
<<<<<
Mendengar namanya di sebut, sontak membuat Zuy memalingkan wajahnya ke arah laki-laki tersebut.
"Ka-kamu!"
Lirih Zuy membelalakkan matanya karena ia terkejut sekaligus kebingungan saat melihat lelaki tersebut . Lalu laki-laki itu pun tersenyum pada Zuy.
"Bagaimana kabarmu, Zoey Lestari?" tanya lelaki itu.
Dan pada saat ia mengulurkan tangannya ke arah Zuy, tiba-tiba Henri berdiri di depan Zuy sembari mencengkeram tangan lelaki itu dan membuat lelaki itu mengerenyitkan keningnya. Sedangkan anak buah Henri (Pengawal lainnya) berdiri tepat di belakang lelaki tersebut.
Sebenarnya pengawal yang di utus Ray itu menyamar sebagai pengunjung Supermarket, supaya tidak menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sana.
"Siapa kamu? Lepaskan tanganku!" pekik lelaki itu pada Henri.
"Justru saya yang harusnya bertanya pada anda, Tuan. Siapa anda sebenarnya? Kenapa anda bisa mengenal Nyonya?" cecar Henri dengan tatapan mata elangnya.
"Sa-saya ...."
Lalu....
"Devaaa!!" seru seorang wanita dengan menggendong anak berjalan ke arah lelaki itu.
Sontak membuat semuanya beralih pandangan ke arah wanita itu.
"Bukankah dia itu .... Lalu barusan dia menyebut laki-laki ini Deva, apa jangan-jangan?" batin Zuy mengarahkan pandangannya ke wanita dan laki-laki tersebut secara bergantian.
"Dev, tadi aku .... Lho! Ada apa ini? Kenapa kamu memegangi tangan suamiku seperti itu? Apa suamiku telah melakukan kesalahan?" tanya wanita itu yang keheranan.
"Tadi suami anda mendekati Nyonya kami dan dia juga ingin menyentuhnya," jawab Henri.
"Apa kamu bilang!" pandangan wanita itu pun beralih ke arah lelaki yang ia sebut Deva itu.
"Apa benar yang di katakan pria ini, Deva?" sambung tanyanya pada Deva.
Deva menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu tidak benar Zetta, aku hanya ingin menyapa teman lama saja." ujarnya.
"Teman lama?"
"Iya teman lama."
Deva lalu menunjuk ke arah Zuy menggunakan mulutnya, seketika Zetta menolehkan kepalanya ke arah Zuy.
"Lho, Zuy!" ucapnya.
Zuy mengangguk sambil tersenyum tipis, kemudian ia mendekat ke arah Henri.
"Hen, lepaskan dia!" titah Zuy.
"Tapi Nyonya...."
"Hen, dia bukan orang jahat, dia sahabat SMA ku dulu," jelas Zuy.
Seketika Henri langsung melepaskan tangan lelaki yang bernama Deva itu.
"Cengkraman anda benar-benar menyakiti tangan saya, Tuan." gerutu Deva sembari memegangi tangannya yang bekas di cengkram Henri.
Akan tetapi Henri tidak berkata apa-apa, hanya tatapan matanya yang masih menajam ke arah Deva.
"Maaf ya Dev, Henri tidak bermaksud menyakiti mu, dia hanya ingin melindungi kami saja. Dan maafkan aku! Karena aku tidak mengenali mu secara langsung," ucap Zuy.
"Oh begitu ya, tidak apa-apa Zuy aku paham kok. Memang wanitanya CEO CV jadi pengawalannya pun harus ketat seperti ini," balas Deva sekaligus mencandai Zuy.
"Kamu bisa aja, Dev. Euuum, maaf ya Nona Zetta!" Zuy pun berucap pada wanita tersebut yang bernama Zetta.
Dan ternyata mereka berdua adalah Deva dan Zetta suami istri yang baru muncul kembali.
Mendengar ucapan dari Zuy, Zetta pun tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Zuy, dan bisa tidak kalau kamu memanggilku dengan sebutan Zetta saja!" pinta Zetta.
"Baiklah Zetta."
Zuy menyetujui permintaan Zetta, kemudian mereka saling berjabat tangan secara bergantian. Pandangan Deva pun mengarah ke stroller si kembar.
"Apa mereka berdua anak-anak mu?" tanya Deva.
"Iya, mereka anak-anak ku." jawab Zuy mengangguk.
"Aiiih lucunya, jadi pengen punya anak kembar," ucap Zetta yang merasa gemas dengan si kembar.
"Ya nanti sepulang dari sini kita langsung bikin anak kembar," canda Deva.
Membuat Zetta menundukkan kepalanya karena malu, sedangkan Zuy malah terkekeh. Lalu anak yang di gendong Zetta tiba-tiba menarik rambut Zetta.
"Yvo, ada apa?" tanya Zetta sambil melepaskan tangan anaknya itu.
"Mau pulang Mamah," rengeknya.
"Oh, yaudah kita pulang sekarang!" kata Deva mengelus rambut anaknya itu. "Zuy...."
"Iya Dev," sahut Zuy.
"Haaa.... Padahal aku ingin mengobrol lama dengan mu, Zuy. Tapi sayangnya Yvo merengek minta pulang. Jadi ya kita harus menuruti keinginan anak," ujar Deva.
"Iya gak apa-apa Dev, lagi pula anak kamu sepertinya sudah lelah dan mengantuk," balas Zuy.
"Iya kamu benar, Zuy. Yaudah kalau gitu kita duluan ya," ucap Deva sekaligus berpamitan.
Zuy membalas dengan anggukan kecil, kemudian mereka melangkah pergi meninggalkan Zuy.
"Nak Zuy, lelaki itu siapa? sepertinya Ibu pernah melihatnya tapi di mana ya?" tanya Bu Ima.
"Dia teman Zuy yang dulu suka main ke rumah Bu, dulu dia juga sering menyapa Bu Ima," jawab Zuy.
__ADS_1
"Euuum maksud Nak Zuy dia laki-laki gemulai yang suka memakai jepit di rambutnya itu?"
Zuy mengangguk sambil mengulum senyumnya.
"Oh, pantesan Ibu rasa seperti mengenalnya, ternyata si pria jepitan itu. Tapi sekarang dia berbeda dan nampak gagah malah, tidak seperti dulu yang kemayu, jalan pun lenggak-lenggok," celetuk Bu Ima.
Tawa Zuy seketika lepas saat mendengar celetukan Bu Ima.
"Hihihi.... Ya ampun Bu Ima ternyata masih ingat julukannya. Dia memang sudah berubah sejak lama Bu. Zuy waktu pertama melihatnya lagi juga kaget bahkan hampir tidak mengenalinya seperti sekarang ini," papar Zuy. (Bab.25 mengikutinya)
"Oh...." lirih Bu Ima manggut-manggut.
"Yaudah kita lanjut lagi belanjanya ya Bu!" pinta Zuy.
Bu Ima mengangguk. "Iya Nak Zuy."
Pandangan Zuy mengarah ke Henri. "Henri...."
Seakan mengerti, Henri pun mengangguk patuh, kemudian ia memberikan isyarat pada pengawal lainnya dan di balas anggukan oleh mereka. Lalu semuanya langsung ke posisinya masing-masing untuk mengawasi.
Dan kemudian mereka pun melanjutkan aktivitas berbelanja-nya sampai selesai.
**************************
Amerika
Rumah Sakit
Malam itu, Archo nampak tengah lari terburu-buru menelusuri koridor rumah sakit menuju ruang Operasi. Sebab ia mendapatkan kabar dari lapas bahwa Kimberly berseteru dengan penghuni lainnya.
Dan orang yang berseteru dengan Kimberly itu menusukkan kaca pecah di bagian perut Kimberly, sehingga membuat Kimberly mengalami luka dan pendarahan di bagian perutnya itu.
Sesampainya, Archo pun menghentikan langkahnya karena ia melihat Liora tengah duduk di depan ruangan tersebut sembari menundukkan kepalanya. Sesaat Archo kembali melangkahkan kakinya menghampiri Liora.
"Aunty...." tegur Archo memegang pundak Liora.
Mendengar suara Archo, Liora pun langsung mendongakkan kepalanya ke arah Archo.
"Archo!"
Liora langsung bangkit dari posisinya dan dengan tiba-tiba ia pun mencengkeram erat kerah baju Archo membuat Archo terkejut sekaligus kebingungan.
"A-Aunty....!"
"Ini semua gara-gara kamu, Archo. Coba saja kalau kamu lebih kasihan lagi terhadap adikmu itu, pasti dia tidak akan mengalami kejadian seperti ini," cetus Liora sembari menangis.
Archo menundukkan kepalanya. "Maafkan Archo, Aunty! Archo memang bersalah, tapi Archo melakukan ini juga demi kebaikan Kimberly." ucapnya.
"Apa kamu bilang! Demi kebaikan Kimberly? Demi kebaikan yang mana, hah! Kamu lihatlah sendiri, sekarang dia berada di ruang operasi karena terluka parah akibat tusukan itu," sergah Liora memukuli tubuh Archo.
Archo yang mendapatkan serangan dari Liora pun hanya bisa pasrah. Lalu kemudian Dokter yang menangani Kimberly keluar dari ruang operasi itu. Sontak Archo dan Liora langsung menghampirinya.
"Dok, apa operasinya sudah selesai? Lalu bagaimana keadaan adik saya?" lontar pertanyaan Archo.
"Anda Kakak dari pasien?"
"Begini Mr Archo, sebenarnya operasi pasien belum selesai, sebab kami membutuhkan donor darah dengan golongan darah yang sama untuk pasien, karena pasien terus saja mengeluarkan darah dan kondisinya sekarang kritis. Di sini stok darah yang sama dengan pasien sudah habis dan belum di kirim lagi, jadi ...." jelas Dokter, lalu....
"Ambil darah saya aja, Dok! Kebetulan darah saya juga sama dengan Kimberly," kata Archo sambil menaikkan lengan kemejanya.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Silahkan anda ikuti Suster Rose!" lontar Dokter menunjuk ke arah Suster di sebelahnya.
Archo pun mengangguk. "Baik Dok."
"Mari Mister!" kata Suster yang bernama Rose itu sambil melangkahkan kakinya menuju ke ruang lainnya.
Archo pun segera mengikuti langkah Suster Rose.
Beberapa saat kemudian....
Archo dan Suster Rose keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju ke ruang operasi. Archo lalu menghampiri Liora kembali, sedangkan Suster itu langsung masuk ke dalam ruang Operasi dengan membawa darah milik Archo.
"Aunty...." lirih Archo sembari mendudukkan dirinya di samping Liora.
Liora pun hanya menundukkan kepalanya sembari merekatkan tangannya seraya berdoa untuk Kimberly. Archo lalu menghela nafasnya dan menatap ke arah Liora.
"Kenapa Aunty Liora udah berada di sini duluan sebelum Archo? Apa mereka menghubungi Aunty terlebih dahulu sebelum menghubungi ku?" tanya Archo penasaran.
Liora lalu kembali mengangkat kepalanya dan membalas tatapan pria berkacamata yang berada di sampingnya itu.
"Mereka tidak menghubungi Aunty," ujar Liora.
"Lalu kenapa Aunty bisa tahu kalau Kim terluka dan di larikan ke rumah sakit ini?"
"Tentu saja Aunty tahu, karena pada saat kejadian Aunty sedang berada di sana untuk mengunjungi adikmu itu. Dan saat Petugas itu akan membawa Kimberly untuk menemui Aunty, tiba-tiba ia berteriak sambil membopong tubuh Kimberly," jelas Liora.
"Jadi begitu ya?" lirih Archo, ia lalu menggenggam tangan Liora. "Aunty, Archo mohon sama Aunty! Untuk kejadian ini, Aunty jangan beritahu ke Mam ya!" sambung pintanya.
"Kenapa aku tidak boleh memberitahu hal ini pada Maria, Archo! Maria itu kan Ibunya, jadi dia berhak tahu soal keadaan Kimberly," pekik Liora.
"Iya Archo tahu itu, Aunty. Tapi maksud Archo biar Archo saja yang memberi tahu kejadian ini pada Mam. Aunty jangan bicara apapun pada Mam, ya Aunty. Archo mohon pada Aunty!" pinta Archo.
Liora lalu mengambil nafasnya dan membuangnya perlahan, ia pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau itu permainan mu, maka Aunty tidak akan bicara apa-apa soal kejadian ini kepada Maria." Liora menyetujui permintaan Archo.
Mendengar itu, seketika senyum Archo langsung mengembang.
"Terimakasih Aunty," ucap Archo.
Liora hanya menyunggingkan senyum tipisnya, kemudian ia melepaskan tangan Archo dan menundukkan kepalanya kembali. Sedangkan Archo langsung menyandarkan kepalanya sambil menatap langit-langit.
"Semoga operasinya berjalan lancar dan Kimberly bisa melewati masa kritisnya. Kimberly, maafkan Kakak! Kakak tidak bisa melindungi mu dengan baik," batin Archo sembari menitihkan air matanya.
*********************************
__ADS_1
Tak terasa sore hari pun tiba, Zuy nampak tengah duduk di halaman rumah bersama kedua anaknya yang berada di Stroller-nya itu. Setelah sesaat yang lalu ia mengajak jalan anak-anaknya mengelilingi taman yang berada di samping rumah Ray.
"Kita istirahat dulu ya, anak-anak Mamah." ucap Zuy pada si kembar.
Mereka hanya tertawa sambil berceloteh sekata dua kata, membuat Zuy semakin gemas dengan tingkah anak-anaknya itu. Lalu pada saat Zuy mengarahkan pandangannya ke arah lainnya, tiba-tiba Baby Z mengangkat tangannya dan mendaratkannya tepat di wajah Baby R sambil memukul-mukul, sontak membuat Baby R menangis akibat ulah Baby Z itu.
Mendengar tangisan anaknya, pandangan Zuy pun langsung beralih kembali ke si kembar.
"Duh gantengnya Mamah kenapa menangis? Apa kamu haus atau buang air?" lirih Zuy sembari mengangkat tubuh Baby R dan menggendongnya.
Zuy tidak menyadari bahwa pelaku utama yang membuat Baby R menangis adalah anak perempuannya yaitu Baby Z.
Zuy pun memeriksa popok Baby R, akan tetapi popoknya masih kering, kemudian ia mengeluarkan ASI-nya dan memberikannya pada Baby R. Seketika Baby R langsung meminumnya dengan lahap.
"Ternyata anak Mamah haus ya!"
Setelah kenyang dan tenang, Baby R melepaskan asi Zuy dari mulutnya. Zuy pun langsung merapikan kembali pakaiannya itu. Kemudian Baby R di letakkan kembali di stroller-nya.
Sesaat kemudian, sebuah mobil memasuki halaman rumahnya dan ternyata itu mobil Ray. Melihat itu, Zuy pun segera bangkit dari posisinya.
"Anak-anak, sepertinya Daddy kalian sudah pulang, ayo kita samperin!" ajak Zuy sambil mendorong stroller-nya dan berjalan menghampiri.
Dan di saat yang bersamaan, Ray turun dari mobilnya dan segera melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu, akan tetapi....
"Ray...." seru Zuy.
Sontak membuat Ray menghentikan langkahnya dan mengalihkan pandangannya ke arah suara pujaan hatinya itu. Senyumnya pun langsung mengembang saat melihat Zuy yang tengah mendorong stroller anak-anaknya itu.
"Sayangku...."
Dengan langkah lebarnya ia pun menghampiri Zuy dan kedua buah hatinya itu.
"Ray, selamat datang!" ucap Zuy menyambut Ray.
"Terimakasih sayangku," balas Ray.
Dan ketika Ray hendak mendaratkan ciuman di pipi Zuy, tiba-tiba....
"Ehemm, Tuan Ray, Zuy. Aku masuk duluan ya!" ucap Davin membuat Ray mengerenyitkan keningnya.
Berbeda dengan Zuy yang membalasnya dengan anggukan kepala. Davin lalu menutup wajahnya dengan satu tangannya sambil melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah.
"Ck, bener-bener manusia moci satu ini," Ray menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sesaat pandangannya pun mengarah ke stroller di mana si kembar berada sambil mencondongkan tubuhnya.
"Hai ganteng dan cantiknya Daddy, kalian habis jalan-jalan ya? Kok gak nungguin Daddy sih? Daddy juga mau jalan-jalan sama kalian," ucap Ray menoel pipi gembul keduanya.
Lalu Baby R dan Baby Z mengangkat tangannya seakan meminta di gendong sama Daddy-nya itu.
"Kalian minta gendong Daddy ya? Yaudah sini Daddy gendong kalian berdua sekaligus. Sayangku bantu aku!"
Zuy mengangguk, Ray terlebih dahulu menggendong Baby Z, begitu pula dengan Zuy yang menggendong Baby R dan memberikannya pada Ray. Sehingga Ray menggendong keduanya sekaligus.
"Ayo kita masuk!" ajak Zuy.
Ray terlebih dahulu melangkahkan kakinya sambil membawa kedua anaknya dan di susul oleh Zuy yang mendorong stroller-nya.
...----------------...
Malam hari....
Setelah menidurkan kedua anaknya, Zuy pun langsung kembali ke kamarnya. Setibanya, Zuy lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjangnya sembari menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Karena rasa pegalnya kembali menyerangnya.
Selang beberapa saat, Ray juga masuk ke dalam kamarnya sembari membawa makanan untuk pujaan hatinya itu.
"Sayangku, aku bawakan makanan untuk mu," kata Ray sembari mendudukkan dirinya di kursi dan berhadapan dengan Zuy.
"Terimakasih Ray," ucap Zuy mengambil makanan dari tangan Ray, akan tetapi Ray malah menahannya.
"Biar aku yang suapi kamu ya!" ujar Ray sembari menyendok makanannya dan menyodorkannya ke mulut Zuy.
Zuy pun mengangguk patuh dan menerima suapan dari Daddy-nya anak-anak. Suapan demi suapan pun sudah masuk ke dalam perut Zuy, dan saat makanan di piring tinggal sedikit lagi, tiba-tiba Zuy merasakan sesuatu yang menyerang.
"Ray, stop dulu!" pinta Zuy menutupi mulutnya.
"Kenapa sayangku? Padahal tanggung sedikit lagi."
Zuy langsung bangkit dari posisinya dan bergegas menuju ke kamar mandi. Kemudian terdengar suara Zuy memuntahkan makanannya, sontak membuat Ray beranjak dari tempat duduknya bergegas ke arah kamar mandi.
"Sayangku! Apa kamu baik-baik saja?" seru Ray mengetuk pintunya.
Akan tetapi Zuy tidak menjawabnya, karena ia tengah sibuk mengeluarkan isi dalam perutnya itu.
Sesaat setelah selesai Zuy pun membukakan pintu kamar mandinya sambil menundukkan kepalanya.
"Sayangku, apa yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba muntah seperti itu?"
Zuy pun perlahan mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Ray.
"Ray, sepertinya aku ...."
***Bersambung....
Zuy kenapa ya? Hmmmm.... 🤔
Penasaran? Sama aku juga.... 😁
See You Next Time.... 😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌