Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Anak Haram....


__ADS_3

<<<<<


Lalu seorang wanita mendekat ke arah Zuy dan dengan tiba-tiba menarik rambut Zuy sehingga membuat Zuy tersentak kaget dan menolehkan kepalanya ke arah wanita tersebut.


"Nyonya Linda!"


Ucap Zuy menyebutkan nama wanita itu yang ternyata adalah Linda, istri dari Pak Wildan dan Mamih dari anak yang bernama Erlinda Khanza atau yang biasa di panggil Erlin.


Tentunya kalian semua masih ingat dengan nama-nama tersebut kan? Keluarga yang terlalu terobsesi dengan si pria tampan, eh ralat maksudnya Rayyan.


Linda menyeringai lalu berkata, "Heh, ternyata kamu masih ingat dengan ku, wanita rendahan!"


"Tentu saja saya masih ingat dengan anda, Nyonya Linda. Anda adalah istri dari Tuan Wildan dan Ibu dari Nona Erlin," balas Zuy membuat Linda mengerutkan dahinya seraya mendengus.


"Wanita rendahan! Beraninya kamu menyebut nama suami dan anak ku dengan mulut kotor mu itu. Minta di hajar ya, hah!" sungut Linda sambil mengangkat tangannya dan mengayunkannya ke arah Zuy.


Namun tiba-tiba Linda menghentikan aksinya lalu di lirikan matanya ke kanan dan kiri melihat ke sekeliling. Setelah itu, ia pun mendorong keras tubuh Zuy masuk ke dalam salah satu ruang toilet membuat Zuy tersungkur hingga kepalanya membentur dinding dengan cukup keras dan mengakibatkan luka di keningnya.


"Awww...." pekik Zuy seraya memegangi dahinya.


Sesaat Linda pun menyusul masuk ke dalam dan menutup pintu seraya menguncinya. Ia pun mengarahkan pandangannya ke Zuy di barengi senyum smirk-nya.


"Setelah sekian lama akhirnya aku bertemu lagi dengan mu, wanita rendahan!" cerca Linda sambil mendekat ke arah Zuy.


Kemudian Linda menarik kembali rambut Zuy dengan kuat sehingga Zuy meringis kesakitan.


"Sakit, lepaskan aku Nyonya Linda!" Zuy memegangi tangan Linda seraya mencoba melepaskan tangan Linda dari rambutnya.


Melihat ekspresi Zuy yang kesakitan, Linda pun tersenyum sumringah.


"Sakit? Baru segini saja kamu bilang sakit? Heh wanita rendahan, ini sih belum seberapa di bandingkan dengan rasa sakit yang di derita Erlin selama ia mendekam di penjara dan itu semua karena ulah kamu, wanita j*lang!" sentak Linda.


"Hah! Ulah saya?" Zuy menghela nafasnya sesaat. "Nyonya Linda, kenapa anda menyalahkan saya dengan apa yang terjadi pada Nona Erlin?" sambung tanyanya.


"Karena kamu memang yang salah wanita rendahan! Kamu pasti merayu Tuan Ray kan sehingga ia langsung menjebloskan Erlin ke dalam penjara dan mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya. Ternyata kamu memang wanita j*lang, wanita kejam bukan hanya merebut Tuan Ray dari Erlin, kamu juga menghancurkan hidup Erlin." cicit Linda.


"Haaa.... Maaf Nyonya Linda kalau saya membela diri, tapi anak anda memang pantas mendapatkan hukuman atas apa yang telah di lakukannya." cetus Zuy.


"Barusan kamu bilang apa, hah! Dasar j*lang, beraninya kamu berkata seperti itu." pekik Linda sembari mengayunkan satu tangannya dan ....


Plaak....


Tamparan kerasnya pun mendarat tepat di pipi Zuy sampai sudut bibirnya terluka karena tergigit, lalu sesaat Zuy memalingkan wajahnya dan kembali menatap Linda seraya membuang nafasnya.


"Nyonya Linda, saya berani berkata seperti karena Nona Erlin memang bersalah, sebab ia berapa kali hampir membuat saya celaka dan bukan hanya itu saja Nona Erlin juga sudah melukai Ray dengan pisaunya bahkan waktu itu dia hampir saja membuat kami kehilangan anak kami." jelas Zuy.


"Heh, kalau menurut ku wajar saja kalau Erlin melakukan hal itu terhadap mu, sebab kamu wanita rendahan, wanita j*lang perebut milik orang lain." cerca Linda. "Hmmmm, aku jadi curiga, apa jangan-jangan anak yang di perutmu waktu itu bukan anak Tuan Ray, melainkan anak haram hasil hubungan mu dengan pria hidung belang di luaran sana. Lalu setelah hamil kamu malah meminta Tuan Ray untuk tanggung jawab, iya kan? Ck, aku jadi merasa kasihan dengan Tuan Ray dan bodohnya dia, mau aja bertanggung jawab atas anak haram mu itu. Andai aja dulu dia mau sama pasti dia akan punya anak yang lucu-lucu dan tentunya bukan anak haram dari pria lain," sambungnya mengejek.


Mendengar ejekan Linda pun membuat Zuy yang awalnya tenang kini memasang ekspresi wajah yang tak biasa, rahangnya mulai mengeras, sorot matanya yang tajam, pembuluh darah nampak tegang di lehernya menandakan bahwa emosinya saat ini sudah mulai menyerangnya.


"Nyonya Linda jaga bicara anda!" pekik Zuy.


"Heh, kenapa aku harus jaga bicara ku! Memang benar kan kalau anak yang ada di perutmu itu adalah anak haram antara hubunganmu dengan pria lain, tapi kamu malah memfitnah Tuan Ray dan memintanya untuk bertanggung jawab. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan anak haram kamu itu, secara Ibunya j*lang murahan, anaknya juga pasti lebih murahan lagi," Linda melontarkan perkataan dengan nada menghina membuat amarah Zuy memuncak.


Lalu tiba-tiba....


Dug!!!


Zuy menendang pergelangan kaki Linda dengan keras membuat Linda kesakitan dan melepaskan genggamannya dari rambut Zuy, lalu di dorongnya tubuh Linda hingga terjatuh. Setelah itu, Zuy pun segera bangkit dari posisinya.


Linda mencebik. "Wanita s*alan!"


Ia pun mendongakkan kepalanya ke arah Zuy yang tengah menatapnya dengan sinis sembari mengangkat tangannya.


"Apa yang ingin kamu lakukan padaku, j*lang?" teriak Linda, akan tetapi Zuy bergeming dan terus mengangkat tangannya, lalu....


Plaak!


Plaak!


Zuy menampar keras wajah Linda hingga dua kali membuat Linda tersentak seraya membelalakkan matanya, sejenak ia mengalihkan wajahnya kembali ke Zuy.


"Dasar wanita rendahan! Beraninya kamu menampar ku, apa kamu tidak takut kualat. Hah!" sentak Linda.


Zuy mencondongkan tubuhnya ke arah Linda sembari menyunggingkan senyum sinisnya.


"Memangnya kenapa kalau saya berani menampar anda, Nyonya Linda? Apa anda keberatan dan tidak menerimanya, hm! Tapi bukan hanya itu saja yang ingin saya lakukan terhadap anda. Bahkan mulut anda pun ingin sekali saya membungkamnya biar tidak bisa berbicara lagi." sungut Zuy menajamkan tatapannya membuat Linda sedikit ketakutan.


"Ka-kamu!"


Zuy lalu mengarahkan tangannya dan mencengkram kuat kerah baju Linda.


"A-apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku j*lang!" pekik Linda.


"Nyonya Linda, dari tadi saya sudah mencoba untuk menerima dan menahan amarah saya saat anda menghina dan menyiksa saya, karena saya sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti ini. Dan lagi saya juga tidak ingin berdebat ataupun melawan orang yang lebih tua dari saya. Akan tetapi ucapan anda yang menghina anak saya barusan benar-benar membuat saya sangat marah dan saya tidak bisa menerimanya, Nyonya Linda!" sergah Zuy yang terus mencengkeram Linda.


"Heh, lantas apa yang ingin kamu lakukan padaku? Apa kamu ingin membunuhku?" cecar Linda


"Membunuh anda? Saya bukan orang yang seperti itu, Nyonya. Namun ...." Zuy mendekatkan wajahnya ke telinga Linda. "Jika saya mendengar anda menghina anak saya dan menyebutnya anak haram, maka saya tidak akan segan lagi terhadap anda dan saya juga akan membuat Nona Erlin tidak bisa keluar dari hotel prodeo dalam waktu yang sangat lama, Nyonya." sambung gertaknya sambil menjauhkan wajahnya dari telinga Linda.


Betapa terkejutnya Linda mendengar gertakan dari Zuy dan ia tidak menyangka bahwa wanita yang tadinya lemah saat ia tindas dalam sekejap telah berubah dan bahkan mampu menggertaknya. Sedangkan Zuy yang melihat ekspresi wajah Linda pun langsung tersenyum smirk dan perlahan melepaskan genggamannya dari kerah baju Linda.


"Untuk sekarang ini saya memaafkan anda Nyonya, tapi tidak untuk lain kali." ujar Zuy, ia pun melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu.


Akan tetapi....


"Hei wanita rendahan, jangan harap kamu bisa lepas dari ku!" seru Linda sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempangnya.


Zuy memalingkan wajahnya kembali ke arah Linda, seketika ia tercengang melihat Linda mendekat ke arahnya sambil menodongkan sesuatu yang tak lain adalah sebuah pisau. Zuy pun langsung memegang handle pintu dan menariknya, namun sayangnya pintu tersebut malah macet dan tidak bisa di buka.


Ya sebenarnya dari luar pun sudah ada tanda bahwa toilet tersebut rusak. maka dari itu Linda membawa Zuy ke dalam sana, di tambah di dalam toilet itu kedap suara jadi siapapun tidak bisa mendengarnya kecuali kalau seseorang menggedor pintunya.


"Tsk, kenapa pintunya malah macet sih!" umpat Zuy yang memaksa menarik pintu tersebut. "Tolong!" sambung teriaknya sambil menggedor-gedor pintunya.


Terlambat untuk keluar sekarang! Karena Linda sudah berada di dekatnya. Lalu....


"Cepatlah pergi ke neraka wanita rendahan!" Linda mengayunkan tangannya yang memegang pisau ke arah Zuy.


Dengan sigap, Zuy langsung menahan serangan Linda.


"Heh, ternyata kamu bisa menahan serangan ku! Lalu bagaimana dengan ini?" lontar Linda.


Linda pun menggoreskan pisau tersebut ke lengan Zuy hingga mengeluarkan cairan merah dari lengannya itu.


"Aaargh!" Zuy memekik keras karena merasakan sakit pada lengannya itu.


Saat Zuy lengah, Linda pun langsung mendorong kembali tubuh Zuy hingga terjatuh dengan posisi terlentang, kemudian di tindihnya tubuh Zuy oleh Linda. Sekuat tenaga Zuy mencoba melepaskan diri, akan tetapi Linda malah makin menekan tubuhnya.


"Ucapkan selamat tinggal untuk dunia mu, j*lang!" seru Linda yang kembali mengayunkan pisaunya itu.


"Tuhan, jika ini hari terakhir aku hidup. Aku mohon padamu! Tolong jaga dan lindungilah selalu kedua anakku dan orang-orang yang menyayangi ku. Ray, anak-anak maafkan aku!" batin Zuy seraya menutup matanya.


Dan ketika pisau itu sudah hampir mengenai leher Zuy, lalu tiba-tiba....


Braaaak!


Seseorang dari luar berhasil mendobrak pintu terbuka hingga terbuka, kemudian orang itu melangkah masuk ke dalam.


"Apa yang anda lakukan pada Nyonya kami?"

__ADS_1


Mendengar suara tersebut membuat Linda menghentikan niatnya dan menoleh ke arah suara itu, begitu pula dengan Zuy yang langsung membuka matanya dan mengarahkan pandangannya ke orang tersebut yang tak lain adalah....


"Henri!"


Mata Henri terbelalak keadaan Zuy, dengan sigap ia langsung menarik rambut Linda dan menyeretnya menjauh dari Zuy.


"Kalian cepat tahan orang ini!" titah Henri pada pengawal.


Pengawal pun langsung menurut dan memegangi lengan Linda.


"Lepaskan aku, B*stard! Biarkan aku menghabisi wanita j*lang itu!" teriak Linda memberontak.


Lalu kemudian Henri mendekat ke Zuy.


"Nyonya...." Henri membantu Zuy bangkit dari posisinya. "Nyonya, maafkan saya karena terlambat menolong anda, sehingga anda jadi seperti ini." sambung ucapnya yang menyesal.


Zuy tersenyum lalu berkata, "Tidak apa-apa Hen, kamu tidak perlu minta maaf seperti itu!"


"Tapi Nyonya...."


"Sudah Hen! Lebih baik kamu bantu aku untuk berdiri! Soalnya tenaga ku udah hampir habis," titah Zuy dan di balas anggukan oleh Henri.


Henri lalu membantu Zuy berdiri, setelah itu ia memapahnya dan melangkah keluar dari ruang toilet itu.


"Ya ampun Nak Zuy!" Bu Ima tersentak melihat Zuy kondisi tubuh Zuy yang penuh luka.


Bukan hanya Bu Ima saja, semua orang yang berada di sana juga sama terkejutnya, bahkan Dimas dan Eqitna nampak berada di sana.


Sesaat sebelumnya....


Kala itu, Dimas, Eqitna dan Nayla nampak berada di sebuah toko perlengkapan bayi yang ada di Mall yang tak lain adalah Mall CCV. Setelah selesai membeli apa yang di butuhkannya, mereka pun keluar dari toko tersebut. Lalu....


"Mamah, Ayah. Nay mau buang air kecil udah gak tahan!" pinta Nayla sambil memegangi celananya.


"Kasihan anak Mamah udah kebelet, yaudah sebelum ke tempat permainan kita ke toilet dulu. Mamah juga sama seperti Nay," ujar Eqitna.


Mereka bertiga pun berjalan menuju ke arah toilet, sesaat mereka tercengang saat melihat kerumunan orang yang tengah berada di depan toilet.


"Kenapa banyak orang berkumpul di sana? Apa ada sesuatu?" tanya Eqitna.


Dimas mengangkat bahunya. "Entahlah, tapi kalau kamu penasaran, ayo kita lihat!"


Dimas lalu menggendong Nayla, kemudian ia dan Eqitna berjalan mendekat ke arah kerumunan itu.


"Maaf, ini ada apa ya? Kenapa pada berkumpul di sini?" tanya Dimas pada salah satu pengunjung.


"Itu Pak, ada wanita yang di serang." jawab pengunjung itu sambil menunjuk.


Dimas pun mengarahkan pandangannya ke arah pengunjung itu menunjuk, seketika pupil matanya membesar karena melihat Zuy yang tengah di papah. Dimas dan Eqitna langsung mendekat.


"Zuy...."


"Lho! Paman, Kak Eqitna. Kalian di sini juga?" sahut Zuy.


"Apa yang terjadi denganmu, Zuy?"


"Biasa Paman, tapi hanya luka kecil saja." jawab Zuy.


Dimas berdecak. "Ck, apanya yang luka kecil, lihat lengan mu robek begitu. Ayo kita ke rumah sakit!"


"Nggak Paman, Zuy gak mau di rawat." tolak Zuy seraya menggeleng cepat.


"Kamu gak bakalan di rawat hanya di obati saja." balas Dimas.


Zuy pun akhirnya menurut, lalu ia di bawa ke rumah sakit terdekat untuk di obati.


*******************************


Sementara itu di ruang CEO.


Ray nampak sedang melakukan panggilan video melalui hpnya.


"Ray, aku sangat merindukan mu. Kapan kamu akan pulang dan menjengukku disini?" tanya seorang wanita dari sebrang.


"Ya nanti kalau ada waktu aku pulang dan menjenguk mu." ujar Ray.


"Kapan? Kamu selalu saja bilang seperti itu. Tapi nyatanya malah gak pernah jadi pulang." gumamnya.


"Ya karena aku sibuk, my sister Alesya!" ujar Ray yang ternyata sedang mengobrol dengan adiknya.


"Huh! Selalu saja alasannya sibuk terus. Udah ah aku mau istirahat. Soalnya Madam siska sudah berkeliling, bentar lagi sampai ke kamar ku." kata Lesya.


"Oh, yaudah kalau begitu. Kamu hati-hati ya di sana, belajar yang rajin!"


"Iya bawel, miss you Ray. Bye...."


Lesya langsung menutup telponnya.


"Kamu makin mirip dengan Mom Candika, Sis." lirih Ray sambil meletakkan hpnya di meja.


Deeg....


Tiba-tiba jantung Ray berdegup kencang, perasaan tidak enaknya pun mulai menyerangnya.


"Ada apa ini?" lirih Ray.


Lalu Davin masuk ke dalam ruangan Ray.


"Tuan Ray...." Davin memanggil Ray dengan suara keras.


"Kak Davin, bisa tidak kalau manggil orang tuh gak perlu pakai teriak begitu!" pekik Ray. "Ada apa? Kenapa Kak Davin terlihat tergesa-gesa seperti itu?" sambung tanyanya.


Davin terkekeh kemudian berkata, "Tuan Ray, apa anda lupa? Hari ini kita akan rapat dan semuanya sudah menunggu anda."


Seketika membuat Ray menepuk jidatnya.


"Oh iya aku lupa, maaf Kak! Soalnya tadi Lesya menghubungi ku jadi aku mengobrol sebentar dengannya."


"Hummmph, buruan siap-siap Tuan! Kalau rapatnya selesai anda bisa pulang cepat dan bisa tuh misteri-misterian lagi dengan Zuy kaya semalam." celetuk Davin.


Ray berdecak. "Ck, bener-bener adonan moci ini."


Ray lalu beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Davin sembari memakai jas-nya.


"Ayo kita ke sana!"


"Oke...."


Keduanya pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan CEO menuju ke ruang rapat.


Hmmm, sepertinya belum ada yang memberitahu mereka tentang apa yang terjadi di Mall CCV.


...----------------...


Sore hari....


Villa Z&R


Zuy kini sudah berada di Villanya dan sedang di dalam kamarnya bersama dengan Bu Ima sembari mengawasi kedua anaknya. Sedangkan Eqitna dan Dimas sudah pulang ke rumahnya beberapa saat setelah mengantar Zuy.

__ADS_1


"Nak, apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Bu Ima.


"Untuk saat ini Zuy tidak ingin apa-apa Bu." jawab Zuy.


"Oh yaudah kalau begitu, tapi kalau kamu perlu sesuatu tinggal bilang ke Ibu ya Nak!"


Zuy mengangguk. "Iya Bu Ima."


Lalu terdengar suara langkah kaki cepat yang sedang menuju ke arah mereka.


"Sayangku...."


Mendengar suara tak asing memanggilnya dengan sebutan 'Sayangku' Zuy pun langsung menolehkan kepalanya ke arah orang yang memanggilnya itu, begitu pula dengan Bu Ima dan si kembar.


"Ray, selamat datang!" Zuy menyambut kedatangan Ray. "Tumben jam segini kamu udah pulang?" sambung tanyanya.


Akan tetapi Ray tidak menjawab pertanyaan Zuy, ia terus melangkah masuk dan menghampiri pujaan hatinya itu, tatapan matanya pun terlihat sendu saat ia melihat lengan kiri dan dahi Zuy tertutup perban karena luka.


Saat sudah berada di dekatnya, Ray langsung memeluk erat tubuh pujaan hatinya itu.


"Sayangku, kenapa kamu tidak bilang padaku kalau kamu di celakai wanita gila, Ibunya si Erlin itu?" cecar Ray dengan nada sendu.


"Ka-kamu tau dari mana kalau aku di celakai Mamihnya Erlin?"


"Henri yang memberitahu ku, sayangku."


Zuy menghela nafasnya. "Ternyata dari Henri ya, padahal aku sudah mengatakannya untuk tidak memberitahunya sekarang." batinnya.


"Ada apa sayangku, kenapa kamu menghela nafas mu seperti itu? Apa ada yang sakit?" tanya Ray.


"Tidak ada yang sakit, Ray. Maafin aku ya! Bukannya aku tidak mau memberitahu mu, Ray. Hanya saja aku tidak ingin mengganggu waktu kerjamu." ujar Zuy.


Ray melepaskan pelukannya dan beralih memegang kedua bahu Zuy.


"Sayangku, jangan berkata seperti itu! Sesibuk apapun aku, aku akan selalu mengutamakan kamu, sayangku." ujar Ray membuat Zuy menyunggingkan senyumannya.


"Terimakasih Ray."


Lalu....


"Tuan Ray, Nak Zuy. Ibu keluar dulu ya!" kata Bu Ima.


"Iya Bu," balas Zuy.


Bu Ima pun beranjak dari tempat dan melangkah keluar.


"Sayangku, ceritakan padaku tentang apa yang terjadi yang sebenarnya?"


"Hmmmm, bukannya tadi Henri sudah cerita padamu ya? Tapi kenapa kamu malah meminta ku untuk cerita?"


"Ya karena aku ingin mendengarnya dari kamu sayangku, ayo ceritakan padaku tentang kejadian yang menimpa mu ini!" desak Ray.


"Baiklah aku akan menceritakannya, tadi itu...."


Zuy menceritakan kejadian yang di alaminya itu pada Ray. Seketika membuat Ray tersulut emosi saat mendengarnya.


"Apa! Lancang sekali wanita itu menghina dan mengatai anakku adalah anak haram. Ini benar-benar tidak bisa di maafkan." pekik Ray dengan emosinya.


"Ya, makanya tadi aku marah saat ia berkata seperti itu pada anak kita. Dan saking emosinya aku sampai mendorong dan menamparnya." papar Zuy membuat Ray tercengang.


"Hah! Jadi sayangku benar-benar menampar dan mendorongnya?"


Zuy menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya Ray, bahkan aku menamparnya dua kali. Ya walaupun tidak bisa menghilangkan rasa sakit hatiku namun setidaknya bisa mengurangi sakitnya." kata Zuy.


Ray lalu menyunggingkan senyum sumringahnya saat mendengar perkataan pujaan hatinya, ia pun langsung mengangguk wajah Zuy dan menghujani beberapa ciuman.


"Ray, berhenti!"


"Kenapa harus berhenti sayangku? Aku kan sedang memberi hadiah ciuman karena kamu sudah menamparnya." lontar Ray dengan senangnya.


"Tapi Ray, apa kamu tidak melihat di belakang mu itu? Ada dua anak di bawah umur yang sedang melihat kita." cetus Zuy.


Seketika Ray langsung melepaskan tangannya dari wajah Zuy dan beralih ke arah anak-anaknya yang tengah duduk sambil menatap seraya menunjukkan ekspresi wajah cemberut mereka ke arah Ray.


"Ganteng dan cantiknya Daddy kenapa kalian cemberut gitu? Apa kalian marah sama Daddy?" ucap Ray menoel pipi gembul keduanya.


Seketika celotehan dari Baby Z keluar dari mulut kecilnya, seakan-akan sedang mengomeli Daddy-nya. Berbeda dengan Baby R yang hanya terdiam sambil terus menatap adiknya itu.


"Iya cantik, Daddy minta maaf karena tidak melihat kalian. Soalnya Daddy khawatir dengan Mamah kalian yang terluka." ucap Ray.


Sedangkan Zuy hanya terkekeh geli melihat tingkah laku putrinya itu.


—Pukul 08.37pm


Seperti sebelumnya, langit malam ini begitu cerah karena ada banyaknya bintang bertaburan dan bulan yang bersinar serta hembusan angin darat yang begitu menusuk tulang begitu pula dengan deburan ombak lautnya.


Setelah beberapa saat berada di dalam kamar si kembar dan selesai menidurkan si kembar. Zuy pun langsung melangkah keluar dari kamar anaknya itu melalui pintu satunya yang terhubung keluar.


Karena kamar anaknya mempunyai dua pintu, yang pertama terhubung ke arah kamarnya dan pintu kedua terhubung ke arah luar.


Saat sudah berada di luar, ia pun menjejakkan kakinya menuju ke arah Airin. Setibanya....


Tok... Tok.... Tok....


"Rin, Airin...."


Lalu....


"Masuk aja Zuy! Pintunya gak di kunci." seru Airin dari dalam kamarnya.


Zuy pun langsung mendorong pintunya hingga terbuka dan melangkah masuk, setelah itu ia pun menghampiri Airin.


"Belum tidur kamu, Rin?" tanya Zuy sambil mendudukkan dirinya di samping Airin.


"Belum Zuy, soalnya aku belum ngantuk." jawab Airin.


Zuy manggut-manggut, lalu sesaat....


"Euuum, Rin aku boleh minta sesuatu dari kamu gak." lontar Zuy.


"Sesuatu? Tentu boleh Zuy. Tapi sesuatunya berupa apa dulu nih Zuy? Berupa makanan atau benda lainnya?"


"Hmmmm, lama-lama perkataan mu ini mirip sama Pak Davin ya Rin."


Seketika membuat Airin mendengus. "Huuumph, kamu ini Zuy, suka sekali menggodaku!"


Zuy pun terkekeh, kemudian perlahan mendekat ke arah telinga Airin lalu membisik kan sesuatu pada Airin. Sesaat setelahnya....


"Hah! Kamu serius Zuy?"


***Bersambung....


Author: "Kabur aaah.... Tuttuttutttuttu...."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏

__ADS_1


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... 😉✌😉✌


__ADS_2