Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Belajar....


__ADS_3

<<<<<


Seketika senyum Bunda Artiana langsung mengembang karena melihat seseorang yang ia sayangi dan seseorang itu adalah ....


"Zuy!!"


......................


Flashback


°Rumah Ray


—Pukul 08.20Am


Kala itu Ray sedang berada di walk in closet miliknya, ia tengah mengambil kemeja kerjanya, lalu kemudian ....


"Ray.... Kamu di mana?" seru Zuy


"Ray disini sayangku...." balas Ray


Mendengar suara Ray, Zuy bergegas menuju ke walk in closet, sesampainya ia langsung menghampiri Ray.


"Ray...."


"Iya sayangku...." sahut Ray sembari mengenakan kemejanya.


"Sini Zuy bantu!" tawar Zuy.


Ray mengangguk patuh, kemudian Zuy membantu Ray mengancingkan kemejanya Ray.


"Kalau kaya gini, aku jadi ingat saat masih TK, sayangku selalu membantukku mengancingkan seragam ku," ujar Ray.


"Ya karena dulu kamu selalu salah mengancing seragam, bahkan sampai panjang sebelah dan setelah itu ujung-ujungnya pasti nangis," ungkap Zuy.


Seketika wajah Ray memerah karena malu saat ia mengingat akan masa kecilnya itu.


"Ternyata sayangku masih mengingatnya ya?"


Zuy mengangguk. "Tentu aku ingat Ray, tapi itu wajar sih, karena kamu masih kecil dan lagi aku kan pengasuhmu jadi ya sudah tugasku membantumu."


Zuy lalu memakaikan dasinya Ray.


"Tapi sekarang kamu bukan Pengasuhku lagi, melainkan kesayanganku," ucap Ray, ia pun langsung mengecup pipi Zuy.


"Jangan bergerak Ray! Zuy susah nih." pekik Zuy.


"Iya maaf sayangku."


"Tapi sekarang kamu berbeda, sudah bisa segalanya Ray, Zuy benar-benar kagum bahkan sangat-sangat kagum," puji Zuy.


Mendengar pujian dari Zuy, Ray langsung menyunggingkan senyumannya jahilnya, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.


"Bisa segalanya ya? Apa termasuk membuat telinga juga?" bisik Ray dengan niat menggoda Zuy.


Seketika Zuy langsung mengerutkan dahinya dan mendengus kesal.


"Ray, kebiasaan ya selalu saja menggodaku," gumam Zuy, namun wajahnya yang memerah tidak dapat di tutupinya.


"Hihihi.... Habisnya sayangku lucu kalau udah di goda begini."


"Rayyan...."


Sesaat kemudian, Zuy pun selesai memasangkan dasinya ke leher Ray.


"Nah sudah selesai."


"Terimakasih sayangku," ucap Ray


"Iya sama-sama Ray. Euum Ray..."


"Hmmmm.... Ada apa sayangku?"


Zuy menatap lekat wajah Ray. "Ray, hari ini kan Zuy libur, berarti besok Zuy ...."


"Masih libur sayangku," sela Ray.


"Ke-kenapa masih libur?" tanya Zuy penasaran


"Ya karena aku sudah mengajukan surat pengunduran diri untuk mu, sayangku."


Sontak membuat Zuy terkejut. "Hah! Su-surat pengunduran diri? Berarti Zuy gak kerja lagi?"


"Iya sayangku." singkat Ray.


"Ta-tapi kenapa harus surat pengunduran diri bukannya surat cuti?"


Ray lalu memegang pundak Zuy. "Ya karena aku ingin kamu istirahat dan fokus pada anak kita bahkan setelah kamu melahirkan sayangku," ujarnya.


Zuy lalu menundukkan kepalanya, nampak kesedihan di raut wajahnya.


"Sayangku...."


Sesaat Zuy mengangkat kepalanya dan kembali menatap Ray.


"Kamu mau berangkat kerja kan? Yaudah buruan siap-siapnya, kasihan Kak Davin udah nungguin. Dan lagi kamu kan Ceo, jadi kamu harus ngasih contoh yang baik untuk karyawanmu, jangan sampai telat masuk kantor!" tutur Zuy sembari tersenyum tipis.


"Sayangku...."


"Aduh tiba-tiba Zuy haus, Zuy ke bawah dulu ya, kamu hati-hati Ray, semangat kerjanya!" ucap Zuy.


Zuy pun memutarkan badannya dan melangkah keluar dari kamar Ray, nampak air matanya mengalir.


"Sayangku, aku tahu kamu pasti sedih dan marah padaku," lirih Ray.


Lalu Ray mengambil jasnya, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju keluar.


Kamar Zuy


Setelah dari kamar Ray, Zuy ternyata tidak mengambil minuman, melainkan ia langsung ke kamarnya sendiri, lalu Zuy mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


Hiks...


"Kenapa kamu selalu bertindak semau mu sendiri Ray, tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu," ucap Zuy sembari menangis.


Lalu kemudian....


Tok Tok Tok...


"Siapa?!" seru Zuy


"Ini aku sayangku," sahut Ray


"Ada apa Ray?"


"Sayangku, apa kamu baik-baik saja?"


"Iya Zuy baik-baik aja. Maaf Ray, Zuy gak bisa antar kamu ke depan, Zuy lagi ganti baju. Soalnya baju Zuy basah," ujar Zuy berbohong.


"Yaudah kalau begitu, Ray berangkat ya sayangku, mungkin hari ini pulang malam, sayangku baik-baik di rumah!"


Zuy pun tidak menjawabnya, kemudian Davin menghampiri Ray.


"Tuan Ray ayo kita berangkat! Satu jam lagi kita ada rapat," ujar Davin.


Ray menghela nafasnya. "Oke...."


Sekilas pandangan Ray mengarah ke kamar Zuy, sesaat setelahnya ia pun melangkahkan kakinya menuju keluar dari rumahnya. Sementara itu Zuy yang di kamarnya pun kembali menangis.


Beberapa saat kemudian....


Setelah perasaannya tenang, Zuy pun beranjak dari posisinya dan berjalan menuju ke lemari bajunya, saat ia membuka pintu lemari bajunya, tiba-tiba ....


Braaaak....


Sebuah kotak besar terjatuh dari dalam lemarinya, sehingga barang yang berada di kotak tersebut berserakan, Zuy pun perlahan membungkuk dan berjongkok untuk mengambil barang-barang tersebut yang ternyata adalah barang pemberian dari Bunda Artiana. Yaitu berupa beberapa sepatu rajut untuk bayi dan Syal.


"Hmmm... Kenapa Nyonya begitu pandai membuat sepatu dan syal seperti ini, aku jadi ingin belajar juga, kira-kira Nyonya mau gak ya mengajari ku?" lirih Zuy memandangi sepatu rajut itu.


Sesaat kemudian, Zuy kembali memasukan barang-barang itu ke dalam kotak, setelah selesai ia pun menyimpannya ke dalam lemarinya itu.


–Pukul 02.50Pm


Zuy keluar dari kamarnya sambil membawa ranselnya, kemudian ia berjalan menuju ke dapur.


"Bu Ima, apa makanannya sudah siap?"


Bu Ima memberikan rantang pada Zuy. "Ini sudah Nak, memangnya Nak Zuy mau kemana?"

__ADS_1


"Zuy mau ke rumah seseorang Bu, yaudah Zuy berangkat ya Bu." ujar Zuy sekaligus pamit.


"Iya kamu hati-hati!"


Zuy kembali melangkahkan kakinya. Saat berada di ambang pintu, Henri tiba-tiba muncul sambil membungkukkan badannya membuat Zuy terkejut dan menghentikan langkahnya.


"Henri!"


"Iya Nyonya...."


"Apa yang kamu lakukan? Angkat kepala mu!" titah Zuy.


Henri pun mengangkat kepalanya. "Nyonya, anda mau kemana?"


"Zuy mau keluar sebentar Hen, ada urusan." ujar Zuy.


"Biar saya antar, Nyonya."


Akan tetapi Zuy mengibas tangannya sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah Hen, biar Zuy pergi sendiri aja, dan lagi Zuy udah pesan taxi, kan gak enak kalau harus di cancel." Zuy menolak tawaran Henri.


"Tapi Nyonya ...."


"Hen, Zuy ingin pergi sendiri. Kalau kamu takut Tuanmu Marah, nanti biar Zuy yang bilang ke Tuan Muda," tutur Zuy. "Tuh taxi-nya udah datang, yaudah aku pergi dulu ya!" sambungnya.


Zuy pun kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah taxi berada, sedangkan Henri hanya berdiri sambil terus melihat Zuy, nampak dari raut wajahnya yang sendu.


"Nyonya ...."


Flashback End


......................


Zuy tersenyum sambil berjalan menghampiri Bunda Artiana yang tengah duduk. Setelah di dekat Bunda Artiana, ia pun meraih tangan Bunda Artiana dan mencium tangannya, sesaat setelahnya....


"Kenapa kamu gak bilang kalau mau datang kesini?"


"Maaf Nyonya, habis Zuy buru-buru. Oh iya ini untuk Nyonya," Zuy memberikan rantang yang di tangannya ke Bunda Artiana.


"Apa ini Nak?"


"Oh itu sayur kacang merah, kata Dokter Eqitna Nyonya sangat suka dengan sayur kacang merah, jadi Zuy masakin untuk Nyonya," ujar Zuy.


Bunda Artiana pun tertegun mendengarnya.


"Terimakasih Nak," ucap Bunda Artiana.


"Sama-sama Nyonya," balas Zuy tersenyum.


"Mira, tolong bawa ini ke dapur, lalu kamu buat minuman untuk cucuku ini!" titah Bunda Artiana sambil memberikan rantang pada Mira.


Mira mengangguk patuh. "Baik Nyonya besar," patuhnya.


Kemudian Mira mengambil rantang itu dari tangan Bunda Artiana, lalu ia melangkah pergi menuju ke dapur.


"Sini duduk Nak!"


"Iya Nyonya," Zuy mendudukkan dirinya di samping Bunda Artiana.


"Nyonya sedang bikin apa?" tanya Zuy.


"Nenek sedang buat topi Nak."


Zuy pun terpukau melihat topi yang sedang di buat Bunda Artiana.


"Nyonya, topinya lucu banget," puji Zuy.


"Apa kamu menyukainya?"


Zuy mengangguk cepat seraya menjawab pertanyaan Bunda Artiana.


"Syukurlah kalau kamu menyukainya, Nenek memang sengaja membuat topi ini untuk calon anak mu itu, cucuku." Bunda Artiana memegang perut Zuy.


"Benarkah itu Nyonya? Terimakasih banyak Nyonya," ucap Zuy membuat Bunda Artiana tersenyum.


Lalu kemudian ....


"Euum Nyonya...."


"Iya Nak, ada apa?"


Seketika Bunda Artiana tersenyum bahagia, lalu Bunda Artiana memegang pipi Zuy sembari menganggukkan kepalanya.


"Tentu boleh Nak, dengan senang hati. Pokoknya Nenek akan mengajarimu sampai bisa," ujar Bunda Artiana.


"Terimakasih Nyonya, ternyata Nyonya memang orang yang baik," kata Zuy.


Kemudian Bunda Artiana langsung mengajari Zuy merajut, Zuy pun menyimak cara Bunda Artiana merajut.


"Nyonya, sejak kapan Nyonya pandai merajut?" tanya Zuy penasaran.


"Sebelum menikah juga Nenek udah bisa merajut. Bahkan hasil rajutan Nenek sering Nenek jual, tapi setelah Nenek menikah dengan kakekmu, ia melarang Nenek menjual rajutan Nenek," jawab Bunda Artiana.


"Kenapa suami Nyonya melarang?"


Sesaat Bunda Artiana menghela nafasnya. "Entahlah, Kakekmu hanya bilang, kalau urusan nafkah itu sudah jadi kewajibannya, sedangkan Nenek di suruh diam di rumah fokus sama suami dan anak-anak."


"Oh begitu ya Nyonya," lirih Zuy.


"Iya seperti itu lah Kakekmu, ya Nenek paham, dia melarang Nenek juga karena dia sayang sama Nenek. Oh iya Nenek pernah dengar dari Bibi mu, katanya pendidikan kamu hanya sampai SMA ya?" tanya Bunda Artiana


"Ternyata Bi Nana cerita ke Nyonya ya. Iya Nyonya, itu pun Zuy cuma ngandelin beasiswa," jawab Zuy


"Kenapa kamu gak kuliah? Bukankah kamu memiliki cita-cita sebagai desainer?"


Zuy lalu menyandarkan kepalanya di dinding sofa sembari menghela nafasnya.


"Ya itu karena masalah biaya Nyonya," ujar Zuy.


"Kan kamu kerja, kenapa gak sekalian kuliah sambil kerja?"


"Ya, Zuy penginnya begitu, malahan Zuy udah mendaftar tapi sayangnya biayanya melebihi gaji Zuy kerja. Dulu gaji pegawai OB hanya seberapa, gak kaya sekarang. Akhirnya Zuy mundur sampai Zuy benar-benar punya uangnya. Setelah itu, setiap gajian Zuy sisihkan uang Zuy, setengah dari gaji Zuy, Zuy sumbangin ke Panti asuhan dan sisanya Zuy tabung sama buat makan Zuy. Ya walaupun Bi Nana kadang sering ngasih juga," jelas Zuy.


Mendengar penjelasan Zuy Bunda Artiana pun terpaku.


"Tadi kamu bilang, kamu sering menyumbang ke Panti Asuhan? Kenapa?"


"Iya Nyonya, pokoknya setiap habis terima gaji, Zuy selalu menyumbang ke Panti bahkan sampai sekarang. Itu karena Zuy ingin Panti asuhan itu tetap ada, walau bagaimanapun juga, Panti asuhan itu rumah Zuy, saat Zuy kehilangan Papah," ujar Zuy. (Bab.54 pesan Papah)


Lalu Bunda Artiana mengelus rambut Zuy, sebenarnya Bunda Artiana ingin menangis namun ia tahan.


"Kamu memang anak yang baik. Maaf jika Nenek tidak sopan dan bertanya lagi. Lalu soal uang yang kamu tabung pasti udah cukup untuk biaya kuliah kan? Terus kenapa gak di pakai?" lontar pertanyaan Bunda Artiana.


"Soal uang tabungan untuk kuliah Zuy. Sebenarnya udah Zuy pakai untuk keperluan lain, Nyonya. Makanya Zuy harus menabung kembali," ujar Zuy.


Akan tetapi yang sebenarnya terjadi adalah uang tabungan untuk kuliahnya itu di pakai untuk menolong Airin dan Mamahnya Airin, yang saat itu Mamahnya Airin tengah kritis. (Bab. 131 wanita penyelamat)


"Oh jadi seperti itu ya Nak," ucap Bunda Artiana


Zuy mengangguk. "Iya Nyonya."


Kemudian Zuy mengambil alat rajutan yang akan di pakainya.


"Oh iya, ayo kita sambung latihan lagi Nyonya!" ajak Zuy.


"Baiklah Nak...."


Bunda Artiana pun kembali mengajari Zuy cara merajut.


**************************


Amerika


Kediaman Maria


Sementara itu, nampak mobil berwarna hitam datang dan terparkir di halaman rumah Maria. Lalu seseorang pun turun dari mobil tersebut, dan ia adalah Archo. Kemudian ia langsung bergegas masuk ke dalam rumah, namun sebelum itu, Archo membuka kode sandi yang terpasang di pintu. Setelah pintu terbuka, ia bergegas menuju ke kamar Maria.


Kamar Maria


"Mam...." seru Archo membuka pintu kamar Maria.


Sontak membuat Maria yang sedang duduk menyandar di atas kasur nya langsung menoleh.


"Hmmmm... Kamu udah pulang Archo?"


Archo lalu menghampiri Maria dan duduk di sebelah Maria.

__ADS_1


"Mam, maaf Archo baru sempat pulang, soalnya banyak yang harus Archo kerjakan," ucap Archo tersedu-sedu.


"Tidak apa-apa, Mam paham Kok, Archo." balas Maria


"Mam, apa yang terjadi? Kenapa Mam bisa jatuh dari kursi roda?" tanya Archo


"Oh.... Itu karena Mam kurang berhati-hati Archo," jawab Maria berbohong.


"Mam beneran kurang berhati-hati atau ada kaitannya dengan Kimberly?" tanya Archo menyidik.


Seketika Maria langsung mengibaskan tangannya.


"Tentu bukan Archo, pertanyaan mu ada-ada saja," elak Maria


"Selalu saja membela Kimberly," gumam Archo.


"Archo..."


Archo menoleh. "Iya Mam...."


"Euum, apa dia baik-baik saja?" tanya Maria yang entah pertanyaannya di tujukan untuk siapa.


"Hmmm... Dia? Maksud Mam?"


"Ah, lupakan pertanyaan Mam barusan. Lalu bagaimana Kimberly, apa dia pulang?"


"Sepertinya hari ini dia tidak pulang Mam," ujar Archo.


Maria pun menundukkan kepalanya. "Archo, sepertinya perkataan mu waktu itu benar, bahwa Mam terlalu memanjakannya, sehingga Kimberly jadi seperti itu," ungkapnya.


"Mam jangan menyalahkan diri sendiri! Kalau Kimberly sudah masuk ke jalan salah, ya kita sebagai orang tua harus memberikan arahan dan nasihat pada Kimberly agar dia tidak menjadi orang yang jahat!" tutur Archo.


"Hmmmm.... Entah kenapa sekarang aku malah bersyukur Mam meninggalkan Zuy dulu. Andai kata jika Zuy sampai di rawat Mam, mungkin dia akan jadi seperti Kimberly," sambung batinnya.


"Iya kamu benar Archo, memang kita yang harus menyadarkan Kimberly. Oh iya Archo, Mam minta padamu, tolong kamu bilang pada Dimas untuk selalu mengawasinya dan menjaganya!" ucap Maria.


"Hmmmm.... Mengawasi dan menjaganya? Apa yang Mam maksud adalah Zuy?" tanya Archo menduga-duga.


Namun Maria tidak menjawab Archo, dia malah membaringkan badannya sembari membelakangi Archo.


"Mam...."


"Archo, kamu keluar dan bebersih! Soalnya Mam mau istirahat," titah Maria


"Iya Mam...." balas Archo sembari beranjak dari tempat duduknya.


Kemudian ia melangkah keluar dari kamar Maria. Sesaat setelah Archo pergi.


"Maaf.... Mam tidak bisa menjawab, soalnya Mam terlanjur malu Archo, apalagi setiap menyebut namanya, pasti dada Mam terasa sesak karena mengingat akan perbuatan Mam kepadanya," lirih Maria.


Lalu ia mengambil foto yang berada di bawah bantalnya, Maria pun memandangi foto tersebut, bahkan sampai mencium dan memeluknya, ya foto itu tak lain adalah foto dirinya yang tengah menggendong Zuy yang masih bayi.


**************************


Menjelang malam hari.....


Zuy pun sudah berada di perjalanan menuju arah pulang dengan menggunakan taxi, setelah ia lama berada di rumah Dimas. Lalu ....


"Pak stop di sini saja!" titah Zuy.


Pak sopir pun menghentikan laju taxinya, setelah itu Zuy turun dari taxi tersebut.


"Ini uangnya Pak!" Zuy memberikan uang pada supir taxi tersebut.


"Terimakasih Nona," ucap supir taxi,


Lalu supir taxi tersebut melajukan kembali taxinya dan pergi meninggalkan Zuy.


"Sebelum pulang, kita beli martabak dulu ya sayang, soalnya Mamah lagi ingin Martabak," ucap Zuy pada calon anaknya itu.


Zuy pun melangkahkan kakinya menuju ke arah penjual Martabak bangka yang tak jauh dari ia berdiri tadi. Sesampainya ....


"Bang, Martabak coklat keju, tapi setengah-setengah ya!" pinta Zuy


"Siap Nona," balas si penjual Martabak tersebut.


Sambil menunggu, ia pun mendudukkan dirinya di kursi yang telah di sediakan. Zuy lalu membuka ranselnya dan mengambil hpnya itu. Setelah hpnya di aktifkan, banyak panggilan dan Chat masuk dari Ray. Zuy pun membuka Chat tersebut.


[Chat]


Suamiku


📲 Sayangku, apa kamu sudah makan?✉


📲 Sayangku, kenapa gak balas pesanku, apa kamu marah?✉


📲 Sayangku, kamu pergi kemana? Kenapa gak mau di antar Henri?✉


Dan Chat lainnya...


Sesaat Zuy menghela nafasnya, saat ia hendak membalas Chat dari Ray, tiba-tiba ....


"Hoo, siapa yang sedang duduk di sini? Si j*lang kah?" seru seseorang.


"Sepertinya sih si OB j*lang," sambung lainnya.


Mendengar itu, Zuy langsung mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah suara tersebut.


"Ternyata kalian berdua, Anne dan Nona Erlin. Euuumm Apa kabar?" tanya Zuy pada orang tersebut yang ternyata adalah Anne dan Erlin.


Entah mereka datang dari mana, tiba-tiba langsung menghampiri Zuy.


"Ciih jangan sok akrab kamu!" pekik Anne.


Zuy pun tersenyum simpul, sedangkan dua ular betina itu menggertakan giginya. Lalu tanpa sengaja pandangan Erlin mengarah ke sebuah cincin yang melingkar di jari manis kanan Zuy.


"Hei j*lang.... Apa itu cincin pernikahan?" seru Erlin.


"Iya...." singkat Zuy.


"Tsk, lalu siapa suami mu itu?" Erlin pun semakin penasaran.


"Haaa.... Apa aku harus menjawabnya, bahkan anda tau kan laki-laki yang selalu bersama ku itu siapa. Waktu ulang tahun Perusahaan CV juga aku pernah bilang pada anda, Nona Erlin." ujar Zuy sambil meletakkan hpnya kembali ke ranselnya.


Akan tetapi ia tidak sengaja menghubungi nomor Ray. Mendengar perkataan Zuy, Erlin pun mulai kesal.


"Hei j*lang jangan berbohong padaku! Tuan Ray mana mau menikahi orang seperti mu!" sergah Erlin.


"Duh maaf Nona-Nona, kalau mau ribut jangan di sini!" pinta si penjual martabak.


Lalu Zuy bangkit dari posisinya. "Bang apa pesanan saya sudah di buat?"


"Iya sudah Nona, sebentar ya lagi di bungkus dulu," jawab si penjual tersebut.


Sesaat kemudian, penjual martabak itu memberikan pesanan Zuy. Zuy pun langsung membayarnya. Setelah itu ia langsung melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu. Akan tetapi ....


"Hei j*lang! Urusan kita belum selesai...." seru Erlin.


"Maaf Nona, kita tidak ada urusan apa-apa, jadi saya akan pergi dari sini. Permisi...." ucap Zuy.


"Waah sekarang j*lang sudah meninggi gaya bicaranya, mentang-mentang sudah jadi Nyonya Bos CV," sindir Anne.


Namun Zuy tidak menanggapinya, ia malah asik menunggu taxi.


"Dasar OB j*lang...." pekik Erlin.


Saking emosinya Erlin, lalu ia dengan sengaja mendorong tubuh Zuy dengan kuat, membuat Zuy kehilangan keseimbangan dan terhempas.


"Tidaaak! Anakku..."


"Heh! Rasain kau j*lang," umpat Erlin.


Anne pun tersenyum bahagia dan pada akhirnya ....


Bruuugh....


***Bersambung...


Author: Kira-kira apa yang terjadi pada Zuy dan calon anaknya?


Nantikan episode selanjutnya... 😉


See you Next time... 😘😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2