
<<<<<
Lalu Zuy melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu. Sesampainya di sana, Zuy tercengang melihat beberapa orang bertubuh kekar tengah berdiri di depan pintu, perlahan ia melangkah mendekat ke arah pintu.
"Ka-kalian siapa?"
Karena penasaran Zuy pun bertanya, sebab posisi mereka menghadap ke arah halaman membelakangi pintu.
Kemudian satu-persatu mereka yang bertubuh kekar itu pun membalikkan badannya menghadap ke arah Zuy seraya memasang ekspresi wajah yang dingin dan sangar serta tatapan mata mereka yang tajam, sehingga membuat Zuy membelalakkan matanya karena terkejut.
"Si-siapa kalian sebenarnya? Dan ada keperluan apa kalian datang kemari dan mencari ku?" cecar Zuy.
Akan tetapi mereka tidak berkata dan terus menatap Zuy, sontak membuat Zuy sedikit ketakutan dan nampak keringat dingin mengucur di pelipisnya.
"Siapa sih mereka ini? Kenapa para pengawal membiarkan mereka kesini? Apa jangan-jangan mereka sudah melukai para pengawal Ray sehingga mereka bisa sampai masuk kesini?" batin Zuy menduga-duga.
Lalu sesaat....
"Katakan padaku! Siapa sebenarnya kalian ini? Dan ada keperluan apa kalian datang kemari?" Zuy bertanya kembali.
Namun mereka tetap saja bergeming, kemudian salah satu dari mereka pun mendekat pada Zuy.
"Ja-jangan mendekat!" sentak Zuy seraya mengangkat tangannya mengisyaratkan kepada pria tersebut agar tetap di tempatnya.
Mendengar suara Zuy, seketika Airin yang kala itu masih menikmati makan malamnya pun langsung mengehentikan aktivitasnya seraya menolehkan kepalanya.
"Zuy! Jangan-jangan terjadi sesuatu?" lirih Airin sembari bangkit dari posisinya, lalu bergegas menuju ke ruang di mana Zuy berada.
Setibanya, pupil mata Airin pun membesar saat ia melihat salah satu pria bertubuh kekar tersebut mendekat ke Zuy. Lalu....
"Hei kamu, menjauh dari Kakakku!" seru Airin.
Sontak pria itu langsung menghentikan langkahnya dan memalingkan wajahnya ke arah Airin, begitu juga dengan Zuy.
"Airin!" lirih Zuy.
Airin pun segera mendekat ke arah Zuy, lalu berdiri di depan Zuy seraya memegang bahunya.
"Zuy apa kamu baik-baik aja?" tanya Airin.
Zuy mengangguk. "Iya aku baik-baik aja Rin."
"Lalu siapa mereka?"
"Gak tau Rin, aku udah bertanya juga tapi mereka malah diam saja kaya patung."
Airin menghela nafasnya sesaat, kemudian ia memutar badannya dan menghadap ke arah orang yang di depannya itu.
"Apa yang ingin kamu lakukan pada Zuy? Dan lagi siapa kalian semua?" cecar Airin mengerutkan dahinya.
"Nona siapa?" bukannya menjawab pria yang di hadapan Airin malah bertanya kembali.
"Ck, bukannya jawab pertanyaan ku malah balik bertanya. Tapi kalau kamu penasaran siapa aku, baiklah aku akan memberitahu mu." Airin membuang nafasnya sejenak. "Aku Airin sahabat sekaligus adik Zuy," ujarnya dengan lantang sembari menatap tajam matanya ke pria di hadapannya itu.
Akan tetapi ia tidak membalas tatapan Airin dan malah kembali melihat Zuy yang berada di belakang Airin.
"Berhenti menatap Zuy! Kalau kamu tidak ingin anak ayam milikmu hancur dan tidak berfungsi karena tendangan ku." pekik Airin sekaligus menggertaknya.
Lalu tiba-tiba pria tersebut membungkukkan badannya ke arah Zuy dan Airin begitu pula dengan yang lainnya, sehingga membuat Zuy dan Airin terperangah melihatnya.
"Zuy, kenapa mereka tiba-tiba membungkuk seperti itu?" tanya Airin yang keheranan.
Zuy mendekat ke telinga Airin.
"Mungkin mereka takut sama perkataanmu barusan yang ingin menghancurkan anak ayam miliknya." balas Zuy berbisik.
"Oh, jadi begitu ya. Hmmm...."
Airin pun kembali ke arah pria di hadapannya itu sembari berkacak pinggang.
"Heh, dasar kalian badan doang gede tapi mental lemah. Baru di gertak gitu aja udah ketakutan bahkan sampai membungkuk seperti ini," celetuk Airin.
Lalu mereka semua mengangkat kepalanya kembali.
"Maaf Nona Airin, sepertinya anda sudah salah paham." ujarnya.
Airin mengerenyit. "Hmm, salah paham?"
"Iya Nona, sebenarnya kami membungkuk karena kami ingin memberi hormat kami pada Nyonya Zuy bukan takut akan gertakan Nona tadi." jelas si pria itu.
"Apa! Ja-jadi kalian semua membungkuk bukan karena takut gertakan ku melainkan memberi hormat pada Zuy?"
Pria itu menganggukkan kepalanya.
"Iya Nona Airin," ujarnya membuat wajah Airin memerah karena malu.
"Lalu siapa kalian semua? Dan ada keperluan apa datang kemari?" Zuy bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
"Sebenarnya kami ...."
"Mereka adalah orang-orang ku, anakku!" seru seorang pria berjalan melewati para lelaki bertubuh kekar itu seraya mendekat ke arah Zuy
Zuy dan Airin seketika mengalihkan pandangannya ke suara tersebut yang tak lain adalah....
"Daddy > Mr Michael!" lirih Zuy dan Airin bersamaan.
Saat di depan keduanya, Daddy Michael menghentikan langkahnya lalu berdiri berhadapan dengan Zuy dan Airin sembari menyunggingkan senyumnya.
"Bagaimana kabar kalian berdua, anak-anak?" tanya Daddy Michael.
Lalu mereka berdua segera mendekat dan mencium punggung tangan Daddy Michael secara bergantian.
"Maaf ya sudah membuat kalian ketakutan karena orang-orang Daddy ini." ucap Daddy Michael.
"Tidak apa-apa Dad. Ya meskipun tadi Zuy sempat takut dan khawatir juga sih, soalnya wajah mereka sangar udah gitu di tanya malah pada diam lagi," papar Zuy di susul senyumnya.
"Ya mereka memang seperti itu anakku, dan lagi mereka diam karena mereka belum bisa bahasa Indonesia, cuma dia saja yang bisa." jelas Daddy Michael seraya menunjuk pria di sebelahnya.
Zuy manggut-manggut.
"Oh, pantas saja mereka diam, ternyata gak bisa bahasa Indonesia toh," ujar Zuy. "Eum, lalu bagaimana kabar Daddy?" sambung tanyanya.
"Seperti yang kamu lihat anakku, kabar Daddy baik-baik aja," jawab Daddy Michael.
"Syukurlah kalau kabar Daddy baik-baik aja, Zuy senang mendengarnya. Eum, ayo Dad duduk dulu!"
"Terimakasih anakku." ucap Daddy Michael di susul senyumnya.
Akan tetapi tiba-tiba Daddy Michael mengerenyitkan keningnya saat matanya mengarah ke tangan Zuy yang di perban.
"Anakku...."
Zuy menoleh. "Iya Dad."
"Apa yang terjadi dengan tangan mu? Kenapa di perban seperti itu?" cecar Daddy Michael.
Zuy mengangkat dan melihat tangannya. "Eum, ini ...."
Seketika Mata Zuy berkeliling seraya menggigit bibir bawahnya. Nampaknya ia ragu menjelaskannya pada Daddy Michael soal tangannya itu. Lalu....
"Sebenarnya Zuy di celakai oleh wanita gila, Mr Michael." sela Airin.
"Airin...." pekik Zuy menoleh ke Airin.
__ADS_1
Sedangkan Daddy Michael tersentak kaget mendengar perkataan Airin.
"Apa Rin! Anakku celakai wanita gila?"
"Iya Mr Michael, sampai tangan Zuy terluka dan harus mendapat beberapa jahitan," jelas Airin sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Daddy Michael beralih ke Zuy.
"Anakku, apa benar yang dikatakan oleh Airin, kalau kamu di celakai wanita gila?" Daddy Michael kembali mencecar Zuy.
"Iya Dad, tapi kita duduk dulu ya Dad! Setelah itu baru Zuy akan cerita ke Daddy soal tangan Zuy ini." kata Zuy dan di balas anggukan oleh Daddy Michael.
"Yaudah kalau gitu Airin ke dapur dulu, minta pelayan buatkan minuman untuk Mr Michael dan lainnya." ujar Airin.
"Iya Rin." balas Zuy mengangguk.
Airin pun melenggang pergi ke dapur, sedangkan Zuy dan Daddy Michael mendudukkan dirinya masing-masing di atas sofa dan saling berhadapan.
"Nah anakku, sekarang ceritakan pada Daddy tentang apa yang terjadi padamu sehingga membuat tangan kamu terluka seperti itu!" desak Daddy Michael.
Sebelum bercerita, Zuy menghela nafasnya terlebih dahulu, lalu kemudian ia pun menceritakan tentang apa yang terjadi padanya sampai tangannya terluka seperti itu.
(Kisahnya udah ada di Bab. 248 anak haram)
Seketika wajah dan rahang Daddy Michael mengeras seraya meremas kuat tangannya sehingga buku-buku tangannya terlihat memutih, di tambah sorot matanya yang tak biasa. Nampak jelas bahwa Daddy Michael sangat marah setelah mendengar cerita dari Zuy.
"Tsk, kurang ajar! Berani-beraninya dia melukai anakku dan menyebut cucuku anak haram, benar-benar tidak bisa di maafkan!" umpat Daddy Michael.
Lalu sesaat Daddy Michael kembali melihat Zuy.
"Anakku...."
"Iya Dad." sahut Zuy.
"Tentang kejadian seperti ini, kenapa kalian tidak beritahu Daddy? Kalau bukan karena Daddy datang kesini dan melihat tangan mu serta apa yang Airin katakan tadi, mungkin sampai sekarang Daddy gak pernah tau kalau kamu sudah di celakai oleh wanita itu, anakku." cetus Daddy Michael.
"Maafin kami Dad! Bukannya kami tidak ingin memberitahu tentang kejadian ini pada Daddy, hanya saja kami tidak ingin Daddy khawatir soal ini." ucap Zuy.
Daddy Michael menghela nafasnya sesaat.
"Anakku, wajar saja kalau Daddy khawatir, namanya juga orang tua dan itu pertanda bahwa Daddy sangat menyayangi anak-anaknya. Jadi anakku kalau ada apa-apa dengan kamu, Ray, cucu-cucu Daddy, atau siapa saja, kamu harus beritahu langsung pada Daddy, tidak perlu merasa sungkan ataupun ragu ya anakku!" tutur Daddy Michael.
Zuy sangat tertegun mendengar tuturan Daddy Michael, lalu ia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Dad. Lain kali kalau terjadi sesuatu, Zuy akan langsung beritahu Daddy dan sekali lagi kami minta maaf ya Dad!" ucap Zuy menunduk.
"Iya anakku, Daddy udah maafkan." balas Daddy Michael. "Oh iya, ngomong-ngomong di Rayyan dan Davin? Apa mereka berdua belum pulang?"
"Mereka masih di perjalanan Dad. Eum, memangnya Daddy gak bilang ke Rayyan kalau Daddy mau kesini?" jawab Zuy sekaligus bertanya kembali.
Daddy Michael menggelengkan kepalanya.
"Tidak anakku, karena seperti biasa Daddy ingin memberi kejutan untuk anak-anak Daddy itu." ujar Daddy Michael.
"Oh, pasti mereka terkejut dan senang melihat Daddy ada tiba-tiba ada di sini."
"Pastinya anakku."
Lalu sesaat Airin datang menghampiri sembari menggendong Baby Z.
"Zuy, nih si gembul cantiknya bangun." Airin memberikan Baby Z pada Zuy.
"Duh cantiknya Mamah tumben udah bangun sayang?" ucap Zuy sembari meraih tubuh Baby Z dari Airin dan memangkunya.
"Anakku, apa ini cucu cantiknya Daddy?" tanya Daddy menunjuk ke Baby Z.
Zuy mengangguk. "Iya Dad, ini cucu cantiknya Daddy."
Senyum Daddy Michael langsung mengembang, lalu Daddy mengulurkan tangannya dan memegang tangan Baby Z.
Sesaat Baby Z menatap Daddy Michael, kemudian beralih ke arah Zuy. Tatapannya seakan bertanya pada Mamahnya, siapa pria yang ada di depannya itu.
Zuy tersenyum lalu berkata, "Cantiknya Mamah, yang di depan kamu ini Grandpa Ayahnya Daddy."
Baby Z kembali melihat ke arah Daddy Michael seraya menggerakkan tangannya. Melihat itu pun Daddy Michael langsung mengangkat tubuh Baby Z dari pangkuan Zuy dan menggendongnya.
"Duh beratnya cucu cantiknya Grandpa, liat pipinya sampai tumpah begini, bikin Grandpa semakin gemas," ucap Daddy Michael di susul ciuman ke pipi Baby Z.
Sementara itu....
Ray dan Davin baru saja tiba di halaman Villa-nya, namun tiba-tiba Ray terkejut seraya membelalakkan matanya melihat orang-orang Daddy Michael sedang berada di teras rumah. Bukan hanya Ray saja, Davin juga ikut terkejut melihatnya.
"Tuan Ray, siapa mereka semua?" tanya Davin.
"Entahlah, aku juga gak tau." jawab Ray.
Ray dan Davin pun langsung menghampiri mereka.
"Siapa kalian semua? Mengapa ada di Villa ku?" sentak Ray membuat mereka memalingkan wajahnya ke arah Ray.
Lalu salah satunya mendekat ke arah Ray.
"Welcome Young Master!" sambutnya sembari membungkukkan badannya begitu pula dengan lainnya.
Ray mengerenyit. "Calvin!" lirihnya menyebut nama pria di depan matanya itu.
Calvin kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Ray.
"Iya ini saya Tuan Muda," ujar Calvin.
"Tunggu! Kalau kamu di sini, berarti Daddy ...."
Calvin mengangguk. "Iya Tuan, Mr Michael ada di sini dan beliau sedang mengobrol dengan Nyonya."
Mendengar itu Ray dan Davin bergegas masuk ke dalam Villanya.
"Sayangku, aku pulang...."
Seketika Zuy, Daddy Michael dan Airin langsung mengalihkan pandangannya ke Ray dan Davin.
"Ray, selamat datang." sambut Zuy.
"Selamat datang Rayyan, Davin." sambung Daddy Michael melambaikan tangannya.
"Daddy...." lirih Ray, pupil matanya pun membesar melihat Daddy-nya itu.
Berbeda dengan Davin yang langsung mendekat dan memeluk Daddy Michael, sesaat Ray pun mendekat ke arah Daddy-nya.
Beberapa saat kemudian....
Kini Daddy Michael, Ray, serta Davin berada di ruang kerja milik Ray dan nampak tengah berbincang. Sedangkan Zuy dan Airin berada di kamarnya masing-masing.
Lalu....
"Apa! Jadi Istri Daddy udah tau kalau Ray punya anak?" Ray tersentak.
Nampak jelas kalau Daddy Michael baru memberi tahu pada Ray tentang Liora yang mencuri dengar saat Daddy Michael tengah mengobrol dengan Ray. (Bab.245)
Daddy Michael menganggukkan kepalanya.
"Iya boy, Calvin yang melihat bahkan memergokinya," ujar Daddy Michael.
Ray lalu menghela nafas panjangnya.
__ADS_1
"Benar-benar istri Daddy itu, tidak pernah berubah sama sekali. Dari dulu selalu saja ikut campur urusan Ray. Kalau Ray gak ingat dia udah udah ngerawat Lesya, mungkin Ray udah bikin perhitungan sama istri Daddy itu." papar Ray.
"Daddy juga begitu boy. Kalau bukan karena adikmu itu, mungkin udah lama Daddy membuang wanita itu. Karena sampai kapanpun di hati Daddy hanya ada Candika seorang." ujar Daddy Michael.
"Ya memang Mom Candika yang terbaik. Mendengar nama Mom, Davin jadi kangen dengan Mom. Kangen kasih sayangnya, kangen belaian tangannya. Ya meskipun Mom Candika bukan Ibu kandung Davin, tapi dia sangat menyayangi Davin seperti anaknya sama halnya dengan Daddy. Davin benar-benar bersyukur Daddy dan Mom Candika mengambil Davin dari jalanan dan bersedia merawat Davin sampai seperti ini. Tidak seperti orang tua kandung Davin yang sudah membuang dan menelantarkan Davin." ungkap Davin di susul air matanya yang jatuh menggelinding ke bawah.
Beberapa episode sebelumnya, sudah di ceritakan ya kalau Davin adalah anak angkat dari keluarga Michael.
Daddy Michael sangat tertegun mendengar ungkapan Davin, ia pun langsung menempatkan tangannya di atas kepalanya Davin sembari mengelusnya.
"Sampai kapanpun kamu adalah anak tertua kami, Davino Roveis."
Lalu sesaat....
"Dad...."
Daddy menengadah menatap Ray.
"Iya, ada apa boy?"
"Setelah istri Daddy mengetahui bahwa Ray sudah punya anak, apa dia bertanya sesuatu pada Daddy seperti siapa istri Ray atau anak-anak?"
Daddy Michael menggelengkan kepalanya.
"Tidak Ray, justru sikapnya malah biasa aja. Seolah-olah seperti tidak tahu kalau kamu udah punya anak. Biasanya juga dia selalu mencecar Daddy jika dia menemukan sesuatu yang mencurigakan."
"Hmmm, apa jangan-jangan dia sedang merencanakan sesuatu?" duga Ray.
"Entahlah boy."
"Tapi Dad, kalau sampai istri Daddy sampai melakukan sesuatu terhadap Zuy dan anak-anak Ray meskipun satu jengkal saja. Maka jangan salahkan Ray jika nantinya Ray berbuat sesuatu pada istri Daddy itu." lontar Ray.
"Kamu tenang aja boy! Daddy juga tidak akan membiarkan Liora melukai anak serta cucu Daddy. Dan Daddy sudah menyuruh beberapa pengawal untuk mengawasinya." jelas Daddy Michael.
Seketika senyum sumringah Ray langsung mengembang sempurna.
"Terimakasih Dad."
"Sama-sama boy. Daddy akan melakukan apapun untuk anak-anak Daddy."
Perbincangan mereka pun berlanjut.
—Pukul 10.38Pm
Setelah selesai berbincang, Ray, Daddy Michael dan Davin langsung ke kamarnya masing-masing untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum esok memulai aktivitasnya kembali.
Saat berada di dalam kamarnya, Ray terlebih dahulu menutup pintu kamarnya, selepas itu ia pun melangkah ke tempat tidurnya.
"Sayangku...."
Zuy yang sedang duduk menyandar di atas ranjangnya pun segera menoleh ke arah pria tampannya itu.
"Hai tampan-ku...."
"Kenapa belum tidur sayangku?" tanya Ray sembari mendaratkan pan-tatnya di tepi ranjang dekat dengan pujaan hatinya.
Zuy lalu mendekat seraya melingkarkan tangannya di leher Ray.
"Karena aku sedang menunggu kamu dan aku merindukanmu, Ray." ucap Zuy di susul ciuman yang mendarat ke pipi Ray.
"Sayangku, kamu jangan buat lainnya jadi iri dong."
"Iri? Maksud kamu?" Zuy mengangkat satu Alisnya.
"Sayangku, kamu hanya mendaratkan satu ciuman di satu pipi saja, sedangkan yang ini, ini sama yang ini belum. Mereka pasti bakalan iri dan akan terus penasaran sayangku," ujar Ray.
Mendengar itu Zuy pun menyunggingkan senyumnya.
"Oh, jadi mereka yang iri karena belum dapat jatah ciuman dariku ya. Baiklah kalau begitu ...."
Zuy mengalihkan tangannya dan memegang kedua pipi Ray. Perlahan ia langsung mendekatkan wajahnya dan ....
Cup.... Cup.... Cup....
Zuy menghujani ciuman di wajah Ray dan terakhir ia mendaratkan di bibir Ray. Tentu saja tautan bibir mereka membuat mereka langsung terangsang dan memanas. Untuk sesaat mereka melepaskan tautannya dan menempelkan caping hidung mereka berdua.
"Sayangku yang cantik, aku benar- benar sangat mencintaimu." bisik Ray.
"Aku juga sangat mencintaimu, Daddy tampannya anak-anakku." balas Zuy.
"Puasin aku ya!"
Zuy menganggukkan kepalanya sembari melingkarkan kembali tangannya ke leher Ray.
"Iya tampan-ku, seperti biasa aku akan selalu memuaskan mu."
Ray perlahan membaringkan tubuh pujaan hatinya itu, kemudian ia kembali mendaratkan bibirnya di bibir Zuy. Tangannya pun mulai melepaskan apa yang menempel di tubuh Zuy tanpa tersisa. Setelah selesai, Ray melepaskan tautannya dan beralih menelusuri yang lainnya.
(Bocil skip ya.... 🤭)
******************************
Sementara itu di tempat lainnya, lebih tepatnya di Apartemen yang baru saja Archo tempati tadi sore.
Ia membeli Apartemen itu sekitar tiga hari yang lalu, hanya saja dia baru pindah tadi sore. Itu pun ia belum memberitahu Adriene serta Daddy-nya kalau dia membeli Apartemen tersebut.
Di balkon Apartemennya, Archo nampak tengah duduk di sana menikmati pemandangan Kota di malam hari dan temani sebotol Champagne.
"Kenapa sampai sekarang belum ada kabar dari orang yang aku suruh itu. Aku benar-benar sangat penasaran dengannya, kehidupannya dan yang membuat ku penasaran, bagaimana bisa dia terkena obat bius seperti itu, apa jangan-jangan dia wanita malam atau ...." lirih Archo sembari meneguk minuman di gelasnya itu.
Lalu....
Drrrrrt.... Drrrrrt.... Drrrrrt....
Hp Archo tiba-tiba berdering, seketika membuat Archo melirikan matanya ke arah hpny yang berada di atas meja. Dan setelah mengetahui siapa yang menelponnya, ia pun meletakkan gelas yang ia pegang dan beralih menyambar hpnya itu.
Setelah itu, Archo segera menjawab telponnya itu.
"Selamat malam Mr Archo, maaf kalau saya mengganggu." ucap seorang pria dari seberang telponnya.
"Iya tidak apa-apa, lagi pula memang aku sedang menunggu kabar darimu. Bagaimana apa dia sudah sampai di rumahnya?"
"Iya Mr Archo, tadi sore gadis itu tiba di rumahnya yang berada di sebuah desa terpencil di Kota B."
"Apa! Jadi dia berasal dari desa?" Archo tersentak mendengarnya.
"Iya Mr Archo. Gadis yang bernama Melan itu memang berasal dari Desa."
Sesaat Archo menghela nafasnya.
"Lalu apa kamu sudah mendapat Informasi tentang dia?"
"Tentu Mister, saya sudah mendapatkan informasi tentangnya."
Mendengar itu, Archo pun langsung terperanjat seraya bangkit dari duduknya, senyumnya pun langsung terukir di wajah tampannya itu.
"Cepat katakan padaku! Informasi apa yang kamu dapatkan tentang Melan." desak Archo.
"Baiklah Mr Archo. Jadi sebenarnya gadis yang bernama Melan itu adalah ...."
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌