Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Selama Belum Terlambat..


__ADS_3

<<<<<


Archo pun tersenyum sembari mengulurkan tangannya.


"Perkenalkan nama saya Archo Fuca, anak dari Mario Fuca dan Maria Lestari Fuca,"


Mendengar itu Dimas pun terkejut, "Ma-Maria Lestari..!!"


"Iya Maria Lestari, Kakak kandung anda Dokter Dimas.." ujar Archo


"Apa...!!" Dimas langsung mendekat ke Archo, setelah berhadapan dengannya, ia pun menatap Archo.


"Jadi kau benar-benar anak Kak Maria?"


Archo menganggukkan kepalanya, "Iya, tapi lebih tepatnya anak tiri, karena aku tidak terlahir dari rahimnya."


"Oh jadi kamu anak dari laki-laki kejam bernama Mario itu?"


Archo pun mengangguk cepat, lalu tiba-tiba Dimas mencengkram kerah baju Archo.


"Apa yang anda lakukan Dokter Dimas?" tanya Archo yang terkejut.


"Apa kau tahu, gara-gara Ayahmu itu, kami harus kehilangan keluarga kami selama bertahun-tahun, gara-gara Ayahmu juga orang tuaku selalu di hantui rasa rindu terhadap anaknya, terutama Bunda yang setiap hari selalu menangis karena merindukan anak perempuannya," sergah Dimas.


"Walaupun kami tahu Kak Maria sekarang tinggal di Amerika, dan menjadi desainer yang terkenal di sana. Tapi kami tidak bisa menemuinya karena perjanjian orang tuaku kepada ayahmu itu, apa kau tahu itu? Hah..!!" sambung perkataan Dimas.


"Saya tahu itu Dokter, apa yang di lakukan Daddy itu adalah kesalahan besar, sampai dia memisahkan Mam dari keluarganya dan juga memisahkan Mam dari anaknya," ujar Archo sembari melepaskan cengkraman Dimas.


Archo pun menundukkan kepalanya, "Dan sekarang Daddy sudah kena karmanya, dia sekarang sering sakit-sakitan bahkan kemaren ia sempat kritis," ujar Archo.


"Lalu apa tujuanmu datang kemari? apa kau ingin meminta maaf mewakili ayahmu itu?" tanya Dimas dengan nada dingin.


Archo kembali menganggukkan kepalanya, "Iya anda benar Dokter, tapi ...,"


Belum sempat menjelaskan, Dimas kembali mencengkram kerah baju Archo.


"Apa kau pikir dengan meminta maaf semuanya akan kembali seperti semula?"


"Selama belum terlambat, semuanya bisa kembali walaupun tidak sama seperti semula," ujar Archo


"Apa maksudmu?"


Lalu Archo tersenyum pada Dimas, "Pertemukan saya dengan orang tua anda, Dokter Dimas.." pinta Archo


Sesaat Dimas terdiam dan perlahan ia melepaskan tangannya dari kerah baju Archo.


"Baiklah, saya akan membawamu bertemu dengan Bunda," ujar Dimas


"Terimakasih banyak Dokter Dimas.." ucap Archo


Dimas segera mengambil tasnya, kemudian dua pria berkacamata tersebut bergegas keluar dari ruangan itu.


*********


Rumah Ray


Setelah beberapa saat Ray dan Zuy berangkat, Bi Nana pun langsung pulang ke rumahnya, sedangkan Airin masih berada di rumah Ray dan nampak sedang mengobrol dengan Yiou di ruang tamu.


"Sudah jangan bersedih, Baby bakalan baik-baik saja kok, lagian kan Baby pergi di ajak suaminya untuk liburan..." kata Yiou yang keceplosan


"Apa anda bilang, suami..!!" Airin pun terkejut dengan perkataan Yiou dan menatap wajah Yiou.


"Ah bukan maksudku calon suaminya," tegas Yiou.


Airin lalu menundukkan kepalanya, "Anda benar Mrs Yiou, pasti Tuan Bos akan jagain Zuy dengan baik, maaf jika sempat meragukan Tuan Bos. Ini mungkin karena ke khawatiran saya terhadap Zuy," ungkap Airin.


Yiou lalu memegang pundak Airin, "Kamu sahabat paling baik Rin, aku benar-benar salut padamu.."


"Itu karena Zuy dulu sudah menyelamatkan ku dari ...,"


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba..


Hwaaaa.. Hwaaaa...


Mendengar suara seperti menangis membuat Airin dan Yiou terkejut, lalu mereka berdua langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke ruang tengah.


Sesampainya di ruang tengah, langkah mereka pun langsung terhenti karena melihat Davin sedang baca buku dongeng sambil menangis. Airin dan Yiou segera mendekat ke arah Davin.


"Davin, apa yang terjadi?" tanya Yiou


"Pak Davin, anda kenapa?" sambung Airin.


Davin lalu mengangkat kepalanya, memandang Yiou dan Airin secara bergantian, lalu..


"Aku tidak apa-apa, aku hanya sedih membaca buku dongeng ini," ujar Davin sambil menunjukan buku yang ia pegang.


Yiou langsung mengambil buku dongeng tersebut dari tangan Davin dan membacanya.


"Ck, inikan cerita lucu Davin.." celetuk Yiou


"Oh iya, mungkin mataku saja yang tidak beres," ujar Davin


Yiou lalu memicingkan matanya ke arah Davin sambil menyodorkan tubuhnya, "Apa kamu sedih gara-gara di tinggal oleh Tuan Ray tercinta-mu, Davino Roveis?"


"Ahahaha.. siapa yang sedih di tinggal bayi gede, orang saya sedih karena baca buku dongeng itu," elak Davin.


"Tsk, masih saja mengelak, matanya juga sudah berkaca-kaca gitu," gumam Yiou


Davin seketika langsung menundukkan kepalanya.


"Tuh kan bener, kamu pasti sedih gara-gara bayi gede-mu pergi.."


Davin kembali mengangkat kepalanya, "Ya mungkin karena aku khawatir.." ujar Davin, ia pun menitihkan air matanya.


"Eummm tunggu, jadi Pak Davin beneran nangis ya?" sela Airin


"Iya Rin, dia nangisin bayi gedenya yang pergi ke Swedia," jawab Yiou.


"Tapi kok pipinya gak basah.." celetuk Airin


Mendengar itu Davin dan Yiou langsung tercengang, lalu kemudian..


Pffft..


"Bwahahaha.. ya ampun Airin kamu sangat teliti ya, bagaimana pipinya mau basah, orang air matanya langsung menggelinding ke bawah," papar Yiou sambil tertawa.


Saking penasarannya, Airin langsung menatap wajah Davin, "Pak Davin.."

__ADS_1


"Ada apa Airin," sahut Davin menoleh ke arah Airin.


"Pak Davin, anda benar-benar menangis karena Tuan Bos?" tanya Airin


Mendengar pertanyaan Airin, Davin kembali meneteskan air matanya, dan ternyata perkataan Yiou memang benar, air mata Davin tidak menempel di pipinya melainkan langsung menggelinding seperti bola dan jatuh ke bawah. Airin pun langsung tertawa melihatnya.


"Bwahahaha.. hahaha..." tawa Airin menggema


"Iya kan, itu mungkin karena wajahnya terlalu licin, Rin" ledek Yiou.


"Hahaha.. ya ampun sakit perutku,"


Davin kemudian memicingkan matanya ke arah Yiou dan Airin secara bergantian.


"Kalian berdua, bener-bener ya, orang lagi sedih malah di ketawain.." pekik Davin


"Ah maaf Pak Davin, habisnya lucu sih, beneran baru kali ini Airin melihat orang nangis tapi air matanya tidak menyentuh pipinya, melainkan menggelinding ke bawah," ujar Airin menggoda Davin.


Yiou pun masih tertawa geli, sedangkan Davin langsung mendengus kesal.


"Airin, Mrs Yiou.. kalian bener-bener tega, bukannya menghiburku, kalian malah menggoda ku," gerutu Davin memanyunkan bibirnya.


"Ngambek dia hahaha.. maaf deh Vin, daripada sedih begitu, mending kamu jalan-jalan ke pantai sana..!! ajak tuh Airin buat nemenin kamu," tutur Yiou


"Lhaaa.. kok saya Mrs Yiou..!!" seru Airin yang terkejut sambil menunjuk ke dirinya.


Yiou pun memegang tangan Airin, "Kan kalian berdua sama-sama sedih di tinggalin oleh Ray dan Baby."


"Ah benar juga, hei Airin kau harus menemaniku ke Pantai, anggap saja itu hukuman karena sudah menertawakanku," titah Davin


"Lha, kan Mrs Yiou juga ikutan ngetawain anda, Pak Daviiiin..." pekik Airin


Davin pun melihat ke arah Yiou, "Ah iya juga, kalau begitu Mrs Yiou anda juga ha ...,"


"Ah, sorry Davin, Airin.. pengin sih aku ikut kalian sekalian cuci mata lihat pemandangan roti sobek, tapi sayangnya aku harus kembali ke Boutique," ujar Yiou, "Sudah kalian berdua saja sana yang pergi..!!" sambungnya.


Dengan sangat terpaksa, Airin pun langsung menganggukkan kepalanya, "Baiklah, biar aku saja yang menemani anda Pak Davin."


"Yes, baguslah kalau begitu, jadi kalian bisa PDKT dan jadian," kata Yiou


"Tidak...!!" ucap Davin dan Airin bersamaan.


"Tuh kan kompak," ledek Yiou.


Lalu Davin beranjak dari tempat duduknya, "Bentar Rin, aku siap-siap dulu.." ujarnya sembari berjalan menuju ke kamarnya.


"Iya jangan lama-lama.." seru Airin.


Yiou langsung mendudukan dirinya di samping Airin dan menghela nafasnya, "Haaa.. dasar Davin, ada saja tingkahnya, mirip anak kecil."


"Hihihi.. iya anda benar Mrs Yiou, tingkah laku Pak Davin kalau lagi di rumah ternyata seperti itu, sangat berbeda sekali saat ia berada di Perusahaan," ujar Airin.


"Ya seperti itu lah Davin.."


Tak lama kemudian, Davin pun datang, "Ayo Rin..!!" ajaknya.


"Oh sudah siap, yaudah ayo," balas Airin sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Mrs Yiou, kami pergi dulu ya.." pamit Davin.


Davin dan Airin berjalan menuju keluar, sesaat setelah berada di luar, mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil. Davin pun segera menyalakan mobilnya, tak lama, ia pun melajukan mobilnya dan pergi menuju ke pantai.


**********


Sementara itu...


Di dalam perjalanan menuju ke Swedia, Ray dan Zuy nampak sedang asik bercengkrama.


"Sayangku, apa kamu bahagia?" tanya Ray sembari memegang tangan Zuy.


Zuy pun menganggukkan kepalanya, "Iya Tuan Muda, Zuy bahagia," ujarnya.


"Baguslah kalau sayangku bahagia," ucap, lalu ia mencium tangan Zuy.


"Euum ngomong-ngomong Tuan, apa Jet ini milik keluarga Vallery?" tanya Zuy


"Iya sayangku, ini milik keluarga Vallery, tapi lebih tepatnya ini Jet pribadiku sayang," jelas Ray


Zuy langsung tercengang mendengar penjelasan dari Ray, "Hah..!! serius Tuan?"


"Iya sayangku.." singkat Ray.


Lalu Zuy memalingkan pandangannya, raut wajahnya nampak murung.


"Sayangku kenapa? apa sayangku mabuk udara?" tanya Ray


Zuy menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan Muda.."


"Lalu kenapa sayangku tiba-tiba murung begitu?" tanya Ray


Zuy memutar wajahnya menghadap ke arah Ray, "Zuy hanya berfikir, apa Zuy benar-benar pantas untuk anda Tuan Muda, soalnya melihat keluarga anda orang berada dan terpandang, membuat Zuy ragu dan takut."


Ray langsung mengerutkan dahinya, dan menatap tajam ke arah Zuy, "Apa yang sayangku takutkan?"


"Zuy takut jika nanti semua orang berfikiran kalau Zuy itu parasit, dan pasti mereka bakal beranggapan kalau Zuy menikah dengan anda karena harta keluarga anda, Tuan," jelas Zuy.


"Lalu apakah sayangku mau menikah dengan ku karena harta keluarga ku?"


Zuy menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak Tuan Muda, Zuy benar-benar tulus mencintai anda Tuan Muda, bukan karena harta atau tahta yang anda miliki, Zuy benar-benar menginginkan Tuan Muda menjadi pendamping Zuy, walau bagaimanapun keadaan Tuan," ungkap Zuy.


Ray langsung tersenyum bahagia, lalu ia mendekatkan wajahnya ke arah Zuy, dan seketika Ray mendaratkan bibirnya ke bibir Zuy dengan lembut, sesaat setelahnya..


"Sayangku, jangan pernah pedulikan omongan orang lain, yang menjalani hubungan itu kita bukan mereka, terserah mereka mau bicara apa juga, jika mereka berbicara buruk tentang sayangku, anggap saja itu ucapan terakhir mereka," tutur Ray mengusap bibir Zuy.


"Tuan Muda.." lirih Zuy


"Ray akan melakukan apapun demi kebahagiaan istriku tercinta," ucap Ray.


"Istriku?" tanya Zuy keheranan.


"Ah bukan, maksudku calon istriku yang cantik ini," ujar Ray sembari memeluk Zuy.


"Maaf sayangku, kalau Ray masih belum bisa jujur padamu," batin Ray mencium puncak kepala Zuy.


Lalu Zuy mendongakkan kepalanya, "Tuan Muda, Zuy baru ingat.."


"Ingat apa sayangku?" tanya Ray

__ADS_1


"Tadi Bi Nana memberikan bekal untuk kita, katanya harus di makan langsung," ujar Zuy


"Oh iya, memangnya bekal apa yang Bi Nana berikan untuk kita?" tanya Ray


Zuy pun melepaskan pelukan Ray, kemudian ia membuka ranselnya dan mengambil kotak bekal dari Bi Nana. Setelah itu Zuy membuka kotak bekal tersebut, dan ternyata isinya adalah Kroket, makanan favorit mereka berdua.


"Bi Nana benar-benar pengertian, tahu aja kalau Ray lagi pengin Kroket,"


"Yaudah kalau gitu kita makan sama-sama ya Tuan," ajak Zuy.


"Oke sayangku, tapi suapin pakai tangan sayangku ya," pinta Ray manja.


"Tidak..!!"


" Ayolah sayangku, aku ingin makan di suapin sayangku."


Sesaat Zuy menghela nafasnya, "Huh.. Baiklah Tuan Muda, buka mulut anda...!!"


Ray langsung membuka mulutnya, lalu Zuy menyuapkan kroket tersebut ke mulutnya Ray.


"Enak, di tambah suapan dari tangan sayangku, terimakasih sayangku," ucap Ray


"Sama-sama Tuan Muda," balas Zuy.


Mereka pun melanjutkan makan Kroketnya.


***********


Rumah Dimas


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit dari rumah sakit, Dimas dan Archo sampai di rumah. Saat mobil sudah terparkir di depan rumahnya, Dimas dan Archo turun dari mobilnya.


"Apa ini rumah anda Dokter Dimas?" tanya Archo mengedarkan pandangannya.


"Iya ini rumah saya, maaf kalau tidak sebesar rumah anda, Tuan Archo," jawab Dimas dengan sinis.


"Dokter Dimas sepertinya anda salah paham, justru rumah anda lebih bagus dari rumah saya," puji Archo.


Dimas pun berdecak, "Ck, tidak perlu basa-basi, ayo kita masuk dan temui Bunda, karena aku ingin tahu apa yang kamu maksudkan tadi."


Archo pun hanya tersenyum, lalu mereka berjalan menuju ke dalam rumah, sesampainya di depan pintu, Dimas langsung mendorong pintunya hingga terbuka. Setelah itu..


"Dimas pulang...!!" seru Dimas


"Dimas, selamat datang.." sambut Bunda Artiana yang tengah duduk sambil merajut.


Dimas pun menghampiri Bunda Artiana dan langsung mencium tangan Bunda Artiana.


"Bunda, apa yang Bunda lakukan?" tanya Dimas.


"Ah ini, Bunda ingin membuat syal untuk cucu Bunda," ujar Bunda Artiana.


"Tapi Nay punya banyak syal Bunda.."


"Bukan untuk Nayla, tapi ini untuk cucu pertamaku,"


"Maksud anda wanita yang bernama Zuy, Nyonya.." sela Archo.


Mendengar suara Archo, Bunda Artiana langsung menoleh ke arahnya.


"Siapa dia Dimas?" tanya Bunda Artiana


Archo mendekat ke arah Bunda Artiana dan berlutut di hadapan Bunda Artiana, ia pun menjabat tangan Bunda Artiana.


"Perkenalkan nama saya Archo Nyonya, saya anak dari Mario Fuca dan Maria Lestari," ujar Archo.


"Mario Fuca? Maria Lestari?" Bunda Artiana pun semakin kebingungan.


Kemudian Dimas duduk di samping Bunda Artiana, "Bunda, dia ini sebenarnya anak tiri dari Kak Maria."


"Apa kamu bilang Dimas..?! dia anak tirinya Maria, Maria Kakak kamu Dimas?"


Dimas pun mengangguk, "Iya Bunda, Maria Kakak Dimas, anak Bunda," jelas Dimas.


Braaaak


Saking terkejutnya, Bunda Artiana langsung menjatuhkan alat rajutannya, kemudian ia berdiri dari posisinya, Archo pun ikutan berdiri.


"Nak apa kamu benar-benar anak tirinya Maria?"


Archo pun menganggukkan kepalanya, "Benar Nyonya, saya anak Maria, dan saya datang kesini untuk menemui anda."


Bunda Artiana pun langsung memeluk Archo, "Ternyata kamu sudah sebesar ini, dulu sebelum Ayahmu membawa Maria, kamu hanyalah bayi yang berusia 5 bulan."


Mendengar perkataan Bunda Artiana, Archo pun membalas pelukan Bunda Artiana, air matanya pun tak dapat di bendung lagi.


"Maaf, maaf, maaf, karena Daddy, anda jadi kesusahan dan anda harus kehilangan anak perempuan anda," ucap Archo.


Lalu Bunda Artiana melepaskan pelukannya dan memegang pipi Archo.


"Tidak, kalian tidak sepenuhnya bersalah, kami juga bersalah, karena kami juga yang memaksa Maria untuk mengikuti keegoisan kami," ujar Bunda Artiana


Archo pun kembali memeluk Bunda Artiana, sedangkan Dimas yang melihatnya hanya bisa tertunduk dan meneteskan air matanya. Sesaat kemudian..


"Nak, ayo duduk di samping Nenek," ajak Bunda Artiana pada Archo.


Archo pun menganggukkan kepalanya, lalu ia mendudukan dirinya di atas sofa, di susul dengan Bunda Artiana, tangannya pun menggenggam tangan Archo.


"Nak, Bunda ingin bertanya, bagaimana keadaan Maria?" tanya Bunda Artiana


"Maria baik-baik saja, bahkan Kimberly juga baik-baik saja,"


"Kimberly..?! siapa dia Nak?"


"Dia adik saya Nyonya, anak dari Mama Maria dan Daddy Mario," jelas Archo.


Mendengar penjelasan Archo, Bunda Artiana langsung menundukkan kepalanya, "Jadi aku mempunyai seorang cucu lagi ya.."


"Iya Nyonya, dia sangat cantik dan anggun seperti Mam Maria," ujar Archo.


"Tapi tidak secantik dan sebaik cucuku yang pertama itu.."


***Bersambung...


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... ✌😉😉✌

__ADS_1


__ADS_2