
<<<<<
"Sepertinya dia demam Bu," jawab Ray.
Mendengar jawaban Ray, membuat Bu Ima tersentak. "Apa!! De-demam?!"
Ray menganggukkan kepalanya dan berkata, "Iya Bu, yaudah Ray bawa Zuy ke kamar dulu, Bu tolong buatkan minuman hangat ya!"
"Baik Tuan Ray," ucap Bu Ima.
Pandangan Ray beralih ke arah Davin yang sedari tadi berdiri menempel di dinding.
"Kak Davin, tolong hubungi Dokter pribadi ku, suruh datang ke rumah!"
Ia pun mengangguk. "Baik Tuan Ray," patuhnya.
Davin lalu menghubungi Dokter, sedangkan Ray membawa Zuy ke kamarnya Zuy.
Kamar Zuy
Setibanya di kamar Zuy, Ray membaringkan tubuh Zuy di atas kasur, lalu ia berjalan ke arah lemari untuk mengambil Piyama milik Zuy. Setelah itu Ray kembali menghampiri Zuy dan membantu Zuy memakaikan piyamanya. Sesaat setelahnya, ia mendaratkan bibirnya ke kening Zuy.
"Sayangku, Ray keluar sebentar ya!"
Zuy pun hanya mengangguk pelan, Ray lalu bangkit dari posisinya dan berjalan keluar dari kamar Zuy.
"Tuan Ray..." sapa Davin yang tengah berdiri di samping pintu.
"Kak Davin! Huh, bikin kaget saja. Apa Kak Davin sudah menghubungi Dokter?" tanya Ray.
"Sudah Tuan dan beliau sedang dalam perjalanan. Mungkin sebentar lagi sampai," ujar Davin.
"Oh, yaudah kalau begitu," lirih Ray.
Ray mendudukkan dirinya di atas sofa, kesedihan nampak di raut wajahnya, ia menundukkan kepalanya sembari memijat pelipis kepalanya. Davin merasa sangat perihatin melihat Ray seperti itu, ia pun mendekati Ray dan duduk di sampingnya.
"Tuan Ray...."
"Dia pasti sangat syok, sampai-sampai berendam lama seperti itu. Aku tidak sanggup melihat sayangku seperti itu, hati ku sangat sesak dan sakit, Kak Davin." ucap Ray tersedu-sedu.
Mendengar ucapan Ray membuat Davin tertegun, ia pun mengelus punggung Ray dan berkata, "Iya Tuan, saya sangat mengerti perasaan anda saat ini."
"Jika terjadi sesuatu pada sayangku, Ray tidak akan melepaskan mereka, Ray akan membuat mereka menderita seumur hidupnya!" murka Ray.
"Tuan Ray...." lirih Davin, lalu kemudian ...,
Ting... Tong...
"Sepertinya Dokter sudah datang, kalau gitu biar saya yang bukakan pintunya."
Ray hanya mengangguk pelan, lalu Davin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah pintu. Sesaat kemudian Davin kembali bersama Dokter.
"Selamat malam Tuan Ray," sapa Dokter.
Ray langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Dokter.
"Selamat malam juga Dok, maaf kalau malam-malam saya memanggil anda untuk datang kesini," ucap Ray.
"Tidak apa Tuan, kebetulan pas Tuan Davin menelpon, saya sedang berada di jalan. Lalu siapa yang sakit?" tanya Dokter
"Istri saya, dia ada di kamarnya. Mari saya antar!"
Dokter pun mengangguk, lalu Ray mengantar Dokter tersebut ke kamar Zuy. Sesampainya di kamar, Dokter langsung memeriksanya. Tak lama setelah selesai memeriksa, pandangan Dokter beralih ke arah Ray yang tengah berdiri di sebelahnya.
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Ray.
"Dia hanya demam Tuan, jadi anda tidak perlu khawatir, dan lagi kalau saya tidak salah menduga, apa dia baru keluar dari rumah sakit?"
"Ya dugaan anda benar Dok, dia memang baru keluar dari rumah sakit," ujar Ray. "Tapi dia benar-benar tidak apa-apa kan?"
"Pantas saja. Iya dia tidak apa-apa Tuan, akan tetapi dia harus banyak istirahat, jangan kecapean, jaga pola makannya dan satu lagi kalau bisa dia jangan terlalu banyak pikiran, karena itu bisa mengganggu kesehatannya," nasihat Dokter.
Ray menganggukkan kepalanya, "Baik Dok, saya akan ingat nasihat Dokter."
Dokter pun tersenyum, lalu ia mengambil sebuah kertas dan bolpoin, kemudian Dokter menuliskan sesuatu di kertas tersebut. Sesaat setelahnya ia memberikan kertas itu pada Ray.
"Ini resep vitamin untuknya!" kata Dokter.
"Kenapa vitamin Dok? Bukankah biasanya obat?" tanya Ray yang kebingungan sambil menerima kertas tersebut.
"Sepertinya ada sesuatu pada dirinya, makanya saya hanya memberikan Vitamin saja," jelas Dokter.
"Sesuatu? Maksud anda?" Ray semakin bingung dengan penjelasan Dokter.
Kemudian Dokter memegang pundak Ray, "Saya tidak bisa menjawabnya sekarang, takutnya saya salah menduganya saja. Lebih baik anda tunggu saja ya! Yaudah kalau begitu saya permisi dulu, soalnya ada pasien rumah sakit yang harus saya tangani."
"Hmmmm, baiklah Dok, terimakasih banyak Dok." ucap Ray
"Sama-sama Tuan Ray, jaga dia dengan baik!" balas Dokter.
Dokter pun bergegas menuju keluar dari kamar Zuy, setelah Dokter keluar, Bu Ima pun masuk.
"Tuan Ray ini minumannya," kata Bu Ima.
"Letakkan saja di atas nakas Bu!" titah Ray.
Lalu Bu Ima meletakkan minumannya di atas nakas, kemudian pandangannya mengarah ke Zuy yang tengah terbaring. Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Tuan Ray, tadi Dokter bilang apa? Nak Zuy baik-baik saja kan?" tanya Bu Ima
"Dia hanya demam Bu," jawab Ray
"Kasihan Nak Zuy, padahal dia anak yang baik dan tidak pernah menyinggung siapa pun, tapi kenapa ada saja orang yang menjahatinya, bahkan sampai membakar rumahnya," tangis Bu Ima. "Kalau Ibu tahu orangnya, akan Ibu siram pakai air parit!" sambungnya
Ray memegang pundak Bu Ima dan berkata, "Bu, sudah jangan menangis! Orang-orang itu sudah tertangkap kok, sekarang Ibu istirahat ya!"
"Sudah tertangkap? Huh Syukurlah kalau begitu. Baik Tuan Ray, kalau gitu Ibu keluar dulu, permisi Tuan." pamit Bu Ima.
Ray mengangguk pelan, lalu Bu Ima melenggang pergi dari kamar Zuy dan menutup pintunya. Sedangkan Ray langsung membaringkan badannya di sebelah Zuy dan memeluknya.
"Sayangku, cepat sembuh ya! Kalau sayangku sudah sembuh, Ray janji akhir pekan lusa, Ray akan membawa sayangku ke Kota M menjenguk Papah," ucap Ray.
Lalu Ray mendaratkan bibirnya ke pipi Zuy dan beralih ke bibir Zuy.
...----------------...
Bzzzzzt.. Bzzzzzt... Bzzzzzt...
Suara Alarm sudah berbunyi sangat nyaring, pertanda malam telah berlalu dan pagi sudah menyapa.
"Hmmmm...." erang Zuy.
Perlahan ia membuka matanya dan mengedarkan pandangannya. Lalu Zuy bangkit dari posisinya menjadi duduk menyandar, pandangannya pun mengarah ke Ray yang tengah tertidur.
"Ray, terimakasih sudah menjaga ku," ucap Zuy sambil mengelus rambut Ray.
Lalu tiba-tiba Zuy menyunggingkan senyuman jahilnya, ia membuka laci nakas dan mengambil sebuah kotak kecil berisi karet ikat rambut beserta jepitannya. Zuy lalu menguncir rambut Ray dan menjepitnya, setelah selesai dengan kejahilannya, Zuy segera beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah keluar dari kamarnya.
Setelah berada di luar kamarnya, Zuy bergegas menuju ke dapur menghampiri Bu Ima yang sedang menyiapkan sarapan untuk Tuan rumah.
"Selamat pagi Bu Ima.."
"Nak Zuy! Kenapa bangun? Nak Zuy kan masih sakit dan harus banyak istirahat, ayo Ibu antar ke kamar!" kata Bu Ima.
Akan tetapi Zuy menggelengkan kepalanya, "Bu, Zuy sekarang sudah tidak apa-apa, cuma kepala Zuy masih sakit dan perut Zuy agak enek."
"Oh, kalau begitu Nak Zuy duduk aja ya! Kebetulan Ibu sudah buatkan bubur dan susu untuk Nak Zuy," ujar Bu Ima.
"Terimakasih Bu Ima," ucap Zuy.
Zuy melangkahkan kakinya menuju ke meja makan, sesampainya ia menarik kursi dan mendudukinya. Bu Ima pun membawakan bubur dan susu untuk Zuy. Lalu tiba-tiba ...,
"Good morning...." seru seseorang yang baru datang dan ternyata dia Yiou.
"Mrs Yiou!!"
__ADS_1
Yiou pun langsung bergegas menghampiri Zuy dan memeluknya.
"Maaf aku baru datang, aku sangat sedih saat tahu keadaan mu, Baby. Kamu yang sabar ya Baby! Semua kesedihan mu pasti akan berlalu. Baby, kamu tidak sendirian, kami semua akan selalu berada di sampingmu." ucap Yiou.
Zuy tertegun mendengar ucapan Yiou sampai air matanya lolos membasahi pipinya, ia pun membalas pelukan Yiou.
"Terimakasih banyak Mrs Yiou."
"Sama-sama Baby," balas Yiou.
Lalu Davin datang menghampiri, "Pantas saja pagi-pagi sudah berisik, ternyata ada Mrs Yiou," paparnya.
Yiou pun melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Davin.
"Baru bangun Vin?"
"Dari tadi, cuma malas turun," jawab Davin sembari mendudukan dirinya di atas kursi.
"Lalu Ray mana? Apa dia belum bangun?"
"Ray dari semalam di kamar Zuy, Mrs Yiou." jawab Davin.
Yiou pun melihat ke arah Zuy, "Oh iya? Baby, apa semalam kalian berdua membuat telinga?" goda Yiou membuat wajah Zuy seketika memerah karena godaan Yiou.
"Mrs Yiou jangan menggodanya, lihat wajahnya sudah memerah gitu, hahaha..." ledek Davin.
"Pak Daviiiin!!" seru Zuy
"Hahaha.. iya maaf Zuy," ucap Davin, sedangkan Mrs Yiou terus tertawa.
Sementara itu di kamar, Ray nampak terbangun dari tidurnya.
"Sayangku.." ucap Ray sambil mengusap matanya.
Saat matanya terbuka, Ray terkejut melihat pujaan hatinya tidak ada di sampingnya, ia pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas keluar.
"Sayangku, sayangku..." seru Ray mengedarkan pandangannya, ia pun berjalan menuju ke dapur.
Namun langkahnya terhenti saat pandangannya mengarah ke meja makan, senyumnya terukir di wajahnya saat melihat pujaan hatinya sedang duduk di sana, Ray kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah Zuy berada.
"Sayangku, ternyata kamu berada di sini," papar Ray membuat Zuy dan yang lainnya menoleh.
"Pagi Ray.." sapa Zuy, lalu kemudian ...,
Pffft...!!
"Hahaha... Hahaha..." tawa Davin dan Yiou bersamaan, sedangkan Zuy hanya memalingkan wajahnya sambil menahan tawa.
"Kenapa kalian tertawa seperti itu?" tanya Ray kebingungan.
"Hei Tuan dingin, apa kamu tidak bercermin dulu sebelum keluar?" tanya Yiou.
Ray menggeleng cepat, "Tidak..."
"Oh pantas saja gak sadar sama rambutnya yang terkuncir itu, hihihi.." ledek Yiou sambil memotret dan memberikan hasil fotonya pada Ray.
Betapa terkejutnya Ray melihat foto dirinya itu, pandangannya pun langsung beralih ke arah Zuy.
"Sayangku!!"
"Ahahaha...maaf semuanya, Zuy mau ke kamar mandi sebentar," ucap Zuy sambil beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke kamar mandi.
Namun sebenarnya Zuy hanya ingin menghindar dari Ray karena sudah menjahili Ray.
"Bener-bener deh sayangku ini, awas ya nanti malam gak akan aku lepaskan!" umpat Ray dalam hati.
"Bisa jahil juga dia, hahaha..."
Setelah melewati drama paginya, Ray dan Davin bersiap-siap untuk berangkat kerja.
"Ray..." Zuy menghampiri Ray.
"Iya sayangku, ada apa?" tanya Ray.
"Nah, ini baru Ceo tampan-ku," ucap Zuy membuat Ray tersipu.
Seketika Ray langsung mendaratkan ciuman ke bibir Zuy, sesaat setelahnya..
"Terimakasih sayangku, yaudah Ray berangkat ya!"
"Iya Ray, hati-hati dan semangat ya kerjanya!"
Ray menyunggingkan senyumannya sambil menganggukkan kepalanya, sesaat kemudian ia melangkah pergi.
**********************
Rumah Sakit
Sementara itu di kamar rawat Bi Nana, Eqitna tengah memeriksa Bi Nana.
"Keadaan anda semakin membaik Nyonya," ucap Eqitna
"Syukurlah kalau begitu."
"Tapi setelah pulang dari sini, anda harus bed rest total sampai anda benar-benar pulih Nyonya!" titah Eqitna.
"Baiklah Dokter, terimakasih," ucap Bi Nana.
Eqitna pun tersenyum, "Sama-sama Nyonya, euum Nyonya boleh kah saya bertanya sesuatu."
"Apa yang ingin anda tanyakan Dok?"
"Nyonya, apa keponakan anda mempunyai alergi?"
Bi Nana pun terkejut mendengar pertanyaan Eqitna, "Kenapa anda menanyakan itu?"
"Bukan apa-apa, saya hanya ingin tahu saja Nyonya, soalnya waktu itu ...,"
Eqitna pun menceritakan kejadian waktu di rumahnya membuat Bi Nana tersentak.
"Kenapa kalian memberinya seafood?! Apa kalian tidak tahu kalau Zuy punya alergi akut terhadap seafood." pekik Bi Nana.
"Maaf Nyonya kami benar-benar tidak tahu," ucap Eqitna yang terkejut. "Lalu maksud dia mau ke rumah sakit itu berarti ...,"
"Iya pasti dia menemui Dokter pribadinya, dan dugaanku pasti dia di rawat di rumah sakit HR," ujar Bi Nana.
Seketika Eqitna langsung menundukkan kepalanya, "Nyonya, kami minta maaf Nyonya, kami benar-benar tidak tahu."
Sesaat Bi Nana menghela nafasnya, "Jangan minta maaf ke saya, tapi minta maaf lah pada Zuy, soalnya dia yang terluka," katanya.
"Iya Nyonya, kami akan minta maaf pada Zuy, yaudah kalau begitu saya permisi dulu."
Bi Nana pun hanya mengangguk saja, lalu Eqitna langsung bergegas pergi.
"Kalau sudah seperti ini, apa aku harus percaya pada kalian?" lirihnya.
***************
Perusahaan CV
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, setelah jam istirahat selesai, para karyawan kembali ke aktivitasnya masing-masing.
Ruang Ceo..
Sementara itu di ruang Ceo, Ray sedang duduk menyandar sambil memandangi layar hpnya dan ternyata ia sedang chatingan dengan Zuy.
[Chat]
✉ Sayangku, apa kamu udah makan? 📲 (Ray)
📲 Zuy udah makan Ray, terus kamu bagaimana?✉ (Zuy)
✉ Ray juga udah makan sayangku.📲 (Ray)
📲 Oh Syukurlah kalau begitu. Oh iya Ray, Zuy boleh minta sesuatu? ✉ (Zuy)
__ADS_1
✉ Tentu saja boleh dong sayangku, memang mau minta apa?📲 (Ray)
📲 Nanti kalau pulang kerja, bisa tidak belikan Zuy cake sama ice cream rasa mangga? ✉ (Zuy)
✉ Oh sayangku mau kue sama ice cream, baiklah Ray akan membawakannya untuk sayangku yang cantik. 📲 (Ray)
📲 Terimakasih Ray, yaudah kalau gitu Ray, Zuy mau ke kamar mandi. Semangat kerjanya tampan-ku Rayyan, I LOVE YOU :-* ✉ (Zuy)
✉ Sayangku, terimakasih sudah menyemangatiku. I LOVE YOU TOO.. :-* :-* :-* :-* 📲 (Ray)
Chat pun berakhir..
"Sayangku selalu membuatku bahagia," lirih Ray.
Ia pun meletakkan hpnya di atas meja, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya, yaitu menandatangani semua berkas yang sudah menumpuk di mejanya.
********************
Rumah Ray
Setelah selesai mengobrol dengan Ray lewat Chat, Zuy pun berjalan keluar dari kamarnya sambil membawa ranselnya.
"Nak Zuy, kamu mau kemana?" tanya Bu Ima
"Zuy mau ke rumah sakit, soalnya hari ini Bi Nana pulang," jawab Zuy.
"Tapi kamu kan masih sakit Nak, nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" cemas Bu Ima
"Zuy udah mendingan Bu, dan lagi Zuy kesana gak pakai motor. Zuy tadi udah pesan taxi, mungkin sebentar lagi sampai," ujar Zuy, "Yaudah kalau gitu Zuy pergi dulu ya Bu," sambung pamit Zuy
Bu Ima pun mengangguk, Zuy bergegas menuju keluar rumah. Setelah berada di luar, Taxi yang di pesan Zuy sudah datang, Zuy pun segera masuk ke dalam Taxi tersebut.
"Ke rumah sakit ya Pak!" pinta Zuy.
"Baik Nona," balas supir Taxi.
Lalu supir mengemudikan Taxinya menuju ke rumah sakit.
*************
Hanya butuh waktu lima belas menit dari rumah, Zuy pun sampai di rumah sakit, lalu ia langsung turun dari Taxi tersebut dan tidak lupa untuk mrmbayar ongkosnya. Setelah itu Zuy berjalan masuk dan menuju ke kamar rawat Bi Nana.
Kamar Rawat...
Sesampainya, Zuy langsung masuk ke dalam dan kebetulan di sana sudah ada Aries dan Pak Randy.
"Bi Nana, Zuy datang..." seru Zuy membuat Bi Nana dan lainnya menoleh ke arahnya.
"Kakak...!!" Nara pun berlari menghampiri Zuy.
"Nara sayang." Zuy langsung menggendong Nara,
Lalu ia menghampiri Bi Nana yang sedang duduk di ranjangnya.
"Bi Nana.."
"Zuy kamu datang?" tanya Bi Nana.
"Tentu Zuy datang Bi, kan hari ini Bi Nana pulang," jawab Zuy
"Apa yang terjadi pada suaramu?"
"Euum ini ...,"
Pandangan Bi Nana mengarah ke Aries, "Ris, tolong bawa Nara keluar ya!"
"Baik Tante, ayo Nara ikut Kak Aries, kita beli ice cream," ajak Aries ke Nara.
Nara pun langsung beralih ke Aries, lalu mereka berjalan keluar. Kemudian Zuy mendudukkan dirinya di samping Bi Nana.
"Bi Nana mau buah? Tadi Zuy beli di jalan," kata Zuy memberikan kantong pada Bi Nana.
Namun bukannya menerima kantong dari Zuy, Bi Nana malah memeluknya dengan erat membuat Zuy terpaku.
"Bi Nana..!"
"Zuy, Bi Nana tahu perasaanmu sekarang, semua kejadian yang menimpa mu, Bi Nana sangat sedih dan marah, apalagi saat mendengar rumah kita di bakar. Sebenarnya siapa orang yang begitu kejam membakar rumah kita," ucap Bi Nana, seketika membuat tangis Zuy pecah.
"Sabar sayang, nanti kita perbaiki lagi rumah itu," tutur Bi Nana.
"Iya Bi, tapi gara-gara itu Zuy kehilangan baju-baju Papah, semuanya hangus Bi, Zuy gak punya baju Papah lagi, maafin Zuy gak bisa jagain barang peninggalan Papah," tangis Zuy.
"Zuy, untuk baju Papah mu, Bi Nana masih ada dan menyimpannya di rumah Paman mu," ucap Bi Nana
Mendengar itu, Zuy langsung melepaskan pelukannya. "Benarkah itu Bi?" tanyanya.
"Iya Zuy, nanti Bi Nana berikan baju itu," kata Bi Nana.
"Terimakasih Bi Nana," ucap Zuy
Bi Nana pun menghapus air mata Zuy, "Sudah jangan menangis, nanti suaramu tambah hilang!" tuturnya.
"Iya Bi, Zuy gak akan nangis lagi, dan Zuy bahagia ternyata masih ada barang peninggalan Papah yang masih di simpan Bi Nana," ucap Zuy.
"Ya karena Papah mu itu Kakak Bi Nana, jadi barang-barang peninggalan beliau itu sangat berharga. Terutama kamu gadis kecil ku," kata Bi Nana.
Zuy tertegun mendengar perkataan Bi Nana, seketika senyumnya terukir di wajahnya.
"Zuy, lalu bagaimana dengan semua koleksi idolamu itu? Apa masih utuh?" tanya Bi Nana.
"Idolaku? Maksudnya Mrs Maria? Itu juga sudah hangus semuanya Bi, tapi Zuy sangat bersyukur semua koleksi Mrs Maria terbakar, jadi Zuy tidak perlu cape-cape membakarnya!" jelas Zuy.
Bi Nana pun terkejut mendengar penjelasan Zuy. "Kenapa kamu berkata seperti itu Zuy? Bukannya kamu sangat mengidolakannya?" tanya Bi Nana.
"Itu dulu Bi, tapi sekarang Zuy sangat trauma dengannya dan sepertinya Zuy mulai membencinya!" ungkap Zuy.
"Hah!!"
*************************
Di tempat lain, Dimas bergegas menuju ke arah ruangan milik temannya, karena sebelumnya ia di telpon oleh temannya itu. Sesampainya Dimas pun langsung memasuki ruangan tersebut.
"Permisi Dok," ucap Dimas
"Sudah datang kau Dim, silahkan duduk!"
Dimas lalu mendudukkan dirinya di kursi yang berada di sana.
"Ada apa kamu menelpon dan menyuruhku datang Ren?" tanya Dimas
"Tentu saja aku menyuruh mu datang, karena aku ingin memberikan hasil tes DNA ini," jawabnya.
"Apa! Jadi hasilnya sudah keluar?" tanya Dimas.
Temannya pun mengangguk cepat, lalu ia menyodorkan sebuah amplop putih ke arah Dimas.
"Hasilnya ada di sini Dim, silahkan buka!"
Dimas pun menerima amplop itu, dengan tangannya yang bergetar perlahan ia membuka perekat pada amplop tersebut, setelah terbuka Dimas mengambil isinya dan membacanya. Betapa terkejutnya Dimas saat melihat hasil tes DNA itu.
Hasil tes DNA
Tingkat kecocokan 99.8% hubungan keduanya adalah biologis. Artinya hubungan antara keduanya adalah IBU dan Anak.
Isi dari kertas tersebut...
"Ternyata dia memang benar-benar keponakan ku!!"
***Bersambung...
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
Salam Author... 😉✌😉✌
__ADS_1