Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Kelelahan....


__ADS_3

<<<<<


Zuy pun melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar anak-anaknya berada. Akan tetapi tiba-tiba....


Bruuugh....


"Nak Zuy!!!"


Seru Bu Ima karena terkejut melihat Zuy ambruk ke lantai, sontak Bu Ima menjatuhkan buah yang ada di tangannya dan langsung mendekat ke arah Zuy. Ia lalu mengangkat sedikit tubuh Zuy dan menempatkannya di pangkuannya.


"Nak Zuy bangun Nak!" ucap Bu Ima menepuk pelan pipi Zuy. "Tuan Ray, Tuan Ray tolong!" sambungnya dengan nada keras.


Sehingga membuat Ray, Davin dan Airin yang masih berada di meja makan pun langsung menghentikan aktivitas makan malamnya karena mendengar suara teriakan dari Bu Ima.


"Ada apa dengan Bu Ima? Kenapa teriak minta tolong seperti itu?" tanya Davin keheranan.


"Kayaknya terjadi sesuatu? Biar saya aja yang melihatnya, Tuan bos, Pak Davin." kata Airin di balas anggukan oleh Ray dan Davin.


Airin pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah Bu Ima berada. Sesaat Airin kembali ke meja makan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tuan bos...."


Ray menoleh. "Ada apa Rin?"


"Zuy pingsan, Tuan." jawab Airin.


"Apa kamu bilang? Sayangku pingsan!" Ray membulatkan matanya karena terkejut mendengar pujaan hatinya pingsan.


Airin mengangguk. "Iya Tuan bos."


Braak....


Seketika Ray langsung beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju ke arah pujaan hatinya, tanpa peduli dengan kursi yang di dudukinya terjungkal akibat di dorong kuat olehnya. Davin dan Airin pun menyusulnya.


Setibanya Ray langsung mendekat ke arah Bu Ima dan Zuy.


"Kenapa dengan sayangku, Bu?" tanya Ray.


"Ibu juga gak tau Tuan, tiba-tiba aja Nak Zuy jatuh pingsan," jawab Bu Ima.


Ray berdecak seraya meraih tubuh Zuy yang berada di pangkuan Bu Ima dan menggendongnya ala bridal style. Sebelum membawa Zuy ke kamar, ia terlebih dahulu menolehkan kepalanya ke Davin.


"Kak, hubungi Dokter pribadi ku!" titah Ray pada Davin.


"Baik Tuan Ray," balas Davin mematuhi titah Ray, ia pun langsung menghubungi Dokter pribadinya.


"Bu, tolong buatkan minuman hangat untuk sayangku!"


Bu Ima mengangguk patuh dan berjalan menuju ke dapur. Setelah itu, Ray langsung membawa pujaan hatinya ke kamarnya.


Saat sudah berada di dalam kamar, Ray segera membaringkan Zuy di ranjangnya, lalu ia menarik kursi yang tak jauh dari ranjangnya dan mendudukinya.


"Sayangku apa yang terjadi dengan mu sampai kamu pingsan seperti ini?" lirih Ray menggenggam erat tangan Zuy dan menciumnya, nampak buliran air mata yang lolos dan mengalir membasahi pipinya.


Lalu....


"Tuan Ray...." seru Davin yang masuk ke kamar.


Seketika Ray langsung mengusap air matanya dan menoleh ke Davin.


"Bagaimana? Apa Kak Davin sudah menghubungi Dokter? Lalu kapan dia sampai?" cecar Ray.


"Iya saya sudah menghubunginya, tapi Dokter bilang kalau dia sekarang sedang dinas keluar Kota, Tuan." jawab Davin.


"Apa! Kalau begitu hubungi Dokter Arif, Dokter Dimas atau Dokter manapun. Cepat!" Ray menyuruh Davin kembali.


"I-iya Tuan Ray." balas Davin, ia pun kembali melangkah keluar dari kamar tersebut.


Lalu Ray beralih kembali ke arah pujaan hatinya itu.


"Sayangku cepatlah bangun! Jangan buat aku ketakutan seperti ini. Aku benar-benar gak sanggup kalau kamu sampai kenapa-napa, sayangku." ucap Ray merapikan anak rambut Zuy yang berantakan, sesaat ia mencium kening dan kedua pipi Zuy.


Setelah berada di luar, Davin langsung menghampiri Airin yang sedang duduk di sofa yang tak jauh dari kamar.


"Rin...." tegur Davin sembari duduk di sampingnya.


Airin pun mengusap matanya dan menoleh ke arah Davin.


"Iya Pak." sahut Airin.


"Sudah jangan bersedih! Aku yakin Zuy pasti baik-baik aja, Rin." tutur Davin.


"Tapi Pak ...."


Davin lalu menepuk-nepuk punggung Airin.


"Iya aku tahu apa yang ingin kamu bicarakan Rin. Tapi dari pada kamu bersedih seperti ini, alangkah baiknya jika kamu buatkan aku kopi hitam tapi pakai gula bukan pakai garam terus kopinya juga di aduk jangan sampai gak di aduk, oke Rin!" kata Davin sekaligus menyuruh Airin.


Mendengar itu, Airin pun menghela nafasnya dan mengangguk.


"Baiklah Pak akan saya buatkan kopi yang paling manis untuk Pak Davin." balas Airin,


"Terimakasih banyak Rin-Rin...."


"Iya Pak."


Airin lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah dapur.


Sedangkan Davin kembali membuka hpnya dan menghubungi salah satu kontak yang berada di hpnya itu.


...----------------...


Sementara itu di tempat lainnya, terlihat Dimas sedang berada di sebuah Warung kopi yang terletak pinggir jalan seraya menikmati segelas kopi hitam.


"Haaa.... Hujan dari tadi sore sampai sekarang belum berhenti juga mana makin deras lagi." lirih Dimas sembari mengangkat gelas kopinya dan menyeruputnya.


"Tapi kalau di pikir-pikir ada bagusnya juga sih jadi aku bisa pulang lebih malam lagi dan tidak bertemu dengan si tua Mario yang menyebalkan itu. Hmmmm, bisa-bisanya Bunda mengizinkan si tua untuk tinggal di rumah. Bukannya si tua Mario itu banyak uang, harusnya dia bisa sewa hotel, rumah atau Villa, kan banyak di Kota ini, kenapa harus rumah ku sih!" batin Dimas yang menggerutu lantaran tidak senang dengan Daddy Mario yang tinggal di rumahnya itu.


Lalu kemudian, seorang pemilik warung kopi memberikan semangkuk mie rebus pesanan Dimas.


"Ini pesanan anda, Tuan." katanya.


"Terimakasih," ucap Dimas.


Pemilik warung itu tersenyum dan kembali lagi dengan aktivitasnya. Sebelum menyantap mie rebusnya, Dimas terlebih dahulu menambahkan saus pada mie-nya dan mengaduknya. Setelah semua tercampur rata Dimas pun mulai menyantapnya.


Namun tiba-tiba....


Drrrrrt.... Drrrrrt.... Drrrrrt....


Hp Dimas yang berada di saku celananya berbunyi, sontak membuat Dimas menghentikan makannya dan langsung merogoh saku celananya. Setelah itu, ia pun melihat ke layar hpnya.

__ADS_1


"Nomor tidak di kenal?" lirih Dimas karena nomor tersebut tidak ada di kontaknya.


Karena penasaran, Dimas langsung menggeser icon hijau untuk menjawab panggilan tersebut.


"Halo Dokter Dimas," suara dari seberang hpnya.


"Iya saya sendiri, maaf ini dengan siapa ya?" tanya Dimas.


"Saya Davin, Dok." jawabnya dengan singkat.


Ternyata yang menelpon Dimas itu adalah Davin.


"Oh Davin asistennya Tuan Ray?"


"Iya Dok. Maaf Dok kalau malam-malam saya mengganggu," ucap Davin.


"Tidak menganggu kok Tuan Davin, memangnya ada apa?" ujar Dimas sekaligus bertanya kembali.


"Begini Dok, bisakah anda ke Villa Tuan Ray? Soalnya Zuy pingsan, Dok." jelas Davin.


"Anda bilang apa? Zuy pingsan?" sentak Dimas karena terkejut mendengar penjelasan Davin.


"Iya Dok, maka dari itu saya menelpon dan meminta anda untuk datang," ujar Davin.


"Saya segera ke sana sekarang, karena kebetulan posisi saya juga tidak jauh dari Villa Tuan Ray," kata Dimas.


"Baiklah kalau begitu Dok, kami tunggu!"


Percakapan mereka pun berakhir.


"Apa yang terjadi dengan mu, Zuy?" lirih Dimas yang khawatir. "Pak, berapa semuanya?" sambung tanyanya pada pemilik Warkop tersebut.


Setelah membayar kopi dan makanannya, Dimas pun bergegas ke mobilnya dan masuk. Sesaat kemudian, ia melajukan mobilnya menuju ke Villa Z&R.


Hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima menit, Dimas akhirnya sampai di Villa Z&R. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus, Dimas di sambut oleh pengawal Ray yang memang sudah menunggu kedatangannya. Kemudian mereka pun bergegas ke arah Villa Z&R.


Setibanya di sana, Davin menyambut Dimas dan langsung mengantarnya ke kamar di mana Zuy berada. Lalu....


"Tuan Ray, Dokter Dimas sudah datang." kata Davin.


Seketika Ray langsung bangkit dari posisinya dan memutar badannya menghadap ke Davin.


"Suruh masuk!"


Davin mengangguk. "Baik Tuan Ray. Dokter Dimas silahkan!"


"Terimakasih," ucap Dimas sambil berjalan masuk.


"Syukurlah anda sudah datang, Dok."


"Apa yang terjadi pada keponakan saya, Tuan muda?" tanya Dimas.


Ray menggeleng. "Saya juga tidak tahu, Dok. Tiba-tiba saja sayangku pingsan," jawabnya.


Dimas pun mendekat ke arah Zuy dan memeriksanya, dari memeriksa nadi, tensi darah dan lainnya.


Sesaat setelah selesai memeriksa Zuy, Dimas memutar tubuhnya ke arah Ray sambil menghela nafasnya.


"Bagaimana Dok? Apa yang terjadi dengan sayangku? Kenapa sampai di infus?" cecar Ray dengan cemasnya.


"Dia hanya demam dan kelelahan saja. Namun tensi darahnya cukup rendah serta kekurangan cairan juga, sehingga menyebabkan Zuy sampai pingsan seperti ini. Maka dari itu Zuy harus di infus," jelas Dimas.


"Lalu apa sayangku perlu di rawat di rumah sakit?"


"Oh Syukurlah kalau begitu Dok." ucap Ray menghela nafas leganya.


"Iya Tuan muda," balas Dimas. "Eeeem, ngomong-ngomong si kembar ada di mana, Tuan?" sambung tanyanya.


"Anak-anak ada di kamarnya Dok."


Dimas manggut-manggut. "Oh, tapi saya sarankan untuk sementara mereka tidak boleh berkontak langsung dengan Zuy! Bukan apa-apa sih, takutnya demamnya Zuy tertular ke mereka," tuturnya.


Ray mengangguk. "Baiklah Dok, saya akan dengar saran Dokter."


Dimas pun menyunggingkan senyumnya, kemudian ia memberikan secarik kertas pada Ray.


"Ini resep obat untuk Zuy, anda bisa menebusnya besok!" kata Dimas.


"Siap Dok, tapi apa boleh saya meminta tolong lagi pada anda, Dok." ujar Ray.


"Tentu saja boleh, Tuan. Memangnya anda mau minta tolong apa?"


"Saya mohon untuk malam ini Dokter menginap lah di sini! Takutnya terjadi sesuatu dengan sayangku, jadi saya gampang memanggil Dokter dan Dokter juga tidak perlu bolak-balik lagi," pinta Ray.


Sejenak Dimas memegang dagunya seraya berfikir.


Lalu....


"Baiklah Tuan muda, untuk malam ini saya akan menginap di sini." Dimas pun menyetujui permintaan Ray.


Seketika membuat Ray mengulas senyumnya.


"Terimakasih Dokter Dimas." ucap Ray dengan senangnya.


"Sama-sama."


Lalu mereka pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


—Pukul 01.47am


Nampaknya langit sudah mulai lelah, sehingga membuatnya menghentikan tangisnya sesaat yang lalu, akan tetapi tidak untuk angin malam dan deburan ombak laut yang masih saja bersautan dan mengiringi jalannya malam yang panjang ini.


Para penghuni Villa pun tengah menikmati mimpi indah di balik selimutnya, begitu pula dengan Ray yang baru saja terlelap sambil memeluk pujaan hatinya itu.


Karena sedari tadi Ray menjaga Zuy sampai pada akhirnya rasa ngantuk mulai menyerangnya, sehingga Ray memutuskan untuk naik ke atas ranjangnya dan tidur sambil memeluk pujaan hatinya.


"Heeung.... Zea, Rayner!"


Zuy tiba-tiba mengerang sembari memanggil nama si kembar, nampaknya Zuy tengah bermimpi tentang anak-anaknya itu.


°Mimpi Zuy°


Zuy sedang berdiri di tepi pantai sembari menutup mata menikmati angin laut di sore hari.


"Mamah...." seru dua anak kecil berusia sekitar tiga tahun tengah berlari ke arah Zuy.


Seketika membuat Zuy membuka matanya dan menolehkan kepalanya ke arah dua anak tersebut yang tak lain adalah si kembar, Baby R dan Baby Z.


"Rayn, Zea...."

__ADS_1


Zuy pun tersenyum dan duduk berjongkok sambil merentangkan tangannya menyambut kedatangan mereka ke pelukannya.


Akan tetapi saat mereka sudah hampir dekat dengan Mamahnya itu, tiba-tiba dua orang wanita datang dan memegangi tubuh si kembar.


Zuy pun langsung membelalakkan matanya saat melihat kedua perempuan itu.


"Mrs Maria, Kimberly!" lirih Zuy dan kedua wanita itu ternyata adalah Ibu dan adiknya.


"Bagaimana kabarmu, Kakakku tersayang?" cecar Kimberly di barengi seringainya.


Lalu tiba-tiba tangan Maria dan Kimberly menekan kuat bahu si kembar, membuat Baby R dan Baby Z meringis kesakitan.


"Mamah cakit!" rintih si kembar yang menangis.


"A-apa yang kalian lakukan pada anak-anak ku? Cepat lepaskan mereka!" pekik Zuy.


Lagi-lagi Kimberly menyeringai dan berkata, "Tentu saja aku akan melepaskan mereka, tapi bukan di sini Kakakku tersayang melainkan di tengah lautan."


"Apa!" Zuy tersentak.


"Heh, ayo Mam kita bawa dan lempar mereka ke tengah laut supaya di makan hewan laut yang kelaparan. Setelah mereka berdua mati, tidak ada lagi si pengganggu antara hubungan ku dengan Ay selain Kakak tidak berguna ini," lontar Kimberly.


"Iya kamu benar sekali, Kimberly sayang. Dan lagi Mam juga tidak sudi punya cucu yang terlahir dari anak durhaka ini," balas Maria menatap tajam Zuy.


Sesaat kemudian Kimberly dan Maria mengangkat tubuh si kembar dan membawanya ke arah lautan.


"Mamah...." tangis si kembar sambil mengulurkan tangannya ke arah Zuy.


Saat hendak mengejarnya, tubuh Zuy tiba-tiba terasa kaku dan tidak dapat di gerakkan seakan ada yang menahannya, sehingga membuatnya masih tetap pada tempatnya.


"Mamah, Kimberly lepaskan anak-anakku!" teriak Zuy.


Namun tidak di dengar oleh Ibu dan adiknya itu, mereka terus saja berjalan ke arah lautan. Dan saat sudah hampir di tengah laut, Kimberly dan Maria langsung melemparkan tubuh Baby R dan Baby Z tepat di depan mata Zuy memandang.


"Tidaaaaaak....!!


"Hahaha.... Rasakan itu Kakak!"


Kimberly dan Maria pun tertawa puas melihat Zuy menangis.


"Rayner, Zeanra...."


Zuy berteriak sambil membangunkan tubuhnya, nafasnya terengah-engah, bahkan keringat dinginnya pun mengucur di dahi dan pelipis kepalanya.


Mendengar suara teriakan dari Zuy, sontak Ray langsung terbangun dari tidurnya.


"Sayangku, akhirnya kamu bangun juga." ucap Ray seraya membangunkan tubuhnya dan memeluk Zuy karena senangnya.


"Di mana anak-anakku? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Zuy.


Ray lalu melepaskan pelukannya. "Anak-anak? Tentu saja mereka ada di kamarnya dan mereka juga baik-baik aja, sayangku." jawabnya.


"Aku ingin lihat mereka," kata Zuy.


Saat Zuy hendak beranjak dari tempat tidurnya, Ray langsung menahannya.


"Ray, apa yang kamu lakukan?"


"Maaf sayangku, tapi untuk saat ini kamu tidak boleh bertemu dengan si kembar dulu!" papar Ray.


"Apa! Kenapa aku tidak boleh bertemu dengan mereka?"


"Kamu-nya kan sedang sakit sayangku, lihatlah tangan kamu yang masih terpasang jarum infus!" ujar Ray menunjuk ke tangan Zuy.


Seketika membuat Zuy mengalihkan pandangannya ke arah tangannya itu.


"Ke-kenapa tanganku bisa di infus? Apa yang terjadi dengan ku, Ray?" cecar Zuy.


Ray lalu menceritakan apa yang terjadi pada pujaan hatinya itu.


"Oh jadi begitu ya, pantas saja sedari tadi kepala ku sakit dan serasa berputar-putar." papar Zuy.


"Iya sayangku, maka dari itu Dokter Dimas menyarankan supaya kamu tidak berkontak langsung dengan anak-anak dulu, takutnya mereka tertular dan lagi badan kamu juga masih panas gini sayangku." tutur Ray menyentuh wajah Zuy.


"Tapi aku ingin sekali bertemu dengan mereka, Ray!" Zuy merengut kan wajahnya. "Dan aku juga ingin memastikan kalau anak-anakku baik-baik saja, tidak seperti apa yang ada di dalam mimpi ku tadi," sambung batinnya.


Melihat itu, Ray menghela nafasnya dan kembali memeluk tubuh pujaan hatinya itu.


"Iya aku tahu sayangku, tapi ini kan demi mereka juga. Jadi untuk saat ini kamu harus tahan rasa ingin bertemu kamu dengan anak-anak ya sayangku yang cantik!" lontar Ray mengelus rambut pujaan hatinya.


Zuy mengangguk. "Baiklah, demi anak-anak aku akan menahannya."


"Nah gitu dong, sayangku. Yaudah kita istirahat lagi ya!"


"Iya tapi nanti, soalnya aku ingin ke kamar mandi dulu," ujar Zuy.


"Oh, yaudah kalau begitu aku antar kamu ke kamar mandi."


Ray lalu beranjak dari tempat tidurnya, setelah itu ia langsung menggendong Zuy dan membawanya ke kamar mandi.


******************************


Hotel


Di dalam kamar hotelnya, Archo nampak sedang mengecek semua data-data yang masuk melalui laptopnya.


Sesaat setelah selesai dengan aktivitasnya, Archo pun langsung menutup laptopnya, lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan beralih ke arah tempat tidur.


Sebelum membaringkan tubuhnya, ia terlebih dahulu melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di atas nakas. Setelah itu, ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasurnya.


"Semoga ada titik terang tentang keberadaan Mam," lirih Archo sambil perlahan menutup matanya.


Lalu tiba-tiba.....


Triiiing.... Triiiing.....


Hp miliknya berdering sangat keras, sehingga membuat Archo membuka kembali matanya yang sudah terpejam dan segera menyambar hpnya yang ia taruh di atas nakas.


Setelah tahu siapa yang menelpon, Archo pun menjawab panggilan tersebut.


"Mr Archo, maaf kalau saya mengganggu istirahat anda," ucap seseorang dari sebrang telponnya.


"Hmmmm, iya tidak apa-apa. Katakan ada kabar apa sehingga malam-malam begini kamu menghubungi ku?" tanya Archo.


"Kami mau menyampaikan kabar bahwa ...."


"Apa!"


***Bersambung....


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2