
<<<<<
Ray membuang nafasnya terlebih dahulu sebelum membuka suaranya.
"Begini Bi Nana, sebenarnya Ray ingin ...."
Ray menjeda perkataannya dan sebelum melanjutkannya kembali, terlebih dahulu ia memalingkan wajahnya melihat ke arah samping di mana pujaan hatinya sedang duduk di dekatnya seraya menggenggam tangannya. Zuy pun menyunggingkan senyumnya seraya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Lalu....
"Ray!" tegur Bi Nana.
"Iya Bi Nana." Ray langsung beralih ke Bi Nana.
"Barusan kamu mau bilang apa Ray? Kenapa gak di lanjut dan malah ngeliatin Zuy? Hm!" cecar Bi Nana.
"Maaf Bi! Rayβ"
"Hmmm, Tante Nana ini kaya gak tau bucinnya si bayi gede! Sedetik aja gak ngeliatin Zuy, mungkin rasanya seperti bayi yang lagi kehilangan susunya." celetuk Davin di susul dengan tawanya yang lepas.
Sehingga Bi Nana, Zuy, Airin terkekeh kecil mendengarnya.
"Oh, begitu ya Dav. Hihihi...."
Namun berbeda dengan Ray mengerutkan keningnya sembari menatap Davin dengan tatapan khas-nya membuat Davin langsung melirikkan matanya ke lainnya dan mengeluarkan suara siulan dari mulutnya.
"Ck, dasar adonan moci!" gumam Ray.
Ia pun kembali melihat ke arah Bi Nana di barengi helaan nafasnya.
"Begini Bi, sebenarnya Ray ingin bilang ke Bi Nana kalau Ray ingin pergi ke Korea bersama sayangku dan juga si kembar."
"Pergi ke Korea?!" lirih Bi Nana.
Ray mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya Bi, tapi bukan cuma kita aja yang pergi kesana. Ray juga ingin mengajak Airin, Kak Davin dan termasuk juga Bibi beserta Nara dan Rana."
Bi Nana tercengang. "Hah! Bi Nana sama anak-anak di ajak kesana juga?!"
Dan langsung di balas anggukan cepat oleh Ray.
"Hmm, lalu ada tujuan apa kalian pergi kesana sampai mengajak kami semua? Liburan atau ada acara di sana?" tanya Bi Nana penasaran.
"Sebenarnya tujuan Ray pergi kesana karena ada perjalanan bisnis selama seminggu Bi. Jadi dari pada Ray di sana kesepian, lebih baik sekalian aja Ray ajak kalian semua pergi kesana. Ya hitung-hitung kita jalan-jalan dan menikmati waktu liburan bersama di sana." jelas Ray.
Akan tetapi ia masih menyembunyikan tujuan utamanya pada Bi Nana.
Bi Nana manggut-manggut.
"Oh, jadi begitu ya makanya kamu juga ingin mengajak kami kesana?"
"Iya Bi Nana." balas Ray.
"Emm, tapi apa kamu yakin pergi kesana hanya untuk urusan perjalanan bisnis, jalan-jalan sama liburan aja? Atau jangan-jangan ada hal lain lagi?" cecar Bi Nana.
"Iya Bi, hanya itu aja dan gak ada hal lain lagi." ujar Ray.
Bi Nana mendesah. "Kirain Bibi, kalian berdua juga sekalian mau melunasi cicilan telinga di sana?" lontarnya.
"Hng! Melunasi cicilan telinga?" Zuy memiringkan kepalanya seraya mengerenyit.
"Iya Zuy, melunasi cicilan telinga buat adiknya si kembar. Ya kaya waktu kalian pergi ke Swedia, pamitnya mau liburan tapi di sana malah nyicil telinga. Dan beberapa bulan kemudian lahir tuh dua bocah dari hasil cicilan telinga kalian di Swedia." celetuk Bi Nana. "Iya kan?"
Blush!
Sontak membuat Ray dan Zuy terperangah dan seketika pipi keduanya pun langsung merona bak tomat matang. Begitu pula dengan Davin dan Airin yang tadinya tengah asik menonton televisi dan bermain dengan gawainya pun kini beralih menoleh ke Bi Nana.
"B-Bi Nana mah! Humph." gumam Zuy dengan wajah merengut membuat Bi Nana kembali tertawa kecil.
"Nah iya bener tuh apa yang di bilang Tante Nana. Sepertinya niat mereka berdua kesana memang sekalian mau nyicil telinga buat adiknya si kembar dan juga sambil misteri-misterian disana Tan." sambung Davin seraya manggut-manggut.
Sehingga Airin dan Zuy menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun berbeda dengan Ray yang memicingkan matanya ke Davin.
"Tuh Davin aja langsung nyambung, Ray." papar Bi Nana.
Dan suara hembusan nafas kembali terdengar dari mulut Daddy dari si kembar itu.
"Hmmm, Bi Nana kaya gak tau Kak Davin aja, kalau urusan begituan dia nomor satu Bi." cetus Ray.
Davin berdecak. "Ck, ck. Tuan Ray, aku begini tuh karena keseringan liat Tuan Ray bermesraan dengan Zuy. Di tambah lagi waktu kalian berdua sedang melakukan aktivitas misteri ranjang bergoyang di Swedia. Jadi ya tentu saja aku hapal tentang yang namanya misteri-misteri serba berguncang itu, hahaha...."
"Tunggu Pak!" Airin menatap lekat Davin.
"Ada apa Singa betina?!"
"Emm, bukannya waktu Tuan bos sama Zuy pergi ke Swedia Pak Davin gak ikut ya?" Airin yang sedari tadi diam pun ikut berbicara dengan bertanya pada Davin.
Davin menganggukkan kepalanya.
"Ya aku memang gak ikut kesana singa betina, tapi aku kan punya telinga jarak jauh dalam arti aku memantau keadaan mereka di sana melalui Henri, jadi aku bisa tau bahkan dengar suara-suara aneh dari mereka saat di Swedia. Aku jadi ingat, kalau gak salah waktu itu saat aku menghubungi Henri karena hp Tuan Ray tidak bisa di hubungi. Henri lalu bilang padaku kalau Tuan Ray sama Zuy sedang ada di kamar, terus aku suruh tuh si Henri untuk pergi ke kamar mereka. Nah pas udah di depan kamar, aku sama Henri denger suara seperti ini Rin ...."
"Tuan Muda sakit, jangan kencang-kencang..!!"
"Ini juga sudah pelan, sayangku jangan tegang gitu, coba lemasin dikit biar Ray gak susah!" .
"Sudah cukup..!! Zuy gak tahaan, benar-benar sakit Tuan, Aaaach...."
Davin mempraktekkan suara yang ia dengar saat Ray dan Zuy sedang berada di Swedia.
"Ya kira-kira seperti itu suara dari mereka berdua saat sedang di kamarnya." ujar Davin.
Padahal yang sebenarnya Davin salah paham saja dan kenyataannya pada saat itu Ray hanya memijat kaki Zuy yang terkilir bukan melakukan adegan seperti yang di bayangkan Davin sama Henri.
(Jika masih ingat, kisahnya ada di Bab. 120 SYARAT DARI BI NANA. Di mana saat itu kaki Zuy terkilir terus di pijat oleh Ray. π€)
Sontak membuat Bi Nana, Ray, Zuy dan Airin tercengang mendengarnya bahkan wajah Zuy kembali memerah.
"Pak Davin bener-bener deh! Mana ada aku seperti itu." pekik Zuy menutup wajahnya.
Airin dan Bi Nana kembali menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berdecak.
__ADS_1
"Ck, Oppa-Oppa bersarang ini antara jujur sama polos gak ada bedanya sama sekali!" lirih Airin.
Dan untungnya saat Davin bercerita seperti itu anak-anak tidak ada di sana, melainkan berada di dalam kamarnya masing-masing.
"Ya ampun Dav, kamu dengernya sampai detail banget ya?!"
"Ya memang seperti itu Tante Nana. Kalau gak percaya, Tante bisa tanya langsung sama Henri! Sebab dia yang paling jelas dengerin suara teriakan Zuy akibat kesadisan Tuan Ray." kata Davin, ia pun kembali menyemburkan tawanya.
Ray berkerut kening dan mendengus kesal. Lalu tiba-tiba....
Bugh!
Ray melayangkan sebuah bantal kecil ke arah Davin dan tepat mengenai wajah glowingnya itu.
"Duh dasar bayi gede! Suka banget ngelemparin bantal, jadi kena wajah glowing ku ini kan, humph!" gerutu Davin.
"Salah Kak Davin sendiri kalau ngomong suka ngasal! Gara-gara kebanyakan adonan moci sih jadi gini nih otaknya. Dan lagi kejadian sebenarnya bukan seperti apa yang Kak Davin bilang itu. Waktu itu kaki Mamahnya si kembar terkilir jadi ya aku gendong dia ke kamar, terus aku pijat kakinya yang terkilir itu. Ya mungkin karena aku memijatnya terlalu kuat makanya dia sampai teriak karena sakit." jelas Ray.
Davin manggut-manggut. "Oh, jadi begitu ya Tuan. Berarti aku sama Henri udah salah tanggap dong?"
"Ya memang kalian berdua salah tanggap." cebik Ray.
"Yaudah kalau begitu aku minta maaf ya Tuan Ray!" ucap Davin sehingga Ray menarik nafasnya dan membuangnya dengan cepat.
"Hmmm, dasar kamu ini Dav-Dav!" lirih Bi Nana di selingi dengan gelengan kepala.
"Huh! Memang ya Oppa-Oppa bersarang ini udah ceplos salah lagi!" timpal Airin menepuk jidatnya dan begitu juga dengan Zuy.
Davin mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V serta senyumnya dengan menunjukkan baris giginya.
Lalu sesaat Ray kembali ke arah Bi Nana.
"Gimana Bi? Apa Bi Nana mau menerima ajakan Ray untuk pergi kesana bersama dengan yang lainnya?!" tanya Ray dengan penuh harap.
"Kalau itu gimana nanti aja ya Ray! Takutnya nanti Bibi ada halangan dan lagi kalian tau sendiri kan kalau Yiou habis melahirkan, takutnya mereka membutuhkan Bi Nana." jawab Bi Nana.
Ray manggut-manggut.
"Hmm, benar juga apa yang Bi Nana katakan itu. Baiklah Bi, nanti kalau Bi Nana mau ikut atau nggak-nya tinggal bilang ke Ray atau Mamahnya anak-anak ya!"
"Siap keponakan Bibi yang tampan," balas Bi Nana seraya mengangkat ibu jarinya.
Ray dan Zuy menyunggingkan senyumnya. Lalu....
"Hei Rin-Rin!" bisik Davin.
"Iya Pak." sahut Airin.
Davin mendekat ke telinga Airin. "Nanti kalau sudah di sana, kamu jangan mau kalau di kasih kamar dekat dengan kamar mereka ya!"
Airin mengerenyit. "Lho memangnya kenapa Pak?"
"Ya gak kenapa-napa sih, cuma aku kasihan aja sama kamu, takutnya gak kuat dengar suara kriet-kriet sama suara misterius dari arah kamar mereka. Secara kamu kan jomblo singa betina!" lontar Davin mencandai Airin.
Seketika Airin mengernyitkan wajahnya seraya mendengus.
"Pak Daviiiin...." ia pun mengambil bantal di pangkuan Davin dan memukul punggung Davin menggunakan bantal tersebut.
"Nih rasakan pukulan ku!"
Bugh!
Bugh!
"Terus Rin! Jangan kasih ampun." seru Ray.
"Oke Tuan bos."
Sedangkan Bi Nana dan Zuy hanya saling memandang sembari menghela nafas panjangnya.
βPukul 12.47am
Malam semakin larut, semuanya sudah berada di dalam kamarnya masing-masing menikmati waktu istirahatnya.
Akan tetapi berbeda dengan Ray dan Davin yang terlihat baru saja keluar dari ruang kerjanya lalu keduanya pun berjalan menuju ke arah kamarnya masing-masing.
Sebab setelah selesai berbincang dengan Bi Nana serta lainnya, ia dan Davin langsung beralih ke ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa dokumen penting.
Davin terlebih dahulu masuk ke kamarnya karena dekat dengan ruang kerja, sedangkan Ray melanjutkan langkahnya namun bukan ke arah kamarnya melainkan kamar si kembar. Karena ia menduga bahwa pujaan hatinya sedang berada di kamar kedua anaknya itu.
Dan dugaan Ray ternyata benar, saat ia sudah di dalam kamar kedua anaknya, ia melihat Zuy ada di sana dan tengah tertidur di ranjangnya si kembar sembari memeluk anak perempuannya yang masih belum melepaskan Asi Mamahnya dari mulutnya meskipun matanya sudah terpejam.
Ray lalu mendekat kemudian duduk di tepi ranjang seraya mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.
"Sayangku...." bisik Ray mengelus pipi Zuy
Lalu Ray menciumi tengkuk leher dan punggung pujaan hatinya dengan lembut sehingga membuat Zuy terusik dan bangun dari tidurnya, ia pun menolehkan kepalanya ke arah pria tampannya yang berada di belakangnya.
"Ray!"
"Iya sayangku, maaf ya aku membangunkan mu!" ucap Ray.
Zuy tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Nggak apa-apa Ray, sebentar ya!"
Zuy beralih ke arah Baby Zea lalu pelan-pelan ia melepaskan ASI-nya dari mulut anak perempuannya. Selepas itu, Zuy bangun dan mengganti posisinya menjadi duduk.
"Sudah selesai Ray?" tanya Zuy sembari membetulkan bajunya.
Ray mengangguk. "Iya udah selesai sayangku,"
"Oh...." Zuy manggut-manggut.
"Kita pindah ke kamar yuk sayangku!" ajak Ray.
"Oke." singkat Zuy.
Ray beranjak dari ranjang si kembar, kemudian di susul dengan Zuy. Akan tetapi saat hendak melangkah, Ray tiba-tiba mengangkat tubuh Zuy dan menggendongnya ala bridal style.
"Ray, kenapa pakai di gendong segala sih?"
__ADS_1
"Aku gak mau kamu jatuh sayangku. Soalnya kamu baru aja bangun tidur takutnya masih puyeng kepalanya." ujar Ray.
Sehingga membuat Zuy terperangah dan kembali menyunggingkan senyumnya seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Ray.
Ray lalu melangkah menuju ke kamarnya, ketika sudah berada di ranjangnya, ia pun membaringkan tubuh pujaan hatinya di atas ranjang dan mengungkungnya.
"Ray...."
Tanpa aba-aba Ray langsung mendaratkan ciuman mesra di wajah Zuy dan sesaat setelah puas dengan aksinya, ia pun beralih mendekat ke telinga Zuy.
"Aku lapar lagi sayangku dan ku ingin jatah Squishy-ku!" bisik Ray sembari tangannya aktif menelusuri di bagian tubuh sensitif Zuy membuatnya membunyikan suara khasnya di sertai wajahnya yang memerah padam.
Melihatnya pun membuat Ray tersenyum sumringah, seketika ia kembali melakukan aksinya dengan buas dan tanpa ampun lagi sehingga bunyi suara dari misteri ranjang bergoyang kembali terdengar di kamar mereka.
(Travelling ya! π€£)
...----------------...
Tak terasa malam yang panjang dan (panas) kini sudah beranjak pergi, langit pun sudah mengubah warnanya menjadi cerah dengan hangatnya sinar matahari yang sudah merangkak naik ke atas.
Hotel
βPukul 09.40am
Sementara itu di dalam sebuah kamar hotel tipe presidential suite. Liora terlihat sedang duduk di sofa sembari menikmati secangkir teh hijau favoritnya.
Lalu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, sehingga memalingkan wajahnya ke arah pintu.
"Siapa sih yang datang? Ganggu orang lagi santai aja!" gerutunya.
Ia pun meletakkan cangkir teh tersebut dan beralih ke arah pintu. Setelah membuka pintunya, ia tersentak karena yang datang adalah ....
"Archo!" lirihnya.
Archo memampang senyumnya pada Auntie-nya itu.
"Pagi Auntie."
Liora lalu menghela nafasnya.
"Aku kira siapa yang datang, ternyata beneran keponakan ku. Ayo masuk!"
Archo mengangguk kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Lalu keduanya mendudukkan dirinya di atas sofa dan saling berhadapan.
"Mau ku buatkan sesuatu?" tawar Liora.
"Tidak usah!"
"Yaudah kalau begitu, terus ada perlu apa kamu kesini? Dan lagi kamu tahu dari mana kalau aku sedang berada di sini? Apa jangan-jangan Maria yang memberitahu mu?" lontar beberapa pertanyaan Liora.
Archo menarik nafas panjangnya, lalu kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya dan melemparkannya pada Liora sehingga Liora kembali tersentak.
"Apa yang kamu lakukan Archo?!" sentak Liora.
"Justru aku yang bertanya pada Auntie, apa yang sudah Auntie lakukan terhadap istriku? Hah!"
Liora tersenyum smirk. "Heh, jadi gadis bisu itu mengadu padamu ya!"
"Jangan mengatainya gadis bisu! Dan lagi dia tidak memberitahu ku soal kedatangan kalian, tapi ...."
......................
Flashback.
Sore itu Archo baru saja pulang, seperti biasa Melan menyambut kedatangan suaminya itu. Lalu tiba-tiba mata Archo terbelalak karena terkejut melihat wajah istrinya lebam serta matanya yang sembab.
"Mel, apa yang terjadi kenapa wajah kamu lebam begini?" cecar Archo seraya menangkup wajah istrinya itu.
Melan melepaskan tangan Archo, kemudian mengambil tab-nya.
"Aku tidak apa-apa? Hanya saja aku tadi gak sengaja makan udang karena ngidam dan aku lupa kalau aku alergi makanan itu, jadi wajahku jadi seperti ini."
Archo mengerenyitkan dahinya sembari menatap Melan karena ia membaca dari raut wajahnya bahwa Melan sedang membohonginya. Karena tidak ingin Melan curiga, ia pun tersenyum sembari menempatkan tangannya di atas kepala Melan.
"Lain kali hati-hati dong! Kalau sampai kamu kenapa-napa bagaimana? Hm!"
Melan kembali ke tab-nya.
"Maaf A'! Dan lain kali aku akan hati-hati."
Archo lalu menarik Melan ke dalam pelukannya.
"Aku harus cari tahu, siapa orang yang sudah melukai istriku ini!" batin Archo dengan sorot matanya yang tajam.
Lalu saat malam tiba dan Melan sudah tertidur pulas, Archo pun segera melihat kamera CCTV yang sengaja ia pasang secara tersembunyi bahkan Melan tidak mengetahuinya.
Ketika melihatnya, Archo benar-benar sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa luka di wajah Melan akibat perbuatan keluarganya.
"Benar-benar tidak bisa di maafkan!" sungut Archo dengan tangannya yang meremas kuat sampai buku-buku di tangannya memutih.
Setelah selesai melihat CCTV tersebut, ia pun langsung mencari-cari benda yang di berikan oleh Liora untuk Melan serta mencari informasi tentang keberadaan Liora.
Flashback end.
......................
"Oh jadi begitu ya!" lirih Liora manggut-manggut.
"Auntie, sekarang Archo minta sama Auntie! Tolong, Auntie jangan usik keluarga Archo, apalagi sampai melakukan sesuatu pada keluarga Melan!" pinta Archo.
Liora membuang nafasnya.
"Maaf Archo, Auntie tidak bisa melakukannya dan lagi ini juga atas permintaan Mario supaya dia mau menuruti permintaannya yaitu menggugurkan kandungannya serta pergi sejauh mungkin dari kehidupanmu. Sebab wanita yang kamu nikahi itu hanyalah seorang gadis kampung serta cacat dan itu sama sekali tidak cocok untuk menjadi keluarga Fuca kita, Archo!" ujar Liora.
Mendengar itu seketika membuat Archo murka, ia pun langsung bangkit dari posisinya seraya mendekat ke arah Liora. Kemudian Archo menjulurkan tangannya ke arah leher Liora.
"Archo!"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" πππ
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πππ
Salam Author... πβπβ