Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Teh Chamomile....


__ADS_3

<<<<<


Sesaat setelah membacanya, tiba-tiba Archo membulatkan matanya dengan sempurna, rahangnya pun kini mengeras bahkan ia mengepalkan tangannya dengan kuat sehingga buku-buku jarinya terlihat memutih.


"B*stard!!!"


Braaaak....


Pyaaart....


Amarahnya tidak bisa di kendalikan olehnya, sehingga ia memukul benda di dekatnya itu.


Kalau waktu itu ia menghancurkan guci kesayangan Maria, kali ini Archo menggebrak meja di hadapannya dengan kencang sampai kaca di meja tersebut pecah dan berserakan di lantai.


Perban putih yang masih terpasang di tangannya pun kini berubah menjadi merah karena tangannya kembali mengucurkan darah akibat terkena kaca di meja itu.


"Aaargh! Kenapa selalu saja ada masalah yang muncul secara tidak terduga. Masalah yang satu belum selesai timbul lagi masalah yang baru. Kapan hidup keluarga ku bisa tenang dan damai seperti dulu lagi." sungut Archo sembari mengusap kasar wajahnya.


Karena amarahnya sudah memuncak, ia pun kembali menjatuhkan barang-barang berada di dekatnya itu, vas, buku-buku dan lainnya. Sampai ruangan tersebut yang tadinya rapih kini berantakan bak kapal pecah.


Pelayan yang berada di sana pun hanya bisa terdiam dan mengintip dari ruangan lain. Mereka tidak berani mendekat karena mereka takut jadi sasaran dari kemarahan Tuannya itu.


Lalu....


"Astaga! Apa yang terjadi di sini? Kenapa bisa berantakan seperti ini?" seru seseorang yang tak lain adalah Adriene yang baru datang bersama dengan Cole yang berada di belakangnya.


Archo mengarahkan wajahnya dan memandang ke arah Adriene saat mendengar suaranya.


"Adriene, Cole!"


Seketika mata Adriene terbelalak melihat Archo dengan tangannya yang di penuhi darah.


"Archo! Apa yang terjadi denganmu?" seru Adriene mendekat ke arah Archo.


Setelah berada di dekat Archo, Adriene lalu mengajak Archo duduk di sofa, Archo pun hanya bisa mengangguk patuh, karena perasaannya entah sudah seperti apa saat ini. Lalu Adriene merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya itu yang ternyata adalah satu kotak teh chamomile.


"Cole, tolong kamu suruh pelayan membuatkan teh chamomile ini untuk Archo!" titah Adriene sambil memberikan kotak teh chamomile itu pada Cole.


Cole pun mematuhi perintah dari Adriene, lalu di langkahkan kakinya menuju ke dapur. Sedangkan Adriene meraih tangan Archo dan perlahan melepaskan perban yang terpasang di tangan Archo.


"Kenapa seperti ini lagi sih, Archo? Belum juga kering luka kemaren, sekarang di tambah lagi. Lama-lama tangan kamu bisa infeksi lho," lontar Adriene.


"Biarkan saja! Meskipun sampai di amputasi juga tidak masalah untuk ku." pekik Archo.


Mendengar itu, Adriene mengerenyitkan keningnya untuk sesaat, kemudian ia menghela nafas panjang.


"Archo! Maaf bukannya aku ikut campur, tapi bisa tidak kalau kamu sedang ada masalah tidak perlu sampai emosi seperti ini! Lihatlah, seisi ruangan ini seperti terkena gempa dan tanganmu juga sampai terluka lagi. Cobalah kamu selesaikan masalah kamu dengan kepala dingin dan bila perlu kamu bisa ceritakan padaku tentang masalah yang tengah kamu hadapi sekarang, siapa tau aku bisa membantu mu." tutur Adriene.


Seketika Archo mengarahkan tatapan tak biasa ke Adriene.


"Kamu tidak perlu ikut campur dalam masalah ku! Kamu bukan siapa-siapa ku, status kita hanya di jodohkan saja dan lagi kamu hanya seorang Dokter pribadi Daddy Mario. Jadi kamu fokus saja pada Daddy Mario, rawat beliau dengan baik sampai benar-benar sembuh!" cetus Archo.


Jleb!


Dada Adriene pun terasa nyeri, bagaikan sebuah anak panah yang melesat dan tertancap tepat mengenai dadanya.


"Archo! Kenapa kamu menganggap ku seperti itu? Padahal aku selalu mengejar mu dari kita masih di Study sampai sekarang ini. Dan saat aku tahu bahwa aku akan di jodohkan dengan mu, aku benar-benar sangat bahagia, Archo. Tapi kenapa kamu tetap saja seperti ini," batin Adriene dengan matanya yang berkaca-kaca.


Lalu....


"Ah, maafkan aku Drien! Bukan maksudku melukai perasaan mu," ucap Archo yang tersadar karena perkataannya terhadap Adriene.


"Tidak apa-apa Arc, aku paham kok." Adriene mengibaskan tangannya dan menyunggingkan senyumnya meskipun palsu.


Sesaat seorang pelayan datang membawa teh chamomile hangat pesanan Adriene.


"Ini tehnya Miss." pelayan itu memberikan teh chamomile itu pada Adriene.


"Thanks," ucap Adriene dan di balas anggukan oleh pelayan itu.


Kemudian Adriene memberikan teh chamomile yang berada di tangannya pada Archo.


"Kamu minum teh chamomile ini ya! Supaya pikiranmu tenang." kata Adriene.


Archo pun mengambil teh itu dari tangan Adriene dan perlahan meneguknya.


Sesaat kemudian....


"Bagaimana Arc, apa sudah merasa tenang?" tanya Adriene.


"Ya lumayan, terimakasih untuk teh chamomile-nya ya Drien." ucap Archo.


"Sama-sama Arc."


Archo pun menyunggingkan senyumannya pada Adriene, sampai membuat Adriene terpukau melihatnya.


"Adriene, apa aku boleh minta tolong lagi?"


"Tentu boleh dong, Arc. Memangnya kamu mau minta tolong apa?"


"Tolong ambilkan hpku yang berada di samping kaki kamu itu!" pinta Archo menunjuk ke arah hpnya itu.


Pandangan Adriene langsung beralih ke arah di mana Archo menunjuk.


"Oh, aku kira kamu mau minta tolong apa, Arc. Sebentar akan aku ambilkan!"


Lalu ia pun mengambil hp milik Archo yang berada di samping kakinya itu dan memberikannya pada Archo.


"Huuft, Syukurlah hpku masih utuh dan tidak ada yang rusak," lirih Archo mengecek hpnya. "Cole!!"


Cole lalu menghampiri Archo. "Iya Mr Archo," sahutnya menunduk.


Archo lalu mengirimkan sebuah video pada Cole. Mendengar hpnya berbunyi Cole langsung mengambil hpnya dan mengarahkannya pandangannya ke layar hpnya. Matanya pun membulat saat melihat video yang di kirim Archo.


"Hah! Vi-video ini?"


"Iya, aku dapat video itu dari Dokter Dimas. Sekarang aku perintahkan kamu untuk menyelidiki dua orang yang ada di video itu! Kalau sudah dapat informasi tentang mereka, segera beri tahu aku!" titah Archo pada Cole.


Cole pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Baiklah Mr Archo, saya akan langsung menyelidiki kedua orang ini."


"Iya pergilah dan lakukan tugasmu dengan baik!"


"Siap Mr Archo, permisi!"


Cole berpamit, lalu ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Archo dan Adriene. Sesaat setelah Cole pergi, Archo segera bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Sebentar Drien! Aku hubungi seseorang dulu," ucap Archo.


"Iya Arc." balas Adriene mengangguk.


Archo lalu berjalan menjauh beberapa jarak dari Adriene.


"Haaa.... Sebenarnya aku sangat penasaran dengan video yang kamu berikan pada Cole dan aku juga penasaran dengan orang yang akan kamu hubungi itu. Rasanya ingin sekali aku bertanya, tapi aku takut kamu akan marah seperti tadi, Arc." lirih Adriene.


Setelah menjauh dari Adriene, Archo pun mengalihkan pandangannya ke layar hpnya, kemudian ia menghubungi nomor seseorang yang tak lain adalah Dimas.


Akan tetapi Dimas tidak menjawab teleponnya itu.


"Kenapa gak di angkat sih?" sungut Archo, ia pun kembali menghubungi Dimas.


"Ayo angkat Dokter Dimas!"


****************************


INDONESIA


Sementara itu, nampak Dimas dan Bunda Artiana baru saja keluar dari suatu tempat yang tak lain adalah kantor polisi. Lalu mereka berdua berjalan menuju ke arah mobilnya yang terparkir di halaman kantor kepolisian.


Terlihat sangat jelas bahwa mereka telah melaporkan tentang kasus penculikan terhadap Maria.


"Bunda, kita langsung pulang ya!" ajak Dimas.


Bunda Artiana menggelengkan kepalanya. "Nggak Dim, Bunda gak mau pulang. Bunda ingin mencari Maria," ujarnya.


"Bunda, Bukannya barusan Pak polisi bilang kalau urusan Kak Maria, kita serahkan pada mereka saja dan kita tinggal menunggu kabar selanjutnya," papar Dimas.


"Tapi Dimas, Bunda sangat khawatir dengan Maria. Bunda takut kalau Maria di apa-apakan oleh para penjahat itu. Tentunya kamu tahu kan kalau sekarang Kakakmu tidak bisa apa-apa, untuk melangkah aja dia hanya bisa mengandalkan kursi rodanya. Lalu bagaimana dia akan melawan para penjahat itu, Dimas?" lontar Bunda Artiana dengan khawatirnya terhadap Maria.


Dimas menghela nafasnya. "Iya Bunda, Dimas tahu itu. Bukan hanya Bunda aja yang khawatir terhadap Kak Maria, Dimas dan lainnya juga khawatir sama seperti Bunda. Namun yang bisa kita lakukan hanya ...." ucapnya yang terhenti di karenakan....


Drrrrrt.... Drrrrrt.... Drrrrrt....


Hpnya yang tiba-tiba berdering, Dimas pun langsung merogoh saku celananya untuk mengambil hpnya itu. Kemudian ia mengarahkan pandangannya ke layar hpnya.


"Tuan Archo!" lirih Dimas.


"Telpon dari siapa, Dim?" tanya Bunda Artiana.


"Dari Tuan Archo, Sebentar ya Bun! Dimas jawab telponnya dulu," ucap Dimas.


"Iya Dim, kalau begitu Bunda tunggu di dalam mobil ya!" kata Bunda Artiana dan di balas anggukan oleh Dimas.


Seusai itu, Dimas pun menggeser icon warna hijau untuk menjawab panggilan tersebut.


"Ya Tuan Archo," sapa Dimas.


"Huuft, akhirnya anda menjawab telepon saya, Dokter Dimas." ucap Archo.


"Berarti yang dari tadi nelpon saya itu anda, Tuan Archo? Maaf ya saya baru bisa menjawabnya, karena saya dan Bunda sedang berada di kantor polisi." jelas Dimas.


"Apa! Jadi anda sekarang sedang di kantor polisi? Terus apa ada kabar apa tentang Mam?"


"Belum ada kabar apa-apa, karena saya juga baru melapor pada polisi tentang kasus penculikannya Kak Maria, Tuan Archo." ujar Dimas.


"Oh begitu ya. Lalu bagaimana, apa mereka menerima dan memproses laporan dari anda, Dokter Dimas?"


"Ya mereka menerimanya, namun mereka juga masih membutuhkan kesaksian dari Mira dan Dadan. Karena mereka yang pada saat itu ada bersama dengan Kak Maria. Tapi sayangnya untuk sekarang ini mereka belum bisa menjadi saksi atas penculikan Kak Maria," jelas Dimas.


Dimas menghela nafasnya. "Di ancam sih nggak, hanya saja mereka di buat lupa oleh kedua orang itu."


"Di buat lupa? Maksudnya bagaimana?"


Dimas pun menjelaskannya pada Archo. Sesudahnya....


"****! Mereka benar-benar udah bosan hidup rupanya. Awas saja kalau sampai ketahuan siapa orangnya, aku tidak akan pernah melepaskannya bila perlu aku kuliti tubuh mereka satu-persatu." umpat Archo.


"Hmmmm, terserah anda mau di buat apa mereka juga, yang terpenting bagi saya Kak Maria cepat di temukan! Soalnya kasihan Bunda dari semalam kepikiran Kak Maria terus."


"Anda tenang aja Dok! Secepatnya saya akan menemukan keberadaan Mam."


"Ya saya percaya, bahwa anda pasti bisa melakukannya. Yaudah kalau begitu saya tutup telponnya, soalnya Bunda sudah menunggu di mobil." kata Dimas.


"Baiklah Dok, salam buat Bunda!"


"Iya akan saya sampaikan salam anda, Tuan Archo."


Lalu mereka memutuskan telponnya.


Setelah itu, Dimas memasukan kembali hpnya ke dalam saku celananya, kemudian ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobilnya.


"Maaf lama Bun," ucap Dimas sembari memasang safety belt di tubuhnya.


"Tidak apa-apa. Oh iya, kita mampir yuk ke rumah cucu Bunda!" ajak Bunda Artiana.


"Hmmmm, maksud Bunda ke rumah Tuan Muda?" tanya Dimas.


Bunda Artiana mengangguk. "Iya Dim, soalnya Bunda udah kangen sama cicit kembar Bunda."


"Oh, baiklah kita ke rumah Zuy sekarang!" Dimas pun menuruti keinginan Bunda Artiana.


Sesaat Dimas melajukan mobilnya meninggalkan kantor kepolisian dan menuju ke arah rumah Ray.


****************************


Villa Z&R


Di kamarnya, Zuy terlihat sedang memberikan ASI-nya untuk Baby R, sedangkan Baby Z sedang di pangkuan Ray, karena beberapa saat sebelumnya ia sudah di beri ASI oleh Zuy.


"Ray...."


"Iya sayangku," sahut Ray.


"Apa tidak apa-apa kalau si kembar aku tinggal sebentar?" tanya Zuy


"Tentu saja tidak apa-apa, sayangku. Kan ada aku, Kak Davin, Airin dan masih ada yang lainnya juga." kata Ray.


Zuy mendesah. "Haaa, tapi aku khawatir si kembar bakalan rewel jika aku tinggal sebentar ke rumah sakit."


Ray tersenyum, lalu ia menempatkan tangannya di atas kepala Zuy dan mengelusnya dengan lembut.


"Kamu tenang aja sayangku! Aku pastikan mereka bakalan anteng dan gak rewel. Lagian kan ada Daddy tampannya ini yang akan menjaga mereka selama kamu berada di rumah sakit. tutur Ray.


"Hmmmm, baiklah kalau begitu. Tapi kalau ada apa-apa dengan si kembar, kamu harus langsung hubungi aku ya Rayyan!" pinta Zuy.

__ADS_1


"Siap Nyonya Rayyan tersayang ku." balas Ray seraya memberikan hormat.


Mendengar itu Zuy pun langsung menyunggingkan senyumnya yang sangat manis, sehingga membuat Ray tersipu dan terus memandanginya.


"Ray, kenapa kamu memandangi ku terus? Apa ada yang aneh dengan dandanan ku ini?" tanya Zuy keheranan.


"Tidak ada yang aneh, sayangku. Justru kamu terlihat cantik bahkan sangat cantik, sehingga membuat ku ingin terus memandangi wajah cantikmu itu, sayangku." goda Ray mengedipkan sebelah matanya.


Sehingga Zuy menghela nafasnya sambil memutar bola matanya dengan malas.


"Rayyan, jangan menggodaku di depan anak-anak!" pekik Zuy.


"Aku tidak sedang menggoda mu, sayangku. Aku berbicara sesuai dengan faktanya, dan lagi aku memang sengaja bilang seperti itu di depan anak-anak. Supaya mereka tahu bahwa betapa beruntungnya aku dan anak-anak karena sudah memiliki wanita secantik dan baik hati seperti sayangku ini," ungkap Ray menoel kilat caping hidung Zuy.


Lagi-lagi senyum Zuy mengembang karena ungkapan dari lelaki tampannya itu. Kemudian ia mengarahkan tangannya ke pipi Ray dan mengelusnya.


"Aku juga sangat beruntung dan bahagia karena memiliki laki-laki tampan dan anak-anak menggemaskan seperti kalian. Terimakasih karena kalian sudah membuat hidupku lebih baik dan berarti dari sebelumnya. Aku sangat menyayangi kalian semuanya," ucap Zuy yang beralih mengelus kepala Baby Z dan menciumnya.


"Kami juga sangat menyayangi Mamah. We love Mamah," balas Ray sekaligus mewakili si kembar.


Beberapa saat kemudian....


Setelah selesai dengan semuanya, Zuy pun langsung berangkat ke rumah sakit bersama dengan Nara, Irma, Rana dan Henri.


Zuy terpaksa membawa Nara dan Rana, sebab Aries bilang padanya untuk membawa kedua anak Bi Nana atas permintaan dari Bi Nana sendiri.


"Rin, Kak Davin. Aku titip mereka sebentar ya!" titah Ray sambil memberikan Baby Z pada Davin.


"Memangnya anda mau kemana, Tuan bos?" tanya Airin.


"Ada keperluan mendadak!" jawab Ray sambil berlari kecil menuju ke arah kamarnya.


"Huh! Bilang aja kalau udah kebelet, Tuan Ray." celetuk Davin.


"Berisik!!" seru Ray yang sudah berada di lantai atas.


"Hahaha.... Ternyata bayi gede masih ada ya? Aku pikir udah nongkrong di toilet," lontar Davin di barengi dengan tawanya. Lalu tiba-tiba....


Plaak....


Baby Z mendaratkan tangan mungilnya ke pipi Davin, sontak membuat Davin tercengang dan langsung melihat ke arah Baby Z.


"Gadis cantik, kenapa kamu menampar pipi mulus Uncle-mu ini?" lirih Davin.


"Ma." oceh Baby Z dengan menunjukkan ekspresi wajah yang marah.


"Ke-kenapa wajahnya jadi mirip dengan Tuan Ray kalau sedang marah?" Davin terperangah karena melihat ekspresi yang di tunjukkan Baby Z.


Pffft....


"Hahaha...." tawa Airin.


"Kenapa kamu tertawa, Rin?" tanya Davin keheranan karena melihat ke Airin.


"Habisnya Pak Davin lucu sih. Namanya juga anaknya Tuan bos, ya pasti wajahnya mirip dengan Tuan bos. Dan lagi barusan anda menyebut Tuan Bos dengan bayi gede, jelaslah anaknya marah dan akhirnya anda kena pukul sampai tangan Baby Z membekas di pipi anda, Pak." papar Airin dan di susul dengan tawanya kembali.


"Oh, jadi si gadis cantik ini tidak terima ya Daddy-nya di sebut bayi gede oleh Uncle? Makanya pipi Uncle sampai di pukul. Baiklah, nih rasakan balasan dari Uncle tampan-mu ini," lontar Davin sembari menempatkan tangannya ke tubuh Baby Z dan menggelitiknya, sehingga membuat tawa khas Baby Z menggema akibat ulah Davin.


Dan di saat mereka sedang asik bergurau, tiba-tiba....


Ting Tong....


Terdengar suara bel pintu berbunyi sangat nyaring, seketika Davin menghentikan gurauannya pada Baby Z.


"Siapa yang datang ya? Apa kamu tahu Rin?" tanya Davin ke Airin.


Airin lalu mengangkat bahunya. "Entahlah, aku juga gak tau, Pak."


"Huh! Kamu ini Rin serba nggak tahu." celetuk Davin.


"Ya memang aku gak tau, kan aku dari tadi di sini bersama dengan Pak Davin dan si kembar," gerutu Airin sembari bangkit dari posisinya.


Kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk sambil menggendong Baby R. Sesaat kemudian Airin kembali, namun tidak bersama dengan Baby R.


"Pak Davin...." tegur Airin.


Davin menoleh. "Iya Rin. Lho dimana Baby R?"


"Baby R ada di depan. Oh iya Pak, bisakah Pak Davin memanggil Tuan bos? Soalnya ada yang ingin bertemu dengannya." papar Airin.


Lalu....


"Memangnya siapa yang datang dan ingin bertemu dengan ku, Rin?" seru Ray sambil berjalan menghampiri mereka.


Seketika Airin dan Davin pun langsung memalingkan wajahnya ke arah Ray.


"Itu Tuan bos. Nyonya dan Pak Dokter yang datang dan ingin bertemu dengan anda," jelas Airin.


"Nyonya dan Pak Dokter?" lirih Ray. "Maksudmu Nyonya Artiana dan Dokter Dimas?" sambungnya.


Airin mengangguk, kemudian Ray melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang tamu. Setibanya....


"Nyonya, Dokter Dimas!" lontar Ray menghampiri, setelah di dekat mereka, Ray menjabat tangan keduanya dan menciumnya secara bergantian.


"Cucu menantu, bagaimana kabarmu?" tanya Bunda Artiana.


"Kabar Ray baik-baik saja, Nyonya. Lalu bagaimana dengan Nyonya dan Dokter Dimas?" jawab Ray sekaligus bertanya kembali.


"Kabar kami juga baik-baik aja Nak." balas Bunda Artiana.


"Syukurlah kalau kabar Nyonya dan Dokter Dimas baik-baik aja," ucap Ray sembari mengelus pipi Baby R yang berada di gendongan Dimas.


Setelah itu, Ray mendudukkan dirinya di sofa lainnya berhadapan dengan Bunda Artiana dan Dimas.


"Oh iya dimana cucu dan cicit perempuanku?" tanya Bunda Artiana mencari Zuy dan Baby Z.


"Baby Z ah maksudnya Zea ada di dalam bersama dengan Om dan Tantenya. Sedangkan Zuy sekarang sedang di rumah sakit, Nyonya." jawab Ray.


"Barusan kamu bilang apa Nak? Cucuku sekarang di rumah sakit?"


***Bersambung....


Author: "Maaf ya Kakak2 kesayangan ku, karena CUP baru bisa Update sekarang, 🙏🙏🙏 Semoga terhibur dan mohon dukungannya.... ♥️🙏♥️🙏♥️"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2