
<<<<<
Seketika mata Bi Nana terbelalak, mulutnya pun mulai membuka, lalu ....
"Mr Michael...!!"
Daddy Michael pun tersenyum sambil berjalan menghampiri Bi Nana. Setelah saling berhadapan, Bi Nana malah melamun sambil membulatkan matanya menatap ke arah Daddy Michael, entah karena terkejut atau bagaimana. Pak Randy yang berada di samping Bi Nana pun langsung menepuk pundak Bi Nana.
"Na..." tegur Pak Randy
Seketika Bi Nana langsung tersadar dari lamunannya.
"Ah... Maaf," ucap Bi Nana, kemudian ia membungkukkan badannya ke arah Daddy Michael. "Mr Michael, selamat datang..."
"Na, jangan seperti ini! Ayo angkat kepalamu!" titah Daddy Michael.
Bi Nana langsung mengangkat kepalanya. "Maaf Mr Michael, saya ...."
Daddy Michael tersenyum. "Tidak apa-apa Na."
"Oh iya, ayo silahkan masuk!" ajak Bi Nana.
Lalu mereka pun berjalan menuju ke dalam rumah. Sesampainya, Bi Nana mempersilahkan Daddy Michael dan Ray duduk, Pak Randy dan Bi Nana duduk di sofa lainnya. Kemudian asisten rumah tangga Bi Nana membawa minuman.
"Mr Michael, bagaimana kabar anda?" tanya Bi Nana
"Saya baik-baik saja Na, lalu bagaimana dengan mu?"
"Saya juga baik-baik saja, oh iya perkenalkan ini suami saya," Bi Nana memperkenalkan Pak Randy pada Daddy Michael.
Mereka pun saling berjabat tangan.
"Oh, jadi ini majikan kamu dulu ya Na, ayah dari Tuan Ray?"
Bi Nana mengangguk. "Iya Pih, Beliau ini yang menolong ku waktu aku kesusahan dulu, kalau bukan karena beliau dan istrinya mungkin Nana masih kena hinaan orang-orang itu," ungkap Bi Nana.
"Cerita dulu Na. Oh iya katanya kamu sedang hamil ya? Udah berapa bulan?" tanya Daddy Michael.
"Sudah jalan lima bulan Mister." jawab Bi Nana.
"Syukurlah Na. Maaf ya Tuan Randy dan Nana, kalau kedatangan saya mengejutkan kalian," ucap Daddy Michael.
"Tidak apa-apa Mr Michael, untungnya saya belum berangkat ke Resto, jadi saya bisa bertemu dengan anda," ujar Pak Randy.
Daddy Michael tersenyum. "Saya juga bersyukur akhirnya bisa bertemu dengan anda, Zuy banyak bercerita tentang anda dan itu membuatku penasaran...." ucapnya.
"Oh iya, hmmm... dasar gadis kecil mu Na," lirih Pak Randy.
Bi Nana terkekeh, lalu ....
"Tuan Randy, Nana. Sebenarnya kedatangan saya kesini untuk minta maaf karena saya tidak bisa hadir pada saat Ray mengucapkan janji sucinya kepada Zuy," ucap Daddy Michael.
"Tidak apa-apa Mr Michael, Pak Willy sudah menceritakan semuanya pada kami. Sebenarnya waktu itu juga kami sangat terkejut dan hampir tidak percaya jika Tuan Ray benar-benar serius mengikat Zuy. Walaupun caranya tidak masuk akal dan tidak bisa di cerna oleh sebagian orang. Jujur awalnya kami tidak menyetujui cara Tuan Ray ini, namun Tuan Ray tetap bersikeras dan memohon pada kami. Dia berkata, bahwa dia ingin melindungi Zuy dengan caranya sendiri, dari situ hati kami tersentuh dengan ucapan Tuan Ray yang bersungguh-sungguh terhadap Zuy dan akhirnya kami menyetujuinya," ungkap Pak Randy panjang lebar.
Daddy Michael tertegun mendengar ungkapan Pak Randy, kemudian ia mendaratkan tangannya ke kepala Ray.
"Maaf, jika Rayyan sudah menyusahkan kalian karena permintaannya itu. Ya pada saat Ray di bawa ke Amerika dan di pisahkan dari kalian, Ray selalu bilang pada kami, bahwa dia ingin mencari Zuy dan ingin menikahi Zuy, jika ia benar-benar bertemu dengannya. Kami pun langsung menyetujuinya, karena bagi kami itu hanya ucapan dari seorang anak kecil yang pastinya akan lupa jika ia dewasa nanti. Tapi ternyata perkataannya itu benar-benar serius, bahkan ia sampai bersikap dingin pada semua wanita yang mendekatinya," ujar Daddy Michael.
"Lalu bagaimana Tuan Muda bisa bersama dengan Kimberly sampai ada kata pertunangan?" tanya Bi Nana yang penasaran.
Sesaat Daddy Michael menghela nafasnya. "Kamu tentunya tahu kan Na, kalau wajah Kimberly itu mirip dengan Kakaknya, jadi Ray membiarkan Kimberly dekat dengannya, namun tidak untuk perasaan Ray. Ray hanya menganggap Kimberly itu seorang adik saja, dan lagi kata pertunangan itu sebenarnya rencana Liora Ibu tirinya Rayyan, ia menginginkan Kimberly dan Ray menikah. Kalau saya sih tidak memaksa kehendak Ray untuk menjalin hubungan dengan siapapun, asal Ray bahagia dengan pilihannya itu," ungkapnya.
"Oh jadi seperti itu ya...." lirih Bi Nana.
Lalu Daddy Michael bangkit dari posisinya, kemudian ia membungkukkan badannya ke hadapan Pak Randy dan Bi Nana sontak membuat mereka terkejut.
"Mr Michael apa yang anda lakukan?" tanya Bi Nana.
"Dad...." timpal Ray.
"Tuan Randy, Nana. Terimakasih karena sudah membesarkan Zuy dengan baik, terimakasih karena sudah mengizinkan dan memberikan Zuy untuk jadi keluarga kami," ucap Daddy Michael.
Seketika tangis Bi Nana pecah, bukan hanya Bi Nana saja, Ray dan Pak Randy juga ikut menangis saat mendengar ucapan dari Daddy Michael. Lalu Pak Randy segera bangkit dari posisinya.
"Mr Michael, angkat kepala anda!"
Daddy Michael pun mengangkat kepalanya.
"Mr Michael, harusnya kami yang berterimakasih pada anda dan Tuan Ray, karena kalian sudah menyambut hangat Zuy dan menerimanya menjadi keluarga kalian, padahal Zuy gadis biasa saja, yang hanya bekerja sebagai OB. Kami benar-benar sangat bahagia dan berterimakasih," ucap Pak Randy
Seketika Daddy Michael langsung memeluk Pak Randy dengan erat, tangis keduanya pun pecah. Sesaat setelah saling berpelukan, mereka duduk kembali di tempatnya masing-masing.
Lalu tiba-tiba Daddy Michael memberikan sebuah benda tipis berwarna hitam ke arah Bi Nana.
"Apa ini?"
"Itu black card, Na." jawab Pak Randy
"Iya Nana tahu, tapi ini maksudnya apa?" tanya Bi Nana
"Begini Na, saya titip ini untuk Zuy, soalnya kalau saya memberikannya langsung pada Zuy, saya takut ia akan menolaknya. Uang di dalamnya tidak banyak hanya 30000USD. Kalian juga bisa memakainya!" kata Daddy Michael.
Akan tetapi Pak Randy dan Bi Nana menggelengkan kepalanya serempak.
"Tidak Mr Michael, ini milik Zuy. Kami hanya bisa menyimpannya saja," ujar Bi Nana.
"Oh, yaudah kalau begitu Na," balas Daddy Michael.
Mereka pun melanjutkan ngobrolnya, lebih tepatnya diskusi untuk kedepannya.
**************************
Perusahaan CV
Tak terasa waktu berlalu, matahari pun sudah berada di atas kepala, menandakan hari sudah siang dan saatnya para karyawan menikmati waktu istirahatnya.
Pantry
Sementara itu di Pantry, Zuy nampak tengah duduk sembari menangkupkan wajahnya di atas meja, entah apa yang ia rasakan saat ini, lalu Airin datang menghampiri Zuy.
"Zuy kita ke kantin yuk!" ajak Airin.
Zuy mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Airin.
"Kamu aja ya Rin," lirih Zuy.
Airin pun terkejut melihat wajah Zuy yang memucat.
"Zuy.... Apa kamu sedang sakit? Wajahmu pucat gitu." tanya Airin panik.
Zuy menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa Rin," jawabnya.
"Tapi Zuy, wajah kamu tuh beneran pucat dan lagi keringat dingin mulai keluar," papar Airin.
"Aku beneran gak apa-apa Rin, cuma ...."
Lagi-lagi rasa mual menyerang, membuat Zuy beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju ke wastafel di Pantry, untung saja semuanya sedang di kantin. Airin pun menghampiri Zuy dan mengelus punggungnya.
"Zuy.... Lebih baik kamu izin pulang aja ya!" tutur Airin.
Zuy langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Lalu ....
__ADS_1
"Kenapa kalian berdua masih di sini, bukannya ke kantin? Ingat jam istirahat sebentar lagi selesai," seru seseorang.
Zuy dan Airin langsung menoleh dan ternyata suara itu berasal dari Davin.
"Oh Pak Davin, kirain siapa. Begini lho Pak Davin, Zuy muntah-muntah, wajahnya memucat," ujar Airin.
Seketika Davin tersentak kaget, ia pun mendekat ke arah mereka.
"Zuy, apa kamu sakit?" tanya Davin
"Zuy tidak sakit dan tidak apa-apa, Pak Davin." jawab Zuy lirih.
"Zuy, wajahmu sudah pucat begitu, masih bilang tidak sakit dan tidak apa-apa!" pekik Davin.
"Tapi Pak Davin...."
Lalu kemudian Davin mengeluarkan hpnya dan menghubungi Ray.
Tuuut...
"Ada apa Kak Davin?" tanya Ray dari sebrang telpon.
Mendengar suara Ray, mata Zuy pun terbelalak, kemudian ia melotot ke arah Davin.
"Halo, Kak Davin ada apa?" tanya Ray kembali.
"Begini Tuan Ray, Zuy sepertinya sakit. Wajahnya pucat pasi dan lagi dia muntah-muntah terus," jawab Davin.
"Apa! Lalu di mana dia?" tanya Ray terkejut.
"Sebentar!"
Davin lalu memberikan hpnya pada Zuy.
"Zuy bayi gede mau ngomong nih," kata Davin.
"Ck, kenapa di aduin ke Tuan Muda sih," gumam Zuy.
"Dari pada kamu kenapa-napa, nanti bisa-bisa dia ngamuk lagi, kamu tahu kan bayi gede seperti apa," ujar Davin.
Kemudian Zuy mengambil hpnya Davin dan menempelkannya ke telinganya.
"Iya Ray...."
"Sayangku... Kamu minta izin pulang ya!" titah Ray.
"Tapi Ray, Zuy gak apa-apa kok," ujar Zuy.
"Sayangku...."
Sesaat Zuy menghela nafasnya. "Baiklah Ray, Zuy akan meminta izin pulang."
"Nah gitu dong, tapi tidak boleh mengendarai motor!"
"Terus Zuy pulang naik apa?" tanya Zuy
"Nanti Ray akan suruh orang untuk menjemput sayangku!" kata Ray
"Ya, terserah kamu saja Ray," ucap Zuy.
"Yaudah sayangku, tunggu sebentar ya!"
Lalu telpon pun terputus.
"Nih Pak Davin," Zuy mengembalikan hpnya Davin.
"Ayo Zuy kita duduk dulu!" ajak Airin.
"Zuy minyak anginnya!" ujar Davin memberikan minyak angin pada Zuy.
"Terimakasih Pak Davin," ucap Zuy sambil menyandarkan kepalanya di dinding sofa.
Tak lama kemudian, jemputan dari Ray tiba, Airin memapah Zuy kembali sampai ke depan, sesampainya Zuy langsung masuk ke mobil. Sesaat setelahnya, mobilnya pun melaju pergi. Airin lalu kembali ke Pantry.
********************
Rumah Ray
Ray nampak tengah berdiri di teras depan rumahnya, perasaan gelisah kembali menghampirinya, lalu Daddy Michael berjalan mendekat ke arah Ray.
"Boy, tenangkan dirimu!" tutur Daddy Michael
Ray mengangguk. "Baiklah Dad," ucapnya.
Daddy Michael tersenyum. "Yaudah kalau gitu, Daddy akan suruh Bu Ima untuk buatkan air hangat dan bubur untuk Zuy," kata Daddy Michael.
"Iya Dad, terimakasih banyak."
Daddy Michael pun kembali tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung Ray, lalu Daddy Michael melangkah masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian, mobil yang ia suruh menjemput Zuy pun datang. Ray langsung menghampiri dan membuka pintu mobilnya. Setelah pintu mobil terbuka dan saat Zuy hendak turun dari mobil, Ray langsung menggendong Zuy.
"Ray, apa yang kamu lakukan?"
"Jangan menolak!" pekik Ray
Ray segera melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah. Sesampainya Ray mendudukkan Zuy di atas sofa.
"Terimakasih Ray," ucap Zuy
"Sama-sama sayangku," balas Ray merapihkan rambut Zuy
Kemudian Bu Ima datang membawa minuman hangat untuk Zuy dan meletakkannya di atas meja. Setelah itu Bu Ima kembali ke dapur.
"Sayangku, minum dulu airnya biar enak kan," tutur Ray sembari menyerahkan cangkir berisi air hangat.
Perlahan Zuy meneguknya, kemudian Ray mengelus perut Zuy.
"Sayangku, apa ada yang kamu inginkan?"
"Tidak ada Ray," singkat Zuy.
Daddy Michael pun menghampiri mereka, senyumnya mengembang saat melihat anaknya begitu perhatian pada Zuy. Lalu ....
"Anakku.... Kamu sakit?" tanya Daddy Michael sambil duduk di samping Zuy.
"Tidak Mr Michael, Zuy baik-baik saja." ujar Zuy.
"Hmmmm... Oh iya tadi Daddy menyuruh Bu Ima buatkan bubur untukmu. nanti kalau sudah matang jangan lupa di makan ya anakku!" pinta Daddy Michael.
Zuy mengangguk. "Baik Mr Michael."
********************
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya tempat makan. Nampak dua ular betina tengah mengobrol sambil menikmati makanannya. Mereka tak lain adalah Anne dan Erlin.
"Ann, aku benar-benar bingung sama sikap Papih sekarang, ia sering marah-marah, bahkan aku berapa kali kena tampar," ujar Erlin.
"Hmmmm... Kok bisa ya Papih kamu berbuat seperti itu," cetus Anne.
"Entah Ann, bahkan sampai melarangku untuk merayu Tuan Ray. Ah pasti gara-gara si j*lang OB itu," pekik Erlin
__ADS_1
"Maksudmu Zuy?"
"Ya siapa lagi kalau bukan dia."
"Ck, memang dia seperti itu dari dulu juga," cecar Anne.
Erlin pun mengepalkan tangannya. "Jadi ingin membalas perbuatan OB j*lang itu."
"Hmmmm... Apa kamu berani Lin?" tanya Anne
"Tentu saja, " singkat Erlin.
Lalu tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.
"Anne..." panggilnya.
Anne pun menoleh, "Zetta!"
Ternyata yang datang adalah Zetta istri dari Deva. Zetta pun tersenyum kecut.
(Zetta pernah muncul di Bab-bab awal Cup bersama Deva dan ia juga pernah menampar Zuy karena hasutan Anne, di Bab. 25)
Anne langsung bangkit dari posisinya dan menghadap ke arah Zetta, kemudian ia mengulurkan tangannya.
"Hai Zetta, lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?" tanya Anne sekedar basa-basi. Lalu ....
Plaaak
Tiba-tiba Zetta menampar pipi Anne, membuat Anne tersentak, Erlin pun langsung berdiri dari posisinya itu.
"Hei apa yang kau lakukan terhadap sahabatku?" sergah Erlin.
"Zetta apa yang kamu lakukan?" tanya Anne
"Aku tidak melakukan apa-apa, hanya saja ingin mengingat masa lalu di mana aku menampar seorang wanita yang tidak bersalah karena fitnahan mu, Anne." cetus Zetta.
Zetta pun menyodorkan badannya ke arah Anne.
"Apa kamu ingat Ann, di tempat makan ini dan di tempat yang kamu duduki sekarang? Tempat itu dulu pernah ia duduk bersama Deva," papar Zetta
"Hmmmm, aku lupa dan lagi bukannya pantas kalau kamu menamparnya karena dia ingin merebut suami mu." pekik Anne. Dan ....
Plaaak...
Satu tamparan keras lagi dari Zetta, membuat pipi Anne memar dan sudut bibirnya berdarah.
"Nah sama persis kan apa yang di alami oleh Zuy waktu itu," ucap Zetta sembari menepuk telapak tangannya seraya tengah membersihkan kotoran menempel di tangannya.
"Oh iya satu lagi, ada yang tidak kamu ketahui, bahwa sebenarnya Deva dan Zuy adalah teman saat mereka sekolah dulu dan Zuy itu sering membantu Deva. Haaa... Aku menyesal dan aku benar-benar bodoh karena gampang terhasut olehmu, Anne." pekik Zetta membuat Anne terdiam.
"Ah.... Sudah lah malas aku ladeni wanita ular seperti mu itu, dan lagi sekarang aku puas sudah membalaskan dendam ku ini," sambung kata Zetta.
Lalu ia pun melangkah pergi meninggalkan Erlin dan Anne.
"Tsk, dasar bast*rd, awas nanti Zetta, aku akan merebut apa yang ada di tangan mu termasuk suami mu itu," umpat Anne sembari memegang pipinya.
"Kau mengenalnya?" tanya Erlin.
"Iya, dia istri dari Deva laki-laki yang jadi incaranku, dulu aku memanfaatkan kebodohannya, saat suaminya sedang makan bersama Zuy, aku bilang ke dia kalau suaminya selingkuh, ia akhirnya datang dan menampar Zuy," jelas Anne.
"Oh jadi begitu Ann, baru tahu aku," lirih Erlin.
"Lin, kita pulang yuk! Pipi sudah mulai panas akibat tamparannya itu," ajak Anne
"Baiklah, kamu ke rumah ku aja, nanti aku obatin luka mu," kata Erlin.
"Terimakasih Lin," ucap Anne. "Hanya wanita bodoh ini yang bisa aku jadikan alat untuk membuat Zuy menderita tanpa harus turun tangan," sambung batinnya.
Lalu Erlin dan Anne bergegas pergi meninggalkan tempat makan tersebut.
******************
Rumah Sakit
Nampak Archo, Dimas dan Maria tengah berbincang.
"Mam, bagaimana menurut Mam. Kalau kita kembali ke Amerika dulu, sekalian kita berobat di sana," ujar Archo.
"Tidak Archo, Mam tidak ingin pulang ke sana dulu, Mam tidak ingin semua orang yang di sana tahu kondisi Mam, mau di kemanain wajah Mam ini," pekik Maria.
"Tapi Mam, kita ke sana juga berobat supaya penyakit Mam cepat sembuh, apa Mam ingin selamanya seperti ini," cetus Archo.
"Tuan Archo benar Kak, lebih baik Kakak kembali ke sana dulu, nanti kalau Kakak sudah sembuh baru kakak datang lagi kesini," sambung Dimas.
Akan tetapi Maria justru menolak ajakan mereka, ia pun langsung membaringkan badannya dan menghadap ke arah lainnya.
"Mam...."
"Udah kalian lebih baik keluar dari kamar ku! Aku mau istirahat." cetus Maria.
"Baiklah Mam," lirih Archo.
Lalu Dimas dan Archo melangkah keluar dari kamar rawat Maria. Sesaat setelah berada di luar, Archo pun mendudukkan dirinya di kursi yang berada di depan kamar tersebut.
"Tsk, dasar keras kepala...." gumam Archo.
"Sabar Tuan Archo, dari dulu sifat Kak Maria memang seperti itu," tutur Dimas.
"Tapi Dokter, saya ingin Mam sembuh, makanya saya mengajaknya pulang ke Amerika dulu," ujar Archo.
"Nanti kita bujuk dia lagi, yaudah kalau begitu saya ke ruangan saya dulu,"
Archo pun mengangguk seraya mengiyakan perkataan Dimas. Lalu Dimas pun bergegas pergi menuju ke ruangannya. Sesaat setelah Dimas pergi, Archo langsung mengambil hpnya dari saku celananya.
"Satu-satunya cara, aku harus menghubungi Kimberly agar dia membujuk Mam untuk kembali ke Amerika," ucap Archo.
Kemudian ia membuka kunci pintar di hpnya, setelah itu Archo pun langsung menghubungi Kimberly.
Tuut...
"Halo Archo..." suara Kimberly dari sebrang telpon
"Kimberly, apa kau masih di Swedia?"
"Iya, ini lagi siap-siap. Soalnya besok Kim akan kembali ke Amerika," ujar Kimberly
"Kim, lebih baik besok kamu datang ke Kota xxxx! Soalnya kita lagi ada di sini," pinta Archo.
"Kota itu bukankah tempat Ay tinggal di sana? Memangnya kalian di sana ngapain? Apa kalian ingin membujuk Ray lagi, agar Ray benar-benar mau bertunangan dengan ku?" tanya Kimberly yang penasaran. Ada rasa bahagia dalam hatinya.
"Tidak, kami datang karena ingin bertemu dengan kerabat Mam, yaitu Nenek kamu dan lagi sekarang Mam terkena stroke Kimberly," tegas Archo
"Apa kau bilang! Mam terkena stroke?!"
***Bersambung....
IG: kim_anandin_chan0619
Author: "Maaf telat Updet..!!" 🙏🙏🙏
^Hai Kakak2 Author dan Kakak Readers, terus semangat ya dan jaga kesehatan kalian.. terimakasih banyak atas dukungannya, terimakasih banyak yang sudah mampir, Mohon maaf klw ada kesalahan dan juga tinggalkan jejak Like Rate Vote and Love.. maaf klw masih ada typo, maaf kalau belum bisa balas komentar satu-persatu.. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Salam Author... 😉✌😉✌