Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Dompet....


__ADS_3

<<<<<


Mendengar suara itu, sontak membuat mereka menoleh ke arahnya, dan betapa terkejutnya mereka ternyata suara itu berasal dari ....


"Tu-Tuan Ray!!"


Lontar Wanda, lalu Ray berjalan dengan menempatkan satu tangannya ke dalam saku dan jas yang hanya menempel di bahunya, ia pun menghampiri mereka.


"Se-selamat pagi Tuan Ray," sapa Wanda dengan kegugupannya.


Akan tetapi Ray tidak menyahutnya, hanya tatapan tajam mengarah ke Wanda dan Lidya, membuat Wanda dan Lidya ketakutan.


"Coba ulangi lagi apa yang barusan anda katakan!" pekik Ray sehingga membuat perhatian para karyawan yang berada di Pantry.


"Sa-saya...."


Wanda pun semakin ketakutan, merasa suasana semakin memanas, Zuy lalu mendekat ke arah Ray.


"Maaf Tuan Muda, tumben anda kemari, apa anda memerlukan sesuatu?" tanya Zuy.


Seketika pandangan Ray beralih ke arah Zuy, lalu ia menunjukan sesuatu pada Zuy, ternyata dompet milik Zuy.


"Saya datang kemari ingin memberikan dompet milik mu Zuy, tadi di depan saya bertemu dengan ibumu, lalu beliau menitipkan dompet ini ke saya," jawab Ray.


Karena sedang di kantor, jadi Ray berbohong kalau ibunya Zuy datang, padahal dompet itu ia temukan di meja rumahnya. Lalu Zuy mengambil dompetnya dari tangan Ray.


"Do-dompet ku, terimakasih banyak Tuan Muda," ucap Zuy.


"Sama-sama, akan tetapi ketika saya ke sini, saya tidak menyangka bahwa saya harus mendengar perkataan yang tidak enak untuk di dengar oleh telinga," papar Ray menatap tajam ke arah Wanda dan Lidya.


"Tu-Tuan Ray, mungkin anda salah mendengar saja, sa-saya ...."


"Tadi Bu Wanda bilang kalau Zuy wanita gak bener, simpanan Ceo," sela Airin membuat pandangan Wanda mengalih ke Airin dan menatapnya dengan tajam


"Ciih, dasar pengadu," batin Wanda.


"Apa benar begitu Bu Wanda?" tanya Ray.


"Ti-tidak seperti itu Tuan Ray, dia berbohong," elak Wanda. "Iya kan Lidya."


"Euum itu ...."


"Untuk apa saya berbohong, saya mendengarnya sendiri apa yang di katakan oleh Bu Wanda," ujar Airin.


"Kamu!!" Wanda pun menunjuk ke arah Airin. Lalu tiba-tiba ....


Braaaak...


Ray memukul keras meja di depannya, sontak membuat yang lainnya tersentak kaget.


"Berhenti berdebat! Kalian berempat ikut ke ruangan saya, sekarang!" titah Ray dengan lantang. "Dan untuk kalian yang berkumpul di sini, kembali ke tempat kalian masing-masing!"


"Baik Tuan Ray...." ucap bersama. Mereka pun langsung pergi ke tempat kerjanya masing-masing.


Lalu Ray melangkahkan kakinya keluar dari Pantry, di ikuti oleh Zuy, Airin, Wanda dan Lidya.


"Awal mulanya bagaimana Sa, kok Tuan Ray bisa semarah itu?" tanya Brian pada Salsa.


"Gak tau Kak, tadi Airin bilang kalau Wanda mengatai Zuy wanita gak benar," jawab Salsa.


"Oh begitu ya," lirih Brian. "Tapi kenapa Airin juga di bawa, semoga Airin tidak terkena masalah juga," batin Brian.


Ruang Ceo


Sesaat kemudian mereka pun sampai di ruang Ceo dan langsung masuk ke dalam, lalu Ray mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya, sedangkan mereka berempat hanya berdiri sambil menundukkan kepalanya. Kemudian Davin datang dan berdiri di samping Ray.


"Airin, kamu yang paling jujur, coba jelaskan padaku yang terjadi sebenarnya!" pinta Ray


Kemudian Airin mengangkat kepalanya dan berkata, "Begini Tuan Bos, saat saya masuk ke Pantry, saya melihat Zuy muntah-muntah, lalu saya samperin Zuy sambil bertanya padanya, terus tiba-tiba Bu Wanda datang sambil bilang kalau Zuy hamil, wanita simpanan Ceo."


"Apa benar begitu Bu Wanda?"


"Ma-maaf Tuan Ray, saya hanya keceplosan dan menduga-duga saja, dan lagi Tante saya pernah bilang ke saya kalau Zuy wanita gak bener, suka bawa-bawa pria lain ke rumahnya," ujar Wanda, sontak membuat yang lainnya terkejut.


Lalu Zuy mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Wanda.


"Bu Wanda, kenapa Tante anda berkata seperti itu, padahal saya tidak mengenalnya," papar Zuy.


"Kamu mengenalnya Zuy, kata Tante juga bukan hanya kamu yang gak bener, tapi Bibi mu juga," celetuk Wanda.


Mendengar celetukan Wanda, membuat Zuy terpancing amarah.


"Bu Wanda, atas dasar apa anda berbicara seperti itu?" pekik Zuy.


"Ya aku hanya menyampaikan apa yang di katakan Tante Ida saja," ujar Wanda.


"Tante Ida!" Zuy terkejut mendengar nama Bu Ida di sebut Wanda. Lalu kemudian ....


"Oh, jadi kamu keponakan dari si mulut pedas itu. Kak Davin..."


Davin pun menoleh ke arah Ray. "Iya Tuan Ray."


"Beri tahu pada HRD untuk membuat surat pemecatan atas nama Wanda! Karena saya tidak ingin mempunyai karyawan yang tidak baik dalam perkataan!" titah Ray membuat Wanda terkejut.


"Apa! Su-surat pemecatan? Ke-kenapa saya di pecat? Terus yang lainnya?" tanya Wanda


"Yang lainnya? Oh iya untuk anda Nona Lidya, anda tidak akan saya pecat, akan tetapi saya akan menghukum anda untuk membuat surat pernyataan bersalah dan anda akan di liburkan selama satu bulan tanpa gaji!" ujar Ray.


"Apa! Ta-tapi Tuan, saya ...."


"Apa anda keberatan Nona Lidya?"


Lidya pun menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak Tuan Ray."


"Bagus kalau begitu. Kak Davin kenapa masih berdiri di sini? Cepat kerjakan!"


Davin mengangguk. "Baik Tuan Ray, akan saya kerjakan sekarang."


Saat Davin hendak melangkah, namun ....


"Tunggu! Kenapa hanya kita berdua yang kena, lalu mereka berdua?"


Ray lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Wanda.


"Mereka berdua tidak akan saya hukum, karena mereka berdua yang telah jadi korban anda Bu Wanda," pekik Ray.


"Ini tidak adil, apa jangan-jangan dugaanku benar kalau Zuy simpanan anda, Tuan Ray?"


Ray tersenyum sinis. "Heh, ternyata anda sangat penasaran dengan hubungan kami ya, kalau anda ingin tahu, hubungan kami itu ...," ucap Ray yang terjeda, karena ia melihat Zuy menggelengkan kepalanya.


Wanda dan Lidya pun sudah tidak sabar mendengar perkataan Ray.


"Kalian tidak perlu tahu! Sekarang kalian semua keluar dari ruangan ku!" sergah Ray


Mereka langsung mengangguk, Wanda dan Lidya melangkah dahulu, lalu di susul Davin, Airin dan Zuy, akan tetapi ....


"Zuy, kamu tetaplah di sini!" pinta Ray.


Zuy mengangguk, lalu pandangannya mengarah ke Airin.


"Rin, kamu duluan ya!"


"Oke Zuy, ayo Pak Davin!"


Kemudian Airin dan Davin langsung melangkah keluar dari ruangan Ray. Sesaat setelahnya ....


"Ada apa Tuan Muda?" tanya Zuy.


Lalu tiba-tiba Ray memeluk erat Zuy, membuat Zuy terpaku.


"Sayangku, maaf tadi aku berkata kasar, pasti kamu sangat takut padaku." ucap Ray manja.


Sesaat Zuy menghela nafasnya dan berkata, "Haaa... Zuy tidak takut Ray, justru bagus kalau sikapmu seperti itu, jadi mereka tidak curiga."


Ray melepaskan pelukannya dan menatap ke Zuy dengan mata yang berbinar.


"Tapi sayangku tidak marah padaku kan?"


"Tentu tidak Ray, untuk apa Zuy marah. Dan lagi terimakasih sudah mengantar dompetku," ucap Zuy. Lalu ....


Bletaaak

__ADS_1


Ray menyentil jidat Zuy, sehingga membuat Zuy meringis kesakitan.


"Kenapa menyentilku?" tanya Zuy memegangi jidatnya.


"Habisnya sayangku selalu ceroboh dan pelupa," ujar Ray.


"Maaf Ray, tapi perasaan tadi Zuy udah masukin dompet itu ke dalam ransel," kata Zuy.


Ray lalu mendaratkan bibirnya ke kening Zuy yang terkena sentilnya tadi, seketika pipi Zuy langsung merona.


"Ray...."


"Jangan ceroboh lagi ya sayangku!" tutur Ray mengelus kepala Zuy.


Mendengar tuturan Ray, Zuy tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya Ray, Zuy gak akan ceroboh lagi. Yaudah kalau gitu Zuy kembali ke Pantry," ucap Zuy, akan tetapi Ray malah memeluknya kembali.


"Ray, jangan seperti ini! Ayo lepasin pelukannya!" pinta Zuy.


Bukannya melepaskan, justru Ray malah mengeratkan pelukannya.


"Ray...."


"Hmmmm...."


"Ray, lepasin pelukannya! Zuy mau balik kerja lagi." ucap Zuy.


"Balik kerja lagi? Bukannya kata Airin sayangku tadi muntah-muntah?" tanya Ray.


"Gak muntah-muntah, hanya mual saja Ray," jawab Zuy.


Ray melepaskan pelukannya dan memegang pundak Zuy.


"Sayangku, tapi beneran gak kenapa-napa kan?"


"Iya Zuy gak apa-apa Ray. Yaudah Zuy balik ke Pantry ya!"


"Baiklah, tapi kalau sayangku gak enak badan. Sayangku langsung minta izin pulang ya!" pinta Ray.


Zuy mengangguk cepat, kemudian Ray mendaratkan bibirnya ke pipi Zuy. Sesaat setelahnya Zuy keluar dari ruangan Ray. Sedangkan Ray langsung kembali ke kursi kebesarannya.


"Hmmmm... Kalau sayangku benar-benar hamil, berarti sebentar lagi akan hadir Ray junior dan aku akan menjadi Daddy," lirih Ray.


Yeeeaaaaaa...


Seketika Ray menyunggingkan senyuman sumringah, ia pun langsung berjoget-joget ala Seojon yang di drama Korea kecantikan sejati.


(Sorry Author jiplak ya.. hehehe)


Lalu tiba-tiba Davin masuk ke ruangan Ray, ia pun tercengang melihat Ray lagi berjoget-joget.


"Ehemmm... Sepertinya ad yang lagi senang, apa jangan-jangan sudah melakukan aktivitas Misteri meja berguncang?" seru Davin sontak membuat Ray terkejut dan menghentikan aksinya.


Kemudian Ray menoleh ke arah Davin. "Sejak kapan Kak Davin berada di sini?" tanyanya dengan nada dingin.


"Sejak anda joget-joget Tuan Ray," jawab Davin.


"Apa!"


"Hmmmm, sepertinya ada yang senang ini," goda Davin.


Ray lalu mendudukkan dirinya kembali di kursi kebesarannya.


"Bukan urusan Kak Davin. Lalu bagaimana, apa Kak Davin sudah menjalankan perintahku tadi?"


"Sudah Tuan Ray, Bu Wanda juga sudah menandatangani suratnya," ujar Davin.


Ray menyunggingkan senyuman sinisnya. "Huh, Syukurlah kalau begitu. Biar jadi pelajaran untuknya," pekik Ray.


"Anda benar Tuan Ray."


Lalu mereka pun melanjutkan ngobrolnya.


***********************


Rumah Sakit


"Bunda, biar Maria saja yang melakukannya!" pinta Maria.


Namun Bunda Artiana malah menggelengkan kepalanya dan tetap terus melakukan aktivitasnya mengupas buah.


"Euum Maria...."


"Iya Bunda," sahut Maria.


"Maria, apa kamu tidak ingin memberitahu ke Putrimu, jika kamu sedang di rawat di rumah sakit?" tanya Bunda Artiana.


Maria pun menggelengkan kepalanya, "Tidak Bunda, Maria tidak ingin mengganggu Kimberly," jawabnya.


mendengar jawaban Maria, seketika Bunda Artiana langsung menghentikan aktivitasnya dan pandangannya beralih ke arah Maria.


"Maria, yang Bunda maksud itu bukan Kimberly, tapi Zuy," ujar Bunda Artiana.


"Ke-kenapa jadi Zuy Bunda?"


"Ya karena Zuy itu putrimu juga Maria, anak yang telah kau lahirkan dan kemudian kau tinggalkan." pekik Bunda Artiana membuat Maria menundukkan kepalanya.


"Maria, sebenarnya waktu itu Bunda, Dimas dan Nak Archo pernah datang ke rumah Bibinya untuk menemuinya dan Zuy, akan tetapi saat itu Zuy sedang berada di Kota M. Kami menceritakan apa maksud kami datang kesana, namun Bibinya malah marah pada kami, dia bilang kenapa kami baru mengakuinya sekarang setelah hidupnya bahagia. Ya wajar jika Bibinya marah, orang kami yang salah. Lalu ia menceritakan apa yang terjadi pada Putrimu itu. Setelah kepergian Ayahnya, Zuy hidup di Panti Asuhan dan lagi ...." belum selesai menjelaskan, Maria tiba-tiba menyelanya.


"Apa! Panti Asuhan? Kenapa dia bisa hidup di Panti Asuhan? Apa Nana tidak mengurus hak asuhnya?"


Sesaat Bunda Artiana menghela nafasnya dan berkata, "Maria, dengarkan dulu penjelasan Bunda sampai selesai! Waktu itu usia Bibinya itu masih di bawah umur, jadi ia belum bisa mengambil hak asuh putrimu, jadi mau tidak mau ia harus menyerahkan Zuy ke Panti Asuhan. Setelah usianya sudah delapan belas tahun, ia mengambil Zuy kembali dan merawatnya sampai sekarang. Banyak kejadian lain yang menimpa Putrimu, bahkan sampai ia di anggap kriminal karena fitnahan dari seseorang, akan tetapi Putrimu itu gadis yang kuat, ia mampu menghadapi semuanya, hatinya benar-benar setegar karang dan bahunya sekuat baja."


Mendengar perkataan Bunda Artiana, Maria langsung menitihkan air matanya, ia pun mengingat masa lalu saat Zuy di lahirkan.


...----------------...


Flashback dua puluh sembilan tahun silam....


°Rumah Sakit


Drap... Drap.. Drap...


Nampak seorang laki-laki sedang berlari di lorong rumah sakit menuju ke arah ruang Ibu dan anak. Setibanya di sana ia langsung menghampiri seorang anak perempuan yang sedang duduk. Mereka berdua adalah Jordhan dan Bi Nana.


"Na, bagaimana keadaan Maria?" tanya Papah Jordhan sambil terengah-engah.


"Belum tahu Kak, soalnya dari tadi Dokter belum keluar," jawab Bi Nana membuat Papahnya Zuy terkejut.


"Apa! Semoga mereka baik-baik saja ya," ucap Papah Jordhan.


Bi Nana pun menepuk punggung Papahnya Zuy. "Iya semoga keduanya selamat dan dalam keadaan sehat," kata Bi Nana.


Lalu Papah Jordhan mendudukkan dirinya di kursi yang berada di sana, kemudian ia mengeratkan kedua tangannya seraya berdoa, karena hari ini adalah hari kelahiran anak pertamanya.


Setelah menunggu hampir lima belas menit, Dokter pun keluar dari kamar tersebut. Papah Jordhan dan Bi Nana langsung menghampiri Dokter itu.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanyanya


Dokter pun tersenyum. "Anda suaminya? Selamat istri anda sudah melahirkan dan bayi anda perempuan," jawab Dokter.


Seketika senyum bahagia terukir di wajah tampannya, kemudian ia memeluk Bi Nana.


"Na, akhirnya impianku jadi kenyataan dan anak pertamaku adalah perempuan," ujar Papah Jordhan,


"Selamat ya Kak."


Sesaat kemudian ia melepaskan pelukannya dan beralih kembali ke arah Dokter.


"Maaf Dok, apa saya boleh masuk?"


Dokter pun mengangguk. "Boleh, tapi hanya anda saja, Tuan." kata Dokter.


Papah Jordhan pun mengangguk, lalu ia melangkahkan kakinya masuk ke ruang rawat tersebut dan menghampiri Maria yang tengah menggendong Zuy.


"Maria...."


Maria pun menoleh. "Jordhan...."


"Maria apa ini anakku?" tanya Papah Jordhan.

__ADS_1


"Bukan, tapi anak kita berdua!" pekik Maria.


Papah Jordhan pun tersenyum, lalu pandangannya beralih ke arah Zuy yang tengah memejamkan matanya, seketika air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Sayang, ini Papah, Papahmu yang tampan. Terimakasih Maria sudah melahirkan anakku," ucap Papah Jordhan.


"Sudah kewajibanku sayang. Oh iya anak kita mau di beri nama siapa?" tanya Maria.


"Tentu saja Zoey," papar Papah Jordhan.


Maria pun langsung mengerutkan dahinya. "Kenapa Zoey? Nama itu kan susah di ucap." pekiknya.


"Hmmmm, tidak susah kok, tinggal sebut saja Zuy, gak susah kan?"


Namun Maria menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku lebih suka nama Zoya."


"Tapi nama Zoya banyak sayang,"


Maria pun tetap pada pendiriannya, dan pada akhirnya Papah Jordhan mengalah.


"Baiklah, terserah kamu saja, yang penting anak kita sehat," ucap Jordhan.


"Iya kamu benar sayang," balas Maria.


Papah Jordhan pun mengelus kepala Zuy dengan pelan.


"Nak, kamu adalah anak perempuan pertama kami, ada yang bilang bahwa jika mempunyai anak pertama perempuan, maka bahunya akan sekuat baja dan hatinya setegar karang. Papah berharap jika kamu besar nanti, bahumu harus sekuat baja dan hatimu setegar karang." ucapnya.


"Iya Papahmu benar Nak dan kami janji akan menjaga, merawat mu sampai kamu dewasa dan menikah nanti." sambung Maria.


Flashback End


...----------------...


Seketika Maria langsung mencabut jarum infus di tangannya membuat Bunda Artiana terkejut.


"Maria apa yang kamu lakukan?"


"Bunda, Maria ingin menemuinya, Maria ingin memeluknya dan meminta maaf padanya, tolong Bunda jangan halangi Maria!" pinta Maria


"Maria kamu masih sakit dan harus banyak istirahat!"


Maria pun tetap bersikeras, tidak mendengarkan perkataan Bunda Artiana, sehingga Bunda Artiana kewalahan. Lalu Maria beranjak dari ranjangnya. Saat hendak melangkah tiba-tiba Maria merasakan lemas pada Kaki dan tangan kanannya, sehingga membuat tubuhnya ambruk ke lantai. Bunda Artiana pun terkejut melihatnya dan langsung menghampiri Maria.


"Maria, apa yang terjadi?"


"Maria tidak tahu Bunda, tiba-tiba kaki dan tangan Maria lemas," jawab Maria.


Lalu Bunda Artiana langsung menghubungi Dimas, tak lama kemudian Dimas pun datang.


"Kak Maria! Kenapa bisa ada di sini?" tanya Dimas.


"Tadi Maria memaksa ingin pergi Dimas, akan tetapi tiba-tiba ia terjatuh," jawab Bunda Artiana.


Dimas langsung mengangkat tubuh Maria dan membaringkannya di ranjangnya. Lalu ....


"Kak Maria, apa yang Kakak rasakan sekarang?" tanya Dimas


"Kaki dan tangan Kaka tiba-tiba lemas Dimas," jawab Maria.


"Selain itu apa ada gejala lainnya?"


Maria pun menggelengkan kepalanya, "Tidak ada Dimas, memangnya apa yang terjadi padaku, kenapa kaki dan tangan ku lemas?"


"Dimas menduga kalau Kak Maria mengalami gejala stroke ringan" jawab Dimas.


Sontak membuat Maria dan Bunda Artiana tersentak.


"S-stroke ringan!"


Dimas mengangguk pelan. "Iya tapi baru dugaan Dimas saja Kak, nanti kita lakukan pemeriksaan dan CT scan untuk mengetahuinya," papar Dimas.


Maria pun hanya mengangguk patuh. Lalu ia mengedarkan pandangannya.


"Dimas, di mana Archo?"


"Dimas tidak tahu Kak," singkat Dimas.


**************************


Perusahaan CV


Tak terasa waktu cepat berlalu, sore pun tiba. Di mana semua karyawan sudah meninggalkan pekerjaannya masing-masing. Dan begitu pula dengan Airin dan Zuy yang sudah berada di parkiran.


"Zuy, aku duluan ya!" ujar Airin sambil menaiki motornya


"Iya Rin, hati-hati, terus jangan ngebut ya!" ucap Zuy


Airin pun menganggukkan kepalanya, lalu kemudian ia melajukan motornya. Sedangkan Zuy langsung mengambil motornya, dan saat hendak menaikinya, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.


"Permisi Nona,"


Mendengar suara itu, Zuy langsung menoleh. "Anda siapa ya?" tanya Zuy.


"Nona tidak ingat dengan saya, kita pernah bertemu berapa kali, perkenalkan nama saya Archo, saya cucu Bunda Artiana," jawabnya yang ternyata Archo.


"Maaf saya suka lupa, lalu ada keperluan apa ya anda menemui saya?" tanya Zuy.


"Bisa kita bicara di tempat lain? Ada yang ingin saya sampaikan dan ini tentang Bunda Artiana," ucap Archo berbohong.


Zuy mengangguk. "Baiklah..."


"Yaudah saya tunggu di Cafe seberang sana!"


Lalu Archo pun melangkah pergi meninggalkan Zuy.


"Tentang Nyonya, memang ada apa?" lirih Zuy.


Ia pun langsung menyalakan motornya dan melajukannya menuju ke Cafe.


*****************


Cafe


Sesaat kemudian Zuy sampai di tempat tujuan, setelah memarkirkan motornya, ia bergegas masuk dan menghampiri Archo yang tengah duduk.


"Apa yang ingin anda bicarakan Tuan?" tanya Zuy sambil mendudukkan dirinya di kursi.


"Apa anda tidak ingin memesan?"


"Tidak, perut saya sedang tidak enak. Lalu apa yang ingin anda bicarakan, apa terjadi sesuatu pada Nyonya?" tanya Zuy.


Archo pun menghela nafasnya dan berkata, "Begini, sebenarnya saya ingin memberitahukan pada anda, bahwa Ibu saya, Maria sedang berada di rumah sakit."


"Maria! Jadi anda anak Mrs Maria?" Zuy terkejut mendengarnya.


"Iya Nona tapi lebih tepatnya anak tiri."


"Lalu apa maksud anda memberitahukan pada saya tentang Mrs Maria, apa anda ingin menyuruh saya untuk menjenguknya?" tanya Zuy.


Archo kembali menganggukkan kepalanya, "Iya Nona, saya ingin Nona menjenguk Mam Maria."


Zuy tiba-tiba bangkit dari posisinya. "Maaf Tuan, saya menolak, saya tidak ingin menemuinya lagi, saya takut dengannya dan saya membencinya," ungkap Zuy.


"Tapi Nona ...."


"Maaf jika tidak ada hal lainnya, lebih baik saya pergi dari sini, permisi...." ucap Zuy,


Zuy pun segera melangkah pergi. Akan tetapi ....


"Bagaimana kalau Maria itu adalah ibu kandungmu yang sebenarnya!" seru Archo membuat Zuy menghentikan langkahnya dan memutar badannya menghadap ke arah Archo.


"Hah! Anda bilang apa?!"


***Bersambung


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2