Bi, tadi kami duduk di luar dulu, soalnya perut Zuy kencang lagi," jawab Zuy.
"Oh begitu ya," lirih Bi Nana.
Zuy membalasnya dengan anggukan saja. Lalu ....
"Si pipi gembul sama Nara mana Bi?" tanya Ray.
"Rana baru aja tidur, kalau Nara lagi nonton kartun," jawab Bi Nana.
"Yaah padahal pengin gendong si pipi gembul," gumam Ray.
"Hihihi.... Kamu telat Ray. Yaudah kalau begitu Bi Nana ke dapur dulu ya, mau bantuin Kak Ima nyiapin makan malam," kata Bi Nana.
"Zuy ikut bantuin Bi!" seru Zuy.
"Udah gak usah, Lebih baik kamu duduk aja Zuy! Biar perut kamu gak kencang lagi," tutur Bi Nana.
Zuy pun langsung mengangguk patuh.
"Baiklah Bi Nana."
Bi Nana lalu melangkah menuju ke dapur, sedangkan Zuy dan Ray mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Oh iya, Pak Davin mana Ray?" tanya Zuy.
"Lagi ngecek rumah, sayangku." jawab Ray.
"Euuum, emangnya belum selesai ya?"
Ray menggeleng. "Belum, paling sekitar tiga atau mungkin lebih."
"Oh begitu ya. Hmmm, dua minggu lepas Villa ini kamu renovasi, sekarang giliran rumah kamu yang di renovasi."
"Ya mau gimana lagi, sayangku. Bentar lagi si kembar kan lahir, jadi kita perlu tambahan kamar untuk si kembar yang terhubung dengan kamar kita, dan juga aku sengaja memperluas beberapa ruangan, supaya nantinya si kembar bisa leluasa main di dalam rumah," jelas Ray.
Zuy tertegun mendengar penjelasan Ray, ia pun langsung melingkarkan tangannya di pinggang Ray.
"Terimakasih ya Ray, kamu udah peduli padaku dan si kembar," ucap Zuy.
"Kamu bicara apa sayangku? Tentu saja aku peduli terhadap kamu dan si kembar, karena kalian bertiga adalah kesayanganku," Ray membalas pelukan Zuy dan mencium puncak kepalanya.
Dan di saat mereka sedang asik berpelukan, tiba-tiba ....
"Ehemm, ehemm...."
Suara orang berdehem dari arah pintu, sontak membuat Ray dan Zuy melepaskan pelukannya dan mengarahkan pandangannya ke arah pintu.
"Pak Davin...."
"Kalian ini ya, kalau udah bermesraan pasti gak kenal waktu dan tempat. Serasa dunia ini milik kalian berdua saja," celetuk Davin.
"Memang dunia ini milik kita berdua, yang lainnya cuma ngontrak," lontar Ray.
Davin pun berdecak. "Ck, dasar manusia bucin. Oh iya Zuy, coba tebak siapa yang aku bawa."
"Hmmmm, memangnya siapa Pak?" tanya Zuy penasaran.
Kemudian seorang keluar dari belakang tubuh Davin, dan ia adalah ....
"Airin!!"
"Zuy...."
Airin langsung menghampiri Zuy dan memeluknya.
"Zuy, aku kangen sama kamu," ucap Airin.
"Aku juga Rin," balas Zuy.
Sesaat mereka berdua melepaskan pelukannya, Airin lalu menatap lekat wajah Zuy.
"Zuy, kenapa wajah kamu pucat? Apa kamu sedang sakit?" tanya Airin.
Zuy menggeleng. "Tidak, aku tidak sedang sakit Rin. Ya mungkin karena tadi perutku sakit, makanya wajah ku pucat."
"Apa! Perut mu sakit? Apa sudah waktunya Zuy?"
"Belum Rin, kata Dokter Eqitna kurang beberapa minggu lagi."
"Benarkah? Duh jadi gak sabar nunggu kedua ponakan ku lahir," kata Airin.
"Ya aku juga gak sabar Rin," balas Zuy.
Mereka berdua pun berpelukan kembali, sedangkan Ray dan Davin yang melihatnya pun hanya tersenyum saja.
Beberapa saat kemudian....
Waktu makan malam pun tiba, Ray dan lainnya sudah berada di meja makan dan tengah menikmati makan malamnya, begitu pula dengan Yiou, Aries yang baru datang dan langsung ikut bergabung.
Sesaat setelah selesai menikmati makan malamnya, mereka semua pun berkumpul di ruang keluarga sembari menonton tv. Dan di saat tengah asik berbincang, tiba-tiba Zuy bangkit dari posisinya.
"Sayangku, kamu mau kemana?" tanya Ray.
"Aku mau ke kamar mandi, udah gak tahan," jawab Zuy.
"Oh, mau aku antar?" tawar Ray.
Akan tetapi Zuy menggelengkan kepalanya sambil mengibaskan tangannya.
"Tidak usah Ray, Zuy bisa sendiri." tolak Zuy.
"Oh, yaudah kalau begitu, hati-hati ya sayangku! Jangan sampai terpleset."
Zuy mengangguk seraya membalas ucapan Ray, ia pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
"Rin...." tegur Bi Nana.
Airin pun menoleh. "Iya Tante," sahutnya.
"Kapan Mamah kamu akan datang kesini?" tanya Bi Nana.
"Euuum, kata Mamah sih minggu depan, Tan." jawab Airin.
"Oh, kalau menurut Tante, Mamah kamu kesini nya lusa aja, soalnya Tante punya firasat kalau Zuy akan melahirkan lebih awal sebelum waktunya," kata Bi Nana.
"Lho kenapa bisa Bi?" tanya Ray.
"Kamu lihat aja, perut Zuy sudah semakin kebawah dan lagi akhir-akhir ini dia sering mengalami kontraksi, ya meskipun wajar tapi kita juga perlu jaga-jaga. Dan lagi Bi Nana takutnya dia akan seperti Maria," kata Bi Nana.
"Hah! Seperti Mrs Maria?" Ray terkejut mendengar perkataan Bi Nana.
"Iya, soalnya dulu waktu Maria melahirkan Zuy juga usia kandungannya hanya 38 minggu saja. Jadi ya Bi Nana khawatir kalau Zuy juga akan sama seperti Maria," ujar Bi Nana.
"Oh seperti itu ya Bi," lirih Ray.
__ADS_1
Bi Nana mengangguk. "Ya maka dari itu, mulai sekarang kamu juga harus mempersiapkan segala sesuatunya, supaya nanti kalau udah waktunya jadi gak keteteran." tuturnya.
"Baiklah Bi, nanti Ray akan menyuruh Bu Ima untuk mempersiapkan semua yang di perlukan," balas Ray.
"Airin juga nanti akan menghubungi Mamah, supaya Mamah cepat datang kesini," sambung Airin.
Bi Nana pun tersenyum, Lalu kemudian Zuy datang kembali.
"Kalian sedang ngobrolin apa? Sepertinya serius banget," tanya Zuy sembari mendudukkan dirinya di samping Ray.
"Kami sedang bicara tentang kelahiran si kembar, sayangku."
"Kelahiran si kembar?"
"Iya Zuy, kan sebentar lagi mereka akan lahir, jadi kita harus mempersiapkan segala sesuatunya." ujar Bi Nana.
"Begitu ya Bi," lirih Zuy.
Lalu....
"Tuan dingin, Baby." panggil Yiou.
Ray dan Zuy pun mengalihkan pandangannya ke arah Yiou.
"Iya Tante...." sahut Ray.
"Soal nama si kembar, apa kalian berdua sudah memikirkannya?" tanya Yiou.
"Tentu sudah dong, Kak. memangnya ada apa Kak? Apa Kakak penasaran dengan nama mereka?" cecar Ray.
"Ya salah satunya itu, tapi kalau aku boleh saran sih, salah satu nama dari anak kalian di beri marga Vallery. Walau bagaimanapun juga anak kalian itu keturunan dari keluarga Vallery," ujar Yiou.
Membuat Ray dan Zuy saling memandang satu sama lain, kemudian ....
"Kakak tenang aja, kami sudah memikirkan itu kok dan kami juga sepakat bahwa salah satu anak kami akan di beri marga Vallery," kata Ray.
"Hufft Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya," ucap Yiou.
"Lalu Kak Yiou sendiri bagaimana? Apa anak Kakak akan di beri marga Vallery?" tanya Ray penasaran.
Namun Yiou malah menggeleng dan berkata, "Tidak, anak ku nanti akan bermarga Gilfan, sama seperti Ayahnya. Iya gak Yank?"
"Ya benar sekali My love." sambung Aries.
Sebenarnya Yiou juga sedang mengandung anak pertamanya dengan Aries, dan usia kandungannya kini menginjak lima minggu.
"Duh, pada ngomongin anak. Jadi pengen punya anak juga. Rin ayo kita bikin anak!" celetuk Davin menyandarkan kepalanya di bahu Airin.
Seketika membuat pipi Airin merona karena ulah Davin.
"Kalau mau punya anak, makanya kalian berdua buruan nikah!" cetus Yiou.
Airin dan Davin langsung mengarahkan pandangannya ke Yiou.
"Besok kalau gak kesiangan!" ucap mereka serempak.
Mendengar itu, Yiou pun memutar bola matanya dengan malas. Sedangkan yang lainnya hanya terkekeh geli.
Obrolan masih berlanjut hingga larut.
...----------------...
—Pukul 02.37Am
Malam semakin larut, hanya terdengar suara deburan ombak laut di selingi dengan angin malam yang membuat suasana semakin dingin.
Kamar Z&R
Sementara itu di dalam kamar, Zuy terlihat sedang duduk menyandar di atas tempat tidur sambil mengelus perut besarnya. Sedangkan Ray sedari tadi sudah berada di alam mimpinya.
Lalu kemudian ia membuka laci nakasnya untuk mengambil buku gambarnya. Zuy pun langsung membuka satu-persatu lembar dari buku gambar tersebut.
Setelah Zuy menemukan gambar yang di carinya, ia pun langsung memandangi gambar tersebut yang tak lain adalah gambar Papahnya, tanpa terasa air matanya mengalir di pipinya.
"Pah, maafin Zuy ya! Zuy belum sempat mampir ke rumah Papah lagi. Bukan Zuy tidak kangen sama Papah, hanya saja perut Zuy udah besar Pah dan sebentar lagi akan melahirkan. Papah doain Zuy ya! Supaya Zuy gampang lahirannya. Nanti kalau Zuy udah melahirkan, Zuy janji akan membawa si kembar main ke rumah Papah dan Zuy akan memperkenalkan Papah pada mereka." ucap Zuy terisak-isak.
Mendengar suara tangisan, membuat Ray terbangun dari tidurnya dan mengarahkan pandangannya ke arah Zuy.
"Sayangku...."
Dengan mata yang masih berkaca-kaca, Zuy pun menoleh ke arah Ray, sehingga membuat Ray terkejut dan langsung bangun dari posisinya menjadi duduk.
"Sayangku ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa ada yang sakit?" cecar Ray menangkup kedua pipi Zuy.
"A-aku tidak apa-apa Ray, hanya saja aku sedang kangen sama Papah," ujar Zuy sesenggukan.
Mendengar itu, Ray langsung merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya, Zuy pun kembali menangis di pelukan Ray. Sesaat setelah tenang, Ray melepaskan pelukannya, kemudian Ray mengambil gelas air minum dan memberikannya pada Zuy.
"Minum dulu, sayangku!"
Zuy mengangguk dan mengambil gelas tersebut dari tangan Ray, lalu ia pun meneguknya.
"Terimakasih Ray...." ucap Zuy sambil meletakkan gelasnya di atas nakas sampingnya.
"Sayangku, aku janji setelah kamu lahiran nanti, aku pasti akan membawa mu ke makam Papah bersama dengan anak-anak kita," lontar Ray.
"Serius kamu, Ray?" tanya Zuy memastikan.
Ray menganggukkan kepalanya. "Iya aku serius bahkan sangat-sangat serius, sayangku."
Seketika senyum Zuy langsung mengembang, kemudian ia perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Ray dan ....
Cup
Zuy pun mencium kilat bibir Ray dan saat ia melepaskan tautannya, Ray malah mendorong tengkuk leher Zuy sehingga membuat bibir mereka kembali menyatu dan seperti biasa Ray menyesapnya tanpa ampun sambil tangannya aktif menelusuri yang lainnya.
Ya malam ini pun akan semakin panjang seperti malam-malam sebelumnya.
*******************************
Tiga hari kemudian....
Rumah Dimas
Di pagi menjelang siang hari, Zuy nampak sedang berkunjung ke rumah Dimas bersama dengan Bu Ima. Setelah turun dari mobilnya, mereka berdua pun melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Permisi...." seru Zuy.
Sesaat Mira datang menghampiri Zuy.
"Nona muda," sapa Mira.
Zuy tersenyum. "Kak Mira."
"Nona muda datang kesini pasti mau cari Nyonya besar ya?"
Zuy mengangguk. "Iya Kak."
"Ya sayang sekali, Nyonya besar baru saja pergi." ujar Mira.
"Pergi? Memangnya Nyonya pergi kemana, Kak?" tanya Zuy.
"Nyonya pergi ke rumah sakit bersama Tuan Dimas, katanya sih mau check up," jawab Mira.
__ADS_1
"Oh begitu ya," lirih Zuy, lalu ....
"Siapa yang datang Mir?" seru Maria menghampiri.
Mira memalingkan wajahnya ke arah Maria.
"Nona muda yang datang, Mrs Maria." kata Mira.
Seketika membuat pandangan Maria mengarah ke Zuy.
"Oh ternyata anak durhaka ini," cetus Maria.
Mendengar itu, Zuy lalu menghela nafasnya dan perlahan menghampiri Maria. Kemudian secara tiba-tiba Zuy duduk berlutut di hadapan Maria, membuat Maria dan lainnya terperangah.
"Mrs Maria, apa kabar?" tanya Zuy.
"Jangan pura-pura menanyakan kabarku, tentu saja kamu masih mempunyai mata yang masih bisa melihat keadaan ku, dan lagi kenapa kamu duduk seperti itu, apa kamu ingin mencari perhatian orang lain," cecar Maria.
Zuy tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu ia menundukkan kepalanya.
"Sebenarnya Zuy datang ke sini untuk menemui anda, Mrs Maria."
"Menemui ku? Untuk apa kamu menemui ku? Dasar anak durhaka!" umpat Maria, lalu tiba-tiba....
Plaak...
Satu tamparan keras dari Maria mendarat ke pipi Zuy, sontak membuat Bu Ima tersentak dan langsung menghampiri mereka.
"Nyonya kenapa anda menamparnya?" pekik Bu Ima.
Maria pun menatap tajam ke arah Bu Ima.
"Seorang pembantu rendahan seperti kamu tidak pantas ikut campur dengan urusan majikannya!" sungut Maria.
"Apa! Dasar mulut dan kelakuan sama-sama tidak memiliki adab," sergah Bu Ima. Lalu ....
"Bu Ima, Mrs Maria, cukup!" sentak Zuy.
"Dasar anak durhaka! Berani sekali kamu menyentak Ibu mu!"
"Maaf Mrs Maria," ucap Zuy.
Lalu kemudian Bu Ima memegang tangan Zuy.
"Nak, ayo kita pergi dari sini! Lihatlah dia tetap jahat padamu," lontar Bu Ima mengajak Zuy.
Akan tetapi ....
"Sebentar Bu! Zuy ingin bicara sebentar dengannya," kata Zuy.
Bu Ima pun langsung melepaskan tangannya, lalu Zuy mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Maria.
"Mrs Maria, apa anda tahu, sebentar lagi Zuy akan melahirkan dan Zuy ingin meminta izin pada anda," ujar Zuy.
Maria tidak berkata apa-apa, bahkan ia malah membuang wajahnya untuk menghindari tatapan Zuy. Melihat itu, Zuy kembali terdiam, kemudian ia perlahan menundukkan kepalanya hingga menyentuh kaki Maria.
"Terimakasih karena sudah melahirkan Zuy dan sekarang Zuy minta doa dari anda, Mamah." ucap Zuy, ia pun mencium kedua kaki Maria.
Selepas itu, Zuy kembali mengangkat kepalanya dan perlahan bangkit dari posisinya.
"Mrs Maria...." panggil Zuy.
Namun Maria tetap saja memalingkan wajahnya ke arah yang lain.
"Terimakasih sudah mengizinkan Zuy mencium kaki anda, Mrs Maria. Kalau begitu Zuy pamit pulang dulu. Permisi," pamit Zuy.
Kemudian ia dan Bu Ima melangkahkan kakinya ke arah mobil dan masuk ke dalam mobilnya. Sesaat mereka pun pergi meninggalkan rumah Dimas.
"Mira, bawa aku ke kamar!" pinta Maria.
Mira mengangguk. "Baik Mrs Maria."
Lalu Mira mendorong kursi roda Maria menuju ke kamarnya.
...----------------...
Sesaat setelah berada di jalanan.
"Nak Zuy...."
Zuy menoleh. "Iya Bu Ima, ada apa?"
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bu Ima
"Zuy baik-baik aja Bu, bahkan perasaan Zuy sudah lebih tenang," jawab Zuy.
"Syukurlah kalau begitu, tapi apa pipi mu ...." Bu Ima memegang pipi Zuy.
"Pipi Zuy baik-baik saja, Bu."
Pandangan Zuy mengarah ke Henri yang kala itu sedang mengemudi.
"Henri...."
"Iya Nyonya, apa anda perlu sesuatu?"
"Nanti sebelum pulang kita mampir dulu ke Minimarket ya!" titah Zuy
Henri langsung mengangguk patuh.
"Baik Nyonya."
***********************
Minimarket
Hanya butuh waktu sepuluh menit, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Setelah mobil berhenti di depan minimarket, Zuy dan Bu Ima segera turun dan melangkah masuk ke minimarket tersebut. Sedangkan Henri menunggu di mobil.
Saat berada di dalam, Zuy mengambil keranjang belanja dan mereka pun mulai mengambil barang yang mereka perlukan, seperti camilan, minuman dan lainnya.
Sesaat setelah selesai berbelanja dan membayarnya, mereka pun bergegas keluar menuju ke mobilnya kembali.
"Hen, tolong bawa ini!"
"Baik Nyonya."
Henri lalu mengambil kantong belanja yang berada di tangan Bu Ima dan Zuy, kemudian ia meletakkan beberapa kantong belanja tersebut ke bagasi mobil. Sesudah itu, Henri membukakan pintunya untuk Zuy. Dan saat Zuy hendak masuk mobil, tiba-tiba ....
"Nak Zuy, apa kamu ingin buang air kecil?" tanya Bu Ima karena melihat cairan yang keluar mengalir di kaki Zuy.
"Tidak Bu, memangnya kenapa?"
"Tapi itu ...." Bu Ima menunjuk ke arah kaki Zuy.
Zuy pun langsung mengarahkan pandangannya ke bawah, seketika ia terkejut karena melihat cairan yang mengalir di kakinya itu.
"I-ini air apa ya Bu?"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌