Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Aib Untuk Keluarga....


__ADS_3

<<<<<


Mendengar itu seketika membuat Archo murka, ia pun langsung bangkit dari posisinya seraya mendekat ke arah Liora. Kemudian Archo menjulurkan tangannya ke arah leher Liora.


"Archo!"


Liora sangat terkejut dengan matanya yang melotot tajam.


"A-apa yang ingin kamu lakukan padaku? Apa kamu ingin membunuh Auntie-mu sendiri? Hah!" lanjutnya.


"Menurut Auntie?!"


Archo terus saja mendekat sembari mengarahkan tangannya itu serta sorot matanya pun semakin tajam.


"Apa!" Liora gemetaran serta nampak dari wajahnya yang mulai memucat karena ketakutan.


Lalu ia pun segera menggeser tubuhnya menjauh dari Archo, namun dengan cepat Archo langsung mencengkeram leher Liora menggunakan satu tangannya.


Aaargh....


Liora memekik keras sambil mencoba melepaskan tangan Archo dari lehernya bahkan sampai memukuli dada Archo supaya bisa terlepas. Alih-alih melepas Archo justru mengeratkan cengkeramannya membuat Liora semakin kesakitan.


"Le-lepaskan Archo! Auntie tidak bisa bernafas." lirih Liora dengan wajahnya yang semakin memucat, nafasnya pun mulai tersengal-sengal serta matanya yang sudah menggenang dengan air mata.


Melihat itu sontak membuat Archo tersentuh, lalu ia pun melepaskan tangannya dari leher Liora sembari menghempasnya hingga kepalanya membentur dinding sofa dan itu persis seperti apa yang Liora lakukan pada Melan.


Uhuk-uhuk....


"Vous êtes fou! Hanya karena gadis bisu dan gak jelas itu saja kamu sampai ingin membunuh Auntie-mu sendiri, Archo!" sergah Liora seraya memegangi lehernya dan di susul batuknya sampai-sampai ingin muntah.


Archo menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya, lalu di anggukan kepalanya.


"Iya Auntie benar, aku memang sudah gila karena ingin membunuh Auntie. Tapi itu karena Auntie yang sudah keterlaluan pada Melan, bukan hanya memukulnya dan menyuruhnya pergi dari kehidupan ku, bahkan lebih parahnya Auntie meminta Melan menggugurkan kandungannya dengan menggunakan obat itu. Apa Auntie tidak punya otak sampai tega menyuruh Melan melakukan itu, hah! Dan lagi apa Auntie tidak tahu kalau anak yang di kandungnya itu anak Archo yang berarti calon anggota keluarga Fuca juga, Auntie!"


"Tentu saja aku tahu kalau anak yang wanita itu kandung adalah anakmu," ujar Liora.


Archo menyilang kedua tangannya di dada.


"Kalau Auntie sudah tahu, lantas kenapa Auntie menyuruh Melan untuk menggugurkan kandungannya dengan menggunakan obat itu? Hm!" cecarnya.


"I-itu karena perintah dari Mario Daddy kamu, Archo!" jawab Liora.


Archo mengerenyit. "Daddy?!"


Liora menganggukkan kepalanya.


"Iya, setelah kamu pergi dari rumah, Mario menyuruh ku ke Indonesia untuk menemui wanita yang kamu nikahi itu dan memberikan peringatan padanya supaya dia menggugurkan kandungannya dan secepatnya pergi sejauh mungkin dari kehidupan mu, Archo." jelasnya.


Seketika membuat raut wajah Archo berubah muram lalu di tundukkan kepalanya seraya meremas tangannya dengan kuat.


"Daddy, kenapa Daddy sampai tega ingin melakukan itu pada calon cucunya sendiri? Ini benar-benar sangat keterlaluan!"


Liora memampangkan senyum smirk-nya.


"Heh, kenapa Mario tega melakukan itu? Tentu saja karena Mario tidak menginginkan anak itu, apalagi dia terlahir dari seorang wanita yang gak jelas, rendahan, kampung dan tidak bisa berbicara. Huh, pasti anaknya juga akan bisu seperti Ibunya itu dan ini akan menjadi aib untuk keluarga kita. Oh iya satu lagi, Mario melakukan itu juga karena dia hanya ingin kamu itu bahagia hidup bersama dengan menantu pilihannya yaitu Adriene bukan wanita bisu itu, Archo." jelas Liora.


Archo menengadah kemudian mengambil cangkir teh milik Liora yang berada di atas meja dan melemparnya ke lantai.


Prang!


Pyaart!


Sehingga cangkir teh itu pecah dan berserakan di lantai.


"Archo!" sentak Liora.


Archo kembali menatap tajam Auntie-nya itu.


"Tadi Auntie bilang apa? Istriku wanita gak jelas, rendahan, kampung, tidak bisa berbicara, terus anak kami akan terlahir seperti Ibunya yang cacat dan akan membuat aib keluarga Fuca. Seperti itu, hah!"


"Ya memang seperti itu kenyataannya kan. Berbeda jauh dengan Adriene yang kehidupannya jelas, mewah, fisiknya sempurna dan tidak ada kekurangan apapun darinya." balas Liora seraya memuji Adriene.


"Oh begitu ya? Lalu bagaimana dengan Auntie sendiri? Apa Auntie sudah menemukan jati diri Auntie serta keluarga Auntie yang sebenarnya? Hm!"


"Jati diri? Keluarga? Apa maksud pertanyaan mu itu Archo?!" Ia mengernyit heran.


"Ck, bukannya Auntie juga wanita yang gak jelas asal-usulnya serta anak perempuan malang karena di telantarkan oleh orang tuanya di Panti asuhan. Iya kan Auntie?" cerca Archo.


Seketika Liora mengatupkan bibirnya dengan matanya yang terbelalak serta tangannya yang mengepal erat.


"Tapi Auntie sangat beruntung karena grand-père (Kakek) sama grand-mère (Nenek) mengambil Auntie dari Panti asuhan itu, lalu Auntie di angkat sebagai anak oleh mereka dan masuk ke keluarga Fuca sampai sekarang ini bahkan Auntie bisa menikah dengan pemilik Perusahaan terkenal di Amerika yaitu Mr Michael. Dengan semua yang Auntie dapat ini, harusnya Auntie itu bersyukur dan sadar diri, bukan malah menyombongkan diri dan menghina orang lain." ungkap Archo.


Mendengar apa yang di ungkapkan oleh Archo tentang kehidupannya membuat Liora sangat kesal. Ia pun semakin erat mengepalkan tangannya serta menggertakan giginya.


"Auntie! Coba Auntie bayangin aja, jika Auntie tidak bertemu dan di adopsi oleh keluarga kita, pasti hidup Auntie tidak akan seperti ini. Ya mungkin Auntie akan hidup terlantar, tidak bisa menikmati kemewahan, menikah dengan orang kaya bahkan status Auntie selamanya akan di kenal sebagai anak tanpa orang tua alias anak haram yang terbuang. Dan itu berarti kehidupan Auntie sangat—"


"Sudah cukup Archo! Jangan di teruskan lagi!" sergah Liora.


Archo kembali menyilang kedua tangannya di dada.


"Lho memangnya kenapa kalau aku teruskan Auntie? Apa jangan-jangan Auntie lagi ngebayangin bagaimana kehidupan Auntie jika tanpa keluarga Fuca, hm?! Lebih gak jelas lagi kan Auntie di bandingkan dengan istriku. Ya meskipun Melan hanya wanita kampung tapi dia memiliki orang tua kandung yang sangat menyayanginya, tidak seperti Auntie ini seorang parasit!"


Amarah Liora pun semakin memuncak sampai-sampai rahangnya mengeras dan urat nadinya nampak di pelipis dan lehernya. Lalu di ambilnya vas bunga yang berada di atas meja kemudian melemparkannya ke arah Archo. Seketika Archo langsung menghindar sehingga vas tersebut tidak mengenai tubuh ataupun kepala Archo.


"Bukankah aku sudah bilang jangan di teruskan tapi kenapa kamu malah meneruskan perkataan mu itu Archo?! Bahkan sampai membandingkan ku dengan wanita bisu dan mengataiku parasit. Apa kamu sudah tidak waras? Oh, apa jangan-jangan kamu memang sudah di buta kan oleh cintamu terhadap wanita bisu itu, sampai-sampai kamu jadi seperti ini, hah?!" lontar Liora dengan nada tinggi.


Archo kembali mengangguk-angguk kepalanya kemudian mencondongkan tubuhnya.


"Iya Auntie benar, aku memang tidak waras dan aku juga sudah di buta kan oleh cintaku kepada Melan. Maka dari itu aku minta sama Auntie untuk tidak mengganggu ataupun melakukan sesuatu hal yang buruk pada Melan beserta keluarganya! Kalau sampai itu terjadi ...." ia mendekat ke telinga Liora. "Maka aku tidak akan segan-segan membuat Auntie menyesal seumur hidup." sambung bisiknya menggertak Liora.


Sehingga Liora terbelalak karena terkejut mendengar gertakannya. Sesaat Archo menjauhkan wajahnya kembali dari telinga Auntie-nya sembari menegapkan tubuhnya kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah pintu.


Lalu ketika sudah berada di dekat pintu, Archo menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Auntie-nya.


"Oh iya satu lagi, tolong bilang pada Daddy untuk tidak mengganggu kehidupan ku bersama dengan istriku! Karena sekarang ini aku sudah sangat bahagia dengan wanita pilihan ku dan aku tidak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun!" kata Archo.


"Lalu bagaimana dengan Kimberly?"


Archo mengerenyit. "Kimberly?!"


Liora bangkit dari posisinya dan mendekat ke Archo.


"Iya Kimberly, aku dengar beberapa bulan lagi dia akan bebas dari hukumannya. Dan jika dia sudah keluar dari penjara lalu melihat kamu hidup bersama dengan orang lain bukannya Adriene. Kimberly pasti sangat kecewa dan sedih karena Kakak tersayangnya sudah mengkhianati keluarganya ini," cetus Liora sehingga Archo tertunduk diam.


Liora menampakkan seringainya.


"Heh, karena kamu dari tadi melawan jadi aku terpaksa menggunakan Kimberly. Sebab aku tahu kamu sangat menyayangi adikmu itu. Dan dengan begini aku jamin kamu pasti akan mengubah pikiranmu dan meninggalkan wanita bisu itu." batinnya.


Sesaat Archo kembali menengadah menatap Liora.


"Aku tidak peduli!"


"Apa kamu bilang!" Liora tercengang.


"Aku tidak peduli Auntie! Mau Kimberly marah, kecewa, sedih ataupun menganggap ku sebagai penghianat keluarga. Karena selama ini aku juga sudah sering membuat adikku itu kecewa, sedih bahkan berkali-kali membohonginya. Jadi kalau pun nantinya Kimberly kecewa dan marah padaku, itu hal yang wajar dan harus aku terima dengan ikhlas." ujar Archo yang lagi-lagi berhasil membuat Liora kesal sampai menggertakan giginya kembali.


"Tsk, dasar anak kurang ajar! Pergi kamu dari sini!" Liora mengusir Archo sambil mengarahkan tangannya ke pintu


Archo tersenyum dan berkata, "Tanpa di suruh pun aku akan pergi dari sini Auntie-ku tersayang. Permisi!"

__ADS_1


Ia pun segera membuka pintunya dan melangkah pergi meninggalkan Liora.


Braak.


"Aaargh, benar-benar anak Mario ini tidak bisa di atur sama sekali, persis seperti anak sialan itu!" sungut Liora seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.


...----------------...


Menjelang siang hari....


Sesuai dengan janjinya. Setelah pulang sekolah, Bi Nana mengajak Nara serta Rana ke makam Pak Randy.


Lalu....


"Mih, inyi apa?" tanya anak perempuan yang di gendong Bi Nana sembari menunjuk ke arah makam Papihnya.


"Ini rumah Papih Rana," jawab Bi Nana.


"Umah Apih?"


"Iya sayang. Untuk saat ini Rana memang belum tahu Papih, tapi nanti kalau Rana udah gede Rana pasti akan tahu siapa itu Papih. Sekarang kita kasih bunga ini di atas makam Papih dan doain Papih ya!"


"Iya." Rana mengangguk pelan, meskipun ia masih belum mengerti jelas apa yang di katakan oleh Mamihnya.


Lalu mereka menabur bunga di atas makam Pak Randy di lanjutkan dengan doa. Setelah selesai, Nara membuka ranselnya kemudian mengeluarkan sebuah pigura berisi gambar Pak Randy yang di buatnya itu dan meletakkannya di samping nisan Papihnya itu.


"Ini untuk Papih, semoga Papih suka sama gambar yang di buat Nara. Maaf ya Pih kalau gambarnya jelek dan tidak seperti Papih. Tapi Nara janji nanti Nara akan menggambar lebih bagus lagi supaya gambarnya lebih mirip dengan Papih. Karena Nara sayang Papih, Nara juga kangen banget sama Papih. Kangen di peluk, di gendong terus becanda lagi sama Papih," ucap Nara dan tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.


Bi Nana lalu mendekati Nara dan memeluknya sehingga tangisnya pecah di pelukan Mamihnya.


"Sabar ya sayang! Lebih baik kita doakan Papih supaya Papih tenang di sana, ya!" tutur Bi Nana seraya mengusap air mata anak lelakinya itu.


Nara mengangguk. "Iya Mih."


Sebenarnya Bi Nana juga ingin menangis sama seperti Nara, namun ia menahannya dan mencoba terlihat kuat di depan anak-anaknya.


Beberapa saat kemudian, mereka pun beranjak pergi dari tempat pemakaman tersebut. Akan tetapi mereka tidak pulang ke Villa melainkan singgah ke Resto Nara yaitu Resto milik Pak Randy.


*************************


Rumah Dimas


Siang itu Maria sedan di dalam kamar untuk menikmati waktu istirahat siangnya. Dan ketika ia hendak memejamkan matanya, Lalu tiba-tiba....


Tok.... Tok.... Tok....


Seseorang mengetuk pintu kamarnya, sehingga Maria mengurungkan niatnya seraya melihat ke arah pintu.


"Siapa?!" tanya Maria.


"Ini Bunda, Maria." sahutnya dari luar yang ternyata Bunda Artiana.


"Oh.... Masuk aja Bun! Pintunya gak di kunci kok." seru Maria.


Bunda Artiana pun mendorong pintunya hingga terbuka dan melangkah masuk ke dalam menghampiri Maria. Kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping tempat tidur.


"Ada apa Bunda?" Maria perlahan membangunkan tubuhnya dan duduk menyandar.


"Maaf ya kalau Bunda mengganggu istirahat mu dan sebenarnya Bunda kesini karena ada yang ingin Bunda bicarakan dengan kamu, Maria." ujar Bunda Artiana.


"Hmmm, memangnya Bunda mau bicara apa?" tanya Maria.


Bunda Artiana menghela nafasnya sejenak.


"Begini Maria, apa kamu tahu kalau seminggu lagi itu hari ulang tahun Bunda?"


"Syukurlah kalau kamu tahu dan tidak melupakannya." ucap Bunda Artiana.


"Ya ampun Bunda, mana mungkin Maria melupakan ulang tahun Bunda. Lalu sebenarnya apa yang ingin Bunda bicarakan itu? Apa jangan-jangan ini tentang ulang tahun Bunda?"


"Iya kamu benar Maria, Bunda memang ingin membicarakan tentang ulang tahun Bunda. Jadi gini, di hari ulang tahun Bunda nanti, Bunda ingin merayakannya dengan makan-makan bersama keluarga besar kita. Selain itu Bunda juga menginginkan sesuatu dari kamu, Maria!" jelas Bunda Artiana.


"Hah! Memangnya apa yang Bunda inginkan dariku?" Maria pun penasaran dengan apa yang di inginkan oleh Bunda Artiana.


Lalu kemudian Bunda Artiana memegang tangan anak perempuannya itu.


"Jadi begini Maria, Bunda ingin di hari ulang tahun Bunda nanti kamu sama Zuy harus akur dan tidak ada pertengkaran lagi seperti sebelumnya! Apa kamu bersedia mengabulkan keinginan Bunda ini, Maria?!"


"Apa! Bunda ingin aku sama anak durhaka itu akur?!" Maria sangat terkejut kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Bunda Artiana.


Bunda Artiana pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya Maria dan Bunda sangat menginginkan itu!"


"Maaf Bunda! Untuk yang satu itu sepertinya Maria tidak bisa mengabulkannya."


"Lho, memangnya kenapa Maria?" tanya Bunda Artiana.


Maria mendesah. "Sepertinya Bunda sudah lupa ya tentang kejadian di mana anak durhaka itu membuat rusuh di rumah ini bahkan dia sampai membuat luka pasca operasi ku kembali terbuka lagi." cicitnya.


Bunda Artiana menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Bunda tidak melupakan tentang kejadian itu. Tapi kejadian itu sudah berlalu lama dan Zuy juga tidak sengaja melakukannya Maria."


"Mau sengaja ataupun tidak, itu sama aja Bun. Dan sampai sekarang pun Maria masih membencinya. Jadi maaf Bun jika Maria tidak bisa mengabulkan keinginan Bunda itu."


Bunda Artiana memasang raut wajah yang sendu, kemudian ia kembali menggenggam tangan Maria.


"Bunda mohon sama kamu, Maria! Setidaknya untuk sehari aja kalian berdua itu akur, supaya ulang tahun Bunda tahun ini berkesan dan menjadi momen terbaik untuk Bunda serta kalian semua." kata Bunda Artiana.


"Maaf Bunda, Maria tidak bisa melakukannya." Maria memalingkan wajahnya ke arah lainnya.


"Maria Bunda mohon! Dan anggap saja ini keinginan terakhir di hari ulang tahun Bunda."


Mendengar itu seketika Maria kembali menatap Bunda Artiana.


"Bunda, apa maksud Bunda bicara seperti itu? Apa Bunda ingin meninggalkan kami semua?"


"Bunda tidak ada maksud apa-apa Maria, tapi ya yang namanya batas usia kan tidak ada yang tahu. Entah itu sekarang, besok, lusa ataupun seterusnya." ujar Bunda Artiana. "Maka dari itu sebelum terjadi, Bunda mohon padamu supaya kamu mengabulkan permintaan Bunda ini, ya Maria!" lanjutnya.


Maria berfikir sejenak, sesaat ia pun menganggukkan kepalanya.


"Iya, Maria akan mengabulkan keinginan Bunda itu."


Senyum Bunda Artiana pun mengembang sempurna, lalu Bunda Artiana bangkit dari posisinya dan memeluk Maria.


"Terimakasih Maria, terimakasih...."


"Iya sama-sama Bunda." balas Maria. "Huft, terpaksa aku mengiyakan keinginan Bunda yang gak masuk akal ini. Kalau bukan karena Bunda, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau akur dengan si anak durhaka itu." sambung batinnya.


...----------------...


Menjelang Petang....


—Pukul 08.50pm


Di tempat lainnya, lebih tepatnya di sebuah minimarket yang terletak tak jauh dari Villa, nampak Zuy dan Ray berada di sana dan tengah memilih barang yang di butuhkannya.


Karena sesaat yang lalu Zuy meminta izin ke Ray untuk pergi ke minimarket. Ray memang mengizinkannya namun dengan syarat ia juga harus ikut menemaninya, maka dari itu mereka berdua pergi bersama dengan menggunakan molly (sepeda motor milik Zuy)

__ADS_1


Setelah selesai mengambil barang yang di butuhkannya dan membayarnya di kasir. Keduanya pun beranjak pergi dari minimarket tersebut.


Ketika sudah sampai di parkiran, Ray memanggil salah satu pengawalnya yang berjaga di sana. Lalu pengawal itu pun langsung menghampirinya.


"Ada apa Tuan Ray?" tanyanya.


"Tolong kamu bawa ini ke Villa ya!" Ray memberikan dua kantong plastik berisi belanjaannya.


"Baik Tuan Ray," pengawal itu pun langsung menuruti perintah Tuannya.


Kemudian ia mengambil kantong tersebut dan bergegas ke Villa.


Lalu....


"Sayangku, ikut aku yuk!"


"Hmm, memangnya mau kemana Ray?"


"Jalan-jalan, menikmati pemandangan malam. Ya mumpung anak-anak sudah tidur sayangku," kata Ray.


Untuk sesaat Zuy membuang nafasnya seraya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya! Takutnya mereka pada bangun."


"Oke sayangku."


Ray menggandeng erat tangan Zuy, kemudian membawanya pergi dari tempat parkir tersebut dan berjalan menelusuri pantai.


"Pemandangan laut di malam hari memang selalu indah ya apalagi waktu senja." ucap Zuy.


"Iya kamu benar sayangku, tapi ada lho yang lebih indah dari pada pemandangan laut malam." ujar Ray.


"Memangnya apa yang lebih indah dari pemandangan laut malam?"


Ray menghentikan langkahnya dan menatap lekat wajah pujaan hatinya.


"Pemandangan lebih indah ya tentu saja kamu, sayangku. Karena bagiku kamu itu lebih indah dari pemandangan apapun." ungkap Ray sembari mengedipkan sebelah matanya.


Seketika Zuy mengulum senyumnya dan nampak pipinya merona.


"Kamu ini Ray, udah malam juga masih aja ngegombal."


Ray mendesah. "Sayangku ini selalu saja bilang aku gombal padahal apa yang aku katakan itu benar kalau kamu itu wanita yang paling terindah yang aku miliki."


Zuy pun menyunggingkan senyum manisnya kemudian menempatkan tangannya di pipi Ray.


"Terimakasih tampan-ku karena sudah menjadikan ku wanita terindah dalam hidupmu. Maafkan atas perkataan ku tadi dan sebagai gantinya aku ingin memberikan sesuatu untuk mu."


"Sesuatu?! apa itu sayangku?"


"Pejamkan matamu Ray!" titah Zuy.


"Baiklah sayangku." Ray menurut dan langsung memejamkan matanya.


Zuy mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Ray. Setelah itu ia membungkukkan badannya kemudian ia menyipratkan air laut ke wajah Ray.


"Kenapa asin sayangku?" tanya Ray seraya membuka matanya.


Pffft....


"Tentu saja asin karena itu air laut Ray. Hahaha...."


Ray terkejut. "Apa! Air laut?"


"Iya tampan-ku."


"Sayangku, kamu benar-benar mengerjaikuy ya!" pekik Ray.


Zuy pun tersenyum dengan menampilkan baris giginya, kemudian ia segera mengambil langkah seribu-nya menjauh dari Ray,


"Sayangku jangan kabur!" Ray langsung mengejar pujaan hatinya itu.


Sehingga keduanya saling kejar-kejaran dan sampai pada akhirnya Ray berhasil menangkap Zuy.


"Mau lari kemana kamu, sayangku?!"


"Ahahaha, iya ampun tampan-ku!"


Ray lalu mendekap tubuh pujaan hatinya.


"Ra-Rayyan!"


"Sayangku, karena kamu sudah mengerjai ku, maka aku akan memberikan hukuman untuk kamu."


"Apa! Hukuman?!"


Ray mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya sayangku dan hukumannya adalah ...."


Ia pun memberikan hukuman pada pujaan hatinya yaitu sebuah gelitikan di pinggangnya sehingga Zuy menggeliat seraya menyemburkan tawanya karena kegelian.


"Berhenti Rayyaaaan!"


...****************...


Keesokan harinya....


Sementara itu....


Davin dan Airin terlihat berada di suatu tempat. Lalu keduanya pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut seakan tengah mencari sesuatu.


"Hei singa betina!"


"Apa Pak?!"


"Kamu tidak salah jam kan?"


Airin menggeleng. "Tentu saja tidak Pak! Orang jam-nya tepat kok."


"Oh, apa jangan-jangan kita terlambat ya?!"


"Ya mungkin aja Pak." lirih Airin dengan raut wajahnya yang sendu.


Melihat itu Davin pun merangkul pundak Airin. Lalu tiba-tiba....


"Airin, Davin!"


Seseorang menyebut nama mereka berdua, seketika membuat Davin melepaskan rangkulannya kemudian keduanya pun mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut.


"Akhirnya datang juga...."


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌

__ADS_1


__ADS_2