
<<<<<
Maria menghentikan ucapannya dan membulatkan matanya karena melihat Zuy yang sedang berdiri di samping Bunda Artiana.
"Lho, kamu!"
Lontar Maria menunjuk ke arah Zuy. "Tsk, kenapa si anak durhaka ini bisa ada di sini, menyebalkan!" sambung batin Maria.
Zuy lalu menganggukkan kepalanya dengan sopan sembari menyunggingkan senyumannya ke arah Maria.
"Mrs Maria, apa kabar?" sapa Zuy sekaligus bertanya.
Maria pun hanya membalas dengan senyuman tipis saja. Akan tetapi hatinya kembali berkata, "Cih, pake sok-sokan berlagak sopan lagi. Heh, pasti dia mau cari simpati Bunda, supaya Bunda lebih menyayanginya lagi di bandingkan dengan Kimberly, memang benar-benar anak durhaka!"
Lalu....
"Cucuku, kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan Mrs Maria saja? Harusnya kamu panggil Maria dengan sebutan Mamah atau Ibu!" tutur Bunda Artiana.
Zuy ternanap mendengar tuturan dari Bunda Artiana, sekilas ia pun melihat ke arah Maria dan beralih kembali ke Bunda Artiana.
"Maaf Nek, Zuy ...."
"Apa yang di katakan oleh Bunda itu benar, harusnya kamu memanggil ku dengan sebutan Mamah, Zuy!" Maria menyela perkataan Zuy.
Sontak membuat Zuy terperangah dan langsung menundukkan kepalanya.
"Ma-maafkan kesalahan Zuy! Nenek, Mamah." ucap Zuy.
"Iya tidak apa-apa cucuku." balas Bunda Artiana sembari memegang bahu Zuy.
Seketika Zuy mengembangkan senyumannya, lalu ia kembali mengangkat kepalanya dan menatap Bunda Artiana.
"Terimakasih Nenek."
"Iya cucuku, oh iya kamu duduk dulu di sini ya bersama Maria! Nenek mau ke kamar sebentar." kata Bunda Artiana.
"Ke kamar? Memangnya Bunda mau apa?" tanya Maria.
"Bunda mau ganti pakaian dulu, Maria." jawab Bunda Artiana.
"Oh...." lirih Maria manggut-manggut.
Bunda Artiana melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, sesaat setelah Bunda Artiana masuk ke kamarnya ....
"Mau apa kamu datang ke sini? Apa kamu mau bikin masalah lagi dengan ku?" cecar Maria.
Zuy menggeleng. "Tidak Mamah, Zuy hanya ...."
"Jangan memanggilku Mamah! Anak durhaka seperti mu tidak pantas memanggilku dengan sebutan Mamah," sentak Maria.
"Tapi tadi anda ...."
Maria tersenyum sinis dan berkata, "Heh, tadi aku hanya bersandiwara di depan Bunda saja dan siapa sangka ternyata anak durhaka seperti mu bisa sampai terbawa suasana dengan sandiwara ku ini."
"Apa! Jadi itu hanya sandiwara saja?"
"Iya, itu hanya sandiwara saja," Maria mengulangi perkataannya.
Nyuut....
Dada Zuy tiba-tiba terasa nyeri mendengar perkataan dari Maria, nampak terlihat matanya yang sudah berkaca-kaca seakan ingin menangis.
Sesaat ia pun mengambil nafas panjangnya dan menghembusnya seraya mengusap matanya itu.
"Sekarang Zuy paham dan maaf kalau barusan Zuy terbawa suasana dengan sandiwara anda, Mrs Maria." ucap Zuy yang kembali menunduk.
"Nyonya...." lirih Henri yang sedari tadi berada di samping Zuy.
Henri pun mengalihkan pandangannya ke arah Maria dan menatap tajam Maria membuat dahi Maria mengerenyit.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu tidak terima kalau majikan mu sudah aku bohongi, hah!" pekik Maria membalas tatapan Henri.
"Mrs Maria! anda...."
Henri tiba-tiba menghentikan perkataannya karena Zuy melihat ke arah Henri sambil menggeleng pelan.
"Tapi Nyonya."
"Henri!" lirih Zuy.
Seketika Henri langsung menundukkan kepalanya, Zuy lalu beralih ke arah Maria.
"Maafkan Henri, Mrs Maria!" ucap Zuy mewakili Henri.
"Ciih dasar, anak buah dan majikan sama saja tidak ada sopan-sopannya terhadap orang tua," celetuk Maria.
Zuy pun hanya terdiam mendengarnya dan tiba-tiba terdengar suara tangisan dari Baby Z terbangun dari tidurnya. Sontak membuat Zuy langsung beralih ke arah stroller-nya dan mengangkat anak perempuannya itu.
"Cantiknya Mamah sudah bangun ya. Hen, tolong ambilkan botol susu milik Baby Z!" pinta Zuy.
Henri langsung mengangguk patuh, kemudian ia mengambil botol susu di tas dan memberikannya pada Zuy.
"Ini Nyonya!"
"Terimakasih Hen."
Zuy mengambil botol susu itu dari tangan Henri dan langsung memberikannya pada Baby Z.
"Cup.... Cup.... Cantiknya Mamah haus ya? Makanya di kasih susu langsung anteng," ucap Zuy pada Baby Z.
Maria yang berada tak jauh dari Zuy pun terus memandangi Zuy yang tengah menggendong Baby Z.
"Kenapa aku merasa seperti Dejavu, saat melihat anak durhaka ini menggendong anaknya," batin Maria.
Karena merasa sedang di perhatikan, Zuy pun melirik kan matanya ke arah Maria dan dalam hatinya berkata, "Kenapa Mrs Maria ngeliatin aku seperti itu?"
Lalu.....
"Cucuku, maaf ya kalau Nenek lama," seru Bunda Artiana berjalan menghampiri.
Seketika Maria dan Zuy langsung menolehkan kepalanya ke arah Bunda Artiana.
"Tidak apa-apa Nek," balas Zuy tersenyum.
"Aiiih, cicitnya Nenek udah bangun ya?" Bunda Artiana melihat ke arah Baby Z yang sedang menyusu dan di elusnya kepala Baby Z oleh Bunda Artiana.
"Iya Nek, Zea haus jadi kebangun dari tidurnya," kata Zuy.
__ADS_1
Baby Z melepaskan dot-nya dari mulutnya, matanya pun melihat ke arah Bunda Artiana.
"Ma...." celoteh Baby Z mengedip-ngedipkan matanya ke Bunda Artiana.
"Cucuku, apa dia sedang menyapa ku?" tanya Bunda Artiana.
Zuy mengangguk. "Iya Nek, Zea sedang menyapa Nenek uyut-nya."
Seketika membuat senyum Bunda Artiana mengembang.
"Maria lihatlah! Betapa lucunya cicit Bunda, dan dia sudah bisa menyapa Nenek uyut-nya." seru Bunda Artiana melihat Maria.
Akan tetapi Maria tidak berkata apa-apa hanya senyuman tipisnya yang terukir di bibir Maria. Lalu....
"Mmmm..." lagi-lagi Baby Z berceloteh, namun sekarang tatapan matanya menuju ke arah Maria.
"Maria, Cucu mu sekarang menyapa mu. Lihatlah!" ucap Bunda Artiana dengan senangnya.
Sontak membuat Maria mengalihkan pandangannya ke arah Baby Z yang tengah melihatnya. Sama seperti Bunda Artiana, Baby Z pun mengedipkan matanya ke arah Maria sambil tersenyum menampilkan gusinya.
"Lucunya...." batin Maria, nampak jelas wajahnya tengah merona karena tingkah Baby Z.
"Cucuku...." panggil Bunda Artiana.
"Iya Nek," sahut Zuy.
"Sepertinya Maria ingin melihat cucunya lebih dekat, ayo kamu mendekat lah dan tunjukkan anakmu pada Maria!" titah Bunda Artiana.
Mendengar itu, sekilas Zuy melirik kan ke arah Maria dan beralih kembali ke Bunda Artiana.
"Baiklah Nek," balas Zuy mengangguk.
Sebelum melangkah Zuy terlebih dahulu menghela nafasnya, kemudian ia perlahan mendekat ke arah Maria membuat dahi Maria mengerenyit.
"Ck, apa-apaan sih Bunda, malah menyuruh anak durhaka ini untuk mendekat ke arah ku," sungut Maria dalam hatinya.
Saat sudah saling dekat dan berhadapan, Zuy pun mendekatkan Baby Z ke arah Maria.
"Nenek, ini aku Zea cucu Nenek," ucap Zuy mewakili Baby Z.
Maria terpukau melihat Baby Z yang menggerakkan tangannya di hadapan Maria. Ia pun mengangkat tangan kirinya dan perlahan mengarahkannya ke Baby Z.
Ketika tangannya hampir menyentuh kepala Baby Z, tiba-tiba wajah Kimberly terlintas di pikirannya. Sehingga Maria mengurungkan niatnya untuk menyentuh cucu perempuannya itu. Lalu Maria menjalankan kursi rodanya dan menjauh beberapa jarak dari Zuy.
"Maria ada apa? Kenapa kamu tidak jadi menyentuh cucu mu dan malah menjauh dari mereka?" tanya Bunda Artiana kebingungan.
"Maaf Bunda, tiba-tiba kepala Maria terasa sakit. Dan Maria harus ke kamar untuk minum obat dan istirahat," kata Maria dengan alasannya.
"Apa! Kepala kamu sakit lagi?" Bunda Artiana terkejut mendengarnya.
"Iya Bunda, gak tau kenapa bisa kambuh seperti ini, rasanya sakit sekali, Bunda." Maria mengeluh kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Yaaa, padahal ada anak dan cucu kamu, Maria. Tapi sakit kepala kamu malah kumat, yaudah kamu istirahat sana! Biar sakit kepala kamu cepat sembuh," kata Bunda Artiana sekaligus menyuruh Maria.
Maria pun langsung menganggukkan kepalanya, lalu....
"Mau Zuy antar ke kamar, Mrs Ma ah maksudku Mah?" tawar Zuy.
Namun Maria menggelengkan kepalanya. "Tidak usah di antar, aku bisa menyuruh Mira." cetusnya.
Sehingga membuat raut wajah Zuy menjadi sendu karena sudah tawarannya untuk membantu Maria di tolak oleh Maria.
"Cih, ternyata si anak durhaka ini pintar juga berakting sampai Bunda saja bisa tertipu oleh aktingnya," batin Maria memandangi Zuy, nampak jelas dari raut wajahnya yang kesal.
Sesaat Maria memalingkan wajahnya ke Bunda Artiana.
"Siapa yang menolaknya, Bunda. Maria tidak menolaknya, Maria hanya tidak ingin merepotkan nya saja." elak Maria.
"Tapi Mah, Zuy gak ...."
Maria lalu melotot kan matanya ke Zuy sehingga Zuy menghentikan perkataannya dan menunduk.
"Sudah kamu temani Bunda saja ya! Biar Mira yang membantu Mamah," lontar Maria.
"I-iya Mah," lirih Zuy mengangguk patuh.
"Mira...." seru Maria.
Sesaat Mira datang menghampiri. "Iya Mrs Maria," sahutnya.
"Antar saya ke kamar!" titah Maria.
Mira pun langsung mematuhi perintah Maria dan mendorong kursi roda Maria menuju ke kamarnya.
"Cucuku, ayo duduk! Nenek ingin memangku cicit Nenek," pinta Bunda Artiana.
"Iya Nek."
Zuy kembali mendekat ke Bunda Artiana dan duduk di sampingnya. Kemudian ia memberikan Baby Z pada Bunda Artiana. Ya untungnya Baby Z tidak rewel di gendong oleh siapa saja, berbeda dengan Baby R yang selalu menangis jika ada orang yang baru di temuinya itu.
Setelah mengantarkan Maria ke kamarnya dan membantunya naik ke tempat tidur, Mira pun bergegas keluar dari kamar Maria dan meninggalkan Maria sendirian.
"Gak di sangka anak durhaka itu pandai berakting di depan Bunda. Huh.... Pantas saja Bunda dan Dimas begitu luluh dan menyayanginya. Dan lagi apa sih yang ada di pikiran ku tadi, sampai-sampai aku terpukau melihat anaknya dan bahkan ingin menyentuhnya, tapi untungnya wajah Kimberly terlintas di pikiranku, kalau tidak mungkin aku..., ah benar-benar si anak durhaka!" sungut Maria.
Ia lalu mengambil hpnya yang di atas nakas dan memandangi layarnya yang terpampang foto Kimberly bersamanya.
"Kimberly, bagaimana keadaan mu sekarang? Entah kenapa akhir-akhir ini perasaan Mam tidak enak dan dada Mam terasa sesak. Apa terjadi sesuatu dengan mu, Kim? Tapi setiap Mam menghubungi Archo dan Liora untuk menanyakan kabar mu, mereka selalu bilang kalau kamu baik-baik saja. Mungkin ini hanya perasaan Mam saja, karena selalu merindukan dan memikirkan mu. Ya Mam benar-benar sangat merindukanmu, Mam ingin sekali memeluk dan mencium mu seperti dulu, Kimberly." ucap Maria pada layar hpnya itu.
...----------------...
Menjelang malam hari....
Rumah Ray
Sementara itu di kamar milik si kembar, Zuy dan Bu Ima nampak tengah menenangkan si kembar. Sedari sore tadi mereka selalu menangis karena demam.
Ya sama seperti sebelumnya, setelah di imunisasi pasti si kembar langsung demam.
"Panasnya belum turun juga," lirih Zuy melihat ke arah termometer Baby R. Lalu ia beralih ke Baby Z yang sedang di gendong Bu Ima.
"Bagaimana dengan Baby Z, Bu?" sambung tanyanya.
"Zea sudah tidur Nak Zuy, dan ini termometer milik Zea."
Bu Ima pun memberikan termometer milik Baby Z pada Zuy.
"Syukurlah, panasnya Baby Z sudah sedikit menurun. Tolong baringkan Baby Z ke tempat tidur ya Bu!" pinta Zuy.
__ADS_1
Bu Ima pun menurut dengan sangat perlahan Bu Ima meletakkan tubuh Baby Z di atas kasurnya.
"Terimakasih Bu," ucap Zuy.
"Sama-sama Nak," balas Bu Ima.
Lalu tiba-tiba....
Braaaak....
Seseorang membuka pintu kamarnya dengan keras, setelah itu ia pun mengambil langkah besarnya menuju ke arah kamar si kembar.
"Sayangku...." serunya.
Zuy dan Bu Ima menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut yang tak lain adalah ....
"Ray!"
"Tuan Ray."
Ray lalu berjalan menghampiri Zuy dan Bu Ima dengan nafasnya yang terengah-engah.
"Sayangku, aku dengar kabar kalau si kembar demam. Apa itu benar?"
Zuy mengangguk. "Iya Ray, si kembar demam mungkin karena efek habis di imunisasi sama seperti sebelumnya."
"Oh, kasihan gantengnya Daddy," ucap Ray memegang dahi Baby R. "Lalu di mana si cantik Baby Z?" sambung tanyanya.
"Dia sudah tidur dan panasnya juga sudah sedikit menurun," ujar Zuy.
"Syukurlah kalau panas Baby Z sudah menurun," Ray menghela nafas leganya.
"Maaf Nak Zuy, Tuan Ray. Ibu keluar sebentar ya! Oh iya Tuan Ray mau di buatkan minuman apa?" lontar Bu Ima.
"Buatkan teh manis hangat aja, Bu." ujar Ray.
"Baiklah Tuan Ray," balas Bu Ima.
Bu Ima langsung melenggang keluar dari kamar tersebut.
"Gantengnya Daddy cepat sembuh ya! Biar bisa main lagi dengan Daddy, Baby Z dan Mamah cantik," Ray menoel pipi Baby R yang tengah menyusu.
Karena merasakan sentuhan tangan dari Ray, Baby R pun langsung melepaskan asi Zuy dan mengalihkan pandangannya ke arah Ray.
"Ma." celoteh Baby R sembari mengangkat tangannya.
"Uuh, gantengnya Daddy minta di gendong ya? Yaudah sini gendong sama Daddy tampan."
Ray mengambil Baby R dan menggendongnya, lagi-lagi celotehan dengan kata "Ma." terdengar kembali dari mulut Baby R.
"Ma, ma terus yang di ucap, sekali-kali Daddy dong! Kan yang gendong kamu sekarang Daddy bukan Mamah," gerutu Ray mencium gemas pipi gembul Baby R. "Gantengnya Daddy bau susu," sambungnya.
Seketika Baby R mengeluarkan suara tawa khasnya itu, sehingga membuat Zuy dan Ray tersenyum bahagia melihatnya.
"Sayangku lihatlah! Gantengnya kita tertawa," seru Ray melihat ke Zuy.
Zuy pun mendekat ke arah Ray dan di sandarkan kepalanya ke tangan Ray.
"Terimakasih ya Ray, kamu sudah membuat Baby R tertawa lagi."
Seketika Ray mengalihkan wajahnya ke arah pujaan hatinya itu.
"Kenapa kamu yang berterimakasih padaku, sayangku? Harusnya aku yang berterimakasih padamu karena kamu sudah berjuang demi mereka. Terimakasih ya sayangku," ujar Ray.
Zuy pun tersenyum sambil mengusap rambut Ray.
"Bukan aku, tapi kita yang sama-sama berjuang untuk si kembar, Ray."
"Iya kamu benar sayangku, kita sama-sama berjuang untuk si kembar."
Ray lalu mencium kening beralih ke pipi Zuy, dan saat bibirnya hendak mendarat ke bibir Zuy, tiba-tiba Zuy menahan bibir Ray dengan tangannya.
"Kenapa sayangku? Aku kan ingin mencium mu."
"Ray, apa kamu tidak merasa ada anak di bawah umur yang sedang kamu gendong itu," pekik Zuy melirik ke Baby R.
Sontak Ray langsung menolehkan kepalanya ke arah Baby yang tengah memandangi Ray sambil mengisap jarinya.
"Maaf sayangku! Aku tidak ingat kalau dia masih melek," ucap Ray. "Baby R sayang, barusan Daddy sama Mamah hanya main-main saja. Kamu jangan ikut-ikutan ya gantengnya Daddy!" sambung tuturnya pada Baby R .
Zuy yang melihatnya pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Haaaa.... Dasar kamu Ray."
*********************************
Amerika
Β°Kediaman Daddy Michael
Di dalam kamarnya, Liora nampak sedang membongkar lemarinya, entah apa yang di carinya sampai-sampai membuatnya kebingungan sendiri.
"Ada di mana sih? Kenapa aku bisa lupa menyimpannya, dasar!" umpat Liora. Lalu tiba-tiba....
Braaaak
Liora tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak kayu yang berada di lemarinya itu, sehingga membuat pandangan Liora mengarah ke kotak kayu tersebut.
"Kotak apa itu? Aku tidak ingat bahwa aku pernah memiliki kotak seperti itu. Apa jangan-jangan itu milik Michael?" lirih Liora.
Ia membungkukkan tubuhnya untuk mengambil kotak kayu tersebut. Setelah di ambil, Liora lalu memandangi kotak kayu tersebut dengan teliti.
"Kotak yang unik tapi jelek. Hmmmm, kira-kira isinya apa ya?"
Dengan perlahan Liora membuka kotak kayu tersebut. Saat kotak itu sudah terbuka, seketika mata Liora langsung membulat sempurna.
"Hah! I-ini...!"
***Bersambung....
Author: "Huhuhuhu.... Maafkan Author yang baru sempat updet Kakak... πππ πππ"
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Author: "Maaf telat Updet..!!" πππ
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. πππ
__ADS_1
Salam Author... πβπβ