Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Singa Betina....


__ADS_3

<<<<<


Zuy dan Davin pun menyunggingkan senyumannya ke arah Airin, lalu kemudian ....


"Happy Birthday Airin...."


Zuy dan Davin mengucapkan kata Happy birthday secara bersamaan kepada Airin yang ternyata hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sontak membuat Airin tertegun serta terharu seraya menutup hidung dan mulutnya dengan kedua tangannya, bahkan aliran bening dari matanya pun lolos dan mengalir membasahi pipinya.


"Kalian ...." lirih Airin.


Zuy pun mendekat ke Airin, kemudian ia menempatkan satu tangannya di bahu Airin, lalu di usapnya air mata Airin dengan tangan yang satunya lagi.


"Selamat ulang tahun yang ke 26 tahun ya Rin! Semoga kebahagiaan selalu menyertai mu, di mudahkan segala sesuatunya, di berikan kesehatan dan kesuksesan selalu, serta semua doa yang terbaik dari ku untuk kamu, Rin." Zuy memberikan doanya untuk Airin.


Seketika Airin langsung memeluk erat tubuh sahabat sekaligus Kakak angkatnya itu.


"Terimakasih Zuy karena kamu selalu mengingat akan hari ulang tahunku dan selalu memberikan kejutan untuk ku. Terimakasih juga atas doa yang kamu berikan untuk ku, aku benar-benar sangat bahagia Zuy." ucap Airin tersedu-sedu.


"Sama-sama Rin," balas Zuy mengelus punggung Airin.


Lalu....


"Ehemm-ehem," Davin berdehem membuat pandangan Airin beralih ke arahnya.


"Pak Davin...."


Davin tersenyum dan berkata, "Happy birthday singa betina yang manis, semoga hari-hari mu selalu manis, semanis kue ulang tahun ini dan kamu, semoga semua apa yang kamu citakan segera tercapai, serta doa yang terbaik untuk mu, Rin."


Mendengar itu membuat Airin menyunggingkan senyum sumringahnya meskipun di barengi dengan air matanya yang kembali mengalir.


"Terimakasih Pak Davin," ucap Airin.


"Sama-sama Rin-Rin," balas Davin.


Zuy yang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa tersenyum saja, lalu sesaat Zuy melepaskan pelukannya.


"Ayo kita tiup lilinnya!" ajak Zuy.


"Iya, tapi tunggu sebentar!" Airin memandangi kue yang di pegang oleh Davin, sesaat pandangannya beralih ke arah Davin seraya memicingkan matanya.


"Ke-kenapa kamu melihat ku seperti itu Rin?" tanya Davin.


"Zuy...." panggil Airin.


"Ada apa Rin?"


"Tulisan Singa betina di kue ini pasti bukan kamu yang buat kan?" Airin bertanya sekaligus menunjuk ke arah kuenya.


"Iya memang bukan aku yang buat tapi Pak Davin. Soalnya aku ngehias kuenya bareng sama Pak Davin." jelas Zuy menunjuk ke Davin menggunakan ibu jarinya.


Airin mendesah. "Pantas saja, mana ada gambar singa betina segala lagi. Huh! Dasar Pak Davin ini," gumamnya.


"Hehehe, sorry Rin! Habisnya kamu itu mirip sekali dengan singa betina, apalagi kalau rambutmu acak-acakan gitu." ucap Davin.


Sehingga membuat Airin mendengus kesal.


"Humph!"


"Dasar kalian berdua ini," lirih Zuy menepuk jidatnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lalu....


"Jangan ngambek Rin-Rin! Nanti manis kamu luntur lho kaya masker ku yang kamu sembur kemarin malam."


Seketika membuat Zuy terperangah. "Hah! Memangnya kamu pernah menyembur Pak Davin, Rin?"


Airin mengangguk. "Iya Zuy sampai masker Pak Davin luntur karena semburan ku."


Pffft...


Sontak Zuy pun langsung menyemburkan tawanya karena perkataan Airin sambil membayangkan bagaimana wajahnya saat maskernya luntur, begitu pula dengan Airin yang ikut tertawa juga.


Sesaat....


"Aduh-aduh...." pekik Airin memegangi perutnya.


"Hmmm, kamu kenapa Rin?" tanya Zuy.


"Aku...."


"Ya...."


"Aku ingin buang air Zuy, soalnya udah gak tahan banget nih," ujar Airin membuat Zuy dan Davin terperangah.


"Ya ampun Rin, kirain aku kamu kenapa, gak taunya cuma ingin buang air kecil."


"Huh, dasar singa betina." gumam Davin sehingga Airin tersenyum menampilkan baris giginya.


"Yaudah sana kalau mau ke kamar mandi! Nanti setelah selesai kamu langsung ke ruang keluarga aja ya!"


"Oke Zuy."


Kemudian Airin membalikkan badannya dan masuk ke dalam kamarnya kembali.


"Jangan lama-lama Rin! Soalnya aku sudah lapar dan ingin cepat-cepat makan kue ulang tahun mu ini," seru Davin.


"Iya-iya Pak Davin," balas Airin dari dalam kamarnya.


Zuy memutar badannya menghadap ke arah Davin.


"Ayo kita ke sana Pak!" ajak Zuy dan di balas anggukan kepala oleh Davin.


Lalu mereka berdua pun melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang keluarga.


Sesaat kemudian....


Setelah selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi, Airin pun bergegas menuju ke ruang keluarga. Setibanya di sana...


"Maaf semuanya kalau aku sedikit lama," ucap Airin menghampiri Zuy dan Davin yang tengah duduk di atas lantai yang beralasan karpet.


"Tidak apa-apa Rin," balas Zuy. "Ayo duduk sini!" sambungnya.


Airin mengangguk dan duduk di tengah-tengah antara Zuy dan Davin. Lalu Davin menyalakan pemantik api dan mengarahkannya ke arah lilin dengan angka 26 yang berada di atas kuenya. Seusai lilin di nyalakan, Davin kembali mengangkat kuenya dan menyodorkannya ke Airin.


"Jangan lupa berdoa dulu sebelum meniup lilinnya!" tutur Davin.


Airin mengangguk. "Pasti Pak."


Lalu Airin memejamkan matanya seraya merekatkan jari tangannya.


"Terimakasih atas semua yang telah Engkau berikan untuk ku Tuhan. Engkau telah menghadirkan semua orang-orang baik di sekeliling ku, orang-orang yang selalu membantu dan memberikan ku kebahagiaan tak terhingga. Dan aku mohon Pada-Mu Tuhan jaga dan lindungilah selalu keluarga ku serta orang-orang berada di dekat ku terutama sahabat sekaligus Kakak ku yaitu Zoey Lestari." Doa Airin dalam hatinya.


Selesai berdoa ia pun mengusap wajah dengan tangannya, lalu di tiupnya lilin yang berada di depannya itu.


Fyuuuh....


Hembusan nafas Airin seketika membuat lilin tersebut padam.


"Yeaaaa.... Selamat ya Rin." seru Zuy.


Airin tersenyum lalu berucap, "Terimakasih Zuy."


"Cepat potong kuenya Rin-Rin! Jangan lupa bagian ku yang gede ya." pinta Davin.

__ADS_1


"Ck, iya-iya Pak Davin."


Airin pun memotong kue ulang tahunnya, setelah itu ia mengambil kue yang telah di potongnya dan terlebih dahulu memberikannya pada Zuy.


"Aku suapin ya!" pinta Airin.


"Baiklah." Zuy pun membuka mulutnya.


Dan saat kue itu hendak di suapkannya ke dalam mulut Zuy, tiba-tiba Davin menarik tangan Airin dan memasukkan kue yang di tangan Airin ke dalam mulutnya.


"Pak Davin!" pekik Zuy dan Airin serempak.


"Sorry girls! Cacing di perutku sudah berdemo, jadi aku terpaksa mengambil jatah kue milik Zuy, hehehe...." ucap Davin di susul tawa kecilnya.


Airin mendengus. "Huh! Alasan aja nih Pak Davin, padahal aslinya ingin mendapat suapan pertama dari aku, iya kan?" celetuknya.


"Ya itu juga termasuk Rin, hehehe...."


Airin pun memutar bola matanya sambil menghela nafasnya, lalu ia mengambil potongan kue lagi dan menyuapkannya pada Zuy.


"Zuy, enak juga kue bikinan kamu ini. Rasanya gak kalah dari kue-kue yang ada di toko." Davin memuji kue buatan Zuy.


"Terimakasih atas pujiannya Pak," ucap Zuy.


"Kue bikinan Zuy memang selalu enak Pak. Dan ini untuk ke berapa kalinya Zuy membuatkan kue ulang tahun untuk ku," papar Airin.


"Benarkah? Wah, aku juga mau dong di buatkan kue oleh mu, Zuy."


Zuy manggut-manggut. "Boleh, nanti Zuy buatkan untuk Pak Davin."


"Yes! Terimakasih Zuy." ucap Davin dengan senangnya.


"Sama-sama Pak."


Mereka pun kembali memakan kuenya. Lalu tiba-tiba....


"Ternyata kamu di sini sayangku," seru Ray yang berjalan menuruni tangga.


Seketika membuat Zuy, Airin dan Davin menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut.


"Ray!" lirih Zuy.


Airin lalu mendekat ke Davin. "Pak Davin...."


"Iya Rin," sahut Davin.


"Pak, apa barusan kita terlalu berisik sampai Tuan bos terbangun dari tidurnya?" bisik Airin.


"Kalau menurutku bayi gede bangun bukan karena kita berisik, Rin. Tapi karena induknya gak ada di sampingnya makanya dia bangun," ujar Davin sehingga membuat Airin terkekeh geli mendengarnya.


"Oh gitu ya Pak, hihihi...."


Sesaat setelah berada di dekat mereka, Ray pun langsung mendekat ke pujaan hatinya dan duduk di sampingnya.


"Sedang apa kalian bertiga di sini?" tanya Ray.


"Kami sedang makan kue Tuan bos," jawab Airin.


Ray mengerenyit. "Makan kue?"


"Begini Ray hari ini kan Airin ulang tahun, jadi kami sedang merayakannya," ujar Zuy.


"Benarkah itu Rin?" tanya Ray pada Airin.


Airin langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya Tuan bos, hari ini saya ulang tahun." jawab Airin.


"Terimakasih Tuan bos." ucap Airin. "Oh iya, Tuan bos mau kue? Ini buatan dari chef cantik lho." sambungnya.


"Buatan Chef cantik? Ah, tapi bagiku secantik apapun dia, tidak akan bisa mengalahkan Chef cantik yang ada di sebelah ku ini yang masakannya luar biasa enak," kata Ray mencium kepala pujaan hatinya itu.


Seketika membuat wajah Zuy merona mendengar perkataan Ray.


"Kamu bisa aja Ray," lirih Zuy.


"Tuan bos, maksud saya yaitu Chef cantik yang di sebelah Tuan bos yang membuatkan kue ini untuk ulang tahun saya," jelas Airin.


"Apa!" Ray tersentak. "Jadi ini kue buatan kamu, sayangku?" sambung tanyanya pada Zuy.


"Iya Ray, itu memang buatan ku." jawab Zuy mengangguk.


"Oh, yaudah kalau begitu. Sayangku, tolong ambilkan kue itu untukku!"


"Baiklah...."


Ia lalu memotong kue tersebut dan memberikannya pada Ray.


"Ini kuenya Ray." ujar Zuy.


"Suapi aku sayangku!" pinta Ray manja.


Sehingga membuat Zuy tidak bisa menolak permintaan dari Daddy-nya si kembar. Ia pun menyuapkan kue yang berada di tangannya itu ke dalam mulut Ray.


"Hmmm, benar-benar enak kue buatan sayangku apalagi di tambah suapan tangannya," lagi-lagi Ray memuji pujaan hatinya itu.


"Terimakasih untuk pujiannya tampan-ku," ucap Zuy.


"Anytime...." balas Ray mencium kilat bibir pujaan hatinya itu.


Sehingga membuat Davin dan Airin yang berada di dekat mereka langsung memalingkan pandangannya ke arah lainnya.


"Aku tidak melihat apa-apa, aku tidak melihat apa-apa." ucap Davin berulang-ulang.


Mendengar itu, Airin langsung menepuk-nepuk punggung Davin. "Hihihi, yang sabar ya Pak Davin!"


Lalu acara makan kue pun berlanjut hingga selesai.


...----------------...


Tak terasa Malam yang panjang dan penuh kejutan pun kini telah berganti menjadi pagi cerah dan di sinari cahaya *menta*ri.


Sementara itu, Airin terlihat sedang berada di halaman samping Villa dan duduk di ayunan kursi sambil memandangi tanaman yang berada di sana. Nampak senyumnya yang merekah karena ia mengingat akan kejutan semalam yang di berikan oleh Zuy dan lainnya.


"Ulang tahun kali ini sangat berkesan untuk ku. Tapi sayangnya Mamah dan Rion tidak ada disini, coba aja kalau mereka juga ada, pasti mereka akan ikut memberikan kejutan untuk ku sama seperti Zuy, Tuan bos dan Pak Davin," lirih Airin.


Lalu tiba-tiba....


"Ehemm...."


Suara seseorang berdehem, seketika membuyarkan lamunan Airin, ia pun langsung melirik kan matanya ke arah suara tersebut yang tak lain adalah ....


"Pak Davin!"


Davin pun tersenyum dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Airin, kemudian ia duduk tepat di sebelah Airin.


"Duh mentang-mentang ulang tahun, jadi hawanya pengin senyum-senyum terus ya singa betina," ujar Davin.


"Jelas dong Pak Davin, apalagi ulang tahun ku kali ini sangat spesial karena mendapatkan kejutan dari orang-orang yang aku sayangi," kata Airin.


"Aduh, kenapa aku jadi merasa senang ya mendengar perkataan mu itu," ucap Davin.


Seketika membuat Airin langsung memukul lengan Davin menggunakan sikunya.

__ADS_1


"Ck, apa sih Pak! Selalu saja becanda." gumam Airin.


"Hihihi, sorry Rin-Rin."


Airin menghela nafasnya dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi ayunan itu.


"Haaa, walaupun aku bahagia dengan kejutan yang di berikan oleh kalian, tapi tetap saja masih ada yang kurang Pak."


Davin mengernyit. "Ada yang kurang?"


"Iya Pak, sebab tidak ada Mamah dan Rion yang ikut merayakannya. Ya meskipun mereka sudah mengucapkannya lewat telepon, tapi tetap saja Pak." ujar Airin menundukkan kepalanya seraya memasang wajah sendunya.


Davin lalu menempatkan tangannya di atas kepala Airin.


"Hei singa betina, jangan sedih begitu dong! Walaupun mereka tidak ada di sini, tapi kan mereka sudah mengucapkan ulang tahun serta memberikan doa untuk mu. Jadi ya menurut ku itu sama saja Rin daripada tidak mengucapkannya sama sekali," tutur Davin sambil menurunkan tangannya dari kepala Airin.


Kemudian Davin merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalamnya, lalu ia menyodorkan kotak tersebut pada Airin. Sontak membuat Airin tercengang dan membelalakkan matanya.


"A-apa ini Pak?" tanya Airin.


"Hadiah ulang tahun untuk mu!" jawab Davin.


"Hah! Untuk ku?"


Davin mengangguk. "Iya untukmu, Rin. Ambil dan bukalah!"


Airin lalu mengambil kotak tersebut dari tangan Davin dan membukanya. Setelah selesai di buka Airin pun terperangah melihat isi dari kotak itu yang ternyata adalah ....


"Kunci!" Airin mendongakkan kepalanya ke arah Davin. "Ini kunci apa Pak?" sambung tanyanya yang keheranan.


Lalu tiba-tiba Davin bangkit dari posisinya dan mengulurkan tangannya ke arah Airin.


"Ayo ikut!"


"Ikut? Ikut kemana Pak?"


Davin berdecak dan meraih tangan Airin.


"Sudah jangan banyak tanya. Nanti juga kamu akan tahu Rin," cetus Davin.


Airin kembali menghela nafasnya dan beranjak dari tempatnya. Lalu mereka berdua pun melangkahkan kakinya menuju ke arah di mana Davin tuju.


Sesaat setibanya di tempat, Airin pun ternanap karena tempat yang di maksud Davin adalah tempat parkir khusus milik Tuan Villa.


"Ke-kenapa aku di bawa kesini Pak?" lagi-lagi Airin bertanya karena keheranan.


"Ya sebab hadiah kamu yang sebenarnya ada di sini Rin, makanya aku bawa kamu kesini," ujar Davin.


"Hadiah sebenarnya?"


Davin mendesah. "Sekarang kunci yang aku kasih mana Rin?"


"Ini Pak Davin." Airin menunjukkan kunci yang di berikan oleh Davin.


"Coba kamu tekan tombol remote yang ada di kunci itu, kalau menyala dan berbunyi berarti itu hadiah kamu, Rin." papar Davin.


Airin menuruti perkataan Davin dan di tekannya tombol remote tersebut. Lalu tiba-tiba....


Tiit.... Tiit....


Suara nyaring terdengar dari sebuah kendaraan yang berada di belakang Airin, sontak membuat Airin terperanjat dan langsung membalikkan badannya ke arah suara tersebut yang ternyata adalah sebuah motor matic berwarna hitam merah.


"Pak Davin, ini ...." Airin menunjuk ke arah motor tersebut dengan tangannya yang gemetar.


Davin kembali menyunggingkan senyumnya dan berkata, "Hadiah untuk kamu, Rin. Maaf aku tidak bisa memberikan hadiah yang lebih besar seperti apa yang Tuan Ray berikan untuk Zuy. Namun aku berharap semoga kamu menyukai hadiah yang aku berikan untuk mu, Rin."


Mendengar itu Airin tertegun dan langsung memeluk erat tubuh Davin.


"Terimakasih banyak untuk hadiahnya Pak, aku benar-benar menyukai apapun yang Pak Davin berikan untukku," ucap Airin di selingi titisan air matanya.


Davin membalas pelukan Airin dan mengelus rambutnya.


"Syukurlah kalau kamu menyukainya, Rin." kata Davin. "Dan teruslah menjadi singa betina yang manis, Rin." sambung batinnya.


******************************


AMERIKA


Β°Kediaman Daddy Michael


Di dalam ruang kerjanya. Daddy Michael nampak tengah melakukan panggilan video melalui laptopnya.


Setelah terhubung, seketika senyum Daddy Michael langsung mengembang saat melihat anak yang ia sayangi yang tak lain adalah Ray dan Zuy beserta si kembar.


"Hai Dad...." suara Ray dari seberang sambil melambaikan tangannya.


"Hai juga boy, bagaimana kabar kalian semuanya?" tanya Daddy Michael.


"Kabar kami baik Dad, lalu bagaimana dengan Daddy sendiri?"


"Kabar Daddy juga baik, Ray." jawab Daddy Michael. "Hai cucu-cucu Grandpa," sambungnya menyapa kedua cucunya.


"Hai juga Grandpa," ucap Zuy mewakili kedua anaknya.


"Duh cucu-cucu Grandpa makin bulat dan gemesin aja nih. Oh iya ngomong-ngomong cucu-cucu Grandpa udah bisa apa nih?"


"Kami sudah bisa duduk dong Granpa," jawab Ray yang ikut mewakili si kembar.


Sontak Daddy Michael terperangah mendengarnya.


"Apa! Jadi cucu-cucu Grandpa sudah bisa duduk?"


"Iya Grandpa," balas Ray sambil melambaikan tangan Baby Z ke arah layar laptopnya.


Sedangkan Baby R menyembunyikan wajahnya ke dada Zuy.


"Lho cucu gantengnya Grandpa kenapa bersembunyi seperti itu?" tanya Daddy Michael.


"Rayn memang seperti ini Dad kalau liat orang yang baru di lihatnya berbeda dengan adiknya," ujar Zuy.


"Oh, kalau begitu Daddy harus sering berkomunikasi dong dengan cucu gantengnya Daddy ini. Biar dia akrab dengan Grandpa-nya."


"Sepertinya begitu Dad, hahaha...." ujar Ray di susul tawanya, begitu pula dengan Daddy Michael.


Sementara itu....


Di saat Daddy Michael sedang mengobrol dengan Ray dan Zuy beserta si kembar. Ternyata ada seseorang yang tengah berdiri di luar ruang kerjanya seraya mendengarkan obrolan Daddy Michael.


"Apa! Ja-jadi Daddy sudah punya cucu?"


***Bersambung....


~Nah lho! Siapakah gerangan seseorang itu? πŸ€”πŸ€”


See you next time.... 😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" πŸ™πŸ™πŸ™


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πŸ™πŸ™πŸ™


Salam Author... πŸ˜‰βœŒπŸ˜‰βœŒ

__ADS_1


__ADS_2