Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Tetangga Julid


__ADS_3

<<<<<


Mereka pun langsung keluar dari rumah Zuy, setelah di luar Zuy mengunci pintunya, ia lalu membonceng motornya Airin, dan mereka pun langsung berangkat menuju ke Perusahaan CV.


Selang Beberapa menit kemudian, seseorang datang dengan mengendarai mobil, lalu ia langsung memarkirkan mobilnya pas depan rumah Zuy, lalu ia pun turun dari mobilnya. Ternyata orang tersebut adalah Deva, setelah menutup pintu mobilnya ia pun langsung berjalan menuju ke arah rumah Zuy. Sesampainya...


Tok... Tok... Tok....


"Zuy... Zuy... apa kau ada di rumah? Ini aku Deva, Zuy.." seru Deva sambil mengetuk pintu rumah Zuy.


Namun tidak ada jawaban apa-apa, hanya keheningan di rumahnya Zuy, tanpa putus asa Deva pun terus mengetuk pintu Zuy, akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban dari Zuy.


"Zuy kemana ya? apa dia udah berangkat kerja, hmmm lebih baik aku pulang dulu, nanti balik lagi kesini," kata Deva,


Ia pun bergegas menuju ke mobilnya, Deva membuka pintu mobilnya, ketika hendak masuk ke mobil tiba-tiba...


"Cari siapa Tuan?" tanya seseorang yang tidak sengaja lewat di depan rumah Zuy, sebut saja dia Bu Ida, tetangga julid yang tidak suka pada Zuy dan Bi Nana.


Deva pun langsung menoleh ke arah Bu Ida, "Saya sedang mencari Zuy Bu," jawabnya.


"Mungkin dia udah pergi lagi Tuan, emang ada apa Tuan mencari anak itu?" tanya Bu Ida


"Anak itu? Oh gak ada apa-apa Bu, hanya ingin bertemu dengannya saja," jelas Deva sambil tersenyum tipis.


Bu Ida lalu menghampiri Deva, "Oh begitu ya, asal Tuan tahu saja, anak itu jarang di rumah kalau jam segini, dia selalu pulang malam, dan juga sering pulang bersama seorang laki-laki, bahkan Ibu pernah liat dia di peluk oleh laki-laki yang mengantarnya, Ah anak itu benar-benar sangat mirip dengan Bibinya dulu," kata Bu Ida melebih-lebihkan.


"Oh begitu ya Bu.." papar Deva, "Sepertinya orang ini tidak menyukai Bi Nana dan Zuy, lebih baik aku pergi saja dari sini," batin Deva.


"Ya seperti itu, Ibu harap Tuan jangan terlalu dekat de ...."


"Ah maaf Bu, saya permisi dulu, soalnya mendadak saya ada perlu, terimakasih banyak Bu," sela Deva, ia pun langsung masuk ke mobil dan pergi meninggalkan Bu Ida.


"Hmmm, dasar tidak ada sopan-sopannya sama orangtua, belum juga selesai ngomong malah di tinggal pergi aja," gerutu Bu Ida dengan kesalnya, lalu...


"Ida... sedang apa kau di situ?" tanya seseorang.


Bu Ida pun menoleh. "Oh ternyata kalian berdua ya Endah, Isma.." sahut Bu Ida, ia langsung menghampiri mereka.


"Kamu tumben banget ke rumahnya Nana, jangan-jangan ada sesuatu nih, hehehe..." goda Bu Isma.


"Waah serius itu Ida?" Bu Endah pura-pura terkejut dengan maksud menggoda Bu Ida.


Bu Ida pun memasang wajah cemberut.


"Heh, siapa juga yang ke rumahnya, orang tadi ada pria tampan datang ke rumahnya, terus aku di panggil sama pria tersebut, ya otomatis aku harus samperin dia dong." Bu Ida pun berbohong kepada Bu Endah dan Bu Isma.


"Laki-laki? apa Laki-laki yang sering ngantar si Zuy?" tanya Bu Isma.


"Tentu saja bukan, ini beda lagi sepertinya dia seorang Bos atau direktur," ujar Bu Ida.


"Mungkin saja itu Bosnya si Zuy," kata Bu Endah, "Ayo kita ngobrolnya sambil jalan!" ajaknya.


Mereka pun beranjak pergi dari tempat itu, setelah beberapa langkah kemudian, tepat di depan rumah Bu Ima, tiba-tiba Bu Ida menghentikan langkahnya.


"Ada apa Da, kenapa tiba-tiba berhenti?" tanya Bu Endah


"Apa benar Pria tadi Bosnya, atau jangan-jangan dia Pria simpanannya Zuy?" lirih Bu Ida yang menduga-duga.


Mendengar itu, Bu Endah pun menepuk keras punggung Bu Ida.


"Huss! Jangan bicara seperti itu, mungkin aja itu Bosnya!" tutur Bu Endah.


"Siapa tau aja dia sama seperti Nana, dulu kan Nana sering sekali bawa laki-laki ke rumah," celetuk Bu Ida.


"Hmmm, maksudmu itu Bos kamu dan Nana itu, waktu kamu masih kerja di Resto ya, ternyata kamu masih benci sama Nana, gara-gara Bos kamu itu hanya tertarik dengan Nana, dan akhirnya mereka menikah," kata Bu Isma.


Mendengar perkataan Bu Isma, Bu Ida pun langsung memalingkan pandangannya, "Euuum soal itu, aku ...."


Bu Endah menghela nafasnya.


"Hmmm, aku paham perasaanmu Da, tapi jangan bawa-bawa keponakannya juga dong, kan siapa tahu itu adalah Bosnya, dan laki-laki yang sering mengantarnya itu kekasihnya," ujar Bu Endah sambil menepuk-nepuk punggung Bu Ida.


"Tapi aku masih belum percaya, siapa tahu aja aku benar, kalau anak itu gak bener sama seperti Nana," lontar Bu Ida.


Bu Endah menggelengkan kepalanya. "Kamu ini Da. Udah ah, kalau kalian masih mau ngobrol ya silahkan, aku duluan ya."


Bu Endah berjalan terlebih dahulu meninggalkan Bu Ida dan Bu Isma.


"Cih Dia itu kenapa sih?" pekik Bu Ida.


"Udah biarin aja Da, dia mah memang begitu. Ayo lanjut lagi ceritanya soalnya seru ini!" pinta Bu Isma.


"Hmmm baiklah." Bu Ida manggut-manggut. "Ya pokoknya aku masih curiga sama anak itu, soalnya waktu itu juga sering banget dia kedatangan tamu laki-laki. Aku rasa dia seperti Nana, wanita gak bener itu."


Bu Isma mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Hmmm, bisa jadi-bisa jadi, soalnya biasanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."


"Kamu pernah denger gak gosipnya anak itu?" tanya Bu Ida.


Bu Isma langsung menggeleng.


"Belum pernah, emang ada gosip apa tentang anak itu? ayo ceritakan..!!" pintanya.


"Dulu dia itu pernah terlibat masalah ...," belum juga menyelesaikan pembicaraannya, lalu tiba-tiba....


Byuuuuur...


Bu Ima menyiramkan air satu ember di depan rumahnya dengan sengaja, otomatis cipratan air itu mengenai kedua orang tersebut.


"Aduh, Ima apa-apaan sih!" pekik Bu Ida sambil menyeka mukanya yang terkena cipratan air tersebut.

__ADS_1


"Tau nih si Ima, kotor semua kan jadinya," sambung Bu Isma.


"Kenapa kalian? Aku hanya nyiram halaman rumah ku supaya kotorannya cepat hilang. Ya kalau kalian kena cipratannya itu salah kalian yang berdiri di sana," pekik Bu Ima


"Orang ini ya, bukannya minta maaf malah nyalahin orang berdiri," gerutu Bu Isma


Bu Ima lalu menghampiri mereka.


"Untuk apa minta maaf, masih mending itu air bersih bukan air dari parit. Lagian pagi-pagi udah gosipin orang, gak ada kerjaan ya kalian?" sergah Bu Ima.


"Si-siapa yang sedang bergosip, orang kita cuma lagi ngobrol aja. Iya gak Is?" lontar Bu Ida melihat ke arah Bu Isma.


"Iya benar, kita lagi ngobrolin keponakannya Nana," ceplos Bu Isma.


Bu Ida pun langsung menoleh ke arah Bu Isma dengan tatapan tajam, membuat Bu Isma terdiam seraya menutup mulutnya.


Mendengar itu, Bu Ima pun mengerutkan keningnya.


"Apa! Kalian berdua benar-benar ya. Cepat pergi dari sini dan jangan pernah lagi bergosip tentang Zuy! Kalau aku sampai mendengarnya lagi, aku akan siram kalian dengan air got."


"Ciih, ayo Isma kita pergi dari sini!" ajak Bu Ida.


mereka pun bergegas pergi meninggalkan Bu Ima.


"Kalian bisanya cuma bergosip yang gak benar.Zuy itu anak baik bukan seperti kalian," lirih Bu Ima


Kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah rumahnya.


*****


^Perusahaan CV


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mereka pun sampai di Perusahaan CV. Saat di parkiran Airin langsung memarkirkan motornya.


Sesaat....


"Zuy Ayo kita masuk..!!" ajak Airin, akan tetapi...


"Oh Molly, aku sangat merindukanmu, maaf beberapa hari kamu harus menginap di sini," ucap Zuy sambil mengelus-elus molly (nama motornya).


Airin pun langsung terkekeh melihat tingkah Zuy seperti itu.


"Hihihi, segitu kangennya kamu sama motormu itu, kaya lagi kangen sama pacar aja." ledek Airin.


"Memang dia pacar setiaku, bleeh.." Zuy menjulurkan lidahnya. Lalu..


"Kalian baru datang?!!" tanya seseorang dari belakang Airin.


Airin dan Zuy menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut, ternyata dia adalah Brian. Mereka pun terkejut melihat wajah Brian dengan mata pandanya.


"Lho Brian apa yang terjadi? Kenapa lingkar matamu menghitam seperti Panda gitu, apa kamu kurang tidur?" cecar Zuy.


Pffft..


"Airin kenapa kamu tertawa seperti itu?" tanya Zuy


Airin mendekati Zuy. "Hei apa kamu lupa semalam, mungkin matanya seperti itu karena kurang tidur gara-gara ketakutan waktu di taman hiburan," jelasnya.


Zuy langsung mengingat kejadian semalam, ia pun ikutan tertawa.


"Hihihi, jadi seperti itu ya Rin.." tawa Zuy.


"Iya kayaknya begitu, hahaha..." timpal Airin.


Mereka berdua tertawa bersama, sedangkan Brian wajahnya jadi memerah karena malu akan kejadian semalam sampai dia tidak bisa tidur.


"Kalian berdua hentikan! Benar-benar membuatku malu," pekik Brian.


Lalu kemudian Salsa datang dan menghampiri mereka.


"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Salsa seraya melihat ke arah Brian. Betapa terkejutnya Salsa melihat lelaki yang berada di sampingnya itu.


"Kak Brian, apa yang terjadi pada Kakak, apa Kak Brian sakit?" tanya Salsa sambil memegang wajah Brian.


"Ah aku gak apa-apa kok Sa, cuma kurang tidur aja," jawab Brian.


Salsa merogoh tasnya untuk mengambil sesuatu, setelah dapat ia pun langsung memberikannya pada Brian.


"Hmmm Concealer?" Brian nampak kebingungan.


"Iya Kak, Kakak pake itu supaya bisa nutupi mata panda Kakak," ujar Salsa


"Oh makasih banyak Sa," ucap Brian


Airin yang melihatnya pun nampak kesal, lalu ia menarik tangan Zuy.


"Ayo Zuy kita masuk..!!" ajak Airin.


"Rin, kamu ..."


Airin terus berjalan, ia pun mendahului Brian dan Salsa. Saat beberapa langkah, tiba-tiba ia berhenti dan berbalik ke arah Brian.


"Oh iya, Brian jelek jangan lupa ya janjimu, nanti jam istirahat kita tunggu di kantin..!!" pinta Airin.


Ia pun melanjutkan langkahnya meninggalkan Brian dan Salsa.


"Hmmm, memang Kak Brian punya janji apa sama Airin?" tanya Salsa yang penasaran.


"Oh itu, hanya janji taruhan aja kok," jawab Brian sambil melihat ke arah Airin yang sudah pergi.


Salsa yang berada di sampingnya Brian terus melihat ke Brian, dalam hatinya pun berkata, "Apa yang terjadi pada mereka, kenapa Kak Brian melihat kesana terus, lalu Kak Brian punya janji apa sama Airin, aku jadi penasaran."

__ADS_1


"Ayo kita juga masuk Sa..!!" ajak Brian


Salsa menganggukkan kepalanya.


"Iya ayo Kak," balasnya.


Lalu mereka beranjak pergi dari parkiran dan masuk ke dalam Kantor untuk mulai bekerja.


°°°°°°


Airin dan Zuy yang sudah berada di dalam langsung masuk ke ruang ganti untuk menaroh tas dan mengganti pakaiannya, setelah selesai mereka pun mulai bekerja..


Beberapa saat kemudian....


Semua karyawan mulai berdatangan dan selang beberapa saat Ray dan Davin pun datang.


Zuy mengantar minuman untuk para karyawan tersebut. Setelah selesai, ia pun berjalan menuju ke lift menuju ke lantai atas sambil membawa minuman.


Setelah sampai di lantai atas, ia meletakan minuman ke meja kerja Friska dan Davin. Lalu kemudian, Zuy pun berjalan menuju ke ruangan Ceo.


`Di Ruangan Ceo


Tok.. Tok.. Tok...


"Masuk...!!!" seru Ray.


Cekleek..


"Permisi Tuan Muda, Zuy mau nganter minuman buat Tuan Muda," ucap Zuy sambil berjalan masuk.


"Oh, taruh aja di situ Kak..!!" suruh Ray.


Zuy lalu meletakkan minuman yang di bawanya di atas meja. Lalu beralih ke arah Ray, dan betapa terkejutnya Zuy melihat wajah Ray sama seperti Brian. Merasa sedang di perhatikan, Ray mendongakkan kepalanya melihat Zuy.


"Hmmm, kenapa melihat Ray seperti itu? Ray ganteng ya Kak?" cecar Ray sambil tersenyum.


"Tu-Tuan Muda kepedean. Itu Zuy cuma kaget dengan mata Tuan Muda yang mirip panda, sama seperti matanya Brian," jelas Zuy.


"Oh ini karena kurang tidur gara-gara mikirin seseorang," ujar Ray.


"Oh, seseorang yang di taman hiburan ya Tuan? Hihihi...."


Mendengar perkataan Zuy, Ray tersentak dengan wajahnya yang memerah.


"Kak Zuy, jangan bahas yang semalam dong! Bikin merinding aja," gerutu Ray.


"Hihihi.. iya maaf Tuan Muda! Yaudah kalau gitu saya permisi dulu," ucap Zuy sedikit membungkuk.


Sesaat ia kembali mengangkat kepalanya lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerja Ray, akan tetapi...


"Kak Zuy tunggu!"


Seketika Zuy menghentikan langkahnya. "Ada apa Tuan Muda?"


"Aku udah tau siapa orang yang menyirammu waktu itu," jelas Ray.


"Apa...!!!"


*****


Amerika


Kediaman Maria.


Nampak Archo sedang duduk di sofa sambil membaca majalah, lalu kemudian Maria menghampirinya.


"Archo.." tegur Maria.


"Ah Mam, sorry Archo gak lihat," ucap Archo sambil meletakkan majalahnya di bawah meja.


"Iya gak apa-apa, Archo Mam mau tanya soal keadaan Daddy kalian, mumpung Kimberly masih tertidur lelap." terhenti sejenak seraya membuang nafasnya. "Emmm, bagaimana Daddy kamu, apa keadaannya sudah membaik?" lanjut tanyanya.


"Daddy ... ...,"


Triiiiiing.. Triiiiiing...


Tiba-tiba telpon Archo pun berbunyi, lalu ia pun langsung menjawab telpon tersebut.


"Oui, quoi de neuf? (iya, ada apa?)" tanya Archo.


"Maaf mengganggu anda Monsieur, saya mau memberi tahu bahwa ...," lalu Asistennya itu menjelaskan sesuatu kepada Archo.


Mendengar penjelasannya dari Asistennya, sontak Archo pun terkejut.


"Quoi..!! (apa..!!)" Archo menjatuhkan hpnya.


Maria yang melihatnya pun ikutan terkejut lalu bertanya, "Archo ada apa, apa yang terjadi?"


"Daddy Mam, dia sekarat." jelas Archo.


Lalu tiba-tiba...


Praaaaaaang...


Mendengar suara gaduh, Maria dan Archo pun langsung melihat ke arah belakang, dan ternyata..


"Kimberly...!!!"


***Bersambung...


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada kesalahan, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Salam Author... ✌😉😉✌


__ADS_2