
<<<<<
Mamahnya Airin pun membalikkan badannya menghadap ke arah orang yang berdiri di belakangnya itu.
"Ju-jurig!"
"Hantu!"
Sontak keduanya pun terkejut seraya berteriak secara bersamaan menyebut kata 'Hantu' dan itu di karenakan wajah keduanya yang sama-sama di penuhi oleh adonan moci eh masker wajah.
"Eh-eh! Kamu yang hantu malah mengatai ku hantu." pekik Mamahnya Airin.
Lalu Mamah meraih wadah berisi air yang ada di dekatnya.
"Pergi kamu, jurig! Jangan datang lagi ke rumah ini!" ucap Mamahnya Airin seraya menyiramkan air di wadah tersebut ke arah wajahnya.
"Ja-jangan siram wajahku!" pintanya.
Buuur!
Namun sayangnya terlambat, air yang di siram oleh Mamahnya Airin sudah mengenai wajahnya sehingga membuatnya basah kuyup dan masker yang di pakainya pun langsung luntur seketika.
"Maskerku yang berharga!" gumamnya sembari mengusap-usap wajahnya.
Lalu....
"Lho D-Davin!" Mamahnya Airin terbelalak sembari mengarahkan jari telunjuk ke arah orang yang di siramnya itu yang ternyata adalah Davino Roveis.
Davin lalu menengadah melihat Mamahnya Airin.
"Iya Tante, ini saya Davin."
"Ta-tapi beneran kamu ini Davin dan bukannya jurig?!" tanya Mamahnya Airin memastikan.
Davin mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya Tante beneran, ini saya Davin bukannya jurig ataupun hantu."
Mamahnya Airin menjatuhkan wadah yang di pegangnya lalu mendekat ke arah Davin.
"Ya ampun Vin, maafin Mamah ya! Mamah benar-benar gak sengaja. Habisnya kamu ngagetin Mamah sih, jadi ya Mamah refleks deh nyiram kamu," ucap Mamahnya Airin.
"Ah iya, ti-tidak apa-apa Tante. Davin juga minta maaf karena sudah mengagetkan Tante dan bilang Tante hantu. Tapi jujur tadi Davin juga beneran kaget Tan." kata Davin.
Mamahnya Airin menghela nafasnya sejenak.
"Ya gak apa-apa. Oh iya, terus kenapa jam segini kamu udah bangun dan ke dapur, Vin?"
"Ah itu, sebenarnya Davin lapar Tan, makanya Davin bangun terus ke dapur deh," jawab Davin di susul senyum yang menampilkan baris giginya.
Mamah pun manggut-manggut.
"Oh jadi kamu lapar ya? Hmmm, yaudah kalau gitu biar Mamah aja yang buatkan sesuatu untuk kamu ya?!"
"Ng-nggak usah Tan, biar Davin aja ya!" tolak Davin.
"Udah gak apa-apa, biar Mamah aja sekalian Mamah juga lapar, Vin."
"Ta-tapi Tante...."
Mamahnya Airin memegang kedua bahu Davin.
"Vin jangan menolak ya! Dari pada itu, lebih baik kamu ganti baju dulu sana, supaya gak masuk angin!"
Davin menarik nafasnya lalu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Tante. Maaf ya kalau Davin ngerepotin Tante."
"Iya gak apa-apa Vin, kaya sama siapa aja." ujar Mamahnya Airin sehingga membuat Davin tersenyum sumringah.
"Terimakasih banyak Tante. Emm, yaudah kalau gitu Davin ke kamar dulu ya Tan, mau ganti baju." pamit Davin.
Mamahnya Airin membalasnya dengan anggukan kepala, kemudian Davin berjalan menuju ke arah kamarnya.
"Kamu memang layak Vin." lirih Mamahnya Airin sembari terus memandangi punggung Davin.
Sesaat ia beralih membuka pintu kulkas dan mengambil beberapa bahan makanan. Setelah itu Mamahnya Airin langsung membuatkan makanan untuk Davin serta untuk dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian....
Kini keduanya sudah berada di meja makan dan tengah menikmati makanan yang di buat oleh Mamahnya Airin yaitu roti telur. Davin nampak lahap menyantap makanannya membuat Mamahnya Airin tersenyum melihatnya.
"Pelan-pelan makannya Vin! Nanti kamu tersedak lho kalau makannya seperti itu." tutur Mamah.
Davin menoleh ke Mamahnya Airin.
"Maaf Tan!" Davin menelan makanannya. "Habisnya roti telur bikinan Tante enak banget sih, jadi Davin gak bisa berhenti ngunyah Tan. Hehehe...."
"Hmmm, dasar kamu Vin. Tapi terimakasih ya atas pujiannya."
"Sama-sama Tante."
Sementara itu....
Di sisi lainnya, Airin nampak keluar dari kamarnya lalu ia pun berjalan ke arah dapur. Akan tetapi saat di ruang makan, langkahnya terhenti karena ia melihat Mamahnya dan Davin sedang berada di sana.
"Hmmm, pantesan Mamah di kamar gak ada, ternyata ada di sini sama Pak Davin." lirih Airin.
Ia kembali melangkahkan kakinya menghampiri Mamahnya dan Davin.
"Kalian berdua sedang apa?" seru Airin.
Sontak keduanya pun mengalihkan pandangannya ke arah Airin.
"Rin! Kamu bangun Nak?!"
"Iya Mah." balas Airin.
"Hai singa betina yang manis." Davin melambaikan tangannya ke Airin.
Airin tersenyum lalu menarik kursi yang berada di dekat Davin dan mendudukinya.
"Nah, sebenarnya kalian berdua lagi apa di sini?"
"Lagi makan Rin." jawab Davin.
Seketika mata Airin membulat saat melihat makanan yang ada di piring Davin.
"Wah roti telur nih, kebetulan aku sedang lapar!" ujar Airin lalu mengambil roti di piring Davin dan menyantapnya.
"Hei-hei singa betina! Kenapa punyaku di makan sih?" gerutu Davin.
"Maaf Pak, habisnya aku lapar. Hihihi...."
"Humph!" Davin cemberut seraya mengerucutkan bibirnya sehingga Airin terkekeh.
Melihatnya pun membuat Mamahnya Airin menggeleng-gelengkan kepala. Lalu....
"Kamu ini Rin-Rin, selalu saja godain orang. Kasihan kan Davin."
"Ahahaha iya maaf Mah!" ucap Airin.
Mamahnya Airin mendesah kemudian mengambil roti telur yang berada di piring lainnya dan memberikannya pada Davin.
"Ini untuk kamu, Vin."
Dalam sekejap wajah Davin yang cemberut langsung berubah sumringah.
"Terimakasih Tante cantik."
__ADS_1
"Iya sama-sama Vin."
Airin menyodorkan piringnya ke Mamahnya.
"Mah, Airin juga mau dong!"
"Ambil aja sendiri Rin! Tuh masih ada beberapa potong lagi." ujar Mamahnya sehingga Airin memanyunkan bibirnya.
Lalu....
"Hei singa betina!"
Airin menoleh. "Apa!"
"Bleeeh!"
Davin menarik salah satu kantung matanya sembari menjulurkan lidahnya ke arah Airin, seketika membuat Airin mengernyitkan dahinya dan mendengus kesal kemudian ia beralih ke Mamahnya.
"Huumph, Mamah mah giliran Pak Davin aja di ambilin tapi kalau Airin suruh ngambil sendiri. Sebenarnya anak Mamah siapa sih?" gumamnya.
"Kalian semua anak-anak Mamah. Udah jangan bergumam gitu anak manis! Lebih baik kita habiskan roti telurnya, setelah itu baru kalian bisa tidur lagi dengan nyenyak atau mau mengobrol dulu juga gak apa-apa." kata Mamahnya Airin.
Airin dan Davin langsung menganggukkan kepalanya secara bersamaan.
"Iya Mamah."
"Oke Tante."
Lalu mereka bertiga kembali menyantap makanannya.
...----------------...
Tak terasa malam berlalu begitu cepat, berganti dengan pagi yang cerah dengan di sinari cahaya hangat dari sang mentari yang mulai merangkak naik.
—Pukul 08.25am
Zuy, Ray, Davin beserta si kembar sedang berada di teras Villanya, karena Ray dan Davin akan bersiap-siap untuk berangkat ke Perusahaannya.
"Sayangku, aku berangkat ya!"
"Iya, yang semangat ya kerjanya!"
"Siap sayangku yang cantik."
Lalu....
"Da,da...." oceh Baby Zea.
Seketika Ray beralih ke arah kedua anaknya.
"Ada apa cantiknya Daddy?!"
Baby Zea mendekat ke arah pipi Daddy-nya dan menciumnya membuat Ray tersenyum sumringah.
"Duh cantiknya Daddy udah pinter nyium Daddy-nya ya! Sini Daddy juga mau cium."
Ray lalu mencium gemas pipi tembem Baby Zea dan Baby Rayn secara bergantian. Setelah selesai ia pun beralih ke pujaan hatinya dan ....
Cup!
Ray mendaratkan ciuman mesra di kening dan kedua pipi Zuy dan ketika Ray ingin mencium bibir pujaannya, tiba-tiba dari arah belakang Davin menarik kerah jas Ray.
"Tuan Ray, sudah cukup misteri cup-cupannya! Kita harus segera berangkat karena satu jam lagi akan ada rapat Perusahaan dan anda harus hadir di rapat tersebut!" ujar Davin.
"Ck, iya aku tahu Kak. Tapi setidaknya beri aku waktu dua menit lagi!"
"Nggak ada dua menit, dua menitan! Anda bilang dua menit tapi nanti ujung-ujungnya sampai dua jam dan lagi ini masih pagi Tuan Ray. Jangan sampai pagi yang hangat berubah menjadi panas gara-gara ulah kalian berdua ini." gerutu Davin membuat Ray berkerut kening.
"Huh, bener-bener adonan moci ini!" Ray bergumam lalu melihat ke arah Zuy dan anak-anaknya. "Sayangku, anak-anak ku, Daddy berangkat ya!" lanjutnya.
"Iya, kalian berdua hati-hati ya!" ucap Zuy.
Ray dan Davin melambaikan tangannya lalu di balas oleh Zuy begitu juga dengan si kembar sambil memberikan kiss bye pada Daddy-nya itu. Sesaat kemudian Ray dan Davin pun melenggang pergi meninggalkan Zuy dan si kembar.
"Ayo anak-anak kita ke Mommy Yi liat Baby Ayleen!"
Zuy mendorong stroller anaknya dan berjalan ke arah Villa family A. Akan tetapi ....
"Ain, Jea!" seru seorang anak kecil.
Seketika Zuy langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah suara tersebut yang tak lain adalah ....
"Lho Rana, Mba Irma!"
Dengan langkah kecilnya, Rana berjalan menghampiri Zuy. Ketika sudah di dekat Zuy, Rana langsung mencium tangan Zuy.
Lalu....
"Oh iya, Bi Nana-nya mana Mba? Apa masih di depan?" tanya Zuy mengedarkan pandangannya.
"Nyonya Nana langsung pergi, Non."
Zuy mengerenyit. "Hmmm, Pergi! Memangnya pergi kemana Mba?"
"Tadi sih bilangnya mau ke tempat temannya karena ada suatu urusan. Makanya Nyonya cuma ngantar kami sampai depan aja. Terus katanya kalau udah selesai dengan urusannya, Nyonya bakal langsung kesini, Non."
Zuy manggut-manggut. "Oh begitu ya Mba."
"Iya Non."
"Hmmm, yaudah kita ke Villanya Kak Aries yuk!" ajak Zuy.
Irma menganggukkan kepalanya, kemudian mereka pun kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah Villa family A.
********************
Rumah Dimas
Sementara itu, terlihat sebuah mobil baru saja masuk ke halaman rumah Dimas dan berhenti di depan rumahnya. Setelah itu, seorang wanita pun turun dari mobilnya dan wanita itu tak lain adalah Bi Nana.
Ternyata Bi Nana berbohong pada Irma, ia sebenarnya tidak pergi ke tempat temannya melainkan ke rumah Dimas.
Bi Nana melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu, ketika sudah di depan pintu dan secara bersamaan pula Mira keluar.
Lalu....
"Em, kalau gak salah ingat, Nyonya ini Tantenya Nona muda Zuy, ya?!" tanya Mira.
Bi Nana tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Iya saya Bibinya Zuy dan kedatangan saya kesini, saya ingin bertemu dengan Nyonya Artiana. Apa beliau ada?!"
"Maaf Nyonya! Nyonya besar sedang pergi ke rumah sakit."
Bi Nana manggut-manggut.
"Oh.... Kalau begitu bagaimana dengan Maria?!"
"Kalau Mrs Maria ada di kamarnya Nyonya." jawab Mira.
"Syukurlah, bisa tolong panggilkan Maria tapi jangan bilang kalau saya mencarinya, ya!"
Mira mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baik Nyonya. Em, silahkan masuk dan tunggu di dalam Nyonya!"
"Terimakasih."
Bi Nana melangkah masuk kemudian mendudukkan dirinya di atas sofa. Sedangkan Mira bergegas menuju ke arah kamar Maria.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Mira kembali bersama dengan Maria.
"Mana orang yang ingin bertemu dengan ku, Mir?" tanya Maria.
"Itu orangnya sedang duduk, Mrs Maria." jawab Mira.
"Oh...."
Lalu....
"Maaf, anda siapa ya? Ada perlu apa mencari saya?" tanya Maria karena posisi Bi Nana membelakanginya.
Mendengar suara Maria, seketika Bi Nana langsung bangkit dari posisinya dan membalikkan badannya menghadap ke Maria.
"Lama kita tidak berjumpa, Maria."
Sontak Maria terkejut seraya membelalakkan matanya saat melihat Bi Nana di hadapannya.
"Nana!"
Bi Nana tersenyum sinis kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Mira.
"Maaf Mba, tolong tinggalkan kami! Soalnya saya ingin bicara penting dengannya dan hanya kami berdua saja!" pinta Bi Nana pada Mira.
Mira pun langsung menuruti permintaan Bi Nana dan pergi meninggalkan keduanya. Lalu Bi Nana mendekat ke arah Maria.
"Ada perlu apa kamu datang kesini Na?!"
"Keperluan ku? Tentu saja aku ada perlu dengan mu, Maria. Dan juga ...."
Plaak!
Tiba-tiba Bi Nana mendaratkan tamparannya ke pipi Maria sehingga Maria tersentak kaget.
"Tsk kurang ajar! kenapa kamu menampar ku, Nana!"
"Kenapa aku menampar mu? Ya itu karena aku sangat ingin melakukannya bahkan dari waktu itu, di mana saat kamu menyiksa gadis kecilku, Maria!" jelas Bi Nana dengan sorot matanya yang tajam.
Bukannya takut Maria malah menyunggingkan senyum smirk-nya.
"Heh, jadi ceritanya kamu ingin balas dendam padaku karena aku sudah melukai anak durhaka kesayangan mu itu? Hmm, kamu memang Bibi yang paling baik ya sekaligus bodoh!"
Mendengarnya seketika Bi Nana langsung mencengkeram kerah baju Maria.
"Berhenti menyebut gadis kecilku dengan anak durhaka, Maria!" sergah Bi Nana.
"Memangnya kenapa kalau aku menyebutnya anak durhaka? Hah! Nyatanya memang benar kan kalau dia itu anak durhaka dan lagi wanita j*lang perebut milik orang." lontar Maria.
Amarah Bi Nana pun mulai memuncak sampai-sampai ia kembali menampar Maria dan kembali mencengkeramnya.
"Tau apa kamu tentang Zuy sampai-sampai kamu menyebutnya anak durhaka dan wanita j*lang. Apa kamu pernah merawatnya sampai dewasa? Apa pernah kamu memberinya makan dan kehidupan layak, memberinya kasih sayang sebagai seorang Ibu, mengantarnya berobat di saat dia sakit parah atau memberinya pelukan hangat di saat ia di bully oleh anak-anak lainnya karena di anggap anak haram. Apa pernah kamu melakukan semua itu Maria, hah!" cerca Bi Nana.
Maria menengadah menatap Bi Nana.
"Aku ..., aku memang tidak pernah melakukan itu semua, tapi aku bisa merasakan sakit dan sesak jika terjadi sesuatu padanya, Na."
"Oh, jadi kamu bisa merasakan itu? Lalu bagaimana saat kamu berkali-kali menyiksanya, menamparnya dan menyebutnya anak durhaka, apa kamu juga merasakan apa yang kamu katakan barusan? Hm!"
"Aku—" Maria pun terdiam seraya menundukkan kepalanya.
"Aku apa, hah! Apa kamu mau bilang juga kalau kamu merasakan sakit saat menyiksanya, begitu?!" cecar Bi Nana.
Maria pun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan. Dan untuk sesaat Bi Nana menarik nafasnya.
"Maria Lestari, kalau kamu benar-benar merasakan sakit, kamu tidak mungkin tega melakukan itu terhadap Zuy. Tapi sayangnya kamu malah terus-terusan melakukan hal yang membuat Zuy terluka. Kamu benar-benar sangat keterlaluan Maria!"
Maria kembali mengangkat kepalanya.
"Iya kamu benar aku memang sangat keterlaluan, tapi aku melakukannya juga karena aku ingin mengajarinya supaya dia jadi wanita baik dan bukan menjadi wanita j*lang perebut milik orang lain seperti apa yang di katakan oleh Desi."
Bi Nana mengernyitkan dahinya.
"Desi? Siapa itu Desi?!"
"Kamu tidak perlu tahu siapa itu Desi, yang jelas dia mengatakannya semua padaku bahwa si anak durhaka itu sudah merebut calon tunangannya dan bahkan memfitnahnya sehingga ia di pecat oleh atasannya."
Bi Nana lalu menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Oh.... Sepertinya aku tahu siapa yang kamu maksud Desi itu. Lantas kamu langsung percaya dengan perkataannya itu? Hm!"
"Tentu saja aku percaya, karena memang benar bahwa si anak durhaka itu wanita j*lang perebut milik orang lain."
"Hmmm, Maria-Maria! Percuma kamu punya sepasang mata tapi menilai anakmu sendiri dari telinga! Menelan mentah-mentah perkataan orang yang belum tentu kebenarannya." cicit Bi Nana.
"Lalu bagaimana dengan Ray calon tunangan Kimberly? Bukankah si anak durhaka itu sudah merebutnya dan itu membuktikan bahwa si anak durhaka itu benar-benar wanita j*lang! Dan itu pasti karena kamu mengurusnya tidak benar, makanya dia jadi seperti itu. Aku sangat menyesal karena meninggalkannya dan hidup bersama dengan orang seperti mu, Na." cerca Maria.
Mendengar itu, Bi Nana pun menampakkan seringainya.
"Kamu bilang aku mengurusnya tidak benar? Lantas bagaimana dengan Kimberly si anak emas yang kamu manjakan itu? Aku dengar kalau sekarang dia mendekam di penjara gara-gara berseteru dengan sesama model. Apa itu yang di sebut sebagai anak yang berperilaku baik seperti apa yang kamu katakan? Hm!" cetus Bi Nana. "Aku jadi curiga apa jangan-jangan dia seperti itu karena hasil didikan darimu. Iya kan Maria?" sambung lontarnya seraya menyinggung Maria.
"Nana! Kamu benar-benar menguji kesabaranku!"
Maria nampak sangat kesal dengan apa yang di lontarkan oleh Bi Nana padanya, lalu ia mengambil gelas yang berada di atas meja dan melemparkannya ke arah Bi Nana. Namun dengan sigap Bi Nana berhasil menghindarinya dan kembali menampar wajah Maria hingga dua kali.
"Nana, kamu sangat keterlaluan!" sentak Maria.
"Apa kamu bilang! Aku keterlaluan?! Bukannya kamu yang keterlaluan Maria! Dan apa yang aku lakukan ini tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan terhadap gadis kecilku itu."
"Hmm, kamu memang benar-benar sangat menyayangi anak durhaka itu ya Na sampai membalas apa yang aku lakukan padanya."
Bi Nana mencondongkan tubuhnya ke Maria.
"Tentu saja, bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu bahwa aku sangat menyayanginya karena aku adalah Ibunya dan aku yang sudah membesarkannya. Tidak seperti dirimu yang meninggalkannya selama bertahun-tahun dan bahkan menyiksanya. Hmm, aku jadi kepikiran kalau penyakit yang kamu alami ini bukan penyakit biasa melainkan karma mu sendiri karena sudah menjadi Ibu yang sangat kejam." ujarnya.
Maria berdecak. "Ck, kamu jangan berkata yang bukan-bukan Na. Ini memang penyakit ku tidak ada kaitannya dengan yang namanya karma dan asal kamu tahu Na, tidak ada yang namanya karma untuk Ibu kandung, justru yang ada karma untuk anak durhaka macam dia."
Bi Nana mendesah. "Hmmm, terserah kamu mau bilang apa Maria, yang pasti penyakit mu adalah karma yang harus kamu jalani."
Maria pun mendengus dan kembali menampakkan kerut di keningnya.
"Na, dari pada kamu semakin bikin aku naik darah karena ocehan mu itu, lebih baik kamu pergi dari sini sebelum aku melakukan sesuatu terhadap mu!" Maria mengarahkan tangannya ke arah pintu.
"Heh, tanpa di usir pun aku juga akan segera pergi dari sini dan aku sedikit puas karena sudah membalaskan apa yang sudah kamu lakukan terhadap gadis kecilku itu, Maria Lestari."
Bi Nana lalu mengambil tasnya dari atas sofa kemudian bergegas pergi meninggalkan Maria tanpa berpamitan padanya.
"Dasar adik kurang ajar, sifatnya sama seperti anak durhaka itu! Tidak ada sopan-sopannya terhadap ku." sungut Maria.
......................
Beberapa hari kemudian.....
—Pukul 12.00am
Dimas, Eqitna, Maria dan Mira berada di depan kamar Bunda Artiana dan terlihat dari tangan Eqitna memegang sebuah kue ulang tahun. Lalu perlahan Dimas memutar handle pintu seraya mendorong pintunya hingga terbuka. Kemudian semuanya pun bergegas masuk ke dalam kamar Bunda Artiana.
Dimas lalu mendudukkan dirinya di kursi samping Bunda Artiana.
"Bunda, Bunda." Dimas membangunkan Bunda Artiana yang sedang tertidur dengan posisi terlentang dan tangannya di atas perutnya.
Bukannya bangun, Bunda Artiana malah semakin terlelap dan nampak dari wajahnya yang sudah mulai memucat. Melihat itu pun sontak membuat Dimas yang lainnya terkejut serta panik.
"Bunda bangun, Bunda!"
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌