Cintaku Untuk Pengasuhku

Cintaku Untuk Pengasuhku
Wanita Satu-satunya di hati Tuan Ray...


__ADS_3

<<<<<


"Zuy, ada banyak kejadian yang belum kamu ketahui tentang Tuan Ray ketika ia tinggal di Amerika, lalu tentang pertunangan Tuan Ray dan Kimberly, itu sebenarnya akal-akalan dari Mrs Liora, Mrs Maria dan Mr Mario, agar mereka bisa mendapatkan perlindungan dari keluarga Michael dan tentunya juga untuk menguasai kekayaan dari keluarga Michael," jelas Davin.


"Apa...!!"


Zuy pun terkejut mendengar penjelasan dari Davin, "Pak Davin tidak sedang becanda kan?"


"Terkejut kan kamu Zuy, iya memang itu kenyataannya Zuy, makanya aku beritahu kamu, supaya kamu tidak salah paham sama Tuan Ray," tutur Davin.


"Tunggu sebentar Pak, tapi yang aku lihat, bukankah Kimberly benar-benar mencintai Tuan Muda kan, masa iya sih dia hanya pura-pura," Zuy pun masih belum percaya.


Lalu Davin menarik kursi yang berada di dekatnya, ia pun langsung duduk di kursi itu.


"Hmmm, kamu memang benar Zuy kalau Kimberly itu sangat mencintai Tuan Ray, tapi tidak dengan Tuan Ray, dia hanya menganggap Kimberly sebagai adik sama seperti Lesya," ujar Davin


Zuy lalu menundukkan kepalanya, "Lantas kenapa Tuan Muda bisa dekat dengan Kimberly, walau dia tidak menyukainya, dan lagi sampai ada kata pertunangan di antara mereka?" tanya Zuy sambil mengepalkan tangannya.


"Hmmm, itu karena saat Tuan Ray melihat Kimberly seperti melihatmu Zuy, apalagi kalau dia menangis dan tertawa, benar-benar mirip kamu. Hanya saja berbeda dengan rambut dan tahi lalat kecil di bawah sudut matanya," jelas Davin


"Jadi begitu ya.." lirih Zuy


Davin pun mengangguk, "Iya Zuy, namun Mrs Maria, Mrs Liora, Mr Mario salah paham dengan perhatian Tuan Ray terhadap Kimberly, mereka mengira kalau Tuan Ray itu menyukai Kimberly, jadi mereka langsung menjodohkan Kimberly dengan Tuan Ray."


"Lalu kenapa Tuan Muda diam saja dan tidak menolaknya, malah meladeni Kimberly, bukan kah itu berarti kalau Tuan Muda menerima perjodohan itu?" tanya Zuy dengan rasa penasaran.


"Hmmm, kamu salah paham Zuy, dari dulu Tuan Ray tidak pernah menerima perjodohan itu. Akan tetapi mereka selalu saja memakai cara licik, jadi untuk saat ini Tuan Ray membiarkan mereka berbuat sesuka hati mereka. Namun pada saatnya tiba, Tuan Ray akan memberikan kejutan yang tak terduga untuk mereka," jelas Davin


"Zuy percayalah... Tuan Ray tidak akan menghianatimu, karena hanya kamu wanita satu-satunya yang ada di hati Tuan Ray, saya yang jadi saksi bagaimana Tuan Ray selalu merindukanmu," sambung Davin.


Mendengar itu, Zuy pun langsung menitihkan air matanya.


"Zuy, masih banyak lagi yang ingin aku ceritakan padamu, akan tetapi ...," ucap Davin yang terhenti, karena ia mendengar suara langkah kaki yang sedang menuju ke arah mereka.


"Zuy bisakah kau hapus air matamu itu, sepertinya bayi gede sudah bangun dari tidurnya, nanti kalau dia lihat kamu menangis bisa habis aku," pinta Davin


Zuy pun mengusap air matanya, dan kemudian...


"Kak Davin, apa yang kau lakukan di dapur?" tanya Ray


"Ah Tuan Ray selamat pagi, Emmm ngapain ya..., tentu saja lagi bantuin Zuy," ujar Davin yang sedang berbohong, "Iya kan Zuy?" sambungnya..


Zuy lalu melirik sekilas ke arah Davin, dan kemudian ia melihat ke arah Ray.


"Ah iya Tuan Muda, Pak Davin dari tadi bantuin Zuy Tuan," Zuy pun ikutan berbohong.


"Oh.." lirih Ray, ia pun menghampiri Zuy.


"Ray juga mau bantuin Kakak..." tawar Ray


Mendengar itu, Zuy dan Davin terkejut.


"A-apa..!! Tuan Muda gak usah ya, lebih baik Tuan Muda menunggu saja, toh bentar lagi juga selesai," papar Zuy


"Gak, Kak Davin aja boleh bantuin Kakak, masa Ray gak boleh.." gerutu Ray sambil memanyunkan bibirnya.


Davin dan Zuy yang melihat Ray seperti itu, hanya bisa tersenyum.


"Dasar bayi gede.." batin Davin.


Seketika Zuy menghela nafasnya, "Fuuh, yaudah Tuan Muda boleh bantuin Zuy."


"Ah beneran Kak, terus apa yang bisa Ray bantu?" tanya Ray dengan penuh semangat.


Lalu Zuy memberikan wadah pada Ray, "Ini Tuan Muda, tolong kupasin ini ya, setelah itu langsung di iris tipis ya..!!"


Melihat wadah yang di berikan oleh Zuy, wajah Ray tiba-tiba langsung memucat.


"Ba-bawang..!!" papar Ray, tangannya pun gemetaran.


"Iya, kenapa Tuan, apa Tuan Muda gak mau? kalau gitu Zuy aja yang ...," kata Zuy, namun terpotong karena..


"Tidak usah Kak, biar Ray aja yang ngerjain.." kata Ray


"Terimakasih banyak Tuan Muda," ucap Zuy.


Lalu Ray menarik kursi dan mendudukinya, ia pun mulai mengupas bawang, Davin yang melihatnya hanya bisa menahan tawa. Tak lama kemudian...


Tes.. Tes...


Air mata Ray terus mengalir saat ia sedang mengupas bawang tersebut, membuat Davin yang awalnya menahan ketawa, malah jadi tertawa terbahak-bahak..


Pffft...


"Hahaha.. Hahaha... aduh perutku sakit.." tawa Davin sambil memegangi perutnya.


Melihat Ray menangis karena bawang, ia pun menghampiri Ray, "Tuan Muda, kalau perih sudah hentikan, biar Zuy saja yang melakukannya," tutur Zuy sambil mengambil wadah berisi bawang tersebut.


Namun Ray malah menahannya, "Kak, biar Ray saja, begini mah gak ada apa-apanya.. snift.."


"Tapi Tuan Muda..." lirih Zuy, lalu..


"Hahaha, ya ampun Tuan Ray, anda bilang gak ada apa-apanya, tapi air matanya terus mengalir kaya air terjun," Davin pun terus meledek Ray sambil tertawa.


"Kak Daviiiin..." pekik Ray sambil menatap tajam Davin.


Akan tetapi bukannya takut, malah makin tertawa, namun tiba-tiba...


Braaaak...!!


Kedebug..!!


Davin pun terjungkal ke belakang, membuat bagian pan-tatnya menyentuh lantai dengan keras, sontak membuat Zuy dan Ray terkejut melihatnya. (Mungkin akibat menertawakan Atasan).


"Aaaawww..." rintih Davin.


Zuy langsung menghampiri Davin.


"Pak Davin.. apa Pak Davin tidak apa-apa?" tanya Zuy sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Pan-tatku sakit Zuy, huhu..." ujar Davin sambil membalas uluran tangan Zuy, lalu Zuy membantu Davin berdiri..


"Hahaha.. gimana rasanya terjungkal, makanya jangan suka meledek orang.." tawa Ray membalas ledekan Davin.


"Tuan Ray, anda benar-benar tega, bukannya bantuin malah ngetawain.." gerutu Davin sembari memegangi pan-tatnya.


Zuy yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Sudah-sudah dari pada kalian ngerusuh di dapur, mending kalian mandi sana..!!" pinta Zuy


"Ta-tapi Kak, Ray kan mau bantuin Kakak masak," ucap Ray sambil memanyunkan bibirnya.


"Tuan Muda, Please..." ucap Zuy sambil tersenyum.


"Ah, yaudah kalau gitu Kak," kata Ray, lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan kemudian..


"Kak Davin, ayo lebih baik Kak Davin juga segera mandi, soalnya adonan moci yang di wajah Kak Davin udah luntur tuh," celetuk Ray sambil menarik baju Davin.


"Tuan Ray pelan dikit dong, Pan-tatku masih sakit nih..." gerutu Davin, namun Ray tidak memperdulikannya, malah dia terus menarik baju Davin sampai menuju ke kamar.


"Aduuh, dasar kalian berdua.." lirih Zuy, lalu ia melanjutkan kembali aktivitasnya.


Beberapa saat kemudian, Zuy akhirnya menyelesaikan aktivitasnya di dapur, lalu ia segera menyiapkan sarapan di meja makan, setelah itu ia pun bergegas menuju ke kamar mandi. Tak lama kemudian, setelah melakukan aktivitasnya di kamar mandi, Zuy segera keluar dan berjalan menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Kamar Ray


Setelah selesai mandi, Ray segera memakai pakaian biasa sebelum memakai pakaian kerjanya. Lalu kemudian...


Triiiiiing... Triiiiiing.... (Hp Ray berdering)


Mendengar bunyi dering Hpnya, ia pun segera mengambil hpny yang berada di atas nakas, lalu Ray melihat layar hpnya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.


Setelah itu Ray langsung menjawab panggilan tersebut.


"Halo Om Willy ada apa?" tanya Ray, yang menelponnya ternyata Pak Willy.


"Rayyan, bisakah nanti pulang kerja kamu ke rumah Om..!!" pinta Pak Willy.


"Oh iya bisa Om, kebetulan Ray juga ingin kesana," kata Ray.


"Yaudah kalau gitu, Om tunggu ya..!!"


"Siap Om.." kata Ray


Lalu panggilan pun terputus..


Ray pun meletakkan kembali hpnya dan ia pun bergegas keluar dari kamarnya. Setelah keluar dari kamarnya, ia pun segera menuruni anak tangga dan menuju ke meja makan. Setelah sampai, ternyata Davin sudah berada di sana bersama Zuy, ia pun segera menghampiri mereka.


"Tuan Ray, anda benar-benar lama, kami sudah nungguin anda dari tadi dan lagi cacing di perutku sudah pada demo," gerutu Davin sembari memegangi perutnya.


"Tadi terima telpon dulu dari Om Willy," kata Ray sambil menarik kursi, lalu ia pun mendudukinya.


"Pak Willy? lalu dia bilang apa?" tanya Davin


"Ray di suruh ke rumah Om Willy, ya memang niatnya Ray mau kesana," jawab Ray, "Oh iya Kak Zuy, apa Kakak mau ikut Ray ke rumah Om Willy?" sambungnya


Ia pun menyodorkan piring makanan ke arah Ray, akan tetapi malah di serobot Davin duluan.


"Maaf Tuan Ray, Zuy ini buatku ya, soalnya cacingnya nendang-nendang perut terus," ujar Davin.


"Dasar adonan moci.." gerutu Ray


"Hehehe.. Peace..." ucap Davin sambil mengangkat dua jarinya.


"Hmmm, yaudah Zuy ambilin lagi buat Tuan Muda," ucap Zuy, ia pun kembali mengambil makanan untuk Ray. Lalu memberikannya pada Ray.


"Terimakasih Kak," ucap Ray.


Mereka pun langsung menyantap sarapannya.


************


KoSan Airin


Sementara itu, setelah selesai sarapan, Airin pun siap-siap berangkat kerja, namun tiba-tiba..


Tok.. Tok... Tok...


"Iya sebentar..." seru Airin, "Ah siapa sih pagi-pagi sudah bertamu, gak tau apa kalau aku mau berangkat," umpat Airin,


Ia pun segera berjalan menuju ke arah pintu, setelah itu Airin langsung membukakan pintunya.


"Pagi Rin.." sapa seseorang..


"Hah, B-Brian..!!" Airin pun terkejut ternyata yang datang adalah Brian, "Brian jelek, ngapain kamu pagi-pagi kesini?"


"Ya mau ajak kamu berangkat kerja," ujar Brian.


"Oh, yaudah tunggu aku ambil tas dan kunci motor," kata Airin.


"Iya Rin,"


Lalu Airin masuk ke dalam untuk mengambil tas dan kunci motornya, lalu tak lama kemudian ia pun keluar..


"Yaudah ayo berangkat..!!" ajak Airin, lalu ia mengunci pintu kosannya.


"Rin apa kamu marah padaku?" tanya Brian


"Hmmm, tidak.." jawab Airin dengan singkat.


"Syukurlah kalau begitu," lirih Brian.


Lalu Airin pun mengeluarkan motornya yang berada di halaman Kosannya, saat Brian ingin membantu, justru Airin menolaknya, membuat Brian kecewa. Setelah selesai mereka pun menaiki motornya masing-masing dan menyalakannya. Kemudian mereka pun pergi menuju ke Perusahaan CV.


*****************


Perusahaan CV


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di Perusahaan dan sudah berada di Parkiran. Brian dan Airin pun langsung memarkirkan motornya, lalu di susul Zuy yang baru datang.

__ADS_1


"Pagi Zuy.." Airin melambaikan tangannya pada Zuy.


"Oh, pagi juga Rin, tunggu bentar ya," pinta Zuy sambil mengambil tas di bagasi motornya. Setelah itu ia pun menghampiri Airin dan Brian.


"Pagi Zuy.." sapa Brian


"Pagi Brian, tumben kalian datang barengan?" tanya Zuy.


"Ah kita hanya papasan di jalan, ayo kita masuk," ujar Airin.


Airin pun langsung merangkul Zuy, lalu mereka berjalan menuju arah pintu masuk meninggalkan Brian sendiri.


"Airin kenapa ya, apa dia benar-benar marah padaku," lirih Brian, lalu ia pun segera menyusul Airin dan Zuy.


°°°°°°°°


Setelah berada di dalam Kantor, mereka pun langsung masuk ke Pantry dan siap-siap menjalankan aktivitasnya masing-masing. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 12.15 Am, saat itu Zuy sedang berada di halaman kantor. Lalu kemudian...


Trrrrrrt... Trrrrrrt...


Tiba-tiba hp Zuy berbunyi, lalu ia langsung mengambil hpnya di saku dan menjawab panggilan tersebut.


"Nak Zuy.." sapa seseorang yang menelpon Zuy.


"Hmmm, Bu Ima ya..?" tanya Zuy


"Iya Nak ini Ibu, ya ampun akhirnya kamu bisa di hubungi," katanya yang ternyata Bu Ima.


"Maaf Bu Ima, hp Zuy kemaren rusak, jadi gak bisa di hubungi," jelas Zuy.


"Syukurlah Nak, ibu benar-benar khawatir dengan keadaanmu Zuy, tapi kamu baik-baik saja kan? terus kapan kamu pulang ke rumah?" tanya Bu Ima, "Kucingmu itu udah kangen sama kamu lho," sambungnya.


"Zuy baik-baik saja, terimakasih banyak sudah mengkhawatirkan Zuy Bu, Zuy juga ingin pulang tapi ...," ucap Zuy, lalu ia terdiam.


"Iya Ibu paham Zuy, oh iya Zuy, soal pekerjaan untuk Ibu apa sudah ada?" tanya Bu Ima.


Mendengar pertanyaan dari Bu Ima, Zuy pun terkejut, karena ia benar-benar lupa.


"Bu Ima, maafin Zuy, Zuy benar-benar lupa, iya Zuy sekarang akan bicara pada Tuan Muda, mudah-mudahan ada pekerjaan buat Bu Ima," ujar Zuy.


"Baiklah Zuy, Ibu tunggu ya, yaudah kalau gitu, maaf kalau Ibu mengganggu," ucap Bu Ima.


"Iya Bu Ima.."


Lalu panggilan pun di akhiri.


"Aku harus bicara pada Tuan Muda," lirih Zuy, lalu ia pun segera masuk ke dalam.


Setelah berada di dalam, Zuy pun bergegas menuju ke Ruangan Ray dengan lift. Tak lama kemudian, ia pun sudah berada di lantai atas, lalu ia berjalan menuju ke ruangan Ray.


Ruangan Ceo


Sesampainya, Zuy langsung mengetuk pintu, setelah dapat izin masuk, ia pun membuka pintunya.


"Permisi Tuan Muda," ucap Zuy


"Kakak, ada apa?" tanya Ray


Lalu Zuy masuk ke ruangan Ray dan menghampiri Ray.


"Tuan Muda maaf, bolehkah Zuy meminta sesuatu.." kata Zuy.


Mendengar perkataan Zuy, wajah Ray pun langsung sumringah, "Boleh, tentu boleh, Kakak minta apa saja Ray kabulkan."


"Euum sebenarnya ...," lalu Zuy memberitahu pada Ray apa yang ingin di mintanya. Lalu kemudian...


"Oh begitu, tentu saja ada Kak, nanti Ray akan suruh Kak Davin menemui Bu Ima," ujar Ray.


"Aah benarkah Tuan Muda, terimakasih banyak.." ucap Zuy dengan gembira.


Melihat raut wajah Zuy yang gembira, Ray pun menyunggingkan senyumnya.


Sementara itu di luar ruangan Ray, Davin sedang berdiri menyandar di dinding, sebenarnya ia ingin masuk memberikan berkas untuk Ray, akan tetapi ia takut mengganggu Ray dan Zuy lagi bermesraan. Lalu...


"Lho Pak Davin, ngapain anda berdiri di dinding? kaya cicak aja," tanya Airin yang saat itu berada di sana. ia pun menghampiri Davin.


"Oh Airin, kirain siapa, ini mau ngantar berkas, tapi di dalam ada Zuy, takutnya mereka lagi bermesraan di dalam," jelas Davin


Mendengar penjelasan Davin, Airin pun menyunggingkan senyuman jahilnya, lalu ia mendekat ke arah pintu.


"Kamu ngapain Rin?" tanya Davin.


"Sssht, aku ingin melihat kemesraan mereka," ujar Airin sambil mengintip


"Waah berani juga kamu, aku juga ikutan ah..," Davin pun mengikuti Airin.


Dalam Ruangan...


"Yaudah kalau gitu Zuy permisi dulu Tuan," ucap Zuy.


"Iya Kak, semangat ya Kakak sayang.." kata Ray menyemangati Zuy.


Zuy pun tersenyum, lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu, dan pada saat Zuy membuka pintu, tiba-tiba..


Bruuugh..


Zuy sangat terkejut melihat Airin dan Davin jatuh bersamaan.


"Lho kalian...!!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Author: "Maaf baru bisa Updet, karena Author lagi kurang Vit, Magh Author kambuh.. Oh iya Author mau ngucapin terimakasih banyak buat Kakak2 yang sudah mendukung Karya receh Author lewat Vote, maaf tidak bisa sebutin satu2, Author sangat bahagia, dan benar-benar terimakasih pada Kakak2 semua.. Maaf kalau agak panjang.. 🙏🙏"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga kalau hanya sedikit, maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏


Salam Author... ✌😉😉✌

__ADS_1


__ADS_2