Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
ABS Oppa....


__ADS_3

<<<<<


Suara itu berhasil membuat Airin tersentak dan memutar tubuhnya menghadap ke arahnya.


"A-abs Oppa!"


Seketika Airin terpaku seraya membelalakkan kedua matanya serta mulutnya yang sedikit terbuka karena melihat Davin yang sedang berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan handuk yang mengalung di leher, mengenakan celana pendek bergambar kucing bulat berwarna biru serta bertelanjang dada, sehingga membuat perut ABS atau bisa juga di bilang perut sixpack ala roti sobek rasa vanilla milik Davin terlihat sangat jelas di mata Airin.


Nampaknya Davin baru saja menyelesaikan rutinitasnya di kamar mandi.


Melihat ekspresi Airin tak biasa, seketika membuat Davin mengernyit heran.


"Nih anak bukannya jawab pertanyaan ku malah melihat ku sambil menganga seperti itu? Apa jangan-jangan kerasukan setan pagi kali ya?" pikir Davin.


Ia pun segera mendekat ke arah Airin, lalu kemudian ....


Bletaak!


Davin menyentil kening Airin dengan keras, sontak membuat Airin meringis kesakitan sembari memegangi jidatnya.


"Aww, Pak Davin! Kenapa menyentilku sih? Sakit tau." pekik Airik.


"Habisnya kamu tiba-tiba diam sambil melihat ku seperti itu? Jadi ya aku pikir kamu kerasukan setan pagi." ujar Davin.


Airin mendesah. "Hadeeuh Pak, pagi-pagi mana ada setan gentayangan, ada-ada aja nih Pak Davin."


"Lha terus barusan kamu kenapa tiba-tiba diam sambil menatap ku seperti itu? Hmmm, jangan-jangan kamu terpesona dengan wajah ku yang semakin glowing ini ya singa betina?" Davin menyibakkan rambutnya yang masih setengah basah itu dengan gaya dan gerakannya yang menawan.


Akan tetapi bukannya terpesona Airin justru malah menggeleng-gelengkan kepalanya di barengi suara decakannya.


"Pak Davin sok kegantengan ih."


"Ya memang aku ganteng, bleeeh...." di julurkannya lidah Davin ke Airin.


"Iya ganteng kalau di lihat dari ujung Monas. Lagian siapa juga yang terpesona dengan wajah Oppa-Oppa saranghae yang menyilaukan mataku ini," celetuk Airin.


Mendengarnya pun membuat Davin merengut sekaligus mendengus.


"Dasar singa betina, masih sempat-sempatnya menyebut ku Oppa-Oppa saranghae, udah gitu ngatain wajah menyilaukan lagi. Humph!" gumam Davin sembari melipat kedua tangannya di dada dan membuang wajahnya.


Pufft....


Airin pun terkekeh geli seraya menutup mulutnya dengan tangannya.


Lalu sesaat Davin kembali beralih ke Airin dan di condongnya tubuh Davin ke arah wanita di hadapannya itu.


"Hmmm, kalau bukan terpesona karena wajahku, lantas kenapa tadi kamu melihat ku sampai kamu menganga begitu, singa betina?" cecar Davin.


"Oh, itu karena aku melihat A.B.S-nya Pak Davin bukan wajah glowingnya Pak Davin." balas Airin.


(ABS atau ABdomenS dengan kata lain perut roti sobek)


"Hah! Abs-ku?" lirih Davin.


Airin membalas dengan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.


"Emm, ABS itu apa sih singa betina?" lanjut tanya Davin.


Sebab Davin belum tahu abs yang di katakan oleh Airin.


"Abs itu—" Airin kembali terpaku karena pandangannya mengarah ke perut roti sobeknya Davin. "Baru kali ini aku liat abs yang nyata di depan mata, biasanya juga selalu di hp sama di poster para bias-ku." imbuh batinnya dan nampak jelas wajahnya kini memerah.


Davin pun berkerut kening melihat Airin kembali terdiam dan di dalam hatinya berkata, "Ini anak kerasukan apa sih, tiba-tiba diam sambil ngeliatin bawah terus? Hhm, jangan-jangan singa betina ini ...."


Ia mengulurkan tangannya dan menempatkannya di pundak Airin seraya menepuk-nepuknya.


"Rin, hoe Rin-Rin!" tegur Davin.


Airin tersadar dan mengerjapkan matanya, lalu ia pun beralih menatap pria glowing yang berada di hadapannya itu.


"Ah iya, ada apa Pak?"


"Huft, syukurlah akhirnya kamu kembali sadar dan bersuara lagi, singa betina." ucap Davin di susul helaan nafasnya.


"Bi-bicara apa sih Pak Davin ini? dari tadi juga aku sadar Pak." ujar Airin.


"Kalau kamu sadar, kenapa lagi-lagi kamu terdiam sambil ngeliatin ke bawah terus? Apa jangan-jangan kamu lagi sakit ya Rin-Rin?" cecar Davin.


"Sa-sakit! A-aku lagi gak sakit kok Pak." Airin menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi wajah kamu memerah lho singa betina, kalau bukan sakit namanya apa? Hm!"


"Ah itu, um—" mata Airin berkeliling. "Emm, mungkin karena cuacanya sangat panas makanya wajahku memerah Pak, hehehe...." ujarnya yang berbohong pada Davin.


Sebab wajah Airin memerah bukan karena sakit ataupun cuaca panas melainkan karena ia melihat sesuatu indah di depan matanya.


"Benarkah? Coba sini aku periksa!" Davin menempelkan telapak tangan kanannya di dahi Airin, sontak membuat Airin kembali terperangah hingga pupil matanya nampak membesar.


Blush!


Deeg!


Bahkan Wajahnya pun semakin memerah bak kepiting yang sedang rebus di sertai dengan degupan jantungnya.


"Duh, kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang sih! Biasanya juga gak pernah seperti ini deh. Huh, semoga aja Pak Davin gak denger," batin Airin yang terus menatap lekat wajah Davin.


Lalu....


"Dahi kamu gak panas Rin malah normal kaya biasanya. Hmmm, berarti kamu beneran gak sakit dong, singa betina." papar Davin.


"Y-ya aku emang lagi gak sakit Pak Davin." ujar Airin sembari menurunkan tangan Davin dari dahinya.


"Tapi kenapa wajah kamu merah gitu ya singa betina?" lirih Davin karena penasaran.


Maklum guys kelamaan ngejomblo si Davin tuh, mwehehehe.... (Author)


Airin membuang nafasnya lalu berkata, "Tadi kan aku udah bilang sama Pak Davin, mungkin karena cuacanya sangat panas makanya wajahku merah."


Davin manggut-manggut. "Oh gitu ya Rin.


"Iya Pak." singkat Airin.

__ADS_1


Suasana pun menjadi hening karena keduanya sama-sama terdiam, lalu sesaat Airin teringat sesuatu sehingga ia menepuk jidatnya sendiri.


"Duh gara-gara abs, aku sampai lupa sama tujuan ku ke kamar Pak Davin. Pasti mereka udah nungguin kita nih." gumamnya.


"Memangnya siapa yang udah nungguin kita, Rin?"


"Tentu saja Tuan bos sama Zuy. Sebenarnya aku kesini tuh karena Tuan bos yang meminta ku memanggil Pak Davin untuk sarapan bersama." jelas Airin.


"Oh, yaudah kalau gitu kamu duluan aja Rin! Soalnya aku mau ganti baju dulu, setelah itu baru aku nyusul." kata Davin.


Airin mengangguk. "Baiklah Pak."


Ia pun melangkah keluar dari kamar Davin. Akan tetapi ....


"Rin...." panggil Davin.


Airin yang sudah di ambang pintu pun langsung menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Davin.


"Iya Pak."


"Terimakasih ya singa betina." ucap Davin.


"Iya sama-sama Pak." balas Airin di susul senyumnya.


Airin kembali melangkahkan kakinya.


"Dasar betina yang manis." lirih Davin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lalu....


"Tunggu! Sepertinya aku melupakan sesuatu?" berfikir sejenak. "Oh iya, si Rin-Rin kan belum jawab pertanyaan ku yang soal abs-ku itu. Huu, nanti aku coba tanya lagi, biar aku-nya juga gak penasaran dengan abs yang di katakan oleh singa betina itu." lanjutnya.


Kemudian ia berjalan ke arah walk in closet yang berada di sisi lain dari dalam kamarnya itu.


Sedangkan Airin yang saat ini sudah berada di luar kamar Davin pun kembali menghentikan langkahnya seraya menyandarkan tubuhnya di dinding yang posisinya hanya beberapa langkah dari kamar Davin.


"Duh dasar Pak Davin ini, hampir aja jantungku meledak karena ulahnya itu." batin Airin yang terus memegangi dadanya itu.


Lalu ia pun menarik nafasnya dan menghembuskannya, sesaat setelahnya Airin berjalan kembali menuju ke arah tangga dan menuruninya.


Sementara itu....


Zuy nampak keluar dari arah dapur sembari kedua tangannya membawa dua buah piring berisi makanan. Yaitu satu piring di tangan kanannya berisi kroket dan satu di tangan kirinya berisi muffin yang ia buat sesuai permintaan Daddy dari anak-anaknya yang ingin di buatkan makanan tersebut langsung dari tangan pujaan hatinya itu. Zuy pun berjalan menuju ke arah meja makan di mana Ray sedang duduk di sana.


"Nih pesanan untuk Daddy tampannya anak-anakku," Zuy meletakkan piring yang di bawanya itu di atas meja makan.


Melihat makanan tersebut, seketika membuat mata Ray berbinar-binar.


"Wah, ini makanan yang paling aku suka. Terimakasih sayangku...." ucap Ray.


"Anytime." balas Zuy sembari mengambilkan makanan untuk Ray.


Lalu tiba-tiba....


Cup!


Ray mendaratkan ciuman di pipi kanan pujaan hatinya sehingga membuatnya tercengang dan memalingkan wajahnya ke arah Ray.


"Ciuman tanda terimakasih ku untuk kamu, sayangku." kata Ray.


Sesaat kemudian....


Mereka berempat sudah berkumpul dan tengah menikmati sarapannya bersama.


Sedangkan Daddy Michael sedang bersama dengan Pak Willy. Dan mereka berdua saat ini sedang berada di Malaysia untuk suatu pekerjaan.


Tak lama setelah selesai menikmati menu sarapan utama, kini mereka berempat beralih menyantap muffin dan kroket yang di buat oleh Zuy.


"Hmmm, muffin buatan mu enak juga ya Zuy sama enaknya seperti kue ulang tahun yang kamu buat waktu itu." kata Davin yang memuji Zuy sambil kembali menyantap muffin yang berada di tangannya.


"Terimakasih Pak Davin." ucap Zuy di selingi senyumannya.


Lalu sesaat pandangan Davin beralih ke arah Airin yang sedang berada di sampingnya itu.


"Singa betina."


"......" Airin menolehkan kepalanya dengan mulut yang masih mengunyah makanannya.


"Tadi kamu belum sempat menjawab pertanyaan ku kan." lontar Davin.


Airin mengerenyit. "Pertanyaan? Memang pertanyaan Pak Davin yang mana? Aku lupa."


Davin mendesah. "Itu lho Rin, yang kata kamu terpesona sama abs-ku dan aku penasaran, sebenarnya abs-ku itu apa sih Rin-Rin?" tanyanya yang masih penasaran.


Lalu tiba-tiba....


Uhuk-uhuk...


Airin pun tersedak makanannya karena terkejut mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Davin, seketika ia langsung menyambar gelas air yang di depannya itu dan meneguknya membuat Davin mengernyit heran.


"Lho kenapa kamu tiba-tiba batuk, singa betina?" tanya Davin. "Jangan-jangan tersedak kroket nih anak," lanjut batinnya.


Dan bukan hanya Airin saja, Zuy pun ikut terkejut mendengarnya bahkan ia sampai menyemburkan kembali air yang sudah berada di dalam mulutnya itu.


"Sayangku, kamu kenapa?" tanya Ray.


"A-aku gak apa-apa Ray." jawab Zuy mengusap-usap mulutnya.


"Mau minum lagi?" tawar Ray.


Akan tetapi Zuy menggelengkan kepalanya.


"Gak Ray, aku mau ke kamar si kembar takutnya mereka pada bangun." ujar Zuy sembari bangkit dari posisinya.


"Oh, yaudah kalau gitu aku juga mau lihat anak-anak kesayangan ku." Ray pun ikut bangun dari tempat duduknya.


"Rin, Pak Davin. Kita duluan ya!" pamit Zuy.


"Oke Zuy." balas Davin.


Sedangkan Airin hanya menganggukkan kepalanya saja karena posisinya sedang minum. Lalu kedua sejoli itu pun meninggalkan Davin dan Airin.

__ADS_1


Sesaat....


"Ah, leganya...." ucap Airin seraya meletakkan gelasnya kembali ke tempatnya.


"Makanya kalau makan itu pelan-pelan singa betina! Jadi gak sampai tersedak makanan seperti ini." tutur Davin.


Airin memicingkan matanya dan dalam hatinya berkata, "Gimana gak tersedak makanan coba, orang tiba-tiba di tanya soal abs-nya. Bener-bener deh orang satu ini."


"Jangan menatapku seperti itu singa betina! Nanti mata kamu copot lho. Nih muffin buat kamu," ujar Davin sembari memberikan muffin yang berada di tangannya ke Airin.


Airin menghela nafasnya terlebih dahulu, kemudian ia mengambil muffin dari tangan Davin dan mereka berdua pun kembali menyantap makanan manis itu.


°°°°°


Saat sudah berada di dalam kamarnya si kembar, keduanya pun duduk di ranjang yang berada di dalam kamar anaknya itu.


"Sayangku...."


"Iya...."


"Nanti sore kita jalan-jalan yuk!" ajak Ray.


"Oke tampan-ku." Zuy menyetujui ajakan Ray.


Ray mendekatkan wajahnya seraya menempatkan kedua tangannya di pipi Zuy.


"Dan besoknya aku akan mengajak sayangku dan anak-anak ke Kota M."


Seketika membuat Zuy tercengang mendengarnya.


"Apa! Kota M? Kamu serius Ray?"


"Iya aku serius, sayangku. Kita akan berkunjung ke makam Papah dan memperkenalkan kedua cucunya. Setelah dari makam kita mampir ke rumah Pak Toto sama panti asuhan yang dulu pernah menjadi rumah sayangku itu." ujar Ray. "Bagaimana? Apa sayangku suka kalau aku ajak kamu kesana?" sambung tanyanya.


Seketika Zuy langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.


"Tentu saja aku suka bahkan sangat suka. Akhirnya aku bisa bertemu dengan Papah lagi, terimakasih banyak tampan-ku."


Zuy memeluk erat tubuh kekar lelaki tampannya itu.


"Sama-sama sayangku. Masa cuma terimakasih aja sih." papar Ray.


"Terus kamu mau apa?"


Ray menunjuk-nunjuk bibir Zuy memberi isyarat bahwa ia minta jatah cium mesra sebagai tanda ucapan terimakasih.


"Baiklah tampan-ku, aku mengerti maksudmu itu." kata Zuy membuat senyum Ray mengembang.


Lalu Zuy mengalungkan tangannya ke leher Ray seraya mendorong tengkuk leher pria tampannya sehingga membuat wajah Ray mendekat ke arahnya dan saat benda kenyal mereka sudah menyatu, tiba-tiba....


"Umama...."


Mendengarnya sontak membuat mereka mengurungkan niatnya untuk kiss mesra. Lalu keduanya pun langsung menolehkan ke arah box anak-anaknya dan suara celotehan itu ternyata berasal dari Baby Z yang terbangun dari tidurnya dan tengah duduk sembari melihat ke arah kedua orang tuanya itu.


"Ternyata cantiknya Daddy udah bangun ya, sini Daddy gendong dulu."


Ray mengangkat tubuh gemuk anak perempuannya itu dan mencium pipinya.


"Cantiknya Daddy, harusnya kamu bangunnya nanti aja kalau Mamah kamu udah ngasih Kiss mesranya ke Daddy," bisik Ray pada anak perempuannya membuat Zuy mengerutkan keningnya. Lalu ....


"Rayyan.... Udah berapa kali aku bilang jangan bicara aneh-aneh di depan anak-anakku!" pekik Zuy menjewer telinga pria tampannya itu.


"Ah, iya ampun sayangku! Aku tidak akan mengulanginya lagi." ucap Ray.


...----------------...


—Pukul 09.40am


Bi Nana terlihat sedang berada di Rumah sakit di temani oleh Beyza, sedangkan anak-anaknya berada di rumahnya bersama Irma.


Sesaat setelah namanya di panggil, Bi Nana pun langsung masuk ke ruang pemeriksaan sedangkan Beyza menunggu di luar ruangan.


"Permisi Dok," ucap Bi Nana.


"Oh ternyata anda Nyonya Nana, silahkan duduk!" kata Dokter tersebut.


Bi Nana mengangguk sopan.


"Terimakasih Dokter," ucapnya seraya mendudukkan dirinya di kursi depan meja kerja Dokter.


"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya Dokter.


"Emm, begini Dok. Kenapa setelah kecelakaan beberapa waktu lalu, saya sering mengalami sesak nafas berkepanjangan ya Dok?" ujar Bi Nana.


"Apa sebelumnya anda pernah mempunyai riwayat sesak nafas?"


Bi Nana menggelengkan kepalanya.


"Yaudah kalau begitu, saya periksa dulu ya Nyonya!"


"Iya Dok."


Bi Nana bangkit dari posisinya dan beralih ke bed yang berada di ruangan tersebut. Dokter pun mulai memeriksanya.


Beberapa saat setelah selesai pemeriksaan, Bi Nana kembali duduk di kursi yang ia duduki tadi, begitu pula dengan Dokter tersebut, namun terlihat raut wajah Dokter nampak berbeda dari sebelumnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan saya, Dok?" tanya Bi Nana.


Sebelum menjawab pertanyaan Bi Nana, ia menarik nafasnya dan membuangnya. Setelah itu ia menatap wajah Bi Nana dengan tatapan matanya yang sendu.


"Nyonya Nana, sebenarnya anda ...."


****Bersambung....


Author: "Hai Kakak2 kesayangan Author, maafkan Author yang baru bisa Update, karena Author lagi nyenengin bocah dulu ( Akhir-akhir ini selalu rewel, mungkin karena kangen sama bapaknya) dan juga kondisi tubuh Author yang lemah. 🙏🙏 Terimakasih banyak sudah menunggu cerita Absurd dari anak2 songong Author (Kepedean ish... 🤭🤣🤣) Terimakasih untuk hadiah dan Votenya.... Sayang Kakak banyak7x.... ♥️♥️ Tetap semangat.... semangat.... semangat... jaga kesehatan ya.. 😘"


See You Next Time.... 😉


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2