
<<<<<
Mendengar suara tersebut, Pak Wildan dan istrinya langsung menoleh ke arahnya.
"Anne!!"
Lontar Pak Wildan dan istrinya secara bersamaan, mereka pun bangkit dari posisinya.
"Iya Om, Tante. Ini saya Anne," ucapnya yang ternyata adalah Anne
Sambil melepaskan masker dan topi yang menutupi mulut dan kepalanya, Anne pun berjalan menghampiri Pak Wildan dan istrinya. Setelah berhadapan dengan mereka, Anne memeluk Pak Wildan dan istrinya secara bergantian.
"Anne, Kamu tadi bilang kalau Erlin di tahan karena kesalahan wanita j*lang, apa itu benar? Terus wanita j*lang siapa yang kamu maksud itu?" tanya istrinya Pak Wildan.
"Siapa lagi kalau bukan wanita yang sering bersinggungan dengan Erlin itu," jawab Anne.
"Maksud mu si OB rendahan itu?" tanya istri Pak Wildan dengan nada keras.
Anne mengangguk. "Iya Tante, dia orangnya."
"Tsk, kurang ajar! Dasar wanita rendahan...." umpat istri Pak Wildan.
"Anne, apa yang kamu katakan itu benar?" tanya Pak Wildan.
"Kenapa Om bertanya seperti itu? Memangnya kalian tidak tahu kejadiannya?" Anne bertanya kembali.
"Tidak, Polisi itu hanya bilang kalau Erlin melukai seseorang, jadi ia di tahan," jawab Pak Wildan.
Sebenarnya sih Ray hanya ingin memberi kejutan untuk Pak Wildan saja, makanya ia meminta pihak yang berwajib untuk tidak memberitahu Pak Wildan siapa yang sudah di celakai Erlin.
Mendengar jawaban Pak Wildan, Anne pun menyunggingkan senyuman smirknya.
"Hmmmm.... Bagus, jadi aku bisa manfaatin mereka," batinnya.
Lalu Istri Pak Wildan memegang pundak Anne. "Anne, cepat jelaskan pada kami apa yang terjadi sebenarnya?" tanyanya.
Seketika Anne menundukkan kepalanya dan nampak air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Hiks...
"Om, Tante. Jadi begini ceritanya, tadi malam kami sedang jalan-jalan malam, lalu kami melihat wanita j*lang itu sedang duduk sambil membeli makanan. Erlin pun mendekatinya hanya untuk sekedar menyapa, tapi wanita itu hanya terdiam dan ekspresi wajahnya menunjukan kalau dia sedang mengejek Erlin. Untung Erlin orangnya tidak sakit hati ataupun tersinggung, terus setelah wanita j*lang itu selesai membeli makanan, tiba-tiba ia tersandung dan hampir jatuh, sontak membuat Erlin berlari dan ingin menolongnya, tapi sayangnya seseorang sudah menolongnya terlebih dahulu, dan dia adalah Ceo dari CV," ujar Anne berbohong.
"Apa kamu bilang? Ceo CV? Maksudmu Tuan Ray?" sentak Pak Wildan.
Anne mengangguk. "Iya mungkin, soalnya Anne gak kenal namanya."
"Terus apa yang terjadi selanjutnya Ann?" tanya Istri Pak Wildan.
"Terus, wanita itu bilang ke Ceo itu kalau Erlin yang mendorongnya. Alhasil dia marah pada Erlin. Sedangkan wanita itu, dia tersenyum bahagia melihat Erlin di marahin oleh Ceo itu. Sebagai sahabat aku gak terima Erlin di perlakukan seperti itu, aku pun ikut berkata jujur. Tapi malah pengawal Ceo itu menahan ku, untung saja aku bisa kabur, tapi Erlin dia .... Hiks," kata Erlin dengan tangisannya.
Sontak membuat istri Pak Wildan terpancing sama ucapan Anne.
"Kurang ajar! Dasar wanita rendahan itu, berani sekali dia memfitnah anakku. Aku tidak terima! Harusnya dia yang di hukum bukan Anakku," murka istri Pak Wildan.
"Heh.... Ibu dan anak sama-sama bodoh, mau aja di bohongi," batin Anne.
Kemudian istri Pak Wildan mengguncang lengan Pak Wildan.
"Papih.... Cepat lakukan sesuatu, bebaskan Erlin dan jebloskan wanita j*lang itu ke penjara! Karena dia sudah memfitnah Erlin, anak kesayangan kita." pinta istri Pak Wildan.
"Ngomong sih gampang Mih, tapi ini Tuan Ray, kita tidak bisa melawannya, satu-satunya cara ya kita mohon pada Tuan Ray agar Erlin bisa bebas," ungkap Pak Wildan.
Lalu pandangan Pak Wildan mengarah ke Anne.
"Anne, apa yang kamu katakan barusan itu benar?" tanya Pak Wildan memastikan.
"Papih apa yang kau tanyakan? Tentu saja perkataan Anne itu benar," pekik istri Pak Wildan.
"Mih, kamu diam sebentar!"
Istri Pak Wildan langsung menutup mulutnya.
"Anne, Om tanya sekali lagi, apa yang kamu katakan itu benar?"
"Tentu benar Om. Makanya pagi buta aku kesini untuk memberitahu kalian dan lagi sebenarnya Erlin yang menyuruhku datang kesini untuk meminta bantuan kalian," ucap Anne.
"Bantuan? Apa itu Ann?" tanya Istri Pak Wildan.
"Om, Tante. Sebenarnya aku sedang dalam incaran para pengawal Ceo CV itu. Terus Erlin menyuruhku untuk kabur dari kota ini, tapi aku ...." Anne pun menghentikan ucapannya.
"Aku tahu apa yang kamu inginkan, baiklah aku akan memberikamu uang untuk kamu pergi dari sini," kata istri Pak Wildan.
Lalu tiba-tiba Pak Wildan menarik tangan istrinya dan menjauh beberapa jarak dari Anne.
"Mamih! Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu menyetujui permintaan si Anne itu?" tanya Pak Wildan.
"Pih.... Apa Papih gak dengar apa yang Anne katakan, dia minta bantuan kita karena di suruh Erlin. Itu pasti karena Erlin sudah menganggap Anne sahabat setianya. Pokoknya Mamih akan membantunya dengan atau tanpa persetujuan dari Papih," papar istri Pak Wildan.
"Dan lagi, Papih harus menemui Tuan Ray dan minta dia untuk bertanggung jawab karena sudah menjebloskan anak kita ke penjara." sambung pintanya.
"Iya, besok Papih akan ke rumahnya, tapi kamu tidak boleh ikut!"
"Tidak! Pokoknya aku harus ikut. Aku ingin lihat wajah wanita rendahan itu!" ujar istri Pak Wildan.
"Terserah! Tapi jangan membuat masalah! Kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan segan-segan melepaskan mu dan mengusirmu dari sini!" sergah Pak Wildan.
Istri Pak Wildan tidak berkata apa-apa, ia lalu melangkahkan kakinya menghampiri Anne kembali dan meninggalkan Pak Wildan.
"Sepertinya ada yang aneh dengan ucapan si Anne ini," pikir Pak Wildan.
**********************
Rumah Ray
–Pukul 07.15Am
Nampak Ray dan yang lainnya sedang berada di meja makan sembari menikmati sarapan paginya.
Lalu ....
"Kak Davin, hari ini ...."
"Iya aku paham dengan apa yang ingin anda katakan, Tuan." sela Davin, ia pun memasukan makanannya ke dalam mulutnya.
"Memangnya Kak Davin tahu, apa yang mau aku katakan?" tanya Ray
"Tahu dong, pasti anda ingin bilang masalah pekerjaan hari ini, Kak Davin yang urus semuanya. Iya kan?" tebak Davin yang sudah hapal dengan apa yang akan di katakan Ray.
Ray langsung menyunggingkan senyumannya.
"Bagus! Kalau Kak Davin sudah mengerti," puji Ray.
"Iya pasti aku hapal dan mengerti. Aku kan sudah mengikuti anda selama bertahun-tahun, Tuan Ray. Bahkan saat anda menjadi Presdir sementara di Perusahaan Daddy," jelas Davin.
Lalu Davin mendekat ke telinga Ray.
"Tuan Ray, seperti biasa ya! Soalnya stock ku udah habis nih," bisik Davin.
__ADS_1
Ray menghela nafasnya. "Haaa.... Baiklah nanti aku belikan sepuluh pack," ujarnya.
Davin pun langsung menyunggingkan senyuman sumringahnya.
"Horeeeee....." seru Davin sambil menaiki kursi dan mengangkat tangannya sehingga membuat Zuy dan Yiou melihat ke arahnya.
"Pak Davin mirip Nara deh," ledek Zuy.
"Kamu kenapa sih Vin? Pake naik ke kursi segala, kaya bocah tau," celetuk Yiou.
Seketika Davin langsung turun dan duduk kembali ke tempatnya semula.
"Tidak kenapa-napa, iya kan Tuan Ray?"
"Hmmmm...." balas Ray sambil mengangguk pelan.
"Dasar kalian berdua," gumam Yiou.
"Oh iya...." Ray melihat ke Davin. "Kak Davin bagaimana dengan Henri? Apa dia sudah di pindahkan ke kamar rawat?" tanya Ray.
Davin mengangguk. "Sudah Tuan. Henri di pindahkan ke kamar VIP."
"Bagus kalau begitu," lirih Ray.
"Ray, apa yang terjadi pada Henri? Kenapa sampai di rawat? Apa gara-gara Anne?" lontar beberapa pertanyaan dari Zuy untuk Ray.
Pandangan Ray pun beralih ke Zuy sambil memegang pipi Zuy.
"Mata Henri terkena infeksi akibat parfum yang di semprotkan oleh wanita gila itu sayangku, jadi dia harus di rawat dan matanya juga di perban," jawab Ray
Zuy pun terkejut mendengarnya. "Apa! Kenapa bisa sampai infeksi? Apa parfum itu berbahaya?"
"Iya,parfum itu mengandung Zat berbahaya, untungnya Henri cepat di bawa ke rumah sakit, jadi cepat di tangani," ujar Ray.
"Lalu apa dia baik-baik saja, maksudku tidak sampai buta kan?"
Ray menggelengkan kepalanya. "Tidak sayangku, dua hari juga sembuh."
"Ray, apa kamu mau menjenguknya?" Zuy pun bertanya kembali.
"Iya sayangku. Apa kamu mau ikut?" tawar Ray.
Zuy langsung mengangguk cepat. "Iya Zuy mau ikut."
"Baiklah, nanti agak siangan kita ke rumah sakit untuk menjenguk Henri," kata Ray.
"Terimakasih Ray," ucap Zuy.
"Sama-sama sayangku," balas Ray dan ....
Cup...
Sekilas Ray mendaratkan bibirnya ke pipi Zuy, Davin dan Yiou yang berada di situ pun langsung memalingkan pandangannya.
"Ray, kamu benar-benar ya!" pekik Zuy nampak pipinya yang merona.
Ray terkekeh. "Hihihi.... Euuum sayangku yang cantik."
"Hmmm.... Kenapa Ray?"
"Suap-suap!" pinta Ray manja.
Uhuk....
Davin dan Yiou tersedak barengan gara-gara Ray minta di suapin.
Davin dan Yiou serempak memutar bola matanya dengan malas.
"Dasar Tuan dingin," gerutu Yiou.
"Kalian berdua bener-bener deh, gak memikirkan perasaanku yang jomblo ini, huhuhu..." batin Davin.
Zuy menuruti keinginan Ray, ia lalu mengambil makanan yang berada di piringnya dan menyuapkannya ke mulut Ray.
"Memang selalu enak kalau makan di suapin sayangku, apalagi kalau bekas sayangku ini," ucap Ray memuji.
Zuy hanya tersenyum simpul saja, sedangkan Davin dan Yiou ....
"Vin, yang sabar ya menghadapi dua sejoli yang di landa cinta ini," goda Yiou pada Davin.
"Anda juga harus sabar ya Mrs Yiou, hehehe...." balas Davin terkekeh.
Drama sarapan pun berlanjut.
********************
Rumah Dimas
Di rumah Dimas pun sama, mereka tengah menikmati sarapan paginya itu. Sesaat setelah selesai, Mira selaku asisten rumah tangga langsung membersihkan meja makannya. Sedangkan Bunda Artiana menggiring Dimas dan Eqitna ke ruang keluarga. Sesampainya mereka mendudukkan dirinya masing-masing.
"Eqi, Dimas. Semalam pas kalian berdua pulang Bunda ketiduran, jadi Bunda tidak sempat bertanya pada kalian soal cucu Bunda itu. Dan sekarang kalian harus jelaskan pada Bunda! Sebenarnya apa yang terjadi pada cucu Bunda?" Bunda Artiana memulai obrolannya dengan bertanya.
Seketika Dimas dan Eqitna saling menatap satu sama lain, lalu mereka pun saling mengangguk. Sesaat pandangan mereka kembali ke Bunda Artiana.
"Begini Bunda, semalam Zuy gak sengaja tersenggol orang dan hampir jatuh, untungnya Tuan Muda dengan sigap langsung menangkap tubuh Zuy, sehingga Zuy selamat dan tidak terjatuh ke tanah," ujar Eqitna
Akan tetapi ia sedang berbohong, sebab Dimas dan Eqitna tidak ingin Bunda Artiana shock saat mendengar kejadian sebenarnya yang menimpa Zuy dan mengakibatkan penyakit yang di derita Bunda Artiana kambuh.
"Benarkah yang kamu katakan Eqi? Bukan apa-apa, soalnya waktu kalian berdua pergi. Perasaan Bunda tidak enak, pikiran Bunda selalu mengarah pada cucu Bunda itu, seakan ada rasa takut dalam diri Bunda ini, Dimas, Eqitna." cetus Bunda Artiana.
Lalu Eqitna memegang erat tangan Bunda Artiana.
"Tentu apa yang aku katakan ini benar Bunda, jadi Bunda tidak perlu khawatir! Dan lagi setelah Eqi periksa Zuy dan anak-anak yang di kandungnya baik-baik saja kok," jelas Eqitna.
Seketika membuat Dimas dan Bunda Artiana tercengang, lalu Bunda Artiana menatap lekat wajah Eqitna.
"Eqi, apa maksudmu anak-anak? Apa cucuku itu ...." tanya Bunda Artiana yang menduga-duga.
Eqitna pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Ya, sesuai dugaan Bunda."
"Kenapa kamu gak bilang Eqi? Terus apa Zuy tahu?" tanya Dimas.
"Tidak.... Dia tidak tahu, Dimas." ujar Eqitna.
"Kok dia gak tau sih? Apa kamu sengaja tidak memberitahunya?" cecar Dimas.
Eqitna menghela nafasnya dan berkata. "Begini lho Dimas, aku gak ngasih tau Zuy karena ada alasannya, yaitu ingin memberi kejutan untuk Zuy."
"Kejutan untuk Zuy? Maksudmu bagaimana Eqi?" tanya Bunda Artiana.
"Maksudnya gini Bunda, kan setiap Zuy check up kehamilan, Eqi selalu menawarkan dia untuk Usg, tapi dia selalu menolak dengan alasan biar jadi kejutan saja, jadi ya Eqitna mengikuti ke inginannya itu dan tidak memberitahu yang sebenarnya. Ya niatnya isengin dia juga sih," kata Eqitna.
"Oh jadi seperti itu ya, hmmm... Dasar kamu ya!" gumam Dimas.
Eqitna pun terkekeh. "Hihihi.... Maaf Bunda, Dimas. Habisnya dia gemesin sih, jadi aku tidak tahan ingin menggodanya."
Dimas pun menepuk jidatnya, sedangkan Bunda Artiana menggelengkan kepalanya. Akan tetapi berbeda dengan perasaan Bunda Artiana yang berbunga-bunga itu.
__ADS_1
"Syukurlah, kalau yang di katakan Eqi itu benar. Tuhan berikan saya umur panjang supaya saya bisa bertemu dengan cicit saya yang beberapa bulan lagi akan lahir ke dunia ini," batin Bunda Artiana seraya berdoa.
*************************
Rumah Sakit
Sementara itu di rumah sakit, Henri tengah duduk di atas ranjangnya, ia di temani oleh seseorang yang tak lain adalah Pamannya sendiri yaitu Paman Arka.
"Paman kenapa masih di sini? Apa Paman tidak bekerja?" tanya Henri.
"Paman udah minta izin sama Tuan besar dan beliau pun mengizinkannya, jadi kamu tidak perlu khawatir," jawab Paman Arka sambil menyuapkan makanan ke mulut Henri.
"Oh, Syukurlah kalau Pak Willy mengizinkannya," ucap Henri.
Sesaat kemudian, Paman Arka pun selesai menyuapi Henri, lalu ia meletakkan kembali piringnya di atas nakas.
"Terimakasih Paman."
"Iya sama-sama Hen," balas Paman Arka.
"Kamu benar-benar membuatku khawatir Hen, tapi aku juga bersyukur kalau mata kamu baik-baik saja," sambung kata Paman Arka.
Henri pun menundukkan kepalanya. "Maaf kalau sudah membuat Paman khawatir," ucapnya.
"Haaaa.... Lagian kenapa bisa kecolongan gini sih, sampai-sampai perempuan itu bisa lolos dari cengkraman mu itu?" tanya Paman Arka dengan nada keras.
"Namanya juga musibah Paman Arka dan lagi dia sangat licik dan licin seperti ular," ujar Henri.
"Lain kali kamu harus waspada, jangan sampai hal ini terulang lagi!" tutur Paman Arka.
Henri mengangguk. "Iya Paman."
"Dan lagi, kamu sudah memilih menjadi pengawal Tuan Muda Rayyan, jadi kamu harus bersungguh-sungguh menjalankan tugasmu dengan benar, jangan sampai mengecewakan Tuan Muda!" Paman Arka kembali memberikan penuturan pada Henri.
"Baik Paman," patuhnya.
"Ya aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan selalu melindungi Tuan Ray, terutama dengan Nyonya Zuy," sambung batin Henri
......................
Flashback Henri
Pada saat itu, Henri masih berusia delapan tahun, akan tetapi kehidupan Henri jauh dari kata layak. Ibunya hanya pedagang kue keliling, sedangkan Ayahnya sudah meninggal saat ia masih di dalam kandungan Ibunya. Dan satu lagi kekurangan dari Henri, ia memiliki masalah dengan pita suaranya, jadi kalau ia berbicara maka suaranya seperti serak dan terbata-bata, hal itu membuat Henri sangat kesakitan. Satu-satunya cara menyembuhkannya yaitu dengan melakukan operasi terhadap pita suaranya itu.
Namun karena kehidupannya susah, maka Ibunya Henri membiarkan Henri seperti itu sampai ia benar-benar mengumpulkan uang demi mengobati Henri, meskipun menjadi penjual kue keliling.
Suatu Hari....
Saat Ibunya Henri sedang merapihkan kue yang akan di jualnya, tiba-tiba Ibunya Henri terjatuh namun tidak pingsan. Henri yang melihatnya pun terkejut, ia langsung buru-buru menghampiri Ibunya.
"Bu.... Bu ke-napa?" tanya Henri dengan suara terbata-bata.
"Ibu tidak apa-apa Adnan, Ibu hanya kelelahan saja," jawab Ibunya sambil mencoba membangunkan dirinya.
"Bu.... is-tirahat sa-ja, bi-ar Adnan yang ju-alin kue ini ya!" tutur Henri.
Lalu Ibunya Henri memegang tangan Henri.
"Tapi ini udah tugas Ibu Nak, lagian Ibu juga tidak apa-apa," ujar Ibunya.
Akan tetapi Henri malah mengerutkan dahinya.
"Bu is-ti-rahat, bi-ar Adnan yang ju-alin kue ini!" teguhnya.
"Tapi ...."
Tanpa berkata, Henri pun langsung menyambar keranjang berisi kue yang akan ia jual, lalu ia pun pergi meninggalkan Ibunya.
"Adnan, maafin Ibu nak, yang tidak bisa memberikan mu kehidupan layak, bahkan Ibu tidak bisa menyembuhkan penyakit mu itu," rutuk Ibunya Henri sambil menangis.
Setelah berada di luar, Henri lalu mulai menawarkan kue dagangannya tersebut ke semua orang, namun tidak semua orang membeli kue dagangannya itu. Henri terus berkeliling meskipun rasa lelah dan panas mulai menyerangnya. Beberapa saat setelah keliling, ia pun mulai lelah, kemudian Henri duduk sejenak di pinggir jalan untuk menghilangkan rasa lelahnya sesaat.
"Bu, hari ini Adnan ngerasain bagaimana susahnya Ibu menjual kue ini. Awalnya Adnan kira ini terlihat mudah, tapi ternyata susah dan butuh kesabaran. Tapi Adnan gak akan menyerah Bu, Adnan akan jualin kue-kue ini sampai habis," batin Henri yang penuh semangat.
Ia lalu membuka keranjang kuenya hanya sekedar ingin melihat masih ada berapa kue yang tersisa.
"Ma-sih banyak, a-ku harus men-jualnya lagi, ag-ar bi-sa beli o-bat un-tuk Bu," ucapnya.
Henri lalu bangkit dari posisinya dan kembali berkeliling. Dan pada saat ia melewati gang kecil, tiba-tiba ....
Bruuk....
Henri di tabrak seseorang, sehingga membuatnya terjatuh.
"Hei, kalau jalan pake mata, lihat nih baju ku kotor," bentak seseorang itu.
Henri membangunkan dirinya dan melihat ke arah seseorang tersebut dengan tatapan tak biasa.
"Waah lihat tatapan anak kecil ini, menakutkan sekali," ejeknya.
Sesaat Henri menghela nafasnya, lalu ia mengangkat keranjang kuenya itu dan melangkah pergi, akan tetapi seseorang itu menahan lengan Henri.
"Hei bocah, mau pergi kemana kamu? Urusan kita belum selesai," sergahnya
"Le-pasin Adnan!"
"Ou... Ternyata anak ini sulit berbicara, hei bocah! Jangan karena kamu cacat, aku jadi kasihan padamu, tidak bocah. Kau harus minta maaf padaku sekarang dan ganti baju kotorku ini," bentak seseorang itu.
"Ti-dak, bu-kan Adnan yang men-abrak, tapi Ka-kak yang sen-gaja men-abrak Adnan," ujar Henri.
"Dasar bocah cacat! Beraninya berdebat denganku!"
Orang itu langsung mendorong tubuh kecil Henri sampai terjatuh, sehingga membuat keranjang kuenya terhempas dari tangannya, untungnya penutupnya kuat jadi kuenya aman.
Lalu tanpa Henri sadari uang hasil penjualannya terjatuh, sehingga seseorang itu langsung mengambilnya.
"Nah, uang ini cukup untuk menggantikan bajuku," ujarnya.
"Ja-jangan am-bil uang Adnan, i-itu untuk o-bat I-bu," Henri memohon pada orang tersebut.
Akan tetapi, seseorang itu tidak memperdulikan Henri, ia malah melangkah pergi meninggalkan Henri dengan membawa uang Henri.
"Ber-henti! Jan-gan ambil u-ang Adnan!"
***Bersambung....
Ps: Adnan itu nama panggilan Henri saat kecil dan nama sebenarnya Henri adalah ADNAN HENRIAWAN
Next episode masih Flashback Henri ya!
See you next time...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌