Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Si Pembuat Ulah...


__ADS_3

<<<<<


"Bunda, apa yang Bunda lakukan di sini?" tanya seseorang.


Seketika Bunda Artiana menoleh ke arah suara tersebut.


"Dimas..!!"


Lontar Bunda Artiana, Dimas mendekat ke arah Bunda Artiana, kemudian ia berlutut di hadapan Bunda Artiana.


"Bunda, dari tadi Dimas nyariin Bunda lho, ternyata Bunda duduk di sini...," lalu Dimas menoleh ke arah Zuy dan Airin.


"Lho, bukankah kalian?!!"


"Iya Dimas, mereka anak-anak yang waktu itu, dan mereka di sini menemani Bunda, karena tadi saat di dalam, kepala Bunda tiba-tiba sakit, jadi Bunda keluar untuk mencari angin, dan kebetulan ketemu mereka di sini," jelas Bunda Artiana.


Lalu Dimas segera bangkit dari posisinya, kemudian ia mengulurkan tangannya ke arah Zuy,


"Terimakasih banyak sudah menemani Bunda, dan maaf kalau saya tidak mengingat kalian," ucap Dimas


"Sama-sama Tuan," balas Zuy sambil tersenyum, Lalu kemudian Zuy dan Airin beranjak dari tempat duduknya.


"Nyonya, sepertinya kita berdua harus pergi, takut seseorang mencari kita, dan Zuy sangat senang bisa mengobrol dengan Nyonya," ucap Zuy membungkukkan badannya ke arah Bunda Artiana


"Iya Nak, Bunda juga senang mengobrol denganmu, kapan-kapan kita bertemu lagi ya," ujar Bunda Artiana


Zuy pun tersenyum dan mengangguk, lalu kemudian Airin dan Zuy berjalan menuju ke dalam gedung. Bunda Artiana pun terus memperhatikan Zuy yang perlahan-lahan menjauh darinya.


"Dimas..." panggil Bunda Artiana namun tatapannya masih mengarah pada Zuy yang telah masuk ke dalam.


"Iya Bunda.." sahut Dimas


Bunda Artiana beralih ke arah Dimas, "Bunda sangat yakin sekali Dimas, bahwa dia anak Maria, dia cucuku Dimas."


"Bagaimana Bunda bisa seyakin itu bahwa dia adalah cucu Bunda, anak dari Kak Maria?" tanya Dimas


"Tadi dia menceritakan kehidupannya pada Bunda, bahwa dia di tinggal pergi ibunya saat ia berusia 2 bulan ...," lalu Bunda Artiana menceritakannya lagi pada Dimas tentang Zuy. Sesaat setelah menceritakannya..


"Dimas, Maria juga meninggalkan anaknya saat usia anaknya masih 2 bulan, bukankah jelas kalau dia benar-benar anak Maria," sambung Bunda Artiana.


Seketika Dimas memegang bahu Bunda Artiana dan berkata, "Bunda, kita harus cari bukti lebih kuat lagi, seperti bertanya pada orang yang merawatnya, atau mengambil DNAnya, baru bisa membuktikan bahwa dia cucu Bunda atau bukan."


Lalu tiba-tiba Bunda Artiana mengingat akan sesuatu.


"Dimas, Bunda lupa, tadi Bunda minta alamat Bibinya, ayo kita ke dalam dan minta alamat Bibinya," pinta Bunda Artiana sembari beranjak dari tempat duduknya,


Ketika Bunda Artiana hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba Dimas menahan Bunda Artiana.


"Bunda, kita harus pulang sekarang..!!" pinta Dimas


"Apa pulang?!!" tanya Bunda Artiana


Dimas pun mengangguk, "Iya Bunda, soalnya Dimas dapat panggilan darurat dari rumah sakit, ada pasien yang membutuhkan Dimas," ujar Dimas


"Tapi Dim ...,"


"Bunda, kalau dia benar-benar cucu Bunda, pasti Bunda akan bertemu lagi dengannya, buktinya sekarang Bunda bertemu dengannya lagi kan," tutur Dimas


Lalu Bunda Artiana menghela nafasnya, "Huh, kamu benar Dimas."


"Yaudah, Dimas antar Bunda pulang ya, setelah itu Dimas langsung ke rumah sakit," ujar Dimas.


Bunda Artiana menganggukkan kepalanya, lalu mereka pun pergi...


•••••••••


Setelah berada di dalam, Airin langsung pergi ke toilet, sedangkan Zuy mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Ray, setelah menemukan Ray, Zuy langsung melangkahkan kakinya menghampiri Ray, akan tetapi saat berada beberapa jarak dari Ray, ia terkejut melihat seorang wanita sedang memeluk Ray, sontak membuat jantung Zuy berdegup kencang.


"Tuan Muda..!!"


••••••••••


Beberapa saat sebelumnya....


Saat itu ketika Zuy dan Airin berada di luar, tak lama setelah Daffin suami Ayasya berpamitan pada Ray. Ray langsung mengedarkan pandangannya ke arah kanan-kiri untuk mencari Zuy, ia pun berpamitan pada Pak Willy untuk mencari Zuy, namun ketika hendak keluar dari ruangan itu, tiba-tiba...


"Tuan Ray.." panggil seseorang dari arah belakang


Ray pun menoleh arah suara tersebut, "Pak Wildan.."


Ternyata yang memanggilnya adalah Pak Wildan, Erlin dan sekertaris Pak Wildan, mereka menghampiri Ray, setelah berada di dekat Ray, Pak Wildan mengulurkan tangannya..


"Tuan Ray, selamat atas kesuksesan anda," ucap Pak Wildan


"Terimakasih banyak Pak Wildan," Ray pun membalas uluran tangan Pak Wildan.


Lalu Erlin mendekat ke arah Ray, "Tuan Ray, selamat ya.." ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


Ada rasa benci di diri Ray saat melihat Erlin, namun ia tahan karena tidak sopan jika mengabaikan seseorang, apalagi di acara seperti ini, kemudian Ray membalas uluran tangan Erlin.

__ADS_1


"Terimakasih banyak Nona Erlin," ucap Ray, sembari menyunggingkan senyumannya yang terpaksa.


Erlin pun membalas senyuman Ray, lalu ia melihat Zuy yang berjalan mendekat ke arah Ray, kemudian ia memberikan aba-aba pada sekertaris Pak Wildan melalui jari tangannya, sekertaris Pak Wildan menganggukkan kepalanya, lalu dengan sengaja Sekertaris Pak Wildan menabrakan dirinya pada Erlin, sehingga ia terdorong dan jatuh dalam pelukan Ray, dan membuat Ray terkejut.


"Nona Erlin, apa yang anda lakukan?!!"


Lalu di saat itu pula Zuy sudah berada tak jauh dari Ray.


Flashback End


•••••••••••••


"Tuan Muda..!!"


Lalu kemudian Ray menoleh ke arah Zuy, "Kakak...!!"


Melihat tatapan Zuy yang tak biasa, Ray langsung melihat ke arah Erlin yang masih memeluknya, ia pun segera mendorong tubuh Erlin.


"Tuan Ray, saya minta maaf tadi saya di dorong oleh sekertaris ayah saya," kata Erlin


"Ah, maafkan saya Nona Erlin, Tuan Ray, tadi kaki saya tersandung, jadi tidak sengaja mendorong Nona," ucapnya berbohong


"Tuan Ray, saya benar-benar minta maaf, atas kelakuan Erlin dan sekertaris saya," sambung Pak Wildan.


"Iya tidak apa-apa," balas Ray.


Lalu Erlin menyunggingkan senyuman Smirk pada Zuy, membuat mata Zuy terbelalak.


"Yaudah kalau begitu kita pergi dulu Tuan Ray," pamit Pak Wildan beserta Erlin dan sekertarisnya.


Sesaat setelah mereka pergi, Ray langsung memegang tangan Zuy.


"Kak, jangan marah, Ray benar-benar tidak tahu kalau ...," ucap Ray, namun terhenti karena..


"Tidak apa-apa Tuan Muda, oh iya Zuy mau ke toilet sebentar," kata Zuy.


Lalu Ray memegang lengan Zuy, "Kak, apa Kakak marah padaku?" tanya Ray.


Zuy menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan Muda, Zuy hanya ingin ke toilet saja."


Lalu kemudian Davin pun datang..


"Tuan Ray, ayo kita kembali.." pinta Davin.


Ray menganggukkan kepalanya, "Iya baik," lalu Ray menatap Zuy kembali, "Kakak..!!"


"Tuan Muda, Pak Davin menyuruh anda kembali, Zuy tidak apa-apa Tuan, Zuy ke toilet dulu ya," ujar Zuy, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ke toilet. Lalu Ray kembali berkumpul dengan para tamu.


"Hei ayo ikut aku," ajak Erlin sembari memegangi lengan sekertaris ayahnya.


"Erlin, kamu mau kemana?" tanya Pak Wildan


"Erlin mau ke toilet Pi, Erlin pinjam sekertaris Papi ya buat nemenin Erlin ke toilet,"


"Oh yaudah kalau begitu, Papi juga akan gabung dengan teman-teman Papi," kata Pak Wildan.


Lalu mereka pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke toilet.


Toilet..


Setelah sampai, Zuy kemudian masuk ke toilet khusus wanita, sesaat ia berdiri di depan cermin besar wastafel, setelah itu ia masuk ke dalam salah satu ruang toilet.


Erlin dan sekertarisnya pun masuk ke dalam, kemudian mereka berdiri di depan cermin wastafel. Lalu aktingnya pun di mulai..


"Waah Nona Erlin, tidak di sangka tadi Tuan Ray bisa memeluk anda seperti itu," ujar sekertaris itu dengan nada keras, sehingga membuat Zuy yang berada di dalam toilet mendengarnya.


"Aku juga tidak menyangka, padahal aku hanya ingin memberikan selamat padanya, tapi dia malah memelukku," kata Erlin berbohong.


"Tapi Nona, kenapa Nona minta maaf pada Tuan Ray dan lagi kenapa menyuruh saya berbohong bahwa saya telah mendorong anda?" tanya sekertaris itu.


"Ya mungkin karena ada j*lang, jadi Tuan Ray begitu.." seru Erlin.


Zuy yang mendengarnya pun langsung mengerutkan dahinya, "A-apa j*lang..!!" lirih Zuy berada di dalam toilet, lalu...


"J*lang Nona?"


"Iya j*lang yang tak tahu malu," ucap Erlin, lalu tiba-tiba..


Braaaak


Zuy keluar dari dalam toilet membanting pintunya dengan keras, membuat Erlin dan sekertarisnya terkejut. Kemudian Zuy mendekat ke arah Erlin dengan tatapan tajam.


"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Erlin


"Minggir.." pekik Zuy, lalu Erlin dan sekertarisnya segera menyingkir beberapa jarak,


Kemudian Zuy membuka keran untuk mencuci tangannya. Setelah itu ia berjalan melewati Erlin tanpa berkata apa-apa. di luar toilet Airin ternyata dari tadi sudah berdiri menyandar di dinding sambil mendengarkan ocehan dari dua orang tersebut.


"Rin, ngapain kamu di sini?" tanya Zuy

__ADS_1


"Aku sedang menunggumu Zuy," jawab Airin.


"Yaudah kita pergi," ajak Zuy,


Airin pun menganggukkan kepalanya, lalu kemudian saat mereka hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba..


"Ciih, hanya seorang OB saja pakaiannya bagus gitu, pasti uang hasil nyuri, ," celetuk sekertarisnya.


Mendengar itu, sontak emosi Airin yang tadinya ia tahan langsung meluap, ia pun langsung menghampiri mereka.


"Siapa yang kalian sebut pencuri?" tanya Airin sembari menarik rambut sekertaris itu, membuat ia meringis kesakitan.


"Hei lepaskan tanganmu dari sekertaris ku, wanita bar-bar," pekik Erlin.


Airin pun langsung menatap tajam ke arah Erlin, kemudian Zuy datang menenangkan Airin.


"Airin, sudah jangan bikin keributan di sini," tutur Zuy.


"Tapi Zuy.."


Zuy menggelengkan kepalanya, kemudian Airin melepaskan tangannya dari rambut sekertaris itu.


Lalu kemudian Zuy mendekat ke arah Erlin, "Nona, saya tidak tahu apa kesalahan saya pada anda, sehingga anda membenci saya, padahal kita tidak saling mengenal dan bertemu, tapi sepertinya rasa benci anda terhadap saya begitu besar ya, sampai-sampai anda hampir membuat saya celaka karena makanan yang anda berikan pada saya waktu itu."


"Apa Zuy, jadi dia yang waktu itu membuat suaramu hilang, dasar ular.." sergah Airin yang ingin menerkam Erlin, lalu kemudian Zuy menahannya.


"Hei, karena kamu j*lang, sudah merebut milik orang lain, termasuk perhatian Tuan Ray yang harusnya jadi milikku," ujar Erlin.


"Oh jadi ini karena kamu iri terhadap OB sepertiku, tapi bukankah sebaliknya ya, harusnya aku yang iri pada anda yang memilki segalanya, oh iya ada yang ingin aku sampaikan pada anda, Tuan Muda sudah melamarku dan kami akan segera menikah jadi tunggu saja undangan dari kami," ujar Zuy sambil memutarkan badannya,


Lalu ia melangkahkan kakinya menuju keluar toilet, akan tetapi saat di ambang pintu langkahnya terhenti dan menoleh ke arah Erlin.


"Nona, aku peringatkan pada anda, jika anda macam-macam lagi, saya tidak akan segan-segan mengambil tindakkan pada anda, karena saya masih memiliki bukti dimana anda meracuni saya waktu itu," gertak Zuy membuat Erlin gemetaran,


Lalu kemudian Zuy dan Airin pergi meninggalkan Erlin dan sekertarisnya.


"Dasar wanita j*laaaang..." murka Erlin, sekertarisnya pun segera menenangkan Erlin.


Setelah meninggalkan toilet, Zuy berjalan menuju tempat acara, akan tetapi tangannya terus gemetaran, Airin yang melihatnya langsung memegang tangan Zuy.


"Zuy, apa kamu baik-baik saja?" tanya Airin


"A-aku.. Rin apa tadi aku terlihat jahat?" tanya Zuy


Airin pun menggelengkan kepalanya, "Tidak Zuy, kamu terlihat sangat keren, mereka memang pantas di gituin," ujar Airin..


Lalu Zuy pun tersenyum, "Terimakasih Rin.."


"Iya sama-sama Zuy," balas Airin.


°°°°°°°°°°°°°°


Tak terasa acara ulang tahun Perusahaan CV sudah berakhir, semua tamu undangan sudah pada pulang. Ray dsn yang lainnya masih berada di Perusahaan, begitu juga dengan Yiou yang sudah datang saat di pertengahan acara. Sedangkan Airin sudah pulang di antar Davin. Lalu kemudian...


"Kak ayo kita pulang..!!" ajak Ray pada Zuy yang tengah itu sedang duduk dengan Yiou


Zuy pun menganggukkan kepalanya, "Iya Tuan Muda."


"Tsk, dasar Tuan dingin, lagi enak-enak ngobrol sama Baby, langsung di ajak pulang," celetuk Yiou


"Bukan seperti itu, ini sudah malam Kak," gerutu Ray.


"Iya Kakak tahu,"


Yiou dan Zuy langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian Yiou memeluk Zuy dan berkata, "Jangan lupa hadiah dari ku di pakai ya..!!"


Mendengar itu, mata Zuy pun langsung membulat, sedangkan Ray memukul jidatnya.


"Kak Yiou benar-benar deh," ucap Ray


Yiou pun melepaskan pelukannya, dan beralih ke arah Ray.


"Jaga Baby ku, awas kalau sampai macam-macam dan membuatnya menangis, Kakak tidak akan segan-segan menarik telinga mu hingga putus," tutur Yiou


"Iya, tanpa di pinta Ray akan selalu menjaganya,"


Setelah itu Yiou melepaskan pelukannya, lalu kemudian Ray dan Zuy berjalan keluar dari ruangan. Setelah di luar, Pengawal sudah memarkirkan mobil Ray di halaman, dan memberikan kunci mobil pada Ray.


Pengawal itu pun membukakan pintu mobilnya untuk Ray dan Zuy. keduanya pun masuk ke dalam mobil. Setelah berada di dalam mobil Zuy yang hendak memakai sealt beatnya merasa kesusahan.


Ray pun menoleh ke arah Zuy dan bertanya, "Ada apa Kak?"


"Ini Tuan Muda, sealt beatnya terlilit jadi susah di pakainya," ujar Zuy


Ray segera melepaskan jasnya, lalu bangkit dari duduknya dan mendekat ke Zuy untuk membetulkan sealt beatnya, posisi dada Ray tepat di depan Zuy, namun ada pemandangan yang tidak menyenangkan, Zuy melihat sesuatu yang menempel pada kemeja putih Ray, yang membuatnya kesal, ternyata itu adalah...


"Be-bekas bibir...!!"


***Bersambung...

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author...♥🙏♥🙏


__ADS_2