
<<<<<
Seketika membuat Anne menatap tajam ke arah Pino.
"Dengarkan aku Pino! Aku tidak akan berhenti sampai aku benar-benar menghancurkan wanita j*lang itu dengan tanganku sendiri!"
"Hah!!"
Pino tercengang sampai-sampai ia membuka mulutnya sedikit lebar, matanya pun membulat sempurna, karena mendengar kata yang lontarkan oleh Anne, Pino tidak menyangka bahwa obsesi Anne untuk menghancurkan Zuy bukan bualannya saja.
Plaaak....
Tiba-tiba Anne menampar pipi Pino, membuat Pino tersadar dan langsung memegang pipinya yang bekas di tampar Anne.
"Dasar b*stard! Kenapa aku di tampar?" pekik Pino
Anne pun menunjuk ke arah Pino. "Ya itu karena kamu melamun dan pandangan mu itu mengarah kemana-mana. Dasar mesum!" sergahnya.
"Ciih.... Siapa yang pandangannya mengarah kemana-mana, aku juga gak bakalan nafsu sama kamu Anne, apalagi bekas orang-orang hidung belang," celetuk Pino.
"Diam kau!" bentak Anne.
"Huh! Anne-Anne, kamu benar-benar ya. Padahal usahamu selalu gagal tapi gak pernah menyerah juga," cetus Pino.
"Ya memang aku orangnya gak gampang nyerah. Dan lagi ...." seketika Anne memicingkan matanya ke arah Pino.
"Apa?!"
Anne pun mengguncangkan tubuh Pino.
"Kenapa kamu baru muncul sekarang? Dari mana saja kau Pino? Kenapa di hubungi susah? Lalu bagaimana dengan video itu? Dan mana uang ku?" lontar beberapa pertanyaan Anne.
"Iya-iya nanti aku jawab pertanyaan mu itu, asal kamu berhenti mengguncang tubuhku!" pekik Pino
Anne lalu menghentikan aksinya. "Ayo jawab sekarang!"
Pino menghela nafasnya. "Haaaa.... Dasar wanita gila! Nih aku jawab sekarang, pasang telinga mu baik-baik!"
"Pinooo!!"
"Crewet! Iya aku jawab dari mulai video dulu, sebenarnya waktu itu udah aku sebar tuh video ke semua sosmed. Tapi sayangnya baru juga lima menit, tiba-tiba video itu udah hilang alias udah gak ada, seperti ada yang menghapusnya. Lalu selang beberapa saat ada seseorang menghubungiku dan dia mengancamku, bahkan dia sampai tahu lokasi ku berada. Maka dari itu aku pergi dari kota ini menggunakan uangmu itu," jelas Pino.
Bletaaak ..
Anne lalu menyentil jidat Pino, sontak membuat Pino meringis.
"Bodoh! Kenapa bisa sampai ketahuan sih?"
"Karena aku ceroboh dan lagi orang yang mengancamku itu adalah hacker handal bernama Tuan H. Bahkan kemampuannya melebihi ku Ann, maka dari itu aku ketahuan, meskipun aku seorang hacker juga," ujar Pino, ia pun beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana kamu Pino?"
"Mau beli minuman dingin, sekalian cari angin," jawab Pino sembari melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya.
Sesaat setelah Pino pergi, seketika sorot mata Anne berubah, amarahnya pun kini tengah memuncak.
"Kurang ajar! Lagi-lagi wanita j*lang itu mendapat perlindungan seseorang. Dasar wanita j*lang! Aku tidak akan melepaskan mu sebelum kamu benar-benar hancur," umpat Anne sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
*********************
Rumah Sakit
Di ruang IGD, Henri nampak tengah duduk menyandar di atas ranjangnya dengan mata tertutup perban. Sesaat setelah di periksa matanya, Dokter menyarankan agar mata Henri di tutup selama dua hari, sebab mata Henri terkena infeksi akibat parfum yang di semprotkan oleh Anne yang ternyata mengandung zat kimia yang sangat kuat.
"Dasar wanita ular, gara-gara dia aku jadi seperti ini. Lihat saja kalau mataku udah sembuh, aku akan mencari keberadaan mu dan aku pastikan kamu tidak akan bisa lolos dari cengkraman ku ini!" umpat Henri.
Henri lalu mendongakkan kepalanya ke arah langit-langit.
"Nyonya, Tuan. Meskipun sampai sekarang kalian lupa dengan wajah saya si kecil penjual kue dulu. Namun saya akan selalu mengingat kalian berdua, terutama dengan Nyonya yang begitu baik hati. Hmmmm.... Aku jadi ingat waktu itu, di mana saat Nyonya masih memakai seragam Smp dan Tuan Ray masih SD, mereka berdua selalu menjadi pelanggan tetap dan setia. Walaupun yang mereka beli itu hanya kroket buatan Ibu, ya meskipun waktu itu kadang aku sering mendapatkan tatapan tajam dari Tuan Ray, gara-gara Nyonya memegang kepala ku ini," ucap Henri sembari terkekeh sendiri.
***********************
Rumah Ray
Sementara itu.... Davin dan Yiou tengah berada di meja makan sembari menikmati siomay yang di beli oleh Davin.
"Vin, kamu beli siomay-nya banyak amat sih? Kaya mau di jual lagi aja," celetuk Yiou.
"Bukan saya Mrs Yiou, tapi Tuan Ray tuh yang beli siomay-nya sampai sepuluh bungkus, kalau saya cuma satu bungkus," ujar Davin, ia pun memasukan siomay ke dalam mulutnya.
"Dasar Tuan dingin...." umpat Yiou.
Lalu tiba-tiba ....
"Ehemmm...." deham Ray sambil berjalan menghampiri.
Sontak membuat Davin dan Yiou menoleh ke arahnya.
"Tuan Ray, sudah aktivitas Misterinya?" goda Davin.
"Apa sih Kak Davin!" pekik Ray sembari menarik kursinya dan mendudukinya.
"Dasar kamu Vin, suka banget ya godain si Tuan dingin," papar Yiou.
Davin pun terkekeh geli, sedangkan Ray hanya terdiam sembari mengambil siomay yang sudah di tempatkan di piring dan menyantapnya.
"Baby mana?" tanya Yiou.
"Dia sudah tidur Kak," jawab Ray
"Oh.... Biarkan dia istirahat! Supaya pikirannya tenang, Kakak sangat yakin kalau dia masih shock dengan kejadian tadi," tutur Yiou.
"Iya Kak...." singkat Ray.
Yiou pun menghela nafasnya. "Haaaa.... Jujur sampai sekarang aku masih marah dengan apa yang di lakukan oleh anaknya Pak Wildan. Saking terobsesinya sama kamu, dia sampai tega berbuat seperti itu pada Baby. Untung saja Baby dan anak-anak yang di kandungnya baik-baik saja," cetusnya.
"Hah! Anak-anak?"
__ADS_1
Davin terkejut mendengar cetusan dari Yiou, ia pun menatap Yiou sembari menganga sehingga membuat Yiou tersentak.
"Vin, kenapa kamu menatap ku seperti itu?" tanya Yiou.
"Barusan anda bilang anak-anak yang di kandung Zuy kan?"
Yiou mengangguk. "Iya Vin, tadi Dokter Eqi juga bilang begitu, memang kenapa Vin?" tanyanya yang belum peka.
Davin berdecak. "Ck, masa anda gak peka sih, Mrs Yiou. Coba anda pikirkan, kalau anda bilangnya anak berarti itu satu kan, tapi barusan anda bilangnya anak-anak, berarti kan ...."
"Jadi maksud mu, Baby ...."
Seketika pandangan mereka mengarah ke Ray.
"Kenapa kalian memandangi ku seperti itu? Apa ada yang aneh?" tanya Ray keheranan.
"Hei Tuan dingin, coba kamu jujur pada kami! Sebenarnya anak yang di kandung Baby ada berapa?" Yiou minta Ray untuk jujur.
"Kenapa Kak Yiou tiba-tiba bertanya seperti itu?" Ray makin kebingungan, ia pun merasa seperti sedang di interogasi oleh Davin dan Yiou.
"Tuan Ray, jangan bikin kita penasaran, ayo jawab dengan jujur! Sebenarnya berapa anak yang di dalam perut Zuy?" sambung tanya Davin.
"Tsk, kalian berdua kenapa sih? Dan lagi mana aku tahu anak yang di kandung sayangku ada berapa," pekik Ray.
Lalu Yiou dan Davin saling menatap satu sama lain.
"Vin, sepertinya si Tuan dingin ini tidak tahu apa-apa," bisik Yiou.
"Iya anda benar Mrs Yiou. Harusnya kita tanya ke Zuy, bukan sama si bayi gede ini," balas Davin.
"Kalian kenapa bisik-bisik seperti itu? Dan lagi kenapa kalian berdua sangat penasaran sama anak yang di kandung sayangku itu?" tanya Ray menyidik.
"Tentu kami penasaran!" ucap Yiou dan Davin serempak.
Sesaat Yiou menghela nafasnya. "Begini lho Tuan dingin, kami menduga kalau anak yang di kandung itu Baby lebih dari satu," dugaan Yiou. Lalu ....
Uhuk...
Ray tersedak siomay gara-gara mendengar dugaan dari Yiou, Davin yang berada di depannya pun langsung memberikan air minum untuk Ray.
"Ini Tuan Ray."
Ray menyambar gelas air minum yang berada di depannya, lalu ia meneguknya hingga habis, hanya tersisa gelasnya saja.
"Sudah mendingan Tuan Ray?"
"Iya udah," jawab Ray.
Kemudian Ray kembali melihat ke arah Yiou.
"Jadi maksud Kak Yiou, sayangku mengandung anak kembar?" tanya Ray terkejut.
"Dugaan saja Ray, soalnya tadi Dokter Eqi bilangnya anak-anak, aku mendengarnya sekilas," jawab Yiou.
"Tapi sayangku gak bilang apa-apa Kak," papar Ray.
Ray menggelengkan kepalanya. "Tidak pernah, setiap Dokter Eqi menawarkan untuk usg, pasti sayangku menolaknya, dia bilang biar jadi kejutan saja," ujarnya.
"Oh begitu ya, hmmmm.... Yaudah kalau nanti check up lagi, paksa Baby untuk Usg, agar kita tahu kondisi bayinya dan juga aku penasaran sama jenis kelamin anak kalian," tutur Yiou.
"Iya nanti aku akan bilang padanya," balas Ray. "Kak Davin, bagaimana kondisi Henri? Apa matanya baik-baik saja?" sambung tanya Ray.
"Henri.... Dia sementara di rawat dulu, Tuan Ray. Sebab matanya terkena infeksi akibat parfum itu," jawab Davin.
"Apa! Tsk kurang ajar! Kak Davin, nanti Kakak hubungi pihak rumah sakit! Bilang pada mereka untuk memberikan pengobatan terbaik pada Henri!" titah Ray.
Davin pun mengangguk patuh. "Baiklah Tuan Ray."
"Walau Henri hanya pengawal, tapi kita harus menghargainya. Karena ia selalu mengabdi pada kita, dia adalah pengawal terbaik, meskipun usianya masih sangat muda, tapi kemampuannya tidak terduga. Apalagi kalau urusan hacker dia ahlinya," ungkap Ray
Seketika Yiou memegang punggung Ray dan menepuk-nepuknya.
"Nah, ini baru pemimpin baik, walaupun kejam tapi tetap menghargai bawahan, aku salut sama kamu, Tuan dingin." puji Yiou.
"Terimakasih Kakak."
Kemudian mereka kembali menyantap makanannya.
Beberapa saat kemudian....
Setelah selesai menyantap makanannya, Ray langsung masuk ke kamar Zuy, sedangkan lainnya berada di kamar masing-masing. Ray naik ke atas kasur, kemudian ia memandangi wajah pujaan hatinya yang tengah tertidur sembari mengelus perut Zuy.
Karena merasa kegilian akibat ulah tangan Ray mengelus perutnya, Zuy pun langsung terbangun dari tidurnya
"Ray...." lirih Zuy.
Ray menoleh. "Sayangku, kenapa kamu bangun?"
Zuy perlahan bangkit dari posisinya dan duduk, Ray lalu mengambil gelas yang berada di atas nakas kemudian ia memberikannya pada Zuy.
"Terimakasih Ray," ucap Zuy sembari mengambil gelas di tangan Ray dan perlahan Zuy meneguk air yang di dalam gelas itu. Sesaat setelahnya....
"Sayangku, kenapa kamu bangun? Apa kamu lapar?" tanya Ray sambil meletakkan gelas di atas nakas.
Zuy menggelengkan kepalanya. "Untuk sekarang Zuy tidak lapar."
"Lalu...."
"Zuy bangun karena merasa geli, seperti ada yang mengelitiki Zuy, hmmm.... Jangan-jangan kamu ya yang melakukannya?" tanya Zuy memicingkan matanya ke arah Ray.
"Si-siapa yang menggelitik sayangku, aku cuma mengelus perut mu saja," jawab Ray.
Lalu tiba-tiba Ray menempatkan tangannya ke pinggang Zuy sambil menyunggingkan senyuman jahilnya.
"Tapi kalau ini baru yang namanya menggelitik," kata Ray sambil menggelitik pinggang Zuy, sehingga membuat Zuy kegelian.
"Ray cukup! Ini benar-benar membuatku geli, hahaha..." ucap Zuy sambil tertawa.
__ADS_1
Sesaat Ray menghentikan aksinya. "Bagaimana rasanya, sangat menggelikan bukan?"
"Haaaa.... Kamu benar-benar ya! Untung Zuy gak ngompol di celana," pekik Zuy
"Ahahaha.... Iya maaf sayangku...."
"Hummpt," dengus Zuy sambil memalingkan pandangannya.
"Sayangku...."
"...." Zuy melirikkan matanya ke arah Ray.
"Kapan kamu check up kehamilan lagi?" tanya Ray.
Mendengar pertanyaan Ray, Zuy pun mengambil hpnya untuk melihat jadwal check up kehamilannya.
"Kalau di jadwal sih lusa, memang kenapa Ray?" tanya Zuy penasaran.
"Nanti kalau check up, kamu mau di Usg ya sayangku, bukan apa-apa, cuma ya biar kita tahu kondisi anak kita sayangku. Apa kamu tidak penasaran sama jenis kelamin anak kita?"
Zuy menundukkan kepalanya. "Sebenarnya Zuy juga sangat penasaran."
"Maka dari itu sayangku harus mau di Usg ya!" pinta Ray.
Zuy pun mengangkat kepalanya,kemudian ia pun mengangguk pelan.
"Iya Ray, nanti kalau check up lagi, Zuy mau di Usg," kata Zuy.
Seketika senyuman Ray terukir di wajah tampannya saat mendengar perkataan Zuy, ia langsung merengkuh tubuh Zuy dan memeluknya.
"Terimakasih ya sayangku," ucap Ray mengecup kening Zuy.
"Sama-sama Ray."
Zuy lalu mengeratkan pelukannya sembari membenamkan wajahnya di dada bidang Ray.
...----------------...
–Pukul 04.37Am
Ray dan Zuy nampak masih tengah tertidur, lalu ....
Triiiiiing... Triiiiiing....
Bunyi nyaring dari suara hpnya membuat Zuy terbangun.
"Hmmm..... Siapa sih pagi-pagi yang menelpon," gumam Zuy sembari meraih hpnya, setelah dapat, ternyata bukan hpnya yang berbunyi.
Kemudian ia membangunkan dirinya menjadi duduk dan mencari sumber suara tersebut, dan ternyata itu bunyi dari hp milik Ray, Zuy pun langsung membangunkan Ray.
"Ray bangun! Hp kamu bunyi tuh," kata Zuy.
Bukannya bangun, Ray malah menggeliat sambil menarik selimutnya.
"Ray...."
"Ray masih ngantuk sayangku, udah biarin aja paling orang iseng," lirih Ray yang masih setengah sadar.
"Oh...." Zuy memanggut.
Zuy pun meletakkan kembali hpnya di atas nakas, kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah keluar meskipun dengan kaki yang masih sakit karena terkilir.
Saat sudah berada di luar kamar dan berjalan menuju dapur, ia pun berpapasan dengan Yiou yang kala itu habis dari dapur.
"Lho Baby? Kamu udah bangun?" tanya Yiou
"Iya Mrs Yiou," jawab Zuy.
"Apa ada yang kamu inginkan?"
"Sebenarnya Zuy lapar, makanya Zuy mau ke dapur," ujar Zuy
"Oh yaudah, biar aku yang ambilkan makanannya!"
"Tapi Mrs Yiou ...."
Yiou lalu menggerakan jari telunjuknya. "Tidak ada kata tapi, sudah kamu tunggu aja di sini, ya!" titah Yiou sembari menarik kursi.
"Baiklah, terimakasih banyak Mrs Yiou." ucap Zuy sambil mendudukkan dirinya.
"Sama-sama Baby," balas Yiou.
Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk mengambil makanan buat Zuy.
********************
Rumah Pak Wildan
Sementara itu, Pak Wildan dan istrinya tengah berada di ruang keluarga, nampak dari raut wajah Pak Wildan yang sendu, namun berbeda dengan istrinya yang menangis tanpa henti. Karena ia baru mendapatkan kabar bahwa Putri kesayangannya tengah berada di kantor Polisi.
"Pih, Papih harus sewa pengacara yang handal, supaya Erlin bisa bebas," pinta istrinya.
"Iya ini Papih juga lagi cari Mih, pokoknya Mamih tenang aja ya!" tutur Pak Wildan.
Lalu tiba-tiba ....
"Ini kesalahan dari wanita j*lang itu, sehingga Erlin berada di dalam jeruji besi, Om, Tante." seru seseorang.
Mendengar suara tersebut, Pak Wildan dan istrinya langsung menoleh ke arahnya.
"Anne!!"
***Bersambung...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌