Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Sudah Tidak Ada Artinya....


__ADS_3

<<<<<


Terdengar suara gaduh dari arah luar, seketika membuat Dimas dan Eqitna tersentak kaget.


"Suara apa itu?"


Seru Dimas sembari melihat ke arah pintu kamar tersebut.


"Entahlah, sepertinya itu berasal dari kamar Kak Maria." ujar Eqitna.


Lalu keduanya pun beranjak dari tempatnya dan bergegas keluar dari kamar Bunda menuju kamar Maria. Setibanya di sana, Dimas dan Eqitna di buat terkejut karena melihat Maria tersungkur di lantai, seketika Dimas langsung menghampiri Kakaknya itu.


"Kak, apa yang terjadi? Kenapa Kakak bisa di bawah seperti ini?!" tanya Dimas.


Maria pun menengadah menatap Dimas dan Eqitna, nampak matanya berkaca-kaca seakan-akan ingin menangis.


"Kak...." lirih Dimas memegang kedua bahu Kakaknya itu.


Maria terdiam dan kembali menundukkan kepalanya membuat Dimas dan Eqitna kebingungan, lalu Dimas mengangkat tubuh Maria dan menempatkannya dia atas ranjang, sedangkan Eqitna menuangkan air minum kemudian memberikannya pada Dimas.


"Kak, ini minum dulu supaya Kakak tenang!" Dimas memberikan gelas air minum tersebut kepada Maria.


Maria mengambil gelas tersebut dari tangan Dimas dan meneguknya hingga sisa setengah gelas.


"Kak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kakak bisa tersungkur seperti itu?!" Dimas kembali bertanya karena masih penasaran.


Lagi-lagi bukannya menjawab, Maria malah kembali menundukkan kepalanya namun di barengi dengan isak tangisnya yang membuat Dimas dan Eqitna kembali kebingungan.


Sesaat Dimas menghela nafasnya dan berkata, "Yasudah kalau Kakak tidak mau menjawabnya juga tidak apa-apa, lebih baik Kakak tidur ya! Dimas akan tetap disini menjaga Kakak."


Lalu....


"Kenapa hidup Kakak seperti ini Dimas? Rasanya Kakak ingin menyusul Bunda saja!" ucap Maria sontak membuat Dimas tersentak mendengarnya.


"Kak, Kakak ngomong apa sih?!"


Maria mengangkat kepalanya dan menatap wajah adiknya seraya meneteskan air matanya.


"Kenapa hidup Kakak seperti ini Dimas?! Untuk berdiri saja Kakak tidak mampu apalagi berjalan seperti dulu, hidup Kakak sudah tidak ada artinya lagi, rasanya Kakak sudah tidak sanggup lagi menahan penyakit yang Kakak derita ini, Kakak ingin menyerah dan menyusul Bunda saja, daripada harus menjadi beban buat kal...." ungkap Maria.


Namun....


"Kak Maria!" sentak Dimas dengan nada tingginya dan berhasil membuat Maria menghentikan perkataannya.


Lalu secara tiba-tiba Dimas memeluk erat tubuh Maria.


"Kak, Dimas mohon jangan bicara seperti itu lagi! Apa Kakak tidak kasihan sama Dimas? Sudah cukup Dimas kehilangan Bunda dan sekarang Dimas tidak ingin kehilangan Kakak lagi, Kakak bukanlah beban, Kakak adalah keluarga dan Dimas sangat menyayangi Kak Maria, jadi tolong jangan tinggalin Dimas, Kak. Kakak jangan khawatir dengan penyakit Kakak ini, Dimas yakin dan percaya suatu hari nanti pasti penyakit Kakak bakalan sembuh. Dimas janji akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Kakak dan Kakak pasti bisa berjalan seperti dulu lagi." Ucap Dimas.


Hati Maria tersentuh ia membalas pelukan adiknya.


"Maafin Kakak Dimas! Maafin Kakak!" ucap Maria di barengi tangisannya.


"Tidak apa-apa Kak, Dimas mengerti apa yang Kakak rasakan saat ini."


Sementara itu di tempat lainnya, nampak dua sejoli yaitu Airin dan Davin yang sedang memakirkan kendaraannya masing-masing di tempat yang tersedia, setelah itu mereka berdua berjalan menuju ke arah Villa milik Ray.


Lalu....


"Rin...." lirih Davin


"Iya Pak, kenapa?!"


Davin tersenyum seraya mengulurkan tangannya ke arah Airin membuat Airin mengernyit heran.


"Hmmm, kenapa Pak Davin malah mengulur tangan, apa Pak Davin mau membawakan tas ku?! Kebetulan bahu saya serasa sakit nih Pak." Kata Airin sambil melepaskan tasnya dan memberikannya pada pria di sampingnya itu.


Sehingga membuat Davin pun mengerutkan keningnya dan segera menurunkan tangannya itu.


"Cih, dasar singa betina gak peka!" Sungut Davin menyilang kedua tangannya di dada sembari membuang muka.


Pffft....


Airin pun menyemburkan tawa kecilnya yang tertutup dengan tangannya saat melihat ekspresi wajah Davin membuat Davin kembali melihat ke arah Airin.


"Kenapa kamu malah tertawa Rin?!"


"Ah, habisnya wajah Pak Davin lucu kalau lagi manyun gitu, jadi mirip Suneo yang di animasi robot kucing bulat biru itu lho, Pak...." Kata Airin


"Apa kamu bilang?!" Davin mendekat kearah Airin lalu ia mengacak rambut panjang wanita di sebelahnya itu.


"Pak Davin hentikan! Nanti rambutku jadi berantakan...." Cicit Airin.


"Biar makin mirip singa betina, siapa suruh kamu menyamakan pacar kamu yang ganteng dan glowing ini dengan Suneo si bibir maju itu!" sungut Davin


"Pa-pacar?!" Batin Airin


Blush....


Seketika wajah Airin langsung memerah bak kepiting rebus, melihatnya membuat Davin menurunkan tangannya dari rambut Airin.


"Kenapa wajah kamu memerah gitu Rin-Rin?" Tanya Davin memandangi wajah Airin.


"Apa! Si-siapa yang wajahnya merah, Pak?!" Bukannya menjawab Airin malah balik bertanya.


"Ya kamulah, kan aku nanya ke kamu, singa betina!" Davin mencondongkan tubuhnya kearah Airin. "Hmmm, apa jangan-jangan kamu ...." Lanjutnya.

__ADS_1


Deg


Jantung Airin pun langsung berdegup kencang.


"Sial! Kenapa jantungku malah berdebar gini," kata hati Airin.


"Rin...."


"Ah iya, mungkin karena cuacanya panas makanya wajahku memerah." Kata Airin seraya memutar badannya membelakangi Davin.


"Cuaca panas?!" Lirih Davin sembari menggaruk kepalanya.


Lalu....


"Hoi singa betina, kamu mau kemana?!" Tanya Davin dengan nada sedikit keras karena Airin telah berjalan terlebih dahulu.


"Pulang lah Pak, memangnya mau kemana lagi?" Jawab Airin sembari terus melangkahkan kakinya.


"Dasar singa betina ini...." Davin pun langsung menyusul Airin.


Sesampainya di Villa, Airin dan Davin melangkahkan kakinya masuk ke dalam Villa.


Lalu....


"Kalian baru pulang?" Tanya Mamahnya Airin yang sedang duduk di sofa.


Keduanya pun langsung menghampirinya dan mencium punggung tangan Mamah Airin secara bergantian.


"Mamah kok ada disini, kenapa gak istirahat di kamar aja Mah? Ini kan udah malam," tanya Airin.


Mamahnya Airin menggeleng. "Mamah belum ngantuk Rin, dan lagi bagaimana Mamah bisa tidur kalau anak-anak Mamah ini belum pada pulang," ujarnya memegang pipi Airin dan Davin.


"Maaf ya Mah Airin pulang telat, soalnya tadi Airin ...." Ucap Airin namun....


"Iya Rin, Tuan Ray udah cerita kok kalau kalian berdua hari ini lembur dan pulang telat," ujar Mamahnya Airin.


"Oh jadi Tuan Ray udah ngasih tahu ke Tante ya, maaf ya Tan kita berdua gak ngasih kabar." kata Davin.


"Tidak apa-apa Vin, justru Mamah senang kalau ternyata kalian berdua pulang bareng. Terimakasih ya Vin." balas Mamahnya Airin.


Davin tersenyum. "Iya sama-sama Tan."


Lalu....


"Oh iya, apa kalian berdua sudah makan?"


Airin mengangguk. "Udah Mah tadi di jalan dan tadi juga Pak Davin belikan martabak telor kesukaan Mamah."


Airin memberikan bungkusan plastik berisi martabak telor ke Mamahnya itu.


"Gak repot kok Tan, Davin sengaja beli khusus buat Tante."


"Oh begitu, yaudah Tante terima martabaknya ya. Terimakasih banyak Vin." ucap Mamahnya Airin.


"Iya Tan, kalau gitu Davin ke kamar dulu ya Tan, Rin, mau bebersih dulu, soalnya badan Davin udah lengket," ujar Davin.


Mamahnya Airin dan Airin mengangguk kemudian Davin berjalan menuju ke kamarnya.


"Kamu juga bebersih sana, habis itu baru istirahat!" suruh Mamahnya Airin.


"Iya Mamah sayang...." balas Airin di susul ciuman di pipi Mamahnya itu.


Lalu ia pun bergegas menuju ke arah kamarnya, sedangkan Mamahnya Airin melangkah ke arah dapur.


Beberapa saat kemudian....


Nampak Zuy berada di depan kamar Airin lalu ia pun mengetuk pintunya.


"Rin, ini aku Zuy, kamu udah tidur?!"


"Belum Zuy, sebentar aku lagi beresin tempat tidur." balas Airin dari dalam kamarnya.


"Oke."


Sesaat pintu kamarnya Airin terbuka, lalu tiba-tiba Airin menarik tangan Zuy dan membawanya ke dalam, keduanya pun duduk di atas ranjang.


"Zuy kebetulan kamu datang kesini, tadinya aku mau menghubungi kamu, tapi takutnya kamu udah tidur." kata Airin sambil merangkul sahabatnya itu.


"Hmmm, aku belum ngantuk Rin, makanya aku kesini karena aku khawatir sama kamu, Rin." jelas Zuy.


Airin tersenyum lalu berkata, "Aku tersentuh mendengarnya, kamu memang yang terbaik Zuy."


Ia memeluk Zuy dengan erat, tentu saja Zuy membalas pelukan dari Airin. Sesaat mereka melepaskan pelukannya.


"Lalu ada cerita apa hari ini? Di lihat dari raut wajahmu, nampaknya kamu sedang bahagia Rin." lontar Zuy seraya merapihkan rambut Airin.


"Zuy, ternyata Pak Davin menyimpan perasaannya padaku dan tadi dia mengungkapkannya padaku." jelas Airin dengan riangnya.


Mendengarnya pun Zuy langsung tersenyum sumringah.


"Wah, ternyata perasaan mu tidak bertepuk sebelah tangan dong."


"Iya Zuy...."


"Wah, jadi sekarang kamu sama Pak Davin udah resmi dong?!"

__ADS_1


Airin menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Selamat ya Rin, aku senang mendengarnya...."


"Terimakasih Zuy," ucap Airin. "Tapi aku takut...." Lanjutnya.


Tiba-tiba Airin menundukkan kepalanya membuat Zuy mengernyitkan dahinya.


"Takut kenapa Rin?!"


Airin menghela nafasnya terlebih dahulu.


"Aku takut hubungan antara aku sama Pak Davin tidak di restui?!"


"Tidak di restui? Itu tidak mungkin Rin, semua orang pasti merestui hubungan antara kamu dan Pak Davin."


Airin lalu menggeleng. "Bukan itu Zuy...."


"Bukan itu! Lantas maksudmu apa Rin?" tanya Zuy keheranan.


Airin menengadah menatap wajah Zuy.


"Zuy, bukannya Pak Davin masih dan sangat mencintai kekasihnya yang sudah meninggal itu kan, sampai ia mengucap sumpah tidak ingin menikah atau mempunyai pasangan lagi. Aku takut Tuhan tidak merestui hubungan kami dan aku takut terjadi sesuatu pada hubungan kamu...." ujar Airin.


Zuy mendesah, kemudian ia merangkul pundak Airin.


"Dasar kamu Rin! Sudah jangan berfikir macam-macam, sekarang kamu jalani saja masalah jodoh dan restu hanya Tuhan yang bisa menentukannya." tutur Zuy.


Mendengar tuturan Zuy, senyum Airin pun kembali mengembang.


"Terimakasih Zuy." ucapnya seraya memeluk Zuy.


Sedangkan di ruang kerja yang berada di Villa, nampak Ray dan Davin tengah duduk sembari menikmati kopi dan cemilan.


"Jadi sekarang Kak Davin sama Airin sudah resmi jadian?!" tanya Ray sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.


Davin langsung mengangguk-anggukan kepalanya dengan cepat.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Setelah sekian lama akhirnya Kak Davin memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan Kakak itu kepada Airin." lontar Ray di susul senyuman tampannya.


"Iya Tuan Ray, aku juga tidak menyangka bisa mengungkapkannya. Awalnya aku kira Airin tidak menyukai ku dan bakalan menolak ku, tapi ternyata dia juga sama menyukai ku bahkan langsung menerima ku." balas Davin.


"Ya, Airin memang sudah lama menyukai Kak Davin, cuma dia tidak berani mengungkapkannya sama seperti Kak Davin." jelas Ray.


Seketika Davin tersentak mendengarnya.


"Apa! Tuan Ray tau dari mana kalau Airin sudah lama menyukaiku?!"


"Tentu saja dari sayangku. Memangnya Kak Davin gak sadar sama gelagatnya Airin yang menunjukkan bahwa dia menyukai Kak Davin?!"


Davin menggeleng. "Tidak, mana aku tau gelagat atau segala macam soal perempuan."


Ray menghela nafasnya. "Hmmm dasar.... Tapi kalau segala jenis masker langsung tau ya?!"


"Eits, kalo itu sih jangan di tanya lagi Tuan, bagiku masker nomor satu yang membuat wajahku tampan, mulus dan glowing." kata Davin sambil mengedip-ngedipkan matanya.


Melihat itu membuat Ray memutar bola matanya dengan malas.


"Iya dah terserah kamu aja Kak, dasar bikin geli saja."


Seketika Davin tertawa terbahak-bahak lalu obrolan pun berlanjut.


Beberapa saat setelah selesai berbincang dengan Ray, Davin kembali ke kamarnya lalu di rebahkan tubuhnya di atas ranjang beralaskan kasur empuk, tidak ketinggalan pula masker yang menempel di wajahnya itu. Kemudian Davin mengambil bingkai foto yang berada di atas nakasnya dan memandanginya


"Gracia, jangan marah ya kalo hari ini aku melanggar sumpah ku untuk tidak mencintai wanita lain selain kamu. Tapi mau bagaimana lagi aku juga butuh pendamping dan aku sangat menyukainya. Tapi meskipun begitu, rasa cinta dan sayangku ke kamu tidak akan pernah hilang sampai kapanpun, Gracia." ucap Davin.


Lalu perlahan ia memejamkan matanya, namun tiba-tiba foto yang di pegangnya itu jatuh mengenai wajahnya membuat Davin kembali membuka matanya.


"Aduh, Kenapa kamu jatuh di wajah ku, Gracia. Jadi hancur lagi kan maskerku!" umpatnya.


Davin pun segera bangkit dari posisinya dan meletakkan foto Gracia di atas nakas, setelah itu ia langsung bergegas menuju ke kamar mandi.


*************


Amerika


Sementara itu di tempat lainnya, nampak pria paruh baya dan seorang gadis. Lalu....


"Are you ready My beautiful girl?! (Apa kamu sudah siap gadis cantikku?!)" tanya pria paruh baya pada gadis di sampingnya.


"Of course Dad, I can't wait to meet them. (Tentu saja Dad, aku tidak sabar untuk menemui mereka.)" balas perempuan itu.


Lalu gadis itu menyunggingkan senyum smirknya.


"And look what I will do to all of you. (Dan lihat apa yang akan aku lakukan pada kalian semua.)" sambung batinnya.


***Bersambung


Kira-kira siapa ya mereka?! See you next time.... 😉


*******


Hai-hai Kakak Author, lama nih Author gak nyapa kalian, ada yang kangen gak nih.... wkwkwk (narsis dikit gapapa lah 🤣🤣) Maaf ya baru muncul, soalnya Author memang sibuk di dunia nyata (gayanya) Terimakasih udah nunggu cerita absurd dari CUP (kalo ada sih, wkwkwk) maaf kalo ada kesalahan Author y Kakak2 kesayanganku, tetap semangat, semangat, semangat dan sehat selalu buat kalian semua... 😘


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2