
<<<<
Mendengar suara tak asing di telinganya, seketika Maria mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Pria tersebut.
"Hah! Noel?"
Maria membelalakkan matanya sembari menyebutkan nama Noel pada si Pria yang tengah berdiri di sampingnya dengan melipat kedua tangannya di dada, senyum sinisnya pun nampak terukir di wajahnya.
"Heh! Tak ku sangka ternyata anda masih ingat dengan saya, Mrs Maria." cetus pria yang bernama Noel.
"Tentu saja aku masih ingat dengan mu Noel Gallagher, anak bungsu dari Evelyn sahabat dekatku." jelas Maria.
Pantas saja Maria mengenalinya, ternyata pria yang bernama Noel Gallagher itu anak bungsu dari Evelyn, sahabat dekat Maria yang berada di Amerika.
Bahkan Evelyn juga pernah membantu Maria akan rencana Maria yang ingin melecehkan Zuy melalui saudara Evelyn yang tinggal di Indonesia. Akan tetapi rencananya itu gagal total sebab saat itu Zuy sedang berada di Swedia.
(Takutnya lupa, jadi Author cerita sedikit tentang Madam Evelyn. Bab 125 Rencana Yang Gagal)
Sesaat Maria menggerakkan bola matanya melihat sekeliling ruangan. Dan betapa terkejutnya Maria saat pandangannya mengarah ke tangan dan kakinya yang tengah terikat.
"Dimana aku? Kenapa tangan dan kaki ku terikat seperti ini?" lirih Maria yang kebingungan.
"Anda sekarang berada di tempat ku, Mrs Maria." ujar Noel.
Sontak membuat Maria menolehkan kepalanya ke Noel.
"Ka-kamu bilang apa barusan! Aku ada di tempat mu?"
"Iya Mrs Maria, anda sekarang berada di tempat ku dan mereka berdua lah yang telah membawa anda kemari," jelas Noel menunjuk ke Yon dan Fan.
"Ka-kalian!!"
Lagi-lagi Maria membelalakkan matanya karena terkejut melihat Yon dan Fan yang sedang berdiri di samping Noel.
"Yo! Mrs Maria...." ucap Yon dan Fan serempak sambil melambaikan tangannya ke Maria.
"Kalian berdua kan yang tadi mendatangi ku waktu di Minimarket?" lontar Maria
"Yup, anda benar sekali, Mrs Maria." papar Yon.
"Lalu kalian bilang padaku bahwa kalian akan membawa ku atas perintah bos kalian. Hmmmm, tunggu sebentar!" Maria menatap Noel kembali. "Noel, jangan bilang kalau kamu adalah bos dari kedua pria ini." sambung kata Maria seraya mencurigai Noel.
Noel pun tersenyum smirk dan mencondongkan tubuhnya ke arah Maria.
"Iya anda sangat benar, Mrs Maria. Memang aku lah bos dari kedua pria ini." balas Noel.
"Ja-jadi kamu benar-benar bos mereka? Tapi kenapa Noel? Kenapa kamu membawa ku dengan cara seperti ini? bahkan kamu juga mengikat tangan dan kaki ku? Bukankah ini namanya penculikan?" cecar Maria.
"Ya, anda bisa menganggapnya seperti itu," cetus Noel sembari menegakkan kembali tubuhnya.
"Noel, katakan padaku! Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku? Sampai-sampai kamu menculik ku seperti ini? Dan lagi, apa kamu tidak takut kalau Evelyn tahu kamu seperti ini, dia pasti akan memarahi mu habis-habisan. Karena kamu sudah berbuat seperti ini pada sahabat dekatnya," lontar Maria.
Lalu....
"Hahaha.... Hahaha...." Noel menyemburkan tawanya dengan keras membuat Maria mengerenyitkan keningnya.
"Kenapa dia tertawa seperti itu? Apa dia sudah tidak waras?" batin Maria.
Sesaat Noel menghentikan tawanya dan menatap kembali Maria.
"Mrs Maria yang terhormat! Asal anda tahu saja, kenapa saya melakukan ini pada anda, sebab ini juga ada kaitannya dengan Mommy Evelyn." ujar Noel. "Dan lagi apa anda tahu tentang keadaan Mommy Evelyn yang sekarang?" sambungnya.
Maria pun menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak tahu keadaan Evelyn yang sekarang. Sebab setelah aku berada ke sini, kami berdua tidak pernah saling berhubungan lagi. Lantas apa yang terjadi pada Evelyn? Kenapa kamu bilang kalau yang kamu lakukan ini ada kaitannya dengan Evelyn dan saudaranya?" jelas Maria sekalian bertanya.
"Tentu saja ada kaitannya, sebab gara-gara anda Mommy Evelyn dan saudaranya mendekam di penjara." ujar Noel dengan nada tinggi.
"Hah! E-Evelyn mendekam di penjara? Apa kamu serius dengan perkataan mu ini, Noel?"
Noel memanggut. "Ya aku serius, bahkan sangat-sangat serius. Dan ini semua karena anda, Mrs Maria." sentaknya.
"Karena aku? Apa maksudmu berkata seperti itu? Jangan sembarang menuduh orang!" cetus Maria yang tak terima.
Seketika rahang Noel langsung mengeras dan nampak buku-buku jarinya yang putih akibat menggenggam tangannya dengan kuat, emosinya pun sudah tidak bisa di padam kan lagi.
Lalu tiba-tiba....
Pyaaar....
Noel menjatuhkan gelas yang berada di atas nakas, membuat Maria dan kedua anak buahnya tersentak. Kemudian ia mencengkram kuat rahang Maria dengan satu tangannya.
"Aaah sakit, lepaskan!" Maria memekik karena kesakitan.
"Anda bilang saya menuduh anda? Heh Mrs Maria, apa anda lupa kalau anda pernah meminta bantuan Mommy Evelyn untuk suatu tujuan yaitu melecehkan seorang wanita yang ada di sini. Dan karena anda adalah sahabat dekat Mommy, akhirnya Mommy meminta tolong pada saudaranya yang berada di sini untuk membantu anda, Mrs Maria." jelas Noel.
Mendengar itu, ingatan Maria pun langsung berputar di otaknya.
...----------------...
Flashback
ยฐBoutique Maria
Pada saat itu, Maria sedang berada di ruangannya sedang membuat desain sebuah gaun pesta atas permintaan kliennya.
Akan tetapi karena pikirannya sedang kacau karena terus mengingat apa yang Kimberly katakan padanya bahwa Ray sudah mencampakkannya demi wanita lain yang ternyata Zuy.
(Namun pada saat itu Maria belum mengetahui siapa Zuy sebenarnya)
Seketika membuat Maria tidak fokus dalam pekerjaannya dan desain yang sedang ia kerjakan selalu salah, sehingga ia harus membuat desain ulang lagi bahkan sampai berulang-ulang.
Braaaak.....
__ADS_1
"B*stard!" teriak Maria sambil melempar semua apa yang ada di meja kerjanya sehingga berserakan di lantai.
"Dasar wanita kurang ajar! Berani sekali dia merebut Ray dari Kimberly. Memangnya dia pikir dia siapa? Statusnya aja sebagai OB rendahan. Aaah, ini tidak boleh di biarkan, aku harus melakukan sesuatu pada wanita sialan itu!" sungut Maria mengepal tangannya. Lalu....
Kreet...
Tiba-tiba pintu ruangan Maria terbuka dan seorang wanita dengan langkah besarnya masuk ke dalam.
"Oh my, apa yang terjadi pada kantor mu Maria? Apa barusan ada gempa, sehingga membuat kantor mu seperti kapal pecah?" seru wanita itu sambil berkacak pinggang dan mengedarkan pandangannya.
Maria pun langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah wanita tersebut. Dan ternyata wanita itu adalah....
"Evelyn!"
Lalu di sungging kan senyuman manis Evelyn sambil berjalan mendekat ke Maria, kemudian Evelyn memegang bahu Maria.
"Apa yang terjadi padamu, Maria? Kenapa kamu emosi seperti ini? Sampai-sampai ruangan ini seperti habis terkena gempa." lontar tanya Evelyn.
Maria lalu mendesah sambil menjatuhkan dirinya di atas kursi kerjanya dan di pijatnya kedua pelipis kepalanya.
"Ini soal Kimberly, Lyn." lirih Maria.
"Kimberly? Memangnya kenapa dengan Kimberly, Mar?"
Maria pun menceritakan tentang apa yang di alami oleh Kimberly pada Evelyn.
"Apa! Jadi Kimberly di campakkan oleh anaknya Mr Michael? Euuum, tapi bukannya mereka akan bertunangan ya, Mar?" Evelyn terkejut mendengar cerita dari Maria.
"Iya Lyn, hanya demi wanita sialan dan rendahan itu, Rayyan sampai rela menggagalkan rencana pertunangan yang udah hampir di depan mata, bahkan sekarang dia sudah tidak mempedulikan anak kesayangan ku lagi. aku benar-benar kasihan pada Kimberly, Lyn. Dan rasanya aku ingin sekali memberi pelajaran pada wanita rendahan itu supaya dia sadar bahwa sebuah burung gereja tidak akan mampu melawan burung Phoenix." ucap Maria mengumpat.
"Lalu bagaimana caranya kamu memberi pelajaran pada wanita itu? Sedangkan dia sekarang di Indonesia dan kamu juga ada di sini." papar Evelyn.
"Itu yang sedang aku pikirkan Lyn, eh tunggu sebentar!"
Maria kembali bangkit dari posisinya dan menghadap ke arah Evelyn sembari memegang kedua pundaknya.
"Evelyn, bukankah waktu itu kamu pernah cerita, kalau kamu mempunyai saudara di Indonesia dan statusnya sebagai kepala Preman di sana, apa itu benar?" cecar Maria.
Evelyn menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"I-iya tentu benar Mar, memangnya ada apa? Hmmm, jangan bilang kalau kamu ...."
"Iya Lyn, aku minta tolong padamu ya! Soal bayaran tenang aja, aku akan bayar mahal saudara mu itu, asalkan dia berhasil menjalankan perintah ku." jelas Maria.
Lalu ia melepaskan tangannya dari pundak Evelyn dan beralih menggenggam tangannya.
"Kamu mau kan menolong ku demi anakku Kimberly! Kamu kan sahabat terbaikku dan lagi aku janji padamu, jika kamu membantuku aku akan membuatkan gaun mewah yang cantik untuk mu gratis. Bagaimana Lyn?" pinta Maria pada Evelyn.
Sejenak Evelyn terdiam dan menunduk, nampaknya ia tengah mempertimbangkan tentang permintaan Maria. Sesaat Evelyn mengangkat kepalanya menatap kembali ke Maria.
"Baiklah aku akan menolong mu, eiitz tapi ini bukan karena gaun mewah yang kamu janjikan itu ya. Aku mau menolong mu sebab kamu sahabat dekat ku dan kamu juga sering membantu ku juga," kata Evelyn menyetujui permintaan Maria.
"Thank you so much, My dear."
Maria pun memeluk erat Evelyn dan di balas oleh Evelyn.
......................
"Beberapa minggu setelah membantu anda, orang dari Departemen kepolisian datang ke rumah dan menjemput paksa Mommy. Sehingga sampai sekarang ini Mommy masih mendekam di dalam penjara. Bukan hanya Mommy saja, saudara Mommy yang di sini juga sudah tertangkap semuanya," lontar Noel.
"Maafkan aku Noel! Tapi aku benar-benar tidak tahu kalau Evelyn sampai tertangkap karena membantuku," ucap Maria.
"Ya jelas lah anda tidak tahu, orang hidup anda enak masih bisa bebas kemana-mana, tidak seperti Mommy dan lainnya." cetus Noel.
"Lalu apa yang kamu inginkan dari ku, Noel?"
Lagi-lagi Noel menyunggingkan senyum smirk-nya sambil melepaskan cengkeramannya dari rahang Maria.
"Yang aku inginkan adalah anda harus membebaskan Mommy dan saudaranya dari hukuman dan satu lagi anda juga harus memberi ku uang sebesar 500 juta sebagai jaminan!" kata Noel dengan tegasnya.
"Apa! Aku mana ada uang sebanyak itu dan lagi aku juga tidak mungkin bisa membebaskan Evelyn dan saudaranya dari hukumannya," papar Maria.
"Ya aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mengabulkan keinginan ku!"
"Lalu bagaimana kalau aku tidak bisa mengabulkannya? Apa kamu akan membunuh ku?"
Noel menghela nafasnya dan kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Maria.
"Kalau kamu tidak bisa mengabulkannya, maka jangan salahkan aku, jika aku akan membuat Kimberly putri kesayangan mu yang sedang kritis tidak akan pernah bangun untuk selama-lamanya," Noel pun mengancam Maria.
Sontak membuat Maria tersentak mendengar ancaman dari Noel.
"A-apa! Kimberly kritis?"
************************************
Rumah Dimas
Sesaat setelah selesai dengan urusannya, Dimas memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.
Seusai memarkirkan mobilnya di garasi, Dimas pun bergegas masuk ke dalam rumah. Setibanya di dalam, Bunda Artiana yang kala itu masih berada di ruang depan bersama Eqitna, Mira dan Dadan pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Dimas.
"Dimas bagaimana? Apa kamu sudah dapat kabar tentang Maria?" tanya Bunda Artiana memegang lengan Dimas.
"Bunda, kenapa Bunda belum tidur?" bukannya menjawab, Dimas malah bertanya kembali.
"Bagaimana Bunda bisa tidur, kalau Bunda belum mengetahui kabar Maria yang sampai saat ini belum pulang." papar Bunda Artiana.
Dimas lalu menghela nafasnya dan mengajak Bunda Artiana untuk duduk kembali dan langsung di turuti oleh Bunda Artiana.
Setelah itu, Dimas lalu mengeluarkan hpnya dari saku celananya. Kemudian Dimas membuka video dan di perlihatkannya pada Bunda Artiana. Sontak Bunda Artiana sangat terkejut melihat video itu.
"Dimas, video ini?" lirih Bunda Artiana.
__ADS_1
"Iya Bunda, Video itu dari Cctv di Minimarket tempat Kak Maria belanja tadi dan Dimas memintanya pada pegawai Minimarket itu," ujar Dimas.
"Lalu siapa mereka berdua? Kenapa tidak ada satupun orang mencegah mereka membawa Maria?" cecar Bunda Artiana.
"Dimas juga tidak kenal dengan mereka, Bunda. Dan untuk orang-orang di sana, mungkin mereka mengira dua orang itu adalah seorang rentenir, jadi dari pada kena masalah jadi mereka hanya diam saja," lontar Dimas.
Bunda Artiana mengalihkan pandangannya ke arah Bang Dadan dan Mira yang sedari tadi tertunduk diam.
"Dadan, Mira! Coba jelaskan tentang ini? Kalian tidak mengingatnya? Apa jangan-jangan kalian ada hubungannya dengan ini?" pekik Bunda Artiana mencurigai keduanya sambil menunjukkan video itu pada Mira dan Bang Dadan.
Mira dan Bang Dadan pun langsung membelalakkan matanya melihat ke Video itu.
"Nyonya besar, kami benar-benar tidak tahu dan tidak ingat tentang kejadian ini. Dan kami bersumpah bahwa kami tidak ada hubungannya dengan ini." ucap Mira.
"Benar apa yang di katakan oleh Mira, Nyonya besar. Kami benar-benar tidak tahu apa-apa, tolong percaya pada kami! Tuan Dimas, Nyonya." sambung Bang Dadan.
Lalu....
"Iya aku percaya pada kalian berdua," ujar Dimas.
"Dimas, kenapa kamu bisa percaya dengan mereka berdua?" cetus Bunda Artiana.
"Bunda, tidak kah Bunda melihatnya dengan jelas bahwa Mira di buat pingsan oleh kedua orang itu. Dan obat bius yang mereka gunakan itu bisa membuat korbannya lupa dalam jangka waktu lama," jelas Dimas.
"Jadi mereka lupa gara-gara di bius?"
Dimas mengangguk. "Iya Bunda, maka dari itu kita harus bersabar, tunggu sampai besok. Kalau besok belum ada kabar apa-apa dari Kakak, kita bisa lapir ke pihak kepolisian. Nanti Dimas juga akan menghubungi Tuan Archo, siapa tau dia kenal dengan mereka."
Tangis Bunda Artiana kembali pecah, Dimas yang berada di sampingnya pun langsung memeluk seraya menenangkannya.
"Sabar Bunda! Lebih baik kita berdoa supaya Kak Maria baik-baik saja, ya!" tutur Dimas.
Bunda Artiana tidak berkata hanya suara isak tangisnya saja yang keluar dari mulutnya. Dimas kembali menghela nafasnya dan beralih ke Mira dan Bang Dadan.
"Kalian berdua istirahat lah! Dan ini jangan lupa di minum, supaya ingatan kalian cepat kembali!" titah Dimas memberikan bungkus plastik pada Mira dan Bang Dadan.
"Baik Tuan Dimas," ucap mereka bersama.
Kemudian keduanya beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke kamarnya masing-masing. Sedangkan Dimas dan Eqitna masih menenangkan Bunda Artiana.
***************************
Villa Z&R
โPukul 03.50Am
Ray dan Aries nampak baru sampai di tempat Villanya. Setelah mobil mereka terparkir di tempat khusus. Mereka berdua bergegas menuju ke Villanya masing-masing.
Saat sudah berada di dalam Villa, Ray bergegas menuju ke arah kamarnya. Setibanya di kamar, ia pun mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil melihat pujaan hatinya yang sedang tidur dan di elusnya rambut Zuy dengan lembut.
"Kasihan sayangku, matanya sampai sembab seperti ini." lirih Ray sambil mencium pipi Zuy.
Karena merasakan benda kenyal yang menyentuh pipinya, Zuy pun terbangun dan perlahan membuka matanya.
"Rayyan!"
"Iya sayangku."
Zuy perlahan membangunkan tubuhnya dan berganti posisi menjadi duduk menyandar.
"Kapan kamu datang?" tanya Zuy dengan nada lirih.
"Baru aja sayangku, maaf ya kalau aku membangunkan mu!" ucap Ray.
Zuy tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, oh iya apa kamu mau aku buatkan sesuatu? Sekalian aku mau ke dapur."
"Tidak usah sayangku, tadi sebelum pulang, aku dan Kak Aries udah makan di sana."
Zuy memanggut. "Oh.... Euuum lalu bagaimana dengan Bi Nana dan Paman?"
"Ya keadaan Bi Nana sedikit membaik, tapi kalau Om Randy sampai sekarang belum sadar juga," jelas Ray.
Air mata Zuy pun kembali mengalir saat mendengar penjelasan dari Ray soal keadaan Pak Randy. Melihat itu Ray langsung memeluk Zuy.
"Jangan nangis lagi sayangku! Nanti mata kamu makin membengkak!"
"Tapi Paman...."
"Iya aku tahu sayangku. Dokter juga sedang berusaha untuk kesembuhan Om Randy, sedangkan kita hanya bisa berdoa saja semoga Om Randy bisa melewati masa kritisnya ya!" tutur Ray.
Zuy mendongakkan kepalanya dan menatap Ray sambil mengangguk. Ray pun tersenyum, lalu di usapnya air mata Zuy dan menghujani ciuman di wajah pujaan hatinya itu. Sesaat setelahnya....
"Sayangku kita bobo yuk! Malam ini aku benar-benar merindukan mu," bisik Ray dengan hembusan nafas hangatnya.
Zuy mengangguk patuh, mereka berdua lalu membaringkan tubuh mereka di atas kasur sambil.... (Travelling....)
Sementara itu di dalam kamar lainnya, lebih tepatnya kamar Airin. Airin nampak masih terlelap dalam tidurnya dengan posisi terlentang. Terlihat bahwa saat ini Airin sedang bermimpi sampai ia tersenyum-senyum.
"Oppa saranghae, Oppa aku ingin memegang wajahmu itu, hehehe...." ucap Airin yang mengigau sambil memiringkan tubuhnya dan ....
Plook....
Tangannya pun mendarat ke suatu tempat dan karena merasakan sesuatu aneh pada tangannya, sontak Airin terbangun dan perlahan membuka matanya. Lalu....
"Hwaaaaa.... Mamah ada setan muka putih!!!!"
Gubrak....
***Bersambung....
Author: "Maaf telat Updet..!!" ๐๐๐
__ADS_1
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. ๐๐๐
Salam Author... ๐โ๐โ