
<<<<<
"Bagaimana kalau Maria itu adalah ibu kandungmu yang sebenarnya!" seru Archo membuat Zuy menghentikan langkahnya dan memutar badannya menghadap ke arah Archo.
"Hah! Anda bilang apa?!"
Zuy tersentak saat mendengarnya, lalu ia melangkah kembali ke arah Archo.
"Apa yang anda bilang barusan Tuan?"
"Sa-saya bilang bagaimana kalau Mam Maria itu adalah Ibu kandung anda, Nona." tegas Archo.
Zuy memicingkan matanya ke arah Archo. "Kenapa anda bisa berkata seperti itu?"
"Saya berkata seperti itu karena saya tahu kalau Nona kehilangan Ibu Nona sejak kecil, jadi ...." ujar Archo membuat Zuy terkejut. Lalu ....
"Tunggu! Dari mana anda tahu kalau saya kehilangan Ibu saya? Apa anda menyelidiki saya?" tanya Zuy menyidik.
"Sa-saya tahu dari Bunda Artiana, beliau yang menceritakannya pada saya."
Sesaat Zuy menghela nafasnya. "Haaa.. Ternyata Nyonya Artiana yang menceritakannya pada anda. Lalu kenapa anda bilang kalau Mrs Maria itu ibu kandung saya? Bukankah dia hanya mempunyai anak yang bernama Kimberly."
"Se-sebenarnya Mam juga mempunyai anak yang seusia dengan anda Nona."
"Apa!! Mrs Maria punya anak lain?!"
Archo mengangguk. "Iya Nona, Mam yang menceritakannya pada saya."
"Lalu anda menyangka kalau saya anaknya begitu?"
"Iya Nona. Wajah kalian berdua juga sangat mirip, jadi ...." ucap Archo namun terhenti. Lalu ....
"Oh begitu ya. Maaf Tuan, wajah kami memang lah mirip, tapi bukan berarti kami memiliki hubungan darah," papar Zuy.
"Ta-tapi Nona ...."
"Tuan, kalau saya anak dari Mrs Maria, harusnya dia merasakan ikatan batinnya terhadap anaknya, akan tetapi Mrs Maria tidak merasakan ikatan batinnya, justru ia malah menampar, menjambak dan mempermalukan saya di depan umum, jadi itu terbukti bahwa saya bukan anaknya," jelas Zuy.
Seketika Archo langsung menundukkan kepalanya. "Maaf, maafkan atas segala kesalahan Mam, karena beliau sudah membuat anda terluka, Nona." ucapnya.
"Tuan, mengucap kata maaf memang lah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Akan tetapi apa dengan kata maaf bisa melupakan semua yang terjadi, apa dengan kata maaf bisa menyembuhkan hati yang terluka? Tentu tidak Tuan. Asal anda tahu saja, hati saya sangat sakit dengan perlakuan Ibu anda, sangat lah sulit untuk melupakan dan memaafkan perlakuannya terhadap saya. Dan saya sangat menyesal telah mengidolakan orang seperti Mrs Maria itu," ujar Zuy.
"Iya saya tahu Nona, anda sangat terluka karena perlakuan Mam, tapi ...."
"Maaf Tuan, sepertinya hari sudah mulai malam dan saya harus segera pulang. Saya harap ini yang terakhir kita bertemu. Karena saya tidak ingin ada kesalah pahaman, lalu menimbulkan masalah dan fitnah, permisi...!" ujar Zuy sambil membalikkan badannya, lalu ia melangkah pergi meninggalkan Archo.
Sedangkan Archo langsung mendudukkan dirinya kembali di kursi, ia pun memijat pelipis kepalanya.
"Sepertinya dia benar-benar membenci Mam, kalau sudah seperti ini, apa yang harus aku lakukan?" lirih Archo.
Sementara itu Zuy terus melangkah menuju keluar, perasaannya sekarang tercampur aduk. Setelah berada di luar, ia terus berjalan menuju ke arah motornya terparkir. Sesampainya ia pun berdiam diri di samping motornya.
"Tsk, maksudnya apa coba dia berkata seperti itu, apa dia ingin aku menjenguk Mrs Maria dan memaafkannya? Aaaaaaah.. ini membuat perutku tidak nyaman dan rasanya ingin muntah," lirih Zuy sambil mengepalkan tangannya.
Sesaat setelah tenang, ia lalu menaiki motornya dan menyalakannya, tak lama ia pun melajukan motornya pergi meninggalkan Cafe tersebut.
*********************
Minimarket
Beberapa saat kemudian, ia pun sampai di suatu tempat, akan tetapi bukan rumah Ray melainkan Minimarket. Ia lalu memarkirkan motornya di depan minimarket, setelah itu Zuy bergegas masuk ke dalamnya.
Setelah berada di dalam minimarket, Zuy mengambil keranjang belanjaan, lalu ia mulai mengambil beberapa barang yang di inginkannya. Seperti camilan, cookies dan yang paling banyak di ambil adalah ice cream rasa mangga. Saat berada di rak berisi susu, tanpa sengaja Zuy mengambil susu khusus ibu hamil, akan tetapi ia tidak membelinya, hanya melihat dan membaca kemasannya saja. Setelah puas membaca, ia meletakkan kembali susu hamil tersebut ke tempatnya semula.
Sesaat setelah selesai dengan belanjaannya, Zuy langsung menuju ke kasir, untungnya kasir kosong jadi ia tidak perlu mengantri. Zuy pun memberikan keranjang belanjaannya ke Pegawai kasir. Tak lama kemudian ....
"Totalnya Kak ...," kata pegawai kasir.
Zuy mengambil uang yang ada di dompetnya, lalu ia memberikannya pada pegawai kasir itu. Setelah selesai membayar ia mengambil kantong belanjaannya dan melangkah keluar dari minimarket dan menuju ke arah motornya. Lalu tiba-tiba ....
"Zuy...!!"
Mendengar namanya di panggil, Zuy pun menoleh ke arah suara tersebut dan ternyata yang memanggilnya adalah ....
"Bu Friska!" ucap Zuy.
Friska pun tersenyum sambil mendekat ke arah Zuy, setelah itu mereka pun berjabat tangan. Sesaat setelahnya ....
"Baru pulang kerja Zuy?"
"Iya Bu, terus langsung mampir ke sini," jawab Zuy.
"Hmmmm... Kamu ya Zuy, ini bukan di kantor, jadi gak perlu formal gitu!" kata Friska
Zuy pun terkekeh. "Hehehe.. Iya maaf Fris, habisnya kebiasaan sih," ujarnya. "Si kecil mana Fris?" sambung tanya Zuy.
"Si kecil ada di rumah sama Neneknya," jawab Friska.
"Oh, jadi ingin menggendongnya lagi," lirih Zuy.
Friska pun tersenyum. "Makanya main ke rumah, nanti kamu bisa gendong si kecil sepuasnya."
"Kapan-kapan deh aku main ke rumahmu lagi," balas Zuy.
"Oh iya Zuy, mumpung ketemu kamu di sini. Ada yang ingin aku tanyakan padamu," kata Friska
"Mau nanya apa Fris?"
"Soal di grup Chat, katanya Wanda di pecat ya gara-gara menyinggung kamu dan Tuan Ray? Apa itu benar Zuy?" tanya Friska.
Zuy mengangguk. "Iya benar Fris, dia bilang kalau aku wanita gak benar, simpanan Ceo. Tadinya sih aku gak ingin manjang, namun pas kebetulan Tuan Muda ada di sana dan mendengarnya. Alhasil Tuan Muda langsung memecatnya," jawab Zuy.
"Haaa... Memang si Wanda tuh selalu saja cari masalah terus, waktu masih berada di anak Perusahaan CV juga gitu, selalu menyinggung rekan kerjanya, apalagi kalau rekannya melakukan kesalahan, aku juga pernah cekcok dengannya," ujar Friska.
"Oh jadi dia orangnya memang seperti itu ya, aku baru tahu."
"Ya seperti itu. Lalu bagaimana hubungan mu dengan Tuan Ray, sepertinya makin mesra saja," goda Friska membuat Zuy terkejut.
"Hmmmm, bagaimana kamu tahu kalau aku dan Tuan Ray mempunyai hubungan?" tanya Zuy
Friska pun tersenyum. "Ya sebenarnya aku sudah lama mengetahuinya, tapi kamu tenang saja Zuy, aku gak akan bocor alus, aku akan selalu menjaga rahasia hubungan kalian," ujarnya.
"Oh begitu ya, euuum... Terimakasih banyak Friska, sudah membantu merahasiakannya," ucap Zuy.
"Sama-sama Zuy."
"Yaudah kalau gitu aku duluan ya Fris, takut esnya cair," kata Zuy.
Friska pun mengangguk, kemudian Zuy menaiki motornya dan menyalakannya. Sesaat ia melajukan motornya dan pergi meninggalkan Friska.
"Hmmmm, maaf ya Zuy. Sebenarnya aku juga tahu akan status mu dengan Tuan Ray sekarang. Karena aku juga ikut terlibat membantu Tuan Ray," lirih Friska.
__ADS_1
Lalu ia pun melangkahkan kakinya menuju ke dalam minimarket.
***********************
Rumah Sakit
Sementara itu di ruang rawat, Maria nampak tengah duduk menyandar di atas ranjangnya sambil menggerakan tangan kanannya, karena sampai sekarang tangannya masih terasa lemas. Lalu Maria mencoba memegang benda yang di dekatnya dengan menggunakan tangan kanannya, akan tetapi benda yang ia pegang malah jatuh.
Aaaaaaah....
"Kenapa sampai sekarang tanganku masih lemas begini, bahkan memegang benda pun tidak bisa, bagaimana aku bisa bekerja, kalau tanganku seperti ini," pekik Maria sambil melihat ke arah tangan kanannya.
Lalu Archo datang dan menghampiri Maria.
"Mam, ada apa?" tanya Archo
"Tangan Mam lemas Archo, bahkan memegang benda pun tidak bisa," ujar Maria.
Archo pun langsung terkejut mendengarnya, sebab ia baru mengetahuinya.
"Apa! Kenapa bisa seperti itu Mam?" tanya Archo.
"Mam juga tidak tahu Archo, Dimas menduga kalau kemungkinan Mam terkena stroke, Archo."
"Stroke?"
Maria pun mengangguk. "Iya Archo. Mam takut kalau dugaan Dimas itu benar. Mam gak mau kalau sampai itu terjadi, bagaimana nasib Mam ke depannya, Archo." tangisnya.
"Berdoa saja Mam, semoga dugaan Dokter Dimas salah," tutur Archo.
Maria menundukkan kepalanya. "Apa mungkin ini karma untuk ku? Karena menyakiti putriku sendiri. Makanya Tuhan memberikan ku hukuman seperti ini," lirih Maria.
"Mam...."
Maria lalu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Archo.
"Sepertinya ini hukuman buat Mam, karena Mam sudah menyakitinya melalui tangan ini!" ucap Maria.
"Mam jangan bicara seperti itu!" pinta Archo.
"Tapi memang benar Archo, Mam sudah berapa kali menyakitinya melalui tangan ini, sampai ia terluka dan menangis. Mam sangat menyesal, pokoknya Mam harus menemuinya dan meminta maaf padanya," Maria pun mencoba beranjak dari tempat tidurnya, akan tetapi Archo menahannya.
"Mam, jangan banyak gerak! Tubuh Mam masih lemah, dan lagi percuma Mam menemuinya sekarang, karena ia tidak ingin bertemu dengan Mam lagi," cetus Archo.
Sontak membuat Maria tersentak saat mendengarnya.
"Apa maksudmu Archo?" tanya Maria.
"Sebenarnya tadi Archo pergi untuk menemuinya Mam. Archo ingin membawanya ke sini untuk menjenguk Mam, akan tetapi ia menolaknya. Ia bilang kalau ia takut dengan Mam dan membenci Mam," jelas Archo.
Nyuuut..
Dada Maria langsung terasa sesak saat mendengar penjelasan dari Archo, air matanya pun kembali mengalir membasahi pipinya.
"I-itu tidak benar kan Archo? Kau pasti berbohong padaku?" Maria pun memegang kerah baju Archo dengan satu tangannya.
"Archo tidak bohong Mam. Bahkan Archo sempat bilang kalau Mam itu ibunya, akan tetapi ia tidak percaya dan ia berkata bahwa seorang ibu pasti merasakan ikatan batinnya terhadap anaknya," ujar Archo.
Seketika Maria menurunkan tangannya dari baju Archo, perasaan sedih dan kesalahannya tak dapat ia hindarkan lagi. Sehingga ia memberontak seperti orang kehilangan akal dan terus memaksa ingin pergi untuk menemui Zuy. Melihat Maria seperti itu, Archo langsung menghubungi Dimas. Dan tak lama Dimas pun datang bersama suster.
Lalu Dimas menyuruh suster menyuntikan obat penenang sehingga membuat Maria perlahan menutup matanya dan tertidur. Sesaat setelahnya ....
"Suster kau boleh pergi!" titah Dimas
"Tuan Archo, apa yang terjadi pada Kak Maria? Sehingga membuatnya memberontak seperti itu?" tanya Dimas.
Archo menceritakannya pada Dimas, sehingga membuat Dimas terkejut dan menitihkan air matanya.
"Ternyata dia benar-benar membenci Kak Maria," lirih Dimas.
Archo langsung menundukkan kepalanya. "Lalu saya harus bagaimana Dok, padahal saya ingin sekali menyatukan mereka berdua, saya ingin sekali ia merasakan kasih sayang Mam. Saya merasa sangat bersalah padanya Dokter, karena saya yang statusnya sebagai anak tiri mendapatkan kasih sayang Mam bahkan di besarkan dengan baik oleh Mam, sedangkan dia yang anak kandungnya malah tidak merasakan kasih sayang Mam, bahkan di telantarkan oleh Mam," ungkap Archo.
Seketika Dimas menepuk-nepuk bahu Archo.
"Tuan Archo, saya mengerti perasaan anda, apalagi saya yang baru mengetahuinya. Coba kalau sejak awal Bunda cerita tentang Zuy, mungkin saya juga akan ikut merawatnya dengan atau tanpa persetujuan dari Bunda dan Ayah," ujar Dimas.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Untuk sekarang kita biarkan dia dulu, sampai keadaannya tenang, baru kita membujuknya lagi untuk menemui Kak Maria," kata Dimas.
Seketika Archo langsung mengangkat kepalanya, lalu ia pun mengusap air matanya dan melihat ke arah Maria yang tengah terbaring.
"Anda benar Dokter, semoga setelah tenang, dia mau bertemu dengan Mam."
"Yaudah kalau begitu, saya kembali ke ruangan saya, ya sebenarnya saya ingin pulang. Tapi takutnya Kak Maria seperti ini lagi, jadi saya akan menginap di sini!" papar Dimas.
"Baiklah Dok."
Lalu Dimas melangkah pergi meninggalkan Archo dan Maria.
****************
Rumah Ray
Setelah berada di rumah dan sudah bebersih, Zuy langsung mendudukkan dirinya di atas sofa yang berada di ruang tengah sambil menikmati ice cream rasa mangga yang ia ambil di kulkas, karena ice cream yang ia beli tadi sudah sedikit mencair, ya untungnya di kulkas ia masih ada stock jadi ia gak khawatir. Semenjak sering merasakan aneh pada dirinya, Zuy jadi gemar membeli ice cream mangga.
Zuy lalu mengambil buku dongeng milik Davin yang berada di dekatnya kemudian ia membacanya. Tak lama setelah ice creamnya habis, Zuy langsung merebahkan dirinya di atas sofa sambil membaca buku, rasa kantuknya pun mulai menyerang, sehingga membuatnya ketiduran di sofa.
Bu Ima yang melihat Zuy tidur di sofa pun tidak tega membangunkannya, lalu Bu Ima mengambil selimut di kamar Zuy, kemudian ia berjalan menghampiri Zuy dan menutupi tubuh Zuy dengan selimut. Setelah itu Bu Ima mengelus kepala Zuy sehingga membuat Zuy semakin terlelap.
"Andai saja kamu anak ibu, pasti ibu merasa bahagia Nak, kamu anak baik, kamu juga sering membantu ibu, di saat Ibu tengah kesusahan," ucap Bu Ima. Lalu ia melangkah pergi dan menuju ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian, nampak sebuah mobil memasuki halaman rumah Ray dan ternyata itu mobil milik Ray. Ray dan Davin baru saja pulang dari luar kota, karena ada urusan dengan anak Perusahaan CV. Setelah turun dari mobil, Ray bergegas menuju ke pintu masuk, sesampainya ia pun membuka pintu rumahnya.
Saat pintu terbuka Ray segera masuk ke dalam dan bergegas menuju ke kamarnya, akan tetapi langkahnya terhenti karena ia melihat pujaan hatinya tengah tertidur di sofa. Ray langsung berjalan ke arah pujaan hatinya itu. Setelah di dekatnya, Ray berjongkok di depan Zuy sambil memandangi wajah wanita yang di cintainya itu.
"Hmmmm, sayangku pasti menunggu ku makanya sampai ketiduran seperti ini," lirih Ray mengelus kepala Zuy.
Ray lalu mendaratkan bibirnya ke pipi Zuy sehingga membuat Zuy terusik dan perlahan membuka matanya.
"Ray! Apa itu kamu?" lirih Zuy.
"Iya sayangku ini aku. Maaf membangunkan mu."
Zuy membangunkan dirinya menjadi duduk sambil mengusap matanya.
"Tidak apa-apa Ray, justru Zuy minta maaf karena ketiduran di sofa, padahal Zuy sengaja nungguin kamu pulang, tapi ternyata malah ketiduran," ucap Zuy.
Ray tertegun mendengar ucapan Zuy, kemudian ia langsung memeluk pujaan hatinya itu.
"Sayangku, terimakasih sudah menunggu ku," ucap Ray, lalu tiba-tiba..
__ADS_1
"Ehemmm... Kalian ini selalu saja ya," seru Davin membuat Ray melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah Davin.
"Dasar orang satu ini, kerjanya mengganggu terus," pekik Ray.
Davin pun terkekeh, lalu ia memberikan sebuah kantong berisi kotak kue.
"Ini milik anda tertinggal di mobil!" kata Davin.
"Oh iya aku lupa, terimakasih Kak Davin."
"Iya sama-sama, yaudah kalau gitu saya ke kamar dulu, mau bebersih sekalian perawatan wajah," ujar Davin.
Seketika Ray langsung memutar bola matanya dengan malas. "Kebiasaan adonan moci selalu menempel di wajah," celetuk Ray.
Davin kembali terkekeh, lalu saat ia hendak melangkah tiba-tiba..
"Pak Davin...." panggil Zuy.
Davin pun langsung menoleh. "Iya ada apa Zuy?"
"Euuum.... Zuy boleh minta tolong tidak."
"Boleh, memang minta tolong apa Zuy?" tanya Davin
Zuy menundukkan kepalanya. "Euum boleh tidak, besok Pak Davin buatin Zuy nasi goreng atau nasi omellet. Soalnya Zuy pengin makan masakan Pak Davin," pinta Zuy.
Sontak membuat Davin dan Ray terkejut mendengarnya.
"Apa!" ucap Ray dan Davin bersama.
"Zuy apa kamu mengidam?" tanya Davin
"Tidak, Zuy hanya ingin makan masakan Pak Davin saja," ujar Zuy.
"Sayangku, kenapa harus Kak Davin, kenapa bukan masakanku saja," pekik Ray
Akan tetapi Zuy malah menggelengkan kepalanya. "Tidak Ray, Zuy hanya ingin makan masakan Pak Davin!"
Sesaat Davin menghela nafasnya. "Haaaa... Baiklah Zuy, demi keponakan ku, besok aku akan memasak untuk mu," kata Davin.
Zuy pun tersenyum bahagia dan matanya langsung berbinar.
"Waah terimakasih banyak Pak Davin," ucap Zuy.
"Iya sama-sama, yaudah aku ke kamar dulu," kata Davin.
Zuy pun menganggukkan kepalanya, Lalu Davin melenggang pergi menuju ke kamarnya. Sesaat setelahnya...
"Ray, ada apa dengan wajah mu?" tanya Zuy melihat ekspresi wajah Ray.
"Ini namanya cemberut sayangku," singkat Ray.
"Iya Zuy tahu, tapi kenapa kamu cemberut?" tanya Zuy.
"Karena sayangku meminta orang lain untuk memasakan makanan, padahal aku kan ada." tegas Ray.
Zuy pun tersenyum, kemudian ia mendaratkan bibirnya ke pipi Ray sehingga membuat Ray merona.
"Hei, jangan cemburu gitu dong, Zuy kan cuma ingin makan masakan Pak Davin, dan lagi Zuy juga gak tahu kenapa Zuy menginginkan itu," jelas Zuy membuat Ray sedikit tenang.
"Haa... Baiklah kalau sayangku benar-benar ingin makan masakan Kak Davin, sebenarnya Ray juga ingin sih masakannya, apalagi masakan Kak Yiou," ujar Ray.
"Tuh kan... Kamu juga pengin masakan Pak Davin, jadi jangan cemberut lagi ya! Ayo senyum dong tampan-ku, nanti Zuy kasih hadiah," pinta Zuy.
"Hadiah! Hadiah apa?" tanya Ray.
"Hadiahnya ice cream mangga.." seru Zuy.
"Ray tidak mau ice cream," cetus Ray.
"Lalu kamu mau apa?!" tanya Zuy.
Kemudian Ray menyunggingkan senyumannya, lalu ia mendekatkan wajahnya ke telinga Zuy.
"Bagaimana kalau hadiahnya temani aku bebersih," bisik Ray
"Hah!" Zuy terkejut mendengar bisikan Ray.
Tanpa pikir panjang dan aba-aba dari Zuy, Ray langsung mengangkat tubuh Zuy dan membawanya ke kamar.
************************
Sementara itu, setelah di beri obat penenang dan tertidur beberapa jam, Maria akhirnya terbangun, kemudian ia perlahan mengangkat tubuhnya dan duduk menyandar, matanya pun nampak masih sayu. Lalu kemudian ....
Drrrrt... Drrrrt... Drrrrt...
Hpnya berdering kencang, lalu Maria langsung mengambil hpnya yang berada di atas nakas.
"Kimberly!" lirih Maria, ternyata yang menelponnya adalah Kimberly.
Maria langsung menjawab telponnya itu.
"Mam..." seru Kimberly dari seberang telpon.
"Iya sayang, ada apa?"
"Kimberly kangen sama Mam, apa Mam sudah pulang ke Amerika?" tanya Kimberly.
"Belum sayang, Mam masih banyak urusan di sini. Mendengar pertanyaan mu barusan, apa kamu masih di Swedia?"
"Iya Kimberly masih di Swedia, soalnya masih ada pemotretan lagi," kata Kimberly.
"Oh begitu ya sayang,"
"Iya. Oh iya Mam soal Mam ingin menyingkirkan wanita itu, apa Mam punya rencana lain?"
"Menyingkirkan wanita itu?"
"Iya Mam, katanya Mam mau ngelakuin apa saja agar wanita yang bernama Zuy pergi dari kehidupan Ay," kata Kimberly
Mendengar perkataan Kimberly, sontak membuat Maria tersentak kaget, Air matanya kembali mengalir.
"Mam, Kimberly ingin dia pergi dari kehidupan Ay, bahkan Kim ingin dia tidak pernah kembali lagi," cetus Kimberly. "Lalu apa Mam sudah punya cara lain?"
"Soal itu Mam ...."
****Bersambung
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌