
<<<<<
Seseorang memanggilnya, Seketika Zuy langsung menoleh ke arah suara tersebut.
"Hmmmm...."
Zuy terpaku saat melihat seorang pria berkacamata tengah berdiri di depan matanya sambil menyunggingkan senyumannya.
"Dokter Dimas!"
"Apa kabar Zuy?" tanyanya yang ternyata Dimas, ia pun mengulurkan tangannya ke arah Zuy.
Zuy membalas uluran tangan Dimas. "Kabar saya baik-baik saja." jawabnya.
"Syukurlah kalau begitu," balas Dimas.
Lalu Ray menghampiri Zuy. "Sayangku, apa kamu sud ..., lho Dokter Dimas!"
Ray terkejut melihat Dimas, sedangkan Dimas tersenyum ramah.
"Tuan Muda...." sapa Dimas.
Tanpa sengaja pandangan Zuy mengarah ke arah seseorang yang tengah berdiri sambil melihat ke arah Zuy.
"Nyonya!"
"Nyonya siapa sayangku?" tanya Ray
Akan tetapi Zuy tidak menjawab pertanyaan Ray, ia malah melangkahkan kakinya menuju ke arah seseorang itu yang tak lain adalah Bunda Artiana.
"Sayangku...." lirih Ray.
Setelah berada di depan Bunda Artiana, Zuy langsung meraih tangan Bunda dan mencium punggung tangannya.
"Cucuku...."
"Nyonya, apa kabar? Sudah lama Zuy tidak melihat Nyonya," tanya Zuy.
"Ka-kabar Nenek baik-baik saja Nak, lalu bagaimana denganmu?"
Zuy tersenyum dan berkata, "Zuy juga baik-baik saja Nyonya."
"Syukurlah kalau begitu," balas Bunda Artiana
"Nyonya, terimakasih atas hadiah yang di berikan Nyonya melalui Dokter Eqi. Zuy sangat suka dengan sepatu rajut dan syal buatan Nyonya," ucap Zuy.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya, nanti Nenek buatkan lagi untuk cicit Nenek ini," kata Bunda Artiana mengelus perut Zuy.
"Ti-tidak usah Nyonya, yang kemaren dari Nyonya juga udah cukup," tolak Zuy.
Seketika raut wajah Bunda Artiana berubah sendu saat mendengar penolakan Zuy.
"Nyonya...."
Kemudian Ray dan Dimas menghampiri mereka.
"Sayangku...." Ray merangkul pundak Zuy.
Zuy pun mendongakkan kepalanya ke arah Ray.
"Ray...."
"Nak, dia siapa?" tanya Bunda Artiana.
Sebenarnya Ray dan Bunda Artiana jarang bertemu, ini kedua kalinya mereka bertemu, yang pertama saat ulang tahun Perusahaan CV, itu pun hanya sesaat.
"Oh ini, dia ...."
"Saya suaminya Zuy, Nyonya." sela Ray sembari mengulurkan tangannya ke arah Bunda Artiana. Zuy yang mendengarnya hanya terdiam saja.
Bunda Artiana tidak membalas uluran tangan Ray, akan tetapi Bunda Artiana mendekat ke Ray dan memeluknya. Sontak membuat Dimas dan Zuy tertegun melihatnya.
"Nak, terimakasih sudah menjaganya dengan baik, maafin Nenek, yang tidak tahu kalau kamu suaminya Zuy," lirih Bunda Artiana.
"Tidak apa-apa Nyonya, dan lagi sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga dan melindunginya," balas Ray.
Sesaat mereka melepaskan pelukannya.
"Oh iya Nenek sampai lupa, ngomong-ngomong kalian berdua sedang apa di toko perlengkapan bayi? Apa kalian ingin membeli perlengkapan untuk anak kalian?" tanya Bunda Artiana
"Iya Nyonya, kami memang ingin membeli perlengkapan bayi, tapi bukan untuk anak kami, melainkan untuk anak Bi Nana," jawab Zuy.
"Oh iya, Bibi kamu sudah melahirkan ya. Selamat untuk bibimu ya Nak Zuy," ucap Bunda Artiana
"Terimasih Nyonya. Oh iya kalau Nyonya dan Dokter Dimas?" sambungnya.
"Kalau kami tadinya sedang di toko sana, namun saat Bunda melihat kamu Zuy, Bunda menyuruhku untuk menghampiri mu dan menyapamu," jawab Dimas.
"Oh begitu ya, terimakasih Nyonya."
"Sama-sama Nak. Dimas ayo kita pulang!" ajak Bunda Artiana.
"Pulang? Bukannya Bunda mau membeli sesuatu?" tanya Dimas.
Bunda Artiana tersenyum sambil melihat ke arah Zuy.
"Sesuatu itu sudah Bunda dapatkan," ujar Bunda Artiana.
"Sudah Bunda dapatkan?" Dimas pun kebingungan.
Bunda Artiana memeluk Zuy, sesaat kemudian Bunda Artiana melepaskan pelukannya dan beralih memegang pipi Zuy dan Ray.
"Nak, Nenek pulang dulu ya! Sekali-kali kalian berdua main ke rumah Dimas dan kita makan bersama di sana!" pinta Bunda Artiana.
"Iya Nyonya," balas Zuy
"Kalau ada waktu luang, kami pasti main ke rumah Dokter Dimas dan kita akan makan bersama," timpal Ray.
Bunda Artiana melepaskan tangannya. "Ayo Dimas!"
Dimas pun menganggukkan kepalanya. "Iya Bun, Tuan Muda, Zuy. kita duluan ya! Permisi...." ucapnya.
"Iya, Nyonya, Dokter Dimas. Hati-hati di jalan!"
Lalu Dimas dan Bunda Artiana melangkah pergi meninggalkan Zuy dan Ray. Sesaat setelahnya....
"Sayangku, ayo kita kembali dan beli hadiah untuk Bi Nana," ajak Ray.
"Oke..." balas Zuy.
Mereka pun kembali ke toko perlengkapan bayi dan memilih barang yang akan mereka beli untuk Bi Nana. Zuy kembali memilih baju-baju bayi, sedangkan Ray tengah melihat-lihat stroller. Lalu tiba-tiba Ray menjadi pusat perhatian para pengunjung wanita.
"Waah.... Lihatlah disana! Ada Pria tampan...."
"Iya benar, dia sangat tampan, wajahnya juga blasteran, lihat postur tubuhnya yang gagah, pasti Pria itu beroti sobek."
"Tapi kenapa dia berada di toko perlengkapan bayi? Apa dia sudah punya istri dan anak?"
"Hmmmm... Mungkin saja dia mau membeli hadiah untuk keponakannya."
__ADS_1
"Benar juga ya, ah jadi pengin minta nomer sama akun sosmednya deh, foto juga gak apa-apa."
Bla... Bla.... Bla....
Begitulah lontaran demi lontaran dari para wanita yang memandangi Ray. Mendengar itu, Zuy langsung mengerutkan dahinya, karena tidak tahan ia pun menghampiri Ray.
"Ray...." Zuy merangkul lengan Ray.
"Iya sayangku...." sahut Ray
Zuy lalu menyandarkan kepalanya di lengan Ray.
"Enak ya jadi pusat perhatian wanita," gumam Zuy.
"Hmmm.... Maksud sayangku?"
Zuy memanyunkan bibirnya dan mengarahkannya ke arah para wanita yang tengah memandangi Ray. Sekilas Ray langsung melihat ke arah yang Zuy tunjukan, kemudian pandangannya beralih kembali ke arah Zuy. Senyumnya pun mengembang.
"Ternyata sayangku habis makan cuka ya? Baunya menyengat nih," goda Ray
(Makan cuka sama dengan cemburu.)
Akan tetapi Zuy menggelengkan kepalanya. "Bukan aku yang makan cuka, tapi anakmu yang gak suka kalau Papahnya di godain sama cewe lain," gerutu Zuy memalingkan pandangannya.
Padahal yang sebenarnya cemburu adalah Zuy, tapi ia beralasan bahwa anaknya lah yang cemburu.
Seumpama anak yang di kandungnya bisa bicara, pasti ia akan bilang seperti ini, "Mamah yang cemburu sama Daddy, kenapa aku yang di bawa-bawa."
"Oh, jadi yang cemburu anakku ini ya," papar Ray sambil mengelus perut Zuy, lalu ....
Cup...
Tiba-tiba Ray mendaratkan bibirnya ke pipi Zuy, sontak membuat Zuy tersipu dan langsung melihat ke arah Ray.
"Ray.... Kebiasaan deh, kita kan lagi di tempat umum," celetuk Zuy.
"Memangnya kenapa kalau di tempat umum dan lagi biar mereka tahu kalau aku ini milik sayangku seorang," ujar Ray mengelus pipi seraya menunjukkan kemesraannya pada Zuy di depan semuanya.
"Eh, jangan lupakan anak yang di sini," tutur Zuy menunjuk ke perutnya.
Ray lalu mencubit pelan pipi Zuy. "Sayangku.... Tentu saja aku tidak lupa pada junior ku ini," jelas Ray sembari mengelus kembali perut Zuy.
Zuy pun tersenyum bahagia saat mendengarnya, sedangkan para wanita yang melihatnya pun tercengang, ada yang baper, ada juga yang geram dan mengumpat Zuy, bahkan ada juga yang menangis.
"Yuk kita pilih lagi hadiah untuk Bi Nana!" ajak Ray
"Oke Rayyan," balas Zuy.
Mereka lalu kembali memilih barang yang akan mereka berikan untuk Bi Nana. Beberapa saat kemudian, mereka selesai memilih barang dan membayarnya.
"Sayangku mau jalan-jalan dulu atau bagaimana?" tanya Ray
"Kita langsung ke Bi Nana aja Ray," jawab Zuy
"Baiklah sayangku...."
Zuy dan Ray keluar dari Mall tersebut, sesampainya di parkiran, mereka meletakkan barang yang mereka beli ke bagasi.
Sesaat kemudian, Ray langsung menancapkan gas mobilnya dan melajukannya menuju ke rumah sakit.
*********************
Rumah Ray
Sementara itu, Davin tengah duduk sambil menatap layar laptopnya sembari menikmati secangkir kopi hitam buatannya sendiri. Semenjak kejadian salah minum, Davin jadi lebih suka membuat minuman sendiri. Lalu ....
"Tumben siang-siang gini ada yang datang, apa Tuan Ray dan Zuy udah pulang dari rumah sakit?" gumam Davin.
Ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Sesampainya Davin segera membuka pintunya.
Ceklek...
Setelah pintu terbuka, ternyata yang datang adalah ....
"Airin!"
"Selamat siang Pak Davin," ucap Airin.
"Selamat siang juga Rin, ayo masuk!" ajak Davin
Airin pun masuk ke dalam rumah Ray.
"Duduk Rin!" tawar Davin.
"Terimakasih Pak Davin," Airin pun mendudukkan dirinya di atas sofa.
Sedangkan Davin duduk di sofa lainnya.
"Apa kabar kamu Rin?" tanya Davin
"Kabarku baik-baik saja Pak Davin, Pak Davin sendiri? Lama di luar kota wajah Pak Davin semakin mulus saja, hihihi...." ujar Airin menggoda Davin.
"Kamu Rin...."
"Hihihi, maaf Pak Davin. Oh iya lupa, Zuy ada gak Pak?" tanya Airin.
"Zuy lagi gak di rumah Rin, dia pergi dengan Tuan Ray," ujar Davin.
"Memangnya pergi kemana Pak?"
"Mereka pamitnya sih mau beliin hadiah untuk Bi Nana," jawab Davin.
"Hadiah untuk Bi Nana?" Airin terkejut dan berfikir sejenak, lalu tiba-tiba Airin menepuk jidatnya sendiri.
"Oh iya aku baru ingat, kemaren sore Zuy bilang kalau Bi Nana melahirkan. Ya sayang sekali, padahal aku kesini ingin memberikan mangga dan susu untuknya," jelas Airin.
Davin tersenyum dan berkata, "Kamu memang sahabat terbaik Rin."
"Bukan sahabat, tapi adiknya!" tegas Airin.
"Ahahaha.... iya maksudku begitu Rin. Oh iya mumpung kamu di sini Rin, ayo kita pergi jalan-jalan!" ajak Davin.
"Memangnya mau jalan-jalan kemana Pak?" tanya Airin
"Nanti kamu juga akan tau Rin."
Sesaat Airin menghela nafas panjangnya. "Haaaa.... Baiklah Pak Davin. Dari pada di Kosan sepi."
"Siip.... Yaudah aku siap-siap bentar Rin," kata Davin.
"Baiklah Pak Davin, aku tunggu!"
Davin pun bergegas menuju kamarnya, namun sebelum itu Davin mengambil laptopnya dan melangkahkan kakinya kembali menuju ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian....
"Ayo Rin, kita berangkat!"
"Oke...."
__ADS_1
Airin langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian mereka melangkah keluar rumah. Setelah itu mereka pun segera masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian, Davin mengemudikan mobilnya ke tempat yang mereka tuju.
*********************
Rumah Sakit....
Setelah sampai di rumah sakit dan memarkirkan mobilnya, Ray dan Zuy langsung masuk ke rumah sakit menuju ke ruang Ibu dan anak sambil membawa barang yang mereka beli tadi. Sesampainya, mereka pun masuk ke kamarnya Bi Nana.
"Bi Nana...." seru Zuy menghampiri Bi Nana.
Bi Nana yang sedang menggendong bayinya pun menoleh ke arah Zuy dan Ray.
"Zuy, Tuan Muda!"
"Bi Nana, selamat ya!" ucap Ray.
"Terimakasih Tuan Muda," balas Bi Nana.
"Sama-sama Bi, oh iya ini buat si kecil," kata Ray menunjukkan barang yang ia bawa.
Bi Nana terpukau melihat semua barang-barang yang di berikan oleh Ray, dari pakaian, stroller, sampai peralatan lainnya.
"Ya ampun Tuan Muda, banyak banget hadiahnya, terimakasih Tuan Muda, Zuy. Rana pasti senang menerimanya," ujar Bi Nana.
"Rana?" tanya Zuy kebingungan.
Lalu Bi Nana menunjukkan bayinya itu ke arah Zuy.
"Hai Kakak, kenalin namaku Rana," ucap Bi Nana dengan nada seperti anak kecil.
Sontak membuat Ray dan Zuy terkekeh.
"Bi Nana, ada-ada saja," ucap Zuy
"Bi Nana, Ray boleh menggendongnya?"
"Tentu saja boleh Tuan Muda."
"Memangnya kamu bisa gendong bayi Ray?" tanya Zuy
"Tentu bisa dong, sayangku."
Bi Nana lalu memberikan bayinya pada Ray, dengan perlahan Ray mengangkat tubuh bayinya Bi Nana dan menggendongnya. Zuy pun tercengang melihat Ray pandai menggendong bayi.
"Waah anda hebat Tuan Muda," puji Bi Nana.
"Terimakasih Bi Nana, nah bagaimana sayangku?"
"Ya kamu memang hebat Ray, pandai segalanya," Zuy memuji Ray.
Membuat Ray menyunggingkan senyumannya. "Kamu terlalu memuji sayangku."
Lalu kemudian Nara dan Pak Randy datang....
"Kakak....!"
"Nara, Paman!"
Pak Randy pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu pandangan mengarah ke Ray yang tengah menggendong anaknya itu.
"Waah, Rana anteng ya di gendong sama Om," ucap Pak Randy.
"Iya nih malah tidur nyenyak banget," balas Ray. Lalu Nara menarik pelan baju Ray.
"Om ganteng, Paman putih mana?" tanya Nara.
Ray langsung menoleh ke arah Nara. "Paman putih lagi di rumah, Nara." jawab Ray
"Oh, kirain ikut juga. Hmmm... Kakak Zuy," panggil Nara.
"Iya Nara sayang," sahut Zuy mengelus rambut Nara.
"Anterin Nara beli ice cream di depan yuk!" ajak Nara.
"Nara mau ice cream, yaudah ayo Kakak antar," ujar Zuy sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Asiik, Kakak Zuy yang belikan ya!"
"Oke Nara. Ray, Paman, Bi Nana. Zuy antar Nara dulu ya!"
Ray dan lainnya mengangguk serempak. Lalu Zuy dan Nara melangkah keluar dari kamar rawat Bi Nana. Sesaat setelah mereka pergi....
"Tuan Muda, apa Zuy masih enggan membicarakan soal pernikahan?" tanya Bi Nana.
"Iya Bi, jawabannya juga seperti biasa Bi. Coba kalau dia membicarakannya, pasti Ray akan memberitahu yang sebenarnya," ujar Ray.
"Ya, Bi Nana mengerti, lebih baik kita tunggu saja Tuan Muda, sampai Zuy benar-benar mau membicarakannya. Kalau kita memberitahu nya ketika ia belum siap, Bi Nana takut terjadi sesuatu pada Zuy juga anak yang di kandungnya itu. Ya dia seperti itu karena ia masih trauma dengan apa yang ia alami saat kecil dan lagi soal janjinya yang belum ia penuhi," kata Bi Nana.
"Iya Bi, makanya Ray urungkan niat Ray untuk memberitahu yang sebenarnya," jelas Ray.
Lalu Bi Nana melihat ke arah Ray dan menatapnya dengan sendu.
"Ray, Bi Nana mohon, tolong kamu lebih awasi Zuy! Sebab Bi Nana khawatir terjadi sesuatu buruk pada Zuy, apalagi dia sedang hamil, pasti ada omongan yang gak baik tentangnya." pinta Bi Nana.
"Dan Bi Nana sangat yakin kalau Zuy punya alasan sendiri, sehingga ia mau melakukan itu dan sampai menerima kehamilannya itu," sambung kata Bi Nana sambil menitihkan air matanya.
"Iya Bi, Zuy memang punya alasan kenapa dia mau melakukan itu hingga mengandung, walaupun Zuy tidak tahu statusnya sekarang. Ya pokoknya Bi Nana tenang aja, Ray akan selalu mengawasinya dan melindunginya, tidak ada yang bisa mencelakainya lagi atau pun membicarakan hal buruk tentang Zuy lagi. Karena bagi Ray, Zuy adalah segalanya."
Seketika senyuman Bi Nana terukir di wajah Bi Nana saat mendengar perkataan dari Ray
"Terimakasih Tuan Muda...."
****************
Sementara itu di tempat lain....
Dua sejoli yang tengah menikmati makan siangnya di sebuah Resto. Lalu tiba-tiba seorang laki-laki menyodorkan sebuah kotak perhiasan kecil berbentuk love, di dalamnya ada sebuah cincin.
"Apa ini!" tanya si wanita tersebut.
Lalu si Pria itu beranjak dari tempat duduknya dan beralih berlutut di hadapan wanita itu.
"Nona, apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku?"
"Hah!!"
***Bersambung
Hayo siapakah mereka, temukan jawabannya di episode selanjutnya...😉
See you next time... ✌✌😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1